Rape Culture atau Budaya Memerkosa Nyata Adanya di Sekitar Kita

Budaya memerkosa ada di sekitar kita

Budaya memerkosa alias rape culture bukan kaleng-kaleng, apalagi sekadar tuduhan kemarahan kaum feminis garis keras. Budaya memerkosa ada tingkatannya mulai dari yang paling ringan dan cenderung disepelekan, sampai paling parah hingga menyebabkan depresi, cacat dan kematian korban. Hmm, pembaca mungkin bosan dengan tulisan-tulisanku terkait kekerasan seksual. Masalanya, aku dan banyak peremuan lain masih merasa nggak aman dan sering mendapat pelecehan termauk pelecehan seksual. Aku berjilbab lho dan mendapat pelecehan seksual, salahku di mana? Apa aku harus mati aja supaya aman dari kekerasan seksual? Eh, nggak juga ding soalnya ada kisah di Mesir kuno di mana para pembuat mumi suka memerkosa mayat perempuan yang masih segar sebelum diproses jadi mumi. Makanya orang Mesir kuno kadang membuat mayat perempuan membusuk beberapa waktu lamanya sebelum memanggil petugas pembuat mumi. 

Pembaca pasti sudah sering mendengar nasehat agar perempuan tinggal di rumah saja agar aman dari segala gangguan termasuk kekerasan seksual. Kita juga sering sekali kepincut dengan istilah "Rumahku surgaku" yang merupakan mimpi nyaris setiap orang, bahwa rumah adalah surga kecil di dunia dan tempat paling aman di bumi. Sayangnya, data justru menunjukan bahwa rumah dan lingkungan terdekat justru paling nggak aman, bahkan dari kekerasal seksual seperti pemerkosaan. Merasa aneh? Tapi ini nyata.  

Pembaca ingat kan kasus Y di Bengkulu? Ya merupakan siswa SMP yang diperkosa beramai-ramai di siang bolong saat pulang sekolah di kampung halamannya sendiri. Nah, Y ini bukan lagi kelayapan lho, melainkan dalam perjalanan dari sekolah ke rumahnya. Pemerkosaan beramai-ramai alias gang rape itu bikin Y meninggal dunia, karena setelah pemerkosaan terjadi tubuh Y yang sekarat dna lemah dilempar ke jurang oleh para pemerkosa untuk menghilangkan jejak. Ya, remaja Y kehilangan nyawa di tangan pemerkosanya yang merupakan teman- teman sekolahnya.

Pembaca juga ingat kasus E di Tangerang kan? E adalah seorang perempuan muda yang bekerja sebagai buruh pabrik. E diperkosa di kontrakannya sendiri oleh pacarnya dan teman pacarnya, dan seorang siswa SMP. Saat E diperkosa, jelas dia nggak lagi kelayapan. Kemudian E meninggal dunia karena saat sekarat setelah diperkosa vaginanya dimasukin gagang pacul hingga menembus jantung. Gila ya para pemerkosanya, urusan penis jadi pembunuhan sadis kayak gitu. Kemudian, kedua pelakunya dihukum dengan pasal pembunuhan berencana, sama sekali nggak dijerat atas pasal pemerkosaan karena kebijakan hukumnya belum ada. Padahal seharusnya kan bisa dijerat pasal berlapis karena ini kejahatan sadis.

Kasus terbaru tentang NF di Jakarta. Remaja 15 tahun ini pada awlanya bikin geger karena menyerahkan diri ke polisi setelah membunuh bocah berusia 5 tahun yang merupakan tetangganya sendiri. Orang kemudian berspekulasi bahwa NF mengalami gangguan jiwa hingga level psikopat dan itu ditunjukkan melalui gambar-gambar yang NF buat. Setelah beberapa waktu lamanya, fakta baru terungkap bahwa NF hamil 14 minggu. Kok bisa? Ternyata NF diperkosa oleh dua orang pamannya sendiri dan pacarnya. Peristiwa pemerkosaan itu bahkan direkam oleh sang paman agar NF tutup mulut. NF menumpahkan kemarahan dan merekam peristiwa itu kedalam gambar-gambar yang semula disangka sebagai jawaban atas pembunuhan yang dilakukannya. Tetapi rupanya, kemarahan NF yang nggak tertanggungkan bikin dia bunuh anak kecil dan menyerahkan diri ke polisi, adalah dia sengaja agar bisa melarikan diri dari pemerkosa yang tak lain pamannya sendiri.


Nah, kasus NF ini kalau disambungkan ke Catatan Tahunan Kekerasan terhadap Perempuan tahun 2019, kita akan paham bahwa ternyata kasus kekerasan seksual paling banyak terjadi di ranah rumah tangga. Bayangkan aja ayah perkosa anak kandung, paman perkosa keponakan, suami perkosa istri, sepupu perkosa sepupu, kakek perkosa cucu, bahkan para lelaki itu memerkosa bayi mereka sendiri. Bayi-bayi itu jadinya mati. So, saat kita kekeh bilang bahwa rumah adalah tempat paling aman sehingga memaksa mengurung perempuan di rumah atas nama ketundukan pada orangtua atau suami, kita keliru. Nyatanya, tempat paling aman adalah di mana perempuan tidak mendapatkan perlakukan buruk apalagi diperkosa sampai mati. Dimanakah tempat itu? Tidak ada. 
Bentuk-bentuk kekerasan seksual di ranah personal dan inses paling tinggi.

Dalam kasus-kasus pemerkosaan biasanya pelaku nggak dijerat dengan pasal pemerkosaan melainkan pasal pencabulan. Bayangkan, seorang perempuan diperkosa sampai sekarat tapi pemerkosanya dijerat pasal pencabulan! Atau pelaku bisa dijerap pasal dalam UU Perlindungan Anak kalau korbannya manusia berusia antara 0-18 tahun.  Pelaku juga bisa dijerat pasal dalam UU Penghapusan KDRT kalau korban dan pelaku merupakan anggota keluarga, seperti kasus ayah perkosa anak kandung, atau paman perkosa keponakan. Ngenes kan ya,  kasusnya pemerkosaan tapi pelaku dijerat pakai pasal yang nggak nyambung dengan kasusnya.

Lha, memangnya nggak ada kebijakan khusus untuk menjerat pelaku pemerkosaan? Nggak ada. Makanya para pegiat advokasi perlindungan pada perempuan dan anak memperjuangkan kebijakan khusus tentang kekerasan seksual. kebijakan ini masih digodok di DPR dan berproses sejak 2014. Namanya Rancangan Undang-Undang Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS). Kenapa kebijakan ini lama banget diundangkan padahal kita butuh mendesak? Karena RUU PKS ini ditolak sebagian kalangan Muslim yang menganggap RUU PKS pro zina dan LGBT. Sejumlah partai yang menolak misalnya PKS dan PPP, yang bahkan membuat kebijakan tandingan yaitu drat RUU Ketahanan Keluarga yang sama sekali nggak nyambung dengan kebutuhan penanganan kasus kekerasan seksual yang semakin tahun semakin meningkat. 

Entah bagaimana bisa sebagian kelompok Muslim menganggap RUU PKS pro zina dan LGBT, padahal kekerasan seksual di lembaga pendidikan berbasis Islam aja banyak, cuma ditutupi demi menjaga nama baik para ustadz pelaku kekerasan seksual. Salah satu contohnya kasus MSA, anak Kiai pemilik pesantren di Jombang yang memerkosa sejumlah santriwati. Tapi, meski status MSA udah jadi tersangka dan kasusnya ditangani Polda Jatim, tetep aja tuh orang kebal hukum. Mau tahu kenapa MSA kebal hukum? Karena sebagian warga melindungi dia seakan-akan dia manusia kebal dosa. Sang Kiai sepuh sebagai orangtuanya juga nggak serahkan MSA ke polisi. Waktu polisi datang buat bawa MSA demi melakukan penyelidikan, warga pendukungnya jadi pagar betis dong. Nah, budaya memerkosa dalam masyarakat kita levelnya udah separah itu. Lama-lama memerkosa dianggap biasa dan bukan dosa. Bahkan lembaga pendidikan Islam semacam pesantren pun nggak aman dari pemerkosa. Serem nggak tuh pemerkosa berkedok ustadz atau guru ngaji atau ulama? Atau kalau di lembaga agama lain tuh ada juga pendeta yang memerkosa murid-murid sekolah Minggu.

RAPE CULTURE ALIAS BUDAYA MEMERKOSA
Kembali ke budaya memerkosa: bahwa ini nyata adanya dan setiap kita kemungkinan besar adalah pelaku sekaligus korban. Bahkan saat di kepala kita terlintas pikiran untuk menghukum seorang perempuan dengan memerkosanya, maka kita sudah menjadi pelanggeng budaya memerkosa di dalam diri kita sendiri. Atau saat mengomentari pakaian perempuan seolah mengundang memerkosanya, maka kita telah melanggengkan budaya memerkosa. Jadi, ingat-ingat saja dan jujur pada diri sendiri apakah termasuk yang melanggengkan budaya memerkosa atau bukan. Kalau bukan ya alhamdulillah.

Jika kita berdiam diri atau menggampangkan atau menganggap kekerasan seksual yang dialami orang lain tidak menjadi masalah bagi diri kita, maka kita telah menjadi bagian yang menghidupkan budaya pemerkosaan (rape culture). Nah, candaan soal kekerasan seksual seperti perkosaan dalam pembuka artikel ini merupakan bentuk paling ringan dari piramida rape culture. Nah, jika candaan soal pemerkosaan dianggap sebagai hal biasa, maka kita akan kena tulah peribahasa 'ala bisa karena biasa' dimana kita akan menganggap hal tersebut bukan sebagai ancaman.
Piramida budaya memerkosa atau rape culture

Jika kita baru menyadari bahaya kekerasan seksual setelah mendengar kasus pemerkosaan, pedophilia hingga pemerkosaan sadis setelah dicekoki obat terlarang atau alkohol, maka kita sudah ada di level 'lambat' alias berkemungkinan gagal menyelamatkan hidup korban. Sehingga, semua pihak memang harus bersama-sama bertanggung jawab mulai dari pencegahan, advokasi terhadap korban hingga mengawal hukuman bagi pelaku. Mengapa kita semua harus bertanggung jawab meski saat ini hidup di zona nyaman? Karena kita semua berkemungkinan menjadi korban dan pelaku kekerasan seksual. Sehingga, memerangi kekerasan seksual adalah kewajiban sebagaimana memerangi pembunuhan.

Setiap orang berhak atas rasa amah dari kejahatan dalam bentuk apapun, termasuk kekerasan seksual. Oleh karena itu, negara wajib memberikan perlindungan hukum. Selama ini, kebijakan terkait kasus kekerasan seksual masih sangat lemah dan seringkali menjadikan korban sebagai tersangka, hingga membebaskan pelaku karena lemahnya alat bukti. Alat ukurnya sederhana saja, yaitu meningkatnya kasus kekerasan seksual dari tahun ke tahun. Korban kekerasan seksual adalah pihak yang lemah sehingga harus mendapatkan perlindungan hukum yang adil dari negara, dan pelaku harus diganjar sesuai perbuatannya. Setiap warga negara berhak atas rasa aman. 


"Pantas aja dia diperkosa...." Sekali saja kata ini keluar dari mulut kita, maka kita merupakan pelaku budaya memerkosa. Pembaca mau tahu alasannya? Karena kita nggak berhak mengatakan siapapun pantas diperkosa sebagaimana kita nggak berhak mengatakan seseorang pantas dibunuh. Kalau diri kita sendiri atau keluarga kita nggak layak diperkosa, bagaimana mungkin kita mengatakan orang lain layak diperkosa?

Depok, 30 Mei 2020

Bahan Bacaan: 
https://tirto.id/fakta-baru-nf-si-pembunuh-anak-korban-kekerasan-hamil-35-bulan-fumm
https://news.detik.com/berita/d-5015529/perkosaan-mengerikan-di-balik-kasus-pembunuhan-abg-slenderman
https://megapolitan.kompas.com/read/2020/05/14/11525751/remaja-pembunuh-bocah-di-sawah-besar-adalah-korban-pelecehan-seksual-kini
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20160510130253-12-129673/buron-pembunuh-pemerkosa-siswi-smp-diduga-tinggalkan-bengkulu
https://www.republika.co.id/tag/kasus-pemerkosaan-anak
https://news.detik.com/berita/d-3204891/mabes-polri-pemicu-pemerkosaan-gadis-14-tahun-di-bengkulu-dipengaruhi-miras
https://metro.tempo.co/read/771904/karyawati-dibunuh-pakai-gagang-cangkul-ini-kronologinya
https://www.jawapos.com/metro/metropolitan/09/02/2017/2-pembunuh-cangkul-di-alat-vital-divonis-mati-mimik-muka-mereka-tiba-tiba/
https://news.detik.com/berita/d-3213019/alasan-3-tersangka-membunuh-eno-dengan-cangkul
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200124091404-12-468230/modus-pencabulan-anak-kiai-di-jombang-ancam-dan-janji-nikahi
https://tirto.id/duduk-perkara-skandal-kasus-kekerasan-seksual-di-pesantren-jombang-exjo
https://news.detik.com/berita-jawa-timur/d-4877576/polisi-cekal-anak-kiai-di-jombang-yang-diduga-cabuli-santri
https://www.gelorabangsa.com/2019/12/dijerat-pasal-berlapis-m-subchi-azal.html
https://jatim.suara.com/read/2020/03/09/110740/apakabar-skandal-perkosaan-anak-cabul-kiai-jombang

11 comments:

  1. Mbak, aku suka banget baca tulisan njenengan. RUU PKS ini seakan ditunda-tunda, padahal urgent banget untuk disahkan. Padahal kasus pemerkosaan selalu meningkat dari tahun ke tahun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Mbak Niken, terima kasih sudah membaca artikel ini. Yup benar sekali. proses pembahasannya panjang sejak 2014-2020, belum selesai juga, dan korban terus berjatuhan. Namun, meski semua ini terasa berat, kita harus tetap memperjuangkannya karena kita butuh instrumen hukum yang melindungi warga negara dari kekerasan seksual.

      Delete
  2. Kalau Suami perkosa Istri kayaknya berlebihan Mbak, ane kurang setuju,
    Karena tugas istri ya melayani Suami lahir dan batin, mosok yo sudah nikah kok di perkosa,

    Karena suami sudah mencari nafkah dll, ibarate hubungan biologis itu upah e wkwkwk, karena karakter Pria itu berbeda dg wanita, setiap menit, detik bisa timbul hasrat, bila tidak tersalurkan secara halal malah berbahaya.

    Bila Istri sudah tidak sanggup melayani Suami secara batin, di dalam Islam ada banyak memberikan solusi salah satunya, bercerai atau Poligami jadi istri harus iklas hehe


    Kalau Kasus asusila no comen.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya akan mengoreksi pandangan Mas Arif. Pertama, tugas istri bukan melayani suami, karena melayani berbasis pada kegiatan pelayan yang bertugas melayani. Pernikahan itu posisinya setara antara sepasang manusia, bedanya suami berposisi pemimpin karena tugas dia berat. Di mana-mana meski bukan dalam pernikahan sekalipun, kegiatan yang dilakikan dua orang lebih memang harus ada yang memimpin.

      Kedua, seks bukan upah. Kalau seks antara suami istri diibaratkan upah istri bagi suaminya yang mencari nafkah, itu sangat keliru. Mengapa? uang hasil kerja suami toh juga digunakan untuk membeli dan memelihara seluruh harta kekayaan atas nama suami, membeli makanan yang dimakan suami, membeli pakaian yang digunakan suami dll. Orang memberi nafkah pada keluarganya adalah konsekuensi karena dia punya istri dan anak-anak. Masa iya orang lain yang harus kasih makan keluarga sendiri. Lagian, orang yang single juga tetap mencari nafkah karena nafkah itu hal basic yang perlu dicari agar manusia bisa bertahan hidup.

      Ketiga, Anda keliru kalau bilang perempuan nggak punya nafsu seks yang lebih tinggi dari lelaki. Perempuan cuma nggak bilang aja supaya nggak dibilang binal. Mas Arif sebaiknya melakukan studi soal seks perempuan dari seluruh dunia. Laki-laki dianggap gila seks karena norma masyarakat menerima itu sebagai kejantanan, sementara perempuan dipaksa memendam hasrat seksualnya karena kalau ditunjukkan akan dicap binal.

      Keempat, kalau lelaki berpikirnya dikit-dikit poligami dengan kepuasan seksualnya, dia berlaku nggak adil dengan istrinya. Mengapa? Karena masalah disfungsi seksual bisa dikonsultasikan dengan dokter dan dilakukan terapi. Kalau jawabannya poligami, maka namanya kemaruk.




      Delete
    2. Rif, Arif...jenengan sepertinya tidak membaca isi keseluruhan artikel ini atau malah kurang paham dengan seksama maksud tulisan ini dibuat, justru karena orang dengan pola pikir seperti anda inilah tulisan ini dibuat.
      Jenengan sepertinya kurang paham pengertian perkosa itu sendiri apa, jika Istri jenengan mau begituan tapi jenengan tidak mau tapi istri jenengan malah maksa ke jenengan itu namanya perkosa, ngerti ya?
      Seks kok jadi upah? Now i give the unnecessary "wkwkwwk" back to you.
      Kalau dibalik istrinya yang kerja suaminya yang nganggur gimana dong? Apakah "upah" masih bernilai sama?
      Banyakin baca Mas Arif, situs bokepnya ditutup dulu ya? nanti setiap detik timbul hasrat mulu. Suwun lurd.

      Delete
  3. Saya membaca tulisan njenengan dengan rasa gemes sekaligus ingin marah. Betapa pencegahan terhadap pemerkosaan adalah tanggung jawab kita bersama. Makasih banyak ya, Mbak, edukasi semacam ini memang perlu terus untuk digalakkan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo Mas Akhmad, terima kasih sudah berkenan membaca artikel ini. Yup, kita pastas marah atas semua ini. Namun perlu diingat satu hal, bahwa memberantas kejahatan apapun bentuknya memang diperlukan konsistensi, keberanian dan kerja bersama seluruh lapisan masyarakat. Mudha-mudahan tulisan sederhana ini menjadi bagian dari kerja bersama dalam melawan kekerasan seksual di negeri ini dan dunia. Amin

      Delete
  4. Suka banget ulasannya.
    Faktanya, saya kenal beberapa teman yang mengalami pemerkosaan yang dilakukan oleh suami mereka sendiri.

    Dampak psikologis? Pasti ada. Mereka jelas tidak berani cerita, kalau pun saat itu cerita ke seorang yang dia kenal (saya misalnya dalam hal ini) bukan berarti dia buka aib keluarganya tapi dia kondisi sudah sangat down bahkan hampir depresi karena banyak yang beranggapan tugas istri melayani suami.

    Padahal sex antara suami istri adalah hal yang sangat nikmat saat dilakukan dengan kesadaran dan penuh kasih serta kelembutan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Hanila, terima kasih sudah berkenan membaca tulisan sederhana ini. Pemerkosaan oleh suami sendiri ya nyata adanya sebagaimana KDRT atau pembunuhan oleh suami sendiri. Hanya saja, kasus begini sulit terungkap karena biasanya korban memilih diam.

      Delete
  5. Duh, ngeri juga ya kalau bicara tentang kasus perkosaan. Ada banyak dan banyak yang nggak kapok sepertinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada beberapa alasan mengapa kasus pemerkosaan semakin marak terjadi:
      1. Ketimpangan relasi kuasa sejak di dalam keluarga, sehingga ada pihak yang harus nurut/manut/patuh/bergantung pada pihak lain, sehingga pas kena kasus begini pada bingung.
      2. Pendidikan di sekolah sama sekali nggak menyinggung soal bagaimana remaja bisa mengenali identitas biologis dan seksual mereka. Makanya, seringkali kasus kekerasan seksual semacam pemerkosaan disamakan dengan perzinahan, padahal keduanya beda. Sehingga saat dewasa generasi kita bingung sendiri.
      3. Penegakan hukum yang kacau balau kalau sudah menyangkut isu kekerasan seksual. Termasuk nggak adanya kebijakan yang khusus dibuat untuk kasus kekerasan seksual.
      4. Kekerasan seksual dianggap aib, alih-alih perkara pidana. Makanya, meski kekerasan seksual terjadi pada anak dibawah umur dan di lembaga berbasis agama, si pemerkosa bisa dibebaskan dari tuduhan memerkosa jika menikahi korban pemerkosaannya. Kan sinting!

      Delete