Untukmu Anak Keluarga Broken Home yang Lebaran Sepi Sendiri

Waiting. Sumber: The Huffington Post


Aroma rumah memang memabukkan. Tak heran, jika orang-orang 
yang memilikinya cenderung congkak tiada tanding. 


Halo, hari ini bisa disebut istimewa sekaligus menyedihkan. Secara personal aku dan kamu ada dalam kondisi serupa: ingin pulang, tapi bahkan tak punya rumah bernama hati untuk pulang. Selain itu, secara sosial ekonomi keadaan kita dipaksa berhenti sejenak oleh Tuhan dan semesta. Ya, kita sedang menghadapi wabah mematikan, keadaan yang mengulang peristiwa 142 tahun silam cuma beda virus, nama penyakit dan cara menanganinya. Jika tahun-tahun sebelumnya keinginan untuk pulang terhambat oleh keadaan yang hanya bisa dipahami oleh kita. Tahun ini semua tidak boleh pulang karena kebijakan negara memaksa kita, agar nyawa kita bisa diselamatkan. Meski jumlah manusia di bumi terlampau banyak, tetap saja kita selalu merasa khawatir terhadap kematian, bukan? 

Aku paham bahwa ada sunyi yang menyiksa relung hatimu. Kadang rentetan pertanyaan mengejar tak kenal waktu, memaksamu sulit tidur, tidak punya nafsu makan, dan sedih sepanjang waktu. Ya, aku pun merasakannya. Kehilangan keluarga, kehilangan bonding dengan kedua orangtua, pengkhianatan, tidak memiliki rumah tempat kembali, ditelantarkan, diacuhkan, dibuang, tidak dipedulikan, dan perasaan semacamnya.  Aku tahu ini sulit dan seringkali memaksamu menangis, lalu tidur dengan mata sembab. Semua ini terasa berat dijalani, sebab kamu dijejali pemahaman bahwa keluarga bahagia adalah mereka dengan orangtua lengkap dan anak-anaknya yang tinggal bersama di satu rumah dengan bahagia, tanpa kurang suatu apapun. Kamu dicekoki pemahaman bahwa jika tidak memiliki keluarga demikian, maka kamu nggak bahagia dan hidupmu gagal, dan kemungkinan besar kamu akan mewarisi masalah yang sama dengan kedua orangtuamu. 

Kuceritakan kepadamu rahasiaku. Tahun 1984 lalu kedua orangtuaku menikah tanpa cinta. Ibuku dipaksa menikah dengan ayahku oleh kakak sulungnya yang otoriter. Pernikahan itu juga tidak direstui keluarga pihak ayahku. Tetapi, pernikahan itu terjadi. Tahun 1985 lahirlah aku dan 1988 lahirlah adikku. Tahun 1990 kedua orangtuaku berpisah saat aku berusia 5 tahun dan adikku 18 bulan. Siapa yang salah atas semua ini, jelas aku tak tahu. Yang kutahu, sejak saat itu takdirku berubah. Aku kehilangan ingatan tentang ibuku, aku mengalami trauma dan aku membenci ibuku. Aku ingat hari itu cuaca cerah, ibuku memandikan dan mendadani adikkku. Rencananya ibuku akan membawa adikku dan meninggalkanku dengan ayahku. Tapi, adikku berhasil direbut pamanku dan dibawa lari. Saat ibuku pergi, lalu naik bus, aku mengejarnya sembari menangis keras-keras. Malam harinya saat aku tidur, semua ingatanku tentang ibuku kecuali peristiwa hari itu benar-benar hilang dari kepalaku. Saat dewasa aku baru mengerti bahwa aku mengalami trauma. 

Apa yang terjadi padaku hanya bisa dipahami olehku, sebab aku yang merasakannya. Tak seorang pun mampu memahaminya, sehingga aku berusaha tidak memaksa orang memahami keadaanku. Hari itu seperti salah satu episode sebuah sinetron dan mengubah banyak perjalanan hidupku. Bahkan hingga beberapa kali aku bertemu ibuku, aku merasa asing terhadapnya. Aku seperti kehilangan ikatan batin dengan ibuku sendiri. Traumaku belum sembuh bahkan setelah 30 tahun peristiwa itu berlalu. Hal ini diperparah dengan hilangnya bonding dengan ayahku ketika aku remaja. Rasanya semua makin kacau balau dan aku dituntut untuk memaklumi semua itu, menerima beban berat dan menyelesaikan masalah-masalah dalam hidup sendirian. Dan kedua orangtuaku belum pernah sekalipun mengucapkan permintaan maaf kepadaku dan adikku. Ini ironis, tapi harus diterima dengan lapang dada. Hanya itu pilihan yang ada. 

Aku seperti kehilangan segalanya. Aku punya orangtua lengkap, tapi merasa yatim piatu. Jika saat ini kamu merasa sedih dan hilang arah, dan mungkin sedang berlinang airmata karena tak seorang pun dari kedua orangtuamu mengontakmu sekadar untuk menanyakan kabarmu, aku mengeri perasaanmu. Jika hari ini kamu terbaring lemah dan sekarat, sementara kedua orangtuamu tak peduli kamu masih hidup atau sudah mati, aku mengerti perasaanmu. Jika saat ini kamu tak punya makanan dan kelaparan, dan orangtuamu tak peduli padamu, aku mengerti perasaanmu. Jika saat ini kamu merasa iri dengan keluarga lain yang berbahagia dengan segala sesuatu yang mereka miliki, aku mengerti perasaanmu. Jika saat ini kamu hanya mampu menatap nanar mereka dengan foto keluarga di hari lebaran, sementara kamu sendirian, aku mengerti perasaanmu. Sebab, aku mengalami fase-fase menyedihkan itu dan hingga saat ini aku masih berjuang menerima takdirku, bersyukur apa yang menjadi anugerah dalam hidupku, berkompromi untuk setiap keinginan yang belum dikabulkan, dan menyembuhkan trauma masa kecil. 

Bagaimanapun perasaan kamu hari ini, ingatlah satu hal: bagaimanapun keadaanmu sekarang, kamu punya tanggung jawab untuk mempertahankan hidupmu di hadapan Tuhan. Dia telah menciptakanmu agar kamu bergnatung hanya kepadaNya, bukan kepada mnausia lain termasuk kedua orangtuamu. Betapapun sedih, sakit, terhina, terbuang, kecewa, terluka dan perasaan lainnya yang menyedihkan, kamu harus tetap bangkit mengasuh, menolong, mencintai, memaafkan, menghormati, dan menjaga dirimu sendiri. Bangunlah satu mimpi di masa depan, sehingga kamu punya alasan untuk tetap hidup sebagai orang baik dan bangga pada semua proses yang pernah kamu lalui dengan gagah berani. Singkirkan segala sesuatu yang tidak ingin menjadi bagian dari hidupmu, baik benda maupun orang-orang. Fokuslah pada dirimu, mimpimu, hidupmu. Perjuangkan hidupmu, buatlah kamu bangga pada dirimu sendiri. Buatlah Tuhan tersenyum padamu. 


Jika hari ini matamu sembab karena menangis semalaman, tak apa, itu manusiawi. Jika hari ini kamu makan seadanya karena tak punya uang untuk membeli makanan khas lebaran, tak apa, itu lebih baik daripada kelaparan. Bahkan hari ini rencananya aku hanya akan masak sayur bening katuk dan jagung, dan tempe goreng. Hari ini tak ada rendang, opor ayam, sate, gulai, ayam goreng, ketupat, sambal ati, puding, kue-kue lezat nan manis, dan lain-lain yang biasanya jadi menu lebaran. Sungguh tak apa. Hari ini kita prihatin internasional. Kita terima saja keadaan ini dengan iklhas dan lapang dada. Percaya bahwa setelah kesulitan pasti ada kemudahan. Jika saat ini kita kehilangan keluarga dan mendapat stigma buruk hanya karena bukan dari keluarga bahagia, mudah-mudahan kelak Tuhan mengirimkan kita seseorang yang baik hatinya dan dengannya kita membangun keluarga impian, yang utuh dan saling menyayangi. 

KE BIHA-BIHA: BUKAN TANAH JAHANNAM
Oh ya, tahun ini aku hendak bersolidaritas pada kita semua, anak-anak yang tumbuh dari keluarga yang hancur atau yang bahkan dibuang kedua orangtuanya. Aku menulis sebuah novel yang kuterbitkan di situs storial.co dan cerita kudedikasikan untuk kamu. Tokoh-tokoh dalam cerita ini adalah mereka yang kehilangan keluarga karena satu dan lain hal. Aku mau menunjukkan sebuah cara yang baik dan penuh kasih sayang bagaimana kita bisa membangun sebuah jalan baru agar kesedihan dan rasa terbuang, menjadi kesempatan untuk kita menjadi malaikat bagi mereka yang bernasib serupa atau bahkan lebih mengenaskan. Bahwa mungkin, mereka yang selama ini tidak punya tempat untuk pulang menjadi punya kesempatan pulang meski hanya untuk merayakan lebaran. 
Kamu bisa membaca cerita ini di: storial.co/book/ke-biha-biha

Lebaran sunyi sepi terlebih di masa pandemi nggak perlu disesali, dirutuki apalagi ditangisi. Mungkin Tuhan yang Maha Pengasih mau kita menyepi dan berharap penuh kepadaNya. Dalam sepi sunyi sendiri, aku menulis, dan menulis. Sebab bagiku menulis adalah salah satu cara yang baik dalam meredam kecamuk pikiran di dalam kepalaku sendiri, meredam amarah yang mengusasi hati, dan menenangkan jiwa yang seringkali merasa tak puas atas apa yang diberi. 

Selamat merayakan Idul Fitri 1441 H/2020M
Mohon maaf lahir dan batin

Depok, 24 Mei 2020



No comments:

Post a Comment