Namaku Raisa: Aku Diperkosa, lalu Depresi dan Merasa Gila

Ilustrasi kekerasan seksual. Sumber: freepik.com
Ilustrasi perempuan mengalami trauma akibat kekerasan seksual. Sumber: freepik.com


"Sayang, can't we eat pindang ikan for dinner?" Alberto berbisik di telinga kananku saat ia melingkarkan kedua tangannya di pinggangku dan cuping hidungnya mengendus leherku. 
"Pindang ikan pedas atau asam?" tanyaku sembari menikmati pelukannya. 
"Pedas. I like pindang ikan pedas buatan kamu so much," kini ia mengendus-endus rambutku seperti anak kucing yang mencari ibunya di belantara dunia. 
"Oke. Kamu tolong ambilkan tomat muda di halaman ya, tiga buah aja. Dan kunyit," kataku, merayunya dengan sebuah kecupan di bibirnya yang lembut. Alberto menurut, melepaskan pelukannya dan beranjak ke halaman belakang, ke kebun kecil kami yang kutanami aneka sayuran dan rempah

Aku mengambil ikan dari freezer dan meletakkannya di dalam baskom alumunium. Kupenuhi baskom itu dengan air agar ikan tak lagi beku, lalu kuperhatikan suamiku yang asyik memetik tomat dan menggali rumpun kunyit. Sembari memperhatikan gerak-gerik suamiku dari jauh, ingatanku melayang ke masa di mana aku hampir mengakhiri hidup. Pada suatu masa yang jauh itu, kupikir langkahku akan membeku disana dan aku menjadi semacam mayat hidup. Pada langkah yang sudah sejauh sekarang, kenangan buruk itu tak henti-hentinya menghantuiku seakan-akan ia tertanam di dalam darahku dan menyatu dengan seluruh diriku. 
***

Namaku Raisa dan aku percaya bahwa rumah adalah surga dunia, baiti jannati. Rumah adalah tempat paling aman dan hangat di bumi; tempat yang dipenuhi cinta, kasih sayang, dan harapan. Bercerita kepada dunia tentang apa yang terjadi padaku di dalam rumah orangtuaku membuatku sedikit ngeri. Saat ini ketika aku bercerita kepadamu, tanganku masih sering bergetar dan terasa begitu dingin, sementara darahku rasanya mendidih sehingga membuatku sangat panas, dan aku masih merasa sangat jijik jika teringat pada kejadian itu. Bahkan, di mataku masih terlihat jelas sosok manusia setengah setan yang merampas kehidupan normal masa kecilku, beserta seluruh kebahagiaan dan kepercayaan diriku. Aku juga masih sesekali menyalahkan diri sendiri. 

Aku adalah anak ketiga dari empat bersaudara. Ayahku seorang pebisnis dan ibuku seorang pekerja di kantor salah satu lembaga pemerintahan. Kedua orangtuaku sangat sibuk dan kami beberapa kali pindah rumah karena pekerjaan ibuku. Saat aku kelas 5 SD, keluarga kami kembali pindah ke Muara Karang dan menempati sebuah rumah unik dengan halaman luas dipenuhi pepohonan, bunga, dan pekarangan berisi sayuran. Mungkin pemilik rumah sebelumnya seorang pecinta tumbuhan. Kami menyukai rumah baru itu dan berharap bisa menghabiskan hari Minggu bersama, seperti untuk piknik di pekarangan atau makan-makan sederhana sembari bersenda gurau. Aku selalu memimpikan keluargaku bisa tamasya lebih banyak dan kedua orangtuaku tidak melulu sibuk mengurus pekerjaan. 

Kakakku kembar dan mereka masih duduk di kelas 1 SMA. Keduanya sangat sibuk satu sama lain dan seringkali tidak terlalu peduli denganku (Saat itu adik kami belum lahir dan aku masih menjadi bungsu yang penakut). Di rumah baru kami, aku lebih banyak melamun sendirian, melihat laut. Ayah memang lebih banyak di rumah daripada Mama, karena sebagai pebisnis ia memiliki waktu yang fleksibel. Sementara Mama setiap hari berangkat kerja jam 7.30 pagi dan kembali ke rumah pukul 17.30, dan kadang-kadang pulang malam karena alasan rapat entah dengan siapa. Namun demikian, Ayah selalu sibuk dengan ponselnya, buku catatan kecil yang begitu penting baginya, mengurus toko sampai sore dan tidur saat merasa lelah. Meski Ayah lebih sering di rumah, aku tetap merasa sendirian dan kesepian. Oleh karena itu, Aku sering ngambek karena ditinggalkan sendirian dan hanya bermain dengan setumpuk boneka dan aku mogok makan sebagai tanda protes. 

Seminggu kemudian, Mama mengenalkan dua orang yang katanya akan bekerja dengan kami. Yang perempuan bernama Dewi, tugasnya memasak, beberes rumah, mencuci, dan kalau siang hari sih menjagaku. Yang perempuan bernama Yudha, dan tugasnya adalah mengurus hal-hal berat di rumah seperti menjadi sopir ayah, memotong rumput di halaman, membantu menjaga toko sembako milik keluarga kami, hingga mengantar jemput aku dan kedua kakakku sekolah. Kedua orang itu merupakan warga desa tetangga yang dikenalkan oleh teman kerja Mama di kantor barunya dan aku berusaha menyukai mereka. Masakan Dewi lumayan enak. Dewi mencuci baju dengan bersih, rajin menyetrika, dan seluruh rumah kinclong sampai-sampai debu malu untuk menunjukkan dirinya. Sepertinya, Dewi terobsesi dengan kesempurnaan dalam melakukan pekerjaannya. Sementara Yudha merupakan seorang yang baik, ramah, penyayang, dan selalu ada untukku. Yudha menjadi semakin dekat denganku sebagai anak bungsu. Kehadiran Yudha lumayan menghibur dan kepadanya aku bisa menceritakan rahasia-rahasiaku yang paling dalam dan mungkin aneh. Yudha mendengarkan semua ceritaku dan mengatakan aku anak yang keren. Ayah dan Mama dan kakak kembar tidak pernah memujiku sebagai anak yang keren. 

Hanya kepada Yudha juga aku menceritakan pengalamanku, bahwa beberapa kali aku melihat melihat sebuah kereta kencana datang dari laut, bergerak melewati pekarangan rumah kami, lalu menghilang di balik kebun, ke arah gunung. Di dalam kereta kencana itu ada anak kecil yang menggunakan pakaian cantik seperti seorang putri dari negeri dongeng, diapit sepasang lelaki dan perempuan yang mungkin orangtuanya, dan seorang pengemudi kereta di bagian depan kereta itu, mengendalikan dua ekor kuda yang berjalan bergeol-geol dengan anggun. Terakhir kali, anak itu tersenyum dan melambaikan tangannya kepadaku seakan-akan mengajakku bersamanya, bertualang di negeri ajaib yang tak bisa dilihat oleh manusia lain termasuk keluargaku. Yudha mengatakan bahwa aku anak yang keren sehingga Tuhan memberiku penglihatan atas hal-hal ajaib di dunia ini. Yudha juga mengatakan bahwa aku bisa menikmati dunia ajaib yang membuatku penasaran itu jika aku memberikan sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh penjaga pintu gerbang dunia ajaib. Yudha bilang, sesuatu yang dibutuhkan penjaga pintu gerbang dunia ajaib ada dalam diriku. 

"Apa yang harus Rara berikan, Om?" waktu itu aku sangat penasaran dan aku ingin memberi apa yang bisa kuberikan kepada si penjaga gerbang agar aku bisa masuk ke dunia ajaib dan bertemu dengan anak itu, dan mungkin naik ke kereta kencana. 
"Nanti kapan-kapan Om kasih tahu ya. Tapi Rara janji ya nggak boleh cerita sama Ayah dan Mama, juga sama Mbak Kembar, juga sama Dewi. Ini rahasia kita berdua!" maka aku dan Yudha membuat janji bahwa ini akan menjadi rahasia kami berdua. Yudha juga berjanji akan mencari waktu yang pas untuk kami berdua bertemu penjaga gerbang dunia ajaib. 
"Iya, Om. Rara janji jaga rahasia!" aku tersenyum, merasa sangat senang. Yudha juga tersenyum kepadaku dan memangku tubuhku diatas tubuhnya yang bersila, lalu dia membacakan sebuah buku untukku sembari kami menikmati waktu sore-sore di bawah pohon flamboyan yang sedang berbunga di halaman, sembari menunggu Mama pulang. 

Pada bulan kedelapan kehadiran Yudha di rumah kami dan semua orang percaya kepadanya, aku dan kedua kakak kembarku semakin lengket padanya. Lelaki itu seakan-akan menjelma menjadi anak sulung keluarga kami sehingga aku dan kedua kakakku merasa bahwa Yudha adalah kakak sulung kami. Aku merasa senang memiliki kakak lelaki yang penyayang, baik hati dan selalu ada untukku, karena kedua kakak kembarku selalu asyik bermain di dunia mereka sendiri. Setiap kali menjemputku pulang sekolah, Yudha mendudukkan aku di kursi mobil bagian depan. Dalam perjalanan menuju rumah kami, Yudha selalu menyentuh pahaku dengan telapak tangannya dan dia mengatakan kalau sedang memeriksa anggota tubuhku kalau-kalau aku terjatuh saat bermain di sekolah. Yudha bilang kalau ada bagian tubuhku yang sakit agar aku berterus terang padanya agar bisa membantuku menyembuhkan luka itu dengan menyentuhkan telapak tangannya. Waktu itu aku senang sekali, karena kupikir telapak tangan Yudha sangat ajaib sampai-sampai bisa menyembuhkan luka. Sepanjang perjalanan, memang telapak tangan kiri Yudha selalu mengelus-elus pahaku yang hanya berbalut rok pendek selutut dan kadang-kadang ia mengelus punggungku dan membelai rambutku yang panjang sepinggang. 

Kepercayaan Ayah dan Mama pada Yudha meningkat seiring waktu. Bahkan, saat Ayah dan Mama ke luar kota bersama-sama untuk urusan pekerjaan Mama, kedua orangtuaku menitipkan kami bertiga pada Yudha. Kedua orangtua kami agak tidak percaya kepada Dewi karena perempuan pandai dan rapi itu terlalu keras kepala jika berhadapan dengan anak kecil seperti kami, yang seringkali membuat rumah acak-acakan, dan kami juga sering bertengkar sampai berteriak kepada satu sama lain. Kakak kembar juga semakin sibuk dengan dunia mereka seperti belajar berdandan, memakai pakaian bagus, mendekor kamar, atau sekadar bergosip tentang gebetan mereka di sekolah. Sebagai anak kecil, duniaku dan dunia mereka nggak nyambung sehingga kami sangat jarang bermain bersama. Terlebih, Kakak kembar tahu bahwa Dewi dan Yudha bisa bermain denganku sehingga tidak perlu mengganggu keasyikan mereka. Makanya, Yudha yang penyabar dan mau melakukan semua perintah Ayah dan Mama mendapat kepercayaan penuh. 

Suatu hari, kedua kakakku mengatakan akan kerja kelompok di rumah kepala sekolah karena mereka memang berteman baik dengan anak kepala sekolah, dan mereka meminta Yudha menjemput pukul 5 sore. Hari itu Dewi juga sedang ada urusan keluarga sehingga pulang lebih cepat dari biasanya, dan hanya meninggalkan setumpuk makanan di meja makan kami. Hanya ada aku dan Yudha, seorang lelaki dewasa dan anak kecil. Lalu, Yudha mengatakan bahwa inilah saat yang tepat untuk memberikan hadiah kepada si penjaga gerbang dunia ajaib agar aku bisa bertemu dengan si anak ajaib itu. Yudha mengajakku ke kamar dan ia membawa sebuah gelas kaca dan sebuah sendok kecil. Yudha bilang apa yang bisa diberikan kepada penjaga pintu gerbang dunia ajaib ada dalam tubuhku dan dia akan membantuku mengambilnya. Aku setuju saja sebab aku memang sangat penasaran, apa benar aku anak yang keren dan bisa masuk ke dunia ajaib. 

"Anak manis, sekarang kita lakukan ya," kata Yudha kepadaku dengan tersenyum. 
"Aku harus gimana, Om?" tanyaku, antara penasaran, bingung dan takut. 
"Rara nurut apa kata Om aja ya. Nggak sakit kok," tambah Yudha sembari tetap tersenyum.
"Biak, Om," aku menurut saja. 

Yudha memegang kedua pundakku dan mencium keningku. Kemudian dia melepaskan pakaianku. Lalu dia memangku tubuhku dan menidurkanku di ranjang. Sembari menepuk-nepuk pundakku agar tenang sebab aku merasa aneh dengan ketelanjanganku di depan Yudha, ia membantuku mengangkang. Katanya, ada lendir bening dari dalam lubang pipisku yang sangat disukai oleh si penjaga gerbang dunia ajaib. Lendirku masih suci dan alami sebab aku anak kecil, dan lendir suci lebih disukai mereka di dunia ajaib. Yudha mengatakan bahwa dia akan mengambil lendir itu dengan menggunakan sendok dan mengumpulkannya di dalam gelas, agar aku bisa melihatnya juga. Sebelum lelaki itu mengambil lendir itu, dia membelai-belai pahaku dan menyentuh bagian lubang pipisku sehingga membuat tubuhku gemetaran dan merasa aneh, sebab sebuah rambatan yang tak bisa kujelaskan. Aku seperti pipis, tapi aku tidak pipis dan akhirnya Yudha berhasil mengumpulkan lendir itu. Setelah memasukkan lendir itu ke dalam mangkuk, Yudha kembali memakaikan pakaian ke tubuhku dan membelai pipiku, dan dia mengatakan bahwa aku anak yang sangat baik dan dia sangat senang berteman denganku. 

Peristiwa yang sama terjadi berulang-ulang, di tempat yang berbeda, meski aku belum bisa juga melihat si kereta kencana dan anak kecil itu. Pernah suatu waktu, kami semua sedang asyik menonton televisi dan aku kebelet pipis. Aku takut ke kamar mandi sendirian dan meminta Mama mengantarku. Mama sedang sibuk dengan ponselnya dan meminta Yudha yang mengantar kami. Yudha mengantarku ke kamar mandi dekat dapur dan dia masuk ke kamar mandi, membantuku melepaskan celana dalamku dan menyentuh lubang pipisku saat aku sedang pipis. Aku menatap Yudha dan dia hanya tersenyum, mengatakan aku sangat manis dan keren dalam suasana apapun, bahkan dalam keadaan sedang pipis. Aku merasa apa yang dilakukan Yudha aneh sebab rasanya dia semakin sering menyentuh area bawahku dan aku belum pernah sekalipun bertemu dengan si anak ajaib dan gerbang dunia ajaib belum juga terbuka untukku. Apakah ini semacam akal-akalan Yudha untuk menipuku? Mengapa Yudha sangat suka menyentuh lubang pipisku? 

Apa yang terjadi antara aku dan Yudha terus terjadi. Saat aku sudah kelas 1 SMP, Yudha semakin sering mengajakku dan kedua kakak kembarku menjelajah sejumlah area di kampungku dan kampung tetangga. Kami main ke laut, sungai, goa dan banyak tempat lain.  Kadang, kami juga pergi ke pasar untuk berburu makanan enak. Meski demikian, Yudha selalu saja punya kesempatan menyentuh anggota tubuhku entah paha, kepala, pinggang, hingga area vagina (dan saat SMP aku mulai mengenal bahwa lubang pipisku bernama vagina). Setiap bertualang dan kami berpencar dari kedua kakak kembarku, Yudha selalu mengambil kesempatan meremas payudaraku yang sedang tumbuh. Aku merasa perbuatan Yudha salah, tapi aku mendiamkannya karena aku tidak tahu harus melakukan apa. Kadang aku merasa jijik dengan tubuhku sendiri yang sudah disentuh Yudha dimana-mana tanpa tahu harus melakukan apa. Aku hanya menjadi pendiam dan kembali berkhayal tentang si anak ajaib di kereta kencana. 

Saat kelas 3 SMP dan segalanya semakin parah, Mama melahirkan adik lelakiku. Semua perhatian keluarga tertuju pada bayi kecil itu dan Yudha menjadi semakin berani. Setiap kali Ayah dan Mama menutup pintu kamar, tertawa cekikian atas kesenangan mereka, atau mungkin melakukan hubungan suami istri, aku merasa benci dan tersiksa. Mungkin saja, Yudha mencari-cari kesempatan untuk berbuat lebih jauh dari yang pernah dilakukannya selama ini, sebab lelaki itu semakin berusaha memenangkan hati kedua orangtuaku. 

Di sekolah aku kurang bergaul dan lebih banyak melamun, memikirkan bagaimana caranya menghentikan kelakukan Yudha padaku. Teman-temanku menganggapku anak aneh sebab aku menjauh dari mereka dan kemana-mana hanya bersama Yudha. Aku ingin mengadu kepada kedua orang tuaku tapi bingung bagaimana cara melakukannya. Lagian, kedua orang tuaku selalu sibuk dengan urusan pekerjaan yang sepertinya tiada akhir. Aku selalu merasa bingung dan panas dingin setiap kali Ayah dan Mama meninggalkanku, dan asyik di kamar mereka. Sebab, saat aku masuk kamar, Yudha selalu punya celah untuk masuk ke kamarku. Sebenarnya, Aku juga ingin bercerita kepada guru-guru di sekolah, tapi aku takut mereka akan memandangku sebagai anak yang kotor lalu mengadu kepada kedua orangtuaku, atau malah bergosip tentang betapa buruknya aku. 

Yudha selalu datang kepadaku dengan bibir tersenyum dan sepasang mata penuh ancaman. Bibir Yudha selalu tersenyum manis, namun semakin lama sinar di sepasang matanya seperti seorang pemburu yang hendak menerkam buruannya dna buruan itu aku, si manusia lemah. Sikap lengketnya padaku juga semakin menjadi-jadi, seakan-akan Yudha adalah bayanganku. Dia semakin sering mengambil kesempatan untuk meremas payudaraku dan memintaku memegang kemaluannya. Dia menyuruhku melakukan ini itu dengan kemaluannya sampai dia terngeh-engah entah kenapa. Bahkan, saat suatu cairan keluar dari kemaluannya dia memintaku meminumnya dan berjanji bahwa itu merupakan cara agar aku bisa memasuki gerbang dunia ajaib. Setelah dia selesai terengah-engah itu, dia akan tersenyum puas, mencium keningku, merapikan rambut di sekitar telingaku dan meninggalkan kamar. Saat dia meninggalkan kamar itulah aku mulai menangis sebab  bingung bagaimana mengakhiri semua itu. Bahkan aku benci dengan telapak tanganku sendiri yang sudah sering memegang kemaluannya bukan atas kehendakku. Aku merasa mual dan jijik, tapi aku tidak tahu bagaimana mengadu kepada kedua orangtuaku. 

Saat SMA aku mulai paham bahwa yang kualami adalah pencabulan, dan mungkin lebih parah dari itu. Aku mulai murung, menarik diri dari kegiatan sosial dan tidak mau bergaul dengan teman-teman sekolahku. Aku stress. Aku lebih sering mengurung diri di kamar dan mulai mencabuti rambutku satu per satu. Dewi dan Yudha masih bekerja di rumah kami sebagaimana biasa, kedua orangtuaku selalu sibuk terutama setelah kelahiran adik bungsu kami, dan kedua kakakku sudah beberapa tahun lalu pindah ke kota lain untuk kuliah. Aku mencari di Google apa yang terjadi padaku dan ternyata aku mengalami penyakit Trichotillomania. Yah, kamu cari saja apa yang disebut Trichotillomania itu. 

Melihat gelagatku yang semakin aneh, pemurung, awut-awutan dan juga karena Mama menerima laporan dari sejumlah tetangga tentang sikapku yang tidak ceria sebagaimana remaja pada umumnya, akhirnya Ayah dan Mama membawaku ke Psikiater terbaik di kota tempat kami tinggal. Sialnya, sang Psikiater tidak tahu apa yang sebenarnya kualami sebab aku masih takut menceritakan keadaan sesungguhnya dan aku hanya mengatakan bahwa aku akan refleks mencabuti rambutku setiap kali merasa stres. Sang Psikiater meresepkan obat untukku untuk meredakan stress dan kebiasaan burukku mencabuti rambutku sendiri sampai-sampai bagian tengah kepalaku mulai memperlihatkan kebotakan. Aku semakin tidak peduli dengan penampilanku dan semakin sering mengalami perundungan di sekolah. Aku berharap, penampilanku yang kusut dan seperti orang gila akan membuat Yudha tidak tertarik padaku dan meninggalkanku selamanya. Aku juga membuang obat yang diresepkan Psikiater sebab aku memang tidak membutuhkannya. 

Suatu hari entah itu sebuah keajaiban atau apa, Ayah melihat Yudha keluar dari kamarku dengan bagian depan celananya yang basah. Saat itu aku juga keluar kamar dalam keadaan kusut dan penuh kebencian. Keesokan harinya, Ayah menjemputku ke sekolah karena katanya sudah memecat Yudha. Ayah tidak langsung membawaku pulang. Kami ke pantai dan duduk berdua sembari menikmati es kelapa muda. Ayah ingin aku bercerita kepadanya karena curiga bahwa Yudha sudah melakukan pencabulan kepadaku. Aku hanya diam sembari memandangi laut dan menikmati es kelapa yang dingin. Aku ingin jujur kepada Ayahku sendiri bahwa Yudha pernah memasukkan kemaluannya kedalam kemaluanku dan aku tidak bisa melawannya sebab kedua tangannya mencengkram tanganku, dan aku tiba-tiba lemas sampai tak bisa berteriak untuk meminta pertolongan. Saat itu aku hanya terisak dan Yudha tersenyum puas saat air mata membasahi pipiku. Aku tahu bahwa itu yang disebut pemerkosaan. Aku terlalu takut hati Ayahku akan hancur jika tahu bahwa anak perempuannya sudah dirusak oleh pekerja yang sangat dibanggakan dan dipercaya oleh keluarga kami. Aku hanya berterima bisa kasih kepada Ayahku sebab telah memecat Yudha karena aku tidak lagi menyukainya. Aku membencinya. 

Seminggu kemudian, Yudha datang ke sekolah dan menunggu di parkiran. Ia menghampiriku saat aku melangkahkan kaki ke luar gerbang dan mengatakan bahwa apa yang dia lakukan padaku sebagai bentuk kasih sayang sebab dia mengaku benar-benar menyayangiku. Lelaki itu mengaku tidak bisa jauh dariku dan tidak ingin kehilangan aku. Yudha juga mengatakan, jika aku mau dia akan menikahiku. Aku tidak menggubrisnya semua ucapannya. Dua hari kemudian sebuah surat dari Yudha datang ke rumah kami melalui Dewi. Dalam surat itu Yudha mengatakan bahwa dia menganggapku sebagai adiknya yang manis sehingga nggak mungkin mencabuli apalagi memerkosaku. Dia menempel kepadaku untuk menjagaku dari kejahatan teman-teman sekolahku yang sebagian dari mereka memang berandalan dan suka mabuk-mabukan. Ia bahkan menulis sebuah kata yang membuatku sangat muak dan jijik, di mana surat itu diakhiri dengan sembah sujud jika dia melakukan kesalahan kepada keluargaku dan khususnya kepadaku. Karena surat itu tidak digubris Ayah, lelaki itu mengirim SMS kepadaku. Yudha mengajakku ke suatu tempat untuk membicarakan hal ini dengan kepala dingin dan agar dia tidak menyalahkan aku, sebab menurutnya aku menyukai apa yang dia lakukan kepadaku. Yudha bilang, jika aku tidak menyukai perbuatannya, aku pasti menjerit dan mengadu kepada kedua orangtuaku sejak lama. Yudha hendak mencuci otakku bahwa semua kejadian ini karena kehendakku. 

Karena aku semakin stress dan mengurung diri sepanjang waktu, Ayah dan Mama mengajakku main ke mall, dan tentu saja membawa serta adik kecilku. Saat diperjalanan, aku duduk di bangku belakang dan Ayah bertanya kepadaku tentang apa yang terjadi antara aku dan Yudha. Namun, Mama malah mencubit lengan Ayah yang sedang menyetir. Aku bilang bahwa Yudha hanya memegang-megang tanganku saja tanpa seizinku dan aku sangat tidak menyukainya. Sesampainya di mall dan kami menunggu makanan di sebuah restoran, Mama memencet pergelangan tangan kiriku keras-keras, sampai sakitnya seakan-akan bisa membuatku mati. Mama sepertinya tidak suka jika Ayah terus menerus mencari kebenaran tentang apa yang dilakukan Yudha padaku. Sebagai anak, aku sangat sakit hati atas sikap Mama yang tidak berada di pihakku. Seharusnya Mama mencari tahu apa yang terjadi pada anak perempuannya, dan bukan membuatku tutup mulut. Sejak saat itu, aku kecewa kepada Mama dan semakin memendam segalanya sendirian. Aku benci Mama. 

Karena kecewa dengan sikap Mama, aku memutuskan untuk menyibukkan diri. Aku yang cupu dan sering mengalami perundungan mencoba mengikuti sebanyak mungkin kegiatan ekstrakurikuler. Bukan karena aku menjadi tiba-tiba pandai berorganisasi, melainkan agar aku bisa melarikan diri dari stress yang menyiksaku. Aku juga semakin giat belajar dan bertekad lulus SMA dengan nilai bagus. Aku malas pulang ke rumah dan bertemu Mama yang sepertinya semakin tidak peduli padaku. Aku semakin akrab dengan Ayah dan kedekatan yang terlambat antara ayah dan anak perempuannya ini membuatku percaya diri bahwa aku bisa melupakan traumaku. Di sekolah, aku mulai memiliki sejumlah teman akrab dan kami sering bermain bersama selepas jam sekolah. Pantai menjadi spot favorit kami. 

Tibalah saatnya untuk kuliah dan aku berhasil masuk kampus favoritku. Aku mengambil 2 dua jurusan berbeda di dua kampus berbeda, agar aku semakin sibuk. Aku mengambil jurusan Administrasi Bisnis karena aku bermimpi bekerja di perusahaan besar, dan mengambil jurusan hukum agar bisa membalas dendam kepada Yudha pada suatu masa yang akan datang, meski entah kapan. Yah, siapa tahu pada suatu hari nanti aku bisa menjadi seorang Jaksa atau Hakim. Di kampus aku bertemu dengan lelaki yang menarik perhatianku dan kami pacaran. Karena kupikir sudah kepalang tanggung, di mana Yudha sudah menyentuhku sejak kecil dan memerkosaku saat remaja, maka aku dan pacarku melakukan hubungan seksual. Dia mengatakan aku cantik, sensual, unik dan cerdas yang membuatku tergila-gila padaku. Aku menyukai rayuan gombal pacarku dan semakin lengket padanya. Aku merasa keadaanku membaik sebab ada lelaki baik disampingku. 

Tapi, hubungan kami belum sampai pada penetrasi sebab aku masih trauma dengan apa yang dilakukan Yudha kepadaku. Aku tidak ingin kemaluan pacarku memasukiku. Aku juga takut hamil. Sampai kemudian kami harus putus karena menurutnya semakin hari aku semakin aneh. Pacarku juga menganggap aku tidak menyukainya sebab selalu menolak hubungan seksual yang serius dengannya, meski dia berjanji akan memakai pengaman sehingga aku tidak akan hamil. Dia selalu merayuku dan mengatakan bahwa hubungan seksual itu merupakan tanda cinta dan bisa menguatkan ikatan batin antara kami. Namun, aku tidak menggubrisnya sebab dia benar-benar tidak menghargai keputusanku untuk melakukan hal-hal yang biasa saja bagi anak muda yang kasmaran. Maka, setelah putus dengannya aku semakin sibuk dengan kuliah dan kegiatanku yang menumpuk. Meski demikian, aku masih saja mencabuti rambutku saat stress melanda dan jika ingat masa-masa ketika Yudha memperalatku. 

Kebodohan di masa kecil, kurangnya ilmu tentang menjaga privasi dan berkata 'tidak' membuatku jijik dengan diriku sendiri. Aku selalu menganggap bahwa aku kotor dan tubuhku menjijikan. Sampai kemudian aku kembali bertemu seseorang yang kupikir merupakan takdirku. Aku sangat mencintainya dan dia mencintaiku. Kepadanya kuberikan diriku sebab aku percaya bahwa lelaki ini bisa memberiku masa depan yang kubutuhkan. Dia sangat lembut, penyayang dan memahami sedikit cerita dari masa kecilku yang membuatku trauma. Dia berjanji akan selalu menjagaku dan kami semakin sering berhubungan seksual. Aku merasa bahwa lelaki ini yang bisa menghapuskan seluruh trauma yang menempel pada kulitku dan bahwa kami akan sampai pada pernikahan. Aku percaya kami akan hidup bahagia selamanya sebagai sepasang manusia yang saling mencintai dan mengagumi satu sama lain. Dia adalah love of my life, meski hubungan ini berakhir hancur berkeping-keping karena ternyata dia selingkuh dengan salah seorang rekan di organisasi yang kuikuti. 

Hatiku jelas terluka begitu dalam. Rasanya hidupku hancur dan semua lelaki yang kukenal hanya mengincar tubuhku. Oleh karena itu, aku mulai menyibukkan diri untuk lulus kuliah. Tak lama setelah lulus kuliah, aku diterima bekerja di sebuah perusahaan bonafit bidang pangan yang sangat terkenal di negara ini. Aku juga menyibukkan diri dengan menjadi relawan di sebuah lembaga yang fokus melakukan advokasi pada korban kekerasan seksual, sebagaimana yang kualami. Aku pun semakin paham bahwa apa yang kualami sejak kecil dinamakan kekerasan seksual. Aku mencoba realistis dengan menerima keadaanku demi menyembuhkan diri. Dalam proses pembelajaran sebagai relawan inilah aku bertemu dengan Alberto. 

Lelaki ini merupakan manusia berhati malaikat yang bekerja sebagai salah seorang yang mengurusi masalah pengungsi. Pertemuan pertamaku dengan Alberto adalah pada suatu hari Minggu, saat aku mengikuti pimpinan lembagaku tempat aku menjadi relawan melakukan kunjungan lapangan ke penampungan pengungsi. Pertemuan pertama kami berlanjut pada banyak pertemuan lain guna membahas isu-isu kekerasan seksual terhadap perempuan dan anak perempuan di pengungsian, hingga isu perkawinan usia anak yang menimpa banyak anak perempuan demi bertahan hidup atau karena terpaksa sebab mereka menjadi korban kekerasan seksual. Setelah setahun berkenalan dan banyak bekerja bersama, kami memutuskan untuk berpacaran. Waktu itu aku belum siap menikah sebab aku harus fokus bekerja dan mengumpulkan uang demi keluargaku. 

Sebulan setelah wisuda, Mama meninggal dunia dan Ayah menjadi linglung karena kehilangan itu. Ayah menjadi tidak fokus mengurus bisnisnya. Malangnya, bisnis Ayah hancur hanya dalam waktu satu tahun. Ayah harus menjual banyak aset untuk melunasi utang, sehingga aku harus mengencangkan ikat pinggang demi membiayai adikku yang masih sekolah. Ayah yang memasuki masa tua dalam kesedihan mendalam selalu meminta maaf kepadaku atas sikap Mama di masa lalu. Ayah mengatakan bahwa mungkin Mama punya alasan lain demi melindungiku dan keluarga kami, dan agar aku menjadi perempuan yang kuat sebagaimana aku di masa dewasa. Aku menerima keadaan keluarga kami dan semakin giat bekerja sebab tidak mungkin meminta bantuan Kakak kembar terlalu banyak sebab keduanya telah menikah dengan pasangan masing-masing dan memiliki anak. 

Setelah berpacaran selama 5 tahun lamanya dan merasa yakin bahwa Alberto bisa menerima masa laluku, akhirnya kami menikah dengan restu Ayah. Pernikahan kami sederhana saja sebab harus berhemat. Alberto selalu meyakinkanku bahwa masa laluku bukanlah hal yang berhak membuatku merasa jijik atau membenci diriku sendiri, sebab apa yang Yudha lakukan kepadaku adalah karena aku dalam posisi lemah. Sedangkan dengan kedua mantan pacarku yang bajingan, adalah karena memang sejak awal hubungan itu dibangun sebagai ajang manipulasi kedua lelaki itu kepadaku. Alberto berhasil membuatku percaya bahwa cinta sejati itu ada dan bahwa aku tidak sekotor yang kupikirkan selama ini. 

Pernikahanku dengan Alberto memberi kekuatan lain dalam diriku. Kami mendirikan sebuah organisasi yang bertujuan melakukan advokasi kepada siapapun yang menjadi korban kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga. Aku mungkin tidak bisa membalaskan dendamku secara langsung kepada Yudha. Namun, aku bisa membantu menyelamatkan banyak orang terutama anak-anak yang polos dan penakut agar terhindar dari kekerasan seksual sebagaimana yang kualami. Kehadiran Alberto dalam duniaku dan upayanya yang tidak kenal lelah untuk selalu menolongku menyembuhkan diri membuatku merasa lebih baik. Sesekali, aku masih mencabuti rambutku jika tiba-tiba masa lalu yang suram menghantuiku. Namun, aku yang sekarang merupakan aku yang memiliki harapan bahwa masa depanku akan baik-baik saja, dan aku akan hidup bahagia. 

Baca juga: Membongkar Mitos Selaput Dara dan Keperawanan

Saat ini, saat pengakuan ini hendak aku akhiri dengan perasaan lega di dada, aku tengah mengandung 3 bulan, anak pertamaku dengan Alberto. Lelaki itu sedang melangkahkan kakinya menuju rumah kami dan aku harus segera menyiapkan sejumlah bumbu. Biasanya, jika Alberto memintaku memasak pindang ikan pedas, dia sedang sangat menginginkanku dan akan menempel kepadaku semalam suntuk. Aku tidak benar-benar paham siapa yang paling mencintai siapa dalam hubungan kami, namun kelekatan antara kami berdua membuatku perlahan bisa melepaskan debu-debu masa lalu yang memenuhi ruang hatiku. Aku pun merasa bersyukur dipertemukan Tuhan dengan lelaki yang mengasihiku, sehingga  tidak lagi merasa sendirian di dunia yang penuh tipu daya ini. Terima kasih. 

CATATAN:
Dia adalah Raisa (bukan nama sebenarnya) dan aku mengenalnya beberapa tahun silam. Saat pertama kali bertemu dengannya, kulihat Raisa sebagai perempuan yang manis, penuh keingintahuan namun pendiam. Perempuan muda ini pertama kali menyapaku melalui pesan di Facebook, mengatakan ingin bertemu dan belajar kepadaku. Saat pertemuan itu terjadi, aku pun belum paham tentang isu kekerasan seksual sedalam saat ini, dan waktu itu aku masih bekerja di lembaga yang memperjuangkan keberlanjutan lingkungan hidup. Saat itu, bertahun-tahun silam, aku bahkan nggak tahu jika Raisa muda  sedang berjuang menyembuhkan trauma dalam dirinya. Saat itu pun aku tidak bisa menerka bahwa Raisa tengah memendam luka dalam dirinya yang berusaha disembunyikannya dari dunia, dan dia sedang menyibukkan diri mengikuti banyak organisasi dan menyelesaikan kuliahnya dengan sebuah dendam membara. 

Beberapa waktu lalu setelah bertahun-tahun tak saling menyapa sebab sibuk dengan hidup masing-masing, Raisa yang sudah pindah ke luar kota mengontakku dan mengisahkan masa lalunya sebagai penyintas kekerasan seksual. Raisa merupakan perempuan kuat sehingga dia bisa melalui trauma yang dialaminya dan membangun keluarga. Kepada Raisa, terima kasih sudah berani bersuara dan bercerita. Mungkin, orang tidak akan mengenal siapa kamu. Namun, ceritamu bisa jadi membantu penyintas kekerasan seksual yang masih bungkam karena rasa takut dalam diri mereka. Semoga tulisan ini membantumu melepaskan beban berupa trauma menahun, rasa bersalah, bahkan sikap membenci diri sendiri. Semoga hidupmu dan keluarga kecilmu saat ini hingga selamanya diberikan kebahagiaan dari Tuhan yang Maha Penyayang. 

Btw, tulisan ini telah mengalami penyuntingan sedemikian rupa dari cerita asli yang disampaikan Raisa kepadaku. Penyuntingan dilakukan guna mengaburkan identitas asli Raisa beserta atribut-atribut kehidupan yang menyertainya. Nama, tempat, kejadian telah disesuaikan dengan kebutuhan penulisan. Keamanan Raisa dan keluarganya sangat penting, terlebih dari predator seksual bernama Yudha yang entah dimana rimbanya. 

Jakarta, 30 Juli 2020


No comments:

Post a Comment