Jungkir Balik Dunia Nissa Sabyan

Nissa Sabyan, penyanyi sholawat idola remaja masa kini (2018) yang kini dibenci (2021) Sumber: Instagram Nissa Sabyan

Tulisan ini muncul kembali setelah tenggelam begitu lama. Asal muasalnya karena perempuan muda ini menjadi pergunjingan publik atas skandal yang merusak namanya sendiri, menghancurkan karir yang dibangunnya sejak SMA. Melihat tulisan lamaku yang cenderung mengaguminya, kini menjadi tak lagi punya makna. Meski skandal yang melibatkannya masih simpang siur, namun mungkin inilah kebenaran yang menunjukkan dirinya sendiri. 

Halaman Google, hingga informasi di media sosial seperti Instagram, Youtube hingga Twitter dipenuhi dengan namanya: perempuan ini merebut suami orang. Dia dijuluki Perebut Laki Orang (Pelakor) hingga kasus ini bahkan digunakan buzzer politik untuk bermain curang atas nama kepentingan mereka sendiri, di arena yang lain dengan nama Nissa yang melekat pada sosok manusia lain. Ini fakta menyedihkan dan memalukan, tetapi harus diterima sebagaimana adanya. 

Membaca berita dan hujatan publik terhadap perempuan ini seakan dunia sedang jungkir balik. Dulu ia dipuja oleh balita hingga kakek-nenek, terlebih para pemuda yang mendamba menjadi kekasihnya. Ia hadir dengan segala keimutan yang memabukkan mata, juga suaranya yang menghanyutkan. Kini, ia dihujat dan dimaki oleh mereka yang dulu merupakan fans berat, karena rasa kecewa yang menggunung tiada tanding. Nissa dianggap gelap mata karena bukan hanya merusak nama baiknya, juga merusak nama baik band tempatnya bermusik, merusak keluarga rekan bermusiknya sendiri, merusak citra perempuan Muslim dan sebagainya. Entah apa yang perempuan ini lakukan saat ini. Tapi, pilihannya dalam urusan cinta menjadikannya dead meat. Ia masih muda tapi memilih jalan cinta yang serupa menggali kuburnya sendiri. 

Berikut tulisan lawasku tentang Nissa Sabyan:

Judul: Nissa Sabyan, Shalawat dan Pesan Perdamaian Universal 

Seluruh bumi ini akan terasa sempit
Jika hidup tanpa toleransi
Namun jika hidup dengan perasaan cinta
Meski bumi sempit kita kan bahagia
Melalui perilaku mulia dan damai
sebarkanlah ucapan yang manis, hiasilah dunia dengan sikap yang hormat
dengan cinta dan senyuman
sebarkanlah diantara insan, inilah Islam agama perdamaian

Begitulah arti dari lagu berjudul "Deen Assalam" yang dibawakan oleh Nissa Sabyan dan grupnya Sabyan Gambus dengan sangat manis dan menyentuh hati. Lagu yang pertama kali dipopulerkan oleh Sulaiman Al-Mughni ini kini dapat didengar di mana saja mulai dari toko retail, kafe hingga pusat perbelanjaan. Tak urung, suara indah dan menggetarkan Nissa Sabyan semakin terngiang-ngiang di telinga publik. Bukan hanya umat Islam yang menyukainya, mereka yang non-Muslim juga banyak yang menyukainya.

Wajah imut dan menggemaskan, suara yang indah menggetarkan plus penampilan yang trendi membuat Nissa Sabyan menjadi idola baru remaja tanah air. Siapa sangka bahwa pemilik nama asli Khoirunnisa yang masih berusia 19 tahun dan merupakan siswa SMKN 56 Jakarta ini mampu menggetarkan jutaan orang di seluruh dunia. Video-videonya ditonton puluhan juta orang sebab lagu-lagu yang dibawakannya menghipnotis kalbu bagai cahaya purnama bagi hati yang merindu. 

Bahkan videonya yang mengcover lagu berjudul "Ya Habibal Qolbi" tembus 144 juta penonton. Karena lagu ini pula, jumlah subscriber akun resmi Sabyan Gambus merangkak naik dengan cepat dari ratusan ribu ke 2,3 juta. Perkembangan yang melesat bagai komet ini nampaknya akan segera melampaui jumlah subscriber dari Youtuber terkaya tanah air, Ria Ricis dengan angka 3.8 juta. 

Pesan moral dari tenarnya Nissa Sabyan dan grupnya adalah: pertama, jangan sepelekan potensi anak muda, terlebih kaum millennial yang kesehariannya lengket dengan gadget. Dengan perkembangan teknologi yang melintasi ruang dan waktu, generasi millenial mampu memberi dampak kepada dunia tanpa berkoar-koar mengaku pahlawan layaknya generasi tua. 

Di tangan kaum millennial, racikan antara kreativitas di dunia nyata dan dunia digital menjadi semacam jembatan untuk menunjukkan jati diri dan karya mereka. Bahwa, tidak perlu menunggu usia sekian-sekian dengan gelar pendidikan ini-itu atau jabatan politik anu dan anu untuk sukses besar serta memberi dampak positif kepada masyarakat dunia. 

Kedua, Islam dan pesan-pesan universalnya seperti tentang perdamaian akan sangat mudah menyentuh hati manusia jika disampaikan dengan lembut, penuh hikmah dan ringan. Meledaknya lagu-lagu yang dibawakan grup ini saya kira pas dengan suasana pasca ledakan bom di Surabaya, Sidoarjo dan beberapa wilayah lain di Indonesia yang mencoreng nilai-nilai mulia dalam Islam.

Ketiga, shalawat yang selama ini identik dengan Masjid dan kegiatan majelis taklim semata, mampu dibawa ke panggung hiburan tanah air dengan format yang trendi dan muda. Shalawat menjadi lebih populer dan diterima publik secara luas baik Muslim maupun non-Muslim. Kita tidak pernah tahu kan jika misalnya lagu-lagu yang dibawakan Nissa Sabyan dan grupnya mampu membuat publik mau belajar tentang Islam karena melihat Islam sebagai agama yang indah dan damai?     

Depok, Juni 2018

Kembali ke realita hari ini: 
Jagat Indonesia shock berat dengan berita ini. Kepalaku saja rasanya linglung. Sangat disayangkan sosok muda, berbakat dan berpengaruh seperti Nissa memilih jalan yang salah alih-alih memandang jauh ke masa depan, misal mengepakkan sayap bermusiknya ke level internasional untuk membawakan sholawat di panggung Hollywood. Lagu-lagunya membahasa sampai ke telinga warga dunia, memuliakan nama Indonesia. Tapi kini, mungkin segala sesuatu berbalik, terjungkal, menjadi hujatan dan rasa kecewa yang melampaui batas hidup Nissa sebagai pribadi. Sangat disayangkan ini terjadi dan Nissa membunuh karirnya sendiri. Sampai saat ini, ia masih dicaci, dimaki, dibenci, dan dianggap parasit oleh publik.  

Tulisan ini tidak aku maksudkan sebagai bentuk kekecewaanku kepada Nissa. Toh aku bukan fans Nissa atau band Sabyan Gambus. Bagaimanapun juga, ditengah kegandrungan remaja Indonesia pada hiburan luar negeri seperti K-Pop, musik religi yang dibawakan kelompok Sabyan jadi fenomena tersendiri. Terutama ketika mereka naik daun pasca sejumlah serangan bom bunuh diri di tanah air. Ini ibarat hujan yang menyapu kerontangnya hati akibat kemarau panjang berupa intoleransi berbasis SARA. Maka wajar jika banyak pihak membangun ekspektasi atas kelompok ini, sebab selama ini remaja selalu disalahkan dan dikambing hitamkan atas tingginya kasus asusila dan amoral bangsa ini. 

Di seluruh dunia, banyak musisi yang bermusik sebagai sarana melakukan perubahan sosial. Di Indonesia juga ada. Sebutlah musisi kondang Rhoma Irama, Iwan Fals, Ebiet G. Ade  yang merupakan legenda dalam melakukan perlawanan kepada penguasa zalim melalui musik. Itu pula yang semua orang kira pada Sabyan Gambus, di mana lagu yang mereka bawakan membawa pesan tersendiri: perdamaian. Jalan bagi band Sabyan Gambus untuk melakukan perubahan sosial melalui musik sudah terbentang begitu luas, dengan audiens yang berjumlah jutaan orang, bahkan fans dari luar negeri, dan dengan sokongan media digital semacam Youtube yang menjadi alat mujarab membagi nilai-nilai perdamaian bagi dunia. 

Mengapa tulisan ini hanya menyorot Nissa seorang, seakan-akan aku sengaja menumbalkan perempuan muda ini? Tulisan ini adalah edisi update dari tulisanku pada 2018 lalu yang memang hanya berfokus pada Nissa. Bagaimanapun juga, yang jadi center dan tokoh kunci dari Sabyan Gambus adalah Nissa. Perempuan ini adalah kunci, inti, wajah dan representasi dari band Sabyan Gambus. Dia adalah magnet Sabyan Gambus. Sehingga, segala sesuatu yang melekat padanya, berupa identitas baik atau buruk memang yang akan pertama kali menjadi sorotan publik. Bagaimana lagi, jungkir balik dunia Nissa Sabyan dia sendiri yang menentukan. 

Perempuan ini pasti paham resiko atas segala tindakan yang diambilnya sebagai public figure, sebab dia bukan lagi seorang individu yang bebas melakukan apa saja tanpa bisa melepaskan diri pujian atau penghakiman publik. Bagai film atau drama, tokoh utama dalam setiap kisah akan menjadi pusat perhatian, sisanya cuma meramaikan cerita. 

Bumi Manusia, Februari 2021

13 comments:

  1. Mau konser di Jogja lho Agustus ini. Generasi Milenial memang oye lah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai mbak Dian, terima kasih sudah mampir. Iya, semoga Nissa memberi pengaruh positif pada kita semua, amin

      Delete
  2. Padahal ngefans banget sama dia, tapi gak nyangka banget bisa sampe kayak gini kejadiannya. Dan keduanya mengakui sudah sejak lama seperti itu.. OMG

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yahhh, apa mau dikata. Ini fenomena sosial yang terjadi.

      Delete
  3. Karena urusan percintaan, Sabyan Gambus urung menjadi legenda musik Indonesia.. Hanya pernah menjadi fenomena

    ReplyDelete
  4. Dah lama gak tampil begitu tampil langsung bikin heboh.
    Lebih kasian sama si istrinya itu loh. Dah punya anak juga padahal

    ReplyDelete
  5. Aku baru tau Nissa baru-baru ini. Mungkin aku pernah mendengar lagunya. Mungkin juga tidak.

    Yang pasti, tulisan ini amat buruk. Berkonten di atas masalah privasi orang lain sangatlah tidak pantas. Apalagi tulisan ini kering dari awal sampai akhir. Tidak ada nilai dan sudut pandang yang menarik. Semua hanyalah bentuk justifikasi pembenaran atas hujatan-hujatan yang seolah Nissa pantas mendapatkannya. Tulisan terburuk tribunnews jauh lebih baik daripada tulisan ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah terima kasih sudah menilai tulisan ini buruk dan kering. Saya tunggu tulisan Anda dalam menyanggah tulisan buruk ini. Mudah-mudahan tulisan Anda nggak seburuk tulisan saya.

      Delete
  6. Gak ngefan sama Nisa atau grup bandnya tapi suka ma lagu2nya. Sosok Nisa yg diharapkan dapat jadi contoh baik buat remaja seumurannya harus kandas karena kejadian itu. Bagai pepatah karena nila setitik rusak susu sebelanga..

    ReplyDelete
  7. Biarkan saja, memang jalan hidupnya seperti itu. Kita jangan ikut mengolok-olok atau menggunjing kehidupan orang. Ingat dengan adanya hukum karma.

    ReplyDelete
  8. kita tunggu pernyataan langsung orangnya saja :)

    ReplyDelete