Perempuan, Desa dan Kedaulatan Pangan

Para youtuber perempuan powerful dalam dunia kedaulatan pangan dan kekayaan kuliner. Sumber gambar: diolah oleh penulis dari mansionglobal.com dan youtube Liziqi, Dianxi Xiaoge, Traditional Me dan Poorna the Nature Girl. 
 
Sejak pandemi COVID-19 melanda dunia awal 2020 silam, sebagian besar manusia cenderung bingung, stress, dan nggak tahu harus melakukan apa. Disaat yang sama, banyak orang kreatif bermunculan dengan produk mereka yang menghibur, menenangkan dan membuat proses social distancing dan work from home lebih mudah dijalani. Mereka adalah para Youtuber bidang pertanian sekaligus masak-memasak ala pedesaan aka kampung. 

Hmm, apa hebatnya berkegiatan di bidang pertanian dan masak memasak, semua orang juga bisa? Sayangnya, menjaga kedaulatan pangan sejengkal dari rumah dan mengolahnya menjadi aneka menu (sebagai kekayaan kuliner) bukan perkara mudah. Perempuan-perempuan ini menunjukkan kepada dunia bahwa setiap biji beras, kedelai, tomat, timun, atau aneka sayuran dan buah-buahan, hingga ikan, udang, ayam dan daging bukan produk alam yang muncul dalam satu dua jam. Produk alam yang beraneka jenis, rupa, warna dan rasa itu terkadang memerlukan waktu berbulan-bulan bahkan 6 bulan untuk bisa dipanen. Belum lagi proses panen dan mengolahnya menjadi aneka menu yang memanjakan lidah memerlukan keterampilan khusus. Itulah mengapa, mereka menjadi youtuber paling dicari selama masa pandemi, karena kesederhanaan mereka membuat dunia merasa dibawa ke alam mimpi, di mana ketenangan desa dan kekayaan alamnya mampu meredakan rasa takut khas kota. bagaimanapun juga, orang kota takut kelaparan, sementara orang kampung hanya perlu melangkah ke pekarangan, pinggiran sungai atau hutan untuk mencari bahan pangan. 

1| LIZIQI - CHINA
Perempuan ini sangat populer. Video-videonya membuat penggemarnya serasa dibawa terbang ke alam kahyangan, di mana hidup di desa terpencil begitu menenangkan. Pekarangan rumah Liziqi dipenuhi segala macam sayuran, rempah, herbal, buah-buahan, bunga, umbi-umbian, ikan hingga aneka ternak. Belum lagi jamur yang tumbuh di pohon tua. Kampung tempat Liziqi tinggal juga dikelilingi pegunungan yang menyediakan aneka pangan gratis mulai dari jamur paling mahal sedunia, madu alam, buah-buahan, wild vegetables, rempah, herbal, dan bunga-bunga; yang semuanya organik dan bisa dimakan. Belum lagi keong, ikan, dan kepiting dari sungai atau danau yang gratis. 


Liziqi sering dipuja penggemarnya sendiri sebagai "Real Princess" atau "Dewi di Bumi" atau "Women over Women in the World" atau "The Most Wanted Wife" dll saking nih perempuan serba bisa, kuat, kreatif, dan kayak nggak pernah kehabisan energi. Dia perempuan mungil dan cenderung kurus, tapi sangat cantik sekaligus penuh talenta. Dia tidak hanya menghadirkan bagaimana cara memasak dan menikmati kuliner khas Sichuan. Juga menunjukkan bagaimana sumber pangan itu dihasilkan. Tak heran jika setiap videonya bisa ditonton puluhan juta kali dan jumlah penggemar internasionalnya selalu meningkat. Setiap videonya penuh pujian dan rasa terima kasih karena telah menjadi inspirasi. 


Liziqi sangat serius dalam bekerja dan memproduksi video-videonya. Untuk satu video berkaitan dengan jamur, ia bahkan harus ke gunung demi mencari jamur liar; untuk video tentang ginseng dan madu, ia bahkan harus ke sebuah gunung tertentu yang sangat jauh; untuk membuat video tentang masakan rebung, ia harus ke gunung untuk memanen rebung liar; untuk menikmati wine ia harus menanam anggur dan menunggu panen hingga bisa mengolahnya sebagai homemade wine; untuk bikin menu berbasis telur asin ia memulainya dengan membesarkan sekumpulan bebek dan seterusnya. 

Perjalanan hidup dan karir Liziqi nggak mudah, dan cenderung menyedihkan. Ia berasal dari keluarga teramat miskin di sebuah pedesaan Miayang, China. Pada usia kecil ibunya meninggal dunia, hingga ayahnya menikah lagi dan ia terpaksa tinggal dengan ibu tirinya. Saat ayahnya meninggal, ia kembali tinggal bersama kakek dan neneknya. Pada usia 14 tahun ia harus drop out dari sekolah karena kemiskinan akut dna terpaksa merantau ke kota Miayang demi mengubah nasib. Namun, merantau di kota selama 8 tahun tidak membuahkan hasil dan ia malah hampir jadi gelandangan. Pada 2012 ia kembali ke kampungnya saat neneknya sakit keras dan harus menerima nasibnya sebagai petani. Saat ia mulai mengembangkan karir terbarunya sebagai food vlogger, barulah nasib baik memberinya hadiah atas kesabarannya selama ini. Sejak 2016 karirnya mulai melejit. Pertama-tama ia populer di China hingga dunia. 

Kini ia punya 14 subscriber di Youtube dengan video yang selalu ditonton puluhan juta kali. Liziqi pun disebut-sebut sebagai warga teladan yang dipuja Partai Komunis China, dan menjadi miliarder muda yang sangat dermawan. Perempuan ini melakukan edukasi tentang pangan tanpa bicara. Ia hanya bekerja dan menunjukkan bagaimana sebutir beras dihasilkan, seekor domba dibesarkan, semangkuk es krim dibuat, dan sebuah hidangan lezat dimasak. Dia juga tidak punya banyak idealisme dalam bekerja. Ia hanya hendak menunjukkan kepada anak-anak di kota bagaimana pangan dihasilkan dan sampai ke meja untuk dinikmati. Juga bagaimana seorang perempuan desa putus sekolah menghadirkan hiburan menyenangkan bagi warga kota yang stress karena terjebak kehidupan kota sebagaimana pernah dialaminya. 

2 | TRADITIONAL ME - SRI LANKA
Youtuber ini memperkenalkan dirinya sebagai Nadee, entah nama sebenarnya atau panggilan. Ia tinggal di pedesaan Sri Lanka bersama nenek dan adik lelakinya. Ia memulai debutnya sebagai Youtuber pada Maret 2020, saat pandemi COVID-19 menyerang dunia. Ia menyuguhkan video berisi proses mengumpulkan bahan pangan dari kebun atau tempat di sekitar desa di mana ia tinggal. Rumahnya sederhana, namun terkesan nyaman dan bersih. Ia memasak di dapur menggunakan tungku kayu bakar. Alat memasaknya lebih banyak berupa kendi atau alat masak lain berbasis tanah liat. Dalam proses mengumpulkan makan dan memasak, ia sering dibantu adik lelakinya. Saat makan, barulah bertiga bersama sang nenek. 


Sangat menyenangkan melihat bagaimana Nadee mengumpulkan bahan pangan segar tak jauh dari rumah. Sesekali ada percakapan dengan adik lelakinya untuk melakukan ini dan itu, kemudian ia menikmati proses memasak yang sangat indah. Setelah selesai masak, barulah mereka bertiga makan. Ruang makannya ya di pinggir dapur, menghadap ke alam yang hijau, indah dan segar. Kadang, piring makan mereka terbuat dari tanah, mirip dengan ulekan tanah yang biasa digunakan di Indonesia. Lingkungan yang sehat dan bahan pangan nan segar, membuat makanan khas Asia Selatan itu begitu menggoda. 

Mengusung konsep "From Farm to Table" Nadee dan adik lelakinya menunjukkan bahwa makanan sehat itu seharusnya nggak jauh dari pintu rumah. Di mana, saat kita melangkah ke luar tersedia bahan pangan yang siap diolah. Video-videonya juga menunjukkan bahwa lelaki tidaklah tabu mengurus masakan di dapur, bukan sebagai 'membantu' melainkan berkontribusi pada bagaimana menu untuk makanan keluarga di buat. Aku selalu terhibur setiap kali Nadee meminta adiknya melakukan ini dan itu, seperti memanaskan oven, mengambil kulit kayu kelor, bersama-sama menebang tebu, atau saat sang adik lelaki membuatkan wadah nasi yang baru untuk Nadee dari pelepah palem. Hidup mereka begitu damai dan berkecukupan, saat dunia dilanda ketakutan oleh virus corona. 

3 | POORNA - SRI LANKA
Sama dengan Nadee, perempuan bernama Poorna juga berasal dari Sri Lanka dan memulai debut sebagai Youtuber pada Maret 2020. Corak videonya pun mirip, di mana seorang perempuan muda yang tinggal di pedesaan melakukan kegiatan khas desa seperti mengumpulkan bahan pangan lalu mengolahnya menjadi menu nan lezat: memasak menggunakan peralatan berbasis tanah liat seperti kendi; mengulek bumbu menggunakan ulekan batu; atau menumis menggunakan wajan besi; menaruh masakan di mangkuk berbasis tanah liat dan memasak menggunakan tungku kayu bakar. 


Poorna ini selalu menyediakan masakan khas Sri Lanka berbasis bahan-bahan di kebun keluarganya atau yang ia peroleh dengan gratis di alam, seperti bunga teratai biru. Dalam menyiapkan menu spesial untuk keluarganya, kadang ia menyiapkannya bersama ibunya. Keluarga kecilnya terlihat begitu bahagia dan berkecukupan. 

4 | DIANXI - CHINA
Perempuan yang bisa dipanggil Penji oleh keluarganya ini awalnya berkarir sebagai polwan. Namun, saat ayahnya sakit keras ia memutuskan kembali ke kampungnya di Yunnan, China. Ia memulai debutnya sebagai youtuber pada September 2018. Dianxi tinggal di rumah khas pedesaan bersama kakek-nenek, ayah-ibu, adik lelakinya yang masih kecil, dan sangat akrab dengan para tetangga. Banyak dari videonya yang menunjukkan interaksinya dengan kerabat dan tetangganya. Tak heran jika dalam video-videonya selalu muncul wajah-wajah yang berbeda dari keluarga inti. Hal yang istimewa juga karena ia memiliki seekor anjing manja dan setia bernama Dawang, yang selalu menemaninya saat mencari bahan pangan, memasak hingga saat makan bersama keluarga.
 

Video Dianxi tak seideal Liziqi, karena secara umum ia hanya memanen dan mengumpulkan bahan pangan sebelum mengolahnya menjadi aneka menu nan lezat. Cara memasaknya pun nggak sekreatif Liziqi. Namun demikian, suasana hangat selalu terasa sebab interaksi dengan manusia saat proses mengumpulkan bahan pangan dan memasak lebih banyak. Selain itu, Dianxi juga berinteraksi dengan penduduk Muslim dan seringkali mereka saling menolong pun memberi. Ia juga sering membuat vlog, dan yang terbaru adalah saat dia menyediakan jasa foto gratis bagi lebih dari 100 keluarga dan memberikan mereka hasil cetak foto kepada setiap keluarga, yang dibalas dengan oleh-oleh berupa makanan. 

DESA DAN MITOS KEMAKMURAN
Apa yang dilakukan para youtuber perempuan diatas sebenarnya hal biasa yang dilakukan para perempuan di desa-desa di seluruh dunia. Para perempuan dari keluarga petani biasanya menyiapkan makanan untuk keluarganya dengan mengumpulkan bahan pangan dari pekarangan, kebun atau area bersama seperti danau, sungai, hingga gunung. Atau ada yang modelnya murni dari kebun milik sendiri sehingga kalau mau makan menu tertentu harus menanam dulu dan bersabar menunggu hingga panen tiba, seperti yang dilakukan Liziqi. Mengapa aku bisa bicara demikian? Karena aku lahir dan tumbuh dari keluarga petani dan hal-hal yang dilakukan para youtuber terkenal ini adalah biasa di keluarga petani. 

Sejak kecil aku sudah terbiasa ikut keluarga ke sawah, misal untuk kegiatan menanam atau panen padi; ke kebun kopi untuk menyiangi rumput atau panen; atau untuk memanen buah tertentu dan sebagainya. Kadang dalam perjalanan pulang kami memanen rebung, pakis, jamur dan lainnya. Zaman aku SD-SMA kami ke kebun berjalan kaki. Kebun terjauh keluargaku terletak 7 km jauhnya dari kampung dan ya, aku harus berjalan kaki 7 km (dan menjadi 14 km pergi-pulang). Bahkan untuk mendapatkan tambahan uang jajaj, setiap hari Minggu aku ke kebun hanya untuk memanen cabe. Hasil panen cabe milikku akan kujual sendiri ke warung dan aku akan menikmati 100% hasil penjualan untuk membeli apapun yang kusuka. Saat panen kopi tiba, aku pun punya hak memanen kopi sebanyak yang aku bisa, lalu kopi itu aku jemur, aku giling dan kujual dan uangnya 100% kunikmati sendiri. Aku give up jadi petani karena aku punya alergi dan jadi petani itu berat. 

Keuntungan menjadi petani dan tinggal di desa, terlebih jika tinggal tak jauh dari pegunungan adalah kesempatan menikmati sebanyak mungkin ragam pangan mulai dari sayuran, buah-buahan, biji-bijian, umbi-umbian, kacang-kacangan, jamur, madu, udang, ikan, dan sebagainya. Sebuah penelitian bahkan menyebutkan bahwa anak-anak yang tinggal di desa dan dekat pegunungan cenderung makanan lebih beragam daripada anak-anak di kota. Tinggal di desa juga berkemungkinan lebih banyak mengkonsumsi pangan organik bahkan bahan pangan liar, yang akan sangat mahal jika pangan jenis itu dibawa ke kota. Sebagai orang desa yang merantau ke kota, aku mengakui semua itu benar. Oh, aku kangen kehidupan desa. 

Namun demikian, ketika kehidupan desa yang bisa menjadi sebuah produk berupa video sebagaimana yang disajikan para youtuber perempuan diatas, cara memaknainya akan menjadi berbeda. Dalam sebuah video, kehidupan desa yang keras akan nampak indah hingga menjadi impian orang kota. Mendaki gunung untuk mencari jamur dan sayuran liar terkesan sebagai petualangan, padahal aslinya capek banget. Memanen, menjemur dan menggiling padi terlihat begitu mengesankan; padahal aslinya bikin kulit gatal-gatal. Memasak menggunakan tungku kayu terasa begitu mengesankan, padahal ya ampun itu panas banget, bikin pakaian rambut bau asap, belum lagi bagian belakang wajan jadi hitam dan sulit saat membersihkannya. Dulu, aku paling benci saat harus mencuci wajah dan panci yang hitam. Aku juga muak saat mencuci peralatan makan yang menumpuk bekas makan pagi, siang, malam atau bekas keluarga menikmati camilan. 

Video-video para youtuber diatas juga sebenarnya nggak mencerminkan kehidupan desa seutuhnya. Jika kita menyimak data tentang kemiskinan desa, maka manusia yang paling sering kekurangan makanan dan kelaparan adalah penduduk desa. Kemiskinan akut dan kelaparan itulah yang menyebabkan banyak penduduk desa berbondong-bondong ke kota, demi mencari pekerjaan dan memperbaiki hidup. Selain itu, tidak semua desa subur dan tanahnya bisa ditanami apa saja. Terkadang ada desa-desa yang teramat gersang sampai-sampai biji-bijian enggan tumbuh dan menyediakan pangan bagi manusia. Ada desa-desa yang kering karena rendahnya curah hujan, sehingga warga desa harus mengimpor pangan dari desa lain yang lebih subur. Belum lagi kalau kemarau panjang dan air menghilang, sengsara sudah. Hal paling parah adalah, kemiskinan desa menyebabkan banyak warganya menjadi pekerja migran di luar negeri, terlibat perdagangan orang dan perkawinan usia anak. Yup, desa tidak selalu menyediakan kemakmuran. 

Belum lagi jika desa-desa subur menjadi tandus, rusak atau bahkan hilang karena terjadi salah urus wilayah hulu. Bukan cerita baru jika banyak desa subur menjadi tandus karena penebangan hutan di wilayah hulu, atau adanya pertambangan marmer, batu bara hingga emas sehingga limbah turun melalui sungai dan menghabisi desa. Atau ada desa subur yang jaid kering karena sumber air di hutan habis dimonopoli perusahaan air mineral. Atau ada desa subur dan makmur menjadi habis diterjang banjir atau longsor dari wilayah hulu yang gundul dan rusak karena alih fungsi lahan. 

PEREMPUAN, DESA DAN KEDAULATAN PANGAN
Video-video para youtuber di atas boleh lah jadi semacam harapan terhadap desa dan kemakmuran yang disediakan alam. Karena berkat video-videonya misalnya, Liziqi sang petani muda lagi putus sekolah justru menjadi kaya raya saat dia memutuskan menggunakan kecanggihan teknologi untuk meraih kesuksesan. Pada generasi kakek dan ayahnya, kekayaan alam desa yang tersedia di kampungnya tidak pernah membuatnya kaya. Namun, di generasinya yang sudah melek teknologi, kekayaan di pekarangan rumahnya yang sama adanya dengan masa kakek dan ayahnya, justru menjadi sumber kekayaan. Tentu kekayaan itu melimpah itu tidak berasal dari hasil penjualan hasil pertanian, meski Liziqi punya toko online, justru berasal dari Youtube. Logikanya sederhana, dari 1000 view untuk sebuah video, Liziqi mendapat USD 1 dari Youtube dan penghasilannya dari Youtube hanya diperlukan dengan menghitung kelipatan USD 1 dengan ratusan juta kali videonya ditonton warga dunia. tentu pendapatan sebesar itu nggak akan bisa diperoleh Liziqi dari hanya menjual sayuran dari pekarangan, sawah dan kebunnya saja. Itulah mengapa, kekayaan perlu diraih dengan caranya sendiri. 

Liziqi telah mengajarkan bagaimana kedaulatan pangan di pekarangan rumah dan kampungnya sebagai 'pengaman' dari kelaparan. Liziqi dan neneknya dan mungkin tetangga terdekatnya justru kelebihan bahan pangan, saking banyaknya bahan pangan di pekarangan, danau, sungai, hingga gunung. Namun, kelimpahan pangan itu hanya berguna mengisi perut kelaparan, sebab ternyata kekayaan datang dari puluhan juta pasang mata, dari seantero warga dunia yang menonton video-video kesederhanaan hidup warga desa. Ratusan juta dollar nggak masuk ke rekening Liziqi dari semua bahan pangan itu, melainkan dari cara dia membuat jalan menggunakan teknologi dan memukau warga dunia untuk terus menerus menonton video-videonya saat sedih, stress, maupun saat kelaparan.

Diakui atau nggak, banyak Youtuber baru bermunculan dengan mencontek gaya Liziqi. Para Youtuber baru itu sepertinya memahami apa yang dipahami Liziqi dalam menyediakan kesederhanaan yang tenang bagi warga kota yang stress lagi memimpikan kehidupan desa. Melalui video yang dikemas secara apik, kehidupan petani yang keras menjadi begitu mengagumkan dan menjadi impian. Angle yang pas juga bisa memikat penonton dalam mendoktrin dirinya sendiri tentang kemakmuran desa. Mungkin, pada suatu hari nanti aku pun akan kembali ke desa, jadi youtuber pertanian dan masak-masak khas desa dan hidup bahagia selamanya. 

Bumi Manusia, Januari 2021


No comments:

Post a Comment