My Writing, My Rules

Ilustrasi perempuan penulis. Ilustrator: Ahra Kwon dari closenandcloser.co
 
"Blog is so yesterday," kata seseorang, ketika Twitter sedang di puncak. 
"No, tulisan dalam bentuk feature dan story telling akan selalu dicari dan dibaca orang," belaku. 
"Iya, tapi yang efektif itu zaman sekarang ya kalimat singkat," katanya lagi.
"Jangan lupa, blog itu hanya wadah. Sama dengan majalah dan koran. Bedanya, kalau kata kuncinya tepat, tulisan di blog akan muncul dalam pencarian orang di Google. That's the point."
"Tapi capek lho baca tulisan panjang," katanya lagi. 
"Tergantung siapa pembacanya sih," kataku. 
"Tapi aku cape baca tulisan kamu," ia membela diri.
"Tulisanku nggak spesial buat kamu lhoooo, nggak usah GEER."
"Nulis tuh yang singkat-singkat aja," pintanya.
"Maaf ya, aku punya aturan sendiri untuk tulisanku," pungkasku. 

Yup, ada masanya dunia blog tuh naik daun, down, naik daun lagi, down lagi, naik lagi terus aja gitu sampe akhirnya blog yang dibangun makin cakep, professional dan digemari banyak orang. Perjalanan sebagai blogger ini sebenarnya merupakan pengalaman menulis, membaca, berpikir kritis, bercerita dan hal-hal semacamnya. Menulis itu nggak mudah, terlebih jika target pembacanya umum sehingga harus disampaikan dengan bahasa umum juga. Aku ingat nasehat seorang penulis kawakan, katanya tugas seorang penulis itu memudahkan pembaca memahami hal-hal yang sulit dipahami jika disampaikan dengan bahasa para ilmuwan. Sehingga, rumus yang selalu aku gunakan adalah: menulis sebagai pembaca, alias tulislah apa yang ingin pembaca ketahui dan ceritakanlah sesuatu yang seharusnya pembaca mengerti.  

Berhubung dunia digital semakin berkembang dan siapa saja bisa menulis plus membagikan tulisan kepada dunia, kegiatan menulis tidak lagi eksklusif milik para sastrawan. Kini, tulisan yang memenangkan atensi publik lah yang akan dibaca dan digugu dalam kehidupan. Ini jelas tricky. Sebab, tulisan yang populer belum tentu berisi data akurat dan informasi yang benar. Terlebih jika kemudian tulisan itu disampaikan oleh orang yang memanfaatkan popularitasnya untuk mendapatkan dukungan publik demi tujuan pribadi, termasuk kekayaan. Penulis-penulis idealis seringkali dilibas habis popularitas penulis informasi palsu di jagat maya sehingga pesan-pesannya tenggelam. 

Boleh baca ini dulu: Menulis sebagai Pembaca

Sebagaimana rimba berita yang semakin rimbun dengan informasi palsu, copy paste dan tidak berkualitas. Pun dengan dunia kepenulisan di media Blogger. Terlalu melelahkan dan menguras banyak energi jika kita harus selalu memilah dan memilih mana yang selayaknya dikonsumsi sesuai kebutuhan. Karenanya, sebagai pembaca yang sering pusing, aku pun membayangkan pembacaku mengalami hal serupa. Oleh karena itu, aku selalu mengingatkan diriku untuk hanya menulis sesuatu yang informasinya hanya tersedia secara lengkap di blog ini dan sifat informasi dalam tulisannya abadi. Dengan pilihan ini, aku meminimalkan resiko menjadi penulis yang dibenci pembacaku sendiri. 

Kukatakan, menulis itu tidak mudah. Terutama di zaman rimba digital seperti saat ini. Menulis bukan hanya tentang "Bagaimana cara menulis yang baik?" melainkan "Bagaimana menuliskan sebuah informasi yang bermanfaat?" karena seringkali sebuah tulisan dianggap baik atau buruk bergantung pada siapa pembacanya. Jika kita memperhatikan tulisan-tulisan yang berseliweran di media sosial, ada banyak banget yang fungsinya justru membodohi masyarakat. Tulisan berisi informasi palsu, doktrin menyesatkan tentang agama, tulisan yang mengandung isu SARA, ujaran kebencian, hingga hinaan dan pengungkapan aib secara membabi buta atas diri atau sekelompok orang. Jika demikian, tulisan dan kegiatan menulis tidak lagi bercita rasa seni, melainkan hanya gosip yang berpindah tempat dari pos kamling ke layar ponsel. 

Ini cerita yang harus kubagikan hari ini: jadi, pada 2015 kan ada gosip yang viral tentang Oki Setiana Dewi (OSD), seorang selebriti yang karirnya semakin melambung saat menjadi penceramah sehingga publik menyebutnya "Ustadzah." Dengan cerdiknya, OSD ini memanfaatkan popularitasnya untuk membangun kerajaan bisnisnya di bidang fesyen, yang kemudian berkembang ke baju pengantin. Nah, gosip makin panas sebab menurut pandangan banyak orang, sosok OSD yang merupakan penceramah nggak konsisten dengan dakwahnya saat sebagai pebisnis ia menjual produknya dengan harga mahal banget. Pokoknya waktu itu OSD dibully sampai ada orang bikin petisi agar gelar "Ustadzah" yang dilekatkan kepadanya dicabut. Pokoknya mereka nggak terima OSD populer sebagai "Ustadzah."

Saat itu, aku ngulik-ngulik informasi di Google dan informasi terkait OSD ini hampir sama alias hasil COPY PASTE dari media satu oleh media lain, dari kanal satu oleh kanal lain, dari postingan satu oleh postingan lain. Informasi yang jenuh dan cenderung memuakkan ini membuatku memutuskan untuk digging some information dan menulis. Hasilnya? Kurang dari 7 hari tulisanku meledak! Dalam sejarah kepenulisanku, inilah tulisan yang paling banyak dibaca dan dibagikan di media sosial. Secara statistik, tulisanku tentang OSD ini dibaca 80.000 kali dengan 200an feedback dari pembaca. Belum lagi diskusi yang lumayan ramai di media sosial, yaitu Facebook. Sebagai penulis biasa dan tidak terkenal, lumayan senang lah dengan pencapaian ini, karena dengan demikian aku punya potensi jadi penulis besar level dunia. Nge-halu dulu lah eaaa. 

Silakan baca tulisan tentang OSD ini: Merindukan Oki Setiana Dewi yang Dulu

Bagiku, tulisan tentang OSD ini menjadi turning point aku dalam menulis, di mana aku menemukan metode menulis yang pas untukku: yaitu menulis artikel populer berbasis riset, memadukan metode penulisan akademis dan jurnalistik. Selama ini lumayan banyak pandangan miring tentang artikel blog, yang dianggap nggak terlalu penting. Artikel blog memang nggak bisa menjadi sumber riset akademis, tapi sangat bisa dibuat berkualitas dan memberi dampak pada pembaca secara luas dalam jangka panjang. Aku merasa bahwa sangat mungkin sebuah tulisan populer berdampak lebih besar dari tulisan akademis. Seorang pembacaku pada tahun 2007 pernah mengatakan itu padaku. Waktu itu aku masih menulis untuk koran lokal, dan pembacaku itu bilang bahwa aku harus terus menulis sebab dampak tulisanku lumayan berasa pada banyak orang (dalam sepengetahuan si pembaca tersebut). Aku ke-GEER-an? Sedikit. Tertantang? BANGET!

Jujur, aku orang yang SANGAT MALAS mengikuti kelas menulis, kecuali kelas itu sebegitu menariknya sehingga aku memutuskan mendaftarkan diri sebagai peserta. Kelas menulis yang kuikuti bisa dihitung jari. Mengapa? Biasanya, kalau ikut kelas menulis, aku akan lupa nyaris semua materi yang disampaikan di kelas tersebut hahahaha (aku merasa bego!). Dalam dunia blogging pun, aku belajar secara mandiri/otodidak. Sejak tahun 2007 aku mempelajari sendiri dunia blogging, termasuk utak-atik template. Buatku, belajar sendiri dalam sunyi lebih mengasyikan daripada punya mentor. Template yang saat ini kugunakan pun hasil kulik-kulik di Google, hasil berpusing-pusing ria dengan kode html: makanya aku hanya nyaman nge-blog berbasis Blogger, karena bakalan pusing kalau pake Wordpress atau yang lain. Yang terpenting bagiku: blog ini bisa diakses dengan cepat meski dari ujung Papua atau Aceh; tampilan professional macam website; dan clean agar pembacaku nggak sakit mata, apalagi menyesal buang-buang kuota internet. 

Sebenarnya, aku pernah berkonsultasi ke sejumlah orang yang kuanggap mampu membuat tampilan blog ini lebih professional dan aku siap membayar. Tapi, contoh yang mereka tampilkan membuatku down, seakan-akan aku hanya layak untuk tampilan blog yang jelek. Oh tidak! Aku nggak bisa mengandalkan orang lain untuk memenuhi apa mauku. Jadi, aku berusaha sendiri, sampai mataku sakit karena kebanyakan begadang. Sebentar lagi, aku akan memperbaiki tampilan blog ini. Karena menurutku masih sekitar 30% belum aku urus hehehehe. Aku akan menampilkan "bagian" video dari Youtube, artwork dan memperbaiki "bagian" publikasi. jadi, meski ini blog, tampilannya boleh dong secantik dan se-professional website, tapi tetep nggak lemot saat diakses pembaca. Aku selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk pembacaku. 

Appearance sangat penting dalam dunia blogging. Penampilan blog adalah representasi isi kepala, pemikiran, imajinasi dan seni yang melekat pada diri seorang penulis. Blog appearance is represent the writer's character. Jadi, Aku berusaha menampilkan itu untuk memberi dampak dan menyenangkan pembacaku. 

Terkait aturan atau rule dalam menulis, aku tetap mengacu ke etika menulis akademis dan jurnalistik. Misalnya, tidak mencontek (copy paste) tulisan orang lain; menyebutkan referensi jika isi tulisan kita sedikit atau banyak mengacu pada pendapat orang lain, suatu peristiwa tertentu atau hasil riset; memberi credit kepada pemilik foto, ilustrasi atau video yang digunakan sebagai pemanis tulisan; tidak menyampaikan informasi palsu, ujaran kebencian dan fitnah; tidak berisi ajakan melakukan hal-hal buruk dan membahayakan; dan sebagainya. Etika ini sangat penting untuk diperhatikan setiap kali hendak menulis, karena di era digital seperti sekarang mencontek itu sagatttttttttttttt mudah dan murah. Namun, Pride dan rasa malu dalam diri lah yang akan menghindarkan seorang penulis dari berbuat sedemikian curang. 

Sebenarnya, nggak ada aturan baku dan saklek dalam menulis, karena misi utama sebuah tulisan adalah menyampaikan informasi. Nah, teknik dalam mengolah bahan mentah sebuah tulisan ini lah yang akan mengantarkan serang penulis pada keberhasilan atau kegagalan dalam memberi dampak berkat tulisannya. Tulisan dengan informasi palsu bisa jadi lebih berdampak pada masyarakat daripada tulisan berisi fakta lapangan, seperti yang banyak terjadi belakangan ini. Artinya, ada satu tantangan yang harus diperhatikan seorang penulis, yaitu psikologi sosial. Dengan memahami isi kepala dan isi hati masyarakat luas, seorang penulis dapat menentukan apakah akan memproduksi tulisan yang "menyenangkan"  atau "mengganggu" publik. Kalau aku sih memproduksi keduanya; tulisan yang menyenangkan dan mengganggu publik. 

Pada Desember 2019, aku membuat tulisan yang "mengganggu" publik. Tulisanku itu bicara seputar mitos selaput dara dan keperawanan, di mana keduanya menjadi momok menakutkan bagi perempuan. Respon atas tulisan ini cukup riuh, mengingat masyarakat kita begitu tabu dan takut membicarakan organ yang terdapat dalam diri mereka sendiri. Padahal, sangat penting bagi perempuan khususnya, untuk memahami secara penuh tentang sistem reproduksi-nya, yang jauh lebih rumit dari milik lelaki. Aku juga mendapat serangan. Tapi apa mau dikata, mereka yang menyerangku tidak akan mampu melumpuhkanku karena tulisanku berbasis riset mendalam. Kan bodoh jika ada orang menganggap aku mempromosikan seks bebas atau seks pra-nikah melalui tulisan tersebut, padahal dengan jelas aku mempromosikan kepedulian pada sistem reproduksi. Karena di Indonesia ini banyak nyawa melawang sia-sia, terutama perempuan dan ibu melahirkan, hanya karena si individu merasa malu, takut atau merasa berdosa jika memperjuangkan hak kesehatan sistem reproduksinya. 

Ini dia tulisan yang mengganggu itu: Membongkar Mitos Selaput Dara dan Keperawanan

Aku tuh lupa banget teori menulis yang sebenarnya sudah diajarkan sejak SMP oleh guru Bahasa Indonesia. Karena fokusku menciptakan tulisan populer, aku menggunakan gaya bercerita saja, semacam saat kita lagi nongkrong nyambi ngopi, tapi pake sedikit data biar jatuhnya bukan gosip. Terkait tema tertentu, misalnya isu perempuan, aku lebih suka menggunakan konsep piramida terbalik, yaitu menulis gambaran umum suatu isu dalam konteks nasional atau global, terus dibuat semakin mengerucut ke suatu kasus. Trus, nggak lupa juga menggunakan sub judul agar tulisan kita nggak melompat-lompat agar strukturnya rapi dan pembaca nggak puyeng. 

Metode ini aku gunakan biasanya untuk menyampaikan sebuah masalah pelik dan berat, agar pembaca nggak merasa terbebani dengan masalah yang diceritakan. Mengapa? Karena pembacaku adalah masyarakat umum, sehingga mau nggak aku harus berusaha "berbicara" dalam bahasa se-ringan mungkin agar tulisanku bisa dipahami pembaca dari berbagai kalangan, usia, dan latar belakang. Susah nggak bikin tulisan begini? BANGET! Karena tulisan model ini berbasis data, harus dikumpulkan dulu sumber datanya, riset kata kunci yang populer berkaitan dengan isu yang akan dibahas, kalau datanya dalam bahasa Inggris ya harus diterjemahkan; kalau datanya dalam bentuk video berbahasa Inggris yang harus ditonton itu video sampai selesai atau harus ditonton beberapa kali agar aku mengerti; kalau datanya dalam bentuk angka ya harus dihitung; dan seterusnya. Waktu dan energi yang diinvestasikan lumayan banyak juga. Tapi, kepuasan memberi edukasi pada diri sendiri dan publik akan menjadi bayaran yang menyenangkan. 

Menulis tema ini susaaaaah lho, tapi puas: Zakat untuk Membebaskan Perempuan dari Jerat Kemiskinan

Contoh tulisan dengan metode demikian adalah tentang peran zakat dalam mengurangi kemiskinan perempuan. Tulisan ini sendiri diiukut sertakan dalam kompetisi blog oleh Kementerian Agama tahun 2019 silam. Nah, karena aku harus memenangkan kompetisi ini, maka aku berusaha keras membuat tulisan berkualitas, berbobot, dan sangat nyambung dengan kenyataan di lapangan jika dikaitkan dengan fungsi zakat dan wakaf. Maka, aku memilih tema kemiskinan perempuan. Mengapa? Perempuan itu posisinya mulia dalam Islam dan memiliki hak penuh atas kepemilikan properti dan usaha ekonomi, tapi di Indonesia sebagian besar penduduk perempuan malah miskin. Nah, ini tantangan bagi lembaga pengumpul zakat sendiri dalam mengentaskan kemiskinan perempuan melalui zakat. Alhasil, tulisan ini diganjar juara II dan hadiahnya sangat lumayan dalam membantu urusan ekonomi perempuan miskin sepertiku, alhamdulillah

Bagaimana dengan menulis suatu tema yang lumayan membangkitkan trauma? MENULIS SEMBARI MENANGIS. Itu yang terjadi saat aku menulis tentang sebuah kasus pemerkosaan berkelompok yang menimpa seorang perempuan Jepang, Junko Furuta. Ini kasus sadis di mana korban dan pelaku sama-sama murid SMA alias masih remaja! Yang membuat marah adalah bahwa peristiwa ini berlangsung selama 44 hari di mana 40 hari lamanya terjadi di dalam basement sebuah rumah dan pemilik rumah (dua orang dewasa) mengetahui kejadian menyedihkan ini. 


Tulisan ini kusampaikan dengan teknik kronologi, atau urutan peristiwa. Mengapa? Supaya pembaca paham duduk perkara dan penyebab peristiwa tersebut, sehingga nggak terbawa emosi, misalnya menyalahkan korban. Setelah selesai menyampaikan peristiwa berbasis kronologi, aku menggiring pembaca untuk memahami sejumlah pertanyaan, misalnya: mengapa para pemerkosa itu begitu sadis, padahal mereka masih remaja? Apakah para pemerkosa itu dihukum berat? Apakah para pemerkosa itu masih hidup? Hingga menggiring pembaca untuk memahami apa itu "femicide" dalam konteks pemerkosaan dan pembantaian atas korban yang menyebabkan kematiannya. Baru kemudian tulisan ditutup dengan pembelajaran berharga dari sejumlah sudut pandang baik kemanusiaan, hukum, dan pelayanan publik. 

Riset untuk tulisan ini pun lumayan sulit, karena sejumlah dokumen dalam bahasa Jepang, sehingga aku harus mencari dokumen dengan informasi serupa dalam bahasa Inggris. Termasuk kesulitan menyesuaikan informasi dalam sejumlah dokumen untuk memastikan mana informasi yang benar dan mana yang keliru. Bagaimana pun juga, untuk kasus sebesar ini, informasi valid yang bisa jadi acuan adalah dokumen resmi dari pihak berwenang misalnya kepolisian, pengadilan hingga rumah sakit yang bertanggung jawab melakukan visum pada korban. Selain itu, aku pun harus memulai tulisanku dengan sebuah pesan kepada pembaca, bahwa tulisan ini bisa menimbulkan atau membangkitkan trauma. Dengan memberi pengumuman semacam itu di awal tulisan, aku sudah mengingatkan pembaca untuk mengambil pilihan meneruskan atau menghentikan membaca tulisan ini, dan menanggung sendiri konsekuensi atas pilihan tersebut. 

Jadi, siapa guruku dalam menulis? Aku lebih suka belajar kepada tulisan, sehingga secara nggak langsung aku berguru kepada si pencipta tulisan yang kubaca. Begitulah caraku belajar menulis hingga, berguru dalam sunyi. 

What next? Sebenarnya tuh aku ingin sekali berkeliling ke berbagai tempat, sehingga aku bisa mengumpulkan bahan mentah untuk diracik jadi tulisan bagus dan berdampak. Tapi sampai saat ini belum tercapai. Entah karena aku terlalu penakut atau karena dengan bodohnya melewatkan berbagai kesempatan. Meski demikian, aku berjanji akan tetap menulis dan memperbaiki kualitas tulisan-tulisanku. Saat ini, aku masih belajar untuk menggenapi mimpiku melahirkan tulisan "fiksi." Sejauh ini sih aku sudah mencoba, tapi selalu merasa tidak puas. Mungkin ini tantangan yang harus kulalui dan aturan personalku dalam dunia menulis mengalami perkembangan. Bismillah saja, semoga bisa. 

Bumi Manusia, Februari 2021


No comments:

Post a Comment