CHEF OF SOUTH POLAR dan Kisah Semangkuk Ramen di Antartika

Sebagai Jun Nishimura sang chef. Sumber: Asianwiki

Adalah Jun Nishimura, seorang Chef yang bekerja di sebuah kapal laut milik pemerintah Jepang tiba-tiba mendapat tugas untuk menjadi chef di pusat penelitian Jepang di Kutub Selatan alias Antartika menggantikan temannya yang mengalami kecelakaan. Tidak terbayang olehnya ia akan memasak di tempat terdingin di bagian selatan bumi, dimana tak ada Pinguin atau Beruang kutub yang bisa diajak bermain-main. Ia akan memasuki dapur yang sangat sepi, dingin dan di tempat ia tak bisa kabur. Film ini berdasarkan sebuah autobiographical essay berjudul “Fun Days of an Antarctic Chef (Omoshiro Nankyoku Ryorinin)” oleh Jun Nishimura. Film ini sangat cocok dinikmati bersama semangkuk ramen, atau Indomie kuah hehe. 

Delapan orang tinggal di stasiun Dome Fuji di bagian terdingin di Antartika. Mereka terdiri dari peneliti es dan salju, dokter, bagian mesin, bagian komunikasi dan seorang koki. Setiap hari dijalani dengan sangat teratur dan mereka memiliki jadwal piket untuk mengurus berbagai kerusakan, mengecek persediaan air tawar, membuang sampah, membersihkan kamar mandi dan sebagainya. Setiap pagi mereka dibangunkan dengan musik, lalu mereka senam bersama sebelum sarapan, agar selalu sehat dan bugar sebelum beraktivitas sehari penuh. Tugas Nishimura hanyalah memastikan para ilmuwan tetap bergembira saat bekerja dengan memberikan mereka makanan sehat sebagaimana mereka biasa makan di Jepang. Semua bahan makanan berasal dari Jepang dalam kondisi beku, agar terjamin kualitasnya.
Senam pagi dulu ya. Sumber: themoviedb.org

Bahan makanan mereka adalah makanan kalengan yang harus dihangatkan atau makanan segar yang dibekukan. Semua persediaan makanan disimpan diluar ruangan di dalam kotak-kotak khusus, karena suhu di luar ruangan sangat dingin sehingga makanan awet, kecuali biji-bijian yang ditanam didalam ruangan untuk menjadi sayuran. Pokoknya, perihal makanan ini sangat penting mengingat tugas para ilmuwan dan dokter juga sangat penting dalam dunia ilmu pengetahuan yang tengah dikembangkan oleh Jepang.

Sebagai seorang Chef, Nishimura mengalami tantangan tertentu di dapur Antartika. Misalnya karena suhu didih yang tak sempurna sehingga ramen saja bagian tengahnya masih mentah. Tetapi ia berusaha selalu menyediakan makanan sehat tiga kali sehari untuk para kru. Ia sangat bahagia jika setiap orang menikmati masakannya dan mereka begitu senang bisa mendapatkan makanan yang sama seperti di Jepang. Meski demikian seringkali para kru meminta mereka memasak dengan cara yang aneh, misalnya meminta lobster goreng. Mereka juga sering memasak ramen saat malam hari sehingga persediaan ramen habis. Bahkan ada seorang kru yang tak bisa tidur jika belum makan ramen, maka dengan bijak Nishimura membuat ramen untuk mereka, agar tidak menjadi gila betulan wkwkwk.
Lobster Goreng di Antartika.

Tapi, bekerja di kutub selatan adalah hal yang sangat membosankan. Satu persatu dari mereka mengalami stress karena -mungkin kesepian akut- jauh dari keluarga dan teman dan ingin segera pulang. Ada seseorang yang saking homesick-nya memakan mentega dan menganggap bahwa mentega adalah makanan terenak; ada juga yang berpura-pura sakit dan mengurung diri di kamar sambil membaca komik, kemudian menghabiskan persediaan air tawar untuk mandi; ada juga yang ingin bunuh diri dengan membekukan diri di luar ruangan karena diputuskan oleh pacarnya via telepon; dan si koki sendiri sangat terpukul ketika gigi tanggal anak perempuannya, yang sengaja ia bawa sebagai pengingat akan keluarga yang menunggunya, jatuh ke sumur bor saat terjadi perkelahian antar kru akibat kegilaan mereka.

Setelah berbulan-bulan bertugas di Dome Fuji, mereka kembali ke Jepang dan tim lain menggantikan mereka. Nishimura senang bisa berkontribusi pada proyek Pemerintah Jepang di Antartika dan menjadikan pengalamannya sebagai oleh-oleh untuk diceritakan kepada istri dan anaknya.

PENELITIAN JEPANG DI ANTARTIKA
Pada tahun 1957 Jepang membangun Syowa station di bagian timur Antartika sebagai pusat Japanese Antarctic Research Expedition (JARE). Informasi tentang stasiun ini bisa diperoleh di jurnal berjudul "Dome Fuji Station in East Antartica and the Japanese Antartica Research Expedition" tulisan Kazuyuki Shiraishi pada 2013. Di Antartika, Jepang melakukan banyak penelitian tentang iklim yang informasinya diperoleh dari es yang terkubur di dalam benua es ini selama jutaan tahun.
Dome Fuji Station milik Pemerintah Jepang di Antartika. Sumber: twitter.com/Antarctic_Infra

Stasiun ini merupakan satu dari sejumlah pusat penelitian di Antartika. Karena Antartika merupakan satu-satunya wilayah di planet bumi yang nggak boleh diklaim sebagai wilayah teritorial negara manapun, maka negara-negara maju berlomba-lomba melakukan penelitian disana. Dome Fuji Station sendiri merupakan satu dari 4 stasiun penelitian milik Jepang di Antartika selain Syowa Station (1957), Mizuo Station (1970), dan Asuka Station (1985). Dome Fuji Station ini didirikan tahun 1995 yang menjadi lokasi chef Jun Nishimura bertugas sebagai chef yang menjamin ketersediaan makanan enak dan sehat bagi para tim peneliti dan dokter. Hm, kamu kapan berkunjung ke Antartika juga? 

Jakarta, September 2020
Bahan bacaan:
https://idahojapaneseassociation.org/the-chef-of-south-polar-fact/
https://en.wikipedia.org/wiki/Dome_F
https://www.nipr.ac.jp/antarctic/
https://www.youtube.com/watch?v=O9mTiO6SFEU&feature=youtu.be
https://www.nipr.ac.jp/english/collaborative_research/antarctic.html

2 comments:

  1. uwaaaahh, filmnya kayaknya menarik yaaa... aku mw cari ah :D.. suka nih yg berhubungan ama makanan2 gini mbak :p.. kdg suka kebawa laper kalo nonton film bertema makanan :D

    ReplyDelete