Hashem Al-Ghaili, Science Communicator Ganteng dari Yaman

Hashem Al-Ghaili di di sebuah forum. Sumber: hashem-alhghaili.com
 
"Try not to become a man of success, but rather to become a man of value" 
-Albert Einstein-

Tahun 2020 ini dia berusia 30 tahun. Karismatik, cerdas, terkenal, ganteng, dermawan dan kreatif adalah label yang pas dilekatkan padanya. Keputusannya meninggalkan pendidikan level doktor dan membangun karir-freelance sebagai Science Communicator tidak sia-sia. Puluhan juta orang semakin tertarik pada science berkat kreativitasnya menggunakan komunikasi efektif untuk audiens di era digital, manusia-manusia instan yang cenderung malas belajar dan menjauh dari science karena dianggap sulit dimengerti. Karirnya semakin moncer dan ia menjadi produser untuk sebuah film pendek genre sci-fi berjudul "Simulation" yang rilis tahun 2019. Kini ia memiliki 3 label professional atas namanya: producer, science communicator dan science superstar. Dialah Hashem Al-Ghaili, abang jago dari negeri Yaman!

Bang jago kita ini lahir di sebuah desa di Yaman, 11 Agustus 1990. Dia lahir dan tumbuh di keluarga petani. Masa depannya telah ditentukan: menjadi petani, meneruskan profesi keluarganya. Pada usia 16 atau 17 tahun ia ingin kuliah. Tapi, ayahnya kekeuh agar dia menjadi petani, sebagaimana anak petani lain di desanya. Ia adalah adalah ke 10 dari 12 bersaudara dan kuliah tentulah berat bagi keluarga petani. Ia paham perasaan ayahnya, namun menolak jadi petani karena begitu menyukai science. Ia ingin menjadi scientist.  

Demi mewujudkan cita-cita, diam-diam dia kabur menuju San'a, ibukota Yaman yang selama 6 jam perjalanan. Demi apa? Demi mengisi formulir beasiswa dari Kementerian Pendidikan. Memilih jurusan Fisika di Yordania atau Mesir. Tapi, ia berhasil dan mendapatkan beasiswa untuk kuliah sarjana di Universitas Peshawar, Pakistan jurusan biotechnology. Sebagai anak petani, ia sangat kesulitan mengikuti perkuliahan karena semua bahan menggunakan bahasa Inggris. Ia tak patah arang, ia mengikuti kursus online, bahkan meminjam uang agar dapat membeli laptop. Selain itu, suasana di Peshawar juga nggak aman. Meski tanpa restu penuh dari ayahnya, akhirnya ia berhasil kuliah dan setelah lulus kembali ke Yaman untuk bekerja di pemerintahan sebagai tenaga pengontrol kualitas dan ia sibuk di laboratorium. 

Tak lama setelah itu, ia melanjutkan studi di jurusan Molecular Biology di Jacob University, Jerman atas beasiswa DAAD. Untuk mendapatkan beasiswa bergengsi tersebut, ia harus bersaing dengan sebanyak 1. 070 pelamar. Hanya 5 pelamar yang diterima, termasuk dirinya. Saat inilah sang ayah memberikan restunya dan bangga atas pencapaiannya. keberhasilannya dalam pendidikan dan pekerjaan juga menginspirasi adiknya untuk melanjutkan pendidikan. Sesampainya di Bremen, Jerman ia harus menghadapi tantangan yang tak kalah keras. Ia harus bisa bahasa Jerman. Ia juga menyadari bahwa selama kuliah di Pakistan, ia hanya belajar teori, tanpa praktek. Sehingga dia lumayan terpukul dan frustasi dalam menghadapi kuliah di Jerman yang lebih banyak praktek. Ia melewati tantangan itu dengan penuh percaya diri dan lulus dengan nilai tertinggi di kelasnya. 

Pada usia 25 tahun, setelah lulus dari Jacob University ia bekerja sebagai the vice president of content for the Arabic version Futurism, sebuah penerbitan berbasis science dan technology. Ia juga membangun Facebook page atas namanya, dan memposting konten-konten dari Futurism dalam bahasa Inggris. Konten berbasis infografis dan video singkat tentang ilmu pengetahuan sangat menarik minat publik. Sehingga pengikutnya terus bertambah dan ia menjadi terkenal karena itu. Sebagai Science Communicator, dia dipuji akan kemampuannya meringkas data yang kompleks menjadi sederhana dan mudah dimengerti publik, dan hebatnya disajikan dalam bentuk infografis sederhana atau video pendek dengan durasi kurang dari 4 menit. Wajar jika ia menjadi superstar dalam mengkomunikasikan science dengan cemerlang. 

Hashem pernah melanjutkan kuliah ke jenjang Ph.D. Namun, ia memutuskan keluar dan bekerja secara penuh sebagai Science Communicator dan produser sampai sekarang. Dia bermimpi membangun sebuah enterprise berbasis science communication, agar masyarakat dunia lebih mengenal science. Ia menggunakan celah emosi manusia untuk membuat science lebih dimengerti, seperti tentang tentang artificial skin yang dikembangkan MIT. Dalam bekerja, ia tidak ambil pusing dengan orang-orang yang membenci atau menentangnya, atau bahkan menyebutnya teroris hanya karena ia berasal dari Yaman, kawasan Arab. Ia hanya berfokus memberi publik dunia informasi, yang bukan idenya, melainkan kumpulan hasil kerja ilmuwan dunia berbasis bukti. Sebagai seorang Science Communicator, ia merasa bahwa tugasnya adalah memberikan publik sebuah jalan untuk memahami science karena toh, tubuh manusia sendiri menjadi bagian penting dalam pembahasan science. Video dibawah ini misalnya, dengan cerdas namun singkat menggambarkan bahwa manusia itu sebenarnya 'microbiome' alias makhluk yang tersusun dari microbe, dibandingkan sel-sel pembentuk manusia sendiri. 


Berdasarkan situs milinya, hashem-alghaili.com, ia memiliki 32 juta pengikut di Facebook; video-videonya ditonton lebih dari 13 miliar kali; 300 juta jangkauan setiap minggunya; dna tentu saja video-videonya di Youtube telah ditonton lebih dari 55 juta kali. Salah satu cara kerja Hashem adalah "get big with less" atau sebuah pencapaian besar dapat diperoleh melalui usaha atau informasi yang singkat. Ia juga percaya bahwa angka berbicara lebih banyak dan powerful daripada kata-kata. Kukira, hal ini tercermin dari dirinya dan kinerjanya sendiri dalam dunia science communication. Produknya yang telah dinikmati 13 miliar kali ini menunjukkan bahwa ia tidak perlu bicara banyak untuk menunjukkan siapa dirinya. 

Video dibawah ini sangat indah. Tentang perjalanan manusia di rahim ibu. Aku jadi ingat pelajaran biologi yang tidak pernah disampaikan dengan cara seindah ini karena pada saat itu teknologinya belum secanggih sekarang. Anak-anak sekolah di seluruh dunia, pasti begitu bersemangat jika materi tentang pertumbuhan janin di rahim ibu disampaikan para guru menggunakan video ini. Oh, Hashem pasti membantu para guru mengatasi kesulitan mereka mengkomunikasikan science tentang pembentukan manusia. Para murid juga akan terisnpirasi untuk menjadi ilmuwan karena ilmuwan sangat keren. 


Atas dedikasinya dalam mengkomunikasikan science kepada dunia dengan cara modern dan berkelas, ia banyak diganjar aneka penghargaan. Pada 2012, dia didapuk sebagai Ambassador Republik Yaman di Peshawar University, Pakistan. Pada 2013-2015 ia mendapat beasiswa DAAD dari pemerintah Jerman, yang lumayan sulit untuk diterima. Pada 2014 ia mendapat Futurism Excellence in Science Media and Literature Award. Pada 2019, film pendek sci-fi berjudul 'Simulation' yang diproduksinya mendapat sejumlah award, yaitu: Best Short Film dari the London Independent Film Awards! Ditambah 3 penghargaan dari the Latitude Film Awards for Best Visual Effects (Platinum Award), Best Original Score (Gold Award) dan Best Makeup (Gold Award). Juga diseleksi oleh International Short Film Festival Beveren (Belgium) dan The Philip K. Dick Film Festival (Los Angeles), Apocalypse Later International Fantastic Film Festival (Arizona) dan Berlin Sci-fi Filmfest (Berlin). Ilmuwan yang menetap di Berlin, Jerman ini semakin moncer saja ya.


Sayangnya, meski ia merupakan satu dari 30 ilmuwan ternama di dunia saat ini, ia tidak bisa mengepakkan sayapnya ke Amerika. Sebagai ilmuwan berotak cemerlang, ia belum pernah melangkahkan kakinya ke Amerika. Pasalnya, pada 2017 Presiden Trump 'mengharamkan' 21 ilmuwan dari negara-negara mayoritas Muslim untuk masuk ke Amerika, terutama dari Timur Tengah. Trump menganggap orang-orang dari negara mayoritas Muslim berkemungkinan melakukan aksi teror di negaranya. Sebagai Muslim dan orang Arab, dia paham situasi ini. Namun, nampaknya dia tidak peduli amat, sebab cara kerjanya berbasis internet dan media digital. Dalam sebuah wawancara, ia pernah bermimpi bekerja di NASA, namun nampaknya kini NASA lah yang sebaiknya merangkulnya untuk mengkomunikasikan science kepada dunia.

Bumi Manusia, Desember 2020

Bahan bacaan: 
https://en.wikipedia.org/wiki/Hashem_Al-Ghaili
https://hashem-alghaili.com/
http://positivists.org/blog/archives/2325
https://en.wikipedia.org/wiki/Science_communication
https://www.jacobs-university.de/i-it-unusual-career-hashem-al-ghaili
https://www.bbc.com/worklife/article/20180222-the-man-with-16-million-fans
https://medium.com/future-today/what-if-by-insh-and-hashem-al-ghaili-15b4c74b6391
https://www.tedxroma.com/en/portfolio-items/hashem-al-ghaili/
https://www.youtube.com/watch?v=Z5H9uGSZTyk
https://factoryberlin.com/magazine/interview/hashem-al-ghaili-out-of-the-lab-and-going-viral/
https://www.dw.com/en/successful-on-facebook-hashem-al-ghailis-advice-for-the-right-strategy/a-36369881
https://www.al-fanarmedia.org/2016/03/a-yemeni-youth-becomes-a-science-superstar-on-facebook/
https://omr.com/en/yemeni-immigrant-massive-community-science-videos/
https://simulationthemovie.com/
https://www.research-in-germany.org/en/infoservice/newsletter/newsletter-2018/may-2018/science-communication-as-a-career-option.html
https://www.youtube.com/watch?v=shhX98Nxg38
https://www.inverse.com/article/27161-s

No comments:

Post a Comment