2020: Tahun Sendu dalam Merawat Kewarasan dan Kesabaran

Satu tahun serangan virus corona. Sumber: saltwaire.com

Tahun ini begitu berat untuk semua orang yang menghuni planet bumi. Kita dicekam ketakutan oleh sesuatu yang tidak terlihat dengan mata telanjang. Dia sangat kecil, namun berbahaya. Jika seorang manusia lengah dan dia telah menyerang sistem pernapasan, maka si manusia bersiap menghembuskan nafas terakhir lalu dibawa ke pemakaman. Sedihnya, pemakaman begitu sepi dengan peti dibungkus berlapis-lapis bahan pelindung. Meski kematian adalah niscaya bagi setiap makhluk hidup. Aku tidak pernah bisa membayangkan betapa sepi dan sadisnya kematian semacam ini. 

Aku mengikuti perkembangan kemunculan virus corona ini sejak kehebohan melanda kota Wuhan, China. Berbagai kantor berita China dan internasional secara maraton terus memberitakan perkembanganya, hingga kemudian kota Wuhan di-lockdown, dan virus ini mulai menyebar ke berbagai belahan dunia yang didukung oleh kemudahan transportasi, terutama udara. Sembari setia mengikuti perkembangan di Wuhan, aku kembali mempelajari apa yang terjadi saat wabah Spanish Flu menyerang dunia dan menghabisi nyawa sekitar 50-100 juta orang. Padahal waktu itu dalam suasana perang dunia II. 

Saat cemas melanda dan rasanya kematian semakin mendekat, banyak informasi palsu beredar dari kelompok ekstremis dan mereka yang percaya teori konspirasi. Informasi yang paling banyak beredar adalah bahwa virus ini merupakan kutukan Tuhan kepada mereka yang tidak beriman. Dengan informasi bodoh semacam ini, maka mereka yang merasa beriman bersikap biasa saja, tidak menjaga protokol kesehatan dan nggak peduli pada kesehatan orang lain. Seakan-akan iman didada yang entah bagaimana mengukurnya bisa menyelamatkannya dari virus ini. Aku sih nggak ambil pusing. Aku punya penangkal sederhana untuk mereka yang berpikir demikian: jika iman tidak mencegahmu dari rasa lapar dan haus, bagaimana ia mencegahmu dari tertular sebuah penyakit? 

Dalam kecemasan yang menikam sekaligus menyerang dengan mimpi buruk, virus ini mulai masuk ke negara ini. Panik, heboh, takut, kesal, marah, dan emosi negatif lain bercampur baur. Orang-orang memborong makanan di supermarket, minimarket, pasar, gudang makanan dan sebagainya. Orang-orang rakus dan mafia juga mulai menimbun masker dan hand sanitizer, lalu menjualnya secara online dengan harga mahal. Ini gila! Kepanikan berlanjut semakin meresahkan saat berita tentang seseorang yang kehilangan keluarga dan pekerjaan mulai merebak. Hampir semua orang terjegal masalah keuangan. Utang, cicilan rumah-kendaraan-usaha dll macet, aktivitas luar ruangan termasuk perdagangan dikurangi entah sampai kapan. Banyak orang, termasuk aku harus kehilangan pekerjaan. Sementara sebagian orang sibuk ceramah soal manajemen keuangan agar tak susah saat mendapat serangan seperti ini, dan itu merupakan nasehat paling goblok dalam suasana semacam ini. Setiap orang kecil khawatir: bagaimana bayar kontrakan? Bagaimana keluarga saya makan? Bagaimana cicilan utang? Bagaimana nasib pekerjaan saya? Bagaimana karyawan saya? 

Ya, ini tahun penuh kejutan. Ini kejutan paling ditakuti semua orang di bumi. Kehilangan pekerjaan dan pendapatan, sama mengerikannya dengan kehilangan nyawa. Saat wabah ini menyerang dan menghantui seluruh penjuru bumi, keadaan setiap orang tidak sama. Lebih banyak yang tidak siap secara finansial, dibanding mereka yang aman dengan gudang penuh bahan makanan dan tabungan gemuk. Kelompok 1% mungkin hanya kehilangan sedikit uang dari penjualan dan harga saham yang anjlok. Tapi kelompok 99% adalah yang kehilangan harapan sekadar untuk makan apa besok; masih bisakah bayar sewa bulan depan? Jika kelompok 1% mungkin memilih mem-PHK pekerja mereka hingga ribuan jumlahnya; kelompok 99% bahkan ada yang harus tinggal di jalanan karena diusir pemilik rumah kontrakan. Kita berjuang melawan virus yang sama, namun nasib kita nggak sama dalam cara bertahan, juga dalam merawat kesabaran dan kewarasan. 

Pada bulan Maret-April, aku dirundung kecemasan hebat. Aku mengurung diri di kamar kosan dan begitu membatasi aktivitas ke luar ruangan: hanya membeli bahan pangan mingguan. Pikiran menjadi penuh ketakutan dan buruk sangka terhadap penghuni kosan: jangan-jangan diantara mereka ada yang merupakan carrier virus ini. Bahkan aku pun takut ke luar untuk melakukan tes di RS rujukan, sebab banyak sekali berita dan testimoni yang menyatakan bahwa sebagian mereka yang mencoba menjalani tes malaha meninggal dalam proses itu. Entah karena panic attack level akut atau karena memang tertular. Aku pun mengalami sakit yang tanda-tandanya seperti mereka yang tertular dan aku sangat takut. Aku sampai sangat rajin makan bergizi, melahap vitamin dan sebagainya sebagai cara bertahan dan melawan, jika sistem imunku melemah dan aku jadi sakit parah. Sampai saat ini aku belum sepenuhnya pulih. 

Di penghujung tahun yang berat itu, banyak orang berusaha menuliskan pencapaian mereka. Tentu bukan untuk show off alias menyombongkan diri, melainkan unjuk bukti bahwa ada yang bisa kita raih meski suasana serba tidak pasti. Terutama mereka yang pernah menjadi pesakitan di bangsal rumah sakit setelah tertular covid-19 dan menjadi penyintas. Ada orang-orang yang harus pindah dari Jakarta ke kota/daerah lain demi menyelamatkan diri dan mentalnya. Ada orang yang harus kembali ke rumah orangtuanya demi menjaga bonding dengan keluarga, dan menyelamatkan keuangan dari pengeluaran tak perlu. Banyak juga yang menyelamatkan mentalnya dari kegilaan dengan menanam bunga dan sayuran. 

Aku harus jujur, tahun ini aku merasa gagal. Aku manusia gagal. I am at the lowest level. I don't know what to do. Bahkan seakan-akan Tuhan menutup semua pintuNya untukku. Aku lebih sering menangis seakan menjadi manusia terakhir di bumi. Aku mencoba mengungsi ke rumah temanku dan tinggal disana selama 3 bulan. Aku membutuhkan bonding dengan manusia, dalam konsep keluarga. Tapi aku malah semakin hancur. Aku tidak mendapat 'penyemangat' yang sangat kubutuhkan. Pulang? I have no home to return. Even my mom adore other people's children daripada anak kandungnya sendiri, entah bagaimana itu bisa terjadi. Berat badanku turun drastis karena aku kehilangan nafsu makan. Aku sering mual dan memuntahkan makanan. I feel nothing. Nggak punya energi. Meski, pada akhirnya aku harus menghadirkan senyum kepada orang-orang untuk sejumlah kegiatan yang kuikuti. Mungkin, keadaan semua orang hampir sama buruknya denganku, dan kita memberikan senyum palsu untuk saling menguatkan satu sama lain. 

Perasaan-gagal ini bukan karena aku membandingkan hidupku dengan orang lain. Melainkan aku terhadap diriku sendiri. Rasanya, tahun ini aku menjadi sangat bodoh dan nggak bisa melakukan yang sebaiknya kulakukan. Aku seperti mentok. Setiap langkah yang kuambil selalu menemui kebuntuan. Hm, apakah aku membangun ekspektasi terlalu tinggi terhadap diriku sendiri sementara keadaan dunia sedang jungkir balik dan tak mungkin mewujudkan apa yang kuinginkan? "Please kindly lower your expectation, darling," nasehat temanku, singkat. Katanya, tahun ini semua orang sedang berusaha menghindari kematian. Jika hidup kita hanya untuk sekedar menjaga nyawa tetap di badan, lakukanlah. Lupakan dulu semua mimpi ideal yang pernah dicita-citakan. Saatnya berdamai dengan keadaan, karena musibah ini menimpa seluruh dunia. 

Sebenarnya, aku ingin menertawakan banyak hal tahun ini. Terutama saat kita sampai di akhir. Di awal kemunculan wabah corona di Indonesia pada Februari silam, banyak sekali pihak yang berteriak bahwa ini hukuman Tuhan untuk negeri tirai bambu, tapi eh kini mereka menjadi pesakitan karena menjadi pasien COVID-19. Banyak orang yang merasa pakar, berilmu, tokoh masyarakat bahkan pejabat pemerintahan yang membuat pernyataan 'ngawur' soal pandemi. Mereka bahkan tak segan mencaci siapapun yang sudah terlebih dahulu terjangkit virus ini sedang menerima hukuman Tuhan karena kurangnya iman. Bahkan, kelompok radikal berseru-seru dengan penuh keyakinan bahwa Tuhan menyeleksi hambaNya dengan virus ini sebagaimana nyamuk yang merenggut nyawa Namrud yang zalim. Tapi, aku tidak akan pernah menertawakan semua itu sebab aku paham bahwa terinfeksi virus corona begitu menyakitkan dan biaya perawatannya sangat mahal. 


Buatku, pencapaian terbesarku tahun ini adalah: bahwa aku masih hidup dengan waras dan sabar; bahwa aku masih memiliki energi untuk melanjutkan hari demi hari, meski begitu berat;  aku masih memiliki nyali membangun kembali kepercayaan diri yang rontok dan mimpi yang belakangan ini kuanggap lenyap. 

Oh ya, karena karakter seperti strong, brave dan badass telah lama dilekatkan orang-orang kepadaku; maka tahun ini aku harus menghapuskan sikap gengsi. Ya, aku memang lumayan gengsi-an orangnya. Misalnya, aku gengsi minta pertolongan orang karena khawatir dianggap lemah dan jadi beban, pun punya utang budi. Tapi, tahun ini aku benar-benar berusaha menolong diriku sendiri dengan belajar tidak malu meminta tolong. Misalnya, mengungsi selama 3 bulan lamanya di rumah keluarga temanku sebenarnya merupakan perbuatan memalukan. Tapi, demi menjaga kewarasan, aku membuang rasa gengsi itu. Tujuanku waktu itu: aku harus hidup sehat dan waras. Aku juga nggak gengsi menangis dan menceritakan kondisiku kepada teman-temanku, agar setidaknya ada rasa plong di dada, dan tahu temanku masih hidup. 

Terima kasih, diriku! Kamu luar biasa!

Bumi Manusia, Desember 2020


No comments:

Post a Comment