Pad Man, Lelaki Pendobrak Tabu dalam Dunia Perempuan

Poster film "Pad Man"
 
Laxmi dan Gayatri adalah pengantin baru. Mereka sedang dimabuk cinta dan kemana-mana selalu berdua. Bahkan, demi menunjukkan betapa besarnya cinta Laxmi kepada istrinya, lelaki itu mau melakukan apa saja. Ia sering membawakan bunga, membuat dudukan khusus di bagian belakang sepeda agar pantat Gayatri nggak sakit, memberi pelukan kejutan dan sebagainya. Gayatri yang polos dan lugu seringnya senyum-senyum kaget tapi tersipu juga diperlakukan semanis itu oleh suaminya. Ah, pokoknya mesra-mesra gitu deh, bikin yang nonton ketawa-ketiwi karena geli sendiri. 

Sampai suatu waktu Gayatri menunjukkan gelagat aneh. Perempuan itu mengatakan bahwa saat sedang haid, selama 5 hari dalam seminggu, perempuan dalam keadaan kotor sehingga ia harus tinggal di luar rumah. Ya, selama 5 hari itu Gayatri tinggal di beranda selama 24 jam penuh dan melakukan hampir semua kegiatan di sana, mulai dari makan hingga tidur. Selama itu pula, Gayatri nggak memperbolehkan Laxmi mendekat padanya karena ia merasa sedang tidak suci dan harus memisahkan dirinya sendiri. Lantas yang bikin Laxmi kaget adalah, bahwa Gayatri menggunakan kain untuk menampung darah haidnya dan bahkan kain itu tidak terkena sinar matahari saat dijemur, namun disembunyikan di bawah kain lain agar tidak menimbulkan perasaan malu jika dilihat orang lain. Laxmi pun terheran-heran bukan kepalang.

(Oke sampai disini aku yang terheran-heran bukan kepalang. Memangnya selama ini si Laxmi sebagai lelaki nggak peduli sama ibu dan saudara perempuannya ya, kan mereka haid juga selama 5 hari setiap bulannya? Film kok gini amat ya)

Sebagai suami baru yang lagi bucin sama istrinya, buru-buru lah Laxmi ini ke toko buat beli pembalut. Satu bungkus harganya 55 Rupe. Eh, Gayatri malah nolak karena harganya mahal banget padahal uang segitu bisa buat beli susu. Gayatri memohon kepada Laxmi untuk nggak ikut campur urusan perempuan karena hal tersebut akan membuatnya malu. Meski bingung dan kecewa, Laxmi nyerah dan mau nukerin tuh pembalut dengan duit tapi ditolak sama pemilik toko. Si pembalut akhirnya menyelamatkan seorang pekerja di bengkel dari pendarahan hebat dan infeksi. Laxmi juga dipuji sama dokter di kampungnya karena katanya tindakannya terpuji sebab pembalut itu sangat bersih. Dari pertemuan dengan dokter inilah Laxmi baru tahu bahwa selama ini perempuan banyak yang jadi tumbal darah haidnya sendiri entah kena penyakit hingga meninggal dunia. Sebabnya karena mereka nggak menggunakan pembalut yang bersih dan bahkan ada yang menggunakan abu untuk membersihkan area vagina. Laxmi ngeri membayangkan Gayatri akan kena tulah akibat menggunakan kain nggak bersih sebagai pembalut. Ia berpikir keras gimana caranya menolong istrinya sendiri. 

Dalam kesendiriannya di hutan, Laxmi membedah si pembalut dan kaget pas lihat isinya, cuma secuil kapas kok mahal banget. Akhirnya Laxmi kepikiran buat bikin pembalut sendiri. Maka ia beli kain putih, kapas dan benang. Lalu hasil percobaan pertamanya dia kasih ke Gayatri dan perempuan itu mencobanya. Tapi, sial Gayatri malah makin stress pake pembalut buatan Laxmi karena bikin bocor dan ia harus mencuci pakaiannya malam buta. Nggak kurang akal, Laxmi kemudian ketemu sama mahasiswa kedokteran dan memintanya kasi feedback pembalut buatannya. Tapi, karena Laxmi nggak mengkomunikasikan dengan baik tujuannya bikin pembalut, para mahasiswi kedokteran malah mencemoohnya sebagai lelaki dengan obsesi aneh. (Disini aku terheran-heran lagi, lha mahasiswa kedokteran kok gitu, otaknya kok pendek banget?) Gara-gara social eksperimen ini pula Laxmi dituduh selingkuh dan gossip menyebar dengan cepatnya di seantero kampung. Laxmi kebingungan, Gayatri makin stress. Ia sampe nangis-nangis karena cemburu akut.  

Laxmi nggak patah semangat dan ia melakukan percobaan untuk dirinya sendiri. Ia mencoba sendiri si fungsi si pembalut dan menggunakan darah hewan cairannya. Lalu dengan pedenya ia bersepeda keliling desa sembari menyapa orang-orang, tanpa sadar bahwa pembalutnya bocor. Alhasil bagian selangkangan Laxmi jadi memerah darah dan bikin orang-orang semakin yakin kalau nih orang udah gila. Saat menyadari apa yang terjadi, Laxmi langsung lari dan menceburkan diri ke sungai. Gayatri makin stress melihat tingkah suaminya yang ditertawakan warga kampung. Sampai suatu kali warga kampung nggak tahan lagi dengan kelakuan Laxmi dan diadakanlah persidangan desa. Laxmi dianggap melanggar tabu dan melawan agama sehingga harus dihukum. Selain itu, kakak lelaki Gayatri pun muak dengan ambisi Laxmi atas pembalut dan mencampuri dunia perempuan dengan cara yang tidak pantas. Lantas sang kakak membawa Gayatri pulang dan segera menyiapkan perceraian Laxmi dan Gayatri. Merasa bersalah, Laxmi pergi dari kampung, bertekad membersihkan nama baik Gayatri yang merasa telah dipermalukan. Pokoknya, Laxmi mau bikin pembalut dengan benar. 

Akhirnya Laxmi pergi ke suatu kota dengan tujuan melakukan riset mendalam tentang pembalut buatannya. Pertama-tama ia mengunjungi dokter untuk memeriksa apakah pembalut buatannya higienis atau nggak. Karena dia salah alamat, maka dia dianjurkan belajar saja ke universitas yang akhirnya mempertemukannya dengan seorang Professor. Laxmi lantas bekerja di rumah professor tersebut mulai dari memasak makanan untuk sang Professor dan anak bujangnya, sampai beberes rumah. Anak professor juga membantu Laxmi mencari tahu apa sih sebenarnya yang jadi bahan utama bikin pembalut melalui Google. Setelah mempelajari ini itu, akhirnya Laxmi tahu bahwa yang ia perlukan sebenarnya adalah menciptakan mesin untuk membuat pembalut. Laxmi mendapatkan uang untuk membangun mesin sederhana dari seorang rentenir dan mendapatkan konsumen pertamanya, seorang mahasiswa pasca sarjana jurusan administrasi bisnis yang tak lama lagi akan menyandang gelar MBA, seorang perempuan energik dan berpemikiran terbuka. 

Perempuan bernama Pari ini tak sengaja jadi konsumen pertama Laxmi saat ia dapat haid di perjalanan dan nggak bawa pembalut, trus nggak tahu juga di mana toko pembalut. Kisah perjuangan Laxmi bikin pembalut demi membantu istrinya, membuat Pari mundur dari pekerjaan yang baru saja didapatkannya dan memilih menjadi tim marketing Laxmi. Ya, Pari jualan pembalut door to door, di mana ia menggunakan konsep face by face marketing dalam dunia perempuan. Pari mengatakan kepada Laxmi bahwa ada hal-ha tertentu dalam dunia perempuan yang hanya bisa ditangani perempuan. Kepiawaian Pari dalam memasarkan pembalut buatan Laxmi membuat bisnis tersebut digarap oleh lebih banyak perempuan yang satu persatu mulai mampu menggunakan mesin untuk membuat pembalut. Pari juga membantu mereka mendapatkan pinjaman modal dari bank lokal sehingga setiap desa memiliki usaha pembuatan pembalut sendiri yang dijalankan perempuan untuk perempuan. Intinya, bisnis pembalut merk "Pari" ini makin maju deh. 

Karena bisnis yang dibangun Laxmi dan Pari ini memang memiliki tujuan menyelesaikan suatu masalah sosial, maka Laxmi memenangkan penghargaan dari Presiden India sebagai "Life-Changing Innovation of the Year" dengan hadian 200.000 Rupe. Ia juga diundang oleh UNICEF untuk berbicara di kantor pusat PBB dan saat kembali ke India, kembali mendapat penghargaan Padma Sri dari pemerintah India. Keberhasilan dan pencapaian Laxmi nyaris saja membuatnya lupa pada tujuan sebenarnya, terutama karena kehadiran Pari membuatnya nyaman dan semangat berkarya. Untung saja Gayatri menelpon, sehingga Laxmi kembali ke track bahwa kesuksesannya membuat pembalut yang murah bagi perempuan adalah karena ia hendak membantu istrinya sendiri. Meski ia merasa mulai mencintai Pari sebagai gadis cerdas dan energik, ia memilih kembali ke kampung halamannya sebagai pahlawan dan bersatu kembali dengan Gayatri. 

INI SOSOK PAD MAN YANG SEBENARNYA 
Arunachalam Muruganantham adalah lelaki yang sebenarnya mengembangkan pembalut murah untuk perempuan India sebagaimana dikisahkan dalam film Pad Man. Muruganantham ini lahir dari keluarga miskin dan makin miskin saat ayahnya meninggal dalam sebuah kecelakaan. Ibunya yang merupakan seorang buruh tani ngap-ngapan membiayai hidup keluarganya hingga akhirnya pada usia 14 tahun Muruganantham harus berhenti sekolah. Ia akhirnya bekerja serabutan untuk mendapatkan uang dan membiayai keluarganya. 

Pada usia 37 tahun, Muruganantham menikah dan baru lah dia tahu bahwa istrinya menggunakan kain ngga higienis sebagai pembalut saat haid, persis dengan apa yang dilakukan tokoh Gayatri dalam film Pad Man sehingga membuatnya melakukan inovasi: membuat pembalut sendiri karena harga pembalut buatan pabrik sangatlah mahal untuk kantong orang miskin. Perlu waktu 2 tahun bagi Muruganantham untuk paham bahwa bahan utama pembalut bukanlah kapas biasa, melainkan cellulose fiber. Sebagaimana diceritakan di film, dalam proses membuat pembalut untuk istrinya, Muruganantham juga mengalami kesulitan dan tantangan, karena hal tersebut dianggap tabu. Para perempuan di India sebagian besar menganggap bahwa urusan dibalik selangkangannya nggak bisa dibicarakan secara terbuka oleh lelaki, apalagi kalau lelaki malah bikin pembalut. Hal tersebut dianggap sebagai kelancangan dan menghina kehormatan perempuan. 

Kisah Muruganantham dalam memperjuangkan kesadaran masyarakat India akan pentingnya menjaga kesehatan sistem reproduksi perempuan terutama saat haid sebenarnya bisa disaksikan dalam film dokumenter "Period. End of Sentence" besutan Rayka Zehtabchi. Secara mendasar, pengetahuan masyarakat India tentang haid tidaklah sama. Ada yang menganggapnya sebagai kehendak Tuhan; darah kotor; sebagai penanda bahwa perempuan bisa punya keturunan; atau penyakit. Makanya, para perempuan terkadang merasa malu saat ditanya terkait haid dan perasaan mereka saat menjalaninya. Bahkan, banyak perempuan usia sekolah yang mengalami kesulitan saat haid dan banyak diantara mereka akhirnya putus sekolah karena malu. Para perempuan muda bahkan di doktrin bahwa saat haid doa-doa perempuan tidaklah didengar oleh Tuhan. Sedih ya, tiada henti derita bagi perempuan bahkan darahnya dianggap kotor. 

Lelaki ini, yang mengawali kepedulian pada istrinya sendiri merupakan sosok yang dikirimkan Tuhan untuk perempuan India, yang selama ini berkubang dalam penderitaan tiada henti akibat sistem patriarki. Jika untuk mendapatkan akses terhadap pembalut saja begitu mahal dan sulit, bayangkan akses atas yang lain seperti hak menolak pernikahan, hak mendapat pendidikan tinggi, hak menjadi politisi di level lokal, hak untuk tidak membunuh bayi perempuan, hak menjadi apapun yang perempuan inginkan untuk mengatur hidupnya sendiri. Pembalut sesungguhnya hak dasar dan merupakan kebutuhan primer perempuan, karena hanya perempuan yang mengalaminya. Lelaki tidak akan mengerti dan tidak akan memperjuangan karena mereka nggak ngerti rasanya mengalami haid hampir seminggu lamanya per tiga minggu. Oleh karena itu, sosok Muruganantham merupakan anugerah tersendiri sebab sebagai lelaki ia justru membela hak perempuan yang selama ini sangat tabu untuk diperbincangkan, apalagi diperjuangkan. Mungkin, lelaki ini mengemban tugas keNabian. 

"Semua bermula dari istri saya. Dia menggunakan kain nggak higienis untuk masa haidnya. Padahal saya aja nggak akan mau mengelap sepeda saya dengan kain kotor begitu," begitu kira-kira kata Muruganantham. Ia menyayangi istrinya dan tidak mau sang istri terserang penyakit jika menggunakan kain nggak bersih untuk jadi pembalut saat haid. 
Muruganantham dan mesin pembuat pembalut murah ciptaannya. Foto oleh Sadat di theguardian.com

Tahun-tahun ketika Muruganantham berusaha membuat pembalut homemade buat istrinya, hanya 12% perempuan India yang menggunakan pembalut higienis saat haid. Sementara 88% sisanya menjadikan kain kotor, koran hingga abu sebagai pembalut. Wajar jika kemudian data menunjukkan 1 dari 53 perempuan India mengalami kanker serviks. Selain itu, nyaris separuh siswa perempuan harus putus sekolah atau meliburkan diri dari sekolah karena kesulitan beraktivitas saat haid, terutama untuk berganti pakaian dalam. Bahkan, pada Agustus 2017 seorang siswa melakukan bunuh diri setelah diolok-olok dan dipermalukan gurunya saat darah haidnya menembus seragam sekolahnya. 

Perjuangan Muruganantham ini sangat berat lho, meski produknya hanya pembalut murah. Saat ia melakukan percobaan demi percobaan, ia dijauhi banyak orang. Istri dan ibunya menjauhinya selama beberapa tahun, ia dicemooh warga desa karena dikira memiliki masalah terkait urusan seksualnya, ditaruh sebagai lelaki penjahat kelamin dan tentu saja ia harus berhutang ke sana-sini untuk mengembangkan projectnya. Tantangan berat lainnya adalah meluruskan pandangan masyarakat terkait mitos dan tabu seputar haid, misalnya: kalau perempuan belum menikah yang menggunakan pembalut saat haid dan darah haidnya kecium anjing maka si perempuan nggak bakal menikah; atau jika perempuan haid keluar rumah setelah matahari terbenam maka ia matanya akan buta. Mitos yang bodoh dan mengerikan! 

Upaya lelaki ini membuahkan hasil. Bukan saja produknya diterima para perempuan dan ia mendapat sejumlah perhargaan bergengsi di bidang inovasi teknologi dan social business. Ia juga telah melakukan perubahan sosial dalam masyarakat India. Lelaki ini pada dasarnya penyayang sehingga ia tidak rakus dan menikmati kesuksesannya sendirian. Ia mengajari para perempuan muda di banyak desa untuk tahu cara mengoperasikan mesin pembuat pembalut dan menjualnya, sehingga para perempuan itu jadi berdaya pun berpenghasilan. Usaha-usaha kecil yang dijalankan para perempuan ini banyak membantu keuangan mereka, termasuk misalnya ditabung untuk membiayai pendidikan menjadi polisi. 


Inovasi Muruganantham kini akan direplikasi di sejumlah negara miskin seperti Afghanistan, Pakistan, hingga sejumlah negara Afrika. Bagaimanapun juga, urusan darah perempuan bukan perkara remeh temeh sehingga tabu untuk diperbincangkan secara terbuka. Darah perempuan dan segala hal terkait sistem reproduksinya tentu berkaitan erat dengan dunia lelaki dan kehidupan secara keseluruhan. Jika dalam sebuah keluarga perempuannya sakit misal karena kanker serviks, semua orang akan kelimpungan. Terlebih jika si perempuan meninggal. Maka, mari berterima kasih kepada lelaki baik ini, karena ia telah berusaha meruntuhkan tabu dan menyelamatkan perempuan miskin dari penyakit dan kematian yang berawal dari mitos dan pembodohan yang disengaja. Sebab hidup sehat adalah hak semua orang. 

Bumi Manusia, Januari 2021

Bahan bacaan:
https://en.wikipedia.org/wiki/Pad_Man_(film)
https://en.wikipedia.org/wiki/Arunachalam_Muruganantham
https://en.wikipedia.org/wiki/Period._End_of_Sentence.
https://thepadproject.org/
https://interactive.aljazeera.com/aje/shorts/india-menstruation-man/
https://www.bbc.com/news/magazine-26260978
https://web.archive.org/web/20140426201334/http://archive.tehelka.com/story_main42.asp?filename=cr290809the_pad.asp
https://www.thehindu.com/features/metroplus/society/a-man-in-a-womans-world/article2875390.ece
https://www.mea.gov.in/bilateral-documents.htm?dtl/23081/One+mans+mission+to+improve+to+womens+lives
https://www.independent.co.uk/news/world/asia/tampon-king-who-sparked-period-change-india-s-women-7897093.html
https://www.theguardian.com/lifeandstyle/2012/jan/22/sanitary-towels-india-cheap-manufacture
https://feminisminindia.com/2018/02/14/padman-fails-poster-child-social-change/
https://www.theguardian.com/society/2018/feb/04/india-sanitary-towel-hero-padman-bollywood-glory-arunachalam-muruganantham
https://www.freepressjournal.in/cmcm/meet-the-real-padman-who-inspired-akshay-kumars-role-in-twinkles-production-debut
https://www.theguardian.com/society/2018/feb/04/india-sanitary-towel-hero-padman-bollywood-glory-arunachalam-muruganantham




No comments:

Post a Comment