My Mongolian Mother: Kisah Ibu Penyayang Padang Rumput Mongolia

Aktris Na Renhua sebagai Qiqigema. Sumber: goldenhorse.org


Antara tahun 1958-1962, Republik Rakyat China (RRC) mengalami masalah besar yang disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang keliru dan bencana alam. Ini disebut sebagai Great Chinese Famine atau Three Years of Famine. Keadaan mencekam ini disebabkan oleh serangkaian kebijakan yang dikeluarkan oleh Mao Zedong selaku pemimpin besar Partai Komunis China (PKC) melalui program The Great Leap Forward. Mao Zedong bermimpi mewujudkan surga dunia melalui masyarakat komunis dalam waktu singkat. Mao juga bermimpi menjadikan China sebagai negara industri dalam waktu dekat dan membiayai militer dengan menjual hasil pertanian secara besar-besaran. Program ini mengubah cara hidup dan teknik bertani secara ekstrim. Pengelolaan lahan pertanian dari milik pribadi menjadi milik komunal, dan perubahan sosial-ekonomi besar-besaran di mana banyak petani dipaksa menjadi buruh demi mempercepat industrialisasi China sehingga banyak lahan pertanian terlantar. Para petani pemilik tanah juga dijauhkan dari lahan pertanian mereka untuk dijadikan buruh pengolahan besi dan baja. Selama masa ini, sebanyak 36-40 juta masyarakat lapisan bawah khususnya petani meninggal dunia karena kelaparan. Mereka mati bukan karena tidak adanya makanan, melainkan karena sebagian besar makanan disimpan di semacam gudang khusus yang dijaga negara dan dikirim ke pemerintah pusat di Beijing alih-alih untuk memberi makan rakyat. Jurnalis Yang Jusheng menyebutkan bahwa masyarakat mati kelaparan di depan pintu-pintu gudang makanan selagi mereka meminta Mao Zedong menyelamatkan perut mereka yang kelaparan. 

Selain kebijakan penguasaan lahan oleh komunal, terjadi kebijakan perubahan teknik bertani secara ekstrem. Ini semacam kerakusan dan menganggap bahwa teknik tradisional dianggap nggak ideal sehingga bibit tanaman ditanam berdekatan dengan harapan bahwa tanaman satu spesies nggak akan berebut unsur hara. Selain itu, penanaman bibit juga dilakukan lebih dalam dari biasanya yang berakibat tanaman tumbuh dengan kekurangan nutrisi dan menyebabkan gagal panen. Kebijakan ini diperparah dengan pemusnahan burung-burung yang dianggap sebagai hama tanaman, seperti burung gereja (sparrow). Menghabisi hama burung dianggap dapat melindungi tanaman dan mimpi akan kelimpahan panen hinggap di kepala setiap orang. Sayangnya, panen justru mengalami kegagalan karena pembunuhan besar-besaran pada burung gereja menyebabkan ledakan populasi hama jenis lain seperti serangga pemakan tanaman. Putusnya satu rantai makanan yaitu burung gereja sebagai predator menyebabkan panen gagal total. 

Kebijakan-kebijakan yang parah dalam pengelolaan pertanian, kebijakan yang tidak fleksibel dalam arus distribusi pangan, hingga penumpukan pangan di pemerintah pusat menyebabkan kesengsaraan rakyat. Penderitaan akibat masalah pangan ini ditambah pula dengan banjir bandang akibat meluapnya Sungai Kuning (Yellow River) yang menghabisi jutaan lahan pertanian dan membunuh ratusan ribu orang, serta menghancurkan lebih dari 2000 desa.  Bencana akibat kebijakan yang salah yang diperparah dengan bencana alam menyebabkan kelaparan, kematian dan bau mayat dimana-mana. Orang-orang yang tidak lagi memiliki akses pada lahan pertanian mereka pun memakan apa saja yang bisa mereka makan seperti anjing, atau bahkan memakan manusia (kanibalisme). Pada masa ini juga ribuan anak-anak menjadi yatim piatu serta kekurangan gizi. Para orangtua bahkan dengan sengaja membawa anaknya yang kelaparan ke Shanghai dan ditinggalkan begitu saja dengan harapan anak-anak itu mendapat pertolongan keluarga yang memiliki makanan. Anak-anak ini kemudian populer disebut sebagai "Shanghai Orphans" yang jumlahnya kemudian meledak hingga 50.000 orang. 

Kondisi ini sangat mengkhawatirkan, sebab negara dalam kekacauan akibat kebijakan yang keliru, sementara anak-anak ini butuh dibesarkan agar kelak menjadi orang kuat dan berguna dalam mewujudkan mimpi RRC. Maka dibuatlah kebijakan seperti mengirim anak-anak yatim piatu ke wilayah padang rumput Mongolia sebagai wilayah otonomi RRC.  Sebanyak 3000 anak dikirim ke padang rumput Xilingol. Melalui kebijakan ini, Pemerintah RRC 'menitipkan' mereka untuk diasuh oleh keluarga angkat, mendapat kasih sayang dan mendapat makanan bergizi baik dari susu sapi padang rumput.  Anak-anak ini berusia dari beberapa bulan hingga beberapa tahun. Para keluarga Mongolia yang hendak mengadopsi mereka diwajibkan memiliki sapi perah (milk-cow) sebagai jaminan bahwa mereka bisa memberi makan anak adopsi mereka yang merupakan anak-anak negara. 

Nah, di padang rumput Xilingol di pedalaman Mongolia ini hidup satu keluarga dengan satu anak lelaki. Sang istri yang bernama Qiqigema mendengar tentang kedatangan para yatim piatu dan ingin mengadopsi salah seorang diantara mereka, setelah anak perempuannya meninggal dunia. Namun, karena mereka tidak memiliki sapi perah, sang suami menolak mengadopsi karena menganggap keluarga mereka tidak memiliki kualifikasi. Qiqigema kemudian berusaha menukar kuda milik suaminya dengan dua sapi untuk membuktikan bahwa keluarganya bisa mengadopsi seorang anak. Namun, suaminya malah memarahinya karena kuda itu miliknya. Akhirnya, Qiqigema mendapat hiasan pernikahan dari Ibunya agar menukarkannya dengan sapi perah. Dengan sapi yang gemuk dan sehat itu, Qiqigema menemui Sekretaris Ba dan mengatakan bahwa keluarganya punya kualifikasi untuk mengadopsi seorang anak. 

Di hari pertemuan para yatim piatu dengan keluarga baru mereka, ke 3000 anak yang merasa asing dengan kehidupan padang rumput ini melihat bahwa para ibu Mongolia merentangkan kedua tangan mereka, bersiap memberikan kasih sayang dan perlindungan. Pertemuan mereka begitu mengharu biru, dipenuhi harapan, kasih sayang dan doa dari sang pemimpin agama. Ada keluarga yang memilih anak, ada anak yang memilih orangtua. Hari itu, Qiqigema diinginkan oleh seorang anak perempuan bernama Zhen Zhen (Chen-Chen). Ia membawa pulang Zhen Zhen ke rumahnya yang berbentuk bulat khas padang rumput. Zhen Zhen diterima dengan baik dan ia mendapat nama baru Xilin Goa Wa sebagai nama Mongolia. Tapi, hari itu Zhen-Zhen menangis karena Yu Sheng sahabatnya masih ada di penampungan dan belum mendapatkan keluarga. 

Hari ketika pertemuan para orangtua dan anak-anak itu terjadi, sebenarnya Yu Sheng yang marah pada ibu yang meninggalkannya di jalanan kota Shanghai mulai membuka hatinya dan berharap menjadi anak dari keluarga di padang rumput yang sebenarnya asing baginya. Ia menunggu seorang ayah atau ibu Mongolia mendekatinya dan menjadikannya anak di keluarga mereka. Namun, tak seorang pun tertarik kepadanya sehingga ia harus kembali ke penampungan dan menunggu. Saat Yu Sheng menunggu, Qiqigema mengatakan kepada suaminya bahwa mereka harus mengadopsi Yu Sheng, karena mereka beranggapan Yu Sheng dan Zhen Zhen bersaudara. Qiqigema berpendapat bahwa sangat tidak baik memisahkan dua saudara sedarah, sehingga ia memaksa suaminya untuk mengadopsi Yu Sheng. Namun, sang suami menolak keras karena hidup mereka sudah sulit, bagaimana mungkin mau mengadopsi dua orang Shanghai Orphans? 

Setelah pertengkaran hebat dengan suaminya, Qiqigema berhasil mengadopsi Yu Sheng dan mereka memberinya nama Xilin Fu. Di keluarga barunya ini, Xilin Fu melihat ayah barunya memukuli ibu barunya karena keluarga miskin seperti mereka akan sangat kerepotan mengurus satu anak kandung dan 2 anak adopsi. Terlebih, setelah itu diketahui fakta bahwa Yu Sheng dan Zhen Zhen tidak memiliki hubungan darah. Keduanya dikembalikan ke penampungan agar keluarga itu bisa mengadopsi anak lain. Namun, dalam pandangan Qiqigema yang polos dan keibuan, sekali seorang anak menjadi bagian dari keluarga mereka maka selamanya keduanya menjadi anaknya. Disini Xilin Fu merasa berat hati dan ingin kembali ke Shanghai. Ia juga sebenarnya masih menyimpan dendam kepada ibunya yang menanipulasinya dengan meninggalkannya di depan panti asuhan dan berpura pura membeli apel untuknya. Tapi, Qiqigema meyakinkannya bahwa kemarahan ayah angkatnya bukan karena keluarga mereka tidak menyukainya, melainkah khawatir kalau tidak bisa membesarkan mereka dengan baik. Soalnya, Xilin Goa dan Xilin Fu merupakan anak-anak titipan negara yang harus diperlakukan dengan baik. 
Aktris Na Renhua sebagai Qiqigema. Sumber: mibu.com

10 tahun kemudian, Xilin Fu tumbuh menjadi pemuda kuat dan manis, yang juga pandai menulis puisi. Perawakan dan kemampuannya sudah menyerupai lelaki muda khas padang rumput. Xilin Fu juga menjalin kasih dengan sahabat masa kecilnya, Hong Yu yang saat ini menjadi kader PKC dalam gerakan pemuda partai komunis (dan ini merupakan salah satu program dari Revolusi Kebudayaan RRC). Sementara itu, Xilin Goa tumbuh menjadi gadis muda yang manis dan cerdas, dan ia telah menjadi seorang guru di sekolah milik negara. Ba Teur sebagai anak kandung Qiqigema sedang melanjutkan pendidikannya dan ia juga ikut dalam gerakan pemuda PKC sebagaimana Hong Yu. Qiqigema yang semakin menua tetap bekerja keras sebagaimana biasanya dan bangga pada anak-anaknya, sementara suaminya sudah meninggal dunia. 

Namun, kebahagiaan Qiqigema tidaklah abadi. Ibu kandung Xilin Goa datang jauh-jauh dari Shanghai ke padang rumput Xilingol untuk bertemu dengan anak kandungnya yang ia terlantarkan tanpa sengaja pada masa-masa sulit di masa lampau. Dimediasi oleh Sekretaris Ba, kedua ibu ini bertemu satu sama lain dalam derai airmata. Tak lama setelah itu, Xilin Goa dilepas dengan penuh kerelaan untuk pulang ke Shanghai, ke rumah keluarga aslinya. Qiqigema mengatakan kepada Xilin Goa bahwa ia bisa kembali kapan saja jika merasa tak betah di Shanghai. Meskipun polos, Qiqigema ini orangnya logis. Ia tak menahan Xilin Goa meski ia membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Ia sadar sepenuhnya bahwa apa yang dilakukannya selama 10 tahun ini adalah membesarkan anak-anak milik negara yang kapan saja bisa ditemukan keluarga aslinya. Qiqigema pun harus merelakan Xilian Goa kembali kepada asal muasalnya.
Petang di padang rumput Mongolia. Sumber: goldengorse.org

Tak lama setelah Xilin Goa bertemu dengan Ibu kandungnya, kini giliran Xilin Fu yang ditemukan oleh kedua orangtuanya. Keduanya menjalani hidup dalam penyesalan. Dulu, saat bencana terjadi, mereka terpaksa meninggalkan Yu Sheng di jalanan dengan harapan dapat diasuh keluarga lain. Mereka terpaksa melakukannya agar dapat membesarkan anak yang lain meski kemudian anak itu meninggal dunia karena kelaparan. Kini, keduanya sudah membaik secara ekonomi dan berharap Yu Sheng mau kembali bersama mereka dan akan mewarisi usaha keluarga. Namun, Yu Sheng alias Xilin Fu merasa keberatan meninggalkan ibu angkatnya sendirian di tengah gurun Mongolia di masa tuanya. Ia juga menolak tawaran untuk kuliah di Universitas. Hatinya sudah terpaut pada padang rumput dan ia tak ingin dipisahkan darinya, seakan-akan padang rumput itu ibu kandungnya. Ia telah memantapkan hatinya menjadi seorang penggembala. 

Yup, ini adalah film yang diangkat dari kisah nyata. Film yang sederhana dan humanis ini benar-benar menyentuh hati ini sangat baik dalam menggambarkan karakter para ibu Mongolia yang polos, penyayang, baik hati dan pekerja keras. Sebagai kelompok manusia yang tinggal di padang rumput, ibu Mongolia ini terbiasa dengan tantangan alam yang keras yang tiada hari tanpa kerja keras mulai dari mengambil air dari sungai, mengumpulkan kotoran kuda untuk bahan bakar, memerah susu, memasak makanan, melatih ibu hewan atau sapi yang baru melahirkan untuk memberi kasih sayang pada anaknya, dan merawat keluarga. Sungguh kehidupan yang keras dan sederhana, namun begitu jujur dan bersih. 

TENTANG MONGOLIA DAN MODERNITAS
Kita mungkin pertama kali mendengar nama Mongol dan Mongolia dari cerita-cerita dan film tentang Genghis Khan, seorang Mongol yang menjadi penakluk terbesar sepanjang sejarah manusia. Namun, Mongolia memiliki sejarah panjang yang menurutku lumayan ribet untuk dipelajari, terutama jika mempelajarinya di masa-masa sebelum Temudjin (Genghis Khan) menyatukan seluruh suku nomad di padang rumput Mongol menjadi Kekaisaran Mongol di akhir abad ke 12 Masehi. Mongolia saat ini merupakan negara modern dengan sistem pemerintahan semi demokratik yang dipimpin seorang Presiden dan Perdana Menteri sejak 1992. Mongolia modern merupakan negara biasa yang masih mengenang kebesaran Genghis Khan di masa lampau, sementara tetangganya yaitu China dan Rusia tetap menjadi negara besar yang selalu menghebohkan dunia dengan kebijakan mereka terkait apapun, termasuk terkait permusuhan dengan Amerika Serikat. 

Sebagai manusia yang hidup di zaman modern, melihat ke masa lampau, ke kehidupan suku-suku dan klan-klan yang pernah eksis sekaligus berjaya memang agak lumayan rumit. Terlebih jika informasi tentang mereka begitu melimpah sehingga sulit untuk di pilah mana yang benar versus yang keliru. Namun demikian, aku selalu tertarik untuk menyaksikan film-film tentang mereka di masa lampau, dan jauh ke masa paling lampau yang bisa diartikulasikan para sineas film. Aku juga selalu berminat membaca sejarah tentang mereka, meski seringkali kepalaku pusing karena begitu kompleks. Sebagai manusia yang lahir dan tumbuh di negeri kaya raya dan indah, aku selalu bertanya-tanya bagaimana rasanya lahir dan tinggal di padang rumput, yang minum susu dan makan daging sepanjang waktu. Aku juga selalu penasaran tentang bagaimana rasanya memiliki kulit pipi yang memerah karena cuaca yang sangat dingin di wilayah dataran tinggi penuh angin. Mereka pastilah hebat dan tangguh. Maka dengan cara inilah aku belajar tentang kuasa dan kehendak Tuhan yang dengan manis membagi rezekinya kepada seluruh makhluk ciptaanNya di seantero bumi. 
Rumah tradisional Mongolia / ger di masa modern. Sumber: sidetracked.com
Beginilah orang Mongol membangun rumah tradisional mereka yang disebut ger
Suasana di dalam rumah tradisional /ger Mongolia modern saat didatangi peneliti polusi. Sumber: UNICEF

Mongolia modern dihuni oleh 96% etnis Mongol dan 3% etnis Kazaks, yang banyak wilayahnya berubah menjadi kota-kota modern. Kuda yang menjadi simbol Mongol telah banyak digantikan oleh kendaraan bermotor. Kehidupan di padang rumput juga mulai terkikis, bahkan pemerintah mulai membangun rumah-rumah kecil untuk mereka agar meninggalkan kehidupan padang rumput atas nama konservasi. Rumah-rumah khas Mongolia yang disebut ger juga mengalami perubahan. Kini, rumah-rumah bulat itu sudah dialiri listrik dari panel surya, memiliki sejumlah alat elektronik seperti freezer dan televisi. Bahkan, sudah banyak program yang mendatangkan mahasiswa asing di Mongolia untuk bertukar pengetahuan tentang budaya asing versus Mongolia, seperti pesta pernikahan dan kuliner.

Beberapa kali aku menonton film tentang kehidupan orang Mongolia di masa lampau dan masa modern. Memang ada kesenjangan yang terasa, sebab hidup sudah berubah di mana modernisasi berhak diakses semua orang, termasuk komunitas penggembala di pedalaman Mongolia. Orang Mongolia hari ini masih bisa tinggal di padang rumput dengan ger mereka yang jauh lebih indah, dengan peralatan rumah modern dan listrik, juga kendaraan bermotor baik roda dua maupun roda empat. Namun, perbedaan ekstrim dengan masa lampau adalah tentang hilangnya akses mereka untuk menjalani kehidupan berpindah (nomad) sebagaimana para pendahulunya. 

LALU, BAGAIMANA NASIB PARA SHANGHAI ORPHANS SEKARANG? 
Sang Ye adalah anak perempuan dari lima bersaudara yang menjadi saksi hidup bagaimana beratnya keluarga mereka menjalani hari-hari pada masa Great Chinese Famine. Saat itu, ibunya dengan sengaja meninggalkan anak bungsunya di pintu masuk sebuah restoran di Shanghai. Namun, reformasi yang dipimpin Deng Xiaoping pada akhir 1978 membawa kehidupan yang lebih baik. Saat itulah muncul penyesalan di hati sang ibu dan keluarga ini pun mulai mencari si bungsu yang entah di mana rimbanya. Kesedihan semakin memuncak setiap awal tahun di mana seluruh keluarga berkumpul dan makan bersama. Maka, sejak tahun 2000 Sang Ye mulai melakukan pencarian. Pihak pemerintah mengatakan bahwa jumlah Shanghai Orphans saat itu sangat besar sehingga tidak mungkin semuanya ditampung di Shanghai. Sebagian mereka dikirim ke sejumlah provinsi seperti Shanxi, Shaanxi, Hebei, Liaoning, Henan dan padang rumput Mongolia. Sang Ye menjadikan pencarian adik bungsunya sebagai obsesi dan ia mengunjungi semua tempat itu demi mencarinya. Hingga sang ibu meninggal dunia, Sang Ye belum juga berhasil menemukan adik bungsunya dan merasa bersalah karena belum mampu menghapus air mata penyesalan sang ibu bahkan hingga maut menjemputnya.

Baca juga: Ballad from Tibet, Nyanyian Surga di Kaki Himalaya

Pencarian Sang Ye pada adik bungsunya membuatnya menjadi pendiri The Great Leap Shanghai Orphans Association dan orang-orang menyebutnya sebagai Big Sister Lu 'Family Reunion' Shunfang. Rumahnya menjadi semacam pusat informasi dan nomor ponselnya menjadi hotline, dan sejak itu 2000 keluarga telah menemukan anak-anak mereka, sementara yang lainnya masih berusaha. Setiap tahunnya diadakan reuni para keluarga anggota asosiasi di lapangan terbuka, untuk memberikan kesempatan menemukan dan ditemukan oleh anak-anak mereka yang mereka lepaskan ada tahun 1960an, di tahun ketika Sang Ye kehilangan adik bungsunya. Saat Sang Ye ke pedalaman Mongolia demi mencari adiknya, ia mendapati fakta bahwa pada tahun 1960 itu Mongolia juga mengalami kelaparan dan kekurangan pasokan susu bubuk. Saat Great Chinese Famine terjadi, mereka tidak bisa mengirimkan susu bubuk untuk membantu pada anak yatim di berbagai panti asuhan di Shanghai. Mereka juga tidak bisa menerima banyak Shanghai Orphans untuk diadopsi, melainkan sekitar 3000-5000 orang saja. Namun, setelah pencarian bertahun-tahun yang melelahkan, sampai kini Sang Ye belum menemukan adik perempuannya sebagaimana puluhan ribu keluarga lainnya.  

Bumi Manusia, 9 Juli 2020

Bahan bacaan: 
https://www.youtube.com/watch?v=bkR-uIXXcHo
https://www.youtube.com/watch?v=xYnCAFKC7gE
https://en.wikipedia.org/wiki/Great_Chinese_Famine
https://en.wikipedia.org/wiki/Zhou_Enlai
https://www.thechinastory.org/yearbooks/yearbook-2019-china-dreams/forum-forgotten-histories/prairie-mothers-and-shanghai-orphans/
https://en.wikipedia.org/wiki/Shanghai_Orphans
https://en.wikipedia.org/wiki/Mongols
https://www.sidetracked.com/life-in-the-ger/
http://www.chinaheritagequarterly.org/articles.php?searchterm=019_1959_orphans.inc&issue=019
https://www.refworld.org/docid/3ae6a85a0.html
https://www.theworldofchinese.com/2016/08/shanghai-orphans-hunt-for-home/
https://www.theguardian.com/world/2013/jan/01/china-great-famine-book-tombstone
https://www.globaltimes.cn/content/1019261.shtml
http://app.icrosschina.com/?app=article&controller=article&action=show&contentid=26758



No comments:

Post a Comment