I am not Madame Bovary: tentang Perempuan yang Memperjuangkan Hak Bercerai dengan Benar

Aktris Fan Bing Bing saat memerankan karakter Li Xuelian dalam "I am not Madame Bovary" sumber: flixlist.co
 
Li Xuelian merupakan perempuan kampung yang muda, lugu, lumayan cantik, rajin bekerja, punya keterampilan memasak makanan enak dan setia kepada keluarga. Demi mengakali hukum di China mengenai jumlah anak dan kepemilikan properti berupa satu unit apartemen, Ia dan suaminya, Qin Yuhe melakukan sebuah persekongkolan. Rencananya, Lian dan suaminya akan melakukan perceraian palsu, lalu setahun kemudian menikah lagi dan mereka bisa merencanakan anak kedua. Dengan demikian, jika mereka memiliki properti lain, maka akan ada warisan properti untuk anak keduanya. Namun setelah bercerai secara palsu barulah ketahuan ulah suaminya yang sebenarnya, yaitu memiliki perempuan lain dan Qin Yuhe menempatkan simpanannya di properti kedua yang dibeli itu. Lian pun marah, mengamuk dan menemui kerabat jauhnya yang merupakan seorang Jaksa demi membantunya membatalkan perceraian mereka yang palsu.

Selain itu, Lian juga sangat kesal karena ternyata Qin menolak mengakui perceraian palsu itu dan menuduh Lian sebagai pelacur. Di China ada sebutan khusus untuk perempuan yang selingkuh dari pasangannya atau melacur, yaitu Pan Jinlian yang mengacu pada suatu kisah perselingkuhan perempuan bernama Pan Jinlian pada era dinasti Tang. Karena nama Li Xuelian juga ada kata 'Lian' di bagian belakang namanya, maka seenaknya saja Qin menyebut Lian sebagai Pan Jinlian alias pelacur. Kata-kata Qin ini menyebar ke seantero desa dalam kurun waktu 24 jam dan hancurlah nama baik Lian. Tidak terima dengan kebohongan dan hinaan Qin, maka Lian melakukan gugatan atas perceraian palsunya ke pihak berwenang di kampungnya, namun ia gagal memenangkan kasusnya. Dasarnya ya dokumen perceraian mereka sah secara hukum dan nggak ada bukti apapun yang bisa menguatkan soal perjanjian Lian dan Qin tentang rencana perceraian palsu mereka. 

Kasus Lian ini bikin pusing pejabat setempat, karena toh secara hukum perceraian Lian dan suaminya sah secara hukum. Lian menemui polisi lokal, jaksa lokal, pengadilan lokal, hakim lokal; pokoknya semua pejabat di level birokrasi ia temui untuk mengadukan masalahnya. Mau hujan atau panas, pokoknya Lian maju terus menemui para pejabat itu. Sampai suatu waktu, saking marahnya, ia mengasah golok dan meminta adik lelakinya untuk membunuh mantan suaminya dan seluruh pejabat yang menolak menangani kasusnya. Sang adik lelaki menolak membunuh sehingga Lian menemui seorang temannya yang menyukainya. Temannya itu bersedia membantunya asalkan Lian mau bercinta dengannya. Tapi, pas mengetahui jumlah orang yang ingin Lian bunuh begitu banyak, maka lelaki ini mundur. "Cinta, aku bukan mafia," kata lelaki itu. 

Lian berjuang sendirian. Sebagai perempuan kampung yang nggak ngerti-ngerti amat soal hukum, dia memperjuangkan kasusnya tanpa didampingi pengacara. Maka sesekali ia mengadu kepada sapi kesayangannya, karena menurutnya mengadu pada pejabat seringkali nggak ada gunanya. Bicara dengan suami yang telah memanipulasinya juga percuma sebab lelaki itu sudah menikmati hidup baru dengan selingkuhannya di apartemen yang menjadi asal muasal perceraian palsu Lian. Perempuan itu kesal, betapa suaminya menipunya demi perempuan lain hingga membuatnya keguguran. Derita ini membuat Lian sangat marah. Lian marah kepada dirinya, suaminya dan semua pejabat yang nggak mau menolongnya. 

Merasa semua pejabat di kampungnya nggak berpihak padanya, Lian pergi ke Beijing. Di sana ia sempat bertemu dengan seorang petinggi dan mengadukan kasusnya pagi-pagi buta, sehingga kasusnya dibawa si pejabat tinggi ke National People's Congress (NPC) atau semacam pertemuan tahunan badan legislatif tertinggi di China. Dalam pertemuan ini, para anggota dewan biasanya membicarakan hal-hal krusial, seperti perubahan undang-undang. Nah, kasusnya Lian dibahas di forum ini dan membuat sang pejabat tinggi marah besar. Katanya, masa iya kasus perceraian antara suami istri nggak bisa diselesaikan di level kampung dan malah jadi masalah besar hingga Lian, seorang perempuan kampung harus melaporkan kasusnya di Beijing. Ini semacam biji selasih tiba-tiba berubah jadi semangka. Masalah kecil berubah jadi besar karena birokrasi nggak berfungsi dengan benar dan para pejabat lokal melarikan diri dari tanggung jawab. Gara-gara masalah ini, sejumlah pejabat kena hukuman dan dipecat dari jabatannya. Pokoknya, kasus Lian ini bikin pusing tujuh keliling. 

Meski kasus Lian udah dibahas di forum sekelas NPC, tetap aja kasusnya nggak kelar. Sudah sepuluh tahun lamanya Lian dengan rajin memasukkan gugatannya dan masalahnya selalu mengusik pada pejabat yang bertemu di NPC, selama itu pula para pejabat pusing dan stress, sementara Qin Yuhe asyik menjalani pernikahannya. Maka pada tahun ke 11, para pejabat itu bekerja sama untuk membuat Lian tidak kembali mengajukan gugatan atas kasusnya. Sejumlah orang dikirim untuk bernegosiasi dengan Lian; atau sejumlah orang dikirim untuk mengawasi Lian supaya nggak keluar dari kampungnya; hingga ada persekongkolan antara seorang pejabat lokal dan seorang teman Lian agar Lian kembali jatuh cinta, melupakan kasusnya dan membangun hidup baru. Zhao Datou akhirnya berhasil membawa Lian ke luar dari kampung dan pergi ke suatu tempat yang jauh, untuk memulai hidup baru. Ia memerkosa Lian dan mengajaknya menikah, dengan imbalan anak lelakinya mendapatkan jabatan resmi di pemerintahan. 

Lian sangat marah mendengar muslihat itu dan mengubah niatnya. Lian yang tadinya nggak akan melaporkan kasusnya ke Beijing, kini malah pergi ke Beijing dengan kemarahan menumpuk di dadanya atas ketidakbecusan semua orang membawa keadilan padanya dan atas tipuan sahabatnya sendiri. Para pejabat jadi kalang kabut mendengar Lian pergi ke Beijing, sehingga dikerahkan polisi untuk memeriksa semua orang yang melakukan perjalanan ke Beijing. Dalam perjalanan ke Beijing, Lian sakit dan terpaksa polisi menurunkannya di kota terdekat agar ia mendapatkan perawatan. Namun, karena dompetnya dicopet dan seluruh uangnya raib, ia tidak bisa membayar biaya perawatan. Saat mengambil uang di sepupunya di sebuah pasar di Beijing, gerombolan pejabat akhirnya menemukan Lian. Mereka mengabarkan bahwa Qin Yuhe meninggal dalam sebuah kecelakaan. Logikanya, nggak mungkin dong Lian menggugat orang yang sudah meninggal. 

Mendengar itu Lian menangis. Ia membenci Qin Yuhe yang meninggal dunia tanpa membersihkan namanya dan membenahi hidupnya yang hancur. Musuh terbesarnya telah mati dan Lian nggak punya semangat hidup, toh namanya sudah rusak dengan sebutan Pan Jinlian. Maka ia bersiap gantung diri. Namun, seorang kerabatnya buru-buru menghentikan tindakan konyolnya. Katanya, kalau Lian mati gantung diri di pohon itu, nanti akan membawa sial pada si pohon dan para tetangga ogah membantunya panen. Klo Lian mau bunuh diri, lakukanlah di pohon milik musuh kerabatnya itu. Dan, Lian nggak jadi bunuh diri. Sepertinya ia mendapat inspirasi untuk melanjutkan hidupnya karena ia tersenyum bijak.  

Akhirnya Lian pindah ke Beijing dan membuka restoran mi bersama sepupunya. Pejabat yang dulu dipecat gara-gara mengabaikan kasus Lian kini jadi seorang pebisnis dan mereka bertemu. Mereka ngobrol tentang kasus Lian dan perempuan itu menceritakan alasan sebenarnya tentang mengapa ia dan mendiang mantan suaminya bersekongkol untuk melakukan perceraian palsu. Saat itu Lian sedang hamil dan berharap properti yang dibeli setelah perceraian palsu itu akan diberikan ke si anak. Namun, karena terlalu syok saat mengetahui Qin Yuhe menceraikannya karena punya selingkuhan, Lian mengalami keguguran. Selama sepuluh tahun Lian memperjuangkan hak bercerai dengan benar sesungguhnya demi anaknya yang tidak pernah dilahirkannya dan membersihkan nama baiknya: sebab ia bukan pelacur. 

Kisah ini adalah satir belaka dan merupakan hiburan yang menarik. Informasi nggak berpusat pada si tokoh utama, melainkan pada sistem birokrasi yang nggak jelas dan pejabat yang nggak bertanggung jawab atas posisinya. Awalnya, Lian hanya menggugat satu orang yaitu suaminya yang mangkir atas perjanjian mereka terkait perceraian palsu dengan properti. Namun kemudian, kasusnya menjadi makin rumit saat Lian menggugat semua pejabat yang menolak membantunya. Dalam memperjuangkan kasusnya, Lian hujan-hujanan, atau kadang harus bertanya kesana-kemari mengenai nomor plat para pejabat yang ditujunya, menghadang mobil si pejabat untuk mendapat perhatian hingga mendatangi pejabat penting di forum NPC. Ia mencurahkan banyak waktu, uang dan energi. Sebagai perempuan kampung, jelas ia sangat berani dan mengambil semua jalur yang ia pahami untuk mengadukan kasusnya, mendapatkan keadilan dan membersihkan namanya. 


Hal kontras lain yang menjadi perhatian juga bahwa seluruh aktor penting dalam kisah ini adalah seorang perempuan kampung yang lugu dan keras kepala, melawan para pejabat negara yang semuanya lelaki. Para pejabat yang mungkin berpendidikan tinggi dan memiliki tupoksi dalam lembaganya, ternyata nggak mampu mengurus masalah sederhana kelas kampung hingga harus menggegerkan Beijing. Ini menunjukkan bahwa kisah ini menyentil birokrasi yang malas, lebai, nggak bertanggung jawab dan ingin mengambil jalan pintas dalam sebuah kasus: membuat sang penggugat menyerah. Tetapi, Lian si perempuan kampung nggak menyerah karena ia sedang memperjuangkan martabat dan harga dirinya. 

Kisah ini epik, unik, fantastik dan menggelitik. Bikin menangis sekaligus tertawa. Tentang perempuan kampung yang keras kepala dan lugu yang memperjuangkan keadilan sendirian; melawan para pejabat dan penipu yang semuanya lelaki. Karena dalam hidup yang cenderung licik dan penuh muslihat, memang hampir mustahil memperjuangkan keadilan tanpa bantuan lembaga hukum. Pembaca harus menyaksikannya, karena hal semacam ini mungkin dialami salah satu dari kita. 

Bumi Manusia, Januari 2021

Bahan bacaan:
https://en.wikipedia.org/wiki/I_Am_Not_Madame_Bovary
https://en.wikipedia.org/wiki/National_People%27s_Congress


No comments:

Post a Comment