Istri Shalihah dan Suami Shalih (1)

Ilustrasi pasangan shalih dan shalihah



Istri shalihah adalah kosa kata populer dalam masyarakat Indonesia. Pada masyarakat Arab ia biasa disebut al-Marah al-Shalihah yang secara literal berarti perempuan yang saleh. Sangat jarang mereka menggunakan kata al-Zaujah al-Shalihah, pasangan yang saleh. Kosa kata “al-Marah al-Shalihah, tersebut dipersepsi publik muslim sebagai sosok perempuan/isteri yang serba ideal, sesuatu yang didambakan dan diimpikan laki-laki/suami. Tetapi apakah yang “ideal” itu? Ia dapat dimaknai dan ditafsirkan secara berbeda-beda oleh setiap orang dan setiap kebudayaan. Ia tidak bisa dirumuskan secara obyektif. Tak bisa dijawab dengan hitam atau putih. Setiap orang punya rasa ideal yang berbeda.

Akan tetapi hampir semua kebudayaan mendefinisikan idealitas tersebut menurut perspektif laki-laki. Betapa jarang kita mendenfar kata "suami saleh". Hal ini tentu saja sangat terkait dengan konstruksi sosialnya yang serba mengunggulkan laki-laki. Dalam sistem kebudayaan patriarkis seperti ini, segala hal kehidupan didefinisikan oleh serba laki-laki. Dalam perspektif seperti ini, maka isteri shalihah biasanya digunakan untuk menggambarkan seorang isteri sebagai sosok manusia domestik, feminin dan subordinate. Isteri shalihah atau lebih umum lagi perempuan shalihah adalah perempuan yang selalu berada di rumah, yang lembut, yang melayani dan patuh kepada suaminya sepenuh hati baik untuk keperluan kesenangan seksual maupun keperluan-keperluan yang lain, sabar dalam mengurus anak, bisa memasak dan sebagainya.

Dalam tradisi Jawa ada sebutan yang sangat populer untuk seorang istri shalihah: "swarga nunut, neraka katut" yang berarti "ke surga ikut dan ke neraka terbawa. Ini menggambarkan bahwa istri shalihah dalam adat Jawa adalah istri yang selalu ikut suaminya kemana pun dan dalam keadaan apapun. Istilah lain yang juga digunakan untuk menyebut istri shalihah adalah "kanca wingking", (konco wingking) yakni teman di belakang. Istri adalah pendamping suaminya, tetapi dengan posisi di belakang. Jika berjalan isteri harus berada di belakang suami, dia baru bisa makan sesudah suami selesai makan dan seterusnya. Isteri dengan demikian bukanlah mitra yang sejajar dengan suaminya. Pendek kata isteri shalihah dalam pandangan masyarakat Jawa pada umumnya adalah sosok perempuan yang selalu mengabdi kepada suaminya lahir dan batin, perempuan yang mau berkorban demi suaminya, hidup dan mati dipersembahkan untuk suami, dan mengurus keluarganya di rumah sepanjang hari sepanjang malam.

Paling tidak demikianlah konotasi isteri shalihah menurut tradisi atau adat Jawa yang berkembang pada masa lalu dan berlangsung selama berabad-abad bahkan masih ada hingga saat ini. Meskipun telah terjadi pergeseran-pergeseran dalam sejumlah hal, terutama dalam praktik, akibat proses modernisasi, namun memori kolektif masyarakat masih melekatkan sejumlah kriteria istri shalihah sebagaimana di atas. Lalu bagaimanakan gambaran isteri shalihah dalam perspektif pandangan keagamaan masyarakat muslim?. Adakah hubungan antara adat atau tradisi tersebut dengan pandangan keagamaan? Al-Quran menyebutkan sebuah ayat tentang perempuan-perempuan shalihah sebagai berikut:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللهُ
"Oleh sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)."

Sebuah kitab (buku) yang dijadikan sebagai bahan ajar di pesantren “Uqud al Lujain fi Bayan Huquq al Zawjain”, karya Kiai Nawawi (w. 1316 H) dari Tanara, Banten menjelaskan hal ini dengan cukup lengkap.
وَيَجِبُ عَلَى المَرْأَةِ دَوامُ الحَيَاءِ مِنْ زَوْجِهَا وَغَضُّ طَرْفِهَا قُدَامَهُ وَالطَّاعَةُ لِاَمْرِهِ وَالسُّكُوتُ عِنْدَ كَلَامِهِ و القِيَامُ عِنْدَ قُدُومِهِ وَخُرُوجِه وَعَرْضُ نَفْسِهَا لَهُ عِنْدَ النَّوْمِ وَالتَّعَطُّرِ وَتَعَهّدُهَا الفَمُ بِالمِسْكِ وَالطِّيبِ وَدَوَامُ الزِّينَةِ بِحَضْرَتِهِ وَتَرْكُهَا عِنْدَ غَيْبَتِهِ .وَتَرْكُ الِخيَانَةِ لَهُ عِنْدَ غَيْبَتِهِ فِى فِرَاشِهِ وَمَالِهِ
“Isteri wajib memperlihatkan rasa malu di hadapan suaminya, tidak boleh menentang nya (melawan). Ia harus menundukkan muka dan pandangannya ke arah suaminya. Ia wajib taat manakala diperintahkan suaminya selain untuk hal-hal yang mendurhakai Allah (maksiat). Ia harus mendengarkan dengan tekun ketika suami berbicara, mengantar dan menyambutnya ketika berangkat dan pulang kerja, menunjukkan muka manis manakala suami memandangnya. Ia harus menyenangkan suami ketika akan tidur, memakai wewangian, menggosok gigi, berdandan cantik manakala suami di rumah dan tidak berdandan ketika tidak ada suami di rumah, tidak membohongi suaminya di tempat tidurnya dan hartanya.

Pandangan Kiai Nawawi al- Bantani tersebut tampaknya merupakan pandangan dan tafsir dari kutipannya atas sejumlah bacaan/rujukan baik dari teks-teks al Quran, hadits-hadits Nabi maupun khazanah kebudayaan yang bertebaran di mana-mana  yang secara tekstual bermakna demikian. Salah satu rujukan dari teks al Quran misalnya diambil dari ayat 34 surah al Nisa. "Maka perempuan-perempuan yang shalihah adalah yang taat, yang menjaga diri ketika suami tidak di rumah sesuai dengan cara-cara yang ditetapkan Allah." Satu kata penting di atas adalah "Qanitat" (perempuan-perempuan, yakni isteri-isteri yang taat). Taat kepada siapa?. Al-Qur'an tidak secara eksplisit menyebutkannya.

Oleh karena itu para ahli tafsir berbeda interpretasi mengenai makna ayat tersebut. Syeikh Nawawi dalam karya buku diatas memberikan penjelasan kata tersebut sebagai Muthiat li Azwajihinna (yang taat/patuh kepada para suaminya). Sebelumnya, Ibnu Katsir mengutip pendapat Ibnu Abbas, mengatakan hal yang sama : "perempuan-perempuan yang taat kepada suaminya dan menjaga diri untuk suaminya dan menjaga hartanya ketika suami tidak di rumah. Berbeda dengan pendapat dua ulama di atas, Imam al Suyuti menyebutkan sejumlah pandangan para ulama sebelumnya. Ibnu Jarir al Thabari, guru besar para ahli tafsir, dari Qatadah, ahli tafsir dari kalangan Tabi'in, menafsirkan perempuan (isteri) yang saleh ialah : yang taat kepada Allah dan suaminya. Dia yang bisa menjaga harta suaminya, tubuh dan kemaluannya.

Dalam terjemahan al Quran Departemen Agama RI disebutkan : "Sebab itu, wanita-wanita yang shalih ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara mereka." Betapa berwarnanya pandangan para ahli tafsir itu bukan? Pandangan para ahli tafsir tersebut dikaitkan dengan sejumlah hadits Nabi Saw. Antara lain hadits yang menyebutkan:
خَيْرُ النِّسَآء مَنْ إِذَا نَظَرْتَ اِلَيْهَا سَرَّتْكَ وَاِنْ أَمَرْتَهَا أَطَاعَتْكَ وَاِنْ غِبْتَ عَنْهَا حَفِظَتْكَ فِى مَالِكَ وَنَفْسِهَا
“Perempuan yang shalih adalah perempuan yang menyenangkanmu saat memandangnya, yang menurut kepadamu ketika kamu memerintahkannya, dan jika kamu pergi, dia menjaga diri dan hartamu.

Hadits lain menyebutkan bahwa perempuan yang shalih adalah yang selalu sabar terhadap kelakuan suaminya dan selalu mengharapkan ridhaNya. Nabi misalnya mengatakan: isteri yang mati dalam keadaan suaminya ridha (rela), maka dia akan masuk surga. (H.R. Ibnu Majah). Dalam kesempatan lain beliau mengatakan: Maukah kalian aku tunjukkan perempuan penghuni surga?  Dialah perempuan yang penuh kasih. Apabila dia menyakiti atau disakiti suaminya, dia segera menarik tangan suaminya, lalu mengatakan: Demi Tuhan, aku tidak akan bisa tidur sampai engkau memaafkan dan ridha kepadaku. Muhammad Syarif al Shawaf mengatakan bahwa salah satu kriteria perempuan yang shalih adalah adalah perempuan yang sabar atas kondisi ekonomi suaminya. Dia tidak membebaninya di luar kemampuannya. Dia harus menerima sepenuhnya terhadap kenyataan hidup suaminya dan berusaha menyesuaikan diri dengan keadaan suaminya. Apabila suami mempunyai utang kepada orang lain, dia harus bisa berhemat sehingga suami dapat melunasi utangnya.

Siti Aisyah r.a suatu saat bertanya kepada Nabi: Siapakah yang lebih diutamakan bagi seorang perempuan?. Nabi menjawab: suaminya. Lalu, siapakah orang yang paling agung untuk dihormati dari seorang lak-laki? Nabi mengatakan: Ibunya.  Hadits ini menurut Al Shawaf menunjukkan bahwa kewajiban seorang perempuan setelah dia menikah adalah memperoleh kerelaan (rida) dari suaminya, taat dan memperhatikan keperluannya. Suami adalah orang yang paling utama daripada yang lainnya, termasuk orang tuanya sendiri. Maka seorang isteri yang baik hendaklah menyadari bahwa dirinya sudah pindah rumah, dari rumah orang tuanya ke rumah suaminya, dan kepada suaminyalah dia mengabdikan diri sepenuh hati dan untuk seluruh hari.

Demikianlah gambaran isteri shalihah dalam khazanah intelektual Islam. Atau menurut pandangan orang/ulama/sebagian masyarakat. Uraian tersebut tentu saja dapat melahirkan kesan umum tentang posisi istri sebagai manusia domestik yang harus selalu berada di rumah dan tak boleh meninggalkannya bila suami melarangnya. Isteri juga dengan begitu dianggap tidak patut beraktifitas di luar rumahnya, meski masyarakat membutuhkannya. Dalam waktu yang sama isteri juga menjadi manusia subordinat/kelas dua, di bawah laki-laki, inferior, menjadi orang yang menerima dan menjalankan perintah. Sementara laki-laki/suami menjadi orang yang memerintah, nomor satu dan superior.

Kesan ini boleh jadi wajar saja adanya dalam sebuah sejarah kebudayaan. Soalnya adalah bahwa sejauh yang saya pahami teks-teks keagamaan tersebut lahir dari dan dalam sebuah sistem sosial yang patriarkis. Ketika Islam datang, sistem tersebut masih mengakar dalam kebudayaan Arabia ketika itu, dan Islam kemudian berusaha mereduksi dan memperbaiki secara bertahap sistem tersebut. Ketentuan-ketentuan Islam sebagaimana di atas, sesungguhnya jauh lebih baik bahkan boleh dikatakan lebih progresif pada masanya daripada keadaan yang berlaku sebelumnya. Al-Quran menyebutkan kata perempuan dan memberinya bagian. Ini tidak terjadi pada masa sebelumnya. Saya kira kita tidak bisa melihat kasus pada masa lalu, di tempat tertentu dan dalam budaya tertentu menjadi ukuran, kacamata dan pikiran serta aturan kita hari ini di tempat kita berada. Pepatah mengatakan :
لكل مقال مقام ولكل مقام مقال
Li Kulli Maqal Maqam wa li Kuli Maqam Maqal, setiap wacana ada konteks sosialnya dan setiap konteks sosial ada wacananya. Saya selalu ingin mengatakan: kasus-kasus atau masalah-masalah partikular atau aturan-aturan adalah kontekstual. Sementara nilai-nilai kemanusiaan adalah universal.

Bersambung ya...

Tentang penulis:
Kiai Husein Muhammad adalah pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat. Sejak kecil beliau akrab dengan lingkungan pesantren dan pernah nyantri di Pondok Pesantren Lirboyo (1973) dan PTIQ Jakarta (1980). Setelah itu beliau melanjutkan pendidikan di Al-Ahzar, Mesir dan tamat tahun 1983 dan kembali ke Indonesia. Sejak 1993 beliau melanjutkan kepemimpinan Pondok Pesantren yang didirikan kakeknya, yaitu Pondok Pesantren Dar al-Tauhid, Cirebon, Jawa Barat. Profil lengkap beliau bisa dilihat di website pribadinya: www.huseinmuhammad.net

No comments:

Post a Comment