LAYLA & MAJNUN: Nasib Cinta Perempuan Arab pada Abad ke-7

Ilustrasi Layla & Majnun

Aku menyusuri dinding rumah ini, ya rumah Layla ini
Aku (memeluk) dan menciumi dinding ini dan dinding itu
Sungguh, bukan dinding rumah ini yang menarik hatiku
Tetapi penghuni rumah ini

(puisi Qays Al-Mulawwah untuk Layla Al-Aamiriya)

***

Sekitar tahun 645 M (24 H) keluarga Al-Mulawwah mendapat keturunan baru, seorang anak lelaki yang kemudian diberi nama Qays. Empat tahun kemudian seorang bayi perempuan dari keluarga Mahdi bin Sa'd lahir dan diberi nama Layla (ia dikenal sebagai Layla Al-Aamiriya). Nah, Qays dan Layla ini saudara karena mereka memiliki garis keturunan yang sama, dan dalam hal ini Qays adalah paman Layla. Keduanya juga memiliki hubungan langsung dengan Banu Ka'b yang merupakan moyang Nabi Muhammad SAW. Jadi, Qays dan Layla ini saudara jauh Nabi Muhammad SAW, di mana mereka semua merupakan keturunan Nabi Ibrahim melalui Nabi Ismail. 

Garis leluhur Qays: Qays bin Al-Mulawwah bin Muzahim bin ʿAds bin Rabīʿah bin Jaʿdah bin Ka'b bin Rabīʿah bin ʿĀmir ibn Ṣaʿṣaʿa bin Muʿawiyah bin Bakr bin Hawāzin bin Mansūr bin ʿAkramah bin Khaṣfah bin Qays ʿAylān bin Muḍar bin Nizār bin Maʿad bin ʿAdnan

Garis leluhur Layla: Laylā bint Mahdī bin Saʿd bin Muzahim bin ʿAds bin Rabīʿah bin Jaʿdah bin Ka'b bin Rabīʿah bin Hawāzin bin Mansūr bin ʿAkramah bin Khaṣfah bin Qays ʿAylān bin Muḍar (bin Nizār bin Maʿad bin ʿAdnan). 

Garis leluhur Qays dan Layla yang sama-sama berasal dari etnis Hawazin (yang merupakan keturunan etnis Ka'b), dan hubungannya dengan Nabi Muhammad SAW bisa dicek DISINI sehingga kita bisa tahu pun memastikan bahwa kedua sejoli adalah keturunan Nabi Ibrahim. Sebagai saudara, Qays dan Layla ini sudah saling menyukai sejak masih kecil (cinta monyet lah ya) dan seiring waktu perasaan cinta di hati mereka semakin bertumbuh. Sebagai perempuan, Layla malu-malu dalam menunjukkan perasaannya, sebagaimana khas perempuan Jazirah Arab kala itu. Sementara Qays terang-terangan menunjukkan cintanya kepada Layla, bahkan bisa disebut tergila-gila hingga terobsesi pada pujaan hatinya. Sebagai wujud cintanya, Qays membuat puisi cinta dan menyebut-nyebut nama Layla didalamnya. Orang-orang menganggap Qays kesurupan jin karena obsesinya pada Layla sehingga masyarakat pun memanggilnya "majnun" alias orang stress karena kesurupan jin. Qays pun jadi olok-olok masyarakat karena obsesinya tersebut. 

Kehidupan masyarakat di Jazirah Arab pada abad ke-7 M sangat ketat, terutama berkaitan dengan perempuan. Kisah Qays dan Layla ini terjadi pada masa pemerintahan Khalifah Marwan 1 (khalifah ke 4) dan Abdul Malik bin Marwan (khalifah ke 5 ) dari Dinasti Umayyah. Artinya, pada masa itu sebenarnya masyarakat Muslim di Jazirah Arab sudah menjalani 'reformasi' yang dibawa Nabi Muhammad terutama terkait posisi perempuan dalam Islam, yang mengubah pandangan masyarakat Arab yang menganggap perempuan adalah properti milik Ayah, suami atau anak lelakinya. Dalam urusan pernikahan misalnya, Nabi Muhammad menegaskan bahwa perempuan berhak menikah dengan lelaki yang diinginkannya. 

Namun dalam kisah Qays dan Layla, justru ayah Layla tidak merestui hubungan keduanya. Tanpa sepengetahuan Qays yang sedang pergi ke Mekkah, keluarga Mahdi menikahkan Layla dengan seorang lelaki dari etnis Thaqif dari kota Ta'if. Lelaki itu seorang saudagar kaya raya, dari keluarga terpandang dan memiliki ketampanan luar biasa. Ketampanan suami Layla serupa keindahan mawar gurun sehingga orang Arab memanggilnya "Ward" alias mawar dalam bahasa Arab. 

Mengapa Layla tidak menolak pernikahan dengan lelaki yang tidak dicintainya? Pada abad ke-7, meski Islam telah 'mengubah' banyak pandangan tradisional tentang posisi perempuan dalam keluarga pun masyarakat, tentu butuh proses untuk melepaskan diri dari ikatan adat istiadat kesukuan dan budaya yang mengikat selama berabad lamanya. Pada masa itu, di banyak budaya dan masyarakat di seluruh dunia, perempuan adalah properti lelaki. Anak perempuan adalah properti ayah, suami dan anak lelakinya. Sehingga perempuan nggak bisa melakukan sesuatu tanpa perintah atau izin lelaki. Layla tidak kuasa menolak perintah ayahnya sebab ia adalah properti sang ayah. Meski hati dan pikirannya terus saja terpaut pada sosok Qays, ia tetap harus menikah dengan lelaki pilihan ayahnya. 

Pada masa itu, urusan pernikahan antara lelaki dan perempuan bukan semata-mata demi cinta. Para orangtua hingga kepala suku harus mempertimbangkan banyak hal sebelum mengizinkan anak-anak mereka menikah. Pernikahan perlu mempertimbangkan banyak hal mulai dari bibit-bebet-bobot calon pengantin; kadar terpandang atau enggaknya sebuah keluarga; hingga hal-hal yang berkaitan dengan apakah suku keduanya bermusuhan apa enggak dan sebagainya. Ribet? Memang. Tapi, begitulah aturan hukum dan sosial pada abad ke 7, nyaris sama kok di semua masyarakat kala itu, mau di Arab atau India atau China atau persia. Salah satu alasan ayah Layla menolak Qays adalah bahwa secara mental Qays nggak stabil dan nama baiknya dalam masyarakat sudah buruk, sebagai si gila. Di era itu, mana ada seorang Ayah yang sudi mengorbankan kehormatan keluarganya dengan memiliki menantu yang stress karena urusan cinta. 

Layla lahir dalam sebuah keluarga kaya raya dan terpandang. Ibaratnya Layla adalah seorang putri. Layla adalah perempuan muda yang cantik, segala keperluan hidupnya tersedia tanpa suatu kekurangan, memiliki kehidupan yang baik dan tentu saja diproyeksikan untuk menikah dengan lelaki yang status sosialnya setara dengan keluarganya. Bagi orang-orang kaya, terpandang dan terhormat urusan pernikahan adalah perkara show off dan mempertahankan status sosial. Jika keluarga Mahdi bin Sa'd menikahkan Layla dan Qays, maka akan habis kehormatan mereka. Keluarga terpandang pada abad ke-7 sangat anti menikahkan anak-anak mereka yang terlibat skandal percintaan. Apalagi, soal asmara sejoli Qays dan Layla ini telah menjadi rahasia umum. Kehormatan keluarga tentu lebih penting dari urusan cinta anak muda. 

Di masa klasik, di tanah Arab khususnya, seorang ayah memiliki "Hak Ijbar" alias hak memaksa anggota keluarga perempuan, terutama anak perempuan untuk melakukan apapun perintah orangtua. Anak perempuan terlarang untuk menolak perintah ayahnya, bahkan dalam urusan pernikahan. Siapa lelaki yang akan menikah dengan seorang anak perempuan, bukanlah urusan si perempuan, melainkan urusan lelaki di dalam rumah itu. Perempuan tidak memiliki hak atas tubuhnya, hatinya dan isi kepalanya. Semua harus tunduk kepada maunya ayah, atau anggota keluarga lelaki. Tak jarang anak perempuan dinikahkan tanpa sepengetahuan dirinya. Jika sang anak perempuan menolak dan membangkang, maka ia akan dihukum. Itulah dunia tempat Layla tinggal, di mana hukum dan takdir hidup perempuan ditentukan oleh lelaki. 

Puluhan tahun sebelum Layla lahir, nasib perempuan di jazirah Arab lebih naas, di mana seorang ayah berhak menguburkan bayi/anak perempuan hidup-hidup entah karena alasan ekonomi atau kehormatan keluarga, seperti yang pernah dilakukan Umar Ibn Khattab sebelum dia memeluk Islam. Anak perempuan yang dibiarkan hidup dituntut patuh kepada ayahnya dan apabila telah menikah akan dituntut suami dan keluarga besarnya untuk melahirkan anak lelaki. Pada masa itu, rasa malu akan menghinggapi para ayah yang memiliki anak perempuan dan anak perempuan dianggap sebagai beban. Oleh karena itu, meski banyak keluarga yang melihat perempuan sebagai anugerah, banyak juga yang memandangnya sebagai properti dan aset untuk menggaet keuntungan ekonomi dan sosial dengan menikahkannya dengan lelaki dari keluarga terpandang. 

Itulah mengapa, Islam yang disampaikan oleh Nabi Muhammad banyak sekali membawa perubahan terkait posisi perempuan di mana Nabi Muhammad sendiri menikah dengan seorang janda; tidak poligami selagi Khadijah masih hidup; melarang keras Ali bin Abi Thalib poligami saat Fatimah masih hidup karena akan melukai hati putri kesayangannya; dan garis keturunannya hingga akhir zaman diambil melalui jalur Fatimah. Sayangnya, Layla masih terjerat adat istiadat bangsa Arab yang sangat ketat dalam urusan terkait perempuan. Bahkan sebagai seorang Muslimah yang memiliki hak penuh atas nasibnya, Layla tidak bisa menolak perintah ayahnya untuk menikah dengan lelaki pilihan keluarganya. Meski Layla bersedih, apa mau dikata. Layla ibarat burung dalam sangkar, hidupnya adalah milik sang tuan, yaitu ayahnya. 

Tak lama setelah mendengar bahwa Layla dinikahkan dengan lelaki lain, Qays menjadi semakin stress. Dia meninggalkan kamp sukunya dan menyendiri di alam liar, di gurun. Keluarga Qays nggak bisa berbuat banyak untuk menolong anak mereka yang patah hati akut dan hanya mengirimkan makanan untuknya. Di alam liar itulah Qays menuliskan puisi-puisinya tentang cintanya kepada Layla. Sementara itu, Layla dibawa suaminya pindah ke wilayah Arab bagian utara. Layla kemudian sakit-sakitan dan meninggal. Mungkin ia dilanda sakit cinta karena tidak bisa bersama Qays, kekasih hatinya. Kegilaan Qays kemudian berakhir ketika ia meninggal pada tahun 688 M dan ia dimakamkan dekat makam Layla. 

Kisah Layla & Majnun ini nyata? Betul. Para pembelajar kisah ini mempercayai bahwa Qays dan Layla lahir di Provinsi Al-Aflaj, Saudi Arabia di mana "Layla city" dibangun. Di provinsi Al-Aflaj ini ada sebuah tempat bernama Jabal Al-Toubad, dekat desa Al-Ghayl, dan di tempat inilah masyarakat pada era Qays dan Layla menyaksikan bagaimana kisah mereka berlangsung. Pada Abad ke 5 H (1009-1106 M) seorang penyair Persia bernama Nasir khusraw mengunjungi kota Layla. Kunjungan inilah yang kemudian membuatnya mengumpulkan banyak informasi terkait kisah Qays dan Layla, yang kemudian menjadi kisah populer dalam literatur Persia. Kepopuleran kisah Qays dan Layla di Persia kemudian ikut dipopulerkan di Azerbaijan hingga menjadi bagian penting dalam literatur Azerbaijan. 

Karena kisah Qays dan Layla ini mendunia sejak dipopulerkan oleh penyair Persia, terutama oleh Nizami Ganjavi pada abad ke-12 M, maka orang sering salah paham bahwa kisah ini hanya sebagai dongeng bangsa Persia (sekarang Iran). Dalam pandangan sejumlah pengamat sastra, mereka beranggapan bahwa kisah Qays dan Layla ditulis sedemikian rupa oleh Nizami Gandavi dalam konteks kehidupan orang Persia dan untuk menyenangkan publik Persia. Cerita cinta bagaimanapun suka ditambah-tambahi. Padahal, dalam konteks kebudayaan kala itu, kehidupan masyarakat Arab dan Persia jelas berbeda. Meskipun sebenarnya Nizami mengakui bahwa menulis kisah cinta mengenai sepasang kekasih yang bersusah hati karena terhalang hukum adat dalam memilih pasangan hidup dalam masyarakat abad pertengahan yang patriarkis itu sulit. 

Padahal, jika kita mau sedikit saja meluangkan waktu untuk riset, kita akan mengerti bahwa kisah mereka bukan semata-mata tentang kisah sepasang kekasih yang berakhir tragis. Namun, kita juga akan mengenali seperti apa sih sistem sosial dan adat istiadat di mana Qays dan Layla hidup. Dengan demikian, kita juga bisa mempelajari sejarah bangsa Arab dalam peralihan sistem dari tradisional (berbasis kesukuan, adat istiadat dan animisme) ke masyarakat berbasis hukum Islam. Bahkan, kalau mau, kita juga bisa sekaligus mempelajari hukum dalam naungan Khilafah (saat itu era Dinasti Umayyah) dalam konteks keluarga, pernikahan dan perlindungan pada hak perempuan dan anak perempuan.  

DUNIA PEREMPUAN ARAB PRA-ISLAM 
Pada era klasik, Arab belumlah bernama Arab Saudi seperti sekarang, melainkan tanah Hijaz di Semenanjung Arab (Arabian Peninsula). Kata "Arab" sendiri mengacu kepada Bedouins, suku nomadic Arab yang bermukim di Semenanjung Arab dibawah pimpinan Raja Gindibu. Kata "Bedouin" berasal dari "Badawi" dalam bahasa Arab, yang bermakna desert dweller atau orang-orang yang tinggal di gurun. Sejarah tentang Arab ini panjang sekali (riset aja sendiri), mari kita melompat ke era Arab pra-Islam yang merupakan sebutan untuk wilayah Semenanjung Arab menjelang kebangkitan Islam pada tahun 630 M. 

Berbasis teks agama Islam dan Yahudi, the father of the Arabs adalah Nabi Ismail. Para pemerhati genealogi Arab pada abad pertengahan menyebutkan bahwa Arab terbagi ke dalam 3 kelompok. Pertama, kelompok "Ancient Arabs" atau Arab Kuno yaitu suku Ad dan Tsamud sudah musnah (informasi ini diperoleh dari Al-Qur'an). Kedua, kelompok "Pure Arab" atau Arab Murni yang bermukim di wilayah selatan dan merupakan keturunan dari Qathan yang bermigrasi ke wilayah Yaman setelah hancurnya bendungan Ma'rib. Ketiga, kelompok "Arabized Arab" atau keturunan Nabi Ismail melalui Adnan yang mendiami wilayah Najd (Arab bagian tengah) dan Arab bagian Utara. 

Sebagaimana suku-suku nomadic yang tinggal di gurun atau padang rumput, kehidupan suku-suku di wilayah Semenanjung Arab pun diatur berdasarkan kepentingan masing-masing suku. Pada era Arab Pra-Islam, kehidupan perempuan Arab bergantung kepada aturan hukum dan adat istiadat sukunya. Di wilayah Arab bagian selatan yang makmur dan subur, hukum Kristiani dan Yahudi berlaku bagi suku Sabian dan Himyar. Sementara d wilayah yang cenderung kering seperti di Mekkah yang dihuni suku Bedouin, hukum dan adat istiadat mengacu pada aturan masing-masing kelompok etnis. Nggak ada aturan atau hukum tunggal terkait apapun, termasuk tentang perempuan. 

Pada suku-suku tertentu, perempuan bahkan memiliki kebebasan menjalani hidup, termasuk memegang jabatan tinggi dalam masyarakat. Namun, ada juga suku-suku yang memiliki aturan sangat keras terkait perempuan. Misalnya, perempuan tidak memiliki status hukum; perempuan bisa dijual oleh ayahnya dengan harga tertentu melalui pernikahan; lelaki dapat menceraikan istrinya sesuka hati; perempuan hanya memiliki sedikit harta atau bahkan tidak memilikinya sama sekali; perempuan tidak mendapat warisan; lelaki boleh menikah dengan perempuan dalam jumlah tidak terbatas; perempuan tidak boleh menolak dinikahkan dengan lelaki pilihan keluarga; hingga pembunuhan pada bayi-bayi perempuan. Nah, terkait pembunuhan pada bayi perempun (infanticide) ini selain karena keluarga takut bahwa banyaknya anak perempuan dalam keluarga dapat menjadi beban ekonomi, rasa malu karena memiliki anak perempuan, hingga menghindarkan dari penghinaan. Dalam kehidupan suku-suku nomaden, perempuan muda seringkali diculik suku musuh, dan seringkali para perempuan yang diculik itu lebih memilih tinggal dengan suku penculik daripada kembali kepada keluarga. 

SETELAH ISLAM, APAKAH DUNIA PEREMPUAN ARAB BERUBAH? 
Islam membawa pesan yang terang benderang terkait posisi perempuan dalam kehidupan. Islam menjelaskan bahwa kedudukan, hak dan kewajiban perempuan dan lelaki sama dihadapan Allah. Bahwa setiap kebaikan dan kejahatan yang dilakukan lelaki dan perempuan akan sama-sama mendapat pahala dan dosa. Bahwa di mata Allah Sang Pencipta, derajat lelaki dan perempuan setara, tidak kurang dan tidak lebih. Walaupun banyak pesan dalam Al-Qur'an ditujukan kepada lelaki, namun tidak sedikit yang menyinggung kesetaraan posisi antara lelaki dan perempuan di hadapan Allah. Bahkan, dalam hal tertentu, perempuan mendapatkan kemuliaan yang tidak akan diterima oleh lelaki. 

Pada sebagian besar suku-suku Arab Pra-Islam, perempuan tidak memiliki hak atas properti, perempuan merupakan milik lelaki, dan jika ayah meninggal maka seluruh warisan akan diberikan kepada anak lelaki. Saat Islam datang, Nabi Muhammad mengubah konsep tersebut dimana perempuan memiliki hak atas properti dan warisan; berhak mendapatkan pendidikan dan bercerai dari suaminya; di mana semua itu merupakan perlindungan dasar atas hak perempuan sebagai individu. Reformasi inilah yang kemudian menyebutkan bahwa Nabi Muhammad merupakan sosok yang memperjuangkan hak perempuan (Women's Rights). 

Pada abad ke-7, dalam naungan Khilafah-Dinasti Umayyah, reformasi hak-hak perempuan dimulai. Reformasi ini berdampak secara langsung pada pernikahan, perceraian dan warisan. Reformasi dimulai dengan hukum yang melarang pembunuhan pada bayi-bayi perempuan, karena dalam Islam perempuan memiliki hak hidup sebagai manusia secara utuh. Selanjutnya, mahar pernikahan yang sebelumnya dibayarkan pengantin lelaki dan menjadi milik ayah si perempuan, menjadi sepenuhnya milik perempuan sebagai harta pribadinya. Pernikahan tidak lagi dipandang sebagai 'status' melainkan sebagai 'kontrak' di mana persetujuan perempuan sangat penting dalam pernikahan. Perempuan juga berhak mendapatkan warisan saat ayahnya meninggal. Islam memberi hak istimewa kepada perempuan dalam keluarga, pernikahan, pendidikan dan usaha ekonomi. Semua upaya reformis ini sesungguhnya berperan dalam meningkatkan status perempuan dalam masyarakat. 


Nah, kembali ke cerita Qays dan Layla. Keduanya kan hidup pada abad ke-7 di mana Khilafah sedang melakukan reformasi dan melembagakan hukum yang melindungi hak-hak perempuan, termasuk terkait pernikahan. Bisa jadi, keluarga Layla merupakan keluarga yang belum menerima secara penuh hukum Islam dan masih terikat dengan hukum kesukuan, sehingga memaksa Layla menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya, sehingga Layla harus menghembuskan nafas terakhirnya dalam kesedihan. Padahal, sebagai keluarga terpelajar dan terpandang, mustahil keluarga Mahdi bin Sa'd nggak paham reformasi hukum yang sedang dijalankan oleh Khalifah terkait hak-hak perempuan. Pada akhirnya, yang menghancurkan hidup Layla bukan cintanya kepada Qays atau gosip dalam masyarakat tentang kegilaan Qays kepadanya: melainkan hukum dan adat istiadat kesukuan yang berlaku dalam keluarganya, keluarga Mahdi bin Sa'd. 

PANGGUNG CINTA LAYLA & MAJNUN 
Kisah cinta Qays dan Layla di Arab hanya menjadi semacam cerita rakyat yang dikisahkan dari mulut ke mulut. Namun, kisah cinta sejoli ini justru mendunia setelah diberi panggung oleh penyair Persia, Nizami Ganjavi pada abad ke-12 M. Kisah Qays dan Layla ini kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Persia, Turki dan India. Setelah itu, semakin banyak penyair yang mengisahkan cinta sejoli ini dengan merujuk pada puisi-puisi Ganjavi tentang Qays dan Layla. Dalam dunia sufi, kata "Layla" bahkan merujuk pada konsep "My Beloved" atau yang terkasih. Terus saja cerita ini dikembangkan sedemikian rupa, dilukis dengan imajinasi berbeda juga, bahkan kisah versi India menyebutkan bahwa Qays dan Layla berhasil mengungsi ke sebuah wilayah di India dan penduduk percaya bahwa makam keduanya berada di desa Bijnore, distrik Sriganganagar. Bahkan, setiap tanggal 14 Juni pasangan kekasih dan pengantin baru dari India dan Pakistan selalu berbondong-bondong ziarah ke makam yang dipercaya tempat Qays dan Layla bersemayam.

Bahkan, saking terinspirasinya dari kisah Qays dan Layla, seorang penari, koreografer dan direktur asal Amerika Serikat, bernama Mark William Morris mendirikan Kelompok Tari bernama Layla Majnun, yang merupakan bagian dari Mark Morris Dance Group. Program musik Layla dan Majnun ini dibuat salah satunya untuk mendukung perkembangan seni vokal di wilayah Timur Tengah, termasuk membantu pengembangan museum. Usaha ini perlu diapresiasi, meskipun pada akhirnya orang akan terus-menerus beranggapan bawa ini kisah milik bangsa Persia, sebab memang penyair Persia dan Azerbaijan-lah yang mempopulerkan cinta sejoli ini, dibandingkan orang Arab sendiri. 


Banyak juga content creator yang menceritakan kisah ini di akun Youtube, tapi menyimpang karena tidak dilakukan dengan riset mendalam. Orang cenderung menceritakan kisah Qays dan Layla ini semata soal cinta sepasang muda-mudi yang tidak direstui orang tua yang berkaitan dengan status sosial miskin-kaya. Padahal, ceritanya lebih kompleks dari itu. Ini adalah kisah sedih yang sekaligus menggambarkan betapa rumitnya aturan hukum dan adat istiadat yang mengikat perempuan Arab pada abad ke-7. Dan, kalau kita mau menertawakan dunia manusia, kisah semacam Qays dan Layla ini masih terjadi sampai sekarang di abad ke-21, di mana masih banyak anak perempuan yang tidak kuasa menolak pernikahan paksa dengan lelaki yang tidak mereka inginkan hanya demi berbakti kepada ayah dan ibu; hingga pernikahan yang dilakukan sebagai pertukaran bisnis dan politik antar dua keluarga demi mempertahankan distribusi kekayaan agar selalu berada di tangan kelas atas. Akhir kata, semoga kisah cinta Pembaca-ku nggak sesedih Qays dan Layla ya. 

Bumi Manusia, Februari 2021

Bahan bacaan: 
https://en.wikipedia.org/wiki/Layla_and_Majnun
https://en.wikipedia.org/wiki/Family_tree_of_Muhammad#:~:text=This%20family%20tree%20is%20about,Qurayshs%20tribe%20which%20is%20'Adnani.&text=Muhammad%20also%20has%20Jewish%20ancestry,mother%20of%20Abd%20al%2DMuttalib.
https://en.wikipedia.org/wiki/Women_in_the_Arab_world
http://www.oxfordislamicstudies.com/article/opr/t125/e2510?_hi=2&_pos=2
http://www.alastairmcintosh.com/articles/2000_watt.htm
https://www.ststworld.com/bedouin-people/
http://realhistoryww.com/world_history/ancient/Misc/True_Negros/The_True_Negro_2.htm
https://en.wikipedia.org/wiki/The_Graves_of_Layla_and_Majnun_(India)
https://iranicaonline.org/articles/leyli-o-majnun-narrative-poem


4 comments:

  1. Replies
    1. Terima kasih telah mampir dan membaca tulisan sederhana ini.

      Delete
  2. Mungkin ini cuma spekulasi saya pribadi,tapi saya curiga kisah ini jangan-jangan juga jadi inspirasi Sting (duet dengan Cheb Mami) dalam lagu "Desert Rose" - https://www.youtube.com/watch?v=C3lWwBslWqg . Liriknya seperti menggambarkan perasaan Qays yang tersiksa mendamba kebersamaannya dengan Layla. Sepakat dengan tulisan Mbak, hingga kini masih banyak sekali orang tua yang memaksa anak perempuan menikahi lelaki pilihan mereka, meski si anak sudah cukup dewasa dan mandiri menentukan nasibnya sendiri. Bahkan, mereka sampai hobi gaslighting anak perempuan mereka dengan ancaman "durhaka nanti masuk neraka" bila menolak jodoh pilihan orang tua. Mencerna lapisan masalah dalam 1 kasus memang butuh waktu lama - dan sayangnya gak semua orang mau mengembangkan ketekunan dan kesabaran untuk itu. Makasih buat recap lengkapnya. Saya jadi pengen baca2 lagi biar gak lupa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi sih, karena memang kisah Qays dan Layla ini banyak diadaptasi ke pop culture, tentu dengan penambahan ini-itu sesuai kebutuhan zaman.

      Nah, baru ingat. Kisah Florentino Ariza dan Fermina Daza dalam novel "Love in the Time of Cholera" kayaknya terinspirasi dari kisah Qays dan Layla juga. Inti ceritanya mirip banget, cuma ya disesuaikan dengan kebutuhan zaman dan masyarakat Amerika Lain saat wabah Cholera melanda. Novel ini sudah difilmkan dan bagus banget! Sangat direkomendasikan!

      Delete