Sebagai Penyintas COVID-19, Begini Caraku Melanjutkan Hidup

Jangan lupa pakai masker


Aku membuka mata. Ini pukul 03.48 WIB. Rupanya aku tertidur pulas sejak 4 jam silam, saat aku lelah menangis karena harus berdamai dengan rasa sakit aneh di sekujur tubuhku. Kurasai tubuhku dan sepertinya sedang tenang. Bisa tidur nyenyak 4 jam lamanya adalah anugerah, sebab selama 21-30 Juni lalu, aku nggak bisa tidur karena tubuhku selalu mengejutkanku dengan rasa sakit bergantian. Akibatnya, emosiku nggak stabil dna tekanan darahku meroket tajam.

Kukatakan bahwa ini sakit yang aneh karena aku tidak bisa menggambarkan rasa sakit itu dengan kata-kata. Terkadang, aku bingung bagaimana membuat tubuhku sendiri berdamai atau melawan rasa sakit itu. Seringkali, wajahku sudah banjir air mata saat tubuhku nggak mampu menahan sakit, tapi hatiku terus berkata bahwa aku bisa melawan sakit ini. Apalagi pikiranku, dia terus bilang bahwa aku bisa melawannya.

Semua pertanda menyapa dimulai pada pagi 17 Juni lalu. Saat itu aku seperti melihat wajah monster di cermin kamarku. Hah? Kenapa wajahku begitu? Wajahku bengkak seluruhnya seakan baru disuntik air. Aku berbaik sangka dan kupikir aku salah posisi tidur. Karena pagi itu aku ada kelas online bersama Tempo Institute, maka aku mengompres wajahku dengan air es. Siang hari, aku ada meeting dengan dua temanku untuk urusan pekerjaan dan mereka bilang aku gemukan. Nah, rupanya wajahku masih bengkak sampai mereka bilang aku gemukan. Lalu, hari berlalu.

Pagi-pagi sekali tanggal 19 Juni aku jogging ke UI. Rasanya nyaman sekali bisa menikmati forest bathing di kampus ini, bahkan bisa pulang membawa hasil fruits hunting yaitu jambu bol, buah lobi-lobi dan mangga muda. Namun, ada yang berbeda hari itu, yaitu aku kok lelah ya sehingga aku buru-buru pulang, khawatir pingsan di area UI.

Karena lapar, aku sarapan bubur ayam di pinggir jalan Margonda Raya. Bagiku, bubur ayam adalah menu sarapan terbaik setelah jogging. Lalu belanja susu ke Alfamart dan kembali ke kosan. Pagi itu aku teramat lelah. Sangat lelah. Lelah yang aneh. Sepanjang 20 Juni aku sibuk menyelesaikan sebuah proposal untuk pekerjaan yang rencananya akan dimulai pada Juli. Setelah mengirimkan hasil final editing ke temanku, aku tidur. Saat itu aku mulai demam dan sangat lelah.

Pagi 21 Juni kurasakan kakiku bengkak. Jika aku beraktivitas seperti ke kamar mandi atau sekadar mengambil sesuatu di lemari, persendianku akan terasa remuk sehingga aku harus terus-terutama duduk di ranjang agar kakiku bisa selonjoran. Setelah Googling kasus ini, aku merendam kakiku dengan air hangat dan setelahnya berusaha dengan cara lain. Gagal total. Nafasku sesak dan aku diserang batuk kering yang menyiksa. Minum air hangat dan vitamin C kok nggak mempan juga. Aku memesan berkilo-kilo aneka buah ke toko langgananku dan kuhabiskan dalam beberapa hari dengan harapan akan dapat suntikan vitamin alami. Saat semua terasa percuma, Aku sampai menjilati garam bahkan berkumur air garam agar tenggorokanku lega.

Hari-hari antara 21-27 Juni semakin parah. Demam makin tinggi, kaki makin bengkak, sesak nafas semakin menjadi, batuk-batuk tak kenal waktu, selera makan meluncur habis, kelelahan luar biasa membuatku tersiksa. Berjalan-jalan sedikit di dalam kamar bisa meredakan kram otot, tapi beresiko membuat kaki makin bengkak. Belum lagi pinggang remuk redam. Saat berdiri di bawah shower untuk mandi, aku menangis karena tubuhku teramat sakit. Kupikir aku lelah begitu karena malnutrisi akut sebab pola makanku sedang sangat kacau. Aku berpikir hendak ke RS untuk memeriksakan diri, tapi bagaimana? Di RS pasti harus berjalan-jalan ke sana ke kemari yang pasti akan menambah beban berat kakiku yang bengkak.

Aku juga sulit makan. Sangat sulit. Rasanya, makan yang sebenarnya merupakan aktivitas menyenangkan menjadi begitu membosankan. Akhirnya aku beli 2 kg ubi cilembu. Kupaksakan makan dan minum air hangat. Pada masa ini habis uang banyak demi beli makanan agar bisa makan, tapi akhirnya para makanan itu malah lebih banyak terbuang. Sayang sekali. 
Dalam kondisi ini, gerakan rukuk dan sujud saat shalat sangat menyiksa. Dadaku rasanya seperti dicopot paksa, juga langsung batuk-batuk parah sampai perutku seperti tertarik, dan otomatis menangis. Shalatku hanya bisa duduk saja.

Akhirnya, kuputuskan konsultasi ke layanan Medicall dengan harapan akan ada dokter yang visit aku ke kosan dan merawatku. Tapi, karena aku punya keluhan sesak nafas mereka menolakku dan menyarankan aku ke RS. Dengan berat hati, pagi 29 Juni aku ke RS Mitra Keluarga Depok untuk memeriksakan kakiku. Tapi, karena aku ada sesak nafas dan batuk, aku diwajibkan ke klinik ISPA terlebih dahulu sebagai screening dasar di masa pandemi. Di sana, pertama-tama aku diwajibkan rongten. Namun, setelah dilakukan observasi aku dipanggil dokter dan diminta melakukan PCR.
"Mbak itu ODG," kata dr. Shanty yang membuatku bengong seperti orang bego.
"Masa sih, dok?" Tanyaku, bodoh.
"Keluhan Mbak menunjukkan itu. Di paru-paru mbak ada cairan dan mbak anemia," dr. Shanty menunjukkan hasil rongten dadaku di komputernya. Aku makin bego.
"Mbak harus dirawat hari ini juga. Masuk bangsal covid. Nggak mau saya masukkan mbak di bangsal umum," lalu dr. Shanty meminta mbak perawat mengurusku untuk administrasi ke bangsal covid. Hanya saja, bangsal covid di RS Mitra Keluarga ternyata sudah penuh.
"Mbak boleh cari RS rujukan lain. Kalau keadaan memburuk mbak akses IGD RS manapun. Yang penting harus dirawat," kata perawat, menyampaikan pesan dr. Shanty.
Lalu aku diminta menebus obat, 1.3 jutaan. Dalam daftar obat itu ada dua jenis obat yang diperuntukkan bagi pasien covid. Karena hasil PCR belum muncul dan aku berharap hasilnya negatif, aku menunda membeli obat. Aku pulang dengan kedua kaki bengkak dan keras sampai sulit dipakai berjalan.

Resah, gelisah, lelah, sedih dan sakit jadi satu. Sembari menunggu email hasil PCR yang katanya akan dikirim jam 8 malam, aku ngobrol via WA dengan temanku, Julia. Termasuk membicarakan kemungkinan bahwa kaki bengkak adalah bagian dari covid. Aku merasa begitu setelah membaca satu artikel. Meski Julia terus menghiburku, keyakinanku semakin kuat bahwa aku kena covid.

Pukul 23 email itu datang sebagai hantu yang membuatku menjerit lalu menangis, lalu batuk-batuk hebat. Kulihat berulang-ulang untuk memastikan bahwa kata 'POSITIF' yang tertera di sana hanya halusinasi belaka. Tidak! Ini nyata! Aku positive mengidap penyakit covid-19. Hingga tengah malam seorang temanku, Nike membantuku mencari informasi RS rujukan agar aku bisa berangkat isolasi esok hari. Sisa malam habis untuk berdamai dengan rasa sakit akut, terutama di dada kiriku yang rasanya dijotos menggunakan pisau, batuk-batuk tak kenal henti yang menyiksa, dan kelelahan akut di sekujur tubuh.

Pagi 30 Juni teman-temanku mulai bergotong royong membantuku. Ada yang mengirimkan obat-obatan, makanan, kelapa muda, hingga akses ambulan agar aku dibawa ke Wisma Atlet di Jakarta. Ibu kos mengkomunikasikan situasiku ke Pak RT dan pemilik kosan. Mereka juga menghibur dan menguatkan mentalku. Kesedihan dan rasa sakit yang menyiksa dilawan kebaikan dan kasih sayang begitu banyak orang. Sore harinya, aku dijemput ambulan dari teman-teman Human Initiative dan berangkatlah aku ke Wisma Atlet. Aku akan menjalani perawatan intensif minimal 9 hari lamanya.

Ini yang aku rasakan: Sesak nafas, Demam, Mual/muntah, Mata buram, Kaki bengkak, Kelelahan sangat, Sakit tenggorokan, Di paru ada cairan, Anemia, Susah makan.  Terkait pembengkakan anggota tubuh masih dilakukan observasi dari cek lab, karena dokter sepertinya curiga aku punya masalah ginjal. Intinya, kedua kakiku bengkak yang membuatku sulit beraktivitas. Pada awalnya hanya area telapak hingga betis, lalu naik ke lutut, naik ke pangkal paha, dan sekarang naik ke pinggang. Ini menyebabkan daging bibir vagina juga bengkak dan menimbulkan rasa nggak nyaman padaku.

Sementara terkait kelelahan, ya ini lelah akut. Lelah seperti ketika kita nggak tidur seminggu lamanya, kerja sepanjang waktu tanpa makan dan minum. Berjalan di area kamar saja sangat menyiksa. Apalagi kalau aktivitas lebih berat. 
Mata buram dimulai tanggal 20, tepat saat aku mulai demam tinggi tapi harus menyelesaikan draft proposal yang kukerjakan. Mataku memang minus, tapi nggak seperti ini juga. Hari-hari setelahnya keburaman terus berlanjut sampai aku kesulitan membaca buku, meski masih bisa baca teks di HP dengan memelototkan mata.

Dimana aku terpapar? Inu rahasia ilahi dan si virus. Aku anak rumahan. Pada masa normal saja aku jarang ke mana-mana, terlebih masa pandemi, mau kemana coba? Seingatku, selama Juni aku hanya 1 kali ke bibi sayur, 3 kali ke Alfamart, 1 kali jogging di UI. Sudah. Sisanya aku di kosan. Aku selalu pakai masker, bahkan saat ambil Gofood ke lantai bawah. Tapi ya sudahlah. Mungkin dosaku adalah ceroboh, tidak menerapkan prokes dengan baik ditambah kesempatan yang ada (imun lemah) membuat si virus sigap menerkam tubuhku.

Pada akhirnya ini adalah pengalaman mendebarkan. Ini akan jadi cerita bagi generasiku dan generasi akan datang. Bahwa perbedaan tipis antara hidup dan mati adalah harapan. Aku berharap sembuh.
 
KE JAKARTA, KE RSDC WISMA ATLET
Tidak bisa tidur. Otakku awas, tapi tubuhku menagih tidur. Bagaimana agar bisa tidur? Maka kutumpuk dua bantal sedemikian rupa agar mendapat kemiringan yang pas, baru saja kurebahkan tubuhku batuk menyerang. Batuk yang menyiksa. Aku duduk sambil selonjoran, memijat kedua kakiku yang bengkak. Kupijati jua seluruh tubuhku sendiri berharap lelah yang menyiksa sirna. Kubelai-belai dada kiriku yang sedang kesakitan. Air mataku sudah habis. Andai bisa tidur pulas, seluruh rasa sakit akan istirahat seketika.

"Ayo tubuhku, kita sembuh. Ayo diriku, kita harus sembuh," begitu terus kataku kepada diriku sendiri sembari mengelus dadaku yang sakit dengan telapak tangan kanan. Aku tahu bahwa hanya aku yang bisa menghibur tubuhku sendiri.

Sejak pagi aku sibuk melayani WA teman- temanku yang bergotong royong membantuku. Mereka semua kaget dan sedih, sekaligus berusaha menguatkan mentalku. Mereka paham, sebagai anak kos pasti sulit menjalani sakit tanpa ada yang merawat.
"Minta alamat, aku mau kirim sup ayam," kata Ismi.
"Aku kirim capcay kering dan kelapa muda. Nanti diminum ya," kata Herlie.
"Halo Ika, katanya kamu sakit. Kirim alamatmu, aku akan kirim obat," ujar Mbak Hj. Nihayatul Wafirah.
"Hei Ika, apa saja keperluanmu nanti aku belikan dan kirim ya," kata Vita.
"Ika, barusan Agung bilang kamu akan dijemput ambulan ke Wisma Atlet," itu kabar menyenangkan dari Nike.
"Mbak, kata Pak RT minta bukti PCR dan foto KTP," pinta ibu kos.
Ibu kos yang sudah kukabari kondisiku mulai menggunakan masker. Beliau juga kooperatif membawakan paket-paket yang datang dan mengantarkannya hingga ke depan pintu kamarku. Saat kuberi tahu bahwa aku akan dijemput ambulan untuk ke Wisma Atlet, beliau menampakkan pandangan mata sedang tersenyum penuh syukur.
"Kata yang punya kos ambulannya jangan rame-rame ya. Mbak Ika jalan sebentar ke depan, biar ambulannya nunggu di jalan raya," katanya menyampaikan pesan dari pemilik kos dan aku menyanggupinya.

Kukunci kamar dan kuseret koper. Wow! Harus turun 3 lantai! Dalam kelelahan teramat sangat, kubawa turun tubuhku dan koper berat menuju lantai bawah. Aku nggak berani minta tolong mamang di kosan untuk membawakan koperku karena ya nanti mereka takut. Langkahku sangat pelan, bahkan berusaha nggak menyentuh pegangan tangga agar nggak cape nyemprotin hand sanitizer.

"Berangkat ya, Pak," kataku saat keluar pintu dan Bapak Kos yang sedang merenovasi kolam ikan melihatku.
"Cepat sembuh ya Mbak Ika," kata beliau.
"Kuat jalan ke depan, Mbak?" Tanya ibu
"Kuat, Bu," aku berbohong.
Kulangkahkan kaki keluar pagar kosan. Kuseret koper dengan sekuat tenaga. Sesekali aku berhenti melangkah, kutepuk-tepuk lututku yang pegal, lalu melangkah lagi, berhenti lagi, melangkah lagi. Tak lama menunggu di pinggir jalan, ambulan berwarna paduan biru langit dan putih dari Human Initiative tiba. Aku langsung naik dan melesat ke Jakarta, ke Rumah Sakit Darurat Corona Wisma Atlet, Kemayoran.

Duduk terguncang-guncang dalam ambulan yang melaju sangat cepat membuatku mual. Aku mencoba muntah, tapi tak ada apapun yang keluar meski setetes ludah. Hanya sakit yang menyiksa. Meski demikian aku sangat bersyukur. Prosesku untuk mendapatkan layanan ini sangat cepat, kurang dari 12 jam sejak aku menerima hasil PCR pada pukul 23. 30 WIB di 29 Juni. Bayangkan saja, subuh aku gerilya mengontak teman-temanku terkait RS rujukan, jam 9 pagi aku sudah dapat info akan dijemput ambulan dan dibawa ke Wisma Atlet. Ini sebuah berkah pertemanan dan gotong royong. Alhamdulillah, aku disayangi begitu banyak orang.

Lalu sampailah aku di Tower 4 RSDC Wisma Atlet, bangunan yang sebelumnya hanya kulihat di berita. Meja pendaftaran didominasi warna putih. Warna meja, kertas berkas-berkas pendaftaran dan para dokter serta perawat yang menggunakan seragam khas mereka di kala pandemi. Ditengah keriuhan sejumlah anak yang berlarian dan berkejaran, aku mendaftarkan namaku. Setelah diberi gelang merah muda, aku diminta menunggu hingga namaku dipanggil untuk pemeriksaan awal sebelum mendapat kamar.

"Halo Mbak Nika, bagaimana perkembangan sekarang?" Tanya Pak Subari dari ujung telepon. Lelaki ini adalah yang memfasilitasiku mendapatkan ambulan. Ia merupakan kenalan teman kuliahku dulu di UI.
"Alhamdulillah, Pak. Saya sudah mendaftarkan diri dan tinggal menunggu proses selanjutnya," kataku terbata-bata, menahan sesak dan keinginan untuk batuk. Di sekitarku, ada puluhan pasien lain menunggu proses yang sama, cemas menunggu namanya dipanggil. Beberapa sambil terbatuk-batuk.

"Syukurlah," kata Pak Subari.
"Kami memang membantu di Wisma Atlet. Banyak permintaan dan kami bantu semampunya. Sabar menunggu kamar ya. Soalnya pernah ada pasien daftar sore dapat kamar jam 1 malam. Maklum lah, kondisinya kan memang harus sabar," beliau menghiburku dan aku mengerti maksudnya.
Tak lama, seseorang menelepon. Dia Stefani, perawat di Tower 6. Ia adik dari temanku. Dia mendatangiku dan melihat kondisiku.
"Tadi aku diantar ke Tower 6. Tapi petugas langsung suruh aku ke Tower 4," kataku.
"Oh iya, Kak. Tower 6 buat pasien yang lebih parah dari kakak," jawab Stefani.
"Katanya kaki kakak bengkak ya?" Tanyanya.
"Iya nih," kataku sembari menunjukkan kedua kakiku yang bengkak.
"Sakit kah?"
"Nggak. Cuma kebas aja."
Melihat kedua kakiku yang bengkak, ia mencoba menolongku. Saat namaku dipanggil untuk cek darah dan pendataan, Stefani mengatakan aku akan tinggal di lantai 8 kamar 22. Kamar itu sudah dibooking untukku. Stefani juga mengantarku tes darah dan rongten, mendorongku yang duduk manis di kursi roda. Memang lah, para nakes ini kuat dan sabar.

Stefani menghilang bersama berkas-berkasku, menuju ruangan suster lantai 8. Aku memasuki kamarku. Memasukinya terasa asing, seperti ketika memasuki hotel demi mengikuti pelatihan. Rupanya aku sendirian di kamar ini. Kamar yang besar, bersih dan dingin. Segera kurapikan barang bawaanku, membangun keakraban dengan penghuni lantai 8 via WAG, lalu makan malam dengan dua butir telur rebus yang kubawa dari kosan dan beberapa keping roti marie, minum obat, lalu berusaha tidur.

Pada fase ini, menelan hasil kunyahan telur rebus pun sebuah perjuangan. Tulang-belulangku sakit semua dan aku memaksakannya. Selain telur ini punya sejarah spesial, dikirimkan dalam keadaan hangat dari Jagakarsa ke Depok agar aku bisa makan. Juga karena rasa telur ini memang enak karena melalui teknik perebusan yang menghasilkan kematangan sesuai seleraku.

Memang setelah dan makan dan minum obat tubuhku bereaksi. Kadang berbunyi seperti saat sedang masuk angin, melilit, mual tapi pas dimuntahin nggak ada yang keluar, sampai sakit seperti dicubit di area paru-paru. Pada kondisi tertentu, mencoba berdamai dan menerima keadaan. Ini tubuhku mungkin sedang melakukan sesuatu sesuai tugasnya di dalam sana dan efeknya adalah rasa sakit menyiksa. Namun, di sisi lain rasa sakit itu mau nggak mau membuatku jadi cengeng. Tahu-tahu mata sudah basah.

"Ayo diriku, kita sembuh," begitu kataku kepada diriku sembari mengusap-usap area dada yang sakit itu dengan telapak tangan kananku. Orang bilang sugesti adalah salah satu penyembuh terbaik.

Hariku pada 1 Juli dimulai pukul 03.48 WIB saat membuka mata dengan kesadaran penuh bahwa aku berhasil tidur selama 4 jam. Ini prestasi. Karena nggak bisa tidur lagi, maka kuputuskan menulis kisahku dan mempostingnya di Facebook. Aku berharap apa yang terjadi padaku bisa jadi pelajaran bagi orang lain, terutama untuk tidak terlambat memeriksakan diri seperti yang kulakukan. Tubuh dan mentalku memang kuat, dan selama masa awal inkubasi virus (sepertinya sejak pertengahan Juni-28 Juni) aku masih aja menganggapnya sebagai demam biasa, sehingga tersiksa sendiri.

Namun, sekuat-kuatnya aku menahan semua rasa sakit sebelum tahu apa yang sebenarnya terjadi, tetap bisa berakibat fatal jika pada 29 Juni aku tidak PCR sehingga tahu bahwa aku positif covid dan segera mencari bantuan perawatan. Mungkin tanggal 30 Juni aku sudah jadi mayat di kosan.

Pukul 06.30WIB jatah sarapan dan obat sudah siap di depan kamar suster. Setiap orang mendapat jatah obat yang dipaket sesuai nama masing-masing. Sepertinya, pemberian obat untuk setiap orang berbeda-beda sesuai keluhan. Aku menerima 5 jenis obat. Kubawa kotak sarapan pagi dan obatku ke kamar, butuh 1 jam untuk bisa menghabiskan makanan itu. Dan yeahhhh tubuhku bereaksi dalam bentuk sakit beberapa saat setelah mengkonsumsi obat yang banyak itu.

Karena kakiku bengkak dan aku mengalami kelelahan akut, aku tidak bisa kemana-mana. Jika pasien lain bisa olahraga atau cari udara segar di sekitar Wisma Atlet, aku hanya selonjoran di ranjang. Aku harus puas dengan keadaan ini dan menunggu waktuku tiba untuk bisa merasakan cahaya matahari di luar.

Jam 11 malam suster A dan suster B ke kamarku. Mereka memeriksa kakiku yang bengkak mulai dari memijat dan memotretnya. Suster A bahkan memeriksa perutku untuk memastikan ada atau enggaknya cairan didalam perut sebagai penyebab pembengkakan.
"Sejak kapan bengkaknya?" Tanya suster A.
"Awalnya 17 Juni di wajah. Trus aku kompres air es dan sembuh. Kalau di kaki mulai 21 Juni sampai sekarang," kataku.
"Jadi sejak covid ya?"
"Nggak tahu, Sus. Kan aku baru tes PCR tanggal 29 Juni," jawabku.
"Kenapa ya? Ada keluhan lain seperti ginjal?" Tanya suster A, lagi.

"Nggak tahu, Sus. Riwayat pemeriksaan kesehatan aku belum pernah terdeteksi ginjal. Waktu ke dokter penyakit dalam RS UI nggak ada keterangan aku punya masalah ginjal. Justru dokter di bagian pendaftaran kemarin yang curiga aku punya masalah ginjal, makanya aku diminta tes darah ulang," kataku.
"Pipis gimana?" Tanyanya.
"Sejak tanggal 21 Juni paling sehari 3-4 kali saja," dan memang akupun merasa aneh sebab aku sangat jarang pipis belakangan ini.
Memang sih, pembengkakan ini terkesan aneh dan seakan terpisah dari keluhan umum covid 19. Kalau suster aja bingung, apalagi aku. Tapi mungkin ini bisa juga menjadi cerita khusus dalam observasi covid 19.
 
SULIT MESKI TAK SURUT
Berhadapan dengan kotak nasi adalah tantangan baru. Aku sudah diingatkan bahwa makanan di Wisma Atlet nggak enak. Bukan. Bukan itu. Enak nggak enak ya relatif. Menyediakan ribuan kotak makanan per sekali makan, dikalikan 3 kali pasti sangat susah bagi bagian catering. Makanan nggak enak masih bisa dimaklumi.

Makanan menyiksaku karena teksturnya yang keras. Misal ayam goreng dan tahu goreng. Nah, tahu goreng ini selalu sekeras batu, jadi susah masuk ke perutku. Tersiksa sekali aku menghabiskan makanan itu, nyeri tengkuk dan tulang punggungku saat mengunyah. Aku butuh waktu 60-90 menit untuk menghabiskan makananku. Seringkali nggak habis. Makanya aku kelaparan. Untung ada snack sebagai pengganjal sebelum jam makan selanjutnya. Meski sama saja, mau memasukkan apa saja ke mulut akhirnya sakit juga saat mengunyah atau mengemut. Tersiksa sekali!

Karena ini, jam makan dan konsumsi obat bukan hal yang kusambut gembira. Aku malah cenderung malas. Julia sedang mengusahakan alat memasak portabel, agar aku bisa mengukus sendiri makanan seperti jagung, ubi, jamur, kentang dll. Aku juga sudah order beberapa jenis buah secara online, agar bisa berwarna makananku.

Hari ini terasa aneh. Aku merasa akan mati. Pandanganku buram dan semakin buram jika misal pergi ke kamar mandi. Aku harus berpegangan ke dinding, karena pandangan mataku byar pret. Bahkan kini menulis pun terasa sangat sulit. Ini perpaduan antara kelelahan akut dan entah apa lagi. Yang pasti aku sangat lelah, ingin tidur saja.

Perawatan pasien di Wisma Atlet berbasis obat dan diet makanan sehat. Jangan harap ada suster mau memijat atau melakukan penghiburan lain. Pasien harus mandiri, karena para nakes sibuknya bukan main. Oleh karena itu, dalam suasana sakit seperti ini, memeluk diri sendiri sangatlah penting.

Dalam lelah, aku juga sibuk merespon pesan masuk dari teman-teman lama. Mereka semua mensupportku, bahkan banyak yang mengirimkan uang ke dalam rekeningku. Wow, tabunganku menggendut! Ada yang terang-terangan telah mengirim sejumlah uang dan ada juga yang diam-diam, tahu-tahu angka bertambah dan nama mereka tercatat dalam data transaksi. Terima kasih semua.

CUCI DARAH PERTAMA, BAGAI DI NERAKA!
Jane Shalimar, Emmy Hafiz dan Rachmawati Soekarnoputri adalah tiga nama perempuan terkenal negeri ini yang terjangkit covid19 lalu meninggal di hari yang sama 4 juli 2021. Hari ketika mereka meninggal aku masih dirawat di RSDC Wisma Atlet. Sepertinya mereka bertiga baru dirawat saat sudah benar-benar parah. Soalnya, yang kulihat di IGD RSDC Wisma Atlet mereka yang bernafas satu-satu memang terlihat sangat lemah, harus menggunakan bantuan tabung oksigen. Sementara aku walaupun sesak masih bisa bernafas alami. Bahkan setiap kali merasa sangat sesak, aku hanya mengambil posisi bersila dan inhale exhale sampai dadaku nyaman kembali.

Selain itu, aku sangat tabah dan rajin dalam memberi sugesti pada diriku sendiri. Misal karena aku masih muda maka kuajak tubuhku bekerjasama agar sembuh agar dapat melakukan hal menyenangkan di masa depan. Selain bersila untuk melakukan yoga basic, aku juga menggunakan teknik butterfly hug. Pokoknya sesakit apapun yang kurasakan aku harus punya kekuatan untuk sembuh. Kekuatan itu ada didalam diriku sendiri.

Pagi 4 Juli seluruh perawatanku pindah dari RSDC Wisma Atlet ke RS Sentra Medika Cibinong, Bogor. Suster bilang kami akan berangkat jam 8 pagi. Tapi pas aku udah siap, diminta menunggu hingga pukul 11.30wib hahaha. Sesampainya di RS Sentra Medika, aku masih ngantri diurus hingga pukul 4 sore. Aku naik ke ruang perawatan sore sekali dalam keadaan lapar pula. Ambil darah 2 kali, jam 16.00wib dan jam 21.13wib (dari pembuluh verifer). Sakit coy 4 kali diambil darah dari area yang sama dalam sehari sejak dari Wisma Atlet hingga RS Sentra Medika.

Aku mendapat kamar No. 367 atas bagusnya koneksi temanku Tisna dan Agung pada satu direksi RS ini. Dalam suasana covid aku masih bisa dapat kamar di bangsal covid plus rencana perawatan cuci darah yang ribet. Demi sembuh, aku tidur menahan pegal infus dari sore 4 Juli sampai pagi 5 Juli. Setelah infus habis, ganti jenis infus baru dengan tambahan mesin bernama syringe pump, ditambah 2 tabung obat jenis lain. Bahkan per pukul 6 pagi darahku sudah diambil lagi 2 kali untuk kepentingan lab. Lengan kananku sampai ngilu dan bonyok karena ditojos jarum terus menerus.

07.40wib masuk ruangan cuci darah. Sudah ada 2 pasien lain yang mendapat penanganan mesin yang dioperasikan sedemikian rupa itu. Aku memperhatikan dengan seksama, menunggu giliranku. Saat tiba giliran aku deg-degan. Pertama-tama, alat dipasang sedemikian rupa dengan selang-selang panjang untuk mengalirkan cairan obat. Setelah itu, barulah jarum disuntikkan ke dalam urat nadiku bagian kanan, bersama sebuah selang kecil yang menghubungkan dengan alat cuci darah.

"Cuci darah itu biasa aja," kata suster sembari memasang aneka selang, menyambungkanya dengan cairan obat dan dua kantong darah.
"Tapi kan memang horror," kataku sembari memperhatikan suster bekerja.
"Haha," suster tertawa.
"Sudah berapa tahun suster tangani HD?" Tanyaku.
"Dari 2014," jawabnya.
"Wah sudah lama juga," kataku.
"Ah nggak juga. Banyak yang lebih ahli dari saya," jawabnya malu-malu sembari sigap bekerja.
"Klo bapak yang itu udah lama HD?" Tanyaku lagi.
"Bapak ini mah sekali HD 5 jam. Kejar target dia," jawabnya. Kulihat si bapak disampingku memang bersikap sangat santai.
"Saya berapa jam ini?" Tanyaku.
"3 jam ya," jawabnya.

Lalu, jarum menusuk daging diantara paha dalamku dan dihubungkan dengan kabel panjang alat cuci darah. Saat semua alat terpasang, sekonyong-konyong seluruh tubuhku kesemutan sampai aku menjerit kaget sekaligus takut. Setelah kesemutan hilang, tiga jam kemudian aku disiksa rasa pegal akut dan aku dilarang bergerak. Maka keadaan ini kusebut saja sebagai neraka, karena sejak saat itu aku menjadi pasien yang paling ribut demi menenangkan diriku yang merasa sangat nggak nyaman. Sumpah! Aku melakukan segala cara untuk membuat pegal enyah dari tubuhku. Dan suster memarahiku setiap kali ia melihat aku menggerakkan kaki atau mengangkat kepala. Anjrit, tersiksa banget!

"Tuhanku tolong aku!" Air mata membasahi pipiku. Rasa pegal yang aneh lebih sulit diterima daripada rasa sakit karena kulit ditusuk jarum berkali-kali.
"Eh kepalanya jangan diangkat! Nanti makin lama prosesnya!" Suster memarahiku.
"Kakinya jangan digerak-gerakkan. Tahan aja. Emang pegal kok. Sabar aja. Tarik nafas," kata suster terus mengultimatum karena aku nakal.
Teknik inhale-exhale kulakukan secara konstan untuk membuat perhatianku teralihkan dari tubuh yang pegal ke pernapasan. Aku bahkan nonton Youtube Sisi Terang dengan berisik agar perasaanku membaik, meski tetap saja aku menangis menahan pegal yang aneh dan tak dapat didefinisikan dengan kata-kata.
"Kapan kelarnya? Tolong! Aku nggak tahan lagi. Tolong!" Rengekku dan suster baru yang menggantikan suster lama hanya tertawa mendengarku.
"Sabar," ia malah menggoda.
"Nggak kuat. Tolong!" Aku merengek sembari mataku memperhatikan alat-alat yang bekerja membungkus pekatnya darah dari dua kantong darah yang telah habis.
"Oke, selesai." Akhirnya kata itu terucap juga.

Suster melepaskan satu persatu katup dan paralon dari alat aneh itu. Kemudian turut melepas yang terhubung ke jarum di kulitku. Warna darah merah berubah menjadi orange lalu menjadi bening dan seluruh peralatan itu seketika berubah menjadi sampah yang kelak akan dimusnahkan di insinerator. Agar tidak berdarah, area bekas jarum di paha dalamku ditekan kuat-kuat menggunakan kapas lalu jari. Rasanya bagai ditimpa batu sampai aku menjerit-jerit. Suster tertawa dan bapak disampingku tetap santai dalam tidurnya.

Aku keluar dari ruang neraka cuci darah pukul11.40 WIB dengan perasaan seakan baru terbebas dari hukuman di neraka. Setelah cuci darah, belum terlihat perubahan berarti pada tubuhku selain perasaan lega. Pastinya aku harus menjalani diet ketat terutama air dan buah-buahan yang mengandung kalium.
"Masih muda kok udah kena ginjal, sih?"
"Kata dokter sih justru karena ketahuan sejak muda makanya harus langsung diatasi supaya bisa sembuh," gitu.

Aku tahu semua ini pasti berawal dari pola hidup yang keliru, makanya alam menghukumku dengan memberiku sakit separah ini. Aku berharap siapapun yang membaca tulisan ini mampu menghindarkan dirinya dari penderitaan yang aku alami. Jaga kesehatanmu, jaga ginjalmu, jangan sampai bernasib sepertiku. Perih pedih makan aja diet ketat super nggak enak bikin mual.

Terkait pola hidup, aku bukanlah orang yang rakus makan-minum. Aku cenderung picky eater dan lebih sering melaparkan diri daripada kekenyangan. Aku bahkan sulit gemuk karena susah makan dan punya masalah kekenyangan dini. Bahkan dua bulan terakhir ini aku sangat kesulitan menghabiskan makanan. Aku bukan penggemar junk food apalagi boba, sangat jarang jajan bakso apalagi pizza, tidak pernah tertarik hingar bingar makanan minuman yang lagi booming dan seringkali masak sendiri. Makanya, mungkin dosa terbesarku adalah minum kopi sachet murahan itu.

Dosa terbesarku yang lain adalah overthinking sehingga sering bikin sulit tidur. Aku nggak mikirin negara apalagi dunia sih, cuma entah kenapa meski ingin berpikir sederhana selalu saja ada yang hinggap ke dalam kepalaku meminta aku pikirkan. Bisa jadi masalah pikir memikir ini juga berpengaruh pada perjalanan kesehatanku yang melemah lalu jebol.

Mungkin ada yang tanya kok bisa ujug-ujug ke RS Sentra Medika Cibinong? Ya, saat di Wisma Atlet aku juga didaftarkan di RS Fatmawati dan sempat dirujuk ke RS Islam Pondok Kopi. Tapi, karena aku pasien covid aku butuh RS dengan dua layanan yang sekaligus bisa merawatku, yaitu penyakit covid dan comorbid seperti ginjal atau penyakit lain. Maka dapatlah RS Ini di mana Tisna dan Agung yang langsung berkontak dengan salah seorang dirut RS ini. Alhamdulillah, rezeki anak tabah dan sabar

Saat menjalani sakit ini ada banyak hal aku korbankan. Sejak tanggal 18 Juni aku absent kelas di Tempo Institute, Madgalene x thebodyshop, dan ketinggalan ikut meeting pekerjaan. Aku juga stop komunikasi dgn dua kader lokal dalam proses penulisan buku, dan kehilangan sejumlah kesempatan emas dalam dunia kepenulisan. Nangis batin aku demi menjaga kesehatan lahir yang sedang butuh perhatian lebih secara medis. 
Diatas segala dinamika, sesungguhnya kasih sayang semesta terwujud nyata dalam cinta & pengorbanan teman-temanku. Aku bersyukur & berbahagia dalam berproses sembuh. Soalnya aku nggak mau masuk ke dalam hitungan statistik mereka yang meninggal karena covid.

KABAR BAIK
Bengkak di paha dan pinggang bikin aku nggak nyaman. Klo jalan harus ngangkang kayak ibu hamil besar. Belum lagi wajahku ikut bengkak. Bengkak-bengkak ini bikin tubuhku yang langsing dan cantik kini berbentuk nggak karuan. Saat dokter datang aku mengadu dan dokter bilang aku akan jalani cuci darah lagi.
Pagi ini terjadi hal seru di bangsal 367. Di bangsal ini kan ada 4 pasien termasuk aku. Ada pasien yang selalu mengigau dengan cara menjerit seperti dicekik. Susah tidur aku dibuatnya karena berisik. Sementara itu ibu satunya kekeuh mau pulang ke rumah sebab harus mengurus suaminya yang sakit komplikasi. Alhasil suster teriak-teriak memarahinya dan menyuruhnya kembali ke bangsal. Ia khawatir suaminya marah padanya karena tidak mengantarnya ke dokter. Padahal sebagai pasien covid si ibu sangat terlarang keluar RS sebelum dinyatakan sembuh.
"Ibu mau kemana?! Ibu ini masih sakit. Jangan pergi keluar!" Suster berteriak karena si ibu kekeuh mau pulang untuk mengantar suaminya ke dokter. Lucu juga sih pasien covid mau ngurus orang sakit non covid.
"Nanti suami saya marah," bela si ibu.
"Biarin aja suami ibu diurusin anak ibu. Jangan pulang sebelum sembuh!" Kata suster dengan suara galak yang cempreng.
Pukul 07.33wib aku masuk ke ruang cuci darah. Sudah ada dua pasien lain yang mendapat perawatan dengan mesin yang dipenuhi aneka selang yang mengalirkan darah. Sementara lampu di bagian atas mesin menyala warna orange. Biasanya saat mesin komplain karena ada miss management, lampu akan menyala merah dan berbunyi ribut seperti ambulan. Pukul 08.15wib mulai tindakan di tangan kananku dengan menusukkan jarum yang tersambung ke selang, di mana selang itu akan disambung ke selang lain yang lebih panjang. Setelah tangan, bagian paha dalamku yang ditusuk jarum untuk menjalani tindakan serupa. Tak lama darah memerahkan seluruh selang yang dipasang sedemikian rupa untuk menyedot atau memompa. Kurasakan selang itu hangat. Ya, hangat darahku. Kali ini aku merasa baik-baik saja. Hanya sedikit gangguan berupa gatal di bagian tubuhku yang nggak bisa kugaruk. Tidak ada perasaan aneh sebagaimana cuci darah pertama. Akupun mengisi waktu dengan menonton video astronomi dari Sisi Terang sampai baterai ponselku habis.
Pukul 11.57wib selesai tindakan dengan perasaan lega dan tertawa-tawa. Aku bangkit dengan santai. Pasalnya, aku hanya cuci darah 3.5 jam saja dari jadwal 4 jam karena darahku mengental bagai enggan diolah lagi.
"Darahnya udah nggak mau diolah lagi tuh," kata perawat dengan jenaka sembari merapikan selang berwarna merah darah.
Sore hari saat hendak makan malam, seorang perawat lelaki menghampiri ranjangku dan mengatakan bahwa hasil PCR aku sudah negatif. Oleh karena itu aku harus bersiap-siap pindah ke kamar di bangsal umum. Alhmadulillah, satu issue selesai dan aku hanya perlu berfokus ke perawatan ginjalku. Beberapa hari kedepan aku harus cuci darah lagi. Mungkin tanggal 9 Juli.
Semua kabar baik ini hadir karena doa banyak sekali orang untuk kesembuhanku. Juga karena aku rajin makan, minum obat dan sugesti diri, dan tak henti masuk obat ke tubuhku melalui infus. Terima kasih telah menemaniku melampaui masa kritis ini dengan baik. Doa kalian semua adalah keajaiban.

HEMODIALISA
Hari ini 10 Juli dan telah 10 hari aku tak bersentuhan dengan hangat matahari. Rasanya rindu sekali kulitku ini pada pagi hangat bercahaya. Terkurung di ruang perawatan covid19 sejak dari RSDC Wisma Atlet hingga RS Sentra Medika Cibinong tak lagi mampu menghitung waktu berbasis bayangan matahari, tetapi hanya sebatas angka-angka penunjuk waktu di ponsel.

24 jam terkurung di bangsal sebagai pesakitan begitu membosankan. Aku menghibur diri dengan menonton video di Youtube atau setiap Sabtu pagi menonton episode terbaru drama Penthouse dari Korea Selatan atau berdandan. Meski di RS aku nggak lupa merawat rambut, pipi dan bibirku. Aku juga memakai pensil alis dan lip balm. Bagiku, walau sakit tetap harus cantik dan wangi. Karena hanya tubuhku yang tahu apa yang kubutuhkan untuk sembuh, di mana salah satu kebutuhan itu adalah merasa bahagia.

Sejujurnya aku menyukai bentuk tubuhku. Aku langsing dan seksi. Aku punya bentuk pinggang dan area bokong yang cantik. Biasanya aku suka mematut- matut diri di depan cermin untuk mengagumi tubuhku sendiri. Misalnya banyak yang iri betapa rata perutku. Tapi, sejak bengkak-bengkak tersebab aku mengalami masalah ginjal, tubuhku sudah nggak berbentuk indah lagi. Ada tumpukan cairan di area cantik itu. Meski aku sedih dengan apa yang terjadi pada tubuhku, aku tetap harus memeluknya. Tidak ada seorangpun yang bisa mengerti tubuhku selain diriku sendiri.

Dalam memeluk sedih dan sakit, sembari berusaha memaafkan dosa masa lalu, aku menghibur diri bahwa aku akan sembuh. Betapapun hari-hariku kedepan akan terasa berat dan terjadwal ketat, aku tetap meminta tubuhku agar sembuh. Selain diriku sendiri, tentunya ada banyak orang yang sayang padaku dan mengirim doa untukku. Satu hari, seorang pembaca dari NTT mengontakku. Ia mengatakan kaget dengan kondisi kesehatanku dan menawarkan mengirimkan herbal khas NTT bernama Sape Hutan yang juga digunakan adik lelakinya yang mengalami masalah ginjal sejak usia 3 tahun. Ia mengatakan bahwa aku masih muda dan harus punya semangat sembuh. Karena jika aku sembuh ia berharap akan kembali membaca tulisan-tulisanku.

Pesan lain datang dari pembaca yang juga mengaku sebagai pengagum rahasia. Ia berkata bahwa kami nggak saling mengenal, namun ia pembaca setia tulisan-tulisanku. Ia merasa berat hati dengan sakit yang kualami. Ia mengatakan agar aku memaafkan masa lalu yang menyebabkan sakit ini. Ia berharap aku berserah kepada Tuhan atas hidupku di masa depan. Ia tentu saja berharap aku akan terus menulis.

Ada banyak pembaca setia mengontak dan mengirim doa. Pun sejumlah sahabat lama yang bahkan lebih dari 10 tahun tak bersua. Karena aku menulis kisahku sendiri, maka berita sakitku menyebar kemana-mana, mempertemukan aku dengan para pembaca setiaku dan sahabat lama. Di satu sisi sakit ini bagai hukuman, tapi di sisi lain mendatangkan kasih sayang serta doa-doa spesial. Bahkan aku merasa spesial dimata mereka yang tidak kukenal, tapi mereka mengenal isi kepalaku.

"Saya nggak kenal Mbak Ika. Tapi saya sayang Mbak Ika. Cepat sembuh ya," merupakan ungkapan sayang paling banyak aku terima. Dosaku atas tubuhku begitu besarnya, tapi begitu banyak orang asing yang justru sayang padaku, mengirim uang dan obat untukku, berdoa untukku hingga menulis surat panjang lebar untuk memberi semangat kepadaku.

Hari ini pukul 07.54wib aku dijemput suster untuk kembali ke ruang cuci darah alias Hemodialisa. Sedikit informasi: Hemodialisis berasal dari kata “hemo” artinya darah, dan “dialisis ” artinya pemisahan zat-zat terlarut. Hemodialisis berarti proses pembersihan darah dari zat-zat sampah, melalui proses penyaringan di luar tubuh. Hemodialisis menggunakan ginjal buatan berupa mesin dialisis. Mesin ini berbentuk persegi panjang vertikal dengan aneka selang bergantungan, dengan layar berwarna biru di bagian atas layaknya komputer jadul. Di bagian paling atas mesin ada banyak besi buat menggantung entah kantong darah atau kantong obat. Di bagian puncak ada lampu indikator yang menyala hijau, orange atau merah bergantung situasi. Kalau lampu menyala hijau maka situasi aman, lampu menyala orange peringatan selesai dan lampu menyala merah tanda bahaya.
Mesin Hemodialisa

Ini ketiga kalinya aku menjalani terapi ini. Pukul 08.21wib tindakan dimulai pada pergelangan tangan kananku. Jarum menusuknya, perih. Lalu berlanjut ke paha kanan bagian dalam.
"Kenapa di paha kanan?" Tanyaku pada suster yang mengurusku.
"Untuk dapat saluran," jawabnya.
Ternyata tidak sembarang pembuluh darah bisa ditusuk jarum untuk terapi cuci darah ini. Harus pembuluh darah yang memang memiliki saluran ke ginjal.

Lalu selang-selang panjang bening itu memerah dan menghangat. Darahku dicuci. Kadar ureum dan kreatinin yang tinggi dalam darahku memerlukan waktu 4 jam sekali terapi agar darahku menjadi bersih kembali. Empat jam terbaring tanpa boleh bergerak ekstrim begitu membosankan dan melelahkan. Tapi harus dijalani dengan tabah. Sebagai pasien penurut, tentu saja aku menjalaninya dengan tabah.
Proses cuci darah. Sumber: istock

Ruangan cuci darah atau hemodialisa ini lumayan besar. Ruangan ini terbagi dua, satu bagi pasien umum dan satunya lagi bagi pasien covid. Suster memberi tahu bahwa nggak semua rumah sakit mampu menyediakan layanan cuci darah untuk pasien covid. Makanya aku melihat suster mengenakan seragam berbeda. Di ruangan sebelah suster menggunakan seragam hijau khas ruang operasi. Sementara di ruangan di mana aku dirawat, suster menggunakan seragam astronot khas pejuang covid.

Di ruangan ini sudah ada seorang lelaki tua yang menjalani terapi. Lalu, setelah aku menjalani perawatan ada pasien lama yang masuk. Lelaki ini bernafas sangat ribut dan terus menerus melenguh kesakitan. Bahkan, ada satu masa gerakan yang ia buat membikin jarum di tangannya terlepas dan darah muncrat kemana-mana. Suster langsung berlari menolong lelaki itu agar darahnya nggak membeku. Suster berkali-kali mengatakan kepada dirinya sendiri agar nggak panik. Lampu di mesin perawatan lelaki itu menyala merah dan meraung-raung sebagai tanda bahaya. Darah muncrat dan mengotori ranjang, juga seragam astronot suster. Ia lalu sibuk membenahi alat perawatan si lelaki dan membersihkan darah yang tercecer dimana-mana. Tragedi ini membuatku telat dilayani. Kulihat suster sibuk dan lebih dari 5 kali berganti sarung tangan silikon untuk menjaga kebersihan. Ia juga mengepel lantai dengan alkohol.

Di ruangan hemodialisa ini ada dua jenis tempat sampah. Semuanya berwarna kuning. Satu kotak sampah besar tempat dimana selang-selang penuh cairan darah dibuang. Juga ada satu kotak sampah khusus dengan tanda tertentu berwarna hitam. Dua selang kecil yang sebelumnya dilekatkan ditangan dan paha pada akhirnya dibuang ke kotak itu. Mungkin, pemisahan ini berkaitan dengan jenis bahaya yang ditimbulkan oleh si darah dalam selang. Yang pasti, ada banyak sekali sampah yang dihasilkan dari satu terapi mulai dari jarum suntik, plastik, selang, sarung tangan silikon, pembungkus hansaplast dan lainnya.

Oh ya, selama terapi cuci darah pasien ditensi beberapa kali. Hari ini aku ditensi hingga 4 kali sejak sebelum, saat dan sesudah terapi. Tensiku naik turun dengan drastis sehingga aku merasa lucu dengan tubuhku sendiri. Lalu, setelah bosan menunggu lampu di mesinku menyala kuning. Kemudian mengalun musik klasik. Ini pertanda bahwa terapiku hari ini selesai sesuai jadwal yang diset di mesin. Pukul 13.00 wib selesai tindakan dan dijemput suster untuk kembali ke kamar. Perasaan hari ini lega dan terapi dapat kujalani dengan baik. Hanya saja aku diganggu oleh rasa gatal di punggung dan betis. Menggaruk punggung sih gampang, tapi bagaimana menggaruk betis?

Dari cerita-cerita di ruang hemodialisa ini aku tahu bahwa banyak pasien lama yang dirawat di RS ini. Bahkan ada pasien yang sudah 17 tahun menjalani cuci darah. Aku tidak membayangkan akan mengalami perawatan selama itu. Dalam kalkukasiku setidaknya aku harus sembuh total pada usia 40. Sebab, kelak aku akan menikah dan mengurus keluarga. Kalau masih sakit akan menjadi beban bagi diri sendiri dan keluarga. Atau misalnya harus meninggalkan bayi selama 4 jam untuk cuci darah. Oh, tak terbayangkan!

Hari ini aku pindah kamar. Karena sudah negatif covid, aku sudah nggak berhak atas skema covid. Aku harus masuk menjadi pasien umum dan menjalani perawatan ginjalku tanpa tanggungan negara. Baiklah, 10 hari dirawat dengan skema covid membuatku berterima kasih. Setelah ini harus berjuang sendiri.

DOA-DOA SPESIAL UNTUKKU
Manusia yang percaya pada Tuhan juga percaya akan kekuatan doa, bahwa doa akan menjadi senjata ajaib yang mampu membolak-balikkan suatu keadaan. Orang beriman juga percaya bahwa doa merupakan penolak segala bala, sehingga doa selalu ditempatkan diatas daya upaya duniawi. Dalam kasusku, doa-doa itu mengalir dari orang-orang asing yang tidak mengenalku tapi mengenal tulisan-tulisanku, juga dari mereka yang mengenalku. Tentu saja karena mereka paham betapa seriusnya sakit ginjal, jika dibandingkan dengan covid19. Mereka berdoa khusus untukku karena kasih sayang dan cinta mereka sebagai manusia kepadaku. Sebab, dari banyak hal yang bisa mereka berikan kepadaku, doa adalah hadiah paling berharga.

"Mbaaaa.. do'aku semoga semua dimudahkan prosesnya, Bismillah lekas membaik. Terima kasih reminder-nya untuk kami, semangat ya Mbaaa, Allah mudahkan Allah sembuhkan, Amiiiin." Tulis Hani N. 
"Mba Ika semangat ya mba,, Mbak ika pasti sembuh,, kuat ya mba,, Aku selalu berdoa buat mba Ika dari sini, Allah bersama kita mba. Semangat," tulis Vivia Purdasari. 
"Ya Allah Mba ...Semoga lekas sembuh, sesembuh sembuhnya tanpa meninggalkan sakit apapun
Semoga diganti dengan berkah yang tak terkira," tulis Ik Rudianto. 
"Doaku memelukmu ... Tuhan memberikan kekuatan padamu," tulis Catarina. 
"Mbak Ika, semoga Allah swt segera memberi kesembuhan ya. 
Peluk 
 sayang dari Lampung." Tulis Ibu Ari Darmastuti. 
"Turut mendoakanmu, untuk cuci darah besok, untuk kesembuhanmu," Tulis Yohanes Andreas. 
"Semoga sakit yg mbak alami menjadi penggugur dosa² di masa lalu,dan insyaallah akan di ganti nikmat sehat oleh Allah.tetap semangat mbak,jangan lupa sholat nya tetap hrs terjaga." tulis Ferry. 

Maish banyak kiriman doa, dorongan dan semangat untukku dari teman-temanku baik melalui facebook, DM Instagram sampai WA. Semua menyayangi, emcncintai dan mengharapkan kesembuhanku. Tak lupa aku juga mengontak seorang Kiai yang kukagumi dan meminta didoakan khusus oleh beliau. Aku tahu doa orang slah itu manjur dan aku berharap doa mereka menjadi keajaiban untuk kesembuhanku. 

SAKIT KOK MENULIS?
Bagiku, menulis adalah coping mecanism. Menurut Good Therapy, coping mechanism atau mekanisme koping adalah strategi yang bisa dilakukan dalam menghadapi situasi yang menyebabkan stres atau trauma psikologis. Strategi tersebut bermanfaat untuk membantu kita mengatur perasaan emosional yang muncul akibat situasi penyebab stres tersebut. Saat sakit mulutku tidak membuat keributan seperti melenguh atau menjerit atau berzikir dalam suara keras. Aku cenderung diam dan sunyi. Tapi, isi kepalaku yang ribut berisi doa, harapan, kalkulasi, ketakutan, dan sebagainya. Dengan menulis, aku juga hendak berbagi informasi kepada teman-temanku tentang apa yang sebenarnya terjadi pada seorang perempuan muda yang sakit covid19 engan komorbid ginjal. Dengan demikian, apa yang kualami bis menjadi pelajaran bagi orang lain dalam menjaga kesehatannya. Sakit itu ya sakit dan mahal. Sebisa mungkin jangan sakit.

Sejujurnya, aku menangis setiap malam. Tak bisa dipungkiri bahwa sakit ginjal tak ubahnya hukuman berat bagiku. Ia serupa penjara yang mengurung kebebasan yang awalnya kupunya. Kedepan, seluruh hidupku dari bangun tidur hingga tidur kembali akan dikendalikan oleh jadwal cuci darah. Sampai saat ini aku masih belum tahu kalkulasi berapa tahun aku harus menjalani terapi cuci darah agar ginjalku bisa berfungsi dengan baik. Segalanya akan berubah mulai dari pola makan, pola tidur, pilihan liburan hingga pilihan pekerjaan. Kebebasan hidup itu telah hilang.

Aku telah menjadi penyintas covid19. Wabah ini tidak berhasil merenggut nyawaku. Namun demikian, aku menjadi pesakitan ginjal dan ini sakit yang serius. Maka sebagai penyintas covid19, aku melanjutkan hidupku dengan upaya intensif perawatan ginjal. Aku sama sekali tidak akan mengucapkan terima kasih karena telah diberi hukuman berat semacam ini dalam rangka merenungi aneka dosa dalam hidupku. Aku hanya akan berupaya seoptimal mungkin untuk merawat diri agar tubuhku masih bisa menjalankan fungsi biologisnya dengan baik. Mungkin, sejak hari ini aku akan semakin merendah diri di hadapan Tuhanku dan selalu mengingatNya, agar ia menolongku dalam menerima sakit ini dengan tabah dan sabar.

RS Sentra Medika Cibinong, Kamar Lily 239, 11 Juli 2021

 
 

5 comments:

  1. Mba Ika sekarang udah pulang ke kos lah? Jadwal hemodialisa nya tiap berapa lama? Semoga lekas membaik ya mba.

    ReplyDelete
  2. Selalu semangat Ika. Allah menyayangimu...

    ReplyDelete
  3. Semangat ya Ika, semoga Allah beri kesembuhan aamiin..kudoakan dari sini..

    ReplyDelete
  4. mbak ika, lekas sembuh ya. semangat

    ReplyDelete