Perempuan ini Diperkosa 500 Kali, Dimutilasi, & Mati Mengenaskan

Junko Furuta. Sumber: medium.com

Dia adalah Junko Furuta. Perempuan muda berusia 16 tahun, anak SMA yang cantik, populer, rajin dan pekerja keras. Dia juga cerdas dan selalu mendapat nilai bagus. Kecantikan, kepopuleran dan sikapnya yang baik membuat banyak rekan sekolahnya iri kepadanya. Perempuan muda ini tinggal bersama ayah, ibu dan 2 saudara lelakinya sebagai keluarga dari kalangan biasa. Meski sehari-hari sibuk belajar, ia juga bekerja paruh waktu dua hari dalam seminggu di sebuah toko elektronik. Ia berencana akan bekerja di toko itu jika sudah lulus sekolah. Sementara uang hasil bekerja akan ia gunakan untuk liburan kelulusan. Pada hari naas yang menjadi mimpi buruknya, ia berkata akan menyelesaikan menonton drama yang disukainya, Tonbo. Namun, Junko tidak pernah kembali untuk selamanya. 

Diceritakan bahwa seorang teman sekolahnya bernama Hiroshi Miyano menyukai Junko karena kecantikannya. Miyano saat itu berusia 17 tahun dan merupakan tipikal remaja nakal, bandel dan suka melakukan perundungan, bahkan pemerkosaan. Miyano ditakuti sehingga tidak seorang pun menolak segala perintah dan permintaan remaja ini. Ia juga dikenal sebagai anggota rendahan Yakuza, mafia paling ditakuti dan berkuasa di Jepang. Miyano tertarik pada Junko bukan karena cinta, melainkan hanya sekadar ingin bermain-main. Ia ingin meniduri Junko. Saat Miyano mengatakan suka pada Junko, gadis itu agak terkejut. Namun setelahnya, Junko menolak Miyano sebab ia ingin fokus belajar untuk ujian kelulusan. 

Pada 25 November 1988 saat Junko pulang sekolah (dalam cerita lain disebutkan pulang dari kerja paruh waktu) menggunakan sepeda, Miyano dan seorang temannya yaitu Nobuharu Minato melihat Junko dan bersekongkol untuk mengerjai perempuan itu. Minato menendang sepeda Junko dan membuatnya terjatuh, dan saat itu Miyano muncul sebagai pahlawan. Miyano menawarkan untuk mengantar Junko pulang ke rumahnya. Alih-alih mengantar Junko pulang, Miyano malah membawa Junko ke sebuah gudang untuk menyekap dan memerkosanya. Disanalah, Miyano juga mengungkapkan bahwa dia anggota geng Yakuza dan punya banyak koneksi orang Yakuza. Lalu, Miyano membawa Junko ke hotel terdekat, mengancam akan membunuhnya, lalu memerkosanya. Miyano juga mengundang sejumlah temannya anggota geng Yakuza untuk memperkosa Junko. Ini adalah gang rape tersadis yang dilakukan remaja pada teman sekolahnya sendiri.  

Setelah diperkosa secara bergiliran oleh geng Miyano, mereka membawa Junko ke sebuah rumah yang merupakan milik orang tua Minato. Rumah itu memang sudah menjadi tempat berkumpul geng Miyano. Pada hari itu pula, mereka memaksa Junko menelpon orangtuanya dan mengatakan bahwa ia sedang menginap di rumah seorang temanya, agar orangtua Junko tidak melaporkan Junko sebagai orang hilang ke polisi. Miyano juga mengetahui alamat rumah Junko dari buku catatannya dan mengancam Junko akan membunuh keluarganya jika Junko mencoba melarikan diri. Bahkan, ketika orangtua Minato datang ke rumah tersebut, Miyano memaksa Junko dipotret dan berpura-pura menjadi pacar salah seorang lelaki diantara mereka. Miyano dan gengnya yakin bahwa orangtua Minato tidak akan melaporkan mereka ke polisi mengingat koneksi Miyano pada geng Yakuza. Orangtua Minato tampaknya takut terjadi sesuatu dengan anak lelaki mereka jika melaporkan Miyano ke polisi. Kakak lelaki Minato juga mengetahui apa yang terjadi di rumah itu, namun tidak mengambil tindakan apapun untuk menolong Junko atau menghentikan kejahatan para remaja itu. 

Setelah empat hari dibawa ke sana kemari untuk disiksa dan diperkosa secara bergiliran, kemudian selama 40 hari lamanya Junko disekap, disiksa, dan diperkosa di rumah itu. Miyano dan ketiga temannya secara bergiliran memerkosa Junko dengan total pemerkosaan 400 kali. Mereka juga mengundang 100 orang lelaki yang merupakan koneksi dari Miyano di geng Yakuza untuk masing-masing memerkosa Junko. Sehingga jika ditotal, Junko diperkosa sebanyak 500 kali oleh 104 orang lelaki dalam kurun waktu 44 hari. Selain diperkosa, Junko juga tidak diberi makan dan minum kecuali kecoa hidup dan air kencingnya sendiri. Selama itu pula Junko disiksa dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kadang-kadang tubuhnya digantung dan dijadikan bantalan tinju sampai-sampai oran dalamnya mengalami kerusakan dan darah mengalir keluar dari mulut dan hidungnya. Kesadisan tak cukup sampai disitu, mereka juga memasukkan gunting ke vagina, stick baseball ke vagina dan anus, juga melakukan sodomi pada Junko. 

Dalam pengakuan para penjahat itu, mereka juga meninju, menendang dan memukuli seluruh tubuh Junko. Mereka juga membenturkan kepala Junko ke dinding, memotong puting payudara, membakar bulu matanya, menyiramkan lilin panas ke kelopak matanya, dan macam-macam kesadisan lainnya sampai-sampai seluruh tubuh Junko dipenuhi luka. Junko pernah berkali-kali mencoba melarikan diri dan menelepon polisi, namun ketahuan oleh Miyano. Mereka lalu menghukum Junko dengan menyiramkan cairan pada kaki dan vagina Junko lalu membakarnya. Pada hari ke 40 Junko meminta mereka membunuhnya saja sebab ia sudah tak sanggup menahan penderitaan. Namun mereka menolaknya dan terus saja menyiksanya. Di hari ke 44 yaitu Januari 1988, mereka tersiksa dengan bau busuk dari luka-luka di tubuh Junko yang membusuk. Mereka kemudian menyiksa Junko selama 2 jam lamanya hingga perempuan itu meninggal dunia. Mengetahui Junko sudah tiada, mereka panik. Mereka lalu membungkus tubuh Junko dengan seprai, membawanya ke kota Tokyo, memasukkannya ke dalam drum dan menuangkan semen ke dalamnya. Berbulan-bulan lamanya, Junko tidak ditemukan. 

Pada 23 Januari 1989 Miyano dan Ogura ditangkap polisi karena melakukan pemerkosaan berkelompok pada perempuan berusia 19 tahun yang mereka culik pada Desember 1988. Rupanya, Miyano dan teman-temannya ini memang berandalan yang sudah berulang kali melakukan banyak kejahatan termasuk penyiksaan, perundungan dan pemerkosaan. Dalam interogasi pada bulan Marek 1989, Miyano mengaku kepada polisi tentang Junko. Sehari setelahnya, Polisi menemukan drum tempat jenazah Junko dikubur. Polisi bisa menemukan identitas Junko melalui sidik jari. Sebab, wajah Junko sudah tidak bisa dikenali lagi akibat penyiksaan bertubi-tubi yang dialaminya selama 44 hari. Atas pembunuhan Junko Furuta, polisi menangkap 2 teman Miyano yang lain, juga kakak lelaki Minato. 

Saat ditemukan dan diidentifikasi, Junko tengah hamil hasil pemerkosaan ke 104 lelaki. Organ dalamnya rusak karena penyiksaan yang dialaminya, juga karena vagina dan anusnya dimasuki benda-benda yang membuatnya mengalami pendarahan hebat. Uterus Junko juga rusak dan membusuk karena diperkosa sebanyak 500 kali oleh 104 lelaki, terutama oleh ke 4 lelaki paling sadis yang menyekapnya. Keadaan Junko yang tidak bisa dikenali dan rusak ini jelas membuat keluarganya trauma sampai-sampai ibunya stress, mengalami keguncangan mental dan harus ditangani oleh Psikiater, sementara teman-teman sekolahnya dan rekan kerjanya merasa terpukul. 

Dalam pemberitaan di media Jepang, nama keempat lelaki itu dirahasiakan karena masih berusia remaja. Namun, jurnalis dari sebuah majalah bernama Shukan Bunshun justru mempublikasikan identitas mereka agar diketahui penduduk Jepang dan dunia. Jurnalis itu berpendapat bahwa meski mereka masih remaja, namun kejahatan mereka sangat mengerikan. Meski mereka tidak disebut sebagai pembunuh, mereka disebut bersalah karena melakukan penyiksaan yang mengantarkan korbannya pada kematiannya. Pada Juli 1990, pengadilan menghukum Hiroshi Miyano dengan hukuman penjara 20 tahun; Minato dihukum penjaga 9 tahun; Watanabe dihukum penjara 7 tahun dan Ogura dihukum 7 tahun penjara. Saat keempat remaja itu dihukum, mereka masih berusia antara 17-19 tahun. Orangtua Miyano memberi ganti rugi kepada keluarga Junko sebanyak 50 juta yen (USD 425.000 pada tahun 1990) dari hasil menjual rumah. Namun demikian, Ibu Ogura merusak bagian permukaan makam Junko karena menganggap Junko telah menghancurkan masa depan anak lelakinya, yang justru merupakan pelaku kejahatan atas penyiksaan dan pembunuhan pada Junko Furuta. 

Publik Jepang sebenarnya tidak puas dengan hukuman yang diberikan kepada keempat penjahat atas kematian Junko Furuta.  Para penjahat itu tidak sedang menikmati seks dari perempuan tidak berdaya. Namun, mereka menikmati menyiksa seorang perempuan lemah, bahkan mengundang 100 orang lain untuk turut menikmati penyekapan itu. Publik beranggapan bahwa sebaiknya mereka semua dihukum seumur hidup. Publik juga mempertanyakan, mengapa memberi hukuman teramat ringan bagi pelaku kejahatan sadis? Jika alasannya karena mereka masih remaja, bukankah sebagai remaja mereka sanggup melakukan kejahatan sesadis itu pada teman sekolahnya? Bagi publik Jepang, mereka sangat sadis. Bahkan sejumlah orang yang menghadiri persidangan pingsan saat mendengar bagaimana tersangka menjelaskan kronologi pemerkosaan dan penyiksaan dilakukan pada Junko.Rupanya, para penjahat itu mendapat privilese karena usia mereka masih remaja. Publik juga percaya bahwa hukuman teramat ringan yang diberikan kepada mereka erat kaitannya dengan koneksi mereka pada Yakuza. 
 
MENGAPA LELAKI BEGITU SADIS ATAS TUBUH PEREMPUAN? 
Membaca informasi mengenai pada yang menimpa Junko Furuta benar-benar membuat ngeri. Bagaimana pun juga, para penjahat itu masih berusia remaja sebagaimana korbannya. Mereka juga melakukan kejahatan itu di dalam rumah sebuah keluarga, di mana ayah, ibu dan kakak lelaki salah satu penjahat tinggal. Lebih dari 100 orang tahu bahwa seorang perempuan muda tak percaya menjadi tahanan rumah dan mendapat berbagai penyiksaan, namun mereka diam saja dan tidak melapor ke polisi. Hiroshi Miyano sang master mind tampak memiliki kekuasaan sangat besar, sampai-sampai tuan rumah tak berani berbuat apa-apa. Ia bahkan berkuasa mengajak 100 orang lain untuk berkunjung secara bergiliran dan memerkosa tahanan tak berdaya untuk diganyang rame-rame. Bayangkan saja, Junko Furuta bisa diperkosa sebanyak 12 lelaki salam sehari. Belum lagi penyiksaan yang diterimanya secara sadis dan ia dibiarkan telanjang sepanjang waktu. Penyiksaan sekaligus penghinaan dialami perempuan yang tidak memiliki kesalahan apapun pada semua orang yang berbuat jahat kepadanya, atau mereka yang tahu apa yang dialaminya tapi memilih bungkam. 

Mari kubuat daftar penyiksaan yang dialami Junko Furuta selama 44 hari dalam penyekapan: Disekap dan dipaksa mengaku sebagai pacar dari salah satu penjahat; dipaksa menelepon orang tuanya dan mengaku menginap di rumah teman; kelaparan dan kurang gizi; diperkosa lebih dari 500 kali; diberi makan kecoa hidup dan minum air kencingnya sendiri; dipukuli terus menerus dengan tongkat bambu, batang besi dan tongkat golf; dipaksa melakukan masturbasi; itelanjangi sepanjang waktu; telinga, hidung dan vaginanya dibakar dengan kembang api menyala; vagina dan anusnya dimasuki benda-benda seperti gunting, botol, rokok, bola lampu yang masih menyala, dan tusuk sate; tangan diikat ke langit-langit, digantung, dan tubuhnya dijadikan karung tinju hingga organ dalamnya rusak parah; airan yang mudah terbakar dituangkan ke kaki dan telapak kakinya dan dibakar; dipaksa tidur di dalam lemari es; pada bulan Desember yang dingin dipaksa tidur di beranda yang sangat dingin; kelopak mata dibakar dengan korek api; cairan lilin panas dituangkan ke wajahnya; salah satu puting payudaranya dipotong dan dirusak dengan tang; bagian dadanya ditusuk-tusuk dengan jarum jahit; dan tubuhnya dimutilasi. Tubuhnya rusak sampai nggak bisa dikenali lagi. 

Berikut kondisi tubuh Junko Furuta pada hari ke 44 penyekapannya: Hidung penuh dengan darah sehingga hanya bernafas melalui mulut; muntah saat mencoba minum air, karena organ dalamnya sudah rusak; tidak dapat buang air kecil karena bagian vaginanya rusak parah: tubuhnya rusak parah sehingga ia butuh waktu 1 jam lamanya untuk merangkak dari lantai atas ke kamar mandi di lantai bawah untuk pipis: kehilangan kontrol pada kandung kemih dan usus: gendang telinga rusak parah: ukuran otak berkurang/menyusut: tidak bisa bergerak: penampilan terutama wajah berubah drastis, nggak bisa dikenali: dan wajahnya rusak, tubuhnya lumpuh dan berbau busuk. 

Ya Allah, saat menulis ini kau benar-benar sedih! Saat itu Junko Furuta benar-benar sendirian. Meski orangtua dan kakak lelaki Minato ada di rumah itu, mereka sama sekali tidak menolongnya. Junko bahkan mengalami siksaan yang lebih mengerikan saat mencoba melarikan diri dan menelepon polisi. Miyano mengambil telepon dan mengatakan bahwa terjadi kesalahan laporan pada polisi. Bahkan ke 100 orang teman Miyano yang turut memerkosanya tidak melaporkan penyekapan itu pada polisi. Meski Polisi pernah menerima laporan tentang apa yang terjadi di rumah itu dan datang sebanyak dua kali, polisi tidak melakukan pemeriksaan menyeluruh dan hanya percaya bahwa tidak ada anak perempuan di rumah itu. Dalam hal ini, banyaknya orang yang mengetahui penyekapan sadis pada seorang perempuan muda tak berdaya, ternyata tidak memiliki kekuatan apapun. Mereka semua takut pada Hiroshi Miyano yang merupakan anggota geng Yakuza. 

PARA PEMERKOSA, PENYIKSA DAN PEMBUNUH ITU MASIH HIDUP
Pada 2009, Hiroshi Miyano dibebas dari penjara dan mengganti namanya sebagai Yokoyama. Lelaki ini nampak tidak merasa bersalah atas perbuatannya pada Junko Furuta. Ia sangat blak-blakan atas perannya dalam penyekapan, penyiksaan, pemerkosaan dan pembunuhan Junko Furuta. Ia bahkan menceritakan kejadian itu dengan ceria dan gembira. Ia dikenal sebagai lelaki yang menjalani gaya hidup mewah, mengendarai BMW, mengundang teman-temannya ke pesta barbekyu dan klub tari telanjang. Ia juga menggunakan outfit mahal dan membual tentang kedekatannya dengan pelaku kejahatan terorganisir dan skema multi-level marketing. Pada 2013, Miyano ditangkap kembali atas tuduhan penipuan, namun ia dibebaskan karena kurangnya bukti. Sejak saat itu ia menjalani hidup yang baik dan menjadi pelindung rutin gym kickboxing

Saat Minato dibebaskan dari penjara, ia mengganti namanya menjadi Shinji dan tinggal bersama ibunya. Pada 2006 ia pernah menikah dan memiliki seorang anak, kemudian bercerai. Pada 2018, sata berusia 45 tahun, Minato kembali ditangkap polisi karena melakukan percobaan pembunuhan kepada seorang lelaki berusia 32 tahun. Lelaki itu berhasil melarikan diri dan melapor polisi. Meski demikian, Minato terbebas dari tuduhan dan ia masih mendapat privilese dengan perlindungan hukum bagi remaja, padahal dia telah berusia 45 tahun. 

Sementara Ogura yang bebas pada 1999 mengganti namanya menjadi Jo Kamikasu. Sama seperti Miyano, ia juga membual dengan hebatnya tentang apa yang dilakukannya pada Junko Furuta. Dia juga mencuri tabungan ayahnya untuk berfoya-foya dan membeli barang-barang mewah. Padahal tabungan itu seharusnya akan diserahkan sebagai ganti rugi kepada keluarga Junko Furuta. Pada 2004, ia terlibat penganiayaan pada seorang lelaki. Ia dengan sesumbar mengatakan dan mengancam bahwa ia bisa melakukan pembunuhan karena pernah melakukannya dan tahu caranya terbebas dari pembunuhan. Ogura kemudian ditangkap lalu dipenjara selama 4 tahun dan bebas pada 2009. Sementara itu tak ada kabar apapun tentang Watanabe. Meski demikian, karena mereka masih hidup maka siapapun seharusnya merasa terancam. 

TRAGEDI JUNKO FURUTA ADALAH FEMICIDE
Femicide atau femisida adalah tindakan kejahatan secara sistematis dan sengaja yang menyebabkan kematian pada perempuan hanya karena dia perempuan. Hal ini karena dalam masyarakat patriarki, lelaki adalah nomor satu yang tidak terkalahkan dan perempuan adalah warga negara kelas dua yang nggak boleh menolak keinginan seorang lelaki. Ini bisa diverifikasi melalui kejamnya penyiksaan, pemerkosaan dan pembunuhan yang dilakukan oleh Miyano (yang ditolak cintanya oleh Junko). Femicide juga bermakna perbuatan sex-hate crime yang dilakukan lelaki pada perempuan hanya karena korban adalah perempuan. Semua terjadi karena kebencian pada perempuan. 

Bayangkan, hanya karena Junko menolak pacaran dengan Miyano sebab ingin fokus belajar, Junko mendapat balasan yang sangat mengerikan: disekap, disiksa, diperkosa selama 44 hari lamanya dan dibunuh oleh 4 orang lelaki setelah mengalami penyiksaan marathon selama 2 jam. Ditambah lagi dengan pemerkosaan oleh 100 lelaki yang didatangkan Miyano sebagai relasinya di geng Yakuza. Jadi, sikap kejam seorang lelaki membuat seorang perempuan diperkosa 104 lelaki sebanyak 500 kali: Apa lagi alasan yang bisa dikemukakan selain dari kebencian para lelaki ini kepada Junko, sebab Junko dalam keadaan lemah dan tidak bisa melawan? Lagipula ini adalah serangan bergerombol, ibarat 104 ekor singa memangsa 1 ekor domba. 
Keadaan saat Junko direndahkan, dipermalukan dan diperkosa beramai-ramai. Sumber: lucysrules.com

Kebencian lelaki (4 penyiksa) kepada perempuan (Junko) menunjukkan bahwa mereka benar-benar bukan hendak menikmati tubuh Junko melalui hubungan seksual, melainkan menikmati penyiksaan demi penyiksaan yang mereka lakukan. Tidak mungkin Junko tidak menangis dan menjerit-jerit saat disiksa entah oleh pukulan, tendangan, api, jarum, tongkat bambu, tongkat golf, botol, gunting hingga tang. Mereka menikmati proses menyiksa Junko yang tak berdaya, seakan-akan mereka tidak terlahir dari tubuh perempuan, yaitu ibu mereka masing-masing. 

PEMBELAJARAN BERHARGA DARI KISAH INI
Kisah keji ini bermula dari ego seorang pemuda bernama Hiroshi Miyano, yang ditolak oleh Junko untuk berkencan. Mereka adalah teman satu kelas. Miyano yang tidak pernah menerima penolakan memutuskan untuk memberi pelajaran pada Junko, yang berujung pada penyiksaan, pemerkosaan dan kematian mengerikan. Miyano bahkan membawa bala bantuan yaitu 3 orang temannya yang lain, dan mereka melakukan perbuatan sadisnya di dalam rumah milik orangtua Minato. Tindakan yang dilakukan oleh Miyano dan teman-temannya kepada Junko selama 44 hari tak lain merupakan bentuk menghina dan merendahkan. 

Dalam kasus ini, bukan hanya ke 4 orang jahat itu yang jahat. Mereka yang mengetahui peristiwa ini tapi memilih diam, adalah orang yang sangat jahat. Bagaimana pun mereka memiliki kemampuan untuk menelepon polisi dan meminta bantuan, namun mereka dengan sadar memilih untuk tidak melakukanya. Mereka diam dan tidak mau terlibat dalam kejahatan yang dilakukan anak dan teman-teman anaknya demi keselamatan diri mereka sendiri. Mereka tahu apa yang sedang terjadi selama 40 hari lamanya (ini waktu yang sangat lama) dan mereka memilih bungkam. Keselamatan Junko ada di telapak tangan keluarga Minato, tapi mereka bungkam. 


Junko Furuta memiliki 3 peluang untuk terbebas dari hari-hari neraka jika saja orang-orang di sekitarnya dapat menjalankan tugasnya dengan baik, sebagai manusia. Pertama, keluarga Minato (kedua orangtua dan kakak lelaki Minato) yang tahu bahwa ada yang tidak beres atas apa yang terjadi antara anaknya, ketiga temannya dan seorang gadis. Sangat tidak mungkin jika keluarga Minato tidak menaruh kecurigaan, bahwa gadis yang dipaksa mengaku sebagai pacar anak lelakinya (Minato) ada di ruang bawah tanah selama 40 hari lamanya, tidak makan dan minum, tidak sekolah, dan berusaha meminta bantuan kepada mereka. Selain itu, kakak lelaki Minato juga tahu bahwa ada yang tidak beres dengan kelakuan adik dan ketiga temannya di ruang bawah tanah. Selain itu, mereka dikunjungi 100 orang berbeda selama 40 hari, yang semuanya menuju ruang bawah tanah. Seharusnya mereka curiga dengan kegiatan diluar nalar itu, bukan? 

Kedua, Junko berusaha melarikan diri dan meminta pertolongan untuk menelepon polisi. Namun, keluarga Minato sama sekali tidak memberikan pertolongan. Keluarga itu membiarkan Junko tertangkap basah oleh Miyano sehingga kembali mengalami penyiksaan mengerikan. Bagaimana bisa sebuah keluarga bersikap biasa saja, tenang-tenang saja dan membisu atas kejadian tidak biasa di ruang bawah tanah rumah mereka selama 40 hari lamanya? Mereka juga pasti melihat tubuh Junko babak belur saat berusaha menyelinap keluar dan melarikan diri, bukan? Bagaimana bisa mereka menutup mata atas perbuatan tak biasa yang terjadi di rumah milik sendiri selama 40 hari lamanya? 

Ketiga, polisi tidak melakukan tugasnya dengan baik. Diantara 100 orang lelaki yang diundang Miyano untuk memerkosa Junko, ada satu orang yang merasa bersalah telah memerkosa Junko dan mengaku kepada orangtuanya mengenai apa yang terjadi di rumah Minato. Kedua orangtua lelaki itu kemudian melapor ke polisi. Maka datanglah dua orang polisi ke rumah keluarga Minato dan disambut baik keluarga Minato. Kedua polisi bahkan dipersilakan memasuki rumah dan melakukan penggeledahan jika memang mendapat laporan tentang penyekapan dan pemerkosaan seorang gadis-anak SMA. Saat itu polisi tidak jadi melakukan penggeledahan karena menganggap keterbukaan keluarga Minato seakan menunjukkan bahwa memang tak terjadi apa-apa di rumah itu. Polisi pun pulang, sementara Junko membusuk di ruang bawah tanah. Selain itu, Junko pernah berusaha menelepon polisi dan seorang petugas menerima telepon itu. Mengapa polisi tidak melacak alamat asal telepon dan mengirimkan petugas? Lihat, karena polisi tidak melakukan tugasnya dengan baik, maka  Junko yang seharusnya bisa selamat, malah menemui kematiannya. 

Hidup mati Junko saat itu ada di telapak tangan keluarga Minato dan polisi yang datang ke lokasi. Namun, karena mereka tidak menjalankan perannya yang baik sebagai manusia dna petugas berwenang, maka seorang perempuan muda tidak berdaya menemui kematiannya. Pada akhirnya, yang jahat bukan hanya mereka yang melakukan kejahatan. Namun, mereka yang berdiam diri dan tidak melakukan penyelamatan padahal mengetahui aksi kejahatan, adalah orang yang lebih jahat. Sebab, mereka tahu kejahatan itu jahat, namun mereka dengan sadar membiarkan kejahatan itu terjadi. 

Bumi Manusia, Oktober 2020
Bahan bacaan: 
https://www.wikiwand.com/en/Murder_of_Junko_Furuta
https://en.wikipedia.org/wiki/Murder_of_Junko_Furuta
https://japaninsides.com/44-days-of-hell-the-story-of-junko-furuta/
https://kumparan.com/selidik/junko-furuta-wanita-jepang-yang-disiksa-dengan-kejam-selama-44-hari-1tLfWDMLE37/full
https://www.courts.go.jp/app/files/hanrei_jp/261/020261_hanrei.pdf
https://www.japantimes.co.jp/news/2004/07/29/national/man-who-killed-as-child-back-in-court/
https://web.archive.org/web/20130222041410/http://www.trutv.com/library/crime/blog/article/japanese-horror-story-the-torture-of-junko-furuta/index.html
https://ripeace.wordpress.com/2012/09/14/the-murder-of-junko-furuta-44-days-of-hell/
https://www.quora.com/What-happened-to-the-murderers-of-Junko-Furuta
https://japaninsides.com/44-days-of-hell-the-story-of-junko-furuta/
https://en.wikipedia.org/wiki/Femicide
https://tirto.id/nestapa-junko-furuta-korban-pembunuhan-tersadis-antek-yakuza-c46N
https://filmdaily.co/news/junko-furuta-2/

6 comments:

  1. Aku terlalu sesak napas baca ini mba :(. Ga kuat ngebayangin junko mengalami siksaan sesadis itu , ya Allah... :(. Nth apa yg dirasain oleh orangtuanya. Mungkin aku bakal mati kalo anakku harus mengalami siksaan mengerikan begitu :(.

    Membaca hukuman yg diterima apalagi :(. Segitu ga adilnya kah? Hukuman apa itu, walo mereka remaja, tp yg dilakuin lebih mengerikan dari perbuatan manusia. :(. Aku hrs nahan tangis baca ini.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul sekali, kisah ini sangat sadis dan Junko sangat kuat menahan rasa sakit itu meski semakin hari tubuhnya semakin membusuk. Keempat lelaki yang jadi penjahat itu juga sangat jahat untuk ukuran remaja. Namun, perhatikan tulisan bagian akhir. Saya sudah menyertakan keterangan bahwa ada pihak lain yang tak kalah jahat dari keempat penjahat. Sebab mereka tahu bahwa hidup mati Junko ada di tangan mereka, namun mereka diam saja dan tidak menjalankan tugasnya dengan baik sebagai manusia.

      Delete
  2. Replies
    1. Yup, keempat penjahat sangat menakutkan dan menyeramkan. Namun, diceritakan juga bahwa ada orang yang mengetahui apa yang terjadi namun mereka memilih bungkam selama 40 hari lamanya. Orang yang bungkam saat mengetahui sebuah kejahatan terjadi, merupakan orang yang sangat jahat.

      Delete
  3. Serius, aku mual baca bagian penyiksaan dan kondisi korban Junko Furuta. Sedih campur marah sama semua pihak yang terlibat, baik yang memiliki keterlibatan aktif maupun pasif. Waktu 40 hari lebih itu bukan masa yang singkat, itu sangat panjang. Ih, aku berharap ada suatu masa dimana kondisi seperti Junko Furuta tidak ada lagi hingga hari akhir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berharap kejadian serupa tidak terulang lagi di dunia ini sangat mulia. Mari tingkatkan kemuliaan itu dengan turut serta mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan yang mampu menekan angka kekerasan seksual, berikut perlindungan hukum dan sosial bagi korban.

      Delete