Mereka Bilang Virus Corona Bualan Elit Global. Benarkah Demikian?

Virus corona. Ilustrasi diolah mandiri menggunakan canva.com

"A healthy outside starts from the inside."
-Robert Urich-

Dari jalanan yang jauh, suara kendaraan bermotor meraung-raung, siang dan malam. Pun pengumuman dari stasiun kereta dalam kota. Suara riuh rendah itu tak beda dengan hari-hari sebelum berbagai keputusan pembatasan kegiatan ekonomi dan sosial dilakukan karena wabah COVID-19. Bahkan saat seminggu sekali setiap pukul 6 pagi aku berjalan menuju bibi penjual sayur, jalanan masih ramai oleh laju kendaraan ke arah Jakarta, seakan-akan pandemi ini benar-benar tak ada, hanya ramai dalam berita dan media sosial. Meski memang semakin matahari naik tinggi, sejumlah toko tak kunjung membuka pintunya; orang-orang mengenakan masker dan berdiri berjauh-jauhan; pangkalan ojek online sepi, angkot lalu lalang meski kosong melompong; dan langit selalu biru cerah. 

Awal Maret silam aku mengalami sakit dengan gejala seperti penderita COVID-19 yaitu demam tinggi, sesak nafas, batuk yang hingga menarik perut, pusing, nggak nafsu makan dll. Saat itu aku sangat khawatir, sebab jika aku melangkahkan kaki keluar dan memeriksakan diri malah tertular di perjalanan. Sejumlah kasus yang ramai di media sosial menyebutkan sejumlah orang yang tak tertolong justru setelah mencoba melakukan pemeriksaan, misalnya karena mereka baru kembali dari luar negeri atau pernah berkontak dengan penderita COVID-19. Empat belas hari lamanya aku melakukan karantina mandiri dan bahkan hanya keluar kamar kosan hanya untuk memasak dan mencuci peralatan makan saja. Sisa waktu kugunakan dengan istirahat atau bekerja di dalam kamar. Ugh, rasanya terpenjara, bagai Rapunzel yang terasing di menara sebuah kastil. Tapi tentu aja tanpa rambut berkilau nan panjang dan kuas ajaib. 

Ketika kepanikan berlebihan akibat menyerap banyak sekali informasi terkait COVID-19 melalui media sosial mulai reda dan aku merasa sehat-sehat saja, malah mata kiriku mengalami masalah. Suatu pagi saat bangun tidur mata kiriku merah. Karena kukira hanya iritasi biasa, aku hanya mengobatinya dengan obat tetes mata yang kuperoleh dari dokter mata. Eh, empat hari kemudian malah semakin parah dan kupikir aku benar-benar terjangkit COVID-19 karena katanya mata merah bisa menjadi salah stau gejala tertular virus corona. Mau nggak mau aku harus ke Rumah Sakit dan karena nggak mungkin ke klinik mata atau RS khusus mata yang jauh, aku ke RSUD Depok. 

Dalam perjalanan menuju RSUD Depok yang lumayan jauh dari kosan, aku mengobrol dengan sang sopir. Oh ya, aku menggunakan jasa GoCar karena layanan GoRide dihentikan sementara oleh pihak Gojek. Dalam obrolan itu, kami sama-sama sepakat bahwa di luar, di jalanan, kehidupan nampak berjalan seperti biasa, kecuali kemacetan yang berkurang dan banyak toko serta restoran yang tutup. Virus corona merupakan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata telanjang, sehingga di lapangan terasa sekali bahwa suasananya seperti bukan karena wabah melainkan hal-hal semisal libur lebaran. Jika membandingkannya dengan keriuhan di media sosial memang sangat berbeda. Informasi di media sosial menimbulkan kekhawatiran dan rasa takut berlebihan. Sehingga, sepulang dari berobat aku memutuskan untuk bersih-bersih media sosial agar terhindar dari mengonsumsi informasi yang berlebihan terkait wabah COVID-19 ini. Yeah, selain karena karena aku harus memastikan kesehatan mentalku tetap stabil, juga agar aku bisa menginvestasikan waktu dan energiku untuk hal-hal yang bermanfaat bagi hidup dan karirku di masa sulit ini. 

Beberapa hari lalu aku sempat berdebat dengan salah seorang sepupu yang tinggal di Pulo Gadung. Dia menyarankan agar aku berkunjung ke Pulo Gadung selama beberapa hari untuk silaturahim. Aku mengatakan kepadanya bahwa dalam kondisi sekarang aku tidak mungkin pergi kemanapun menggunakan kendaraan umum, terlebih wilayah Jabodetabek sedang menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) untuk memperlambat penyebaran COVID-19. Sepupuku menyanggah bahaya wabah ini dengan asumsi bahwa di jalanan orang masih ramai saja berlalu lalang, dan sejumlah aktivitas ekonomi masih berjalan. Meskipun aku mengatakan memiliki pneumonia dan akan gampang sekali tertular virus corona, sepupuku tetap ngotot bahwa virus corona nggak berbahaya sebagaimana yang dikatakan pemerintah dan petugas medis. Uh, karena aku malas bertengkar, aku memilih left dari grup keluarga di perantauan. Sulit memang memberi pemahaman pada seseorang yang enggan belajar kecuali ia telah membuktikannya sendiri dengan menjadi pesakitan di ranjang rumah sakit dan berada diambang kematian. 

Lalu kemarin, hal tak terduga disampaikan oleh seorang penjual makanan. Saat itu aku malas memasak dan sangat ingin berbuka puasa dengan menu pecak ikan mas yang kuahnya pedas, segar dan asam. Resto ini memang langgananku untuk menu pecak ikan mas, karena aku nggak tahu lokasi lain yang menjual menu serupa di area Depok. Sekalian aku membeli sop durian-nangka untuk minuman pembuka. Saat selesai membayar dan aku siap meninggalkan resto karena waktu berbuka puasa semakin dekat, sang Bapak pedagang mengatakan hal yang sama sekali tak terduga. 

"Mbak percaya nggak kalau virus corona ini nggak ada?" tanyanya santai. 
"Oh ya? Kok bisa nggak ada?" tanyaku. 
"Ya memang nggak ada. Saya nggak bisa melihat dan merasakannya," jawabnya.
"Lha, kan memang virus, Pak. Harus pake alat untuk melihatnya," balasku. 
"Ahh, ini mah hanya dipolitisasi aja. Nggak ada itu virus corona," terangnya.
"Yang mati sudah 600 orang, Pak," kataku lagi.
"Ya itu mati karena penyakit lain," katanya lagi. 
"Hm, Bapak percaya teori konspirasi ya?" tanyaku menyelidik. 
"Ahh enggak. Saya nggak percaya teori konspirasi," belanya. 
"Soalnya hanya mereka yang percaya teori konspirasi yang bilang virus corona nggak ada."
"Ya memang nggak ada," kata dia, ngotot. 
"Oke, kalau Bapak nggak percaya bahwa virus corona nggak ada, maka bapak nggak boleh percaya sama virus yang bikin flu, karena itu jenis virus corona juga," kataku.
"Iya, saya tahu. Saya baca-baca juga katanya virus corona ada sejak tahun 1930an,"
"Lha, trus?" tanyaku penasaran.
"Ya, virus corona ini mah dibuat-buat aja," jawabnya enteng. 
"Ya, klo gitu Bapak bisa membuktikan sendiri. Bapak bisa kerja sebagai petugas kebersihan di RS rujukan atau pengurus jenazah atau penggali makam korban corona," aku memberi saran. Lelaki itu hanya tersenyum dan mempersilakanku pulang. Akupun berjalan pulang ke kosan dengan pikiran dipenuhi tentang orang-orang yang percaya bahwa wabah ini perang senjata biologis yang merupakan ulah elit global yang hendak menguasai dunia. 

Oke, masuk akal sih kalau banyak orang nggak percaya bahwa wabah COVID-19 akibat virus corona jenis teranyar bernama SARS-CoV-2 ini nyata adanya. Ya karena nggak semua orang bisa melihat si virus karena hanya petugas medis dan peneliti virus (virolog) di laboratorium yang bisa melihatnya dengan menggunakan alat khusus, mungkin mikroskop. Orang awam yang tidak bersentuhan langsung dengan dunia virus jelas nggak bisa menyaksikan sendiri bagaimana sesuatu yang disebut RNA itu sedang mengacak-acak dunia dengan merusak organ dalam tubuh terutama paru-paru. Sebagaimana banyak manusia mempertanyakan keberadaan Tuhan, malaikat, jin, dan iblis yang nggak mampu dilihat dengan mata telanjang, aku menerima saja sih kalau ada orang nggak percaya bahwa virus corona nggak ada. Soalnya ribet memberi tahu mereka yang nggak percaya bahwa virus ini beneran ada. Jika nggak percaya bahwa penyakit covid-19 disebabkan oleh virus SARS-CoV-2, trus ngapain juga kita percaya dengan penyakit lainnya yang disebabkan virus seperti influenza, demam berdarah dengue, chikungunya, hepatitis, rabies, Ebola, HPV, Polio, rubella hingga HIV/AIDS? 

Nah, sebagain dari kita yang mungkin males mendengar keterangan tenaga medis apalagi mikir yang rasional, memilih percaya pada teori konspirasi demi memuaskan rasa penasaran dengan sesuatu yang mengoyak kekhawatiran secara membabi buta. Mungkin juga karena ketidakmampuan menghadapi masalah wabah ini membuat kita mencari kambing hitam untuk disalahkan, dianggap sebagai otak dibalik kekacauan yang melanda seluruh dunia, dimusuhi, dimaki, lalu dimintai pertanggungjawaban. Sebelum heboh pernyataan-pernyataan kontroversial musisi Jerinx, aku juga mendengar soal ini dari vide-video di akun Youtube Mardigu Wowiek yang secara dahsyat menyebutkan China sebagai bahaya dan kaum elit global yang disebut 'The Have' sebagai pemain dibalik perubahan ekonomi dan sosial saat wabah COVID-19 terjadi di dunia. 

Mardigu Wowiek ini bahkan secara terang-terangan menyebut nama Bill Gates sebagai salah satu pentolan 'The Have' yang mau mengusasi dunia melalui big data dan algoritma. Semakin aku mendengar informasi-informasi dalam sejumlah video pebisnis ini, jujur aja aku semakin pusing, dan jelas memicu kekhawatiran kepada awam. Hal yang memicu kekhawatiran banyak orang yang percaya bahwa virus corona merupakan bagian dari konspirasi elit global adalah adanya pemahaman bahwa chip akan dimasukkan melalui vaksin, di mana chip itu akan menjadi alat kontrol kaum elit global dalam mengendalikan manusia. Aku sih semakin pusing dengan berbagai pendapat simpang siur ini. 

Beberapa waktu lalu seorang musisi yang juga mengaku aktivis I Gede Ari Astina atau lebih populer dengan nama Jerinx, anggota grup band Superman is Dead, bahkan dengan terang-terangan menyebut bahwa wabah covid-19 merupakan sebuah konspirasi. Lelaki ini bahkan menantang untuk disuntik virus corona ke dalam dirinya. Hm, jadi mirip dukun perempuan Ningsih Tinampi yang juga menantang tubuhkan dimasuki virus corona. Padahal mah ngapain sih nantang disuntik virus corona, sebab nggak akan ada dokter yang bersedia juga. Kalau mereka yang berkoar-koar soal virus corona sebagai konspirasi elit global atau siapapun itu ya tinggal melakukan alih pekerjaan aja seperti menjadi petugas kebersihan di RS rujukan yang merawat pasien, pengurus jenazah,  atau sopir ambulan pengantar jenzah covid-19. Do that without APD! Sudah bisa dipastikan mereka nggak akan seberani itu.  

Baca juga: Benarkah Virus Corona Merupakan Tentara Allah?

Benar atau enggaknya dugaan virus corona (SARS-CoV-2) merupakan produk laboratorium dan penyebarannya dikendalikan para elit global, nggak penting lagi. Sebab yang terpenting saat ini adalah bagaimana kita beradaptasi dengan situasi yang telah mengubah banyak hal dalam kehidupan kita. Daripada ribut berdebat untuk sesuatu yang bahkan sulit dibuktikan dengan data, kayaknya mending kita mengamankan diri dan keluarga deh agar nggak kelaparan, agar nggak kehilangan tempat tinggal dan tetap berpenghasilan atau menghasilkan sesuatu untuk dimakan. Back to basic untuk bertahan hidup karena hanya itu yang bisa dilakukan masyarakat biasa dalam masa suram ini. 

Bahan bacaan: 
https://www.liputan6.com/showbiz/read/4239942/jerinx-sid-siap-disuntik-virus-corona-covid-19
https://www.jpnn.com/news/usai-bahas-teori-konspirasi-corona-jerinx-sid-merasa-terancam




2 comments:

  1. makasih sharingnya, di pasar banyak banget pedagang yang bilang gitu, lihat aku selalu jaag jarak dg orang lain, pakai masker malah diketawain

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku juga klo ke bibi sayur seminggu sekali buat beli stock bahan makanan, bisa 10 orang deket-deketan. Alhasil, setiap pulang dari bibi sayur pasti langsung demam wkwkwk.

      Delete