The Composer, Pelipur Lara dalam Kecamuk Perang

Cover film "The Composer"
 
"Music can refresh people's spirit."
-Xian Xinghai dalam film "The Composer"-

Orang-orang bijak mengatakan bahwa musik merupakan salah satu jenis kenikmatan duniawi yang mampu mendekatkan manusia kepada Tuhan. Maka tak heran jika setiap budaya memiliki musiknya sendiri, yang unik dan menggambarkan pengalaman hidup suatu masyarakat. Bahkan tak jarang jika musik juga dijadikan alat memuja Tuhan; menciptakan perdamaian dan keharmonisan dalam masyarakat; hingga mengobarkan semangat patriotisme. Konon dalam peperangan berkepanjangan, musik menjadi sarana menghibur masyarakat dan tentara agar nggak stress. Musik dan perang; dua hal kontras yang kemudian mengubah hidup Xian Xinghai untuk selamanya, juga bagi orang Kazakhstan. 

Xinghai lahir ke bumi untuk musik. Ia memiliki minat yang besar pada musik, memainkan musik dengan penuh khidmat dan menciptakan musik legendaris yang dikenang hingga saat ini. Meski ia telah menjadi yatim saat baru saja dilahirkan dan harus tumbuh dalam asuhan single mother di perantauan, ia tetap meminati musik lebih dari apapun. Pembelajarannya akan musik mulai dilakoninya dengan serius saat ia duduk di sekolah dasar di Yangzheng Primary School pada usia 6 tahun. Seorang gurunya yang sangat terkesan dengan bakatnya bahkan memasukannya ke sebuah band militer agar ia lebih banyak mendapatkan teori dan praktik bermusik. Saat ia berusia 13 tahun, sang kepala sekolah malah membawanya ke Guangzhou bersama 19 murid lain agar Xinghai mendapatkan pendidikan khusus di YMCA Charity School, hingga kemudian ia diterima di Lingnan University. Pokoknya, pendidikan bermusiknya lancar bebas hambatan atas dukungan banyak pihak. 

Pelajaran bermusiknya terus mengalami kemajuan baik di China maupun luar negeri, seperti Singapura dan Perancis. Bahkan, pada tahun 1943 ia merupakan siswa China pertama yang diterima di Konservatorium Paris untuk mempelajari komposisi senior kepada Paul Dukas, seorang komposer asal Perancis. Padahal sebelumnya, ia juga pernah belajar kepada Vincent D'Indy komposer dan guru asal Perancis. Pada 1935 saat Jepang mengokupasi China dan menciptakan negara boneka bernama Manchuria, Xinghai kembali ke China. Sebagai pemuda, ia menggunakan musik untuk membangkitkan patriotisme dan semangat melawan pendudukan Jepang atas China. Kata-katanya dan musiknya membuat rakyat semakin tergugah untuk melawan Jepang. Pada tahun 1938 ia menjadi dekan di Music Department Lu Xun Institute dan menggarap musik yang sangat populer yaitu "Yellow River Cantata" dan "Production Cantata."

Tahun 1940, Xinghai menggunakan nama samaran Huang Xun berangkat ke Uni Soviet guna mengubah musik dari film dokumenter "Yan'an and the Eight Route Army."  Kepergiannya dilepas oleh para mahasiswa, juga istri dan anak perempuannya yang masih bayi, Xian Nina. Rencananya, proyek pengubahan musik tersebut akan berlangsung selama 6 bulan. Sayangnya, suasana Perang Dunia II tidak berpihak pada rencana besar Xinghai sebab saat itu pasukan Nazi Jerman sedang ganas-ganasnya menguasai Eropa hingga Uni Soviet. Perang menghamparkan kesedihan, air mata dan kehancuran. Menyadari pekerjaan besarnya mengalami gangguan dan bahkan ia hampir terbunuh dalam sebuah serangan udara yang mematikan, Xinghai memilih untuk kembali ke China melalui jalur Xinjiang. Tapi, panglima perang anti-komunis lokal menutup jalan sehingga terdampar di Almaty, Kazakhstan. 

Seketika itu juga hidup Xinghai jadi sengsara dan terlunta-lunta di tengah kecamuk perang negeri asing. Ia kehabisan uang dan kelaparan. Dalam keadaan susah payah dan kebingungan, ia bertemu dengan seorang gembel yang mengarahkannya ke gedung teater. Di gedung itulah Xinghai menyaksikan sekelompok musisi yang sedang berlatih dengan seorang komposer penuh semangat yang memimpin orkestra. Meski suasana perang begitu suram dan kelaparan mengancam, para musisi tetap berpakaian rapi dan berlatih dengan penuh semangat. Xinghai bertemu lelaki pemimpin para musisi. Dialah Bakhitzhan Baykadamov. Lelaki Kazakh itu berkeyakinan bahwa musik bisa membantu warga untuk tidak panik dalam suasana perang dan hidup yang sulit dan Xinghai percaya bahwa musik dapat menyegarkan semangat hidup seseorang. Lelaki itu pula yang kemudian menjadi penolong Xinghai melalui tahun-tahun penuh kerinduan kepada kampungnya. 

Di masa perang, pemerintah menuntut lelaki muda dan sehat untuk turut maju ke medan perang. Namun, para musisi memiliki privilese. Nama-nama mereka tidak dimasukkan ke dalam daftar orang yang harus maju ke medan perang, menjadi tentara dalam waktu sekejap. Bahkan, para petinggi militer pun maunya musisi ya berada di ruang-ruang pertunjukkan musik, sebab saat perang sekalipun masyarakat dan tentara butuh hiburan. Lagian kan perang nggak akan berlangsung selamanya, makanya sayang banget kalau musisi berbakat harus mati di medan perang. Trus, Baykadamov pada dasarnya memang orang baik maka dia juga bernasib baik dan membagi nasib baiknya dengan berbuat baik kepada banyak orang. Ia telah menolong banyak pemusik yang terjebak perang seperti Xinghai dan menampungnya di rumahnya, bersama ibunya. 

Namun, saat rumahnya telah kepenuhan, maka satu-satunya pilihan adalah menampung Xinghai di rumah adik perempuannya, Danash. Maka bertemulah Xinghai dengan Danesha dan anak perempuannya, Kalamkas. Karena rumah Danesha kecil dan reyot dengan 1 kamar tidur, Xinghai harus tinggal di loteng yang ia harus membungkuk setiap kali tinggal didalamnya. Di loteng itulah Xinghai mengubah musik untuk diperdengarkan di stasiun radio. dalam masa-masa itu pula, Xinghai berusaha tidak menjadi beban Danash yang sehari-hari bekerja sebagai buruh pabrik demi mendapatkan beberapa butir kentang dan roti keras. Perang dan kelangkaan bahan makanan memaksa semua orang makan hanya dengan sebutir kentang rebus, roti keras dan bubur encer yang entah mengenyangkan entah enggak. Xinghai juga harus berhati-hati karena dokumen perjalanan miliknya yang sudah kadaluarsa bisa membuatnya ditangkap polisi.  Ia pun harus menjual satu-satunya mantel miliknya meski musim dingin begitu mengerikan demi membantu Danesha membeli bahan pangan. 

Dalam usahanya bertahan hidup, bermusik dan mencari jalan untuk kembali ke China; hidup Xinghai tidaklah mudah. Bahkan setelah Danash mengalami kecelakaan kerja sehingga harus tinggal di rumah selama beberapa waktu, Xinghai terpaksa menggantikan Danash bekerja di pabrik. Seorang musisi yang tidak pernah kerja kasar kini harus hidup layaknya kelas pekerja sehingga membuat telapak tangannya terluka dan ia ditertawakan sejumlah pekerja. Ia juga harus berperan sebagai kepada rumah tangga, menyiapkan makanan untuk keluarga kecil Danash dan mengurus Kalamkas. Gadis kecil itu sangat menyukai Xinghai dan ia menjadi semacam obat penawar rindu sang musisi pada anak perempuannya. Sementara Kalamkas sendiri sangat merindukan ayahnya yang ia pikir ada di medan perang sebagai seorang patriot bangsa, sebab si ayah sebenarnya merupakan pembelot dan sudah dihukum mati oleh negara. 

Kerinduan Xinghai pada China tidak terbendung dan ia terus berusaha mendapatkan jalan untuk kembali. Maka pada saat ada kesempatan, ia menuju perbatasan China dengan begitu antusias. Namun, karena ia tidak memiliki dokumen resmi, maka lagi-lagi ia terjebak  di area perbatasan tanpa seorang pun peduli padanya. Pokoknya nih lelaki makin tenggelam dan homesickness dan penampilannya makin kayak gembel. Lagi-lagi Baykadamov yang menyelamatkannya. Lelaki itu mengatakan bahwa dalam suasana perang, salah satu upaya menyelamatkan diri dan mental adalah bersabar. Maka kembalilah Xinghai ke rumah Danash, hingga kesempatan lain datang menghampirinya di mana sebagai musisi ia dibutuhkan untuk mengabdi di suatu desa di perbatasan Kazakhstan-China. Di desa itu, Xinghai membagi waktunya dari membuat musik dan duduk diam di perbatasan, memandangi kampung halamannya yang jaraknya hanya beberapa puluh meter saja. Ia hanya perlu melompat melewati pagar. Namun, dalam sistem administrasi suatu negara, melewati suatu batas negara tanpa dokumen resmi akan dianggap sebagai penjahat dan bisa dihukum tembak ditempat. 

Dalam kesibukannya membuat musik dan memendam rindu kepada keluarganya di tengah kecamuk musim dingin, Xinghai kembali harus pindah ke sebuah tempat bernama Kostanay. Alasannya: warga membutuhkan Xinghai untuk menghibur mereka dalam suasana perang yang menggila. Maka pergilah ia ke tempat itu dan kembali meneruskan aktivitasnya bermusik. Di Kostanay inilah Xinghai kemudian seakan mendedikasikan karya pamungkasnya untuk Kazakhstan dan China sekaligus. Kerinduannya pada kampung halamannya tak bisa dibendung sehingga kesibukannya membuat musik memperburuk kondisi kesehatannya. Dalam sebuah konser di mana ia menampilkan "Yellow River Cantata" seakan ia sedang memimpin para pemusik di China, ia jatuh pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit di Kremlin, Moskow. Xinghai tidak bertahan lama dalam sakitnya, sakit sebab kesehatannya semakin memburuk dan sakit karena rindu kampung halaman yang tidak kunjung tergenapi. Ia menutup mata dalam kepungan dingin salju di negeri asing pada usia 40 tahun. 

Berpuluh tahun kemudian, Kalamkas dan Xia Nina bertemu. Xia Nina yang tidak pernah bertemu ayahnya sejak bayi itu akhirnya mendengarkan bagaimana heroiknya perjuangan ayahnya untuk pulang, sekaligus dedikasinya dalam bermusik yang selalu dikenang oleh rakyat Kazakhstan dari cerita-cerita Kalamkas selama tinggal dengan Xinghai. Sang komposer besar itu tidak hanya membuat musik sebagai pelipur lara dalam kecamuk perang dan perih kelaparan. Dengan musiknya juga ia memuji kebesaran Amangeldy Imanov, pahlawan kebanggaan Kazakhstan untuk mendapatkan kemerdekaannya dari Uni Soviet, sehingga membangkitkan semangat juang orang Kazakh dalam melawan Nazi Jerman. 


Buatku, film ini sedih banget. Bikin nangis tersedu-sedu. Membayangkan seorang papa muda terjebak di negeri orang dalam suasana perang yang kangen keluarga dan kampungnya, tapi nggak pernah bisa kembali meski sebenarnya tanah airnya begitu dekat. Dalam suasana perang, bagaimana pun juga dokumen diri begitu penting untuk menunjukkan identitas seseorang. Maklum lah, dalam perang kan setiap negara wajib curiga pada orang-orang tanpa dokumen resmi. Sedih banget membayangkan betapa kerinduan yang kian dalam dan menumpuk di dalam jiwa justru bikin si perindu jadi sakit-sakitan dan meninggal di negeri asing, mirip dengan desakan magma di perut bumi yang kadang membunuh sebuah gunung saat ia memuntahkan laharnya. 

Film ini sendiri dibuat sebagai bentuk kerjasama bilateral antara China dan Kazakhstan, dan sebagai penghormatan kedua negara pada mendiang Xinghai yang karya-karyanya begitu dikagumi hingga saat ini. Dedikasi Xinghai pada musik bahkan mendapatkan penghargaan berupa dibangunnya "Xinghai Memorial Museum" oleh pemerintah Macau. Memang lah, Xinghai ini dikenal sebagai musisi yang pandai merebut hati rakyat dengan musiknya, terutama dalam mengobarkan semangat perlawanan pada penjajah. Sangat wajar jika dia dicintai, dikenang dan karyanya terus diabadikan sebagai warisan bangsa. 

Bumi Manusia, Januari 2021

Bahan bacaan: 
https://www.globaltimes.cn/content/1149862.shtml
https://en.wikipedia.org/wiki/Xian_Xinghai 
https://www.gov.mo/en/news/120115/
https://macaonews.org/maritime-silk-road-association-macau-international-institute-macau-promote-chinese-initiative/
https://www.wikiwand.com/en/Xian_Xinghai
https://yellowriverpianoconcerto.weebly.com/composer.html


No comments:

Post a Comment