RURAL OUTCASTS: Persahabatan Unik Anak Kecil dan Lelaki Misterius

Dong Ja dan Malaikat Penyelamat. Sumber: mydramalist.com


Dong Ja adalah siswa SD (12 tahun) yang malang. Dia tinggal dengan kakeknya yang pemabuk; ibunya pergi entah ke mana, sering dibully teman-teman sekolahnya; sering kelaparan; dan seisi desa tempat ia tinggal memanggilnya poopy alias taik. Tidak ada yang memperhatikan Dong Ja sampai-sampai tubuhnya berbau tidak enak karena jarang mandi dan mungkin pakaiannya jarang dicuci. Nyaris setiap pulang sekolah, ia dimarahi kakeknya yang mabuk siang-malam. Setiap hari pula ia harus kelaparan dan terpaksa berkeliling desa mencari buah-buahan liar demi mengganjal perutnya yang lapar. Sebagai orang miskin, sang kakek mendapat bantuan sembako berkala dari pemerintah desa. Bantuan sembako itu tidak bisa diuangkan, karena jika diberikan dalam bentuk uang maka si kakek akan menghabiskan uang itu untuk membeli alkohol. Terjebak dalam kehidupan yang tidak menyenangkan, Dong Ja memilih menyenangkan diri dengan dua harta karun paling disayanginya: sebuah radio mungil dan rumah kosong entah milik siapa. Setiap pulang sekolah, ia bisa menyelinap masuk ke rumah kosong tersebut, lalu tiduran sembari mendengarkan musik dari radio dan ngemil buah cherry liar yang dipetiknya. 

Pada suatu malam, Dong Ja terbangun oleh sebuah suara kendaraan di halaman rumah kosong. Sepasang mata kecilnya mengintip dari jendela untuk memastikan keamanan dirinya sebelum melarikan diri. Ternyata seorang lelaki berpakaian serba hitam datang, dengan setumpuk barang di bagian belakang mobilnya. Dong Ja was-was. Saat lelaki itu memeriksa keadaan rumah, Dong Ja yang berniat melarikan diri malah menabraknya dan antena radionya patah. Dong Ja sangat kesal mengingat radio itu merupakan harta karun yang membuatnya merasa terhibur. Bagi Dong Ja, radio itu unik karena bisa menceritakan banyak hal dan memutarkan musik sebagaimana yang pernah dilakukan ibunya sebelum perempuan itu pergi entah ke mana dan membuat Dong Ja bernasib malang. Dong Ja pun kesal karena radionya rusak. 

Karena Dong Ja tidak punya uang, dia pun memaksa pihak pemerintah desa memberikan bantuan untuk keluarganya dalam bentuk uang tunai alih-alih sembako. Dong Ja membutuhkan uang itu untuk membayar biaya servis radionya. Hari itu dia kembali bertemu dengan si orang baru yang akan tinggal di rumah harta karunnya. Lelaki itu bernama Soon Ho, seorang warga baru di desa yang menempati rumah yang selama ini jadi tempat main Dong Ja. Lelaki itu cukup misterius. 

"Kamu! Jangan pernah datang ke rumah ini lagi. Kalau aku memergoki kamu sekali lagi, kamu dalam masalah besar! Paham?" Soon Ho menakut-nakuti Dongja. 
"Aku orang yang sangat menakutkan!" tambah Soon Ho sembari mencoba menyembunyikan jari-jari kakinya yang bercat biru metalik, dan ia menggunakan kaos hitam dengan hiasan imut berwarna pink dan teddy bear berwarna coklat muda bertuliskan kata 'hi.
"Yah, kayaknya iya sih. Lihat aja kenapa lelaki dewasa mengecat kuku kakinya?" Dong Ja malah berkata sinis sembari mengejek penampilan Soon Hee yang sama sekali nggak sesuai dengan gambaran lelaki dewasa yang galak. 
"Produk kosmetik dan pakaian perempuan juga milikmu, kan?" serang Dong Ja. 
"Berhenti bicara omong kosong kamu!" bantah Soon Ho yang takut rahasianya terbongkar. 
"Kembalikan radikou!" pinta Dong Ja. 
"Radio apaan! Bodo amat! Buruan keluar kamu!" Soon Ho menarik tangan Dong Ja. 
"Balikin radio aku! Pokoknya balikin radio aku! dasar kamu anak lelaki dari balblabla!" Dong Ja marah dan memaki Soon Ho dengan kata-kata sangat buruk sampai lelaki itu terkejut bukan main, meski akhirnya Dong Ja berhasil diusir keluar. 

Dong Ja kesal bukan main karena ia tidak berhasil mendapatkan si radio. Ia kembali di lain hari dan membuat Soon Ho terkejut. Kali ini, Soon Ho dibuat takjub dengan si bocah kurang ajar. Karena Dong Ja sangat menyukai rumah tersebut, ia menawarkan sebuah perjanjian bahwa ia tidak akan membongkar rahasia Soon He kepada warga desa asal lelaki itu mau memenuhi tiga permintaan Dong Ja. Salah satu permintaan Dong Ja adalah berbagi rumah tersebut. Mereka bertengkar soal siapa yang harus menepati janji sampai Soon Ho meminta Dong Ja berjanji untuk tidak memberi tahu teman-teman dan ibunya perihal rahasianya. Saat itu Dong Ja langsung sedih dan pergi meninggalkan rumah Soon Ho. 

Setiap hari sepulang sekolah, Dong Ja selalu pergi ke rumah Soon Ho. Ia memberikan buku rekening milik kakeknya yang selalu mendapat kiriman uang dari ibunya. Ia menyerahkan buku tabungan itu kepada Soon Ho dan meminta tolong kepada lelaki itu untuk mencari ibunya. Dong Ja juga terlibat dalam kegiatan sehari-hari Soon Ho seperti berburu bunga-bunga di sekitar hutan kecil di dekat rumah itu. Soon Ho bahkan sangat kagum pada Dong Ja yang sangat memahami nama-nama, aroma dan fungsi bunga-bunga serta tanaman herbal yang tumbuh di desa itu. Mereka mulai akrab dan menjadi sahabat. Soon Ho bahkan menceritakan apa rahasianya dan mimpi-mimpinya, selalu mengembangkan bisnisnya yang rahasia itu dan mencari ibu Dong Ja. Mereka juga mulai memasak bersama dan Dong Ja tidak lagi kelaparan.

Baca juga: Kisah Seorang Ayah Penjual Darah

Hubungan Dong Ja dan Soon Ho semakin dalam. Keakraban mereka sampai membuat beberapa teman sekolahnya menyangka bahwa Dong Ja dan Soon Ho memiliki hubungan yang membahayakan. Hal ini membuat Kepala Desa turun tangan dan peristiwa mengenaskan mulai terjadi. Kepala Desa curiga bahwa Soon Ho yang bertampang seperti bandit merupakan seorang pedofil yang merayu Dong Ja untuk keuntungan seksual. Dong Ja yang mulai berbahagia dengan sosok yang seperti ibunya sendiri, yang bahkan membelanya saat sang kakek memarahi sembari memukulnya, harus merasakan kehilangan orang yang menyayanginya. Apa yang sebenarnya terjadi antara Dong Ja dan Soon Ho? Silakan nonton langsung aja ya. Film ini sangat aku rekomendasikan ditonton bersama keluarga. 

Bumi Manusia, 24 Agustus 2020



No comments:

Post a Comment