Perempuan di Titik Nol, tentang Perempuan dan Dunia yang Ganas

Buku legendaris dari Nawal El-Saadawi
 
"Solidaritas antar perempuan bisa menjadi kekuatan perubahan, dan dapat mempengaruhi perkembangan masa depan dengan cara yang baik tidak hanya untuk perempuan, tetapi juga untuk lelaki."
-Nawal El Saadawi-

Dia adalah Firdaus. Namanya diambil dari nama surga paling tinggi. Ia anak perempuan dari keluarga petani miskin. Sang ayah buta huruf, miskin, sangat kasar, dan tidak menjalankan nilai-nilai agama sebagaimana mestinya, misalnya karena Firdaus seringkali melihat ayahnya memukuli ibunya. Selepas sang ayah meninggal, hidup Firdaus semakin tak karuan. Lelaki-lelaki yang hadir dalam hidupnya, entah paman, suami, seorang teman, pejabat, dokter, dan semacamnya sama-sama hanya berbuat jahat kepadanya. Bahkan, para lelaki yang mengeluarkan sejumlah uang untuk tidur dengannya memakinya sebagai perempuan murahan. Firdaus heran bukan kepalang, bagaimana bisa lelaki yang tidur dengan pelacur menghinanya sebagai perempuan kotor? Mengapa para lelaki itu tidak menunjuk dirinya sendiri sebagai lelaki kotor karena meniduri pelacur? Apa hebatnya lelaki yang menghina dan merendahkan pelacur setelah bersenang-senang dengannya? 

Pada hari-hari ketika kematiannya semakin dekat, seorang dokter perempuan dari kelas atas berusaha bicara padanya. Dokter itu seorang Psikiater, berkeliling penjara perempuan untuk menanyai satu persatu perempuan, termasuk dirinya. Firdaus tak ambil pusing. Toh ia akan segera meninggalkan dunia ini dan menemui kebebasan sejati melalui kematian. Perempuan ini telah menolak tawaran pengampunan dari Presiden. Ia lebih menyukai kematian. Jadi, saat bayang-bayang kematian semakin mendekat, apa gunanya bicara kepada seorang dokter perempuan dari kalangan atas? 

Sehari menjelang kematiannya, Firdaus berubah pikiran. Ia meminta dokter penjara agar memanggil perempuan Psikiater itu, sebab ia ingin bercerita suatu hal kepadanya. Psikiater itu senang bukan main saat Firdaus bersedia bicara kepadanya, layaknya bertemu dengan kekasih yang lama menghilang. Seperti menolak mengubur kisah hidupnya, Firdaus memilih menceritakan bagaimana ia menjalani dunia sejak kecil, dari kebahagiaan hingga kemalangan. 

Firdaus lahir dan tumbuh di komunitas pertanian. Ia mengakui bahwa masa kecilnya bahagia. Ia pergi ke lahan pertanian dan menggembala kambing. Ia juga memiliki seorang teman lelaki, Mohammadain. Bersama Mohammadain inilah Firdaus bermain "pengantin" dan mengalami kesenangan seksual untuk pertama kalinya di area klitoris. Pada suatu waktu, ibunya membawa seorang perempuan untuk memotong area itu dan Firdaus tak kuasa menolaknya, meski tak mengerti apa gunanya memotong bagian itu. Tahun-tahun setelahnya, salah seorang paman Firdaus mulai tertarik padanya dan sering menyentuh apa yang disentuh Mohammadain. Tapi, Firdaus tidak bisa merasakan sensasi yang sama. Sesering apapun sang paman menyentuh bagian itu, Firdaus tidak pernah lagi bisa merasakan sensasi ketika ia disentuh Mohammadain sebelum seorang perempuan memotongnya dengan pisau. 

Setelah kedua orangtua Firdaus meninggal dunia, Firdaus diasuh sang paman dan melanjutkan sekolah ke level SD hingga lulus. Firdaus sangat dekat dengan sang paman dan masih suka disentuh bagian vitalnya. Setelah sang paman menikah, hubungannya dengan sang paman menjadi sedikit renggang, terutama karena kecemburuan sang bibi. Saat itu Firdaus melanjutkan sekolah ke jenjang SMP, sebuah sekolah asrama. Pada masa inilah, Firdaus memiliki kekaguman khusus kepada salah seorang gurunya yaitu Miss Iqbal. 

Setelah lulus SMP, sang bibi merayu sang paman untuk menikahkan Firdaus. Meski menolak, akhirnya Firdaus dinikahkan dengan lelaki berusia 40 tahun yang taat beribadah, mapan, dan berpenyakit bernama Sheikh Mahmoud. Lelaki itu diam di rumah sepanjang waktu, mengawasi gerak-gerik Firdaus, hingga melakukan kekerasan fisik kepadanya. Saat Firdaus merasa tak kuat lagi diperlakukan begitu kasar oleh suaminya yang tua itu, ia melarikan diri dari rumah dengan membawa ijazah. Ia berharap seseorang menyelamatkannya. Maka bertemulah ia dengan Bayoumi, seorang pemilik kedai teh yang bersedia membantunya. Bayoumi bahkan menawarkan tempat tinggal sampai Firdaus mendapatkan pekerjaan. Kebaikan lelaki itu seketika membuat Firdaus lega dan punya harapan. 

Setelah beberapa bulan Firdaus tinggal di rumah Bayoumi, ia merasa harus pergi mencari pekerjaan dan mencari tempat untuk tinggal. Saat itulah Bayoumi mulai bersikap kasar kepadanya. Bayoumi mulai memukulnya dengan kejam, mengurungnya seharian di rumahnya, bahkan mengundang teman-temannya untuk memukulnya, hingga memerkosanya. Atas bantuan seorang tetangga perempuan Bayoumi, akhirnya Firdaus berhasil melarikan diri. 

Dalam pelarian itu, Firdaus bertemu dengan Nyonya Sharifa Salah el-Dine yang kemudian membawanya ke sebuah rumah pelacuran kelas atas. Sarifa mengatakan kepada Firdaus bahwa semua lelaki sama saja. Saat bekerja di rumah bordil ini, Firdaus mengenakan pakaian yang indah dan makanan enak, meski hidupnya tidak bahagia. Bahkan, ia pernah mendengar pertengkaran antara Sharifa dan Fawzy sang germo, bahwa Fawzy menginginkan Firdaus untuknya seorang. Karena Sharifa nggak setuju, maka Fawzy pun memerkosa Sarifa. 

Firdaus kembali melarikan diri. Saat hilang arah di jalanan, seorang lelaki asing membawanya pulang ke rumahnya. Firdaus bercinta dengan lelaki asing itu. Ia merasa terperangah saat lelaki itu tidak keberatan atas profesinya, bahkan memberinya sejumlah uang. Firdaus kemudian sadar bahwa ia bisa menolak lelaki, atau menerimanya bercinta dengan sejumlah uang. Perlahan Firdaus menjadi seorang pekerja seks kelas atas. Ia tinggal di sebuah tempat indah, mempekerjakan seorang koki dan asisten; dan menerima tamu sesuai keinginannya saja. Ia tidak lagi merasakan nikmat bercinta, namun ia menikmati bagaimana para lelaki merogoh kocek dalam-dalam hanya untuk tidur dengannya. Firdaus mulai memiliki kepercayaan diri dan membangun pertemanan yang luas. Sampai suatu waktu, salah seorang temannya mengatakan bahwa tidak mungkin seorang pekerja seks dihormati dalam masyarakat. 

Perkataan sangat teman sangat menyakiti hatinya dan ia berhenti menjadi pekerja seks. Firdaus kemudian bekerja di sebuah kantor secara jujur dan menolak menggunakan seks sebagai gratifikasi untuk menaikkan jabatan. Penghasilannya jauh lebih sedikit dan hidupnya sangat biasa, meski ia memiliki kebebasan hidup yang luar biasa. Firdaus menjalin hubungan dengan rekan kerjanya bernama Ibrahim dan merasa hubungan mereka begitu dalam. Namun, cinta itu kandas ketika Ibrahim mengumukan pertunangan dengan anak perempuan pemilik perusahaan sebagai cara untuk meningkatkan karirnya. Pada saat itulah Firdaus sadar bahwa Ibrahim pun memacarinya hanya untuk mendapatkan kepuasan seksual. 

Kecewa dan patah hati, Firdaus kembali ke dunia pelacuran, dan membangun kekayaannya sebagaimana sediakala. Kali ini bisnisnya ditangani seorang mucikari bernama Marzouk. Nah, Marzouk ini mucikari kelas atas yang memiliki koneksi ke orang-orang terkenal dan pejabat. Ia sering memukuli Firdaus agar persentase untuknya dinaikkan dan mengancam Firdaus akan memenjarakannya jika menolak. Firdaus kesal dan berniat pergi, untuk mencari pekerjaan baru. Marzouk menghalanginya dan mengatakan bahwa Firdaus tidak akan pernah bisa pergi darinya. Saat Marzouk mengacungkan pisau, Firdaus mengambilnya dan menusuk lelaki itu sampai mati. 

Firdaus merasakan kebebasan yang melegakan. Saat di jalanan, ia bertemu dengan pangeran Arab yang terkenal. Ia menolak mengikuti pangeran itu sampai mereka setuju satu harga yang mahal untuknya, yaitu 3000 pounds. Di dalam mobil, Firdaus mengaku bahwa ia telah membunuh seseorang. Namun, pangeran Arab itu tidak mempercayainya. Firdaus meyakinkannya bahwa ia telah membunuh seseorang hingga sang pangeran Arab itu ketakutan dan menangkapnya. Firdaus pun ditangkap polisi dan dijatuhi hukuman mati dengan hukuman gantung. Presiden memberinya grasi agar hukumannya berganti menjadi kurungan seumur hidup, namun Firdaus menolaknya. 

"Hidup saya kematian bagi mereka. Kematian saya hidup bagi mereka. Mereka ingin hidup." Begitu kata-kata terakhir Firdaus kepada sang Psikiater, sesaat sebelum polisi bersenjata datang untuk membawanya ka area eksekusi. 

DUNIA FIRDAUS APAKAH DUNIA KITA JUGA? 
Menurutku, hidup Firdaus memang dikelilingi hal-hal mengerikan sejak masih kecil. Pertama, Firdaus hidup dalam kemiskinan sampai-sampai ketika sang ayah stress urusan pekerjaan, yang menjadi korban adalah ibunya yang dihajar sang ayah. Sejak kecil ia menyaksikan bahwa perempuan tidak memiliki kekuatan di hadapan lelaki, bahwa lelaki sepertinya bebas melampiaskan kekerasan pada perempuan hanya karena perempuan itu istrinya. Kedua, Firdaus hidup dalam keluarga yang tidak bisa membaca dan memahami agama sebagai doktrin. Hal ini ditandai oleh kebingungan Firdaus akan ketaatan ayahnya dalam menjalankan agama Islam, sekaligus sangat suka memukuli ibunya. Firdaus melihat sang ayah tidak menjalankan ajaran agama sebagaimana semestinya, sebagaimana kata-katanya. 

Ketiga, Firdaus telah mengalami pelecehan seksual sejak kecil, tapi tidak paham bahwa yang dialaminya adalah pelecehan seksual. Yang melakukan pelecehan seksual pada Firdaus adalah teman bermainnya, yaitu Mohammadain saat mereka bermain 'pengantin' di mana teman lelakinya itu menyentuh area klitorisnya. Lelaki kedua yang sering melakukan pelecehan seksual kepadanya adalah sang paman. Firdaus menikmati saat kedua lelaki itu menyentuh area genitalnya, meski perasaan itu berubah setelah klitorisnya disunat menggunakan pisau. Hingga lulus SD, Firdaus masih mengalami pelecehan seksual sebab tinggal bersama pamannya dan ia masih tidak mengerti bahwa persentuhan intim antara ia dan pamannya adalah pelecehan seksual. Tidak ada yang mengajarinya soal menolak sentuhan dari lawan jenis di area vital tubuhnya, bahkan sejak dia belum masuk sekolah dasar. Bahkan sang paman mengambil keuntungan atas ketidaktahuan Firdaus. 

Keempat, Firdaus menjalani sunat perempuan yaitu pemotongan area klitoris dengan pisau sehingga mengurangi kenikmatan seksual. Sebagai seorang anak, ia tidak mengerti mengapa area itu dipotong tanpa persetujuannya. Kelima, Firdaus dinikahkan dengan lelaki yang tidak diinginkannya, lelaki yang kemudian melakukan penyiksaan fisik kepadanya. Keenam, Firdaus mengalami kekerasan fisik dan seksual oleh banyak lelaki ketika tinggal di rumah Bayoumi. Pertolongan Bayoumi memang membutakan Firdaus sebab baru pertama kali dalam hidupnya seseorang memberinya pilihan dan menolongnya, sehingga ia lupa harus berhati-hati pada kebaikan orang asing. 

Ketujuh, Firdaus dijadikan pekerja seks oleh Sharifa dan Fawzy dengan imbalan pakaian indah dan makanan enak, juga tempat tinggal. Sampai di sini, Firdaus bahkan nggak tahu bahwa pekerja seks itu seharusnya dibayar dengan sejumlah uang. Kedelapan, meski pada akhirnya Firdaus telah kaya raya dan menjadi pekerja seks kelas atas, namun ia tidak akan pernah dihormati sebab meski lelaki-lelaki terhormat tidur dengannya, mereka tetap akan menghinanya sebagai perempuan jalang. Kesembilan, cinta yang awalnya dia pikir murni, ternyata hanya jebakan untuk mengakses seks secara gratis. Itulah pelajaran yang ia peroleh dari hubungannya dengan lelaki bernama Ibrahim. Ternyata, Ibrahim memacarinya hanya untuk mendapatkan seks secara bebas, sebab lelaki itu memilih mengembangkan karirnya dengan menikahi anak pemilik perusahaan. Disini Firdaus mulai sadar bahwa benar lelaki itu sama saja, yang mereka inginkan hanya seks. 

Kesepuluh, bahwa seorang pangeran Arab terkenal sekalipun menginginkan seks darinya meski harus membayar sangat mahal. Disinilah Firdaus mulai sadar bahwa lelaki itu budak seks, entah seks dengan gratis bersama istri atau kekasih; atau seks berbayar bersama pekerja seks. Akhirnya, Firdaus memilih mengakhiri segalanya dengan menerima hukuman gantung. Sebab, ia merasa akan kembali membunuh jika dibiarkan hidup dan menerima pengampunan Presiden. 

Aku tahu, bahwa pertanyaan ini akan muncul di kepala sebagian pembaca: "Mengapa Firdaus memilih melacurkan diri" alih-alih menyelamatkan diri dan menjaga dirinya dari dosa besar? Tetapi mungkin kita nggak akan bertanya: "mengapa lelaki menyiksa perempuan baik fisik maupun seksual? Mengapa lelaki memanipulasi perempuan demi melakukan kekerasan seksual? Mengapa lelaki menjadi germo yang menjual perempuan untuk melakukan seks berbayar? Mengapa lelaki berkelas bahkan pangeran menginginkan seks dengan pekerja seks?" sebab dalam masyarakat kita, kejahatan yang dilakukan lelaki dianggap sebagai perkara biasa. Lelaki dianggap punya power dan harus dipatuhi perempuan. 

Jika kita melakukan penelusuran ke masa kecil Firdaus di rumah orangtuanya, kita akan paham bahwa kedua orangtua Firdaus bukanlah orang berpengetahuan. Firdaus kecil kecil bahkan nggak mendapatkan pendidikan dari orangtuanya untuk berhati-hati pada sentuhan lelaki di area tertentu di tubunnya. Firdaus sudah terbiasa dengan sentuhan di area genitalnya yang dia peroleh dari teman bermainnya, yang ditambah oleh pamannya. Karena tidak mendapat pelajaran tentang tubuh, Firdaus makin terjebak dalam pelecehan seksual saat tinggal dengan pamannya, yang mengasuhnya sekaligus memanfaatkan kesempatan menyentuhnya. Saat tinggal dengan pamannya, Firdaus kan masih SD. Ia terbebas dari sang paman saat sang paman menikah, artinya Firdaus terjebak dalam pelecehan seksual oleh sang paman selama tinggal bersamanya hingga menjelang masuk SMP; coba itung aja berapa tahun lamanya; kemungkinan 5-6 tahun lamanya khas lama sekolah SD. Betapa mengerikannya masa kecilnya, dijadikan budak seks oleh anggota keluarga sendiri. 

Firdaus juga kayaknya masih nggak paham soal pelecehan seksual saat ia kabur dari Bayoumi dan terjebak di rumah bordil karena diajak Sharifa. Ia baru mengerti bahwa seks itu bisa memiliki harga saat seorang asing membawanya ke rumahnya, yang kemudian ia mengambil jalan hidup sebagai pekerja seks. Setelah bertahun-tahun mengalami pelecehan seksual oleh sang paman; disiksa dan diperkosa oleh Bayoumi dan teman-temannya; dijual oleh Sharifa dengan imbalan pakaian dan makanan enak; barulah Firdaus sadar bahwa seks itu bisa berbayar, bisa menghidupi, dan bisa menyelamatkannya dari kemiskinan, dan bisa membuatnya tidak ditiduri lelaki dengan gratis kemudian dipukuli atau direndahkan. 

Seks berbayar adalah paradoks. Di manapun di bumi ini, seorang pekerja seks akan dicap sebagai nakal, jalang, murahan, binal, ahli neraka dan sebutan merendahkan lainnya. Namun demikian, justru mereka dari kalangan terhormatlah yang rela merogoh kocek dalam-dalam demi tidur dengan pekerja seks; sebut saja pejabat, polisi, tokoh masyarakat, pangeran, hingga orang paling lantang bicara tentang moral dan agama. Coba tanya saja para pekerja seks siapa yang membeli jasa mereka paling mahal, maka kita akan tahu siapa dalam masyarakat kita yang menggunakan paling banyak topeng sekaligus paling lantang bicara soal moral. Para pekerja seks adalah pemegang rahasia orang-orang terhormat di manapun, sejak dulu sampai sekarang. Para pekerja seks tahu siapa yang paling rajin merendahkan profesinya dan menghina eksistensinya, tetapi rela meninggalkan istrinya demi tidur dengannya. Pekerja seks paling tahu siapa yang tergila-gila pada tubuhnya, tetapi mengaku paling setia kepada pasangannya dan mensakralkan pernikahan. Begitu, bukan? 

"Saya tahu bahwa pelacuran telah dibangun oleh lelaki, dan bahwa lelaki mengendalikan kedua dunia kita, yang ada di bumi, dan yang di surga. Bahwa lelaki memaksa perempuan untuk menjual tubuh mereka dengan harga tertentu, dan tubuh yang dibayar paling rendah adalah harga istri. Semua wanita adalah pelacur dari satu jenis atau lainnya," kata Firdaus. 

Mungkin kita nggak setuju dengan pendapat yang keras ini, seperti menyamakan istri dengan pekerja seks. Namun, jika pembaca pernah mendengar kalimat ini, "Mahar adalah harga untuk membayar keperawanan perempuan," yang eksis dalam masyarakat kita; maka kita akan sadar bahwa begitulah cara sebagian lelaki menghargai perempuan, baik tubuhnya maupun jiwanya. Lelaki merendahkan perempuan yang bekerja menjual tubuh untuk uang, namun lelaki juga menghargai tubuh istrinya seharga mahar pernikahan. Memangnya seberapa mahal mahar pernikahan? Bagaimana bisa mahar pernikahan dianggap sebagai bayaran bagi keperawanan seorang perempuan? Bahkan, murahnya tubuh perempuan dalam pernikahan adalah bahwa banyak lelaki yang merasa berhak menyiksa dan memukuli istrinya, hanya karena si lelaki sedang marah, stress, atau sang istri dianggap tidak melayaninya dengan benar. Pernyataan tokoh Firdaus tahun 1970an itu masih relate lho dengan banyak peristiwa zaman sekarang, terutama soal seks dan tubuh perempuan. 

Video di bawah ini adalah review terbaik buku "Perempuan di Titik Nol" yang menggunakan sudut sastrawi, yang melihatnya berbasis tata bahasa. Aku sangat merekomendasikan pembaca untuk menonton video ini sampai selesai, agar kita merenungkan kehidupan seperti apa yang melingkupi kita. Apakah kita termasuk sosok yang melindungi atau yang mengancam? Apakah kita termasuk sosok yang tubuhnya dibeli atau pembeli tubuh orang lain? 

Dan tentu saja aku sangat merekomendasikan pembaca untuk membaca buku ini dan mendiskusikannya secara terbuka. Kisah dalam buku ini terjadi tahun 1970an, namun dalam banyak hal sangat relate dengan kehidupan saat ini. Kisah kompleks dalam buku ini benar-benar keras, berani dan menampar siapa saja dalam dunia manusia. 

PENGARUH NAWAL EL-SAADAWI BAGI DUNIA PEREMPUAN
Novel "Perempuan di Titik Nol" terinspirasi dari pengalaman nyata Nawal el-Saadawi sebagai Psikiater yang mengunjungi para tahanan perempuan di penjara Qanatir, di Kairo, Mesir. Dalam proses risetnya ini, pada musim gugur tahun 1974 Nawal bertemu dengan seorang tahanan bernama Firdaus yang dijatuhi hukuman mati. Dari banyak tahanan perempuan yang ia temui di penjara itu, Firdaus merupakan sosok yang paling berkesan dan kisahnya yang paling berdampak pada perjalanan karir Nawal sebagai Psikiater sekaligus penulis perempuan Mesir yang sangat berani. 

Novel ini ditulis hanya dalam waktu satu minggu. Ditulis dalam bahasa Arab dan diterbitkan di Lebanon pada 1975. Waktu itu, tidak satupun penerbit di Mesir yang berani menerbitkan novel ini. Sampai saat ini, novel ini sudah diterjemahkan ke dalam 40 bahasa dan kita di Indonesia bisa mengakses buku ini dengan mudah di toko buku tertentu. Nawal sendiri memandang sosok Firdaus sebagai martir dalam melawan sistem patriarki. Bahkan, saat Nawal dipenjara oleh rezim pemerintah Mesir, di penjara yang sama dengan Firdaus di Penjara Qanatir; ia masih tidak percaya bahwa sosok perempuan yang memberinya inspirasi yang besar dalam hal perlawanan seorang perempuan kepada sistem patriarki sudah lama meninggal. Novel ini menjadi legenda terutama dalam membangun kesadaran tentang realita dunia perempuan tahun 1970an. Novel ini begitu powerful bagi jutaan manusia di dunia, bukan hanya karena kisahnya yang padat, keras dan berani; juga karena menampar realitas mengerikan dalam dunia manusia, tentang relasi antara dunia lelaki dan perempuan. 

Sosok Nawal el-Saadawi tentu saja nggak serta merta bisa menulis karya hebat ini hanya berbekal profesinya sebagai Psikiater. Ia telah tumbuh sebagai perempuan kritis sejak masih kecil. Nawal lahir pada 27 Oktober tahun 1931 di Kafr Tahla, Mesir dengan nama Nawal Zeinab el-Sayed. Pada era itu, 90% perempuan mesir diharuskan menjalani surat. Nawal disunat pada usia 6 tahun tanpa bisa menolak karena belum paham apa-apa terkait sunat perempuan. Pada usia 10 ia sempat dipaksa menikah, namun berhasil menolaknya. Nawal bersikeras melanjutkan pendidikan dan kemudian kuliah di Fakultas Kedokteran, dengan spesialiasi Psikiatri -untuk berkarir sebagai Psikiater. 

Nawal tipe manusia kritis dan mempertanyakan banyak hal dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, neneknya Nawal yang keturunan Turki membenci kulit gelap Nawal yang diwarisinya dari ayahnya yang seorang petani miskin; Nawal juga heran saat Raja Farouk menolak Mesir menjadi bagian dari Afrika sehingga sekolah-sekolah di Mesir mengacu pada kurikulum pendidikan Inggris sebagai negara penjajah; di mana selama bertahun-tahun lamanya selama dia bersekolah ia menyaksikan para guru maupun murid memandang mereka yang berkulit putih memiliki kedudukan lebih tinggi dari mereka yang berkulit gelap, dan Nawal berkulit gelap; obsesi menjadi berkulit putih membuat Nawal jadi korban bibinya, yaitu selalu ditaburi bedak tebal-tebal dan bibinya selalu berusaha meluruskan rambut keritingnya. 

Kedua orangtua Nawal memang selalu berusaha memberikan pemahaman yang benar atas banyak pemahaman keliru yang diperoleh Nawal di sekolah ataupun dalam kehidupan. Namun, dalam banyak hal ia tidak memperoleh jawaban sehingga harus bertanya langsung kepada Tuhan. Ia bertanya-tanya mengapa pemerintah Inggris lebih berkuasa dari Tuhan, sementara para tokoh agama selalu mengatakan bahwa Raja Farouk dilindungi Tuhan. Namun, sang ayah selalu mengatakan kepadanya bahwa Tuhan mengirimkan A, B, C untuk mengalahkan raja dan penguasa zalim. Sayangnya, dalam banyak hal Nawal melihat bahwa tokoh agama sendiri membawa-bawa Tuhan saat bergandengan tangan dengan penguasa. Hal inilah yang membuat karya-karya Nawal selalu dipenuhi kritik terhadap penguasa dan tokoh agama yang menjadikan agama sebagai alat berpolitik; dan termasuk untuk menyakiti perempuan atas nama Tuhan. 

Nawal adalah perempuan berani. Selain melawan rasisme, ia juga melawan sistem patriarki di negaranya dengan menulis. Ia melawan penguasa yang menindas dan korup dengan menulis. Ia melawan tokoh agama yang menggunakan ayat-ayat Tuhan untuk membela penguasa dengan menulis. Ia membangkitkan perlawanan perempuan dengan menulis. Ia membuka mata dunia akan realita relasi tidak sehat lelaki-perempuan dengan menulis. Ia paham bahwa kata-kata adalah senjata yang lebih tajam dari pedang, dan ia menggunakan senjata itu dengan sangat baik. Kata-katanya bukan saja tajam menusuk, melainkan membangun kesadaran pada mereka yang tertindas dan lemah; termasuk perempuan dan anak-anak. 

Saat kuliah di Fakultas Kedokteran inilah ia baru mengerti bahwa sunat perempuan ternyata tidak boleh dan melanggar HAM. Setelah lulus pada 1955 dari Cairo University dan bekerja di sebuah klinik di kampung halamannya, ia menyaksikan kenyataan pahit tentang dunia perempuan. Ia melihat kenyataan tentang kekerasan fisik dan seksual yang dialami para perempuan, termasuk dalam pernikahan. Tahun 1970 ia kembali ke Kairo dan menjadi Direktur Kesehatan Masyarakat di Kementerian Kesehatan Mesir. Pada 1972, bukunya "Women and Sex" yang kontroversial terbit dan menyebabkan ia dipecat dari pekerjaannya di Kementerian Kesehatan; posisinya sebagai Chief Editor di sebuah Jurnal Kesehatan dan Assistant General Secretary di Medical Association in Egypt. Pada 1981 Nawal bahkan pernah dipenjara selama 3 bulan lamanya, dan baru dibebaskan saat Presiden Anwar Sadat meninggal karena dibunuh. 
Nawal el-Saadawi sebagai satu dari 100 Women of the Year majalah Time tahun 1981. Sumber: www.time.com

Pada 1982, Nawal mendirikan dan memimpin Arab Women Solidarity Association dan menerbitkan majalah Noon sejak 1989. Pada 1991 organisasi dan majalah tersebut dibredel pemerintah Mesir. Atas dedikasinya pada aktivisme dan pembelaan pada perempuan serta hak asasi manusia, pada 1981 ia menjadi salah satu dari 100 Women of the Year majalah Time. Pada 2005, Nawal mendapat penghargaan internasional Inana di Belgia; pada 2012 ia juga mendapatkan penghargaan Perdamaian Sean McBride dari Biro Perdamaian Internasional. Nawal meninggal dunia pada 21 Maret 2021 di rumah sakit di Kairo dan dunia menangis karena kehilangan sosoknya yang pemberani. 

NAWAL EL-SAADAWI DAN FEMINISME 
Nawal dikenal sebagai feminis dan aktivis Mesir yang cerdas, cadas dan pemberani. Jangankan penjahat ecek-ecek, penguasa aja dia lawan. Majalah dan organisasi yang dia bangun dibredel, kehilangan jabatan mentereng di kementerian dan sejumlah organisasi, hingga dipenjara nggak membuat dia menyerah. Tumbuh sebagai perempuan di negara yang jadi jajahan Inggris membuatnya mengalami rasisme dan ketidakadilan sejak kecil, termasuk sunat perempuan yang berasal dari paham konservatif masyarakat mesir dalam rangka menekan urusan seksualitas perempuan. Nawal 3 kali menikah, dan ia bangga menceraikan ketiga suaminya sebagai proses melindungi dirinya dari hal-hal yang tidak seharusnya terjadi dalam rumah tangga misalnya kekerasan fisik, psikologis dan seksual dari pasangan. 

Tumbuh dalam masyarakat yang rasis dan konservatif membuat Nawal begitu tangguh. Ia tangguh karena harus berjuang membangun kesadaran masyarakat tentang banyak hal, termasuk ketidakadilan yang diterima perempuan. Sebagai dokter ia menerima banyak pasien perempuan dengan keadaan berbeda-beda, termasuk mereka yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga dari pasangan. Ia juga membangun kesadaran terkait kesehatan reproduksi dan melawan praktik sunat perempuan. Ia bahkan menegaskan bahwa feminisme bukan produk perempuan Barat, sebagai penanda bahwa Barat tidak membangun segala ide yang berkaitan dengan perlawanan terhadap penguasa. 

"Feminism in not western invention. Feminism was not invented by American women, as many people think. No. Feminism is embedded in the culture and in the struggle all women all over the world. We have to liberate women economically, socially, psicolgically, physically, religiously. So, our feminism we called ourselves historical -the slogan of our group- socialist, feminist. Because we studied history and we understood that the oppression of women is not specific of Egypt or Arab people - it's historical. It is everywhere in every country. Women were rebelling in all religions. In India, in Egypt, under Hindus, under Judaism, under Christianity or Islam. Women were fighting for their rights. And we called ourselves socialist because we are against class oppressions. We are against capitalism, because capitalism is linked to patriarchy. We are against patriarchy, not men. We are not against men, we are against patriarchy, the patriarchal system. The domination of men in religions, in economy, in culture, in everything, in science. That's way we call ourselves historical, socialist, feminist," kata Nawal panjang lebar dalam sebuah wawancara di saluran 4News pada 2018. 
"And this organisation terrified the men in power, didn't it?" tanya pembawa acara. 
"Terrified, yes, of course. It terrified them. That's why they banned it. In fact, we were about to create a revolution, because we had 40% men. We were not al women," tambah Nawal. 
"Men were joining too?"
"We had 40% men and young men very enthusiastic about these points."
"Why were they joining? Why were men joining?"
"Because they felt that men are oppressed by patriarchy too," pungkas Nawal.  

Intinya, Nawal menyatakan bahwa feminisme itu tidak dibangun oleh dunia Barat, alias tidak ditemukan oleh perempuan Amerika. Feminisme eksis di setiap masyarakat di mana perempuan memperjuangkan hak-haknya, baik di Mesir atau Arab, baik beragama Hindu, Yahudi, Kristen dan Islam. Feminisme itu lebur dalam budaya dan sejarah. Di mana perempuan memperjuangkan hak-haknya dan melawan dominasi lelaki dalam sistem patriarki, di sanalah feminisme eksis. Selain itu, feminisme juga sangat erat kaitannya dengan sosialisme yang melawan kapitalisme di mana dalam kapitalisme segala sesuatu berbasis kelas sosial dan erat dengan patriarki. Sehingga, feminisme ini sebenarnya tidak hanya diperjuangkan oleh perempuan. Bahkan, dalam konteks gerakan yang dipimpin Nawal, sebanyak 40% lelaki dan lelaki muda di Mesir tuh ikut bergabung dalam melawan patriarki dan dominasi penguasa karena merasa dirugikan juga oleh sistem ini. 


Bagi pembaca yang selama ini salah memahami bahwa feminisme itu produk Barat, bisa mendengar kata-kata mendiang Nawal el-Saadawi; bahwa feminisme itu eksis di setiap masyarakat di mana perempuan memperjuangkan hak-haknya. Hanya saja, sebagaimana banyak hal, Barat selalu lebih dulu dalam mendokumentasikan, mendiskusikan, mempatenkan dan membahasakan 'sesuatu' sehingga seringkali karena kalah cepat, banyak ide dan penemuan bangsa-bangsa di penjuru dunia jadi seakan-akan produk Barat. Jika kita menilik sejarah perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi setelah Revolusi Hijau dan Revolusi Industri yang sama-sama bermula di Eropa, maka menjadi wajar jika bangsa-bangsa di dunia banyak tertinggal; bahkan tertinggal dalam mengklaim suatu ide dan penemuan. So, jangan berhenti belajar dan membaca, dan perluas cakrawala karena dunia ini begitu luas dengan ilmu, pengetahuan, kearifan dan sejarah yang kaya. 

Bumi Manusia, 27 Maret 2021

Bahan bacaan: 
https://id.wikipedia.org/wiki/Perempuan_di_Titik_Nol
http://www.jurnalperempuan.org/wacana-feminis/menguak-budaya-patriarki-lewat-novel-perempuan-di-titik-nol
https://en.wikipedia.org/wiki/Nawal_El_Saadawi
https://en.wikipedia.org/wiki/Woman_at_Point_Zero
https://youtu.be/djMfFU7DIB8
https://youtu.be/h8Jr6i_RqgA
https://youtu.be/zxKu5STTFsY
https://developers.facebook.com/docs/plugins/embedded-posts/?prefill_href=https%3A%2F%2Fwww.facebook.com%2Faslaksana%2Fposts%2F3866432840109330&__cft__[0]=AZWMIU5S1Z8Tb3io0sSGU6sWmOmVXYNF_Ey4egDtgjLzX_Sx_wPVsZ4RVcHw9QN2XyvLvwEfDRcSjVI8iDpbD6Uoo3DfowF6mFALEFAPvfTTEJRvvH1GGlnbAd0Y02xS1DA&__tn__=p%2CP-R#code-generator
https://time.com/5793662/nawal-el-saadawi-100-women-of-the-year/



4 comments:

  1. wah penasaran sama buku ini, terimakasih sudah mereviewnya kak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yuhu, bukunya sangat bagus untuk dibaca, sebagai bahan belajar kita tentang dunia dalam kemasan sastra dari Mesir.

      Delete
  2. ... Nawal El Saadawi dalam "perempuan di titik nol" Bagus sekali ... Sangat urgent utk di baca, di mengerti ...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali. Buku ini bagus sebagai bahan belajar dan memahami dunia manusia.

      Delete