Bagi Penderita Gagal Ginjal, Pipis Merupakan Kebahagiaan

Aku di ranjang pesakitanku. Foto oleh Suster B
 
Selamat dari menjadi angka statistik kematian akibat covid19, bukan berarti hidupku lega. Sebagai penyintas covid19 justru aku kembali ditantang bertarung dengan diriku sendiri. Ginjalku ngambek dan membutuhkan perhatian spesial. Sakit kali ini akan mengubah banyak hal dalam hidupku. Di dunia ini memang bukan cuma aku yang sakit ginjal. Jutaan orang sakit ginjal. Bahkan ada mereka yang harus melakukan transplantasi ginjal. Namun, setiap sakit adalah derita personal bagi yang mengalaminya. Kubagikan kisah sakitku agar pembaca yang sehat selalu menjaga diri supaya tak berpengalaman sakit seperti sakitku. Sakit itu mahal.
 
HEMODIALISA
Telah 10 hari aku tak bersentuhan dengan hangat matahari. Rasanya rindu sekali kulitku ini pada pagi hangat bercahaya. Terkurung di ruang perawatan covid19 sejak dari RSDC Wisma Atlet hingga RS Sentra Medika Cibinong tak lagi mampu menghitung waktu berbasis bayangan matahari, tetapi hanya sebatas angka-angka penunjuk waktu di ponsel. 24 jam terkurung di bangsal sebagai pesakitan begitu membosankan. Aku menghibur diri dengan menonton video di Youtube atau setiap Sabtu pagi menonton episode terbaru drama Penthouse dari Korea Selatan atau berdandan. Meski di RS aku nggak lupa merawat rambut, pipi dan bibirku. Aku juga memakai pensil alis dan lip balm. Bagiku, walau sakit tetap harus cantik dan wangi. Karena hanya tubuhku yang tahu apa yang kubutuhkan untuk sembuh, di mana salah satu kebutuhan itu adalah merasa bahagia.

Sejujurnya aku menyukai bentuk tubuhku. Aku langsing dan seksi. Aku punya bentuk pinggang dan area bokong yang cantik. Biasanya aku suka mematut- matut diri di depan cermin untuk mengagumi tubuhku sendiri. Misalnya banyak yang iri betapa rata perutku. Tapi, sejak bengkak-bengkak tersebab aku mengalami masalah ginjal, tubuhku sudah nggak berbentuk indah lagi. Ada tumpukan cairan di area cantik itu. Meski aku sedih dengan apa yang terjadi pada tubuhku, aku tetap harus memeluknya. Tidak ada seorangpun yang bisa mengerti tubuhku selain diriku sendiri.

Dalam memeluk sedih dan sakit, sembari berusaha memaafkan dosa masa lalu, aku menghibur diri bahwa aku akan sembuh. Betapapun hari-hariku kedepan akan terasa berat dan terjadwal ketat, aku tetap meminta tubuhku agar sembuh. Selain diriku sendiri, tentunya ada banyak orang yang sayang padaku dan mengirim doa untukku. Satu hari, seorang pembaca dari NTT mengontakku. Ia mengatakan kaget dengan kondisi kesehatanku dan menawarkan mengirimkan herbal khas NTT bernama Sape Hutan atau Flamboyan hutan yang juga digunakan adik lelakinya yang mengalami masalah ginjal sejak usia 3 tahun. Ia mengatakan bahwa aku masih muda dan harus punya semangat sembuh. Karena jika aku sembuh ia berharap akan kembali membaca tulisan-tulisanku.

Pesan lain datang dari pembaca yang juga mengaku sebagai pengagum rahasia. Ia berkata bahwa kami nggak saling mengenal, namun ia pembaca setia tulisan-tulisanku. Ia merasa berat hati dengan sakit yang kualami. Ia mengatakan agar aku memaafkan masa lalu yang menyebabkan sakit ini. Ia berharap aku berserah kepada Tuhan atas hidupku di masa depan. Ia tentu saja berharap aku akan terus menulis. Ada banyak pembaca setia mengontak dan mengirim doa. Pun sejumlah sahabat lama yang bahkan lebih dari 10 tahun tak bersua. Karena aku menulis kisahku sendiri, maka berita sakitku menyebar kemana-mana, mempertemukan aku dengan para pembaca setiaku dan sahabat lama. Di satu sisi sakit ini bagai hukuman, tapi di sisi lain mendatangkan kasih sayang serta doa-doa spesial. Bahkan aku merasa spesial dimata mereka yang tidak kukenal, tapi mereka mengenal isi kepalaku.

"Saya nggak kenal Mbak Ika. Tapi saya sayang Mbak Ika. Cepat sembuh ya," merupakan ungkapan sayang paling banyak aku terima. Dosaku atas tubuhku begitu besarnya, tapi begitu banyak orang asing yang justru sayang padaku, mengirim uang dan obat untukku, berdoa untukku hingga menulis surat panjang lebar untuk memberi semangat kepadaku.

Hari ini pukul 07.54wib aku dijemput suster untuk kembali ke ruang cuci darah alias Hemodialisa. Sedikit informasi: Hemodialisis berasal dari kata “hemo” artinya darah, dan “dialisis ” artinya pemisahan zat-zat terlarut. Hemodialisis berarti proses pembersihan darah dari zat-zat sampah, melalui proses penyaringan di luar tubuh. Hemodialisis menggunakan ginjal buatan berupa mesin dialisis. Mesin ini berbentuk persegi panjang vertikal dengan aneka selang bergantungan, dengan layar berwarna biru di bagian atas layaknya komputer jadul. Di bagian paling atas mesin ada banyak besi buat menggantung entah kantong darah atau kantong obat. Di bagian puncak ada lampu indikator yang menyala hijau, orange atau merah bergantung situasi. Kalau lampu menyala hijau maka situasi aman, lampu menyala orange peringatan selesai dan lampu menyala merah tanda bahaya.
Gambaran proses cuci darah yang kujalani

Ini ketiga kalinya aku menjalani terapi ini. Pukul 08.21wib tindakan dimulai pada pergelangan tangan kananku. Jarum menusuknya, perih. Lalu berlanjut ke paha kanan bagian dalam.
"Kenapa di paha kanan?" Tanyaku pada suster yang mengurusku.
"Untuk dapat saluran," jawabnya.

Ternyata tidak sembarang pembuluh darah bisa ditusuk jarum untuk terapi cuci darah ini. Harus pembuluh darah yang memang memiliki saluran ke ginjal. Lalu selang-selang panjang bening itu memerah dan menghangat. Darahku dicuci. Kadar ureum dan kreatinin yang tinggi dalam darahku memerlukan waktu 4 jam sekali terapi agar darahku menjadi bersih kembali. Empat jam terbaring tanpa boleh bergerak ekstrim begitu membosankan dan melelahkan. Tapi harus dijalani dengan tabah. Sebagai pasien penurut, tentu saja aku menjalaninya dengan tabah.

Ruangan cuci darah atau hemodialisa ini lumayan besar. Ruangan ini terbagi dua, satu bagi pasien umum dan satunya lagi bagi pasien covid. Suster memberi tahu bahwa nggak semua rumah sakit mampu menyediakan layanan cuci darah untuk pasien covid. Makanya aku melihat suster mengenakan seragam berbeda. Di ruangan sebelah suster menggunakan seragam hijau khas ruang operasi. Sementara di ruangan di mana aku dirawat, suster menggunakan seragam astronot khas pejuang covid.

Di ruangan ini sudah ada seorang lelaki tua yang menjalani terapi. Lalu, setelah aku menjalani perawatan ada pasien lama yang masuk. Lelaki ini bernafas sangat ribut dan terus menerus melenguh kesakitan. Bahkan, ada satu masa gerakan yang ia buat membikin jarum di tangannya terlepas dan darah muncrat kemana-mana. Suster langsung berlari menolong lelaki itu agar darahnya nggak membeku. Suster berkali-kali mengatakan kepada dirinya sendiri agar nggak panik. Lampu di mesin perawatan lelaki itu menyala merah dan meraung-raung sebagai tanda bahaya.

Darah muncrat dan mengotori ranjang, juga seragam astronot suster. Ia lalu sibuk membenahi alat perawatan si lelaki dan membersihkan darah yang tercecer dimana-mana. Tragedi ini membuatku telat dilayani. Kulihat suster sibuk dan lebih dari 5 kali berganti sarung tangan silikon untuk menjaga kebersihan. Ia juga mengepel lantai dengan alkohol.

Di ruangan hemodialisa ini ada dua jenis tempat sampah. Semuanya berwarna kuning. Satu kotak sampah besar tempat dimana selang-selang penuh cairan darah dibuang. Juga ada satu kotak sampah khusus dengan tanda tertentu berwarna hitam. Dua selang kecil yang sebelumnya dilekatkan ditangan dan paha pada akhirnya dibuang ke kotak itu. Mungkin, pemisahan ini berkaitan dengan jenis bahaya yang ditimbulkan oleh si darah dalam selang. Yang pasti, ada banyak sekali sampah yang dihasilkan dari satu terapi mulai dari jarum suntik, plastik, selang, sarung tangan silikon, pembungkus hansaplast dan lainnya. 

Oh ya, selama terapi cuci darah pasien ditensi beberapa kali. Hari ini aku ditensi hingga 4 kali sejak sebelum, saat dan sesudah terapi. Tensiku naik turun dengan drastis sehingga aku merasa lucu dengan tubuhku sendiri. Lalu, setelah bosan menunggu lampu di mesinku menyala kuning. Kemudian mengalun musik klasik. Ini pertanda bahwa terapiku hari ini selesai sesuai jadwal yang diset di mesin. Pukul 13.00 wib selesai tindakan dan dijemput suster untuk kembali ke kamar. Perasaan hari ini lega dan terapi dapat kujalani dengan baik. Hanya saja aku diganggu oleh rasa gatal di punggung dan betis. Menggaruk punggung sih gampang, tapi bagaimana menggaruk betis?

Dari cerita-cerita di ruang hemodialisa ini aku tahu bahwa banyak pasien lama yang dirawat di RS ini. Bahkan ada pasien yang sudah 17 tahun menjalani cuci darah. Aku tidak membayangkan akan mengalami perawatan selama itu. Dalam kalkukasiku setidaknya aku harus sembuh total pada usia 40. Sebab, kelak aku akan menikah dan mengurus keluarga. Kalau masih sakit akan menjadi beban bagi diri sendiri dan keluarga. Atau misalnya harus meninggalkan bayi selama 4 jam untuk cuci darah. Oh, tak terbayangkan!

Hari ini aku pindah kamar. Karena sudah negatif covid, aku sudah nggak berhak atas skema covid. Aku harus masuk menjadi pasien umum dan menjalani perawatan ginjalku tanpa tanggungan negara. Baiklah, 10 hari dirawat dengan skema covid membuatku berterima kasih. Setelah ini harus berjuang sendiri.

NB: sakit kok sempat-sempatnya menulis? Bagiku, menulis adalah coping mecanism. Menurut Good Therapy, coping mechanism atau mekanisme koping adalah strategi yang bisa dilakukan dalam menghadapi situasi yang menyebabkan stres atau trauma psikologis. Strategi tersebut bermanfaat untuk membantu kita mengatur perasaan emosional yang muncul akibat situasi penyebab stres tersebut. Saat sakit mulutku tidak membuat keributan seperti melenguh atau menjerit atau berzikir dalam suara keras. Aku cenderung diam dan sunyi. Tapi, isi kepalaku yang ribut berisi doa, harapan, kalkulasi, ketakutan, dan sebagainya.
 
DISRUPSI
Pada 11 Juli aku resmi menjadi pasien non covid dan pindah ke kamar baru di ruang Lily nomor 239/6. Kamar ini sama besar dengan kamar Gladiol 369/4 tempatku dirawat sebagai pasien covid. Di kamar ini ada 6 ranjang dengan 2 terisi. Satu olehku dan satunya pasien lain di seberang ranjangku. Pasien itu kelahiran 1992 dan mengeluh sakit kepala akut bagai ditusuk-tusuk sampai nggak bisa tidur. Sepertinya, pasien tersebut sama kalemnya denganku dalam menerima rasa sakit sebab ruangan kami begitu hening. Suara justru dominan berasal dari nyala AC atau celotehan para perawat di area administrasi. Atau suara lalu lalang sesuatu yang beroda dan didorong.

Pasien perempuan itu punya pasangan dan pasangannya menemaninya. Kudengar mereka mengobrol dengan santai. Mungkin mereka juga saling berpelukan saat tidur. Uhh, sebagai jomblo aku merasa iri sebab aku hanya dipeluk oleh selimut tipis yang tidak mampu mengusir dingin dari AC.

Jujur saja, setiap malam aku menangis. Meski berusaha tabah dan nrimo, tetap saja airmataku mengalir dan hatiku tersayat. Sakit sekali rasanya harus berada dalam kondisi ini, keadaan yang merenggut kebebasan hidup. Aku juga kehilangan nafsu makan dan selalu ingin muntah setiap kali menyuapkan makanan rumah sakit yang tidak punya rasa itu. Aku membeli makanan melalui GoFood tapi tetap saja tak bisa membuatku lahap makan. Sehingga akhirnya makanan mubazir karena terbuang. Aku pun sulit tidur pada malam hari dan menghabiskan sebagian besar siang untuk tidur. Aku merasa pinganggaku serupa planet Saturnus karena kini memiliki cincin. Yang kumaksud cincin adalah lingkaran daging yang merupakan cairan berlebih yang nggak berhasil dibuang oleh ginjal. Rasanya mengganjal jika hendak merebahkan diri. Sangat nggak nyaman. Dan tentu saja jika aku telannjang dan melihatnya di cermin, wilayah pinggangku yang dulu cantik dan seksi menjadi nggak karuan. Sulit dan berat menerima fakta ini. Aku menyukai tubuh idealku. Dan kini tubuh ini hanya berbobot 46 kg dengan bentuk yang tidak lagi cantik pun seksi.

Sebagai pasien baru di dunia sakit ginjal, aku belajar banyak hal. Aku belajar dari seorang teman yang pernah merawat neneknya yang punya ginjal dan diabetes. Tentu belajar tentang diet dan mengelola emosi agar tetap punya harapan sembuh. Juga belajar dari mereka yang pernah merawat anggota keluarga dengan masalah ginjal. Pengalaman mereka baik dalam konteks medis dan non medis tentu menjadi referensi berharga agar aku survive sekaligus produktif.

Oh ya, ada hal sederhana tapi begitu berbeda di RS ini. Makan-minum. Saat aku dirawat di bangsal covid, makanan diberikan dalam wadah kemasan plastik sehingga bekasnya bisa langsung dibuang dan pasien harus memiliki wadah air minum sendiri, di mana RS menyediakan galon isi ulang. Sementara di bangsal umum, makanan diberikan dalam piring keramik dengan sendok stainless dan minum diberikan dalam teko kecil beserta sebuah gelas. Pelayanan berbeda ini mungkin berkaitan dengan keamanan alat-alat makan minum dari virus covid19. Dan memang sih, pas aku pindah ke bangsal umum seluruh barang bawaanku disemprot disinfektan dan aku harus langsung mandi saat tiba di bangsalku. Jika di RS aja separno ini, apalagi kalau dalam kehidupan biasa, harus lebih ketat prokes.

Hari ini aku mengajukan diri bergabung ke Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) di mana aku akan belajar banyak hal tentang penyakit ini. Kulihat di akun IG mereka ada banyak informasi yang kubutuhkan dalam memahami sakitku. Misalnya soal cuci darah dan keakutan sakitku dibanding sakit ginjal jenis lain. Aku berharap, dengan belajar dunia baru ini aku bisa menemukan cara terbaik, teraman, termudah dan termurah dalam merawat sakitku. Tujuanku adalah membaik lalu sembuh total. Aku harus kembali meraih kebebasan penuh dalam mengelola waktu dan hidupku.

Sepanjang 12 Juli aku merasa tak nyaman. Tak kusentuh makanan RS ini sebab aku ingin muntah setiap kali melihatnya. Agar bisa makan aku sedikit memanjakan diri dengan membeli mie goreng dan udang goreng melalui GoFood. Tapi tetap saja selera makanku masih anjlok. Aku nggak tahu harus makan apa. Bingung sendiri. Aku ingin sesuatu yang cair seperti smoothie tapi beresiko menambah cairan yang masuk ke tubuh. Mau makan aja serba salah. Kebosanan melanda dan menjadi siksaan. Menonton sesuatu di Youtube sudah menjadi kegiatan melelahkan. Meski aku bisa mengobrol dengan pasien di seberang ranjangku yang juga merasa bosan, setidaknya ia punya pasangan yang sesekali menengoknya dan mengobrol dengannya. Kesendirian yang mencekam ini membuatku berpikir siapa yang kelak akan bersedia menikah dengan perempuan sakit sepertiku? Merawat perempuan sakit tentu saja membutuhkan anggaran lebih besar daripada perempuan sehat.

Dua hari ini aku lumayan lemah. Meski semangatku untuk sembuh sangat tinggi, tubuhku tak bisa berbohong soal rasa sakit. Seluruh tubuhku remuk redam seakan baru saja dipukuli. Sendi-sendi teramat sakit saat tubuh bergerak. Terlebih tangan kanan tempat jarum infus dipasang. Nyut-nyut rasanya. Setiap kali suster datang dan menyuntikkan cairan vitamin c dan obat lambung ke dalam selang infus, sakitnya ampun bagai digigit tawon. Meringis dan menangis aku dibuatnya, dan suster hanya berdehem.

Pagi 13 Juli terbangun oleh suara roda alat tensi darah yang dibawa suster. Darahku ditensi dan angkanya lumayan normal. Lalu aku ke kamar mandi untuk pipis, mencuci muka, menyikat gigi dan berdandan. Aku memakai serum wajah, menghitamkan alis, menyisir rambut dan memakai parfum. Walau sakit, pantang bagiku untuk nengabaikan penampilan. Lalu kubersihkan ranjang dari debu sebelum kembali duduk diatasnya bagai nyonya muda yang menantikan nampan berisi sarapan pagi.

Kuisi gelas dengan air hangat, kutambahi sesendok cairan Sapu Jagat dan kuminum dengan khidmat. Lalu suster datang membawa obat darah tinggi, cairan vitamin c dan obat lambung dan cairan lain yang akan dimasukkan ke selang infus. Ini aktivitas yang menyiksa karena sangat sakit. Saat aku mencoba menarik nafas sembari meringis kesakitan, suster hanya berdehem.

Cairan yang berlebih itu sudah beberapa hari ini menumpuk di area paha bagian atas alias selangkangan. Pahaku jadi bengkak, keras dan sakit, bikin aku mengangkang kalau berjalan, mirip ibu hamil. Aku tidak diberi tahu butuh berapa kali terapi cuci darah agar bengkak-bengkak ini kempes. Aku hanya diberi tahu akan cuci darah lagi tanggal 14 Juli dan pihak RS meminta persetujuan keluargaku untuk memasang alat akses di bahuku untuk memudahkan proses cuci darah kedepan. Alat itu akan dipasang melalui operasi yang mahal. Terkaget-kaget aku melihat harganya. Mencari funding kemana coba?

Pengalaman sakitku kusebut saja sebagai disrupsi, sebuah era di mana terjadinya inovasi dan perubahan secara besar-besaran dan secara fundemental mengubah semua sistem, tatanan dan landscape yang ada ke cara-cara baru. Ya, sakit ginjal mengubah banyak hal secara mendasar dan besar-besaran dalam sistem tubuh biologisku dan duniaku sebagai manusia-makhluk sosial.

Hari ini aku dan perwakilan keluarga, diwakili sepupu kecilku, bicara dengan dokter mengenai rencana perawatanku. Tentang akan dirawat berapa lama lagi aku di RS ini? Perawatan macam apa yang akan kuterima? Bagaimana dengan pembiayaan? Lalu obat? Bagaimana dengan diet makan dan minum? Dan hal-hal lain yang krusial dalam menghadapi cara hidup baru yang tertata. Hal yang turut aku khawatirkan karena sakit ini adalah pilihan pekerjaan. Ke depan aku harus selektif soal pekerjaan di mana aku harus tetap bekerja dan berpenghasilan meski dalam keadaan sakit. Aku benci menjadi pengangguran. Aku harus memikirkan ulang rencana-rencana pekerjaan masa depan. Lumayan sulit menata pikiran terutama setelah melihat angka pembiayaan yang diluar dugaan. It's hard.
 
 
PIPIS ADALAH KEBAHAGIAAN
Setelah diingat-ingat, ternyata pada periode 21-30 Juni 2021 aku jarang pipis. Dalam sehari paling 2 kali ke kamar mandi untuk pipis. Rupanya itu adalah pertanda kalau aku punya masalah ginjal, di mana sistem penyaringan sudah gagal. Sehingga cairan terjebak didalam anggota tubuh yang lain. Makanya aku bengkak-bengkak dan begonya aku masih mengira itu alibat alergi akut. Ya nasib! Hari ini 14 Juli 2021 pukul 15.26wib aku masuk ke ruangan cuci darah. Ternyata ruangannya sangat besar dan ada puluhan pasien didalamnya yang tengah menjalani terapi hemodialisa. Pukul 15.35wib aku naik ke ranjang, bersiap-siap menerima jarum yang menusuk pembuluh darah di tangan kanan dan pahaku. Pembuluh darahku terlalu tipis sehingga terjadi kegagalan dan aku harus ditusuk 4 kali yang sama perih. Kali ini akhirnya berhasil di bagian bawah pergelangan tangan kanan dan paha kanan bagian dalam.

"Tarik napas yang dalam ya," kata suster. Menarif nafas dalam seperti ketika yoga adalah kunci untuk meredakan rasa sakit dan perih saat jarum menusuk pembuluh darahku. Setelah jarum berhasil menusuk pembuluh darah, suster menempelkan banyak plester agar selang panjang yang berisi darah tidak bergerak-gerak dan mengancam gagalnya terapiku. Maka, dimulailah terapi cuci darah ke 4 kalinya dengan perasaan tenang.

Pukul 20.00wib tindakan selesai dengan mewariskan pegal yang menyiksa di area paha dan abdomen. Kurasa, 30 menit terakhir kujalani terapi ini sembari menangis. Aku sangat tak tahan dengan sakitnya yang menyiksa, sakit yang hanya bisa dirasakan tanpa mampu kujelaskan. Kulantunkan zikir dan shalawat sebagai penghibur hati, sembari merasakan air mata yang merembes ke pipi kanan dan kiri. Sakit sekali. Sakit yang membuatku memanggil Tuhanku dengan merengek. Saat tengah meresapi rasa sakit yang menyiksa itu, lampu di mesin menyala kuning dan benda berwarna putih ini pun meraung-raung. Perawat lelaki bernama Angga yang sebelumnya merawatku di area isolasi, menghampiri mesin dan kami mengobrol tentang banyak hal.

"Setengah jam lagi," katanya. Aku kecewa. Kukira bunyi raungan itu tanda terapiku selesai. Maka kami mengobrol agar rasa sakit yang menyiksa itu bisa dialihkan.
"Makanan apa paling haram untuk penderita gagal ginjal?" Tanyaku.
"Buah," jawabnya.
"Hah, buah kan enak dan sehat!" Aku kecewa dilarang makan buah.
"Ya, mau gimana lagi. Buah kan tinggi kandungan kalium dan itu yang bikin kerja ginjal jadi berat, termasuk bikin sesak napas," katanya lagi. Perawat ini nggak tahu bahwa seharian ini aku menghabiskan 500gram buah matoa.
"Trus aku harus makan apa?" Tanyaku.
"Protein hewani agar kadar hemoglobin bagus," katanya lagi.
"Wah, aku jadi karnivora dong," aku tertawa membayangkan harus menghindari buah dan lebih banyak makan ayam, ikan, sapi atau seafood.
"Ya begitulah kalau untuk pasien HD," kata Angga lagi.
"Kalau sayuran gimana?" Soalnya aku penyuka sayuran.
"Boleh. Asal jangan banyak-banyak," jawab Angga.
"Susu? Soalnya katanya nggak boleh konsumsi susu sapi atau kedelai?" Dan ini membuatku kecewa karena aku penyuka susu dari multi grain.
"Ada susu khusus untuk orang ginjal," kata Angga lagi sembari meyakinkan bahwa susu itu punya dua rasa yaitu vanila dan cokelat.
"Baiklah. Demi sehat dan sembuh, aku akan beli susu itu," aku meyakinkan diri meski terbayang sudah bahwa rasa si susu pasti nggak enak.
"Intinya, Mbak harus rajin cuci darah. Banyak pasien disini yang udah usia tua tapi tetep segar dan bisa kerja karena rajin cuci darah. Harus rutin. Nggak boleh malas," katanya, menasehatiku.
"Aku berharap bisa pasang CDL," kataku.
"Ya. Biar nggak sakit kayak sekarang kan jarum ditusuk di tangan dan paha," katanya lagi.
"Kata dokter berapa pasang CDL?" Tanya Angga.
"Kisaran 26 jutaan," kataku. Lalu kujelaskan bahwa karena aku nggak ada dana di tangan sebanyak itu, aku harus menunggu BPJSku aktif tanggal 20 Juli.
"Iya, kalau pakai BPJS semua free," kata Angga lagi.
"Iya. Cuma nunggu tanggal 20 aku harus jalani 2 kali cuci darah model begini. Sakitnya nggak nahan," aku merengek.
"Ya sabar aja. Karena Mbak pasien baru jadi masih adaptasi. Nanti klo sudah biasa cuci darah juga badannya nerima," hibur Angga.
"Iya. Dan aku tuh bahagia klo bisa pipis," kataku.
"Nah iya. Kadang ada saat fungsi ginjal tuh nol dan pasien nggak bisa pipis. Makanya harus diet ketat supaya tetap bisa pipis," nasehat Angga.

Ya, memang kurasakan bahagia setiap kali aku bisa ke kamar mandi dan pipis. Rasanya seperti dibebaskan dari hukuman berat. Bayangkan, fungsi ginjal yang rumit terkesan sangat sederhana: pipis. Tapi saat pipis tak keluar, disitulah bahaya mengancam. Jadi, setiap kali tubuhku memberi sinyal ingin pipis, aku merasa bersemangat dan buru-buru ke kamar mandi. Saat volume pipisku banyak, aku merasa sangat bahagia. Tak lama, perawat bernama Shanty yang sebelumnya mengurusku di ruang isolasi datang. Ia membantuku pada proses melepaskan jarum di lengan kanan dan paha kananku. Suster Shanty ini berasal dari Medan, meski orangtuanya dari Jawa alias transmigran sebagaimana keluarga besarku. Akhirnya kami bercerita tentang kehidupan keluarga transmigran di Lampung dan Sumatera Utara. Jika keluargaku transmigran di wilayah pegunuungan dengan komoditas kopi, lada, cengkeh dan padi. Maka keluarga suster Shanty transmigrasi di wilayah perkebunan sawit.

Pukul 21.00wib aku dijemput perawat dari lantai 2 untuk kembali ke kamarku. Dalam perjalanan menggunaka kursi roda yang berderit-derit aku mengingat kembali satu momen de javu. Saat aku terbaring di ranjang dan menahan nyeri, aku memandangi selang-selang panjang malang melintang di mesin hemodialisa. Saat itu aku teringat satu hal bahwa ada masa aku sekana pernah berada di posisi ini, bahwa aku sedang cuci darah. Apakah ini semacam pertanda bahwa aku memang ditakdirkan menjadi pasien cuci darah bahkan sebelum aku menyadarinya?

Aku memasuki kamarku dengann perasaan bahagia karena terapi telah selesai dan aku bisa beristirahat. Kulihat makan malam sudah tersedia. Kubuka sebuah roti dan segelas kecil susu tanpa rasa. Kumulai makan malamku dengan khidmat, dan kulanjutkan dengan membaca buku yang baru kubeli, buku karya lelaki keren idolaku. Malam ini aku berharap segala sesuatunya lebih tenang dan membaik. Bagaimanapun juga aku telah menjalani prosedur medis sebagaimana mestinya dan menjadi pasien yang tang tabah dan penurut. Doa dan harapan adalah pamungkas dan aku berharap Tuhanku memberi kemudahan padaku dalam menjalani sakit ini. 
 
JAGALAH KESEHATAN GINJALMU!
Seharian ini aku harus bertarung dengan rasa gatal di sekujur tubuh. Gatalnya seperti digigitin semut. Gatal yang memaksa untuk menggaruk. Kalau sudah digaruk kulit kan lecet. Maka aku harus membayarnya dengan pedih karena aku kemudian membersihkan kulitku dengan tisu basah yang mengandung alkohol. Baru kemudian memakai serum penyembuh luka atau body lotion. Aku juga mengalami kelelahan akut yang membuat otot-otot tubuhku lemah, sehingga begitu sakit di area tertentu. Pun aku masih sulit makan meski sudah order nasi padang hinggga sate maranggi. Rasanya lidahku memusuhi semua jenis makanan kecuali buah-buahan. Padahal buah adalah jenis makanan yang sangat nggak disarankan bagi pasien HD dengan keluhan bengkak-bengkak sepertiku.

Hari ini aku resmi bergabung dengan Komunitas Pasien Cuci Darah Indonesia (KPCDI) cabang Bogor. Aku memperkenalkan diriku dan kasusku dan kami berdiskusi hangat melalui WAG. Dari para pasien HD atau pendamping pasien aku belajar banyak hal krusial tentang bagaimana survive dan tetap produktif menjalani hidup walau harus sakit ginjal. Salah satu rekomendasi penting adalah aku memang harus melakukan operasi pemasangan CDL atau Cimino. Nanti, kalau aku sudah paham sakitku, baru aku bisa ambil terapi lain bernama CAPD. Namun, inti dari semua terapi medis adalah terapi hati dan pikiran. Bahwa sakit ginjal bukan akhir segalanya, namun awal perubahan gaya hidup. Pikiran harus selalu sehat, positif dan semangat untuk menunjang stabilitas kondisi imun.

Sejumlah teman mengaku teredukasi tentang sakit ginjal melalui tulisan-tulisanku. Mereka mengikuti kisahku dari awal dan mulai aware bahwa ternyata urusan pipis bisa merupakan perkara menyebalkan atau malah membahayakan. Dulu aku punya pengalaman serupa banyak orang di mana aku merasa kesal harus bolak balik kamar mandi untuk pipis. Kini, setelah menjadi pesakitan aku jadi paham bahwa aktivitas sederhana berupa pipis merupakan proses biologis kompleks dalam tubuh manusia. Justru, jika kita jarang pipis harus waspada, jangan-jangan fungsi ginjal udah rusak.

Jika ditanya kapan punya msalah ginjal, aku tak tahu jawabannya. Yang kutahu bahwa tanggal 3 Juli 2021 aku divonis gagal ginjal oleh dokter setelah tes darah. Hanya saja, aku bisa memberi tahu sejumlah keluhan yang kualami sebagai penanda bahwa aku memiliki masalah ginjal sejak beberapa waktu lamannya. Berikut keluhan yang kurasakan:
- Pegal dan kelelahan akut
- Sakit pinggang
- Gatal di sekujur tubuh
- Nggak punya nafsu makan
- Pembengkakan anggota tubuh
- Jarang pipis (sehari hanya 2 kali pipis)
- Sesak napas
- Mual dan muntah

Ginjal adalah organ berukuran kecil, kabarnya sebesar kepalan tangan yang bentuknya mirip kacang merah. Ginjal berlokasi di dalam pinggang kanan dan kiri. Keberadaannya nampak sangat sederhana karena ukurannya lebih kecil dari paru-paru hingga liver. Namun ternyata fungsinya sangat krusial dalam rantai penyaringan racun di dalan tubuh. Produk yang ginjal hasilkan adalah air kencing sebagai kelebihan cairan dalam tubuh yang harus dibuang karena statusnya adalah sampah.

Jujur saja, saat aku mengalami keluhan- keluhan itu aku masih menganggapnya sebagai efek anemia atau malnutrisi karena beberapa bulan terakhir pola makanku kacau balau. Selain picky eater aku juga punya kekenyangan dini. Aku sangat sulit untuk makan banyak dan cenderung tidak menghabiskan makanan walau masih lapar. Kadang seharian aku nggak makan dan melaparkan diri karena nggak tertarik pada makanan. Tubuhku menolak makanan dan jika aku memaksakannya maka akan mual dan muntah. Kalau sudah muntah sangat menyiksa.

Aku juga mengadu kepada komunitas KPCDI Cabang Bogor soal keluhan yang kurasakan setelah menjalanai HD. Aku mengalami gatal- gatal perih sekujur tubuh, kelelahan akut dan kehilangan stamina, mual muntan hingga nafsu makan anjlok. Mereka mengatakan bahwa semua pasien gagal ginjal yang baru menjalani HD mengalami apa yang kualami sekarang. Jadi itu semacam proses adaptasi tubuh atas kebiasaan baru. Mereka meminta aku ikhlas dan sabar meresapi semua keluhan itu sampai nanti aku bisa menggadapinya seiring waktu. Aku berharap siapapun yang membaca tulisan ini kembali aware dengan kondisi tubuh sendiri. Harus mau memeriksakan diri ke dokter jika memiliki sejumlah keluhan yang mengganggu. Jangan menunggu parah dan kritis seperti yang kualami. Sebab, kalau sudah parah maka harus menjalani perawatan medis menyakitkan dan mahal.

Hari ini pukul 23.30 ada pasien baru masuk ke kamar Lily 239. Ia seorang perempuan dengan keluhan darah tinggi dan sesak nafas. Kudengar suster yang merawatnya mengatakan bahwa tingkat saturasi oksigennya rendah sehingga ia harus dibantu dengan tabung oksigen. Ia juga sering batuk-batuk, jenis batuk kering menyiksa seperti yang kurasakan akhir Juni silam. Ia ditemani suaminya yang sepertinya sabar merawatnya. Kini, kamar ini tak lagi sunyi. Ada bunyi konsisten dari alat yang digunakan pasien baru tersebut.
Penggalangan dana yang dibuat teman-temanku untuk membantu kesembuhanku

Oh ya, kemarin teman-temanku di Lampung membuatkan kampanye penggalangan dana untuk membantu kesembuhanku. Ajaibnya, ada sejumlah nama yang memberikan donasi secara diam-diam langsung ke rekeningku. Mereka melakukan kebaikan diam-diam namun transaksi di rekeningku mencatat nama mereka menjadi abadi. Aku sangat berterima kasih atas dukungan teman-teman semua dalam bentuk apapun baik donasi, kiriman barang dan makanan hingga doa. Aku merasa begitu disayangi. 
 
TABAH BERJUANG UNTUK SEMBUH
Hari ini 15 Juli 2021 kamar tempatku dirawat kedatangan 3 pasien baru. Pertama, seorang perempuan paruh baya dengan keluhan lmbung yang hebat. Ia muntah-muntah dengan suara menggelegar. Jadi, seharian aku harus bersabar mendengar suara muntah-muntah itu. Pasien kedua adalah perempuan paruh baya yang dilayani banyak anggota keluarga. Saat bicara, suaranya lumayan keras. Aku nggak dapat informasi ia sakit apa. Pasien ketiga adalah perempuan muda yang akan menjalani operasi pengangkatan daging aneh yang menonjok di payudara bagian kiri. Ia sering ditelepon keluarganya dan suasana teleponan mereka lumayan keras.

Pada malam hari, kamar ini dipenuhi suara orang ngorok. Aku berusaha tidur sejak pukul 22 malam tapi tak bisa tidur sampai pukul 1 pagi. Kepalaku suka resah kalau dilingkupi keributan. Meski akhirnya aku bisa tidur, aku terbangun pukul 4 dan nggak bisa tidur lagi. Setelah pipis dan pup pertama hari ini, aku memilih mengambil ponsel dan berkomunikasi dengan sejumlah teman. Hari ini aku juga harus mempersiapkan diri dan mental untuk menjalani cuci darah ke 5 kalinya.

Aku juga membuka laptop, bersiap menulis atau membaca sejumlah materi pelatihan untuk pekerjaan bulan ini. Nike pernah kaget karena aku membawa laptop ke RS. Kubilang padanya bahwa aku butuh mengatasi kebosanan selama di RS. Aku bahkan membeli meja lipat agar nyaman saat menggunakan laptop. Selain digunakan untuk menulis dan bekerja, tentu saja untuk menonton drama Korea atau tontonan lain yang menghibur. Ya, beginilah aku hehehe.

Pada 17 Juli pukul 08.42wib aku dijemput suster menuju ruang hemodialisa. Ini kali ke 5 aku menjalani terapi cuci darah. Pukul 08.59wib naik ke ranjang, siap ditusuk jarum di lengan dan paha kanan sebagaimana sebelumnya. Oh ya, berat badanku naik dari 46 kg per 29 Juni ke 48,7 kg pada hari ini. Meski susah makan aku ngemil lumayan banyak hehehe.

Hari ini aku tidak sarapan nasi yang disediakan RS. Aku sarapan 1 buah apel dan 1 buah mangga. Saat kukatakan itu pada suster ia terkejut, khawatir aku mengalami sesak napas. Oh ya, hari ini ada perawat yang memberiku snack dan menaruhnya di meja, berharap aku kuat menjalani terapi hari ini. Memang sih lengan dan pahaku nyut-nyutan. Hanya saja sakitnya masih bisa ditahan. Yang menyiksa hanya gatal-gatal. Ini gatal-gatal memang menyebalkan terlebih apabila menyerang area yang sulit disentuh seperti bokong dan betis.

Selama masa menunggu terapi ini selesai 4 jam lamanya, aku memperhatikan orang-orang yang lalu lalang di ruangan hemodialisa. Aku mengenali sejumlah perawat yang pernah mengurusku di terapi sebelumnya. Dan aku excited melihat satu per satu pasien cuci darah lalu lalang, pertanda terapi mereka telah selesai dan bersiap pulang ke rumah. Para pasien yang kulihat itu terdiri dari lelaki dan perempuan muda, juga lelaki dan perempuan paruh baya. Oh ya, kemarin aku mendapat info dari seorang petugas kebersigan bahwa di RS ada ada dua pasien cuci darah yang usianya masih belasan tahun. Karena harus cuci darah dua kali seminggu, anak-anak itu jadinya nggak sekolah. Mungkib karena mereka kelelahan atau terlalu banyak waktu harus izin tidak masuk sekolah. Daro ranjangku kudoakan agar mereka sembuh agar bisa sekolah.

Pukul 13.13wib lampu indikator menyala kuning pertanda terapiku selesai dengan baik. Dua orang suster menemuiku untuk mengurus pelepasan jarum suntik dan aneka selang di mesin hemodialisa. Hari ini aku tidak menangis sebab mampu mengalihkan perhatianku pada hal lain, seperti membaca buku atau menonton video di Youtube. Kurasakan tubuhku lumayan ringan dan bengkak-bengkak lumayan berkurang. Aku tidak lagi ngangkang saat berjalan dan lipatan di pinggang sudah hilang, tersisa di bokong dan paha bagian atas. Juga di lengan kanan bekas infus. Apakah aku akan sembuh? Mudah-mudahan saja.

Hasil lab tanggal 14 Juli menunjukkan kadar ureum dalam darahku sudah berada di angka 30 atau sesuai rujukan. Hanya saja angka kreatinin dan eGFR masih tinggi. Angka itu menunjukkan aku memang mengalami gagal ginjal. Kedua ginjalku rusak sudah dan fungsinya harus ditopang dengan obat-obatan dan cuci darah secara konsisten setiap 2 kali seminggu. Oh ya, aku juga baru tahu mengapa aku mengalami gatal-gatal sekujur tubuh, gatal-gatal dengan benjolan kecil seperti pasir yang jika kuambil dan kupites maka ia merupakan darah kering. Ternyata semua itu terjadi karena kandungan fosfor yang tinggi dalam darahku. Awalnya kukira alergi, ternyata dia penanda kalau aku gagal ginjal.


Sampai kapan aku akan menjalaninya? Entahlah. Suatu waktu saat aku berpikir tentang kematian, yang kupikirkan adalah: kepada siapa kuwariskan password blog aku sebab pikiranku merupakan warisanku untuk dunia? Kepada siapa kuwariskan laptopku yang berisi banyak draf tulisan dan pemikiranku? Mewariskan harta benda sangat mudah. Namun, mewariskan pemikiran itu sulit. Meski aku memikirkan kematian melebihi apapun karena peristiwa itu adalah kepastian, targetku sembuh total pada usia 40 dan aku paham bahwa ini membutuhkan keajaiban. Hanya Tuhan yang bisa memberikan kesembuhan sesuai kerasnya upayaku menjalani terapi cuci darah dan diet ketat.

PULANG 
Pagi ini pukul 10.49 ada telah duduk manis di taksi, pulang ke kosanku di Depok. Perawatanku akan dilanjutkan dengan rawat jalan. Aku sudah mendapatkan sejumlah dokumen pengantar untuk perawatan selanjutnya dengan dokter spesialis paru dan dokter spesialis penyakit dalam di RS Sentra Medika Cibinong. Juga tentang rencana operasi pemasangan CDL dan cuci darah ke 6 kalinya. Aku juga dibekali 9 jenis obat untuk meredakan rupa-rupa rasa sakit.

Saat berjalan keluar RS kaki kananku membengkak dan mengeras sehingga terasa sakit ketika digunakan berjalan. Jadinya aku jalan terpincang-pincang. Tapi mau bagaimana lagi, perawatanku disini sudah berakhir. Kini aku harus kuat merasakan sakit karena bengkak-bengkak yang masih tersisa. Kuharap kondisi tubuhku akan semakin membaik selama proses rawat jalan yang entah akan berlangsung berapa lama, entah berapa bulan kedepan, atau entah berapa tahun kedepan. Pekerjaan menunggu, karya-karya juga menunggu. Aku tidak boleh cengeng dan lemaj. Harus kuat dan penuh semangat. Berita kematian pasien cuci darah tidak boleh menyurutkan langkahku. Aku akan sembuh dan hidup bahagia.
Bergaya sebelum pulang. 

Oh ya, hari ini aku memenuhi janjiku pada diriku sendiri. 30 Juni silam saat aku keluar kosan menuju Wisma Atlet, aku kan memakai sandal. Aku membawa sepasang sepatu di koperku dengan harapan aku pulang dalam keadaan sembuh dan bisa berdandan cantik termasuk memakai sepatu. Hari ini, aku memakai sepatu itu sebagai pertanda kakiku lumayan membaik meski betis sebenarnya bengkak dan sakit. Aku perempuan kuat!

Pembacaku yang baik, doakan aku tabah menjalani perawatan selama bertahun-tahun kedepan. Aku mungkin bukan Ika yang sama lagi. Mungkin aku akan menjadi sosok yang mudah lelah sehingga akan sangat jarang beraktivitas di luar. Tetapi pada akhirnya, aku ingin sembuh dan menjalani hidup bahagia.

Depok, 18 Juli 2021


 

1 comment: