Jika Menikah, Tidak akan Kutulis Nama Suamiku di Belakang Namaku

Berdua saja bersama restu semesta. 

"Love is blind. But marriage restores its sight"
-Samuel Lickteburn-

Dua bulan lagi, petualanganku di planet bumi akan berusia 36 tahun lamanya. Tentu saja aku menerima banyak pertanyaan tentang pencapain hidup, rencana-rencana masa depan, sampai pertanyaan klasik "kapan nikah, nih?" eaaaa. Apakah aku nggak berminat menikah? Oh, jangan salah! Aku sangat berminat menikah. Bahkan pada usia 20 tahun aku ingin sekali menikah pada usia 22 tahun, dengan seorang senior yang aku taksir di kampus. Waktu itu, gagasan tentang pernikahan amatlah sederhana: saling mencintai, menikah, membangun rumah tangga, punya sejumlah anak, hidup bahagia, lalu meninggal dunia deh. Dalam jurnal harianku, sudah kubuat sketsa rumah yang ingin aku tinggali bersama keluarga kecilku, termasuk tumbuhan apa yang harus aku tanam di pekarangan rumah. Waktu itu sih, aku berpikir sebaiknya aku menanam bunga mawar, jambu bangkok, hingga bunga lili. Tidak lupa kolam harus ada ikan nan indah. Halu ya? 

"Lalu, mengapa sampai sekarang belum juga menikah? Nggak takut jadi perawan tua? Kalau sudah tua siapa yang mau nikahin kamu?" pertanyaan ini terkesan begitu menakutkan, sebab perempuan memang selalu ditakut-takuti dengan berbagai jenis panggilan dan olok-olok jika belum menikah pada usia tertentu. Jika kutelusuri pada tahun-tahun yang telah kulalui, perempuan akan begitu disayang, dimanjakan dan dikagumi saat berusia belasan tahun hingga 22 tahun. Setelah itu, segala hal tentang perempuan dianggap terlambat, tua, dan tidak lagi menyenangkan. Perempuan selalu dianggap berharga jika ia muda, cantik dan siap dinikahi. Jika melampaui usia tertentu, bahkan belum menikah setelah berusia 30 tahun maka perempuan itu dianggap tidak lagi menarik, ibarat daun layu yang tak berharga bahkan untuk dijadikan sayur. Pandangan mengenaskan ini menimpa seluruh perempuan di dunia dan ketakutan memenuhi alam bawah sadar si perempuan. 

PEREMPUAN DAN DOKTRIN PERNIKAHAN
Sejak kecil, perempuan dijejali pemahaman mengerikan oleh keluarga, sekolah dan masyarakat: bahwa si perempuan haruslah tumbuh sebagai pribadi yang cantik, gemulai, sensual, lemah lembut, dan memiliki senyum manis agar para pemuda mengejarnya sebagai calon istri potensial. Perempuan diajari mengelola rumah tangga seperti memasak, membersihkan rumah, mencuci pakaian, menjahit, hingga mengelola pekarangan agar siap menjadi calon istri ideal bagi lelaki yang menikahinya. Perempuan juga diajari patuh secara penuh dan bersikap menerima apa saja yang diajarkan keluarga, agar jika menikah menjadi menantu idaman yang menyenangkan suami pun keluarga mertua. Perempuan juga diajarkan untuk tidak mendebat lelaki, memandang lelaki sebagai raja yang harus dipatuhi segala titah dan kata-katanya, menerima segala pemberian lelaki tanpa menolak meski tidak disukainya, dan menempatkan surga dan nerakanya dalam ridho lelaki. Perempuan diajarkan untuk patuh dan tunduk kepada lelaki, seakan-akan lelaki adalah yang menciptakannya. 

"Kamu ini pandai memasak dan mengurus rumah, sudah pantas menikah," begitulah sejumlah orang memandang diriku, bahwa aku layak menikah karena kemampuanku memasak dan mengurus perkara rumah tangga. Bagaimana bisa aku dianggap layak menikah karena perkara sepele yang sebenarnya merupakan keterampilan bertahan hidup? Pernikahan dan kehidupan berumah tangga adalah perkara besar; dan bagaimana bisa seseorang dikatakan pantas menikah dengan memasak dan mengurus rumah sebagai ukuran kelayakan? Padahal aku memasak karena butuh makan dan aku mampu mengurus urusan rumah karena ya aku tinggal di sebuah rumah dan harus mampu mengurus tempat tinggalku sendiri. 

"Kalau kamu bangun jam segini, bagaimana bisa hidup serumah dengan mertua?" suatu hari seluruh tubuhku sakit dan aku kembali tidur selepas shalat Subuh, dan ibuku mengomel saat aku bangun jam 7 pagi. Ohh, ibuku! Sejak kapan aku berniat serumah dengan mertuaku jika aku menikah nanti? Jika aku menikah, aku harus tinggal di rumahku sendiri, entah rumah milik pribadi atau menyewa. Lelaki yang mengajakku tinggal di rumah orangtuanya selepas menikahiku adalah lelaki yang tidak siap membangun rumah tangga, dan aku berusaha untuk tidak menikah dengan lelaki seperti itu. Aku hanya akan tinggal dengan mertuaku jika sang mertua sakit keras dan membutuhkan pertolongan orang lain 24/7 agar tetap bisa menjalani hidup. Jika keluarga yang jadi mertuaku sehat jasmani dan rohani, maaf, aku tidak akan tinggal bersama mereka. Pasangan yang menikah harus membangun rumah tangganya sendiri, tidak boleh menjadi benalu bagi orangtua. 

Tahun ini, usiaku 36, tapi belum ada tanda-tanda bahwa aku akan menikah. Aku takut? Tidak. Aku hanya dibayang-bayangi ketakutan yang dijejalkan padaku sejak kecil, yang menumpuk di alam bawah sadar, yang mengancamku dengan segala jenis kengerian perempuan lajang yang terus bertambah usia. Doktrin yang tertanam sejak kecil menakut-nakuti: duhh, usia sudah segini kok belum menikah? Duhh, kalau kamu nggak nikah tahun depan kapan lagi? Duhh, inget umur lho soalnya kamu belum punya anak, nanti keburu menopause! Ya, ampun apa lagi yang kamu cari sampai membiarkan usiamu sia-sia tanpa menikah muda! Idih, kasihan deh kamu udah susah cari jodoh! Kasihan deh kamu jadi perempuan lajang nggak laku! Dan seterusnya dan seterusnya! Hantu-hantu psikologis ini terus gentayangan di kepalaku. 

Perempuan juga dicekoki aturan-aturan yang menjadi penjara, misalnya: harus menikah dengan lelaki yang lebih tua usianya, lebih banyak hartanya, lebih berpendidikan, dan lebih-lebih-lebih lainnya. Seakan-akan syarat pernikahan bahagia harus dimulai dengan kualitas perempuan yang serba kurang dari si lelaki. Seakan-akan lelaki akan bahagia jika menikah dengan perempuan lebih muda, lebih bodoh, lebih miskin, dan segala jenis kekurangan lainnya. Masyarakat selalu cerewet pada pasangan yang dianggap menantang kelaziman, seakan-akan jika perempuan sedikit saja memiliki kelebihan dari suaminya makan rumah tangganya akan berantakan. Jadinya, pernikahan nggak lagi berlandaskan cinta dan kasih sayang, melainkan bagaimana kekuasaan-kekayaan-kelebihan dari seorang lelaki lebih berkuasa atas diri dan hidup pasangannya. Sehingga, kalau misalnya nanti aku berjodoh dengan lelaki yang lebih muda dariku, kemungkinan besar orang akan mengasihani suamiku karena berjodoh denganku, padahal diluar sana banyak perempuan lebih muda. 

Ada juga nih pandangan nyeleneh yang mengatakan bahwa setelah menikah, perempuan itu harus manut dan nurut pada suaminya. Bahkan, ada anggapan bahwa suami adalah Tuhan yang berwujud dalam bentuk lelaki; atau suara suami adalah suara Tuhan. Makanya, banyak perempuan yang setelah menikah bukannya didukung berkarya dan menjadi paripurna sebagai seorang dewi, malah dikerangkeng layaknya budak. Tuntutan kepatuhan perempuan pada lelaki yang jadi suaminya ini berdasar pada anggapan bahwa saat menikah, perempuan telah 'dibeli' sang suami melalui mahar dan seserahan saat menikah. Jadi, seakan-akan pernikahan merupakan pemindahan penguasaan kepemilikan seorang perempuan dari ayahnya kepada suaminya. 

Duhhh, kalau perempuan 'dibeli' oleh mahar dan seserahan pernikahan sehingga hilang seluruh harga diri dan daya upayanya sebagai manusia merdeka, maka apa bedanya perempuan sebagai budak? Apakah pernikahan diasosiasikan dengan transaksi jual beli perempuan merdeka untuk menjadi budak lelaki berstatus suami? 

Kurasa, hantu-hantu yang bergentayangan itu adalah hantu serupa yang menggerayangi kedamaian hidup para perempuan di dunia. Bahkan di era ketika Elon Musk berambisi membangun koloni manusia di planet Mars, masih banyak masyarakat yang nyinyir dengan perempuan yang memilih menunda menikah demi meraih pendidikan tinggi dan bekerja sebagai aktualisasi diri. Mereka terus saja mengulang stigma bahwa setinggi dan secerdas apapun perempuan, tempatnya adalah dapur-sumur-kasur. 

Dengan bodohnya mereka lupa, para perempuan sukses bisa menikmati dapur-sumur-kasur elegan di rumah minimalis  dengan segala kemewahan di dalamnya, di mana memang setiap orang akan kembali ke dapur-sumur-kasur sebab di sanalah tempat makanan berada, tempat mandi nan indah untuk membersihkan diri dan kasur empuk saat istirahat. Mereka lupa, bahwa harga dapur-sumur-kasur perempuan sukses berbeda dengan milik perempuan yang menyerah. Misal, dapur Chef Farah Quinn begitu elegan dan sehat, karena dia mampu mendapatkannya dengan uang miliknya sendiri sebagai hasil bekerja keras. Nah, dapur mereka yang menghina para perempuan sukses apa kabar? 

Hantu-hantu itu juga bisa berupa nasehat toxic positivity yang bertameng nilai-nilai agama. Sering banget aku melihat nasehat berseliweran di media sosial yang ditujukan bagi perempuan. Misalnya: betapapun cerdas, kaya dan hafal Al-Qur'an seorang perempuan, dia harus tunduk patuh secara mutlak pada suaminya. Jika sang suami mengajaknya ke suatu tempat atau memintanya melakukan sesuatu, jangan pernah menolak jika tak ingin mendapat murka Tuhan. 

Bayangkan, kepada Tuhan saja manusia diperbolehkan bertanya, lantas mengapa perempuan dilarang bertanya kepada lelaki yang menjadi suaminya? Mengapa suami menjadi 'Tuhan' yang bahkan perempuan dilarang bertanya kepadanya? Bagaimana bisa pernikahan membuat seorang perempuan kehilangan dirinya sendiri, kehilangan hak menggunakan akal dan pikirannya, dan kehilangan sifatnya sebagai khalifah di muka bumi, di mana ia bisa menegakkan keadilan bagi dirinya sendiri? Lalu, apa gunanya menikah jika dengan menikah perempuan kehilangan dirinya sendiri dan harus menjadi budak bagi suaminya? 

Dalam banyak kasus, suara dan pendapat perempuan bahkan dibungkam dengan sengaja atas nama surga saat mereka keberatan suaminya menikahi perempuan lain. Banyak perempuan bahkan disumpal akal dan pikirannya untuk tidak melapor saat suaminya melakukan kekerasan seksual atau menikahi anak perempuan di bawah umur; demi menjaga kehormatan keluarga dan bukti ketaatan sang perempuan pada suaminya. Perempuan juga dilarang untuk melapor kepada pihak berwenang jika mengalami kekerasan fisik, psikologis dan seksual yang dilakukan suaminya atas nama kehormatan keluarga; menjaga aib rumah tangga. Mereka selalu mengatakan bahwa ketaatan perempuan pada suaminya bahkan bisa berbentuk kesabarannya menahan segala sifat buruk suaminya, rasa sakit akibat siksaan lahir-batin-pikiran, yang lagi-lagi katanya akan mendapat surga. Jika menikah seseram-sesakit-semenakutkan itu, benarlah pilihan sufi Ainul Mardhiah yang menolak seluruh pinangan lelaki lelaki sebab rasa cintanya kepada Sang Pencipta, bukan? 

Mereka juga dengan pongahnya mengatakan bahwa perempuan sebaiknya tinggal di rumah setelah menikah, karena kodrat perempuan adalah menjadi ibu rumah tangga. Ya ampun, mereka lupa bahwa Aisyah ra saja tidak menjadi ibu rumah tangga, melainkan menjadi guru bagi para sahabat Nabi dalam ilmu hadits, bahkan pernah memimpin perang. Jika di abad ke 7 saat bayi perempuan dikubur atas nama kehormatan keluarga saja Aisyah ra sudah diberi mandat oleh Nabi Muhammad SAW sebagai guru umat Islam, lha kok kita mau memundurkan reformasi yang sudah dilakukan 14 abad silam dengan mengurung perempuan di rumah. Jika perempuan dikurung di rumah 24/7 maka lelaki hanya memandang perempuan sebagai mesin reproduksi, dan menihilkan akal pikirannya dalam berkontribusi demi kebaikan umat. 

Asal tahu saja, kodrat perempuan secara biologis hanya tiga hal: mengandung, melahirkan, menyusui. Seluruh kegiatan dalam kehidupan selain ketiga hal tersebut, sama saja bagi lelaki dan perempuan. Tidak seorang bayi perempuan yang lahir ke dunia ini yang di jidatnya ditulis bahwa kodratnya adalah jadi ibu rumah tangga. 

Orang sering berpikir bekerja adalah semata untuk uang dan meromantisasi bahwa jika hanya suami yang bekerja, rezeki akan selalu cukup. Mereka lupa bahwa setengah dari populasi manusia di bumi adalah perempuan, sehingga dibutuhkan perempuan pekerja yang bisa memberikan pelayanan publik bagi konsumen perempuan. Coba saja bayangkan jika tidak ada pramugari, polisi perempuan, hakim perempuan, pedagang perempuan, kondektur perempuan, cleaning service perempuan, penjual makanan perempuan, dokter perempuan, guru perempuan, peneliti perempuan, politisi perempuan, PNS perempuan dan profesi lainnya; apakah para perempuan rela segala kebutuhan di ruang publik dilayani lelaki, termasuk di toilet umum? 

Bekerja di ruang publik bukan hanya tentang uang, tapi tentang bagaimana masyarakat manusia saling memberikan pelayanan publik sesuai kebutuhan, di mana ada konsumen lelaki dan perempuan didalamnya. Sehingga, jika masih ada pemikiran bahwa perempuan yang bekerja setelah menikah sama saja dengan memberatkan suaminya karena blablabla, maka si suami lupa bahwa perempuan bukan boneka seks yang fungsinya hanya untuk menyenangkan dirinya saja, melainkan perempuan memiliki akal pikiran yang harus digunakannya untuk memenuhi kewajibannya sebagai khalifah. 

Konyolnya, ada anggapan bahwa menikah adalah puncak prestasi-hidup perempuan, seakan-akan satu-satunya tujuan hidup perempuan adalah menikah, seakan-akan seorang perempuan melahirkan anak perempuan untuk mendapat prestasi berupa pernikahan dengan lelaki, seakan-akan seluruh daya upaya para orangtua di dunia yang memiliki anak perempuan adalah menikahkan anaknya. Ini ide paling sinting yang ada di bumi. Jika menikah adalah puncak tertinggi kehidupan seorang perempuan, maka hidup perempuan akan berhenti di situ, di usia 15, 20, 25, 30 di mana setelahnya ia bukan dirinya lagi, melainkan alat bagi suaminya untuk berproduksi, melahirkan anak perempuan yang juga akan dibesarkan untuk dinikahkan. Alangkah mengerikannya pandangan seperti ini, bukan? 

Ada satu konsep yang tidak disadari banyak orang sebenarnya menggerus identitas ke-aku-an seorang perempuan. Banyak perempuan yang setelah menikah menyematkan nama suaminya di belakang namanya. Katanya itu bukti cinta. Sayangnya, mereka nggak tahu bahwa menyematkan nama suami dibelakang nama seorang perempuan adalah menenggelamkan identitas diri sang perempuan secara utuh. Sebab, nama yang sebenarnya berhak disandang di belakang nama perempuan adalah nama ayah si perempuan. Mengapa? karena nama keluarga yang disematkan di belakang nama perempuan akan menunjukkan nasab alias garis keturunan si perempuan, menunjukkan bahwa si perempuan adalah keturunan keluarga A (anak lelaki A). Coba deh tanya ke ustadz, pasti Ustadz akan bilang bahwa nggak boleh perempuan Muslim menyematkan nama suami di belakang namanya, karena sang perempuan secara nasab (garis keturunan) nggak belong to keluarga suaminya, tapi belong to keluarga ayahnya-kakeknya. 

Mengapa perempuan tidak bangga menyandang namanya seutuhnya sepanjang hidupnya? Mengapa perempuan harus merasa keren saat menyandang nama suaminya di belakang namanya? Mengapa perempuan menenggelamkan identitas paling sakral dari dirinya dengan menyandang nama suaminya di belakang namanya? Apakah perempuan merasa kecil jika dengan percaya diri menyandang namanya sendiri sepanjang hidupnya? 

Contoh nyata dari penamaan ini saat kisah perceraian alm. Julia Perez dan Chef Farah Quinn mengemuka, di mana untuk nama panggung, kedua perempuan itu menyematkan nama mantan suami masing-masing, sehingga pas cerai jadi bingung, nggak bisa melepaskan nama belakang mantan suami karena itu jadi nama panggung. Pada akhirnya, hal semacam ini harus melibatkan proses hukum agar si perempuan tetap bisa menggunakan nama panggungnya dan membawa embel-embel nama mantan suami dibelakang namanya. So, jika kelak aku menikah, aku nggak akan menulis nama suamiku di belakang namaku. Sebagai lajang atau perempuan bersuami, aku akan percaya diri menggunakan namaku untuk menunjukkan identitas diriku sebagai manusia perempuan. Seluruh hal yang berkaitan dengan diriku baik pekerjaan dan karyaku, semua harus atas namaku dan aku harus dipanggil berdasarkan namaku secara utuh, bahkan jika aku telah senja. 

Dalam masyarakat kita saat ini, menikah semacam obsesi. Pernikahan ditempatkan sebagai suatu kondisi tertinggi yang disarankan dicapai dan dilakukan setiap orang. Bahkan, menikah dianggap sebagai semacam sapu jagad yang dapat menyelesaikan banyak masalah, baik masalah personal, keluarga, hingga sosial. Setahun pandemi melanda dunia, bahkan terdapat 64.000 perkawinan usia anak (PUA) terjadi dengan alasan agar anak tidak kehilangan arah dengan berpacaran atau karena alasan ekonomi. Angka ini sangat besar, sekaligus menunjukkan tingginya anak putus sekolah karena harus menikah. Fakta ini sekaligus menunjukkan ketidakmampuan keluarga dan masyarakat dalam memberikan dan menciptakan kegiatan di dalam rumah untuk anak-anak remaja yang mungkin bosan plus mati gaya, sehingga menggunakan pernikahan sebagai sapu jagad dalam menghadapi masalah yang dihadapi keluarga. 

Padahal, pernikahan bukan pil penyembuh masalah dalam kehidupan manusia. Pernikahan adalah bentuk perjanjian hukum di mana sepasang manusia justru memasuki belantara kehidupan dengan segala suka dan duka, kebahagiaan dan kesedihan, rahmat dan masalah yang menyertainya. Aku sangat memahami bahwa pernikahan tidak akan mengubah apapun dalam hidupku, kecuali sejumlah hal. Pernikahan Sehingga, aku pun sadar secara penuh bahwa pernikahan bukan yang menjamin kebahagiaan, kesehatan, keberuntungan, hingga kesuksesan hidupku. 

Hampir kelupaan, nih! Masyarakat juga suka berpikir aneh. Misalnya, jika ada perempuan muda dan lajang meninggal dunia, mereka akan mengatakan, "Wah, sayang ya masih muda udah meninggal aja, padahal belum menikah." Sementara jika lelaki muda yang meninggal dunia sebelum menikah, maka mereka akan bilang bahwa Tuhan akan menikahkan lelaki itu dengan bidadari surga. Lihat, dalam konteks kematian saja mereka begitu membedakan pandangan antara lelaki dan perempuan. Seakan-akan fungsi perempuan di dunia ini hanya dilihat dari tubuhnya bagi lelaki, sehingga kalau perempuan lajang meninggal, seakan kaum lelaki menyesal nggak menikahinya dan menikmati tubuhnya. Se-aneh itu manusia. 

Oke, meski mitos dan stigma terkait pernikahan terus gentayangan pun menyerbu tiada ampun; aku tetap berusaha menemukan jodohku dan menikah. Jika menikah semudah menerima pinangan lelaki yang mau menikahiku, maka aku pasti telah menikah sejak lama. Sebagai perempuan, aku nggak bisa sembarangan mengatakan "Iya," pada lelaki yang mengajakku "ayo kita menikah." Jika menikah adalah semudah melepas status lajang menjadi istri seorang lelaki, maka pasti aku sudah menikah bertahun-tahun silam. Orang mungkin akan mengatakan aku tolol melepaskan kesempatan menikah dengan lelaki yang bahkan nyaris memberiku rumah dan tanah atas namaku. Orang juga mungkin akan mengatakan aku perempuan aneh yang melepaskan kesempatan berjodoh dengan lelaki yang sudah memiliki rumah, kendaraan, hingga hektaran kebun sawit yang menjanjikan kekayaan. 

Jika menikah hanya sekadar menikah, maka aku hanya akan mengulang ritual yang telah dilakukan miliaran pasangan manusia yang menikah di muka bumi; juga mengikuti arus untuk larut ke dalam miliaran jejak yang sama dalam mengurus pasangan, rumah tangga, anak-anak, mertua, tetangga dan hal-hal senada. Mungkin aku juga akan terjebak dalam pertengkaran dan masalah serupa yang dialami miliaran pasangan, dan menjalani kebosanan yang sama dengan orang-orang tua yang kehabisan alasan mencintai pasangannya di hari tua. Aku tidak ingin mengalami hal tersebut. 

SEORANG TEMAN DAN NASEHAT PERNIKAHAN
"Sebutkan satu alasan mengapa aku harus menikah?" itu pertanyaan yang sering aku ajukan kepada diriku sendiri, saat kebimbangan melanda, misalnya setiap kali mengingat usiaku dan kesendirianku. Ya, ada banyak hal yang seringkali membuatku bimbang dalam urusan percintaan, pernikahan dan kehidupan berkeluarga. Kadangkala, kebimbangan semacam ini membangunkanku dari tidur lelap, seakan-akan hidupku terancam bahaya jika belum menikah. 

"Menikah dan tidak menikah itu sebenarnya sama saja. Bedanya hanya satu," kata seorang teman, sembari memegangi cangkir kopinya yang tinggal setengah. Angin semilir menyapa dedaunan di seantero kafe yang tidak ramai. 
"Apa bedanya?" tanyaku penasaran.
"Dalam pernikahan seks legal secara hukum dan agama, itu saja," jawabnya. 
"Aktivitas sehari-hari sama saja, dong?" tanyaku lagi. 
"Ya, hari-hari dijalani sebagaimana biasa. Semua hal biasa saja. Yang membedakan hanya hanya legalitas berhubungan seksual dan anak dari hubungan seksual itu punya status hukum, misalnya berhak atas warisan," tambahnya. 
"Jadi?" aku makin penasaran.
"Jadi...jangan berharap pasanganmu nanti, atau kamu akan berubah menjadi malaikat berhati mulia 24 jam setelah ijab kabul. Omong kosong itu. Pernikahan nggak akan pernah bisa mengubah karakter seseorang," nasehatnya dengan keras. 
"Tapi selama ini kan ekspektasi banyak orang begitu," kataku.
"Memang. Itu masalahnya. Misal kamu berharap pacarmu yang suka mukulin kamu pas pacaran tiba-tiba berubah nggak pernah mukulin kamu lagi setelah menikah, ya nggak mungkin. Lelaki yang biasa gonta ganti pasangan seksual saat lajang, tiba-tiba setia sama kamu pas udah nikah, ya nggak mungkin. Kebiasaan seseorang sebelum menikah akan dibawa pada kehidupan setelah menikah. Makanya banyak orang kaget bukan kepalang saat tahu sifat asli pasangannya setelah menikah," katanya lagi, lebih keras dan pedas. 
"Serasa dijebak, dong kalau begitu?" tanyaku, karena banyak kasus demikian terjadi. 
"Betul! Banyak orang menjebak pasangan yang dinikahinya demi status 'menikah' seakan-akan kalau sudah menikah si pasangan mau melakukan apapun untuknya. Ngimpi! Menikah itu bukan dongeng. Menikah itu justru satu jenis perjanjian antara sepasang manusia yang paling lama dan paling sulit dijalani."
"Hmmm, ngeri sih kalau begitu,"
"Bahkan, lelaki yang saat muda mendukung penuh pasangannya meraih pendidikan tinggi, akan cemburu pada karir istrinya seiring waktu, dan bisa melakukan KDRT atau selingkuh," tambahnya sembari tersenyum tipis. 
"Lalu, bagaimana menghadapi kebimbangan terkait pernikahan?"
"Kamu harus memastikan visi-misi dalam pernikahan itu yang bisa dijalankan bersama-sama dengan pasangan. Jadi, menikah bukan sekadar menikah, punya anak, happy ending. Bukan begitu. Harus ada visi-misi yang hanya bisa diwujudkan jika kalian bekerja sama sebagai pasangan suami istri, dan anak-anak kalian nantinya. Jadinya, pernikahan nggak membosankan, nggak hanya ritual makan, tidur, bikin anak dan ngabisin duit bareng doang."
"Betul, sih. Penting memahami cara mengatasi kebosanan juga," sambungku.
"Nah itu. Betul. Hidup seatap selama puluhan tahun dengan orang yang sama akan membosankan. Banyak pasangan fail karena nggak ngerti cara mengatasi kebosanan pada pasangannya, makanya banyak yang selingkuh atau stres karena nggak tahu lagi cara mencintai pasangannya," ia tertawa, kemudian menyeruput kopinya. 
"Ngeri juga ya klo merasa bosan pada pasangan sendiri," aku tersenyum kecut.
"Yup. Orang kalau bosan dengan pasangan sendiri biasanya selingkuh atau poligami," katanya.
"Oh ya? Kalau seseorang selalu excited pada pasangannya, ngapain melirik yang lain?"
"Masuk akal, sih klo soal itu. Aku juga ngeri klo misal nanti suamiku maunya nikah lagi sama perempuan lain. Aku bisa gila," aku berdoa dalam hati semoga nasibku nggak demikian. 
"Ya. Makanya temukan alasanmu sendiri mengapa kamu sebaiknya menikah. Jangan menikah untuk alasan yang sama dengan orang lain. Pastikan alasan itu milik kamu seorang, sehingga kamu akan bertanggung jawab saat menjalaninya dalam suka dan duka," ia, tersenyum, memberiku harapan. 
"Lalu apa lagi?"
"Kamu harus mengenal dengan baik lelaki yang akan kamu nikahi, jangan casingnya doang,"
"Iya, aku berusaha melakukan itu pada lelaki yang dekat denganku,"
"Orang kan sering terjebak pada penampilan luar dan kata-kata manis. Orang rajin ibadah nggak memastikan dia baik pada istrinya, contohnya banyak, kamu paham soal data semacam ini,"
"Iya, aku sedikit kenal dengan sosok-sosok semacam itu," kataku, terbayang sejumlah sosok dengan topeng kesalehan tetapi sangat jahat pada pasangan dan anak-anaknya.
"Ini nasehat terakhir," katanya, sembari menegakkan punggungnya dari sandaran kursi.
"Wah, apa nih?"
"Dalam proses mengusahakan pernikahan, maafkan semua orang yang pernah berbuat jahat kepadamu. Maafkan semua, tampa kecuali, siapapun orangnya dan sebesar apapun kesalahannya padamu. Maafkan semua. Kamu harus memberikan hatimu yang bersih dari dendam kepada siapapun di masa lalumu, agar kamu nggak membawa 'baggage' pada kehidupan barumu. Mulai pernikahanmu seperti ketika kamu menulis di lembaran kertas putih yang baru. Cerita baru harus dimulai di kertas baru. Itu nasehat pamungkas saya," dan aku hanya bisa berterima kasih tanpa mampu berkata-kata lagi atas nasehatnya yang mampu menenangkan hatiku. 

Oke, setelah bertemu dengan temanku ini, apakah aku sudah punya alasan untuk menikah? Belum. Semakin bertambah usia, pandanganku tentang pernikahan menjadi berbeda dengan ketika aku masih lebih muda. Seiring waktu, pengetahuan dan pengalaman hidup yang menjadi satu dengan diriku memberi sejumlah nilai tambah, termasuk untuk apa aku menikah dan dengan lelaki semacam aku sebaiknya menikah. Berdasarkan pengalaman banyak orang, kabarnya cinta akan memudar dalam kurun waktu tertentu, bisa setahun, lima tahun, sepuluh tahun dan sebagainya. Sehingga, saat menikahi seseorang cinta tidak boleh dijadikan satu-satunya alasan dan tidak boleh dijadikan alasan utama. Pemahaman inilah yang mendorongku untuk berpikir logis, realistis dan matang dalam menggodok rencana menikah. 

AKU DAN LELAKI YANG KELAK MENIKAH DENGANKU
Selama beberapa tahun belakangan hingga saat ini aku sedang tidak mencintai lelaki manapun. Rasanya sulit untuk membangkitkan rasa kagum, suka, apalagi cinta pada seorang lelaki. Entah karena aku sudah mati rasa atau karena luka di dalam hatiku masih basah sehingga perlu di kipasin lebih lama untuk mengering dan sembuh. Teman-temanku telah kelelahan mengenalkan pun menjodohkan aku dengan teman lelaki mereka, yang mereka pikir cocok denganku. Mereka adalah lelaki yang tampan, sensual, mapan, cerdas dan siap menikah. Tapi, aku masih sedingin es batu. Bahkan semakin aku berusaha menyambut kesempatan berjodoh dengan salah satu dari mereka, semakin aku ragu. Jadi, hingga saat ini aku masih memilih untuk berdiam diri, berdamai dengan diriku sendiri. 

Ada satu titik di mana aku percaya bahwa mungkin yang akan membawaku pada sebuah pernikahan sebenarnya bukan cinta yang menggebu-gebu, seakan-akan cinta yang kurasakan itu api abadi yang tak akan pernah padam. Aku merawat prasangka baik bahwa bisa jadi, ada hal keren selain cinta yang mampu meyakinkanku untuk menikah. 

Sembari berusaha membuka diri, aku terus mengoreksi 'daftar' karakter lelaki yang kupikir sebaiknya menjadi teman hidupku. Aku memiliki 'daftar' karakter lelaki yang ingin kunikahi dan menjadi teman hidupku (tapi nggak akan kuceritakan disini ya) dan 'daftar' itu aku koreksi secara berkala. Misalnya, semakin tahun aku semakin mempertimbangkan satu karakter seperti "open minded" yang harus dimiliki calon suamiku kelak, sebab aku sangat excited dengan perkembangan ilmu pengetahuan, sehingga aku sangat membutuhkan pasangan yang bisa berdiskusi secara dinamis dan 'deep' denganku dan anak-anakku kelak tentang dunia ini. Aku tidak ingin menikahi lelaki yang hanya mengandalkan kemampuannya mencari nafkah, tetapi minim dalam memberi nutrisi pada pemikirannya. 

Misal: dalam rumah yang kutinggali dengan keluarga kecilku nanti, aku akan memiliki ruang kerjaku sendiri. Sekira 2/3 ruang kerja itu akan dilapisi dinding berupa rak buku-buku kesayanganku. Lalu, aku akan memiliki meja kerja berbentuk oval dengan kursi empuk di tengah-tengah ruangan, di mana aku bisa menulis sembari memandang ke halaman yang hijau, juga sebuah kursi baca nyaman di bagian lain ruangan tempat aku membaca novel-novel kesayanganku dari penulis di seluruh dunia; seperti karya Leo Tolstoy, Orhan Pamuk, Haruki Murakami, Gabriel Garcia Marquez, Anchee Min dan lainnya. Aku selalu membayangkan akan mengisi hari-hariku membacakan cerita-cerita dari seluruh dunia kepada anak-anakku, dan dalam proses tumbuh kembangnya anak-anakku akan menyaksikanku sebagai ibu yang dapat diajak berkelana dalam dunia ilmu pengetahuan; bukan ibu yang hanya mereka cari saat perut keroncongan saja. Aku mau menjadi ibu yang dicari anak-anakku saat pikiran mereka tersesat dalam pertanyaan tentang dunia dan kehidupan; ibu yang tidak tertinggal dalam dinamika dunia. Aku mau, rumah tanggaku kelak dipenuhi hari menyenangkan bersama ilmu pengetahuan, sehingga aku tak akan bosan-bosannya mengagumi lelaki yang menjadi suamiku saat ia membacakan sebuah buku untukku, atau aku membacakan sebuah buku untuknya. 

Jika kelak aku menikah, percayalah, aku tidak akan memberatkan lelaki yang menjadi suamiku dengan printilan pesta pernikahan. Sebagai perempuan yang tidak menyukai pesta dan keramaian, aku ingin hari pernikahanku dijalani dengan sederhana, khidmat, penuh bunga nan wangi, serta keakraban dua keluarga. Aku mendambakan hari itu sebagai hari yang paling hangat dan akrab bagi dua keluarga kecil, yang awalnya asing bagi satu sama lain, sebagai keluarga yang dengan penuh kepercayaan memberi doa dan berkat bagiku dan lelaki yang menjadi suamiku. Percaya atau tidak, aku ingin hari pernikahanku nanti merupakan improvisasi dari keindahan pernikahan Jonna Jinton. Ya, pernikahan di luar ruangan yang sederhana, sakral, namun begitu berkesan. Mereka yang sebaiknya menyertai hari bahagiaku nanti adalah keluarga batih dan teman terdekat saja, yang jumlahnya mungkin kurang dari 50 orang. Dengan pesta sederhana, aku bisa menghemat banyak uang yang bisa kugunakan untuk berbulan madu ke desa tradisional Shirakawa Go, Jepang. 

Kalau nge-halu, pingin deh punya lelaki kesayangan yang sensual kayak Andrew White dengan mata seteduh milik Marchel Siahaan. Tapiiiiii, aku nggak sesadis itu untuk membandingkan lelaki yang kelak menjadi suamiku dengan lelaki lain, apalagi yang statusnya suami orang. Beneran deh, meski aku perempuan sederhana, boleh dong aku berharap berjodoh dengan lelaki dengan kualitas seperti ini: sehat lahir-batin-pikiran; bersih (dari ujung kepala-kaki); open minded, cerdas-pembelajar, bertanggung jawab, family man, nggak pelit, dan nggak memandang perempuan sebagai mesin-pelayan lelaki. Tenang, aku nggak akan minta dibuatkan rumah semegah istana apalagi serumit candi-candi dari peradaban lampau, sebab aku menyukai gaya simpel khas japanese-scandinavian; ingat, aku bisa melukis dan aku bisa membuat rumahku indah dengan sapuan kuasku. Aku juga nggak akan minta tinggal di rumah besar, soalnya aku paling nggak suka ngepel dkk; sebab aku suka tinggal di rumah dengan ukuran sedang, sesuai kebutuhan saja. Aku nggak akan meminta yang aneh-aneh pada suamiku nanti, apalagi memenuhi lemari kaca dengan tas dan sepatu branded, secara aku anak rumahan yang jarang bepergian. Tenang, aku nggak tumbuh untuk menjadi perempuan matre; tapi realistis dan logis. 

Dalam konteks agama dan spiritualitas bagaimana? Lelaki yang menikah denganku haruslah satu agama denganku dan ia tidak boleh ambil bagian sedikitpun dalam gerakan radikalisme apalagi terorisme, juga tidak boleh ambil bagian dalam mendukung ulama-politisi yang mempromosikan perpecahan umat atas nama agama. Aku maunya lelaki ini open minded juga karena aku sangat terbuka dalam mendiskusikan hal-hal terkait agama dan spiritualitas. Lelaki ini harus mampu diskusi secara terbuka denganku tentang profil para Nabi dan Rasul berbasis informasi kitab suci dan penemuan para arkeolog; terbuka pada perkembangan ilmu pengetahuan-teknologi berbasis kabar kitab suci dan penemuan terbaru para ilmuwan; hingga bersedia mengimbangi cara berpikirku yang cenderung berbasis logika dan sains. 

Misalnya: ada informasi bahwa satu hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia. Nah, dalam konteks memahami hal ghaib aku percaya bahwa yang disebut ghaib itu adalah hal atau situasi yang sebenarnya mampu dicapai oleh sains, tapi manusia memerlukan waktu dan ilmu pengetahuan termutakhir untuk memahaminya. Waktu di bumi saat ini adalah 1 hari itu 24 jam dan satu tahun 365 hari yang berbasis rotasi bumi pada porosnya dan revolusi bumi mengelilingi matahari. Nah, waktu di bumi bisa demikian berbasis pada ukuran bumi sendiri dan jarak dari bumi ke matahari. Karena jika dibandingkan dengan waktu di planet-planet lain di tata surya bima sakti, akan berbeda dengan bumi. Semakin jauh suatu planet dari matahari, maka waktu revolusinya akan semakin lama. Sehingga hitungan waktu yang kita gunakan saat ini mutlak waktu bumi, dan mungkin kedepan kita akan paham apa yang dimaksud dengan 1 hari di akhirat adalah 1000 tahun di bumi. 

Aku ingat informasi ini: surga dan neraka sudah diciptakan; Nabi Adam dan Hawa pernah tinggal di dalamnya sebelum diusir ke bumi. Posisi surga dan neraka ada di mana, hanya Sang Pencipta yang tahu. Hanya saja, pada peristiwa Isra-Mi'raj Nabi Muhammad kan ada peristiwa melintas waktu dengan sangat cepat hanya dalam satu malam: dari Mekkah (Masjidil Haram) ke Yerusalem (Masjid Al-Aqsa); lalu dari Masjidil Aqsa, Nabi Muhammad naik ke langit hingga langit ke 7, lalu ke Sidratul Muntaha, pun melihat surga dan neraka. Informasi ini menunjukkan bahwa apa yang disebut hal ghaib, surga-neraka dan alam akhirat sebenarnya suatu materi yang ada di satu tempat, yang dengan perjalanan dengan kecepatan tertentu bisa dikunjungi Nabi Muhammad dalam semalam saja. 

Kita juga diberi informasi bahwa penduduk surga merindukan manusia yang beriman dan bertakwa. Artinya, they know us here in the earthKarena berbasis satu hadis Nabi yang mengatakan bahwa bau surga bisa dicium sejauh 500 tahun perjalanan saja menggelitik pikiran: itu 500 tahun perjalanan menggunakan apa? Unta? Kuda? Mobil? Kereta api? Pesawat terbang? Pesawat luar angkasa? Atau hitungan tahun cahaya? Jika bau surga bisa dicium dengan hitungan sejauh itu, artinya ada jarak tertentu yang memisahkan alam akhirat dengan bumi yang mungil ini. Informasi ini mengagumkan, bukan? 

Aku lebih suka memaknai alam akhirat itu sebagai dimensi lain dari alam semesta yang sangat luas. Cara membayangkannya sederhana saja: saat di alam rahim, kita sebagai janin hanya mengerti bahwa dunia tempat kita hidup adalah rahim ibu yang basah dan sempit. Lalu, saat kita lahir ke dunia, maka terkuaklah bahwa dunia begitu luas, dan luasnya dunia tempat kita dilahirkan ini hanyalah planet bernama bumi, dan kita butuh metode tertentu untuk keluar bumi demi mencapai planet lain. Dengan asumsi ini, bisa jadi apa yang disebut alam akhirat itu ibarat saat kita mati, sebenarnya kita akan dilahirkan kembali di alam yang lebih-lebih-lebih mengagumkan lagi. Makanya, Nabi Muhammad bisa sowan ke sana dalam semalam saja. Kata kunci untuk memahami semua kehebatan ini adalah ilmu pengetahuan dan alat yang digunakan Nabi Muhammad kala itu tentu sangat canggih, yang sampai saat ini belum bisa dipahami para ilmuwan. Itulah mengapa aku lebih suka memahami agama berbasis sains, karena seluruh ciptaan Tuhan sebenarnya sains sendiri. Dalam konteks ini saja, lelaki yang menjadi suamiku harus mampu mengimbangi jalan pikiranku, sehingga hari-hariku dengannya kelak tidak akan ada bosan-bosannya untuk dilalui bersama. 

Aku juga bukan tipikal perempuan yang suka merepotkan lelaki dengan hal-hal diluar kemampuan si lelaki. Misalnya, aku nggak suka dikasih hadiah berupa benda-benda yang nggak aku sukai dan nggak aku butuhkan. Aku orangnya simpel dan realistis karena terbiasa mandiri. Aku juga nggak suka mengoleksi benda-benda yang nggak terlalu bermanfaat di kosan, karena ribet kalau pindahan. Jadi, kalau seorang lelaki (atau siapapun) mau memberi bunga untukku, berilah aku bunga hidup di dalam vas. Yup, bunga hidup, biar sustainable. Kalau mau kasih aku aksesoris berupa perhiasan, aku hanya bisa menerima yang berbasis emas, perak, rotan dan batu; benda-benda berbahan metal selain itu aku nggak bisa pakai karena kulitku alergi dan gampang bereaksi dengan bahan-bahan berbahaya. Btw, aku nggak suka keramaian seperti konser atau pesta. Jadi, kalau hangout aku lebih suka nonton di bioskop, ngobrol santai di kafe dengan sedikit pengunjung, atau menikmati waktu santai di lokasi-lokasi unik yang hanya dikunjungi sedikit orang. Terakhir, aku bukan tipikal perempuan yang suka minta ini-itu. Pada kedua orangtuaku aja aku jarang banget minta-minta, apalagi kalau sama lelaki yang lagi dating denganku. Aku nggak suka merepotkan lelaki dan paham bahwa lelaki bukan mesin ATM. 

Dah lah ya, segini dulu bocorannya. Kalau terlalu banyak informasi yang dihamburkan, nanti proses pencarian-pendekatan bisa dibikin-bikin. Aku punya sejumlah pengalaman dating, sampai yang sudah dalam tahap hendak melamar, tapiiiii gagal. Jadi, aku harus belajar dari kisah lama. Hmm, sebaiknya lelaki yang berminat menjadi teman hidupku jangan sekali-kali berbohong apalagi memanipulasi, karena aku akan tahu. Aku mengapresiasi kejujuran. Sebuah hubungan dalam bentuk apapun yang diawali kebohongan akan berakhir mengenaskan. Lagipula, jujur dalam proses menemukan pasangan bukanlah perbuatan memalukan, melainkan sikap percaya diri dalam memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan. 

"Menikah saja dengan diri sendiri," mungkin ada yang berpikir untuk menanggapi demikian atas isi hatiku. Hmm, memang nggak ada manusia sempurna dan bahkan aku tidak bermimpi untuk menikah dengan lelaki ideal, karena sosok demikian nggak akan ada. Setahuku, karakter baik dalam diri manusia itu dibangun dan dibentuk, tak ubahnya seorang koki yang menciptakan kue dengan resep terbaiknya. Aku selalu percaya, selagi manusia memiliki raga-jiwa-pikiran yang sehat pun mau belajar secara terbuka, selama itu pula ia bisa berbenah diri untuk menjadi versi terbaik dirinya. Saat aku berharap berjodoh dengan lelaki baik, tentu aku pun selalu berusaha berbenah diri untuk menjadi perempuan baik. 

AKU DAN ANAK-ANAK MASA DEPAN
Aku prefer great marriage than grand wedding: aku tidak akan membebani lelaki yang menjadi suamiku menghamburkan uang untuk printilan pesta, sebab aku akan memintanya mewujudkan mimpi-mimpi masa depanku untuk keluarga yang ingin kubangun. Misalnya, lelaki ini sebaiknya membelikanku sebidang tanah untuk kusulap menjadi taman alih-alih menghamburkannya untuk menyewa gedung dan catering mahal. Lelaki ini juga sebaiknya menyiapkan ruangan khusus untukku di rumah yang akan kami tinggali, sebuah ruangan lumayan besar untuk ruang kerjaku, dan membantuku membeli buku-buku kesukaanku dari seluruh dunia. Di ruang kerja inilah aku akan menulis, berpikir, berkarya, dan mungkin mengasuh anak-anaku kelak. Karena dunia yang akan ditinggali anak-anakku kelak adalah dunia yang telah berkembang pesat dari duniaku semasa kecil, di mana anak-anak kecil akan akrab dengan robot dan teknologi AI, maka aku yang akan pertama kali menjadi teman anak-anakku tumbuh dalam dunia semacam itu, sekaligus agar anak-anakku tidak kebingungan dalam menghadapi benturan dahsyat antara agama, norma sosial dan teknologi. 

Agar sampai kepada suasana tersebut di masa depan, bahkan sebulan belakangan ini aku sedang membuat rencana untuk mulai menulis buku-buku yang kusiapkan untuk dibaca anak-anakku kelak. Aku sangat paham, ada banyak penulis keren di luar sana yang menulis buku-buku hebat yang bisa dibaca anak-anakku kelak. Tapi, alangkah menyenangkan jika kelak anak-anakku bisa membaca buku-buku yang kutulis untuk mereka baca. Sebagaimana aku yang memiliki banyak pertanyaan sejak kecil, akupun membayangkan kelak anak-anakku begitu cerewet dengan sejumlah pertanyaan tentang dunia dan kehidupan. Alangkah senangnya jika kelak anak-anakku akan datang kepadaku setiap kali memiliki pertanyaan tentang dunia dan kehidupan, dan tidak kebingungan mencari teman diskusi; dan aku akan menjadi orang pertama yang ada dalam benak anak-anakku saat mereka ada dalam persimpangan tanya yang tak kunjung menemukan jawaban. I really want to be a great writer to my future children, before great member of the society. 

Saat aku kecil dulu, ada banyak sekali pertanyaan yang terpaksa mendekam di kepalaku tanpa seorangpun bisa menjawabnya. Sejumlah pertanyaan kubawa hingga dewasa dan masih tak ada yang bisa menjawabnya. Ayahku yang lumayan konservatif dan berpendidikan SD seringkali menjawab pertanyaanku dengan membentak. Misalnya saat aku bertanya apakah aku pernah menderita HIV/AIDS. Waktu itu aku anak SD dan dunia sedang digegerkan oleh penyakit itu. Dengan polosnya aku bertanya kepada ayahku dan beliau menjawab dengan keras bahwa penyakit HIV/AIDS adalah penyakit untuk orang-orang yang dikutuk. Oleh karena itu, aku selalu berusaha membaca buku apa saja dan lembaran apa saja yang kutemukan. Sejak kecil aku bertekad untuk tidak menjadi manusia bodoh. Aku harus tumbuh sebagai manusia yang mengetahui banyak hal. Kelak jika menikah dan punya anak, setidaknya aku bisa menjadi tempat bertanya, teman berdiskusi dan rekan bermimpi hal-hal gila dengan anak-anakku. Aku tidak ingin anak-anakku kelak merasa terasing dengan pengetahuan di dalam kepala orangtuanya, lantas berguru kepada orang yang salah. 

Menurutku, menjadi orangtua adalah task atau tugas terberat yang ada dalam pernikahan. Anak-anak adalah produk dari pernikahan, yang tumbuh kembang jasmani, rohani dan akal seorang anak akan dipengaruhi keluarganya. Aku selalu yakin akan melahirkan anak-anak jenius, yang aku sendiri akan kesulitan mengimbangi keingintahuan mereka tentang dunia dan kehidupan. Anak-anakku mungkin akan menjadi ilmuwan yang menjelajah bulan atau Jupiter; melakukan penjelajahan ke dalam lautan dengan robot termutakhir; menghafal semua kitab suci dan fasih berbicara dalam banyak bahasa dunia; tergila-gila meneliti unsur biologi atau bahkan membuat penemuan menakjubkan bagi peradaban manusia. 

Anggap saja aku melahirkan anak pertamaku pada usia 38 tahun dan anakku itu akan menjadi manusia muda dengan keingintahuan tidak terbatas, lalu melakukan penemuan hebat pada tahun 2060. Jika pada 2021 (saat ini) perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi begitu mengagumkan, maka bayangkan bagaimana perkembangannya pada 2060, tentu akan lebih mengesankan. Demi mengantarkan anakku yang jenius ke panggung ilmu pengetahuan mumpuni, aku dan pasanganku harus menyediakan alat dan metode sebagai support system, sebab jika saat ini sistem pendidikan Indonesia tertinggal 400 tahun, maka saat anakku mulai sekolah, sistem pendidikan belum tentu telah dibenahi sehingga jika aku menyerahkan pendidikan anakku ke sekolah, maka anakku akan tertinggal jauh dari rekan sebayanya di Jepang, Amerika atau Jerman. Bahkan, jika aku memiliki anak super jenius, maka aku harus memboyong keluargaku ke luar negeri agar anakku yang super jenius itu bisa mendapatkan dukungan akademis yang memadai. 

Aku juga berencana mendidik anak-anakku dengan terbuka, termasuk memberi informasi kepada mereka bahwa sebagian besar kejadian dalam peradaban manusia adalah konflik dan perang. Manusia terus berperang tanpa henti atas nama ideologi, politik, agama hingga perebutan sumber daya alam. Perang berhenti di satu wilayah, kemudian meledak di wilayah lain seperti lingkaran setan yang terus berputar. Kelak, Anak-anakku harus paham bahwa ada banyak manusia yang tumbuh dalam keadaan pedih, mulai dari kehilangan anggota tubuh akibat perang hingga cacat bawaan lahir sebagai dampak radiasi nuklir hingga percobaan bom atom. Anak-anakku juga harus tahu bahwa selain perang, manusia itu rasis dan diskriminatif di mana ada orang-orang yang diperangi, dikucilkan hingga dibunuh karena perbedaan warna kulit hingga penyakit genetik. Anak-anakku harus tahu bahwa dunia manusia tidak hitam putih seperti kisah dongeng dalam buku anak-anak. 

Ini halu? Tidak. Kita sebagai manusia harus selalu siaga satu jika diberi anugerah berupa anak super jenius, sebab memiliki anak bukan sekadar membesarkannya dengan mencekoki perutnya dengan makanan atau mengaturnya dengan segudang sopan santun. Cerita-cerita di sekitar kita banyak menunjukkan bahwa sejumlah anak istimewa lebih membutuhkan nutrisi berupa pengetahuan ketimbang sekarung makanan pun benda-benda tidak berguna sebagai mainan. 

Dalam memikirkan pernikahan dan berkembang biak, aku tidak ingin seperti orangtua kebanyakan yang menjadikan anak-anaknya sebagai investasi ekonomi pun jalan ke surga. Seringkali, banyak orang tua mengurung anaknya untuk tumbuh jadi pribadi keren, karena ketakutan berlebihan bahwa sang anak akan durhaka kepadanya. Ketakutan-ketakutan tidak beralasan para orangtua bahkan tak jarang memenjara jiwa dan pikiran anak-anak mereka, kemudian si anak tumbuh sebagai manusia toxic yang pada akhirnya menghancurkan hidupnya sendiri, dan hidup banyak orang. Aku, jika menikah kelak, tidak akan menjadi ibu kejam yang memenjara anak-anakku ke dalam ambisiku yang gila dan menyeramkan. Aku ingin menjadi ibu yang penuh kebahagiaan mengantarkan anak-anakku menuju dunia mereka yang mengagumkan. 


Demikianlah sekelumit isi hatiku tentang (mimpi) pasangan hidup dan anak-anakku di masa depan. Orang bilang, kata adalah doa. Jadi, aku selalu berusaha menuliskan kata-kata yang baik untuk masa depanku, sebagai bentuk doa untuk diriku sendiri. Aku belum mampu melawan mitos dan stigma yang gentayangan di masyarakat terkait pernikahan dan rumah tangga atas nama kepentingan bersama. Tapi setidaknya, aku berusaha melawan hantu-hantu yang mengerubungiku agar mereka tidak menghancurkan masa depanku dengan merusak jiwa dan pikiranku. 

MENGAPA DI ZAMAN INI MENIKAH SAJA BEGITU SULIT? 
Tiga puluh tahun silam, saat itu sekitar pukul 7 atau 8 pagi, saat aku menangis kencang sembari mengejar ibuku yang meninggalkan rumah. Seorang bibiku (sudah meninggal) lantas menggendong dan membawaku ke rumah, lalu aku bersembunyi di bawah meja makan. Malam harinya aku merasa kehilangan semua memori tentang ibuku. Aku berusaha menemukan kembali ingatan masa kecilku, tapi tak pernah kembali, sampai saat tulisan ini dibuat. Selain karena aku kehilangan biological bonding dengan ibuku, aku juga kehilangan memori masa kecilku sebelum ibuku pergi. Tahun-tahun setelah hari itu hanya diisi pengetahuan sepihak yang diberikan keluarga ayahku, dan selama itu pula aku menganggap bahwa ibuku bersalah telah meninggalkanku dengan sengaja. 

Pada usia 33 tahun aku baru mendapatkan keterangan berbeda dari ibuku. Aku mendapatkan perspektif berbeda tentang apa yang terjadi di masa lampau, dari pengalaman dan perasaan ibuku sebagai perempuan. Saat itulah banyak pertanyaan terjawab dengan sendirinya. Sebenarnya, ibuku bermimpi menjadi dokter. Hanya saja, ayahanya (Kakekku) malah meminta ibuku tidak melanjutkan sekolah karena harus membiayai yang lain untuk sekolah. Jadinya, mimpi ibuku terkubur begitu dalam dan ia harus berpuas diri mengenyam pendidikan SD. Tak sampai disitu, kakak tertuanya (pak de) memaksa ibuku menikah dengan ayahku di saat ia sedang senang-senangnya berdagang. Ya, ibuku menjadi korban ambisi kakak lelakinya dan kalah dalam pertarungan relasi kuasa antara kakak lelaki melawan adik perempuan. Sejak memahami perasaan ibuku dan situasi sulit yang dihadapinya saat itu, aku berhenti menyalahkannya. 

Seringkali aku merasa malu dengan latar belakang keluargaku, saat memasuki sebuah relasi dan sampai pada membicarakan pernikahan, sebab pada dasarnya setiap keluarga menginginkan pertalian dengan seseorang dari keluarga utuh lagi baik. Aku merasa tidak percaya diri sebab keluargaku tidak bisa mempersembahkan keistimewaan apapun kepada keluarga yang kelak menjadi besannya. Aku juga paham rasanya ditolak atau direndahkan karena latar belakang keluarga. Betapapun aku berusaha menjadi perempuan baik-baik, yang orang akan lihat adalah keluargaku. Ayah dan ibuku adalah orang baik. Keduanya sangat taat beribadah dan nyaris tidak melakukan kejahatan kepada orang lain. Hanya saja, cacat kecil berupa perceraian dan harta benda yang sedikit membuat mereka dipandang buruk. 

Karena gagal memberikan kehidupan keluarga utuh untukku dan adikku, kedua orangtuaku menghukum diri mereka sendiri. Keduanya nyaris tidak pernah ikut campur segala urusanku dan hidupku. Bahkan, saat ada orang mengajak besanan, orangtuaku berkata bahwa aku berhak menentukan sendiri siapa yang akan menjadi pasanganku. Ibuku pernah berkata bahwa menikah tanpa kehendak pribadi telah membuatnya trauma dan beliau tidak mau aku trauma. Pun dengan ayahku, beliau tidak pernah cerewet memaksaku menikah hanya karena usiaku telah matang, dan terlambat menikah dalam ukuran masyarakat kita yang toksik parah. 

Mendapat kebebasan penuh dari keluarga untuk menentukan sendiri siapa yang kupilih menjadi pasanganku tidak serta merta membuat segalanya mudah. Doktrin yang dijejalkan kepadaku tentang jodoh, pernikahan dan kehidupan pernikahan membuatku wandering tentang apa makna menikah yang ingin kubangun. Doktrin yang paling meresahkan adalah bahwa menikah semacam melengkapi diri yang tidak sempurna. Seakan-akan tanpa menikah, seorang perempuan tidak akan pernah sempurna. Pandangan ini semakin diberatkan dengan anggapan bahwa jika perempuan belum menikah diatas usia 30 tahun, maka ia semacam makanan sisa yang tidak menarik untuk diperjuangkan. Sehingga, seringkali kudengar nasehat sampah bahwa 'yang penting menikah' jauh lebih baik daripada sedikit bersabar menunggu jodoh sejati atau tidak menikah. 

Perempuan yang tidak menikah dianggap tidak layak masuk surga karena ia belum berkesempatan melahirkan anak lagi menjadi ibu. Perempuan nyaris tidak dipandang berharga karena dirinya sebagai manusia dengan karya dan kemampuan berpikirnya; dan hanya dianggap berharga apabila mampu menjadi istri bagi seorang lelaki, plus menjadi ibu dari anak-anak yang dilahirkannya. Perempuan tidak dianggap sepenuhnya manusia sebelum ia melebur ke dalam diri seorang lelaki, sebagai istri dan properti miliknya. Hingga pada akhirnya, sadar atau tidak, seorang perempuan menghamba kepada lelaki entah ayah atau suami hanya agar dia menjadi manusia seutuhnya. Bagiku, ini begitu mengerikan; seakan-akan tanpa kehadiran lelaki dalam hidup seorang perempuan, maka ia gagal menjadi manusia. Padahal, setiap lelaki lahir dari tubuh seorang perempuan; makan dari daging,  darah dan air susu perempuan. 

Menikah di zaman ini memang sulit. Bukan saja karena aku hidup di zaman yang tidak sepenuhnya memandang hidup hanya untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan, papan dan keturunan semata. Juga karena nilai-nilai yang dijadikan landasan pernikahan sudah mengalami kemajuan. Aku adalah generasi dengan pandangan progresif tentang pernikahan, sehingga hanya lelaki dengan pola pikir serupa yang bisa menikah denganku. Jika menikah hanya menimbulkan sakit kepala, konflik dan rasa sakit tak berkesudahan sebagaimana dialami banyak pasangan, bukankah memilih hidup sendiri tidak akan mengurangi kemuliaanku sebagai manusia-perempuan, bukan? 

Jika kelak menikah: aku berdoa agar pasanganku menjadi 'home' bagi hatiku, pikiranku dan ragaku, juga semesta bagi karya-karyaku. Jika aku menempatkan pasangan sebagai 'home' maka kupikir aku akan selalu memiliki alasan untuk mengelola kehidupan pernikahan yang membosankan menjadi menyenangkan dan penuh keceriaan. Semoga aku berjodoh dengan lelaki baik hati dan penyayang, agar ia menjadi 'home' bagiku. Aku selalu percaya, lelaki penyayang tidak akan 'sanggup' merendahkan pun mempersulit hidup perempuan yang menjadi pasangan hidupnya. 

Bumi Manusia, April 2021



2 comments:

  1. Replies
    1. Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan curhat ini, Mbak Dian.

      Delete