Sejumlah Alasan Sebaiknya Lelaki Harus Menjaga Keperjakaan

Hei, man! Sumber: news.nestia.com

"Jadilah seperti lelaki yang kamu inginkan mendampingi anak perempuanmu."
-The Gentleman's Guide-

LELAKI dan PERJAKA, apa yang pembaca pahami hubungan antara keduanya? Apakah lelaki wajib menjaga keperjakaan? Bagaimana cara mengetahui keperjakaan lelaki? Apakah lelaki perjaka lebih baik dari lelaki tidak perjaka? Hmm, mungkinkah menikah dengan lelaki perjaka membuat perempuan aman dari masalah, termasuk kekerasan seksual? Oh ya, apakah pembacaku yang perempuan mengharuskan calon pasangan hidupnya merupakan lelaki perjaka? 

"Ah, lelaki nakal mah biasaaaa. Kalau pejantan kan malah bagus!"
"Kalau lelaki nggak perjaka, lawannya kan pasti perempuan nggak perawan, dong."
"Ya, kalau nikah harus cari perawan."
"Trus, lawan ena-ena si lelaki nggak perjaka nikahnya harus sama perjaka juga?"
"Wahh jangan itu, kasihan lelakinya. Masa nikahin perempuan bekas orang, sih!?"
"Lha kan si lelaki yang nikahin perawan juga bekas dipake perempuan lain?"
"Beda! Nggak bisa disamakan itu. Lelaki dan perempuan itu beda!"
"Apa bedanya? Lelaki nakal dan perempuan nakal ya sama-sama nakal tho?"
"Ya beda! Lelaki nakal itu biasa, udah pakem. Rahasia umum itu. Perempuan nakal itu bahaya!"
"Wahhhh parah. Ya nggak adil lah, masa lelaki udah ena-enak pas nikah harus dapat perawan!?"
"Dunia memang nggak adil. Wong pengadilan aja nggak adil!"

Begitulah rahasia umum dalam masyarakat kita. Lelaki diperbolehkan ena-ena sebelum menikah, tapi perempuan nggak boleh. Lelaki diperbolehkan bermain api cinta dengan perempuan manapun yang dia inginkan, perempuan hanya boleh dengan lelaki yang menjadi suaminya. Lelaki diperbolehkan sebar sperma di banyak rahim, perempuan hanya boleh menerima sperma dari satu lelaki yang menjadi suaminya. Lelaki boleh merawanin anak perempuan orang, perempuan nggak boleh di-perawan-in sebelum menikah. Kalau lelaki memerkosa dianggap salah perempuan, sedangkan perempuan jadi korban pemerkosaan juga salah perempuan. Sepertinya memang Tuhan selalu berpihak pada lelaki, dan membenci perempuan! Apakah demikian adanya? Apakah ini merupakan campur tangan Tuhan yang berat sebelah? 

MEMUJA KEPERAWANAN, MENISTA KEPERJAKAAN
Seringkali kita mendengar bahwa lelaki 'diperbolehkan' menjalani masa muda senakal dan sebebas mungkin, yang penting saat menikah harus dengan perempuan baik-baik sebab perempuan itu akan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Lelaki diberikan 'keistimewaan' untuk melakukan eksplorasi atas seksualitasnya, katanya demi membuat dia pejantan tangguh. Masalahnya, dengan berapa perempuan lelaki itu melatih kemampuan seksualnya? Siapa para perempuan itu? Apakah kekasihnya, pekerja seks atau perempuan yang dimanipulasi sedemikian rupa dan menjadi korban 'test drive' si lelaki? Mengetahui 'siapa perempuan' yang jadi tempat berlatih si lelaki sangat penting untuk melihat 'lingkaran setan' uji coba seksualitas lelaki sebelum menikah. Mengapa? Agar kita terhindar dari memanipulasi diri sendiri. 

Asumsi sederhananya begini. Misal di sebuah tempat ada 250 warga. 100 lelaki, 100 perempuan dan 50 anak-anak serta bayi. Dari 100 lelaki, 50 orang diantaranya lajang. Dari 100 perempuan, 50 orang diantaranya lajang. Lalu, setiap lelaki lajang di sana hendak berlatih kemampuan seksualnya dengan atau atau sejumlah perempuan lajang yang 50 orang itu. Seorang lelaki kemudian 'test drive' pada satu perempuan lajang, lalu perempuan lajang lain, lalu perempuan lajang lain, dan mungkin dengan istri orang di kelompok 50 orang lainnya. Jika 25 orang lelaki di kelompok lajang melakukan hal serupa, berapa lajang tersisa di kelompok 50 perempuan lajang? Bisa jadi, ke 50 perempuan lajang itu sudah menjalani hubungan seksual dengan ke 25 lelaki itu. Bisa jadi satu perempuan di kelompok lajang pernah berhubungan seksual dengan satu atau lebih dari 2 lelaki dari kelompok lajang. Akibatnya apa, saling tukar partner seksual dalam kelompok itu. Lantas, ada sejumlah orang di kelompok lelaki lajang mau menikah dan ingin dengan perawan katanya agar 'belah duren'; nah, di mana mencari perawan, kan ke 50 perempuan udah ditiduri semua? 


Lelaki harus tahu realita dalam masyarakat: saat lelaki memanipulasi perempuan satu kali, maka perempuan akan membalas dengan memanipulasi balik si lelaki 3 kali. Artinya, semakin banyak lelaki berhubungan seksual sebelum menikah, sebanyak itu pula perempuan melakukannya. Lalu, lelaki berharap punya istri perawan setelah meniduri calon jodoh orang? Hah, mimpi! Zaman gini keperawanan bisa dimanipulasi secara medis. Sehingga memuja keperawanan sembari menjual murah keperjakaan merupakan tindakan bodoh dan patut ditertawakan. 

MEN, KEEP YOUR VIRGINITY! 
Memiliki pengalaman seksual diluar pernikahan adalah hak setiap orang. Namun, tidak menjadikan tubuh perempuan sebagai 'alat uji coba' seksualitas seorang lelaki merupakan kewajiban dan keharusan. Lelaki mungkin berpikir bahwa nggak ada dampak kepadanya meski telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Lelaki mah bebas membawa tubuhnya kemana-mana dan memamerkan jumlah perempuan yang pernah ditiduri atau tentang penisnya yang dia pikir perkasa. Sayangnya, pemahaman ini salah besar! Dengan melakukan hubungan seksual semaunya dan menjadikan sebanyak mungkin perempuan sebagai alat latihan seksual, justru menjadikan lelaki sangat bermasalah bagi lingkungan dan bagi dirinya sendiri. Lelaki semacam ini akan menjadi monster, bahkan setelah menikah. 

Aku masih sangat ingat pelajaran demi pelajaran tentang larangan melakukan hubungan seksual sebelum menikah, terutama bagi perempuan. Salah satu resiko terbesarnya adalah kehamilan yang tidak diinginkan yang berakhir dengan aborsi tidak aman. Aborsi ini bisa saja membuat nyawa perempuan melayang. Namun, orang lupa bahwa pendidikan seks yang tidak benar bisa menyebabkan lelaki berbuat semaunya, menghamili anak perempuan orang, lalu memaksanya aborsi dengan alasan belum siap menikah. Pada saat seperti ini, lelaki yang selama berabad-abad menggadang-gadang dirinya sebagai pemimpin di bumi, jadi penjahat. Ya, lelaki nggak punya rahim. Meski telah menebar sperma di banyak rahim, ia merasa bisa menjalani hidup dengan enteng dan bebas, bermodal penisnya. Yang lelaki lupa adalah bersamaan dengan itu, dia telah menumbuhkan sosok monster dalam dirinya dan menyeretnya menjadi sosok penjahat mengerikan sebab telah menyebabkan kematian pada bayi-bayi yang tidak dikehendaki kehadirannya. Seks dilakukan sejumlah pihak, tidak mungkin ada janin tumbuh di rahim perempuan tanpa serangan sperma dari tubuh lelaki, bukan? 

1 | Lindungi Kemurnian Garis Keturunan
Lelaki yang 'terbiasa' melakukan hubungan seksual dengan sembarang orang sebelum menikah bisa saja memiliki banyak anak, dari perempuan yang dia tiduri. Entah perempuan itu ditinggalkan atau kemudian dinikahi. Bayangkan jika si lelaki menghilang begitu saja tanpa tahu dia punya anak, maka anak itu akan mengalami kekacauan garis keturunan. Di masa depan bisa saja terjadi incess atau pernikahan sedarah sebab informasi yang tidak jelas tentang silsilah keluarga. Hal ini banyak terjadi, lho. Dampaknya fatal secara kesehatan fisik dan psikologi, bahkan bisa menyebabkan cacat pada generasi berikutnya yang dilahirkan. Lelaki harus ingat bahwa sperma yang mereka hasilkan merupakan bibit (seed) manusia baru. Jangan menebar sperma sembarangan tanpa mau bertanggung jawab atas perbuatan sendiri. That's the most crazy thing men can do in life!

2 | Hindarkan Dirimu Membunuh Janin alias Anakmu 
Banyak pasangan yang tidak memahami seks aman (safe sex) mengalami masalah baru: kehamilan tidak diinginkan. Sebagian besar kehamilan jenis ini berakhir dengan aborsi, alias pembunuhan disengaja terhadap janin. Selama ini, pihak perempuan yang disalahkan atas tindakan aborsi. Namun, masyarakat lupa bahwa ketika si lelaki melepaskan diri dari tanggung jawab dan mengambil keputusan untuk mengorbankan janin, maka si lelaki lah yang membuat kesalahan. Ia telah mengambil keputusan melakukan hubungan seksual tanpa pengaman, menghamili perempuan lantas membuat keputusan melakukan pembunuhan pada janin yang merupakan darah dagingnya sendiri. 

3| Menjaga Kesehatan Masyarakat 
Seks yang tidak aman, terutama karena berganti-ganti pasangan akibatnya fatal. Selain kehamilan tidak diinginkan yang kemudian berlanjut pada tindakan aborsi. Juga terjadinya penularan penyakit menular seksual. Mungkin lelaki berpikir pendek saja, yang penting hasrat seksualnya terpenuhi. Lelaki lupa bahwa menjaga seks sehat itu punya kontribusi besar dalam menjaga kesehatan masyarakat. Jika masyarakat mengalami masalah kesehatan dengan sistem reproduksinya atau tubuhnya akibat penyakit menular seksual, betapa besarnya beban negara untuk membiayai masalah ini. Bayangkan saja, warga mau ena-ena tanpa pikir panjang, negara harus menggelontorkan anggaran demi menjaga kesehatan publik. Bagaimana bisa lelaki merasa gagah atas nama penisnya, jika kelaminnya itu kemudian membuat kesehatan masyarakat bobrok, anggaran negara terkuras, menularkan kepada orang lain hingga menyebabkan kematian bayi baru dilahirkan? 
Serem ya masalah penyakit menular seksual ini. 

WHO menyatakan setiap harinya ada 1 juta orang terjangkit penyakit menular seksual (PMS) seperti klamidia, genore, trikomoniasis dan sifilis. Keempat penyakit tersebut memang sudah bisa disembuhkan, tapi ada 4 jenis PMS yang maish belum bisa disembuhkan yaitu hepatitis B, virus herpes simpleks (HSV atau herpes), HIV, dan human papillomavirus (HPV). Prevalensinya setiap 1 dari 25 orang di dunia terjangkit PMS tersebut. Angka ini menunjukkan bahwa sebanyak itulah orang yang harus menanggung resiko atas aktivitas seksualnya, yang menyerang alat reproduksinya sendiri. Resiko ini tidak hanya menjangkiti remaja dan orang dewasa yang nggak menerapkan seks yang aman, juga kepada bayi-bayi yang mati tak lama setelah dilahirkan. Angkanya mencapai 200 bayi lahir mati per tahunnya akibat tertular sifilis (dari orangtuanya). Ini mengerikan sekaligus menyebabkan beban yang berat pada anggaran kesehatan di seluruh dunia. Bayangkan, orang mau senang-senang dengan kelaminnya, tapi merepotkan negara untuk menjaga kesehatannya. 

4 | Pikirkan Anak Perempuanmu
"Lelaki seperti apa yang seharusnya jadi pendamping hidup anak perempuanmu?" dan lelaki pasti bermimpi anak perempuannya menikah dengan lelaki berkarakter baik blablabla. Nah, jika lelaki berharap demikian bagi anak perempuannya, maka para ayah lain di dunia ini berharap anak perempuannya menikah dengan lelaki macam demikian. Jika pada hari ini para lelaki muda membuat dirinya menjadi bajingan, memangnya ayah mana yang akan rela menikahkan anaknya dengan lelaki bajingan lagi jalang? Kecuali si lelaki berbohong kepada ayah si perempuan dan ayah si perempuan terlampau bodoh untuk menikahkan anak perempuannya dengan lelaki jalang, bajingan dan tukang merusak anak perempuan orang. Ini sangat tidak adil, bahkan jika dilihat menggunakan kacamata kesehatan reproduksi. 
Perempuan mengalami kanker serviks salah satunya akibat tertular penyakit menular seksual dari pasangan. 

Perilaku seks tidak aman yang disebabkan oleh ketidakmampuan menjaga hasrat lantas mengambil keputusan demi kesenangan sekejap bisa mengorbankan orang lain, bahkan pasangan yang si lelaki cintai. Ada banyak sekali kasus perempuan menderita penyakit menular seksual karena si lelaki sebagai pasangannya "menolak" memakai pengaman. Padahal, sejatinya sepasang manusia itu dua organisme biologis yang masing-masing orang memiliki tanggung jawab untuk nggak melukai tubuh orang lain. Cinta, kasih sayang dan kesenangan sesaat tidak akan menyelamatkan seseorang yang terjangkit PMS ini. Jika sudah tertular berabe urusannya. Selain sistem reproduksi mengalami 'sakit' yang terlampau malu untuk diceritakan kepada orang lain, juga naiknya anggaran pemeliharaan kesehatan yang bisa saja mengganggu anggaran lain misal untuk pendidikan, menikah, bangun rumah dll. 


Untuk memahami semua ini tanpa kita sangkut pautkan kepada nilai-bilai agama atau budaya yang memagari, hanya ada satu cara sederhana: berpikir dengan adil. Jika rahim perempuan tidak boleh diisi sperma lelaki yang bukan suaminya, lantas mengapa lelaki boleh mengisi rahim perempuan yang bukan istrinya sperma darinya? Jika lelaki menghendaki menikah dengan perempuan perawan, lantas mengapa merawanin perempuan yang nggak akan dinikahi, yang perempuan itu mungkin akan jadi istri orang? Jika lelaki beranggapan bahwa nakal sebelum menikah itu haknya, bukankah perempuan juga berhak menikmati kebebasan serupa sebelum menikah? Jika lelaki berpikir bahwa rahim perempuan terlampau suci untuk dikotori sperma lelaki yang bukan suaminya, lantas bagaimana bisa lelaki berpikir spermanya suci untuk memasuki rahim perempuan yang bukan istrinya? 

Mari berhenti memuja keperawanan perempuan, sedangkan kaum lelaki mengobral keperjakaannya dengan begitu bebas. Berhenti juga membebani perempuan dengan dosa-dosa sosial akibat hubungan seksual di luar pernikahan, sebab lelaki berkontribusi sama besar atau bahkan lebih besar atas semua itu. Berhenti juga mengkambinghitamkan perempuan atas seluruh masalah yang diakibatkan oleh seksualitas, sebab lelaki juga berperan sama besar. Jika lelaki merasa dirinya pemimpin di bumi, maka jadilah pemimpin, jangan omong doang! Keep your penis for yourself, because you Mr. P is not everything. Diatas birahi sebagai hak dasar manusia, kita juga berhak atas hidup sehat terbebas dari penyakit, termasuk penyakit menular seksual; kehamilan tidak diinginkan dan pembunuhan janin. 

"Lha, kenapa perempuannya mau diajak nakal?" mungkin lelaki akan berdalih demikian. 
"Trus, ngapa elo ngajakin dia berbuat nakal?" coba, kenapa ngajakin anak orang berbuat nakal? 
"Perempuan baik-baik nggak akan pernah mau diajak berbuat nakal." Itu dalih klise lelaki. 
"Memangnya lelaki yang mengajak perempuan berbuat nakal adalah lelaki baik-baik?" Hm, rasain!

Ya, mengapa mengajak orang lain melakukan hal yang sebaiknya nggak dilakukan jika sejak awal justru hendak melarikan diri dari konsekuensi atas kenakalan tersebut? Mengapa lelaki menguji si perempuan itu baik atau nggak baik justru dengan melakukan kenakalan secara seksual? If that woman is your mom, apakah kamu akan ngajakin ibu kamu berbuat nakal? Apakah kamu juga akan mengukur baik atau enggaknya kualitas ibumu berdasarkan ukuran yang kamu pakai untuk menilai kualitas si perempuan? Kalau sebagai lelaki kualitasmu buruk dalam memperlakukan anak perempuan orang dan menganggapnya hanya sebagai objek seksual, ya berarti bapak dan ibumu gagal mendidikmu, man! Gitu aja. 

Bumi Manusia, Desember 2020

Bahan bacaan: 
https://en.wikipedia.org/wiki/Virginity_test
https://timesofindia.indiatimes.com/life-style/health-fitness/photo-stories/5-classic-signs-that-tell-if-a-man-is-virgin/photostory/64050802.cms?picid=64050807
https://www.psychologytoday.com/us/blog/guide-teen-girls/200906/male-virginity-myths
https://www.sciencedirect.com/topics/biochemistry-genetics-and-molecular-biology/virginity
https://knowyourmeme.com/memes/virgin-vs-chad
https://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20190610170854-255-402183/who-1-juta-orang-didiagnosis-penyakit-seksual-setiap-hari
https://media.neliti.com/media/publications/152385-ID-implementasi-kebijakan-pemerintah-daerah.pdf
https://tirto.id/ancaman-serius-infeksi-menular-seksual-yang-tak-bisa-sembuh-eevs

7 comments:

  1. Sayangnya, laki-laki yang merasa bahwa 'menjadi nakal dulu sebelum menikah' itu sebuah kewajaran mereka baru sadar dan panik begitu punya anak perempuan. Akhirnya, mereka malah bikin hidup anak perempuannya kayak di penjara dengan membatasi pergaulan, gara-gara terbayang-bayang "dosa masa lalu" mereka, meniduri banyak anak perempuan orang lain sebelum menikah - yang dulunya mereka banggain banget.

    Sori, laki-laki egois macam ini nggak benar-benar peduli sama perempuan. Mereka baru peduli kalo perempuannya itu mereka kenal - seperti adik perempuan MEREKA, anak MEREKA. Jadi, sebenarnya ini lebih ke RASA KEPEMILIKAN, bukan kepedulian kepada perempuan sebagai sesama manusia yang berhak atas RASA AMAN, KESEHATAN REPRODUKSI, dan KEDAMAIAN SOSIAL. Maaf, saya suka skeptis saja kalo ada laki-laki macam ini yang kemudian mengaku TOBAT cuma demi bisa menikahi PERAWAN. Belum tentu juga habis itu kebiasaan buruk mereka hilang!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, betul banget. Sebagian lelaki nakal baru menyesal dan kalang kabut pas punya anak perempuan. Masalahnya, karma alias prinsip tabur tuai itu berlaku, terlebih jika para perempuan yang dikorbankan itu memiliki dendam kesumat. Itulah mengapa, pendidikan seks dan reproduksi itu memang wajib diberikan kepada anak-anak saat mereka masih remaja agar mereka pagam fungsi organ tubuh tuh buat apa aja. Klo udah kejadian, berabe dan merepotkan.

      Delete
  2. Replies
    1. Terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini dan memberi apresiasi.

      Delete
  3. Setuju, jadi gak cuma perempuan saja yang wajib melindungi kewanitaan nya, begitu pula dengan laki-laki

    ReplyDelete