FEMICIDE: Pembunuhan Sengaja dan Sistematis pada Perempuan

Kekerasan pada perempuan. Ilustrasi oleh Bernie Clarkson dari www.bernieclarkson.co.uk


Halo pembaca yang baik, semoha harimu baik-baik saja ditengah kondisi wabah COVID-19. Jika kamu adalah perempuan dan hidupmu aman damai maka bersyukurlah, bahwa kamu lahir dan tumbuh dalam lingkungan yang tidak hobi membunuh perempuan. Yah, meskipun tetap saja kita berhadapan dengan budaya patriarki yang memposisikan perempuan serba salah dan serba kalah, kamu harus bersyukur bahwa ayah-ibumu nggak mencekikmu sesaat setelah dilahirkan. Karena di dunia seberang, masih banyak praktek pembunuhan secara sengaja pada manusia haya karena berjenis kelamin perempuan. Pembunuhan jenis ini disebut Femicide atau Female Genocide. Bisa disebut juga Femisida atau Feminisida.
  
Istilah ini pertama kali digunakan oleh Diana Russel pada 1976, di mana Femicide dimaknai upaya penghilangan nyawa seorang perempuan secara sengaja oleh lelaki, meski sejumlah kasus dilakukan juga oleh perempuan. Penghilangan nyawa ini disebut femicide karen latar belakang alasang pembunuhan korban adalah berjenis kelamin perempuan. Namun sebenarnya, pembahasan tentang femicide ini sudah dimulai sejak 1820-1830an karena banyaknya pembunuhan perempuan di dalam rumah keluarganya sendiri akibat kekerasan dalam rumah tangga (KDRT). Peristiwa pembunuhan perempuan yang telah marak sebelumnya adalah pembunuhan secara sengaja dan terancana pada janin dan bayi perempuan (female infanticide) oleh keluarga mereka sendiri, dilanjutkan dengan praktek pembunuhan atas nama 'honor killing' yang juga dilakukan oleh anggota keluarga. 

Nah, karena praktek pembunuhan secara sengaja ini memilih 'perempuan' sebagai korban dan menyelamatkan lebih banyak lelaki, maka istilah femicide mulai digunakan, untuk menggambarkan betapa praktek penghilangan nyawa perempuan secara sengaja hanya karena mereka perempuan merupakan masalah sosial yang kronis. Femicide bisa disebabkan oleh banyak hal mulai dari kebencian karena kelahiran bayi perempuan alih-alih bayi lelaki; hingga soal superioritas lelaki atas perempuan, masalah ketidakpuasan seksual hingga paham kepemilikan lelaki atas perempuan. Femicide merupakan puncak kekerasan terhadap perempuan. 

Kita seringkali mendengar pernyataan bahwa rumah adalah surga kecil di dunia di mana rumah merupakan tempat paling aman dan nyaman bagi setiap keluarga. Sayangnya, fakta di lapangan justru menunjukkan bahwa banyak perempuan kehilangan nyawa justru di rumah keluarganya daripada di tangan orang asing. Fakta ini terjadi sejak masa lampau dan apa yang kita lihat sekarang merupakan warisan dari pemahaman lampau bahwa perempuan adalah tidak berharga, sebab mereka milik lelaki dan harus menurut apa maunya lelaki, bahkan perempuan tak boleh menolak jika lelaki  membunuhnya. 

FEMALE INFANTICIDE
Female Infanticide merupakan kesengajaan menghilangkan nyawa bayi perempuan (berusia baru dilahirkan-dibawah satu tahun). Hmm, kapan pembunuhan sistematis ini pertama kali dilakukan oleh manusia? Rasanya sulit melacaknya kecuali pada sumber sejarah yang telah dipelajari para ilmuwan. Untuk menjawab rasa penasaran, mari kuajak melacak praktek mengerikan ini ke masa lampau, sejauh yang terekam dokumen sejarah atau hasil penggalian para arkeolog.

Pada masa Romawi dan Yunani kuno, praktek pembunuhan sistematis pada bayi lelaki dan perempuan banyak terjadi. Bayi-bayi itu nggak dibunuh sih, tapi dibiarin aja di pinggir jalan. Keluarga menyerahkan nasib si bayi pada sang penolong baik itu Tuhan maupun manusia. Meski pada tahun 374 M infanticide ini merupakan tindakan ilegal, tetap saja banyak dilakukan, khususnya pada bayi-bayi perempuan. Sementara di daratan Eropa pada masa pagan, masyarakat Jerman biasa meninggalkan bayi-bayi mereka di hutan untuk menemui kematiannya, khususnya bayi-bayi yang lahir akibat hubungan diluar pernikahan.  Masyarakat Kristen pada 318 M menyatakan bahwa infanticide merupakan tindakan kriminal; pada 347 M sang Valentinian memerintahkan rakyat harus merawat seluruh anak yang dilahirkan; dan peraturan ini dilanjutkan pada 589 M di mana Dewan Konstantinopel menyatakan bahwa pembunuhan terhadap bayi merupakan pembunuhan dan pada tahun itu Konsili Ketiga Toledo berusaha mengakhiri kebiasan orang-orang Spanyol membunuh anak-anak mereka.

Pembunuhan atas bayi dan anak-anak kecil sangat sulit dihentikan. Pada Abad Pertengahan, orang-orang Irlandia, Galia dan Celtic biasa melakukan pengorbanan dengan membunuh anak-anak malang mereka, dan menumpahkan darah mereka di Crom Cruaich, tempat persembahan dewa Irlandia pra-Kristen. Namun kemudian, praktek ini beralih di mana para orangtua meninggalkan bayi-bayi mereka di pintu gereja, dan inilah yang membuat panti asuhan dibangun untuk pertama kalinya. Sementara pada masyarakat Timur Tengah, pembunuhan bayi laki-laki maupun perempuan dilakukan atas dasar kemiskinan, atau rasa malu para ayah karena memiliki anak perempuan. Sementara di Jepang, pembunuhan atas bayi perempuan disebut "Mabiki" yang bermakna menarik tanaman dari kebun yang penuh sesak, kayak nggak jauh beda dengan teknik memangkas tanaman yang tak diharapkan tubuh dari sebuah kebun. Sementara di Afrika, bayi yang dibunuh biasanya karena dianggap sebagai pembawa hal buruk saat kelahirannya. Misalnya, bayi kembar akan langsung dibunuh, dan bayi yang lahir dengan membuat sang ibu mati akan dikubur hidup-hidup bersama mayat sang ibu. 

Pada masa modern seperti sekarang, kita juga bisa mengenalnya sebagai sex-selected abortion berkaitan dengan isu tertentu seperti status sosial sang ibu hingga masalah sosial lain dalam masyarakat patriarki. Praktek ini masih banyak terjadi di China, India dan Pakistan. Female Infanticide di China sudah berlangsung selama 2000 tahun dan baru diketahui oleh misionaris Kristen bernama Mateo Ricci pada abad ke-17. Ricci bahkan sempat mendokumentasikan praktek tersebut di sejumlah wilayah di China yang sebagian besarnya dikaitkan dengan kemiskinan. Pada abad ke-19 pembunuhan pada bayi perempuan makin meluas, sekitar 13 provinsi, dengan cara ditenggelamkan, dibuat sesak nafas hingga dibuat kelaparan. Cara yang lebih ekstrem misalnya, menaruh bayi perempuan dalam sebuah keranjang yang kemudian di taruh di atas pohon. Pada masa itu, keluarga miskin memilih membunuh bayi perempuan mereka karena sadar bahwa membesarkan anak perempuan membutuhkan biaya jauh lebih besar dari anak lelaki. Terlebih jika anak tersebut akan menikah, harus membayar mas kawin yang sangat mahal dan hal tersebut sangat membebankan bagi keluarga.
Female infanticide di China masa lampau. Sumber: wikiwand.com

Kasus female infanticide di India lebih mengerikan, mengingat India juga merupakan bangsa yang menganut sistem kasta tertutup. Lahir dari keluarga miskin dan kasta rendah merupakan siksaan bagi bayi perempuan. Saat sang bayi perempuan lahir, orangtua dan keluarga besarnya akan bersedih karena mereka paham bahwa beban berat sudah mereka tanggung seketika itu juga, yaitu berupa dowry atau mas kawin. Yup, mas kawin dalam masyarakat India diberikan oleh pengantin perempuan kepada pengantin lelaki dan tentu saja sangat mahal. Kondisi inilah yang membuat banyak orangtua memilih menghilangkan nyawa bayi perempuan mereka daripada menanggung beban menggunung saat anak perempuan mereka hendak menikah. Pada tahun 1789 misalnya, pembunuhan pada bayi perempuan di Uttar Pradesh merupakan sesuatu yang biasa bagi masyarakat. Penjajah Inggris bahkan menerima surat dari hakim setempat yang menyatakan bahwa selama ratusan tahun tidak ada anak perempuan dibiarkan hidup di benteng Rajahs of Mynpoorie, wilayah Barat Laut India. 

Pada 1870, setelah penjajah Inggris melakukan investigasi mengenai female infanticide ini, maka praktek ini dinyatakan sebagai tindakan ilegal dan melawan hukum. Larangan pembunuhan bayi perempuan dituangkan dalam Undang-Undang Pencegahan Female Infanticide tahun 1870 (Female Infanticide Prevention Act, 1870) di mana produk hukum ini mengacu kepada ajaran Kristen yang dibawa penjajah Inggris. Namun, menjalankan UU ini lumayan sulit bagi masyarakat dengan sistem sosial tertutup seperti India. Para aktivis hak-hak perempuan bahkan menyatakan bahwa female infanticide di India yang sangat parah nyaris menyerupai dengan female genocide (gendercide), di mana pembunuhan secara sistematis dilakukan untuk gender tertentu. Jika genocide merupakan pembunuhan massal kepada sekelompok orang yang dianggap pantas mati, maka gendercide merupakan pembunuhan sistematis kepada gender tertentu yang tidak disukai. Berdasarkan sensus pada 2010 di India dan China, praktek ini telah memperlihatkan rasio kehidupan 120 lelaki bagi 100 perempuan. Angka ini tidak saja sesederhana tentang jumlah perempuan yang kesempatan hidupnya dihilangkan secara paksa, juga berpengaruh kepada hak-hak hidup lain di setiap aspek di mana perempuan lebih sulit mengaksesnya daripada lelaki. 

Para ibu di India bisa punya pengalaman membunuh 1-8 bayi perempuan, demi mendapatkan anak lelaki. Pembunuhan ini bukan semata-mata dilakukan karena mereka tidak mampu menyiapkan biaya mas kawin saat di bayi perempuan dewasa. Melainkan mereka berusaha menyelamatkan nasib keluarga dengan membiarkan bayi perempuan menemui kematian seketika setelah dilahirkan, daripada menyaksikan si anak perempuan tumbuh dengan beban yang menumpuk dari waktu ke waktu dalam masa pertumbuhan mereka. Para ibu berpandangan bahwa anak lelaki merupakan investasi yang bisa membantu keluarga dengan tenaga dan pekerjaannya; sementara anak perempuan cenderung menjadi beban sehingga layak disingkirkan. Ini pandangan mengerikan: sebuah keluarga menginginkan menantu perempuan bagi anak lelaki kesayangan mereka, tetapi membunuh anak perempuan mereka sendiri. 

Berbagai usaha menyelamatkan kehidupan bagi perempuan di India telah dilakukan. Pada 1991, ada sebuah skema di mana insentif jangka panjang yang diberikan kepada keluarga dengan anak perempuan. Dalam insentif itu, negara menyisihkan sebagian dana untuk diberikan langsung pada si anak perempuan saat berusia 20 tahun yang bisa digunakan untuk biaya menikah atau melanjutkan pendidikan tinggi. Pada 1992, pemerintah India juga membuat skema lain di mana para keluarga secara anonim membiarkan bayi perempuan mereka diadopsi orang lain tanpa prosedur formal. Skema ini dianggap dapat menyelamatkan ribuan nyawa bayi perempuan, namun dikritik karena dianggap sebagai legaliasi pengabaian atas bayi perempuan yang sekaligus status di bayi perempuan akan menjadi sangat rendah secara sosial. Skema ini diterapkan si wilayah Tamil Madu dan berhasil menyelamatkan sebanyak 136 bayi perempuan pada 4 tahun pertama berjalannya skema ini. Namun sayangnya, pada tahun 2000 terdapat 1. 218 laporan bayi perempuan yang dihilangkan nyawanya sehingga skema ini dianggap gagal, kemudian ditinggalkan meski kemudian diperbaiki tahun 2001. 

Berdasarkan hasil riset, setiap tahunnya terdapat 629.000 anak perempuan hilang di India baik karena dibunuh dengan sengaja tak lama setelah dilahirkan, hingga dibuang agar mereka menemui kematiannya hanya karena mereka perempuan. Angka itu adalah 26 kematian bayi perempuan per 100 bayi lelaki yang lahir. Akar masalah ini adalah kuatnya sistem patriarki yang diterjemahkan secara berlebihan, dan mungkin obsesi di mana anak lelaki lebih diharapkan dari anak perempuan. Angka ini jika dipecah adalah: terdapat bayi perempuan yang dibunuh keluarganya sendiri per 50 detik. Mereka dibunuh dengan cara digugurkan, diabaikan, dikubur hidup-hidup, diracun, ditimpuk batu, dibuat kelaparan, dibiarkan meninggal karena infeksi tanpa pengobatan dokter, atau dibuat kesulitan bernafas dengan ditimpa bantal. 

Rata-rata keluarga akan membiarkan anak perempuan pertama hidup, untuk menolong sang ibu mengurus rumah. Tetapi anak perempuan kedua dan seterusnya harus dibunuh, sebab anak seterusnya haruslah lelaki. Nah, para bayi perempuan ini dibunuh dengan 4 alasan utama, yaitu: 

  • Anak perempuan dianggap tidak mampu menolong orangtua dalam pekerjaan
  • Anak perempuan tidak akan meneruskan nama/nasab keluarga
  • Anak perempuan membutuhkan mas kawin yang mahal saat menikah
  • Anak perempuan saat menikah akan pindah ke rumah mertua dan melupakan orangtua kandung mereka. 


Pembunuhan sistematis pada bayi perempuan India mendapatkan perhatian dunia. Dalam laporan The Geneva Centre for the Democratic Control of Armed Forces yang berjudul "Women in an Insecure World" pada 2005 menyebutkan bahwa bayi perempuan yang menjadi korban genosida berbasis gender mencapai 191 juta, yang jumlahnya hampir mirip dengan korban semua konflik sosial dan peperangan sepanjang abad 20. Merespon kengerian ini, pada 2012 sebuah flm dokumenter berjudul "It's a Girl: the Three Deadliest Words in the World" yang mengisahkan pembunuhan sistematis bayi-bayi perempuan di China dan India dirlis. Film ini bukan saja hendak menunjukkan kepada dunia betapa ketidakadilan telah dialami perempuan sejak dalam kandungan, akibat pemujaan masyarakat kepada bayi lelaki secara berlebihan.   

Baca juga: Skandal Perbudakan Seksual di Aplikasi Telegram

Jadi, buat siapapun yang merasa keberatan dengan perjuangan kaum perempuan mendapatkan dan mempertahankan hak hidupnya sebagai manusia, sekarang jadi tahu kan bahwa bahaya mengintai perempuan bahwa sejak jenis kelaminnya diketahui di dalam kandungan sang ibu. Setelah dilahirkan ke dunia ini, perempuan mengalami ancaman pembunuhan bahkan dari keluarganya sendiri hanya karena terlahir sebagai perempuan. Belum lagi di masa pertumbuhannya, ada saja hal-hal yang mengancam perempuan entah itu kekerasan seksual oleh anggota keluarga, pernikahan paksa usia anak, human trafficking hingga pengantin anak dan untuk industri seks, kekerasan dalam rumah tangga hingga kemungkinan pembunuhan oleh pasangan. Sehingga, jika ada perempuan lantang bicara soal perlindungan pada perempuan dan anak perempuan, nggak usah terisnggung. Perempuan hanya sedang berusaha melindungi dirinya sendiri dari bahaya yang mengintai dari 8 penjuru mata angin, dan dari segala tempat baik di rumah dan luar rumah.  

Bahan bacaan: 
https://www.youtube.com/watch?v=azdUcyCkpYI
https://en.wikipedia.org/wiki/Gendercide
https://anarkis.org/femicide-masihkah-perjuangan-perempuan-berharap-pada-kebaikan-negara/
https://en.wikipedia.org/wiki/Femicide
https://apps.who.int/iris/bitstream/handle/10665/77421/WHO_RHR_12.38_eng.pdf;jsessionid=2E5295BFE956CEFD71F6BF8C89D8EB83?sequence=1
http://femicide-watch.org/readers/must-knows-femicide
https://www.economist.com/the-americas/2020/03/05/why-latin-america-treats-femicides-differently-from-other-murders


No comments:

Post a Comment