Menulis Sebagai Pembaca


Yuk menulis. Sumber: www.barcelona-metropolitan.com

Menulis tidak bisa dipisahkan dari proses membaca. Sebab aktivitas menulis-membaca bagai dua sisi mata uang yang saling berperan bagi satu sama lain. Membaca adalah tentang memberi asupan kosa kata, pengetahuan dan sudut pandang baru pada diri seorang penulis.  Sementara menulis merupakan upaya membagi hasil olah pikir kita kepada dunia. Sehingga, semakin disiplin dan berkesinambungan proses membaca yang dilakukan, semakin kaya juga perbendaharaan kata hingga idea dalam proses menulis.  Dengan membaca, proses menulis nggak akan berhenti di alasan semacam "Duh, aku kekurangan ide, nih!" sebab ide dan gagasan selalu ada. Hanya saja diperlukan gateway untuk mengolahnya jadi tulisan.

Menulis tidak bisa dilakukan dengan sistem kebut semalam. Misal kita bermimpi sebulan nulis, lalu sim salabim deh jadi buku yang langsung disukai pembaca. Menulis adalah proses, di mana ada kurva keseimbangan yang harus dijaga. Kurva keseimbangan disini bukan hanya soal seberapa banyak tulisan yang kita hasilkan dalam periode tertentu, melainkan juga sedekat apa tulisna kita dengan pembaca. Apakah pembaca datang sekali lewat lantas tak akan pernah membaca tulisan kita lagi. Atau pembaca merasa tersentuh, tertantang, terganggu hingga terinspirasi dengan tulisan kita dan akan kembali dan selalu kembali lagi untuk membaca tulisan baru. Seakan-akan tulisan kita merupakan bagian dari hidupnya. 

"Bagaimana agar nggak kena mental block saat menulis?"
"Duuh, saya kehabisan ide nih!"
"Bentar ah, lagi mumet. Nggak punya inspirasi!"
"Istirahat dulu ahhh.... lagi pusing mau gimana melanjutkan tulisan."
"Gimana sih caranya agar tulisan kita bagus?"
"Tulisan apa ya yang disukai pembaca?"
"Kira-kira kalau aku menulis tema ini, orang bakal suka nggak ya?"
"Ini isu kontroversial, takut ah nulisnya!"

Mungkin, sebagian dari kita merasa bahwa ada semacam 'kewajiban' bahwa setiap tulisan kita harus disukai 100% oleh pembaca. Ini, cara pandang yang keliru. Setiap tulisan merupakan anak ruhani penulisnya yang masing-masing memiliki nasibnya sendiri-sendiri. Tidak setiap penulis harus melahirkan tulisan yang membuat orang lain bahagia, termotivasi, terinspirasi, atau membuat senang orang lain. Tidak semua penulis menghasilkan karya dengan tujuan asal pembaca senang. Banyak penulis yang memang menulis untuk membangun proses kesadaran, melakukan kritik sosial, mempromosikan keadilan sosial, memperjuangkan kemerdekaan, melakukan penyadaran publik atas suatu isu, hingga menentang kekuasaan absolut penguasa yang menindas rakyatnya sendiri. Pilihan ada di tangan penulis, mau menulis untuk bersenang-senang, mendapatkan kekayaan, atau untuk menjadikannya alat perjuangan. 


Aku pernah membaca sebuah nasehat dalam tulis menulis. Intinya: menulislah sebagai pembaca. Maksudnya, seorang penulis yang baik adalah yang mampu memahami kebutuhan pembacanya. Penulis membuat tulisan yang didedikasikan untuk menyenangkan, mendidik, membangun sikap kritis, hingga membangkitkan nilai-nilai baik dalam diri pembacanya. Dengan demikian, seorang penulis tidak akan lagi kebingungan apalagi kehabisan ide untuk memberi kabar baru kepada pembacanya. Sebab, dengan memahami kebutuhan pembaca, kita akan menulis sebagai pembaca. Seakan-akan, saat menulis kalimat per kalimat, kita sedang berbicara dengan pembaca dan seakan-akan juga sang pembaca menjadi jari-jemari kita yang menentukan kalimat seperti apa yang akan mengalir deras dari kepala kita ke dalam layar laptop atau media menulis lainnya. Ketika kita menulis sebagai pembaca, kita nggak akan terkurung dalam benteng ide milik sendiri. Melainkan kita akan terbuka terhadap berbagai sudut pandang yang memberi warna terhadap tulisan kita. 

Namun, perlu diperhatikan juga sejumlah etika ketika kita hendak menjadikan pembaca sebagai alasan kita menulis. Misalnya gini, saat muncul isu tertentu dalam masyarakat, sebaiknya nggak buru-buru menuliskan isu tersebut hanya karena ingin menjadi yang terdepan dalam menuliskannya. Berdasarkan pengalamanku, cara terbaik adalah melakukan riset kecil-kecilan sampai kita menemukan satu data yang mungkin orang lain nggak kepikiran mendapatkannya. Dengan data yang kaya, tulisan kita atas suatu isu yang gencar dibahas di publik akan menjadi unik dan berbeda. Sebagai penulis, kita harus memiliki posisi tawar dengan menjadikan tulisan kita unik, berbobot dan berbeda, sehingga nggak hanya sekedar memberikan informasi atas kaidah 5W+1H. Dengan demikian, kita nggak saja memberikan pembaca satu cara pandang berbeda dalam melihat suatu hal, serta dalam mendapatkan informasi spesifik atas hal-hal seharusnya publik ketahui. Juga menunjukkan bagaimana sebagai penulis kita serius menggarap tulisan kita, sebab tulisan tersebut berharga. 

Dalam proses menulis sebagai pembaca, aku bisa memberi satu contoh berdasar pengalamanku sendiri. Tahun 2016 silam, terjadi kehebohan terkait Oki Setiana Dewi (OSD) seorang selebriti yang kemudian menjadi penceramah. Saat itu, OSD dibully banyak pihak yang meragukan pengetahuannya sebagai pendakwah. Bahkan, ada sebuah petisi yang dibuat untuk menguliti OSD perihal proses pendidikannya sehingga publik bisa menentukan layak atau enggaknya dia diberi gelar sebagai Ustadzah. Saat itu, aku mencari informasi di internet tentang hal tersebut dan selalu terbentur pada konten yang sama, dari berbagai media online yang menulis artikel berbasis copy-paste entah dari siapa. Sebagai seorang pembaca yang skeptis, aku memutuskan untuk membuat tulisan tentang OSD dari sudut pandang berbeda. Aku riset kecil-kecilan dan jadilah tulisan ini: Merindukan Oki Setiana Dewi yang Dulu. Artikel ini merupakan tulisan di blogku dengan tingkat keterbacaan tertinggi, yaitu mencapai 80.000 views dalam dua hari sejak diterbitkan dengan lebih dari 100 komentar pembaca. Wow! Aku telah menghasilkan tulisan yang membuat pembaca berbondong-bondong datang padaku, termasuk membangun diskusi. Yup, aku telah berhasil menggunakan rumus 'menulis sebagai pembaca.'


Beberapa tahun belakangan ini (tentunya setelah tersesat dalam proses belajar mendengar-membaca-menulis) aku menemukan metode milikku sendiri. Misalnya, tentang sebaiknya aku menulis isu apa sih dan bagaimana cara menggapai pembacaku, baik pembaca setia maupun pembaca baru. Sebagai orang biasa yang tidak memiliki nama besar, tentu aku harus berjuang keras agar menemukan pembaca baru demi tersampaikannya maksud dalam tulisanku. Aku menghindari menulis tema-tema yang sudah ditulis banyak orang, misalnya soal lifestyle, kuliner, traveling dll. Aku berusaha mengambil celah di mana hanya sedikit orang yang bersedia membahas tema tertentu. Dengan demikian, pembaca setiaku akan menunggu tulisan terbaruku. Sejujurnya, aku menyukai proses di mana pembaca menunggu tulisanku yang terbaru tentang tema-tema yang yahhh kadang kontroversial dan mengganggu pakem yang dipercaya publik selama ini. 

Hai pembacaku yang baik, demikian tulisan hari ini. Semoga bermanfaat. Mau ngopi dulu ahhh. 

Bumi Manusia, September 2020. 


No comments:

Post a Comment