Green Jobs Sektor Energi Terbarukan, Karir Impian Anak Muda yang Bisa Banget Menyelamatkan Indonesia dari Kerusakan Lingkungan

Ilustrasi kota masa depan yang ramah lingkungan sebagai hasil dari green jobs. Sumber: terreform.info
 
"Nature holds the key to our aesthetic, intellectual,
 cognitive and even spiritual satisfaction." 
-Dr. Edward O. Wilson-

Green Jobs, apaan ya? Apakah jenis pekerjaan yang fokus pada hal-hal penghijauan seperti pertanian, perkebunan, kehutanan, daur ulang limbah dan produksi pangan organik? Hm, penasaran banget kan? Tapi, sebelum kita melanjutkan pembahasan lebih mendalam tentang apa itu green jobs dan mengapa kita harus ambil bagian di dalamnya, boleh perhatikan dulu gambar diatas. Yup, ilustrasi kehidupan di kota masa depan yang jadi impian manusia. Kota yang indah, teratur, bersih dan ramah lingkungan semacam itu hanya akan menjadi kenyataan melalui green jobs

Mari kita mulai dari Elon Musk, seorang billionaire yang sangat peduli isu lingkungan terutama perubahan iklim. Bloomberg menyebutkan bahwa Chief Executive Officer (CEO) Tesla ini memiliki penghasilan bersih senilai USD 180.7 Miliar dari penghasilan total senilai USD 199.2 Miliar, yang 'dianggap' sebagai 'Green Net Worth' atau penghasilan bersih hijau. Ya, lelaki ambisius ini memang memiliki banyak perusahaan berbasis teknologi ramah lingkungan seperti mobil ramah lingkungan hingga roket dari SpaceX. Nah, rupanya Elon Musk ini merupakan satu dari 15 Green Billionaire yang berbisnis dengan konsep keberlanjutan lingkungan. Industri kendaraan listrik beserta komponennya dan energi surya merupakan puncak dari green business. "When I think about climate change, I think about jobs," kata Elon. Artinya, dalam menghadapi dampak perubahan iklim, harus ada pekerjaan-pekerjaan yang diciptakan dan sumber daya manusia (SDM) yang disiapkan untuk melakukan inovasi dalam mengurangi dampak perubahan iklim. Itulah gambaran green jobs. 

SELAYANG PANDANG GREEN JOBS
Mengacu pada The United Nations Environment Program (UNEP), yang dimaksud green jobs adalah: "bekerja di pertanian, manufaktur, penelitian dan pengembangan (R&D), administrasi, dan kegiatan layanan yang berkontribusi secara substansial untuk melestarikan atau memulihkan kualitas lingkungan. Secara khusus, tetapi tidak secara eksklusif, ini termasuk pekerjaan yang membantu melindungi ekosistem dan keanekaragaman hayati; mengurangi konsumsi energi, material, dan air melalui strategi efisiensi tinggi; de-karbonisasi ekonomi; dan meminimalkan atau sama sekali menghindari pembentukan semua bentuk limbah dan polusi." Sektor lingkungan memiliki manfaat ganda dalam menghadapi masalah lingkungan, sekaligus membantu pertumbuhan ekonomi. Jadi, bumi selamat, pertumbuhan ekonomi lancar jaya. 

Sementara menurut the International Labor Organization (ILO), green jobs adalah pekerjaan bagus yang berkontribusi untuk melestarikan atau memulihkan lingkungan, baik di sektor tradisional seperti manufaktur dan konstruksi, atau di sektor hijau baru yang muncul seperti energi terbarukan dan efisiensi energi. Green jobs ini membantu meningkatkan efisiensi energi dan bahan baku; membatasi emisi gas rumah kaca; minimalkan limbah dan polusi; melindungi dan pulihkan ekosistem: serta mendukung adaptasi terhadap efek perubahan iklim. Intinya, dari sudut pandang holistik green jobs ini haruslah jenis pekerjaan yang baik, memproduksi barang/jasa ramah lingkungan, dan prosesnya tidak merusak lingkungan. Green jobs berarti pekerjaan yang baik untuk lingkungan, ekonomi dan manusia secara bersama-sama. 

Tingginya tingkat kebutuhan kita akan green jobs digambarkan dengan apik oleh ILO dalam video dibawah ini, dengan kawasan Asia Pasifik sebagai contoh kasus. Mengacu pada ILO, pertumbuhan di kawasan Asia-Pasifik paling tinggi di dunia. Wilayah perkotaan dibangun secara besar-besaran dan meningkatnya lapangan pekerjaan yang terus menggiring pada naiknya kebutuhan layanan dan sumber daya. Sayangnya, pertumbuhan ini juga ada harganya, di mana kawasan Asia sendiri merupakan penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia. Emisi gas rumah kaca ini menyebabkan perubahan iklim, membahayakan lingkungan dan manusia. Kawasan Asia juga selalu diserang bencana alam seperti kekeringan, tanah longsor, banjir, dan badai. Perubahan iklim menambah-nambahi dampak bencana alam, menjadi sebuah tragedi yang sangat merugikan, terutama karena menghancurkan rumah-rumah, bangunan milik publik dan tempat manusia bekerja. 


Selain itu, meningkatnya suhu bumi menciptakan masalah sendiri di sektor pertanian sehingga mengganggu produktivitas pangan, di mana dampaknya semakin banyak orang bahkan nggak bisa memberi makan keluarganya sendiri. Situasi ini mengerikan. Sehingga, agar kita bisa hidup di lingkungan yang bersih, sehat dan aman, maka kita memerlukan sistem ekonomi berkelanjutan yang mendorong ekosistem ramah lingkungan. Karena jenis-jenis pekerjaan manusia berkontribusi besar pada perubahan iklim, maka diperlukan upaya menuju green economy dengan melakukan investasi di green jobs. ILO sendiri sudah meluncurkan guidelines terkait hal ini, di mana green jobs akan mendorong restorasi lingkungan dan memerangi perubahan iklim. Green jobs bermakna kesetaraan di lingkungan kerja, aspirasi yang didengarkan, penghasilan yang baik dan adil, pekerjaan yang baik dan ramah lingkungan, dan lingkungan kerja yang aman. 
Data ini menunjukkan mengapa kawasan Asia Pasifik membutuhkan green jobs. Sumber: ILO

ILO mendorong green jobs dalam rangka meningkatkan efisiensi penggunaan energi, membatasi emisi gas rumah kaca dan meminimalkan limbah dan polusi. Green jobs merupakan kunci dari upaya preventif, mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. ILO juga menilai bahwa kawasan Asia Pasifik sangat potensial dalam meningkatkan green jobs. Misalnya, hingga saat ini sudah ada 5 juta pekerjaan di sektor energi bersih dan terbarukan. Jika kawasan Asia Pasifik berani berinvestasi di sektor energi bersih dan terbarukan, maka akan tercipta 14 juta green jobs. Investasi ini sangat bagus dalam dalam menciptakan ruang diskusi yang dinamis antara pekerja, perusahaan dan pemerintah guna membuat kebijakan, strategi dan regulasi mengenai green economy. Negara-negara di kawasan Asia Pasifik sebaiknya memang berinvestasi di green jobs karena akan menguntungkan bagi lingkungan, ekonomi dan masyarakat secara bersama-sama. Dengan green jobs, kita bisa menciptakan masa depan yang berkelanjutan sebagai ruang hidup yang aman bagi semua orang. 

Berbasis konsep yang umum terkait green jobs, maka pekerjaan akan dipengaruhi 4 hal utama yang dipengaruhi  oleh orientasi ekonomi berkelanjutan: 
  • Pekerjaan baru akan diciptakan: misalnya profesi pengontrol polusi, insinyur pembuatan mobil listrik, teknisi panel surya, pakar energi panas bumi, tenaga charger mobil listrik dan sebagainya. 
  • Sebagian besar pekerjaan akan diganti: misalnya peralihan dari bahan bakar fosil ke energi bersih dan terbarukan, atau tenaga penimbunan sampah ke daur ulang. 
  • Beberapa jenis pekerjaan tertentu akan diganti atau dihilangkan: berkurangnya industri plastik karena berubahnya permintaan pasar pada kemasan ramah lingkungan. 
  • Transformasi profesi: misalnya tukang pipa, tukang besi, tukang logam dan pekerja konstruksi akan bertransformasi menjadi tukang-tukang yang bekerja dalam iklim ramah lingkungan. 

Transisi dari pekerjaan konvensional yang tidak ramah lingkungan mendorong lahirnya profesi-profesi baru atau upgrade ke profesi ramah lingkungan. Berdasarkan karakternya, sampai saat ini ada 19 jenis green jobs yang berlaku di seluruh dunia sebagai jenis profesi yang menjanjikan, yaitu: Agricultural Scientist, Climate Change ScientistConservation Officer, Ecologist, Electric Car Engineer, Environmental Engineer, Environmental Scientist, Environmental Consultant, Environmental Health Officer, Environmental Manager, Forestry Manager/Forester, Green Building Designer, Marine Biologist, Recycling Worker, Renewable Energy Engineer, Solar Photovoltaic (PV) Installers, Urban Grower/Urban Farmer, Water Quality Scientist, Wind Energy Technician (baca DISINI)

Sementara itu, berdasarkan negara yang telah mengembangkan green jobs, yang berdampak pada meningkatnya produktivitas pekerja dan pendapatan mereka, juga meningkatkan efisiensi penggunaan energi ramah lingkungan, yaitu: Australia, Brazil, China, Jerman, Jepang, dan Amerika Serikat. Pada 2018, Australia menghasilkan 21% total energi bersih dan terbarukan, serta memiliki lebih dari 20.000 pekerjaan. Pada 2016, Brazil memiliki 934.000 green jobs di sektor energi bersih dan terbarukan, dan ini pencapaian paling tinggi nomor dua di dunia. Brazil juga memimpin dalam penyediaan liquid biofuels dengan 845.000 pekerjaan, ditambah dengan 41.000 pekerjaan di sektor energi matahari, 36.000 pekerjaan di energi angin, dan 12.000 pekerjaan di sektor mikro hidro. Pada 2018, Brazil memiliki 893.000 pekerja di bidang industri energi terbarukan. Jumlah ini jauh melampaui pekerja sektor energi terbarukan di Jerman yang berjumlah 332.000 pekerja. 

Lalu, orang-orang yang bekerja di green jobs ini disebut sebagai green collar worker alias pekerja kerah hijau. Kebijakan internasional dan inisiatif transisi ke green economy yang menumbuhkan green jobs, jelas meningkatkan permintaan jumlah pekerja di sektor ini dengan banyak jenis skills dan expertise. Kebijakan suatu negara yang berkomitmen melakukan transisi ke green economy meningkatkan ekspektasi sosial-formal dalam mendorong banyak perusahaan untuk mempekerjakan para ahli di bidang lingkungan, energi bersih dan terbarukan, hingga penyelamatan keanekaragaman hayati. Lebih jauh lagi, transisi ke green economy ini juga mendorong dibuatnya Green Social Responsibility atau tanggung jawab perusahaan kepada komunitas setempat yang ramah lingkungan. Terutama dalam situasi krisis ekonomi dan lingkungan global saat ini, transisi ke green economy jelas akan menciptakan jutaan green jobs, membantu pemulihan ekonomi dan lingkungan, meningkatkan pendapatan para pekerja di negara-negara miskin, serta memperkuat ketahanan energi dan pangan. 

KEBIJAKAN INTERNASIONAL TERKAIT GREEN JOBS
Pada 2008, the United Nations Environmental Program (UNEP), the International Labor Organization (ILO), the International Trade Union Confederation (ITUC), dan the International Employers Organization (IEO) bersama-sama meluncurkan Green Jobs Initiative. Kebijakan internasional ini dibuat dengan tujuan untuk membawa umat manusia pada transisi ke green economy  dengan menyediakan ruang bagi pekerja, pengusaha dan pemerintah; untuk duduk bersama, merundingkan kebijakan efektif dalam membangun pekerjaan ramah lingkungan. 

Selain itu, ada juga 
Just Transition sebuah kerangka kerja yang dikembangkan oleh the trade union movement atau gerakan serikat pekerja. Kerangka kerja ini mencakup berbagai intervensi sosial yang diperlukan guna mengamankan hak pekerja dan mata pencaharian mereka ketika ekonomi beralih ke produksi yang berkelanjutan, seperti pekerjaan-pekerjaan yang diperuntukan memerangi dampak perubahan iklim dan melindungi keanekaragaman hayati. Ini telah disahkan secara internasional oleh pemerintah di berbagai arena, termasuk Organisasi Buruh Internasional (ILO), Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) dalam Perjanjian Paris, dan Konferensi Iklim Katowice (COP24) dan Uni Eropa.

PENDEKATAN GREEN JOBS 
ILO sebagai organisasi PBB yang berkomitmen memimpin transisi menuju green economy meluncurkan the ILO's Green Programme, yang telah membantu lebih dari 30 negara yang secara progresif membangun keahlian dan perangkat di sejumlah area pekerjaan: climate changes (perubahan iklim): green enterprise development (pembangunan perusahaan ramah lingkungan): the green jobs assessment institution (GAIN); green works; resources and cooperative and the green agenda; and skills development (peningkatan keterampilan). Layanan dari program ini meliputi: 
  • Knowledge Creation (penciptaan pengetahuan): mendokumentasikan pengalaman, melakukan studi global, regional dan sektoral, dan menghasilkan laporan dan pedoman unggulan tentang hubungan antara masalah tenaga kerja dan lingkungan.
  • Advocacy (advokasi): membangun kemitraan, seperti The Partnership for Action on Green Economy (PAGE), dan terlibat dalam dialog dan proses negosiasi kunci untuk meningkatkan koherensi kebijakan internasional
  • Capacity Building (peningkatan kapasitas): memberikan kesempatan kepada pemangku kepentingan untuk mempelajari tentang konsep pekerjaan hijau utama, pendekatan yang sesuai, alat yang ada, dan praktik terbaik. Program pelatihan, yang ditawarkan bekerja sama dengan ITC-ILO's Green Jobs Learning Cluster, di tingkat internasional, regional dan nasional, bertujuan untuk memberikan para pemangku kepentingan pengetahuan yang diperlukan untuk terlibat secara efisien dalam desain strategi untuk penciptaan lapangan kerja ramah lingkungan.
  • Diagnostic and Prioritization (diagnosa dan prioritas): mengidentifikasi sektor ekonomi dengan potensi tinggi untuk penciptaan lapangan kerja hijau melalui penilaian pekerjaan hijau nasional
  • Pilot Project (proyek percontohan): pendekatan sektoral dan tematik dikembangkan dan diuji seperti kewirausahaan hijau, penghijauan perusahaan dan pembangunan infrastruktur lokal untuk adaptasi terhadap perubahan iklim
  • Policy Advice (saran kebijakan): pendekatan sektoral dan tematik dikembangkan dan diuji seperti kewirausahaan hijau, penghijauan perusahaan dan pembangunan infrastruktur lokal untuk adaptasi terhadap perubahan iklim
  • Knowledge Sharing (berbagi pengetahuan): sehingga orang lain dapat belajar dari praktik terbaik dan pengalaman negara.
Pendekatan green jobs dalam The ILO's Green Jobs Programme

GREEN JOBS: INDONESIA DAN BONUS DEMOGRAFI
Aku sering sekali menemukan keluhan mengenai sulitnya mencari kerja di Indonesia. Terutama saat pandemi COVID-19 menyerang pada awal 2020 silam hingga saat ini, di mana lebih dari 2 juta orang pekerja di sektor formal mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Jumlah ini belum ditambah dengan pekerja sektor informal yang kehilangan pekerjaan, termasuk aku yang meskipun freelancer ya kehilangan pekerjaan juga (sedih), atau usahanya gulung tikar. Jumlah masyarakat yang kehilangan pekerjaan di masa pandemi, jelas menambah angka pengangguran. Karenanya, saat pandemi melanda dan kehilangan pekerjaan, aku memutuskan bergabung menjadi anggota sebuah serikat pekerja yang menaungi pekerja kreatif. Di tengah situasi yang tidak menentu dan sedikitnya jumlah lapangan pekerjaan, aku berharap tetap bisa mendapatkan pekerjaan paruh waktu dari hasil berjejaring dengan sesama pekerja kreatif. 

Keluhan susahnya mencari kerja juga datang dari kelompok muda yang baru saja lulus sekolah (SMA, MA dan SMK) dan fresh graduate tahun 2020. Sudahlah wisuda kelulusan dilakukan secara online, malah jadi pengangguran karena sedikitnya lowongan kerja. Memang sih, ada jenis pekerjaan yang bisa dijalankan dari rumah, tapi jumlahnya sedikit dan jelas tidak mampu menampung seluruh pencari kerja. Sehingga diperlukan upaya dan investasi dalam menciptakan lapangan kerja yang sustainable dan mampu bertahan dari gempuran hebat semacam pandemi. Maka, green jobs dapat menjawab tantangan ini karena semangatnya selaras dengan transisi ke green economy di era New Adaptation (Adaptasi Baru). 

Situasi dan kondisi saat ini, di mana anak muda yang jumlahnya melimpah sebagai bonus demografi, mengharuskan perusahaan dan negara melakukan investasi di green jobs. Investasi di green jobs merupakan langkah krusial agar anak muda bisa melihat bahkan menciptakan peluang kerja sebagai respon atas dampak pandemi global dan perubahan iklim. Jika negara berinvestasi di green jobs dan mendorong anak muda terlibat dalam menciptakan peluang, maka sangat mungkin jika green jobs akan menjadi identitas, kebanggaan dan keunggulan tersendiri. Anak muda akan tumbuh dalam iklim kompetitif sekaligus inklusif dalam menciptakan green jobs, dan tidak lagi menunggu lowongan kerja demi berkontribusi dalam kehidupan sosial, mengurangi dampak perubahan iklim dan menyelamatkan lingkungan. 

Green jobs adalah masa depan dan pilihan karir ideal bagi anak muda yang peduli pada Indonesia yang lebih bersih. Pandemi COVID 19 merupakan momentum dan titik balik bagi anak muda untuk meninggalkan pekerjaan-pekerjaan berbasis model ekonomi karbon, ke green economy melalui pekerjaan ramah lingkungan dan inklusif. 

Masa depan green jobs di Indonesia sangat potensial. Transisi 3 sistem sosial-ekonomi kunci di sektor pangan, dan pemanfaatan hutan lahan; infrastruktur dan lingkungan buatan; serta energi dan industri ekstraktif dapat menciptakan 395 juta pekerjaan dengan prediksi pendapatan USD 10.100 Miliar pada 2030. Oleh karena itu, pemerintah dapat memasukkan green jobs ke dalam kebijakan pemulihan ekonomi nasional di era Adaptasi Baru. Sehingga, anak muda mendapatkan dukungan, perlindungan, dan jaminan (hukum, akses informasi dan permodalan) dalam menciptakan dan mengelola peluang green jobs

Bicara peran pemerintah dalam transisi ke green economy, kita perlu melihat peran Global Green Growth Institute (GGGI) Indonesia. Peran dan tujuan GGGI di Indonesia adalah membantu Pemerintah Indonesia dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi hijau dengan mengembangkan kapasitas, mendorong investasi, dan merancang proyek-proyek hijau yang memberikan manfaat sosial, lingkungan, dan ekonomi bagi masyarakat Indonesia. 

Selama 15 tahun terakhir, Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang konsisten yaitu 6% per tahun. Namun demikian, pemerintah menargetkan bahwa pada 2030 Indonesia menjadi negara berpenghasilan tinggi. Nah, Green Growth Programme (GGP) antara pemerintah Indonesia dan GGGI dirancang agar Indonesia berhasil mencapai prioritas tersebut. Termasuk dalam mendorong komitmen pencapaian Sustainable Development Goal (SDG) Indonesia dan Nationally Determined Contribution (NDC). Program ini telah dimulai sejak 2015 dan saat ini berada di fase III. Investasi dan implementasi GGP fase III ini bertujuan mewujudkan proyek-proyek hijau yang layak mendapat pinjaman dari bank dan mengakses pendanaan iklim dan keuangan hijau secara lebih luas, dalam tiga fokus sektor energi, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan mitigasi berbasis hutan dan lahan. Terdapat 3 tantangan utama implementasi green growth di Indonesia saat ini: 
  • Meningkatnya ketimpangan dan penggunaan modal alam yang tidak berkelanjutan: di mana sumber daya alam sebagai modal pertumbuhan ekonomi hijau telah rusak parah dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Selama puluhan tahun sumberdaya alam di darat dan di laut dikuras habis-habisan. Sementara itu, kota-kota besar menjadi sumber polusi dan desa-desa semakin menyempit akibat ekspansi industri yang memakan lahan pertanian. 
  • Kerentanan terhadap perubahan iklim: Indonesia adalah negeri yang rentan mengalami bencana alam, yang semakin diperparah oleh dampak perubahan iklim dan pemanasan global. 
  • Pemulihan pasca pandemi COVID-19:  efek langsung dari perubahan iklim dan pemanasan global adalah menurunnya pertumbuhan ekonomi. Hal ini diperparah dengan timbunan masalah baru yang muncul sejak pandemi COVID-19 melanda. Pandemi menjadi beban tambahan bagi semua pihak baik masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Oleh karena itu, melakukan pemulihan ekonomi menjadi ekonomi hijau dan berkelanjutan merupakan tantangan yang harus dihadapi. 

Dalam laporan yang ditulis oleh tim Low Emission Capacity Building Programme (LECBP) pada 2015 yang berjudul "Indonesia Green Economy Model (IGEM)" menyebutkan bahwa desain ekonomi yang benar untuk pembangunan berkelanjutan adalah green economy. Transisi ekonomi Indonesia ke green economy sudah dimulai sejak diterapkannya Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJMN) 2015-2019. Indikator yang digunakan untuk mengukur aktivitas ekonominya adalah "Green GDP", "Decent Green Jobs", dan "GDP of the Poor" untuk memungkinkan pemangku kebijakan di level nasional dan lokal mengelola sumber daya alam untuk menciptakan lapangan kerja, meningkatkan daya saing dan menyelamatkan lingkungan. 

Kementerian Perencanaan Pembangunan PPN/BAPPENAS sebagai lembaga kunci pembangunan di Indonesia memiliki 4 strategi dalam implementasi sustainable growth with equality, yaitu: pro-environment (sejak 2007), pro-jobs, pro-growth dan pro-poor (berbasis RPJMN 2010-2014). Pada 2018, BAPPENAS menyatakan komitmennya dalam mendorong pembangunan green economy dan penerapan Low Carbon Development Initiatives (LCDI) dalam RPJMN 2020-2024. Sehingga rencana tersebut menjadi pembangunan rendah karbon pertama dalam sejarah Indonesia. Saat ini, DPR RI juga masih menggodok Rancangan Undang-Undang Energi Baru dan Terbarukan (RUU EBT). Pengesahan RUU EBT ini masih kontroversial karena sangat ambisius dan ditargetkan rampung pada Oktober 2021. Kebijakan ini digadang-gadang akan menjadi panduan hukum transisi ke EBT yang menjadi motor bagi pencapaian green economy. Asumsinya kan, jika penggunaan EBT sudah dimulai, maka sektor lain akan mendapatkan manfaatnya, sehingga ambisi green growth pun akan tercapai. 

POTENSI GREEN JOBS UNTUK INDONESIA BERSIH
Setelah panjang lebar kita belajar mengenai apa itu green jobs dan green economy, dan apa manfaatnya bagi Indonesia saatnya menentukan mau berkontribusi di mana dan sebagai apa. Implementasi green jobs di Indonesia masih sangat sedikit, jika kita mau membandingkannya dengan kebutuhan ideal transisi ke green economy dan masa depan yang berkelanjutan. Selain bergabung di jenis-jenis green jobs yang sudah eksis di 3 sektor utama, kita juga sebenarnya bisa menciptakan peluang kerja melalui aneka inovasi. 

Dari sekian banyak pilihan green jobs, salah satu sektor yang sedang naik daun adalah sektor energi baru dan terbarukan (EBT). Sektor EBT menjadi salah satu green jobs keren karena Indonesia sendiri sangat kaya akan sumber-sumber energi terbarukan, seperti matahari/solar, gelombang laut, bioenergi, panas bumi, dan angin. Sumber-sumber energi terbarukan di Indonesia ini sangat melimpah dan tersebar di seluruh penjuru nusantara. Kebutuhan green jobs di sektor EBT sangat mendesak dan krusial mengingat kebutuhan energi di Indonesia sangat besar. World Resource Institute (WRI) menyebutkan bahwa EBT jawaban dalam mengatasi banyak sekali masalah di tanah air. Terdapat 3 alasan penting mengapa investasi di sektor EBT sangat menguntungkan bagi semua pihak, yaitu: 
  • EBT menghasilkan keuntungan ekonomi 3-8 kali lipat dari investasi awal. 
  • Ketidakstabilan harga bahan bakar fosil menjadi peluang global untuk beralih ke EBT.
  • Investasi EBT dan efisiensi energi ambisius dapat menciptakan 65 juta lapangan kerja pada tahun 2050.
Penggunaan EBT memberi pengaruh secara signifikan dalam mendorong green jobs di sektor lain. Misalnya sektor transportasi, transisi dari kendaraan berbahan bakar fosil ke energi listrik akan mengurangi polusi, mengurangi jumlah orang sakit akibat terpapar polusi dari asap knalpot kendaraan dan sebagainya. Di masa depan, rumah-rumah, gedung-gedung, tempat ibadah yang menggunakan energi listrik berbasis energi EBT akan berkontribusi pada upaya penyelamatan lingkungan seperti berkurang hingga berhentinya pertambangan batubara sehingga hutan-hutan bisa selamat dari kerusakan. Jika hutan-hutan selamat dari kerusakan akibat pertambangan, kita akan terhindar dari bencana longsor, kekeringan, kekurangan air bersih dan sebagainya. Masyarakat yang tinggal di desa-desa sekitar hutan pun bisa tetap nyaman tinggal di sana tanpa perlu mengungsi ke kota-kota demi mendapatkan pekerjaan. 

Sebagai perbandingan dan pembelajaran lebih jauh, data dibawah ini bisa memberi kita gambaran mengenai potensi green jobs sektor EBT di Indonesia per 2030. Karena Indonesia masih dalam masa transisi dari energi fosil ke EBT, maka besarnya peluang berkarir di green jobs juga bermakna akan banyak orang yang selama ini bekerja di sektor energi fosil seperti batubara kehilangan pekerjaan. Jadi, mungkin kita bisa melihat potensi lain agar para pekerja di sektor energi batubara tidak kehilangan pekerjaan, melainkan mendapatkan kesempatan skill upgrading agar menjadi pekerja di sektor energi terbarukan. 

Jumlah green jobs di sektor energi EBT di Indonesia sih memang masih sedikit, nggak sebanding dengan jutaan pencari kerja yang putus asa. Namun peluangnya begitu besar. Informasi berikut mungkin bisa menjadi inspirasi untuk kita bergabung di sektor yang sudah berjalan, atau malah menciptakan lapangan pekerjaan baru yang ramah lingkungan. Just grab the opportunity or create it, karena masa depan Indonesia milik anak muda: 
  • Bekerja di NGO atau organisasi bidang lingkungan: salah satu pakar terkenal yang membantu masyarakat memanfaatkan energi mikrohidro sebagai salah satu bentuk EBT adalah ibu Tri Mumpuni Wiyatno, pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) yang telah membangun energi mikrohidro di 65 lokasi di Indonesia. Anak muda yang peduli lingkungan sekaligus melakukan pemberdayaan masyarakat di lokasi-lokasi terpencil, bisa nih bergabung dengan beliau. 
  • Bekerja di organisasi yang melakukan advokasi kebijakan bidang lingkungan: sebagai upaya melakukan promosi dan edukasi, serta mendorong gerakan energi terbarukan. 
  • Bekerja sebagai jurnalis di desk lingkungan: salah satu contoh media yang khusus berbicara isu lingkungan misalnya Mongabay karena peran jurnalis sangat penting dalam menyediakan berita-berita positif mengenai upaya Indonesia menuju penggunaan energi bersih dan terbarukan. 
  • Bekerja sebagai pakar hukum lingkungan: pasti profesi yang sangat keren dan menjanjikan nih, karena perannya sangat krusial dalam mengawal kebijakan-kebijakan pemerintah yang berkaitan dengan lingkungan, termasuk sektor EBT. 
  • Bekerja sebagai penulis/editor khusus isu lingkungan: kerja-kerja di bidang EBT tidak akan diketahui publik secara luas jika tidak ada penulis yang menceritakan semua pencapaian tersebut. Peran penulis sangat penting untuk membangun kepercayaan publik bahwa Indonesia bisa lho melepaskan diri dari energi fosil ke energi bersih. Misalnya membangun majalah online berbasis website yang isinya fokus melakukan edukasi dan promosi EBT. 
  • Menjadi fotografer atau videografer bidang lingkungan: foto dan video diketahui selalu bisa berbicara lebih kuat dari kata-kata. Maka, karya berupa foto dan video yang pesannya fokus melakukan edukasi dan promosi sektor EBT pasti berharga banget untuk Indonesia. 
  • Membangun start-up sektor EBT: ini malah lagi booming banget, di mana anak muda lagi suka bikin start-up. Sejumlah start-up sektor energi terbarukan sudah eksis, tinggal menunggu besar dan bermanfaat secara luas. Misalnya Ailesh Power yang fokus membuat limbah menjadi energi biofuel. Ada juga BOPS Agrotekno yang fokus menggunakan teknologi EBT untuk bidang pertanian. Ada juga Sylendra Power sebagai start-up bidang EBT yang membuat solar panel dan energy harvester
  • Membangun inkubator bisnis sektor EBT: Ada New Energy Nexus, sebuah inkubator dan akselerator sektor EBT. Lembaga seperti ini hadir karena start-up bidang EBT di Indonesia masih baru banget kayak bayi baru merangkak. Inkubator dan akselerator semacam ini diperlukan buat menggodok dan mematangkan konsep bisnis start-up sektor EBT yang peluangnya sangat besar di Indonesia. 
  • Menjadi Content Creator yang mempromosikan EBT: Kalau suka membuat konten untuk edukasi dan promosi, bisa banget mengembangkan karir sebagai Youtuber yang fokus membuat konten edukasi dan promosi tentang EBT. 
  • Menjadi novelis, penulis naskah, komikus, dan illustrator bidang lingkungan: pasti seru banget deh membuat cerita cinta-cintaan ala anak muda, tapi didalamnya terdapat pesan mengenai EBT. Sehingga generasi muda Indonesia akan menjadi terbiasa dengan informasi terkait EBT, bahkan bisa membangun mimpi berkarir di sektor EBT. 
  • Menjadi musisi yang mempromosikan sektor EBT: lha, memangnya bisa? Ya bisa banget sih. Musik dan lagunya bisa aja bertema cinta-cintaan. Tapi, kan bisa diselipkan pesan tentang EBT, pasti deh cinta-cintaannya romantis dan ramah lingkungan. 
  • Investasi saham di sektor EBT: kalau punya anggaran untuk investasi, boleh lah investasi di perusahaan-perusahan di sektor EBT. Bisa investasi langsung di perusahaan yang sudah ada atau jadi investor start-up sektor EBT yang mulai bermunculan. Menurut riset World Resources Indonesia (WRI) keuntungan ekonomi berinvetasi di sektor EBT tuh 3-8 kali lipat dari nilai awal lho. Wah, pasti cuan! 

Bagaimana, pembaca siap terjun dan memperjuangkan Indonesia yang lebih bersih melalui EBT dengan green jobs

Bumi Manusia, 20 Februari 2021

Bahan bacaan: 
https://www.ilo.org/global/topics/green-jobs/news/WCMS_220248/lang--en/index.htm
https://en.wikipedia.org/wiki/Green_job
https://www.nationalgeographic.com/environment/sustainable-earth/11-of-the-fastest-growing-green-jobs/
https://www.ilo.org/global/topics/green-jobs/lang--en/index.htm
https://en.wikipedia.org/wiki/Green-collar_worker
https://www.morningfuture.com/en/article/2020/01/24/2020-green-jobs-most-in-demand/833/
https://www.greeneconomycoalition.org/news-analysis/the-future-of-work-is-green
https://www.huffpost.com/entry/top-green-jobs-of-the-future_n_59ef5fe2e4b03535fa942057
https://www.learnhowtobecome.org/career-resource-center/green-careers/
https://gggi.org/country/indonesia/
https://www.tlffindonesia.org/wp-content/uploads/2018/01/Indonesia-Green-Economy-Model-I-GEM.pdf
https://youtu.be/NrNQzCjI8A4
https://www.cnbc.com/2021/02/02/bloomberg-analysis-green-companies-making-billionaires-like-elon-musk.html
https://thebossmagazine.com/elon-musk-renewable-energy/
https://www.bappenas.go.id/files/8814/1101/2887/INDONESIAS_GREEN_GROWTH_EFFORTS_18_september_2014.pdf
http://greengrowth.bappenas.go.id/en/goi-committed-to-low-carbon-development-and-green-economy/
https://wri-indonesia.org/id/blog/3-alasan-untuk-berinvestasi-di-sektor-energi-terbarukan-sekarang
https://berkas.dpr.go.id/pusatpuu/draft-ruu/public-file/draft-ruu-public-19.pdf
https://transisienergi.id/gallery/potensi-pekerjaan-hijau-green-jobs-di-era-transisi-energi/


No comments:

Post a Comment