Nadin Amizah dan tentang Bias Moral Kaya - Miskin

Ilustrasi satir tentang kelompok kaya lawan miskin. Sumber: businessmirror.com 
 
"A rich man is nothing but a poor man with money."
-W.C. Fields-

Dalam podcast di akun Youtube Deddy Corbuzier tanggal 13 Januari 2021, perempuan muda bernama Nadin Amizah mengeluarkan pernyataan kontroversial. Begini kata dia: "...aku disarankan sama bunda jadilah orang kaya, karena kalau kamu kaya kamu akan lebih mudah menjadi orang baik....dan saat kita miskin rasa benci kita terhadap dunia tuh udah terlalu besar sampai kita juga nggak punya waktu untuk baik ke orang lain...." (baca DISINI dan DISINI) Ia kemudian menjadi viral karena dihujat banyak orang melalui media sosial. Dalam podcast tersebut, sebenarnya dijelaskan juga baik oleh Nadin maupun Deddy bahwa pandangan ini adalah tentang sedikit orang, yang mungkin mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Sayangnya, sebab kata-kata lebih tajam dari pedang, pemilihan diksi yang salah oleh Nadin membuatnya dikecam, seakan-akan ia merupakan sosok anak muda yang ignorance atas fakta sosial terkait kaya versus miskin. Kalimat singkat itu sangat kuat dan tegas menunjukkan bias moral kaya versus miskin. Menanggapi kehebohan atas kata-katanya sendiri, penyanyi muda tersebut akhirnya membuat video klarifikasi dan permintaan maaf. 

APA ITU KAYA? APA ITU MISKIN? 
Makna kata 'kaya' dalam kamus adalah 'memiliki kekayaan atau aset dalam jumlah besar.' Lalu, kekayaan itu apa sih? Adam Smith sang Bapak Ekonomi menggambarkan bahwa kekayaan adalah hasil tahunan dari tanah dan tenaga kerja masyarakat. Dalam konteks modern, kekayaan bermakna melimpahnya barang-barang bernilai ekonomis dalam bentuk uang, real estate, hingga properti pribadi.  Sehingga seseorang bisa disebut kaya apabila ia telah berhasil mengumpulkan kekayaan relatif lebih banyak dibandingkan orang lain dalam masyarakatnya atau kelompok referensi di mana ia hidup. 

Kekayaan merupakan kumpulan hal-hal yang ketersediaannya terbatas, dapat dialihkan dan sangat berguna dalam memuaskan keinginan manusia. Komoditas langka yang ketersediaannya terbatas dan tidak mungkin dimiliki semua orang, memungkinkan seseorang yang memilikinya berpotensi kaya. Semakin besar sumberdaya (modal) yang terkumpul pada seseorang, maka ia akan semakin kaya dibandingkan sebagian besar orang lainnya yang hanya mampu mengumpulkan sedikit sumber daya. Nah, kemiskinan adalah segala hal yang berkebalikan dengan kekayaan. Jadi, kekayaan versus kemiskinan adalah sesederhana melimpah atau tidaknya kepemilikan sumberdaya (modal) pada seseorang atau sekelompok orang atau ada sebuah wilayah/negara. Betul sih kata penulis, aktor plus komedian Amerika W.C. Fields alias William Claude Dukenfields bahwa orang kaya adalah orang miskin dengan lebih banyak uang. 

Sejak masa lampau, kepemilikan atas kekayaan (tanah, emas, perak, sutra) yang membuat manusia memecah belah spesiesnya sendiri menjadi kelompok upper class versi lower class. Mereka yang kaya akan berkuasa atas segala sesuatu, bahkan nyawa orang miskin. Orang kaya yang kemudian menjadi pendiri suatu wilayah, kerajaan atau imperium bahkan menyatakan bahwa darah mereka bersih dan suci, sebagai keturunan dewa/dewi sementara darah orang miskin itu kotor macam lumpur paling busuk. Bahkan, kelompok paling kaya yang menamakan dirinya bangsawan menyatakan bahwa kepemimpinan mereka adalah kehendak langit/surga di mana Tuhan berada. Kelompok kaya inilah yang menciptakan perbudakan (berganti rupa menjadi perbudakan modern di dunia kerja) bahkan kasta (yang masih eksis di India). 

Bicara kaya dan miskin nggak sesederhana putih lawan hitam. Sebab, saat bicara seseorang dengan kepemilikan kekayaan melimpah dan seseorang lainnya dengan kekayaan sangat sedikit, kita harus belajar sejarah, hingga ke awal mula peradaban manusia dibangun. Berdasar kabar dalam kitab suci (versi Islam, Kristen dan Yahudi ya), awal mula manusia itu sepasang Adam dan Hawa. Keduanya diturunkan ke bumi dalam keadaan nggak punya apa-apa. Sementara dalam konteks sejarah (dan mungkin Arkeologi) awal mula manusia berasal dari spesies tertentu yang hidup dari berburu dan mengumpulkan makanan. Pada era awal peradaban manusia, seseorang yang paling kuat secara fisik, paling hebat dalam berburu dan paling jantan dalam menaklukkan apapun akan menjadi yang paling kaya. Makanya, masyarakat manusia terus saja mewarisi sifat yang sama atas mereka yang dianggap pemimpin/raja, bahwa mereka yang: paling tangguh dalam bertarung, paling banyak dalam mengumpulkan kekayaan, paling indah lagi luas tempat tinggalnya, paling banyak istri dan anak-anaknya adalah titisan Tuhan. Sifat itu secara biologis dan psikologis terus diwariskan dari generasi ke generasi. Makanya nggak heran jika 'orang kaya' pada era kita merupakan orang yang merasa berhak: sombong, mengendalikan hidup orang lain, membayar tubuh perempuan dengan uang, hingga melakukan kejahatan internasional seperti perang. 

KAYA PASTI BAIK, MISKIN PASTI NGGAK BAIK? 
Aku nggak tahu bagaimana seorang anak muda seperti Nadin Amizah belajar tentang kehidupan. Namun, buatku pernyataan singkatnya tentang orang miskin dan orang kaya lumayan mengganggu. Pernyataan "...aku disarankan sama bunda jadilah orang kaya, karena kalau kamu kaya kamu akan lebih mudah menjadi orang baik....dan saat kita miskin rasa benci kita terhadap dunia tuh udah terlalu besar sampai kita juga nggak punya waktu untuk baik ke orang lain...." sangat bias moral. Sampai hari ini, ketika aku masih membuat tulisan ini, ada sejumlah akun di media sosial yang mengamini pernyataan tersebut sebagai MOTIVASI. Ya, katanya pernyataan tersebut menjadi MOTIVASI agar menjadi orang kaya, sebab jika sudah kaya akan mudah menjadi orang baik. 

Mari kita bedah kalimat tersebut ya, supaya kita paham bias moral didalamnya: 

Kalimat 1: Kalau kamu kaya, kamu akan lebih mudah menjadi orang baik. 
Kalimat 2: Saat kita miskin, kita nggak punya waktu untuk baik ke orang lain. 

Kita tanggapi pernyataan itu dengan pertanyaan sederhana:

Pernyataan 1: benarkah orang kaya mudah menjadi orang baik? kebaikan seperti apa? 
Pertanyaan 2: benarkah orang miskin tidak punya waktu berbuat baik kepada orang lain? 

Pertanyaan ini tidak akan kujawab ya disini, silakan pembaca menjawab sendiri, sesuai dengan kondisi ekonomi (kekayaan dan kemiskinan) masing-masing. Apakah pembaca merupakan orang kaya yang mudah berbuat baik kepada orang lain; atau pembaca merupakan orang miskin yang nggak punya waktu berbuat baik kepada orang lain? 

Jujur saja, dari pernyataan singkat diatas, aku paling nggak suka dengan kalimat ini: "...saat kita miskin rasa benci kita terhadap dunia tuh udah terlalu besar..." seakan-akan semua orang miskin di dunia tuh hidupnya diliputi kebencian, sampai nggak punya waktu untuk berbuat baik kepada orang lain. Aku nggak tahu dan nggak ngerti bagaimana bisa anak muda seperti Nadin bisa menelan mentah-mentah nasehat ibunya, sebab setahuku Nadin ini seorang mahasiswa di Universitas Langlangbuana, Bandung jurusan Ekonomi Bisnis. Jika kata-kata itu diucapkan sebagai 'opini' pribadi, maka ini sangat merendahkan sebab sebagian besar warga dunia orang miskin. Namun, jika pendapat tersebut merupakan hasil penelitian, maka harus disebutkan persentase orang miskin yang jadi responden riset serta fakta-fakta ilmiah yang mendukung pernyataan tersebut. Mengapa demikian? Karena persoalan kaya-miskin itu nggak sesederhana yang kita bayangkan, tapi sangat jlimet dan kompleks, macam lingkaran setan yang nggak berhenti berputar. 

Oh ya, sebelum kita melanjutkan pembahasan lebih komprehensif tentang kaya dan miskin, dan bagaimana dunia manusia dipecah menjadi manusia kaya dan manusia miskin, aku mau cerita sedikit tentang masa kecilku. Jika diukur berdasarkan kepemilikan harta gono-gini, maka aku berasal dari keluarga miskin. Sebagai anak dari keluarga miskin, aku sangat suka bermain di alam, belajar di sekolah, mengaji di TPA, membaca buku, menonton televisi, dan mendengar aneka gosip yang beredar. Sebagai orang miskin, aku berhasil menamatkan pendidikan aku hingga jenjang SMA dengan nilai yang sangat baik. Bahkan, aku masuk universitas tanpa tes alias jalur nilai rapor (pada zaman aku namanya PKAB) di jurusan Sosiologi, Universitas Lampung. Selama kuliah, aku jadi mahasiswa berprestasi dan mendapat beasiswa. Dua tahun setelah lulus sebagai Sarjana Sosiologi, aku mendapat beasiswa internasional dari the Ford Foundation dan berhasil melanjutkan kuliah level Magister di Universitas Indonesia jurusan Kesejahteraan Sosial. Beasiswa ini juga berhasil membawaku terbang ke Amerika Serikat untuk mengikuti kursus Bahasa Inggris dan Leadership Training. 

Dari cerita singkatku ini, aku hendak menunjukkan bahwa sebagai anak dari keluarga miskin: AKU TIDAK MEMBENCI DUNIA dan AKU SELALU PUNYA WAKTU untuk berbuat baik, bahkan memperjuangkan pendidikan, sebab aku harus menjadi perempuan terdidik. Bahkan blog ini adalah salah satu bentuk kebaikanku dalam membangun kesadaran publik tentang banyak hal, misalnya women empowerment dan bagaimana aku turut mengedukasi publik tentang banyak hal seperti isu kesehatan reproduksi, lingkungan, pangan, hingga hukum. Kebaikan kecil yang kulakukan ini sama sekali nggak ada hubungannya dengan uang atau harta kekayaan, melainkan bagaimana sebagai perempuan aku memikul tanggung jawab untuk berbagai pengetahuan dan mengajak publik berpikir kritis. Soal harta gono-gini, aku masih miskin hahaha. 

Berdasarkan hasil Swab PCR pada 29 Juni 2021, aku positif mengidap covid-19. Lantas puluhan teman-temanku bergotong royong membantuku sembuh. Ada yang mengirimkan obat-obatan, makanan, hingga uang untuk membeli keperluan kesembuhanku. Ada juga yang mengusahakan agar aku dirawat di Rumah Sakit Darurat Corona Wisma Atlet di Kemayoran, Jakarta. Aku mendapat perawatan yang baik di Wisma Atlet meski kemudian aku harus berpindah ke RS Sentra Medika Cibinong, Bogor Jawa Barat untuk mendapat perawatan intensif atas penyakit gagal ginjal. Ya, per 3 Juli aku divonis gagal ginjal sehingga disarankan melakukan cuci darah. Yang memasukkan aku ke RS Sentra Medika Cibinong adalah teman-temanku, dan ini merupakan privilese karena di era darurat coid-19, seluruh rumah sakit di Jawa dan Bali penuh oleh pasien. Di RS ini aku mendapat perawatan intensif dan per 15 Juli aku sudah menjalani cuci darah sebanyak 4 kali sehingga kondisiku semakin membaik. 

Saat menjalani sakit ini, ada banyak dukungan dari teman-temanku baik dalam bentuk materi dan moril. Mereka selalu setia memberi semangat kepadaku, dan mendorongku agar bersemangat mengupayakan kesembuhan. Mereka juga mengirim uang padaku, membuat rekening aku selalu terisi sehingga aku bisa membayar biaya perawatan, karena tak lagi ditanggung pemerintah melalui skema covid-19. Teman-temanku ini bukan orang kaya raya, mereka adalah kalangan menengah ke bawah. Namun, mereka punya waktu untuk berbuat baik padaku. Nilai uang yang mereka donasikan padaku dalam konteks per individu berkisar Rp 10.000-3.0000.000. Ya, donasi paling kecil adalah Rp 10.000 dan paling besar Rp. 3 juta. Belum lagi donasi atas nama kelompok atau institusi yang nominalnya beragam. Angka ini bukan menunjukkan besar atau kecilnya kepedulian, melainkan secara keseluruhan menunjukkan bahwa tidak perlu menjadi kaya untuk berbuat baik. Donasi mereka membuktikan bahwa kebaikan hati yang diberikan seseorang kepada orang lain tidak bergantung pada status ekonomi kaya atau miskin. Alat ukurnya adalah kasih sayang kepada sesama manusia, dan mereka melakukan kebaikan itu dalam konteks kemanusiaan. Dengan demikian, kita nggak perlu menunggu kaya untuk berbuat baik kepada orang lain. 

KEMISKINAN KULTURAL DAN KEMISKINAN STRUKTURAL
Miskin tidak sama dengan tidak memiliki uang/aset. Miskin merupakan kondisi kompleks dengan sejumlah dimensi dan indikator. United Nations Development Program (UNDP) membuat pengukuran kemiskinan yang disebut Multidimensional Poverty Index (MPI) atau Indek Kemiskinan Multidimensi. Terdapat 3 dimensi kemiskinan dengan 10 indikator yang berlaku di seluruh dunia, untuk mendapatkan data dan gambaran umum kemiskinan global. data IPH ini berkaitan erat dengan Human Development Index (HPI) dan rangking HPI Indonesia tahun 2020 ada di posisi 107 dari 189 negara. Jika ingin mempelajari lebih detail HPI Indonesia sehingga posisinya bisa jeblok begitu bisa di cek DISINI
Perhatikan data ini untuk memahami betapa kompleksnya masalah kemiskinan. Sumber: UNDP. 

Berdasarkan pengukuran MPI tahun 2019 ini, ternyata kemiskinan masih melingkupi 107 negara berkembang, dengan 1.3 triliun jiwa alias 22% penduduk dunia mengalami kemiskinan multidimensi! Yang parah dari data ini adalah sebanyak 644 juta anak-anak di dunia mengalami kemiskinan multidimensi, dengan perbandingan 1 dari 3 anak mengalami kemiskinan multidimensi, dibandingkan dengan orang dewasa dengan perbandingan 1 banding 6 orang. Dari studi yang dilakukan, kemiskinan ternyata nggak berhubungan langsung dengan kemiskinan moneter (kekurangan uang), melainkan disebabkan oleh banyak faktor lain. Nah, faktor lain yang dimaksud bisa mengacu pada ke 10 indikator yang digunakan dalam mengukur 3 dimensi kemiskinan global. Pembaca bisa membaca dokumen kajian TNP2K tentang indikator Garis Kemiskinan DISINI untuk memahami situasi di Indonesia dan apa yang dilakukan pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan. 

Bicara kemiskinan multidimensi adalah tentang perkawinan erat antara kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural. Contoh sederhana kemiskinan kultural: keluarga A adalah keluarga miskin menurut standar negara, dan penghasilan keluarga itu nggak bisa menghidupi lebih dari satu orang anak. Tapi, karena keluarga A yakin bahwa bahwa banyak anak banyak rezeki, maka keluarga A terus saja punya anak hingga 25 orang. Pernah dengar kan kasus semacam ini, di mana sebuah keluarga yang terdiri dari 27 orang tinggal di bekas kandang kambing? Pola miskin pikiran yang menggantungkan kehidupan pada nasib alih-alih menghitung situasi dan kondisi dengan cermat membuat orang terus jatuh terpuruk pada kemiskinan paling dalam karena perbuatannya sendiri. Kemiskinan semacam ini jelas membutuhkan intervensi negara atau pihak lain dan nggak mungkin selesai dalam setahun dua tahun si miskin langsung berdaya. Sok aja bayangkan, bagaimana membantu satu keluarga yang terdiri dari 27 orang untuk keluar dari kemiskinan mulai dari menyediakan rumah layak; sanitasi; pekerjaan yang penghasilannya bisa menghidupi ke 27 anggota keluarga; biaya pendidikan; biaya kesehatan; dll? 

Lain cerita dengan kemiskinan struktural di mana kondisi miskin disebabkan oleh lemahnya dukungan negara dan korupsi birokrasi dalam distribusi akses pada sumber daya alam, modal dan informasi kepada masyarakat, atau bahasa kasarnya kemiskinan yang diciptakan dengan sengaja. Contohnya: pada suatu masa negara mengatakan bahwa rakyat sebaiknya menanam cengkeh sebab Indonesia akan menjadi negara pengekspor cengkeh terbesar di dunia. Setelah puluhan tahun rakyat menikmati hasil penjualan cengkeh dan abai pada komoditas lain, lalu terjadilah sabotase di mana sebuah virus diciptakan untuk membunuh pohon-pohon cengkeh di seluruh negeri, kecuali perkebunan cengkeh milik pejabat A di daerah A. Alhasil, petani cengkeh di seantero negeri mendadak bangkrut lagi jatuh miskin bahkan terlilit hutang pada tukang pupuk dan pejabat A memonopoli pasar ekspor cengkeh dan mendapat keuntungan maha dahsyat karena kelangkaan cengkeh. 

Gross national product (GNI) Ratio Indonesia pada 2020 meningkat sebagai dampak pandemi. Krisis ekonomi yang disebabkan oleh pandemi sangat berbeda dengan krisis moneter pada 1998 dan 2008. Saat pandemi, rakyat kecil dan pelaku usaha UMKM paling terpukul secara finansial, sehingga menyebabkan meningkatnya angka kemiskinan di Indonesia. BPS mencatat tingkat kemiskinan di pedesaan naik menjadi 13. 2% sementara tingkat kemiskinan di perkotaan naik menjadi 7.88%. Selain itu, tingkat pengangguran terbuka naik menjadi 7. 07% (2.56% juta orang) dan usia kerja terdampak pandemi naik menjadi 29. 12 juta penduduk. Dalam hal ini, ada 24 juta penduduk harus bekerja dengan pengurangan jam kerja dan upah. Jumlah penduduk miskin di Indonesia per September 2020 adalah 27.5 juta jiwa (10. 19%). 

Data juga menunjukkan ketimpangan antara penduduk miskin di desa dan kota. Data ini ditunjukkan oleh kenaikan GNI Ratio per Maret 2020 ke September 2020. Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah pusat dan daerah adalah memberikan bantuan sosial kepada masyarakat dan UMKM sehingga uang mengalir dan roda perekonomian berputar. Perputaran ekonomi juga banyak didukung oleh kegiatan warga bantu warga baik dalam bentuk donasi langsung berupa uang hingga barang-barang kebutuhan pokok seperti sembako dan obat-obatan. Kerjasama dalam kelompok masyarakat juga menjadi salah satu warna tersendiri dalam menjawab krisis akibat pandemi. Dalam konteks ini kita bisa bicara charity dari orang kaya kepada orang miskin, meski sebenarnya dalam fakta penggalangan dana publik berlaku dari siapa saja yang memiliki kemampuan memberi untuk mereka yang membutuhkan bantuan. 

MENGAPA KEMISKINAN TIDAK PERNAH BERAKHIR? 
Upaya pengentasan kemiskinan dilakukan oleh seluruh negara di dunia. Dipimpin PBB, negara-negara di dunia membuat skema dan program dalam mengentaskan kemiskinan. Ada jutaan program dibuat untuk mengentaskan kemiskinan. Tapi, mengapa kemiskinan warga dunia tidak pernah berakhir? Mengapa program-program pengentasan kemiskinan tidak berhasil mengentaskan kemiskinan? Mengapa charity dari orang-orang kaya nggak bisa mengentaskan kemiskinan? Mengapa jumlah orang miskin selalu saja bertambah dan seakan-akan kemiskinan di dunia ini ibarat kutukan yang tak pernah dicabut oleh Tuhan? Mari kita kembali bertanya: apakah pembaca pernah menghadiri sebuah seminar, workshop, simposium, diskusi publik atau forum lainnya yang membahas kemiskinan? Jika pernah, di manakah lokasinya: di kampung-kampung miskin atau di hotel berbintang yang megah dan mewah? 

Ada sebuah paradoks saat kita membicarakan kemiskinan dan membahas program-program pengentasan kemiskinan. Seringkali, 'mereka' yang membahas bagaimana kemiskinan dientaskan bukan orang miskin; membahas kemiskinan di hotel berbintang 5 di mana peserta menikmati hidangan enak setelah membicarakan kemiskinan, duduk di kursi empuk, ruangan megah dengan mesin pendingin, dan hal-hal yang sangat jauh dari kondisi orang miskin. Dalam hal ini, si miskin yang menjadi subjek program bahkan nggak dihadirkan untuk menyampaikan apa kebutuhan mereka untuk keluar dari kemiskinan. Coba hitung saja anggaran yang digunakan untuk membicarakan kemiskinan di tempat megah semacam itu, jika dibandingkan dengan dana yang diberikan sebuah program dalam pengentasan kemiskinan. Bisa dipastikan, dana yang sampai ke masyarakat sebagai subjek program jumlahnya jauh lebih kecil; tapi dengan harapan besar mereka akan terbebas dari kemiskinan menahun dalam waktu sekian tahun. 

Salah satu jawaban paling rasional atas pertanyaan ini adalah: orang miskin yang melahirkan anak-anak miskin akan meningkatkan angka kemiskinan  dengan cepat, sebelum kemiskinan itu mampu di entaskan oleh program pengentasan kemiskinan. Keluarga miskin yang melahirkan bayi-bayi miskin sedang meningkatkan angka kemiskinan dan jumlah orang miskin akan berlipat secara otomatis. Jika kemiskinan hendak dihilangkan secara total dari muka bumi, maka diperlukan perubahan sistem yang secara teknis mampu memberdayakan penduduk miskin untuk keluar dari kemiskinan. 

MENJADI KAYA, MENJADI PERHITUNGAN
Kekayaan dilihat dengan cara berbeda dari kacamata orang kaya versus orang miskin. Percayalah, orang miskin yang menjadi kaya tidak akan serta merta melaksanakan cita-cita mulianya ketika masih miskin. Saat orang miskin menjadi kaya, maka ia akan menjaga kekayaan itu agar tetap dalam genggamannya. Karena sudah kaya, ia akan membangun rumah megah dan kuat dengan pagar tinggi yang dilengkapi CCTV, membeli lemari besi penyimpan uang tunai dan benda berharga lain sebab takut dicuri seseorang, melakukan investasi agar uang tidak terbuang percuma, membangun yayasan agar bisa melakukan kegiatan filantropi, dan melakukan banyak kegiatan amal dengan sistem pelaporan yang akuntabel dan transparan, dan mulai menaruh curiga pada orang miskin. 

"Kalau aku orang kaya, aku akan membantu orang miskin," adalah idealisme yang perlahan kabur. Saat miskin, orang miskin tahu bagaimana sebaiknya orang kaya membantu orang miskin keluar dari kemiskinan. caranya sederhana: berikan apa yang orang miskin butuhkan untuk keluar dari kemiskinan, berupa modal usaha atau biaya pendidikan. Namun, saat si miskin menjadi kaya maka pola pikirnya berubah, Ia mengira memberi sembako yang cukup memenuhi kebutuhan makan 3 hari dianggap akan membuat orang miskin berdaya dan keluar dari kemiskinan. Kukira kita semua paham bahwa rasa kasihan si kaya kepada si miskin tidak akan membuat si miskin keluar dari kemiskinan, sebab kemiskinan itu merupakan masalah sosial yang harus di entaskan dengan cara realistis dan logis, yaitu mencabut akar kemiskinan. Nah, akar kemiskinan ini bisa jadi rendahnya pendidikan, kurangnya modal produksi, lemahnya akses pada permodalan yang disediakan negara, sulitnya akses ke fasilitas kesehatan sehingga si miskin sakit, hingga lemahnya akses informasi pada banyak kegiatan peningkatan keterampilan. 

Pernyataan Nadin Amizah "Kalau kamu kaya, kamu akan lebih mudah menjadi orang baik," menurutku sangat nggak relevan. Aku sudah membuktikannya. Beberapa waktu lalu, aku menghubungi sejumlah orang kaya dan boleh dibilang crazy rich dengan prosedur sopan melalui email resmi milik mereka. Rencananya, aku ingin dibantu permodalan usaha sekaligus meminta menjadi murid mereka lah. Setahuku, mereka gembar-gembor suka membantu orang miskin dengan kekayaan yang mereka miliki. Lalu, apa yang terjadi? Email-email itu tidak pernah berbalas. Padahal aku berharap, email itu akan berbalas meski berisi penolakan. Mengapa? Respon merupakan hal penting dalam komunikasi. Email balasan bisa jadi merupakan bentuk perhatian dan kepedulian, meski bukan sebuah persetujuan bahwa mereka yang kaya itu akan membantuku tumbuh dan berkembang. Nah, Jika melalui prosedur resmi saja aku nggak bisa menggapai kebaikan mereka yang kaya, lantas dengan cara apa aku membuktikan bahwa orang kaya akan mudah menjadi orang baik? 

Jika misalnya kita lakukan lagi eksperimen yang lebih realistis: meminta bantuan kepada Nadin Amizah. Sebagai aktris Nadine pastilah memiliki sejumlah syarat untuk bisa disebut orang kaya. Jika misalnya aku mengontak Nadin Amizah dengan cara resmi dalam rangka meminta bantuan modal usaha, apakah permintaanku akan direspon oleh kebaikan hati Nadin Amizah? Atau emailku apakah masuk ke kotak sampah dan Nadin menganggap aku sebagai orang licik yang mengirim email spam untuk menipunya? Bagaimana caraku membuktikan bahwa Nadin Amizah yang kaya merupakan orang baik dan kebaikannya bisa membantuku keluar dari masalah yang kuhadapi? Apakah Nadin Amizah yang orang kaya memang merupakan orang baik dan kekayaannya membuatnya lebih mudah melakukan kebaikan? 

Apa yang disebut sebagai 'orang baik' dalam sudut pandang Nadin Amizah? Apakah orang baik adalah mereka yang selalu menyumbangkan harta bendanya kepada orang lain? Apakah orang baik merupakan mereka yang kaya raya dan tidak pernah menerima bantuan orang lain? Apakah orang baik harus selalu kaya raya? Apakah orang baik diukur dari kepemilikan harta dan kemampuan mereka untuk tidak bergantung pada bantuan orang lain? 

Suatu hari aku bertemu ibu-ibu yang sepertinya sedang giat-giatnya mengaji. Ia mengatakan kepadaku bahwa salah satu ukuran kasih sayang Allah kepada kita adalah dimudahkannya kita dalam mencari rezeki. Ia bahkan mengatakan para ustadz yang kerjanya berceramah merupakan orang dengan pekerjaan terbaik karena itu harta benda mereka berlimpah. Dalam pandangannya, para pendakwah adalah orang-orang yang diberkahi sehingga Allah pun mengganjar mereka dengan rezeki melimpah dalam bentuk kekayaan. Sementara di mata ibu tersebut aku bukanlah hamba Allah yang soleha karena aku masih miskin. Ibu itu lupa, jika kekayaan menjadi standar keimanan maka keimanan Nabi Muhammad lebih rendah dari Utsman bin Affan dong, sebab Utsman bin Affan jauh lebih kaya dari Nabi Muhammad SAW. 


Jadi, kaya atau miskin dalam dunia manusia adalah pembeda level usaha, kesempatan dan warisan sistem saja. Kebaikan tidak pernah dibedakan berdasar kaya atau miskin. Siapapun berhak dan mampu menjadi orang baik dan berbuat kebaikan. Kaya atau miskin tidak menjadi ukuran keberhasilan dalam dunia kebaikan, sebab yang diperlukan dalam melakukan kebaikan adalah hati yang ikhlas dan kehendak membantu orang lain keluar dari kesulitan. 

KAYA, SEDEKAH DAN BERBUAT BAIK
Cara paling sederhana dalam mengukur kebaikan seseorang biasanya dilihat dari kemampuan seseorang bersedekah, atau memberikan harta atau makanan kepada orang lain yang mmebutuhkan. Namun, kita lupa bahwa seringkali sedekah tidak berfungsi optimal dalam mengentaskan kemiskinan, apalagi kemiskinan multidimensi. Kita, misalnya, nggak mungkin membuat satu keluarga miskin tiba-tiba menjadi berdaya apalagi kaya raya hanya dengan memberi mereka sedekah uang Rp. 1 juta dan sembako untuk mengisi perut seminggu saja. Kelaparan adalah efek dari kemiskinan, bukan akar kemiskinan. Kurangnya kepemilikan uang juga efek dari kemiskinan, bukan akar kemiskinan. Sehingga, sedekah ala kadarnya dna berharap kemiskinan di bumi hilang tuh cara berpikir nggak waras. 

Selain itu, sebagian kita mungkin bersedekah bukan dalam rangka mengeluarkan seseorang dari kemiskininan, melainkan demi kepentingan diri sendiri. Kita yang beragama ini percaya bahwa sedekah bisa mendekatkan diri kepada Tuhan bahkan percaya Tuhan akan melipatgandakan rezeki kita dengan sedekah. Pada sisi tertentu, kita kemaruk alias rakus. Konsepnya cenderung mirip paham kapitalisme dimana kita menggunakan modal sekecil-kecilnya untuk meraih untung sebesar-besarnya. Dengan sedekah Rp 100.000 misalnya kita berharap Tuhan melipatgandakan rezeki kita menjadi Rp. 1 juta, memasukkan kita ke surga dan mengampuni dosa-dosa kita. Sayangnya, sedekah yang Rp. 100.000 itu nyatanya nggak mampu mengeluarkan orang yang kita bantu dari kemiskinan, karena ada banyak hal yang harus dibayar untuk berdaya. 

Itulah mengapa, aku dengan terang-terangan menyebut konsep kaya-miskin ala Nadin Amizah sangat bias moral. Kita nggak akan pernah bisa mengukur kebaikan dalam diri seseorang hanya karena status finansialnya sebagai kaya atau miskin. Sebab, jika benar orang kaya begitu mudah berbuat baik, maka ketimpangan ekonomi dan sosial di dunia telah lama selesai. Hari ini, ketimpangan yang kita saksikan dan rasakan adalah hasil dari tidak meratanya distribusi akses terhadap modal, informasi dan kesempatan selama berabad-abad lamanya. Menjadi manusia bukan hanya tentang baik atau tidak baik, melainkan bagaimana menggunakan sistem yang telah dibangun untuk kesejahteran bersama secara kulural dan struktural. Hanya dengan cara ini konsep kaya-miskin akan hilang dari bumi, dan semua hidup sejahtera. 

Bumi Manusia, 17 Juli  2021

Bahan Bacaan: 

https://youtu.be/M-T6PXyxAbE
https://youtu.be/SHRdsEBJT9I
https://youtu.be/xVFHSFesNPI
http://www.tnp2k.go.id/download/79169WP480304FINAL.pdf
http://hdr.undp.org/en/2019-MPI


No comments:

Post a Comment