Pangan Gizi Seimbang dan Kaya Zat Besi untuk Indonesia Bebas Anemia

Yuk bebaskan Indonesia dari anemia dimulai dari diri sendiri. 
 
"Kesehatan adalah kekayaan yang sebenarnya"
-Mahatma Gandhi-

Lemah, letih, lesu, tidak bertenaga, kelelahan, pusing, dan sesak nafas? Hm bisa jadi itu gejala anemia. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) anemia merupakan kondisi di mana jumlah sel darah merah atau konsentrasi hemoglobin dalam darah lebih rendah dari biasanya (kadar normal). Nah, kalau kekurangan sel darah merah maka tubuh kita akan mengalami penurunan kapasitas darah dalam membawa oksigen ke jaringan tubuh. Gara-garanya sih karena kekurangan nutrisi, terutama zat besi, folat, vitamin B12, dan vitamin A. Ngerinya, anemia ini merupakan masalah kesehatan masyarakat global yang menjangkiti anak-anak dan perempuan hamil. WHO memperkirakan bahwa ada 42% anak-anak dibawah usia 5 tahun dan 40% perempuan hamil di seluruh dunia yang menderita anemia!

Angka prevalensi anemia tinggi di kalangan anak-anak dan perempuan hamil, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah. Anemia ini merupakan indikator masalah gizi buruk dan kesehatan masyarakat yang buruk. Masalah lain yang ditimbulkan oleh mereka yang menderita anemia adalah wasting dan stunting, berat lahir rendah, obesitas pada anak-anak: yang selanjutnya berdampak pada rendahnya prestasi anak-anak di sekolah dan penurunan produktivitas kerja pada orang dewasa. Kalau sudah begini, maka kualitas sumber daya manusia (SDM) dalam suatu masyarakat dan negara akan sangat rendah sehingga akan menjadi yang terbelakang dalam persaingan global. 

Dalam pengentasan anemia, negara-negara anggota PBB mendukung target yang telah ditetapkan dalam meningkatkan asupan nutrisi pada ibu hamil, ibu menyusui, balita dan anak-anak. Target tersebut sangat penting dalam dalam mengidentifikasi dan melakukan perubahan prioritas bagi masyarakat dunia. Secara global, target WHO adalah menurunkan prevalensi stunting pada anak dibawah usia 5 tahun yang mengalami stunting hingga 40%; menurunkan angka perempuan produktif yang menderita anemia hingga 50%; menurunkan angka bayi lahir dengan berat badan kurang hingga 30%; memastikan tidak bertambahkan jumlah anak-anak yang mengalami obesitas; meningkatkan angka bayi menerima ASI eksklusif usia 6 bulan hingga 50%; dan menurunkan angka wasting pada anak-anak menjadi 4% pada 2025. 

ANEMIA DEFISIENSI BESI
Anemia diklasifikasikan berdasarkan gangguan eritropoesis dan berdasarkan ukuran sel. Salah satu klasifikasi anemia berdasarkan gangguan eritropoesis adalah "Anemia Defisiensi Besi" yang disebabkan oleh tidak cukupnya suplai besi yang berefek pada sintesis Hb, sehingga mengakibatkan sel darah merah yang hipokrom dan mikrositer. Penyebabnya adalah kolaborasi sejumlah faktor seperti faktor asupan nutrisi, demografis dan sosial. 

Anemia menjadi isu penting dalam memperingati Hari Gizi Nasional 2021, terutama karena hingga 2020 Indonesia mengalami tiga beban masalah gizi (triple burden) yaitu stunting, wasting dan obesitas serta kekurangan zat gizi mikro seperti anemia. Dalam rangka memberikan edukasi kepada masyarakat terkait anemia, khususnya anemia defisiensi besi, Indonesian Nutrition Association bekerjasama dengan Danone Indonesia melakukan webinar bertema "Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi" pada 28 Januari 2021. Kegiatan ini menghadirkan Dr.dr. Diana Sunardi, MGizi, SpGK seorang Dokter Spesialis Klinik Indonesian Nutrition Association dan Bapak Arif Mujahidin dari Danone Indonesia. 

"Untuk anemia ini kita perlu memperhatikan bagaimana angka kejadiannya baik pada remaja, ibu hamil, menyusui ataupun balita di Indonesia. Supaya kita tahu seberapa besar masalahnya, kemudian mengapa anemia ini menjadi tantangan lintas generasi supaya semua paham bahwa anemia merupakan suatu masalah yang serius," papar dr. Diana Sunardi. 

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Nasional 2018 oleh Kementerian Kesehatan, prevalensi anemia di Indonesia masih tinggi. Prevalensi anemia pada ibu hamil dalam kelompok umur 25-34 adalah 48,9%, angka ini naik dari data Riskesdas 2013 yaitu 37,1%. Artinya, dalam kurun waktu 5 tahun, terjadi peningkatan prevalensi anemia pada ibu hamil sebanyak 11,9%. Sementara itu, prevalensi anemia pada remaja perempuan dalam kelompok umur 15-24 tahun adalah 32%, di mana angka ini naik sebesar 13,6% dari angka 18,40% pada Riskesdas 2013. Prevalensi anemia remaja perempuan dalam kelompok umur 5-14 tahun adalah 6,90% di mana angkanya turun dari 9,40% pada Riskesdas 2013. Sementara itu prevalensi anemia dalam kelompok balita masih tinggi, yaitu 38,5%. Hm, data ini serem juga ya!
Yuk pahami bersama tentang anemia. Sumber: Instagram Nustrisi Untuk Bangsa

Dr.dr. Diana mengatakan bahwa persoalan anemia ini tidak terlepas dari masalah gizi. "Bagaimana menjadi tantangan lintas generasi anemia ini? Bisa diperhatikan ya, bahwa memang masalah gizi di Indonesia ini mulai dari ibu menyusui, balita, anak sekolah, remaja, hingga ibu hamil...tentu ini akan mempengaruhi angka malnutrisi yang saat ini jadi perhatian yaitu stunting...angka stunting di Indonesia masih tinggi yaitu berkisar 37%," tambahnya. 

Selanjutnya, dr. Diana juga menjelaskan mengenai proporsi status gizi terhadap tinggi badan pada balita berdasarkan Riskesdas tahun 2017, 2013 dan 2018. Proporsi balita "sangat pendek" pada 2007 adalah 18,8%, turun menjadi 18,0% pada 2013, dan turun signifikan menjadi 11,5% pada 2018. Sementara itu proporsi balita "pendek" ada di angka 18% pada 2007, naik menjadi 19,2& pada 2013 dan naik lagi 19,3% pada 2018. Menurut dr. Diana, siklus stunting ini berawal dari status gizi yang kurang baik pada remaja perempuan, sehingga pada saat hamil status gizinya kurang baik. Salah satu penyebabnya adalah anemia defisiensi besi di mana para ibu yang mengalami anemia akan melahirkan bayi-bayi yang kurang berat badan. Masalah bayi kurang berat badan ini jika kurang nutrisi saat balita maka akan beresiko mengalami stunting

Sedihnya, anemia akibat kurang nutrisi terutama zat besi ini punya efek berantai. Jadi, jika anak-anak pernah mengalami anemia defisiensi besi saat masih balita, meski pernah diobati dan menjadi normal tetap berkemungkinan besar memiliki kemampuan mental, motorik dan sosial, serta emosi yang lebih buruk. Sedihnya, orang dewasa yang pernah mengalami anemia defisiensi besi saat balita juga berkemungkinan mengalami penurunan IQ dan kemampuan kognitif. Kalau sudah begini, produktivitas kerja orang dewasa akan rendah dan berpengaruh secara jangka panjang pada kehidupan baik di sektor pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Duhhh! Dampak jangka panjang anemia defisiensi besi mengerikan ya. 

Mengapa prevalensi anemia defisiensi besi di Indonesia sangat tinggi dan terjadi di lintas generasi? Hm, mungkin ini bisa disebut lingkaran setan anemia sih. Jadi, menurut dr. Diana karena pangan masyarakat Indonesia itu berbasis protein nabati (tumbuh-tumbuhan, biji-bijian, buah dll) dengan asupan protein hewani rendah sehingga rentan mengalami defisiensi energi, protein dan mikronutrien. Kasus paling banyak ditemukan sih, diet orang Indonesia tidak menerapkan gizi seimbang, cenderung berlebihan mengonsumsi suatu sumber pangan dan sangat kurang dalam mengkonsumsi sumber pangan yang lain. Hal ini bisa disebabkan oleh kemiskinan alias ketidakmampuan mengakses sumber pangan beragam dengan gizi seimbang, atau justru dipengaruhi gaya hidup tidak sehat yang menjadi kebiasaan. Apalagi zaman sekarang orang menyukai makanan cepat saji dan junk food yang hanya berfungsi mengenyangkan, tapi bisa jadi sangat tidak baik untuk kesehatan.

Kita juga bisa melihat penyebab anemia defisiensi energi dari pola makan masyarakat Indonesia secara umum. Misalnya, makan nasi dan sayur yang banyak, tapi sangat sedikit makan ikan dan daging. Atau bagi kelompok vegetarian, mereka sama sekali tidak makan protein hewani sehingga kekurangan zat besi dari protein hewani (heme iron). Padahal heme iron ini paling mudah diserap tubuh. Sehingga, bisa jadi sudah makan-makanan bernutrisi tapi daya serap tubuh pada zat besi kurang optimal. Belum lagi jika kekurangan asupan vitamin C, konsumsi asam fitat secara berlebihan, dan konsumsi tanin dari teh dan kopi secara berlebihan, ditambah diet dengan gizi tidak seimbang. Ya sudah, bablas, pasti bakal mengalami anemia defisiensi besi dan lingkaran setan anemia terus saja berputar, tanpa bisa diselesaikan. 

Sebagai informasi tambahan, video dibawah ini memberikan keterangan yang sangat bagus untuk memahami apa itu anemia defisiensi besi. Bisa jadi, selama ini karena kita kurang memahami diri sendiri, jadinya salah dalam menerapkan diet gizi seimbang. Terutama buat perempuan sih, baik remaja maupun ibu hamil dan punya balita. 

Terdapat sejumlah tanda dan gejala umum anemia defisiensi energi, agar kita mawas diri, yaitu:  kulit pacat, tekanan darah rendah, sakit kepala, nadi cepat, kelopak mata pucat, nafas cepat/sesak nafas, kelemahan otot, dan pembesaran limpa. Pada perempuan dan ibu hamil bisa jadi terdapat gejala tambahan seperti lesu, lemah, kurang nafsu makan, mudah lelah, pusing, mata berkunang-kunang, hingga bagai tidak memiliki energi untuk beraktivitas. 

Sementara itu dampak anemia sendiri sangat luar biasa. Pada anak-anak, anemia defisiensi besi bisa membuat mereka rewel, pusing, lemas, hingga tidak nafsu makan. Lebih parah lagi, anak-anak bisa mengalami gangguan konsentrasi, gangguan pertumbuhan, cenderung mengantuk dan tidak aktif bergerak. Nah, pada ibu hamil bisa lebih berbahaya karena anemia defisiensi energi bisa menyebabkan infeksi gangguan pertumbuhan pada janin, prematur, kejang pada kehamilan, pendarahan pasca kehamilan, bahkan bisa menimbulkan gangguan fungsi jantung pada ibu. Kalau sudah begini, maka daya tahan tubuh/imun akan menurun, peningkatan infeksi hingga menurunkan produktivitas. 

YUK BEBASKAN INDONESIA DARI ANEMIA DEFISIENSI BESI!
Karena dampak anemia defisiensi besi sangat berbahaya dan bisa menjadi lingkaran setan kesehatan masyarakat Indonesia, maka harus dicegah sejak dini. Selain setiap orang bertanggung jawab menjaga kesehatan dirinya sendiri, juga harus dilakukan kerjasama multipihak agar masalah ini segera teratasi. 

Dalam konteks kesehatan diri sendiri dan keluarga, setiap orang bisa mulai memperhatikan dirinya sendiri dan anggota keluarganya. Misalnya, sebagai perempuan lajang yang belum menikah, aku harus menjaga kesehatanku salah satunya dengan asupan nutrisi dengan konsep gizi seimbang. Mengapa? Sebagai perempuan tubuhku harus selalu dalam keadaan siap jika kelak menikah dan hamil. Bagaimanapun juga, seorang perempuan hamil wajib mengkonsumsi gizi seimbang, karena nutrisi yang masuk ke tubuh perempuan hamil juga akan dikonsumsi oleh janin dalam kandungan. 

Sebagai bagian dari masyarakat global, Indonesia sendiri memiliki target dalam menurunkan prevalensi anemia. Mengacu pada Rancangan Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024, pemerintah Indonesia menargetkan penurunan prevalensi stunting menjadi 14% dan wasting menjadi 7%. Target tersebut dilakukan dengan mempercepat penguatan intervensi spesifik dan sensitif yang fokus pada sasaran 1000 Hari Pertama Kehidupan (HHPK) dan remaja. Momentum peringatan Hari Gizi Nasional 2021 sendiri berfokus pada remaja, yaitu "Remaja Sehat, Bebas Anemia."

Setiap orang harus berusaha mengonsumsi pangan bergizi, dan apabila pernah mengalami anemia di masa balita, tentu harus lebih banyak mengonsumsi sumber pangan yang kaya akan zat besi. Nah, makanan yang mengandung zat besi dari protein hewani (heme iron) diantaranya: daging merah (sapi, kambing, domba, kerbau), hati ayam dan sapi, kuning telur, ikan, daging unggas (ayam, bebek), udang dan tiram, hingga susu pertumbuhan yang telah difortifikasi (proses penambahan zat gizi mikro). Sementara zat besi dari protein nabati/tumbuhan bisa diperoleh dari kacang-kacangan, sayuran hijau dan biji-bijian. Selain itu, jangan lupa asupan vitamin C ya, karena dapat membantu tubuh menyerap zat besi dengan baik. Jadi, buah-buahan yang banyak mengandung vitamin C sangat dianjurkan menjadi bagian dari diet kita agar terhindar dari anemia defisiensi besi seperti jambu biji, jeruk, stroberi, brokoli hingga tomat. 
Yuk jaga asupan makanan dan minuman dengan gizi seimbang, terutama zat besi. Sumber: Instagram Nutrisi Untuk Bangsa

Sementara itu, dalam konteks menjaga kesehatan masyarakat secara luas agar terhindar dari anemia defisiensi besi, memang harus melalui kerjasama berbagai pihak. Karena masalah anemia ini terjadi pada lintas generasi, maka para pihak yang berkolaborasi pun bekerja sesuai perannya masing-masing. Misalnya, Dinas Kesehatan dan Dinas Pendidikan bekerjasama dengan persatuan orangtua murid dan organisasi lain dalam pengentasan anemia pada remaja perempuan. Sementara pada ibu hamil dan menyusui, pihak yang terlibat adalah keluarga, masyarakat, posyandu, hingga puskesmas. Para pihak ini berkolaborasi memantau kondisi kesehatan dan asupan gizi pada ibu hamil dan menyusui, karena sekaligus memantau kesehatan janin/bayi agar tidak mengalami gagal tumbuh/stunting. 

Sementara untuk sektor swasta, Danone Indonesia misalnya turut berkolaborasi dengan meluncurkan program Generasi Sehat Indonesia (GESID) yang berfokus pada edukasi dan program perbaikan gizi remaja Indonesia khususnya tingkat menengah (SMP-SMA). Sebagai perusahaan yang memiliki motto "One Planet One Health" Danone melihat bahwa apa yang kita makan dan minum hari ini akan menentukan wajah bumi seperti apa yang akan ditempati generasi di masa depan. Sebagai perusahaan yang memproduksi makanan dan minuman dalam kemasan, jelas Danone memikirkan urusan produksi dari hulu-hilir. Konsep ini dilakukan bukan saja demi kesehatan bisnis, juga memikirkan masa depan planet bumi. 

Terlebih, Danone sudah menerapkan konsep ekonomi sirkular. Dalam konsep ini, sangat diperhatikan bagaimana kemasan makanan dan minuman, agar nutrisinya tetap terjaga ketika sampai pada konsumen. Sebagai perusahaan yang memproduksi salah satu merek susu pertumbuhan (yang sudah mengalami fortifikasi) untuk balita, Danone tentu berhitung agar kandungan gizi tidak rusak jika pengemasan dilakukan dengan baik. Danone percaya bahwa kemasan makanan dan minuman yang baik juga penting dalam memberi kontribusi pada pengentasan anemia defisiensi besi. 

Bagaimana Pembacaku yang baik, sudah paham kan apa itu anemia, penyebabnya, tanda-tanda dan gejalanya, serta dampaknya yang sangat kompleks pada kehidupan kita sebagai individu, atau bagian dari sebuah masyarakat dan bangsa? Aku berharap, kita semua selalu menjaga diet dengan mengonsumsi pangan gizi seimbang dan kaya zat besi, agar terhindar dari anemia defisiensi besi ya, agar Indonesia bebas anemia: Indonesia yang sehat dan kuat. 

Terima kasih telah membaca tulisan sederhana ini. Semoga bermanfaat. 

** Tulisan ini dibuat untuk diikutsertakan dalam "Kompetisi Menulis dan Media Sosial bertema: Putuskan Mata Rantai Anemia, Hadirkan Indonesia yang Sehat dan Kuat" yang diselenggarakan atas kerjasama Danone Indonesia dan Indonesian Nutrition Association dalam rangka Hari Gizi Nasional 2021. 

Bumi Manusia, 25 Februari 2021

Bahan bacaan: 
WHO: 
https://www.who.int/health-topics/anaemia#tab=tab_1
https://www.who.int/vmnis/indicators/haemoglobin.pdf
https://www.who.int/nutrition/global-target-2025/en/
https://www.who.int/nutrition/publications/en/ida_assessment_prevention_control.pdf

Kementerian Kesehatan:
http://labdata.litbang.kemkes.go.id/images/download/laporan/RKD/2018/Laporan_Nasional_RKD2018_FINAL.pdf
https://www.kemkes.go.id/article/view/18112300003/pesan-untuk-remaja-putri-indonesia-cantik-itu-sehat-bukan-kurus.html#:~:text=Belum%20lagi%20tantangan%20anemia%20pada,tahun%20dan%2025%2D34%20tahun.
https://kesmas.kemkes.go.id/assets/uploads/contents/attachments/b13f4c1a6deed512d43c0a69a1285199.pdf

Nutrisi Untuk Bangsa: 
https://youtu.be/fuYipQ_bdn8
https://www.instagram.com/nutrisibangsa/

Sumber lain:
https://id.wikipedia.org/wiki/Anemia
https://www.antaranews.com/berita/764584/hampir-separuh-ibu-hamil-di-indonesia-alami-anemia
https://youtu.be/nWHQRptC_9Q
https://nutricia.co.id/pemberitaan-artikel/detail-news/read/danone-indonesia-luncurkan-program-gesid-bagi-remaja-untuk-bangun-generasi-yang-lebih-sehat/



No comments:

Post a Comment