HUMAN FORM: Saat Manusia Terobsesi Secantik Boneka Perselen

Human form yang mengerikan. Sumber: koreanfilm.or.ko.kr
 
In Hyung kecil sangat suka menggambar. Dengan tekun ia menggambar wajah ideal yang diidamkannya jika kelak dewasa. Setiap kali gambarnya selesai, sang Ibu menaruhnya dalam pigura kayu berwarna coklat, lalu menggantungnya di dinding kamar. In Hyung memiliki sejumlah koleksi tentang wajah masa depan di dinding kamarnya. Koleksi gambar In Hyung kecil dipajang dengan pencahayaan khusus layaknya di sebuah pameran seni. 

Pada suatu waktu saat In Hyung duduk di tahun akhir SMA, ia dan temannya melakukan konsultasi ke klinik bedah plastik. In Hyung menunjukkan kepada dokter bahwa ia berhasrat agar wajahnya berubah menjadi wajah sebagaimana dalam buku sketsa miliknya. Wajah yang sempurna. Namun, sang dokter mengatakan bahwa ia tidak bisa melakukannya. Perlu biaya yang sangat mahal untuk bisa membuat wajah biasa In Hyung menjadi ideal sebagaimana dalam gambar dua dimensi di buku sketsanya. In Hyung kecewa dan ia pulang ke rumah meninggalkan temannya yang menunggu giliran konsultasi. 

Di rumah, saat akan malam, In Hyung merupakan sosok paling berbeda dari ibunya, kakak perempuannya dan ayahnya. Ketiga anggota keluarganya telah melakukan operasi plastik dan hidup sesuai kecantikan standar dalam masyarakat. In Hyung mengatakan bahwa ia ingin menjalani operasi juga agar fit dalam kehidupan sosial. In Hyung merasa sudah saatnya ia menjalani operasi agar wajah barunya bisa tampil di buku tahunan sekolah sebagaimana kakak perempuannya. Namun, sang ibu mengatakan bahwa jika In Hyung ingin menjalani operasi maka ia harus menggunakan uangnya sendiri. Keluarganya tidak pernah memaksa In Hyung untuk menjalani operasi dan mereka tidak akan memberikan biaya jika In Hyung melakukannya. In Hyung menjadi kesal dibuatnya. 

Satu malam, In Hyung sedang menari angin segar di luar. Lalu temannya menghampirinya dan memberikan tas miliknya yang ditinggalkan In Hyung di klinik. Betapa kagetnya In Hyung saat tahu temannya telah melakukan operasi plastik dan wajahnya menjadi sesuai standar masyarakat. In Hyung juga menjadi kesal pada dirinya sendiri sebab tidak memiliki cukup uang untuk segera melakukan operasi plastik yang dapat mengubah hidupnya. 

In Hyung seperti terisolasi di dunia manusia yang seluruhnya sudah berubah. Semua orang yang ditemuinya telah menjalani operasi plastik dan tampil dengan wajah impian: wajah lonjong dengan dagu lancip, hidung mancung nan tipis, bibir imut, mata imut berkelopak dengan bulu mata tebal memikat. Seakan-akan, semua orang harus tampil imut agar terkesan anggun dan cantik/tampan sempurna. Sementara In Hyung masih hidup dengan wajah bawaan lahir: wajah bulat, mata sipit tanpa kelopak, dan hidung pesek. In Hyung merasa ngeri melihat dirinya begitu berbeda dengan semua orang. 

Saat In Hyung berjalan-jalan di luar pada malam yang dingin dan hujan, ia dilingkupi rasa malu dan kesal. Bukan saja pada orang-orang dengan wajah sempurna yang ditemuinya di jalanan, di mana mereka memandang In Hyung sebagai sosok kolot yang belum melakukan perubahan, juga aneka poster yang mempromosikan layanan operasi plastik. Saat itulah In Hyung menemukan sebuah poster yang dibutuhkannya. Poster itu berisi informasi mengenai riset tentang metode terbaru operasi plastik. Riset itu membutuhkan partisipan dan In Hyung memilih menjadi partisipan karena ia tidak memiliki cukup uang untuk melakukan bedah plastik. 

In Hyung sudah ada di kamar bedah, siap memulai tahap awal transformasi. Setelah dibius, In Hyung bermimpi sedang berada di kamarnya dan ibunya membuka kasa penutup wajah barunya. In Hyung telah bersama wajah impiannya. Sang Ibu meneliti wajah In Hyung yang lebih cantik darinya. Tetapi kemudian sang ibu pergi menjauh seakan-akan membenci wajah In Hyung yang baru. Tak lama, terdengar suara ketakutan para dokter yang menyatakan bahwa operasi telah gagal dan wajah In Hyung rusak lagi berdarah-darah. In Hyung mati di meja bedah. Jika In Hyung mati, siapa gadis yang pulang ke rumah memakai hoodies milik In Hyung? Apakah itu In Hyung ataukah gadis lain yang dikirim dokter untuk menggantikan In Hyung?


Yup, akhir film pendek ini merupakan spekulasi. Ada sejumlah review yang mengatakan bahwa In Hyung tidak jadi melakukan operasi dan memutuskan pulang ke rumah sebagaimana adanya dirinya dengan wajah bawaan lahir. Namun, ada yang menyatakan bahwa In Hyung mati di meja operasi dan gadis yang pulang itu sosok lain yang dikirim dokter untuk menghilangkan bukti kematian In Hyung. Tentu saja, In Hyung palsu itu merupakan gadis yang telah mengalami operasi plastik dengan wajah cantik hasil operasi plastik: gadis dengan wajah secantik boneka porselen.  

Ini adalah kisah dalam film pendek berjudul "Human Form" karya sutradara Doyeon Noh asal Korea Selatan. Film masuk dalam kategori horror meski nggak hantu di dalamnya. Meskipun nggak ada hantu, film ini memang kayak horror, soalnya weird banget. Dengan tepat ia menggambarkan betapa mengerikannya dunia jika semua orang terobsesi mengubah wajah bawaan lahir untuk memenuhi sebuah obsesi, yaitu standar masyarakat mengenai kecantikan dan ketampanan melalui wajah yang sempurna. Film ini sama sekali nggak menggambarkan sebuah masyarakat dengan wajah sempurna, melainkan wajah aneh seperti alien hiyyyy. Soalnya, wajah manusia (seluruh manusia) jadi seperti boneka porselen. 

KOREA SELATAN DAN OBSESI BEDAH PLASTIK
Budaya populer Korea Selatan seperti K-Pop, K-Drama, K-Beauty memang nggak lepas dari bisnis kecantikan. Bisnis kecantikan disini bukan hanya make up ya, tapi juga skincare dan bedah plastik. Korea Selatan punya sejarah panjang soal standar kecantikan yang kini sangat mempengaruhi keputusan yang diambil seseorang dalam menjalani hidupnya. Nah, standar kecantikan yang dibangun Korea Selatan ini seakan-akan berkembang menjadi standar kecantikan Asia. Meski ada yang menyebut bahwa standar kecantikan ini dibangun untuk meniru standar orang kulit putih alias Kaukasia. Namun sebenarnya, K-Beauty ini membangun standarnya sendiri, khususnya untuk masyarakat Asia Timur. 

Orang Asia yang terbentang dari barat ke timur merupakan orang-orang dengan aneka suku bangsa dan budaya, lengkap dengan identitas kulit, struktur tulang, warna mata dan bentuk tubuh berbeda. Orang Korea pada dasarnya memiliki struktur dan identitas sendiri, yang lama-kelamaan membuat mereka nggak nyaman. Terutama setelah tumbuhnya industri film dan drama yang mau-nggak mau ikut melambungkan industri kecantikan. Aktor dan aktris yang ditampilkan merupakan sosok imut yang membuat mereka seakan-akan boneka hidup, dan ini membuat standar masyarakat berubah akan kecantikan dan ketampanan seseorang. Mereka berhasrat meniru idola mereka di layar kaca. Alhasil, berkembanglah bisnis menggiurkan di industri kecantikan mulai dari skincare, make up, fashion, hingga bedah plastik. Standar kecantikan Korea Selatan ini memang menampilkan karakter imut dengan glass skin yang tampak murni seperti kulit bayi. Wajar jika kemudian masyarakat internasional klepek-klepek. Soalnya, kan memang kecantikan demikian yang selalu menjadi legenda. 

Kabarnya, saat ini Korea Selatan menjadi semacam rujukan bagi praktek bedah plastik dengan kota Seoul sebagai pusatnya. Terdapat 1 juta kali bedah plastik di kota Seoul setiap tahunnya (ini pasti yang legal). Bedah plastik di kota ini bahkan didukung oleh pemerintah. Misalnya nih, ada tempat tertentu yang merupakan tempat bedah plastik bagi pasien internasional yang diizinkan pemerintah Korea Selatan. Di tempat itu, ada aturan bahwa satu dokter hanya diizinkan melakukan 2 bedah plastik setiap harinya. Tempat semacam ini sekana menjadi legitimasi bahwa warga dunia bahwa jika ingin mendapat kecantikan paripurna dari ujung kepala sampai kaki, datanglah ke Korea Selatan. 

Bedah plastik bukan hal tabu dan memalukan di negeri ginseng ini. Bahkan sudha umum bagi para orangtua memberikan hadiah kelulusan sekolah bagi anak-anak mereka berupa bedah plastik, entah untuk bikin kelopak mata, bikin hidung mancung, meniruskan pipi dan sebagainya. Sebab setiap orang ingin tampil cantik dan sempurna demi mendapatkan pekerjaan, mudah dalam pergaulan, gampang mendapat pasangan hidup dan demi mendapatkan kepuasan hidup. Di negara ini juga terdapat sebuah pandangan bahwa kecantikan dan ketampanan nggak harus bawaan lahir, melainkan bisa ditingkatkan melalui tindakan manusia, salah satunya dengan bedha plastik. 


Karena setiap orang berhak mengubah hidupnya menjadi lebih baik, maka nggak heran bedha plastik menjadi industri yang menjanjikan di negara ini. Negara ini bahkan nggak malu membuat sebuah reality show yang menunjukkan perubahan seseorang sebelum versus sesudah menjalani operasi plastik. Reality show itu bernama "Let Me In" yang memang mengubah hidup banyak orang melalui bedah plastik. Mereka yang lahir dengan wajah 'buruk' dan seringkali menjadi korban perundungan seperti dipanggil monster, berubah hidupnya setelah mendapatkan kecantikan hasil bedah plastik. Ya, sedikit bedah pada struktur wajah seperti rahang, hidung, gigi, alis, kening dan dagu, kehidupan seseorang bisa berubah begitu mengesankan. Seringkali, struktur wajah seseorang membuat orang tersebut sakit dan bedah plastik mengubahnya: menjadi cantik dan sehat. Sehingga seseorang kembali mendapatkan kendali atas hidupnya dan bahagia. 

Bumi Manusia, November 2020

Bahan bacaan: 
https://youtu.be/wp4YZdSz2aA
https://youtu.be/YBrQHSVaNx8
https://youtu.be/cgWCpdFc68k
https://youtu.be/omOGKuDtbdI
https://answerplasticsurgery.com/
https://youtu.be/x0kSUZKjNPc

2 comments:

  1. Beneran Horor!
    Kata anakku yg 5 th wajahnya so scary, Mom 😁😁. Bagus banget tapi moral valuenya, meski diinget Iklan dan produk kecantikan yang juga berperan membentuk standard kecantikan masyarakat.

    Jadi, pendidikan di dalam keluarga harus menanamkan value tentang apa itu cantik sebenarnya, ga dari baju, warna kulit dst. Tapi, dari dalam diri kita. Bagaimana kita mengapresiasi dan mensyukuri apa yang sudah Tuhan berikan sama kita.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Wajah para pemainnya jadi serem dan weird gitu. Filmnya pendek banget dan menimbulkan multi tafsir. Tapi bagusnya, filmnya bisa ditonton oleh anak-anak remaja juga biar mereka paham bahwa terobsesi pada standar kecantikan/ketampanan itu bahaya.

      Delete