Perang antara dr. Richard Lee dan Mafia Bisnis Kotor Industri kecantikan

Ilustrasi dr. Richard Lee melawan dunia mafia industri kecantikan. Gambar diolah dari sumber: thecovetco.com dan dr. Richard Lee via Wikipedia
 
"...ini ada dokter songong amat bongkar-bongkarin produk-produk orang, maksudnya that's even not your product," tanya Boy William, sembari menyetir dengan tenang. 
"Menghancurkan usaha orang. Orang kalau bilang kayak gitu dengan saya, ya kalau memang itu abal-abal nggak papa deh. Dibanding dia ngancurin muka orang!" jawab dr. Richard Lee. 
"Tapi sumpah dok, lo sih nyari musuh," lanjut Boy, lalu mereka berdua tertawa bersama. 
"Yang penting kita di jalan yang bener dan kita punya EVIDENCE BASED-nya," lanjut dr. Richard Lee. 

Bagian dari percakapan antara Boy William dengan dr. Richard Lee dalam satu episode Youtube #NebengBoy yang kurang dari 10 menit tersebut memberi kita sejumlah informasi kunci terkait 'bisnis kotor' industri kecantikan di tanah air. Pertama; bahwa dalam industri kecantikan, banyak sekali pihak yang bermain kotor dengan menjual produk-produk dengan bahan berbahaya. Nah, sebagai seorang dokter spesialis bidang kecantikan, dr. Richard Lee pasang badan untuk membangun kesadaran publik terkait masalah ini. Kedua; sang dokter bicara berbasis laporan banyak sekali perempuan yang menjadi korban produk-produk kecantikan dengan kandungan bahan berbahaya yang justru merusak wajah sekaligus bagian tubuh mereka. Ketiga; lelaki ini berani pasang badan berbasis bukti, bukan fitnah apalagi mengada-ada. Keempat; dia 'berkorban' dan mungkin siap menerima seluruh resiko atas keberaniannya demi menyelamatkan masyarakat Indonesia dari resiko rusaknya wajah dan kulit akibat produk kecantikan yang mengandung bahan-bahan berbahaya. 

***

Back to my past, sejak masih sangat belia dan suka banget kalau ke pasar, aku sebenarnya sudah mempertanyakan hal-hal seputar produk kecantikan. Kalau ke pasar, aku biasanya mampir ke lapak milik orangtua teman sekolahku. Beliau ini menjual aneka produk kecantikan dan printilan lainnya semacam sisir hingga jarum pentul. Aku sering memperhatikan sejumlah produk kecantikan yang kemasannya mencolok tapi harganya murah banget. Kadang kubuka kemasannya dan kucium baunya, dan aku merasa aneh dengan produk itu. Untung saja aku bukan tipe remaja yang suka melakukan uji coba untuk produk kecantikan, sehingga wajahku selamat dari eksperimen bodoh yang bisa menghancurkan diriku sendiri. 

Pernah suatu hari, saat adikku sudah duduk di bangku SMA, dia mengalami iritasi hebat pada wajahnya. Benar, seluruh wajahnya memerah. Usut punya usut, dia mencoba sebuah krim wajah yang dibeli oleh sepupuku yang seumuran dengannya. Mungkin semacam krim racikan yang dijual bebas dengan harga murah, dengan iming-iming bakal bikin kulit cantik, putih dan mulus. Kami semua di rumah mengamuk dan memarahi adikku karena main-main dengan urusan kulit wajahnya. Terlebih aku dan adikku memang terlahir dengan kulit sensitif trus memiliki alergi yang gampang sekali kumat. Sejak peristiwa itu, aku semakin aware dan picky dengan produk kecantikan. Meski aku belum mendapat edukasi yang baik terkait skincare dan produk kecantikan, aku selalu mawas diri. Realita di kampung selalu menunjukkan padaku hal-hal mengerikan, terutama karena seringkali kujumpai wajah sejumlah perempuan paruh baya yang rusak karena menggunakan produk kecantikan yang buruk, diperparah dengan paparan sinar matahari langsung saat bekerja di kebun atau sawah. 

Mungkin, sikap rendah diri dan inferior warga negara Indonesia merupakan warisan khusus yang mendarah daging. Memiliki kulit sawo matang membuat kita 'rendah diri' jika membandingkan diri dengan mereka yang berkulit terang. Dalam kehidupan masa remajaku, aku pun pernah merasa demikian. Terutama jika bersanding dengan sejumlah teman yang kupikir lebih cantik karena kulitnya lebih cerah. Makanya, nggak heran jika banyak remaja perempuan dan ibu-ibu di kampung menggunakan krim-krim murahan agar terlihat cantik. Sebabnya apa? Mereka nggak punya uang buat beli produk kecantikan yang mahal. Mereka juga tidak mendapat warisan berupa ilmu bagaimana meracik sendiri produk kecantikan khas nenek moyang. Bayangkan saja, ibu-ibu petani mau kondangan heboh dandan pake ini itu dengan cuaca terik khas pedesaan, alhasil make-upnya mleber; bukannya cantik, malah kayak ondel-ondel. Dalam jangka panjang hal tersebut bisa menyebabkan flek hitam yang menyebabkan penuaan dini yang parah. Salah satu perempuan itu almarhum bibiku sendiri. 

Sebagai perempuan yang lumayan cuek, aku baru memberi perhatian lebih pada kecantikan kulit saat usia 25 tahun. Karena memiliki kulit sensitif dan alergi, aku lumayan picky. Kalau mau membeli produk skincare dan make-up harus berpikir panjang, termasuk mencari review. Kalau sudah yakin baru deh membeli. Misalnya, aku selalu merasa nggak nyaman, panas, dan gatal jika menggunakan bedak padat (two way cake) bahkan untuk brand terjamin halal seperti Wardah sekalipun. Banyak sekali produk bedak padat yang kubeli dan berakhir di kotak sampah sampai akhirnya aku menemukan cushion dari Wardah yang kurasa paling ringan di kulit wajahku (dan akhirnya aku bisa bernafas lega hahahaha). Beberapa tahun belakangan ini aku bahkan mencoba beralih ke produk skincare berbasis organik (seperti brand lokal Skin Dewi) dan berbasis bahari (misal dari brand lokal Ocean Fresh). Aku berterima kasih kepada brand Ocean Fresh ini karena akhirnya aku menemukan body lotion yang cocok untukku (sebab sebelumnya nggak ada body lotion yang cocok untuk kulitku). 

Dalam proses mempercantik diri sendiri, aku juga pernah lho mengalami bencana akibat kepincut iklan skincare yang aduhai sangat menggoda. Jadi kan karena kulit wajahku ini kombinasi antara sensitif dan berminyak, jadi muda banget iritasi dan jerawatan. Menumpas jerawat sih mudah. Tapi, merawat bekas jerawat lelahnya minta ampun. Nah, lalu aku putuskan membeli sebuah produk skincare dari salah satu brand luar negeri yang lumayan terkenal di kalangan beauty influencer dong dan harganya sekitar Rp. 800.000an gitu deh. Setelah beberapa waktu aku gunakan, lho kok jerawatku makin menjadi-jadi. Bayangkan saja kedua pipiku penuh jerawat dan gatal parah. Wahhhhh aku ketiban sial nih! Entah karena produknya palsu, atau entah karena kulitku sama sekali nggak cocok dengan produk tersebut. 

Aku juga pernah mencoba melakukan perawatan di klinik kecantikan di mana salah satu temanku jadi endorser-nya dong. Aku mengambil paket blablabla dan dalam paketnya ada perawatan infus Vitamin C. Yang namanya perawatan di klinik kan jelas ditangani dokter kecantikan secara langsung mulai dari konsultasi kulit menggunakan alat canggih dan sebagainya. Namun, ternyata ada satu informasi yang luput didiskusikan antara tim dokter dan aku, sehingga aku sebenarnya membahayakan diriku sendiri. Belakangan aku baru tahu bahwa infus Vitamin C sangat tidak disarankan bagi penderita masalah lambung dan aku sejak lama punya masalah lambung. Yah, sudah habis uang banyak ternyata aku lagi-lagi ketiban sial akibat kebodohanku sendiri. So, I quit deh. I have to save both my body and money. Sekarang ini, aku fokus melakukan perawatan sederhana saja; perawatan basic. Aku nggak mau menghancurkan kulitku karena terjebak iklan. 

SIAPA SIH DOKTER 'USIL' RICHARD LEE INI? 
Dokter mungil, kocak, stylish dan necis ini memang wajar banget jika menyita perhatian publik. Dengan gayanya yang blak-blakan ala wong kito, dia menyerang para pebisnis industri kecantikan layaknya berperang di lapangan terbuka. Dia menyebut dan menunjukkan produk suatu brand tertentu, kemudian mengupasnya secara jelas, tuntas dan terbuka. Setiap kali menonton video-videonya, aku mengangguk-angguk senang karena caranya yang seru dalam membongkar produk kecantikan abal-abal lagi berbahaya. Dia menelitinya sendiri di sebuah laboratorium bersertifikat dan melakukan desk review dengan membaca jurnal-jurnal internasional agar kata-katanya berbasis bukti (evidence based). 

Pak dokter yang sumpah stylish banget ini menurutku pas banget sih pasang badan melawan mafia industri kecantikan yang culas dalam berbisnis. Pertama, beliau merupakan seorang dokter lulusan Universitas Brawijaya dan Surat Tanda Registrasi (STR) beliau aktif, bisa di cek di website Konsil Kedokteran Indonesia di www.kki.go.id ya. Itulah mengapa beliau berhak menyandang dan menggunakan gelar dr (dokter) di depan namanya. Kedua, lelaki ini juga telah mengambil spesialisasi Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS). Ketiga, ia juga mengambil pendidikan diploma di The American Academy of Aesthetic Medicine (AAAM) di Amerika serikat. Keempat, saat ia juga sedang menjalani studi Ph.D (Doctor of Philosophy) di Atlantis University, Florida, Amerika Serikat - meski nggak tersedia informasi jurusan apa yang beliau ambil. 

Atas dedikasinya sebagai dokter spesialis aesthetic, dr. Richard Lee diganjar penghargaan dari Indonesia Beauty Award 2019 sebagai "Most Inspirative Person of the Year 2019". Ajang Indonesia Beauty Award sendiri merupakan ajang penghargaan tahunan dari pemerintah kepada para pihak yang berperan penting dalam pengembangan kecantikan Indonesia.  Ia juga menjadi nominee yang mewakili Indonesia untuk mendapatkan penghargaan "Best Aesthetics Practitioner" untuk MyFaceMyBody Awards 2019. Selain itu, yang penting, ia mendapatkan banyak dukungan dari masyarakat luas atas kontribusinya memberikan edukasi terkait produk kecantikan yang sehat versus berbahaya. 

Dokter asal Palembang, Sumatera Selatan ini mengawali karirnya sebagai dokter umum di rumah sakit milik Sinar Mas Group selama bertahun-tahun lamanya. Pengalaman inilah yang membuatnya justru tertarik mengambil kuliah Magister Administrasi Rumah Sakit (MARS) karena ia bermimpi mengembangkan manajemen rumah sakit yang professional dan modern. Nah, gelar MARS ini merupakan gelar akademis yang harus dimiliki seorang dokter apabila ia hendak memimpin sebuah rumah sakit. Dalam proses ia mengembangkan karirnya sebagai dokter dan membangun sistem rumah sakit dan klinik, ia juga mendirikan klinik kecantikan Athena untuk istrinya yang juga seorang dokter. 

Pada awalnya, Klinik Kecantikan Athena ini menggunakan hydroquinone sebagai salah satu bahan pembuat krim kecantikan, karena pada saat itu ya bahan itu memang populer. Namun, waktu membuktikan bahwa ternyata bahan tersebut justru berbahaya jika digunakan secara berkesinambungan, bisa bikin ketagihan kayak narkotika. Pengalaman inilah yang membuat dr. Richard dan istrinya, dan tim dokter di Klinik Athena berhenti menggunakan hydroquinone demi keselamatan pasien mereka. Pengalaman pahit para pasien dan pengalaman sebagai dokter inilah yang memberi kekuatan kepadanya untuk speak up, memberi edukasi dan informasi seputar krim kecantikan dengan bahan berbahaya yang mengandung merkuri dan hidroquinon. Keberanian speak up inilah yang membuatnya dikenal dan kini dijadikan panutan. 

BISNIS KOTOR-CULAS-HARAM INDUSTRI KECANTIKAN
Jika kita menulis kata kunci "BISNIS PRODUK KECANTIKAN ILEGAL" di Google, maka akan bermunculan informasi mengenai kasus-kasus di mana polisi menggerebek lokasi-lokasi pembuatan atau penjualan produk kecantikan yang mengandung bahan berbahaya. Google Image juga akan menampilkan produk-produk kecantikan ilegal dan berbahaya yang dimaksud. Jadi, sebagai konsumen kita jadi tahu produk apa saja sih yang berbahaya, bahkan ilegal untuk diproduksi dan dipasarkan di wilayah Indonesia. Sehingga kita bisa mawas diri sebelum jadi korban kebodohan sendiri. 

Bisnis kotor produk kecantikan dengan bahan berbahaya ini sangat merugikan dan meresahkan. Selain membuat wajah dan tubuh menjadi rusak, juga menghancurkan perekonomian bangsa dari sektor industri kecantikan. Bayangkan aja, prospek penjualan produk kecantikan yang sehat, aman dan legal dijegal seenaknya oleh produk berbahaya dan merusak. Jika masyarakat membeli produk kecantikan berbahaya, maka sama saja dengan membantu para mafia ini menjadi kaya raya. Ya, mereka kaya raya dengan menghancurkan wajah orang lain. Mereka mungkin punya rumah megah, kendaraan mewah, tabungan melimpah, dan sering liburan dari hasil merusak wajah orang banyak. Kok mau-maunya kita memberi kekayaan kepada pada mafia itu, sementara produsen produk kecantikan yang sehat dan aman membutuhkan dukungan kita. 
Polda Jatim mengamankan produk kecantikan ilegal di Surabaya. Sumber: surabayapagi.com

Gambar diatas misalnya, di mana Polisi Daerah Jawa Timur mengamankan penjual sekaligus produk kosmetik ilegal yang selama ini dijualnya. Produk-produknya ini mencatut sejumlah nama brand besar lho. Bahkan ada produk yang tidak memiliki izin dari BPOM yang dipromosikan oleh 6 orang selebriti terkenal (yakin tuh selebriti memakai produk tersebut?) dan setiap bulannya si penjual mendapat untung 300 juta rupiah. Gila ya!

PEMBODOHAN PUBLIK ALA BEAUTY INFLUENCER
Sejak menjamurnya profesi "Beauty Influencer" aku semakin picky terhadap berbagai produk kecantikan. Cara paling gampang menilainya adalah: seberapa konsisten si influencer menggunakan sebuah produk. Misalnya nih sosok A yang kaya dan cantik mengatakan dirinya memakai produk XX, padahal dia mampu beli produk YY yang highend, maka bagiku si A berbohong karena nggak mungkin menggunakan produk XX. Terlebih jika dalam periode tertentu si A kemudian mengatakan ia menggunakan produk DD, CC, FF dan jika diakumulasi maka dalam setahun si A menggunakan banyak sekali produk dari brand berbeda. Sangat nggak masuk akal jika sosok A yang kaya dan cantik itu menggunakan beragam jenis produk. Nggak mungkin banget dia mau nyobain semua produk yang dia promosikan karena pasti ngeri tubuhnya menjadi kelinci percobaan. Jadi, dalam hal memilih skincare dan make up, aku nggak percaya beauty influencer

Para Beauty Influencer digunakan sebagai pengiklan produk-produk kecantikan karena dianggap mampu menggaet konsumen. Terlebih kalau mereka memang cantik dan tampan, plus pengikut media sosialnya mereka banyak. Sayangnya, sebagian besar mereka bukan tipikal yang bisa publik mintai pertanggung jawaban jika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan terkait produk yang mereka promosikan. Bahkan seringkali kudapati sejumlah Beauty Influencer yang bodoh, alias nggak punya pengetahuan mumpuni terkait produk kecantikan yang mereka promosikan, selain dari informasi yang diberikan oleh pihak pemilik produk. Jika sudah demikian, ngapain kita ambil resiko besar, bukan? Kalau wajah dan tubuh kita rusak oleh produk yang dipromosikan para Beauty Influencer, jelas mereka nggak mungkin bertanggung jawab. 

Kalau ada produk kecantikan yang mengandung bahan berbahaya yang dipromosikan selebriti atau Beauty Influencer, jangan langsung percaya produk itu digunakan oleh mereka. Bagaimanapun juga, para public figure itu memiliki dokter kecantikan masing-masing yang merawat mereka. Dipikirin sampai jungkir balik pun tetap nggak akan masuk akal jika selebriti dan Beauty Influencer menggunakan produk ecek-ecek, murahan, dan biasanya punya kemasan aneh sementara mereka punya anggaran yang besar untuk menggunakan produk high end dan merawat diri di klinik kecantikan terpercaya lagi mahal. Kalau mau cara menjadi cantik yang sehat dan bertanggung jawab, tanya aja dokter di klinik kecantikan. 

BAGAIMANA PERAN NEGARA DALAM PERLINDUNGAN KONSUMEN?
Nah, apa yang disampaikan dr. Richard Lee terkait bahaya penggunaan produk kecantikan yang tidak aman dan tidak memiliki izin edar dari BPOM adalah tentang perlindungan konsumen. Negara kita memiliki kebijakan perlindungan konsumen yaitu UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen. Kebijakan ini juga diperkuat dengan Peraturan Presiden No. 50 tahun 2017 tentang Strategi Nasional Perlindungan Konsumen. Kebijakan ini hadir sebagai payung hukum dalam melindungi kita sebagai konsumen dari segala jenis produk dan jasa yang kita beli/gunakan, misalnya produk kecantikan. Jadi, jika misalnya produsen berbohong kepada kita mengenai kandungan hingga fungsi produk yang kita beli, makan kita berhak mengadukan ke pihak berwenang, seperti kepolisian. 

Bahkan nih di negara kita ada yang namanya Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) yang bisa membantu kita memahami, misalnya bagaimana sih caranya mengadukan sebuah produk dengan kandungan bahan berbahaya atau menuntut produsen atas produk mereka yang merusak tubuh kita. Selain itu, negara kita juga sudah membentuk Badan Perlindungan Konsumen berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 4 tahun 2019 tentang Badan Perlindungan Konsumen Nasional. Produk hukum seperti UU, Perpres, PP hingga lembaga seperti Badan Perlindungan Konsumen Nasional dan YLKI hadir, karena jika masyarakat mengadukan perkara terkait suatu produk yang merugikan, akan ada yang melakukan investigasi dan advokasi. Karena jika masyarakat melawan sendirian, ya susah juga, karena produsen sebuah produk terutama produk kecantikan kan perusahaan besar. Kalau melawan sendirian dan tanpa ngerti hukum, ya tamat. 

Mengacu pada Undang-undang No 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen, pada Bab III Bagian Pertama Pasal 4; Hak Konsumen diatur sebagai berikut:

  • hak atas kenyamanan, keamanan, dan keselamatan dalam mengkonsumsi barang dan/atau jasa;
  • hak untuk memilih barang dan/atau jasa serta mendapatkan barang dan/atau jasa tersebut sesuai dengan nilai tukar dan kondisi serta jaminan yang dijanjikan;
  • hak atas informasi yang benar, jelas, dan jujur mengenai kondisi dan jaminan barang dan/atau jasa;
  • hak untuk didengan pendapat dan keluhannya atas barang dan/atau jasa yang digunakan;
  • hak untuk mendapatkan advokasi, perlindungan, dan upaya penyelesaian sengketa perlindungan konsumen secara patut;
  • hak untuk mendapat pembinaan dan pendidikan konsumen;
  • hak untuk diperlakukan atau dilayani secara benar dan jujur serta tidak diskriminatif;
  • hak untuk mendapatkan kompensasi, ganti rugi dan/atau penggantian, apabila barang dan/atau jasa yang diterima tidak sesuai dengan perjanjian atau tidak sebagaimana mestinya;
  • hak-hak yang diatur dalam ketentuan peraturan perundang-undangan lainnya. 

Jadi, sebagai konsumen selain kita harus cerdas dan waras dalam memilih produk, juga harus memahami apa sih hak kita sebagai konsumen yang diatur oleh hukum negara ini. dalam kasus produk kecantikan, jelas kita harus mendapat informasi yang BENAR terkait kandungan suatu produk dan fungsinya, dan dijamin tidak membahayakan keselamatan kita meski hanya setitik kulit. Jika suatu produk kecantikan misalnya melanggar hukum seperti menggunakan bahan-bahan berbahaya dan tidak memiliki izin dari BPOM; berarti produk tersebut bisa membahayakan kita, meski selebriti dan beauty influencer mempromosikannya. Ingat, patokan kita adalah BPOM, bukan selebriti apalgi Beauty Influencer! 

Masalahnya, sebagaimana masalah lain di negeri ini, perlindungan hukum terhadap konsumen juga nggak ideal. Kasus penggrebekan kosmetik ilegal selalu terjadi setiap tahun, sehingga hal ini mengindikasikan bahwa para mafia itu nggak takut pada pihak berwenang. Jika produk kecantikan berbahaya masih bisa beredar luas di toko, di mall, di warung, hingga e-commerce; artinya para mafia bebas aja melakukan kejahatannya karena mereka paham bahwa mereka nggak pernah dijerat hukum yang bikin kapok. Singkatnya, perlindungan negara kepada rakyatnya sebagai konsumen SANGAT LEMAH. Dengan demikian, sembari menunggu pihak berwenang menjalankan tugasnya dengan baik, ya kita sebagai masyarakat harus sadar diri, mawas diri dan melindungi diri sendiri.  Kalau wajah dan tubuh udah rusak kan yang rugi, malu, nyesel kan kita; bukan si mafia apalagi pihak berwenang. 

YUK CEK DATA DOKTER SEBELUM KE DOKTER
Dokter Richard Lee juga menyinggung tentang dokter palsu, alias orang yang bukan dokter dan tidak menempuh pendidikan dokter atau mungkin gagal dalam menempuh pendidikan dokter tapi buka praktek sebagai dokter. Ini berbahaya dan beresiko. Oleh karena itu, betul memang jika kita harus mawas diri bahkan dengan mencari tahu data dokter yang menangani masalah kita, entah dokter kecantikan, dokter gigi, hingga dokter yang buka praktek sendiri. 

Nah, setelah banyak menonton video dr. Richard Lee ini aku langsung mengingat sejumlah nama dokter yang pernah berkaitan dengan diriku, misal seorang dokter gigi yang saat ini merawat gigiku. Aku ke website Konsil Kedokteran Indonesia di www.kki.go.id dan mengisi  nama dokter di formulir 'cek dokter' untuk mengecek status dokter yang merawatku. Saat nama sang dokter ditemukan, berarti status surat tanda registrasinya (STR) sang dokter aktif. 

STR dokter Surat Tanda Registrasi (STR) merupakan dokumen hukum/tanda bukti tertulis bagi dokter dan dokter spesialis bahwa yang bersangkutan telah mendaftarkan diri dan telah memenuhi persyaratan yang ditetapkan serta telah diregistrasi pada Konsil Kedokteran Indonesia. Masa berlaku STR dokter dan dokter spesialis di Indonesia adalah 5 (lima) tahun. STR Sementara  STR yang diberikan kepada dokter dan dokter spesialis  warga negara asing yang  melakukan kegiatan dalam rangka pendidikan, pelatihan,penelitian, pelayanan kesehatan di bidang kedokteran yang bersifat di bidang  kedokteran yang bersifat sementara di Indonesia berlaku selama 1 (satu) tahun. STR Bersyarat STR bersyarat diberikan oleh KKI kepada peserta program pendidikan dokter spesialis  warga negara asing yang mengikuti pendidikan dan pelatihan di Indonesia.   

Jadi, sebelum melakukan tindakan medis, yuk cek siapa dokter kita. Jangan sampai kita bertemu dokter-dokteran alias dokter palsu, karena resikonya besar. Sebagai masyarakat, kita nggak bisa membebankan seluruh tanggung jawab terkait integritas para dokter hanya di pundak mereka, melainkan juga di pundak kita. Masyarakat berhak dan wajib menjaga para dokter melenceng dari tugasnya. Terlebih, masyarakat wajib menghindari dokter palsu yang merugikan dan berbahaya. 

Terakhir nih....

Aku berterima kasih banyak kepada dr. Richard Lee yang sudah berani pasang badan untuk melawan mafia di industri kecantikan. Aku juga mendukung beliau untuk terus bersuara agar masyarakat Indonesia terbebas dari tipu-daya para pebisnis kotor semacam ini. Bodo amat jika perlawanan dr. Richard Lee dan kita semua menghancurkan usaha orang (para mafia industri kecantikan) dan bikin mereka bangkrut bahkan dipenjara, yang penting wajah dan kulit kita nggak rusak. 

"Dokter Richard Lee matiin rezeki dan usaha orang tuh! Cari musuh dia!"
"Lha, kalau logikanya gitu berarti polisi yang menangkap bandar narkoba, germo prostitusi online atau penjual alkohol matiin rezeki orang dong, matiin usaha orang dong. Mau pacar atau istri kau mukanya rusak demi kasih makan mafia kosmetik abal-abal itu? Sinting kali pala kau!" 

Kepada dr. Richard Lee, semoga Tuhan yang Maha Baik melindungi Anda. Secara pribadi aku percaya Anda orang baik. Anda melawan mafia jahat. Sebagai perempuan Indonesia aku berdoa semoga Sang Pencipta melindungi, menolong dan memudahkan Anda. Lalu kepada pembacaku, yuk support dr. Richard Lee atau dokter-dokter lain yang memberikan edukasi plus informasi terkait produk perawatan kulit dan tubuh yang sehat dengan kemampuan kita masing-masing. Jangan pernah mau menghancurkan wajah, kulit dan tubuh kita dengan produk berbahan berbahaya cuma demi menghidupkan bisnis kotor mafia produk kecantikan. Sayangi dan cintai diri kita dengan membeli produk kecantikan yang aman, sehat dan legal. 

Bumi Manusia, Februari 2021

Bahan bacaan: 
https://id.wikipedia.org/wiki/Richard_Lee
https://youtu.be/ie213tI2fCc
https://www.fda.gov/about-fda/fda-basics/what-does-fda-regulate
http://www.kki.go.id/cekdokter/form
http://www.kki.go.id/cekdokter/form/ysttntx27jsgd/276206XCX0d97b3298da7a37cfef68761d0b0a3c615d895bf
http://www.kki.go.id/index.php/tentangkami/index/1206/1008/konsil-kedokteran#:~:text=STR%20dokter%20Surat%20Tanda%20Registrasi,diregistrasi%20pada%20Konsil%20Kedokteran%20Indonesia.
https://youtu.be/iW7zJgAL6vo
https://youtu.be/tNGHhG6fM8s
https://www.industry.co.id/read/72094/mengenal-dr-richard
UU No. 8 tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen 
http://ylki.or.id/wp-content/uploads/2015/04/UNDANG-UNDANG.pdf
Perpres No. 50 tahun 2017 tentang Strategi Nasional Perlindungan Konsumen
https://sipuu.setkab.go.id/PUUdoc/175222/Lampiran%20Perpres%2050%20Tahun%202017.pdf
https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt50bf69280b1ee/perlindungan-konsumen-dala-e-commerce/
https://fjp-law.com/id/perlindungan-konsumen/
https://surabayapagi.com/read/diendorse-6-artis-kosmetik-oplosan-laku-rp-300-juta
https://youtu.be/imVSzdgW8hU

2 comments:

  1. Sebagai korban dari krim abal-abal, aku juga sangat berterima kasih kepada dokter Richard Lee udah banyak mengedukasi tentang bahaya krim abal-abal di channel YouTube.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, bagus itu. Kalau aku sih nggak pernah jadi korban krim abal-abal. Cuma pernah jadi korban produk skincare mahal. Dari dr. Lee aku belajar bahwa skincare itu jangan dilihat dari mahalnya apalagi iklannya, tapi dari kandungan didalamnya dna kebutuhan kulit kita. Mungkin karena rakyat jelata sepertiku cocoknya skincare murah aja hahaha.

      Delete