NTH ROOM: Skandal Perbudakan Seksual via Aplikasi Telegram

Terpasung. Sumber: stapress.com


"Slavery still exist, but now it's only applies to women and its name prostitution."
-Victor Hugo-


Pelecehan seksual. Kekerasan seksual. Perbudakan seksual. Apa lagi? Rasanya semakin sering kita mendengar kasus-kasus dengan modus semakin mengerikan terkait kekerasan seksual, dalam berbagai bentuk. Belum selesai cerita-cerita kelam tentang kekerasan seksual dicerna pikiran, dan belum diperoleh pula keadilan oleh korban sebab pihak penegak hukum terlampau lambat melakukan proses hukum, kini kita kembali dikejutkan oleh skandal kekerasan seksual yang semakin mengerikan. Skandal ini nggak jauh beda sih sama human trafficking alias perdagangan orang karena memang ada transaksi jual beli. Bedanya, levelnya lebih mengerikan dan gerakannya cepat, karena berbasis aplikasi Telegram. 

Skandal itu meledak di Korea Selatan pada Maret 2020. Meski pada tahun 2019 sudah ada sejumlah pihak yang melaporkan ke pihak kepolisian, namun pihak berwenang nggak menanggapi serius. Setelah sejumlah jurnalis melakukan penelusuran seius, barulah skandal ini semakin mencuat ke permukaan. Mungkin boleh dibilang terlambat mengenalinya karena korbannya sudah sangat banyak, dan rata-rata anak dan remaja. Skandal ini bermula dari 'chatroom' eksklusif di aplikasi Telegram yang dikendalikan sejumlah orang dengan menjual video kekerasan seksual. Korban yang terseret masuk ke chatroom berbahaya ini tak bisa melarikan diri dan terpaksa melakukan apa yang dikehendaki konsumen, alias para pelanggan yang membayar video-video aneka jenis kekerasan seksual yang mereka inginkan. Rata-rata korban adalah remaja dengan kondisi ekonomi lemah yang dipancing masuk menggunakan iklan atau informasi tentang pekerjaan paruh waktu bersponsor. Korban lainnya banyak juga masih anak-anak sekolah dasar. Hm, baru gini aja udah mual rasanya. 

Cara kerjanya gimana? Aplikasi Telegram kan termasuk aplikasi dengan perlindungan tinggi atas data pengguna. Hal ini dimanfaatkan pelaku untuk membuat chatroom tertutup dan berbayar untuk melakukan aksinya. Chatroom dalam bisnis kotor ini terdiri dari 8 room alias delapan tingkatan, di mana masing-masing tingkatan para pelanggan akan membayar biaya berbeda untuk mengakses video dengan level kekejaman berbeda. Semakin tinggi kelasnya, semakin mahal harganya, maka semakin sadis juga level kekerasan seksual dalam video yang mereka peroleh. Di level terendah, pelanggan harus membayar USD 80 atau sekitar Rp. 1.280.000 dihitung dari nilai tukar saat ini ya) untuk mendapatkan video kekerasan seksual paling ringan. Sementara untuk mengakses video kekerasan seksual sadis dan ekstrem di ruang tertinggi pelanggan harus membayar USD 1.200 atau RP. 19.200.000 dihitung dari nilai tukar saat ini ya). 

Lalu, darimana pelaku mendapatkan korban dan bagaimana bisa para korban mengirim video-video tersebut? Dalam sebuah wawancara di radio CBS berdurasi 13 menit, terungkap asal muasal korban terjerat masuk ke bisnis gelap ini. Korban memutuskan untuk bersuara agar korban lain berani bersuara juga, sehingga pihak berwenang dapat menangkap pelaku dan menghabisi bisnis sadis ini. Korban sebut saja NN merupakan siswa SMA saat terjerat masuk sebagai korban pada 2018. Pada saat itu keluarga NN sedang dalam kesulitan keuangan, sampai-sampai mau makanpun susah. Lalu tiba-tiba ada operator Doctor's room yang mengontak NN menawarkan pekerjaan paruh waktu. Butuh uang mendesak, NN nggak berpikir panjang dan mengikuti apa yang dikatakan si operator agar mendapatkan pekerjaan. 

Dalam proses berkontak tersebut mau nggak mau NN memberikan informasi seperti nama, foto, alamat tempat tinggal, hingga rekening bank. Operator bahkan memberi NN hadiah berupa ponsel. Nah, pengiriman ponsel ini lah yang kemudian membuat alamat tempat tinggal NN terekan oleh komplotan pelaku. Uang sudah masuk ke rekening dan ponsel sudah diterima, kini giliran NN melakukan pekerjaannya mulai dari membuat video ketika ia membuka pakaian sampai hal-hal lain yang aneh seperti menyuruh NN melakukan masturbasi dengan memasukkan pena ke vaginanya. Selama 2018, NN setidaknya telah mengirim sebanyak 40 video kepada operator Doctor's room dan ini membuatnya stress, sakit hati dan susah tidur. Ia sangat sulit sekali melepaskan diri karena diancam seluruh informasinya akan disebar. Namun, NN memutuskan mengganti nomor ponselnya dan pindah rumah. Bagaimanapun juga, NN tahu resiko jika video-videonya menjadi konsumsi publik maka hidupnya dan nama baik keluarganya akan hancur seketika. 
Salah satu pemberitaan tentang skandal NTH Room di Korea Selatan

Sebenarnya, pada Maret 2019 kasus ini sudah mulai mengemuka ke publik. Waktu itu, mulai rame para member menyebut 'slave' pada korban yang mengalami blackmail untuk mengirimkan vides-video kekerasan seksual, termasuk informasi personal mereka sebagaimana yang diceritakan NN. Anggota dari chatroom ini adalah komunitas online lelaki yang memiliki afiliasi dengan Ilbe Storage, yaitu sebuah website yang memiliki hubungan khusus dengan right-wing terrorism dalam cyberspace.  Karena udah mulai ketahuan, pada September 2019 NTH Room ini menghilang dan kemudian muncul chatroom lain bernama Doctor's Room yang ternyata kejahatannya lebih parah. Di Doctor's Room ini ada sekitar 30.000 anggota yang mengakses video-video kekerasan seksual dan pembayaran dilakukan dengan crypto-currency. Nah, chatroom ini memaksa para perempuan korban untuk menampilkan gambar dan video kekerasan seksual yang sadis seperti masturbasi dengana benda-benda aneh, menelanjangi diri sendiri, hingga memakan kotoran manusia. Bahkan ada jenis pelanggan yang membayar mahal kepada operator untuk memerkosa korban. Para konsumen chatroom ini menyebut korban mereka sebagai slave alias budak. Para korban dibuat tak berkutik karena informasi personal mereka dibagikan ke sesama anggota chatroom, sehingga membuat posisi mereka terpojok. Tak hanya itu, para anggota juga saling berbagi informasi mengenai pornografi anak-anak, link penjualan narkoba dan teknik menghindari investigasi pihak berwenang.

Lalu, bagaimana kejahatan ini bisa dikulik dan si Monster bisa ditangkap? Jadi, pada Januari 2019 ada sejumlah jurnalis dari The Seoulshinmun Daily melakukan investigasi bawah tanah tentang child pornography di aplikasi Telegram. Selanjutnya pada April 2019 Sisa Journal juga melakukan hal serupa dan melaporkan bahwa aplikasi Telegram digunakan untuk kegiatan ilegal seperti child pornography. Pada Agustus 2019, The Electronic Time untuk pertama kalinya membuka kasus ini sehingga menimbulkan kemarahan publik. Kemarahan ini memicu sebuah petisi yang ditandatangani 2 juta orang publik Korea Selatan untuk menangkap pelaku, termasuk memaksa pemerintah Korea Selatan membuat regulasi agar melacak penggunaan crypto-currency yang digunakan untuk mengakses video-video kekerasan seksual di Doctor's Room.

Pada 23 Maret 2020, SBS yaitu jaringan stasiun televisi dan Radio nasioal Korea Selatan pertama kalinya menyingkap rahasia siapa otak dibalik skandal ini. Ternyata si Baksa alias Doctor alias kepala operator skandal ini adalah lelaki berusia 25 tahun bernama Cho Joo-bin. Skandal ini kemudian menjadi yang pertama kalinya di Korea Selatan di mana identitas pelaku kekerasan seksual dibuka kepada publik, termasuk informasi mengenai latar belakang pelaku seperti universitas tempat dia kuliah dan pekerjaan yang pernah dia lakukan. Sementara Bos Besar dari skandal ini yang bernama Tuan Jeon, seorang lelaki berusia 38 tahun dan karyawan sebuah perusahaan telah ditangkap pada September 2019. Tuan Jeon ini dijatuhi hukuman penjara 3 tahun 6 bulan dengan tuduhan melakukan sirkulasi rekaman ilegal dan porngrafi. Pelaku lain bernama Tuan Shin juga sudah dijatuhi hukuman penjara 1 tahun. Hm, kok masa hukumannya rendah banget ya? Gak sebanding dengan trauma puluhan korban yang bisa berlangsung seumur hidup. Dam yeah, belasan dari 124 orang pelaku sudah ditahan, meski nggak ada keterangan berapa lama masa penahanan mereka. 
Cho Joo Bin saat digiring polisi menuju mobil yang akan membawanya ke Kantor Kejaksaan Distrik Pusat Seoul pada 25 Maret 2020

Saat ditangkap, Cho Joo-bin menyatakan permintaan maafnya kepada smeua pihak dan menyebutkan 3 alamat uang kripto yang digunakan dalam transaksi, seperti Bitcorin, Etherium dan Monero. Sayangnya, 3 alamat uang kripto yang disebutkan Cho Joo-bin disebut polisi palsu. Cho Jong-bin merima pembayaran dari para member melalui alamat Monero, sebuah 'dark coin' yang sangat ketat dan tertutup, karena memang merupakan tempat transaksi kejahatan kelas kakap seperti narkoba dan senjata api. Polisi pun hanya bisa menggeledah dan mengamankan barang bukti dari agen uang kripto yang berkaitan dengan kasus NTH Room. Hm, selalu deh polisi kalah hebat dari penjahat. 

Kasus kekerasan seksual di Korea Selatan sebenarnya banyak banget. Sebelum kasus NTH Room ini rame, juga pernah ada kasus yang bikin publik Korsel marah besar yaitu soal kamera pengintai di berbagai lokasi publik seperti ruang ganti dan toilet umum. Termasuk juga kamera tersembunyi di pakaian seseorang yang mengincar bagian belakang tubuh perempuan di ruang publik seperti pusat perbelanjaan. Yang jadi sasaran para perempuan yang menggunakan rok mini. Selebiriti yang hampir menjadi korban kamera tersembunyi ini adalah Shin Se Kyung dan anggota grup APINK Bomi, yang didalangi oleh Cho Joo-bin yang bersekongkol dengan staf hotel di lokasi syuting keduanya di Eropa. Untung aja ketahuan. 

SEBANYAK 111 PENGACARA PEREMPUAN SIAP DAMPINGI KORBAN
Pada 25 Maret 2020, Asosiasi Pengacara Perempuan Korea mengumumkan bahwa pihaknya telah menyiapkan sebanyak 111 orang pengacara untu mendampingi korban NTH Room sampai kasusnya selesai. Mereka juga mendesak pemerintah Dewan Perwakilan Rakyat Korea Selatan untuk mengesahkan Undang-Undang Khusus tentang Special Law on Punishment and Victim Support (Digital Sex Crime Punishment Act). Sementara itu, para anggora perempuan Dewan Metropolitan Seoul juga mendesak pemerintah untuk menghukum seluruh pendiri dan anggota NTH Room. Bagaimanapun juga, 120 ribu anggota dengan 10.000 akun berbayar yang menarget sebanyak 74 korban yang 16 diantaranya masih diawah umur demi konten kekerasan seksual dan child pornography bukan perkara kecil yang boleh dimaafkan. 
Sebanyak 17 anggota wanita Dewan Metropolitan Seoul melakukan protes untuk mendesak hukuman keras kepada pendiri dan angota Nth Room di depan Seoul Metropolitan Council pada 24 Maret 2020. Photo: kpenews.com

Skandal ini memberitahu kita bahwa ada banyak sekali modus kejahatan berkaitan dengan kekerasan seksual. Terlebih jika kejahatan tersebut berlangsung dalam ruang tertutup di dunia maya, maka akan sangat sulit membongkarnya. Kekerasan seksual merupakan kejahatan setua perbudakan dan prostitusi, hanya memiliki banyak bentuk dan instrumen sesuai perkembangan zaman. Ini jenis kejahatan level internasional yang setiap bangsa dan negara wajib melindungi warganya dari menjadi korban. Terhadap kejahatan jenis ini, aware alias peduli aja nggak cukup. Butuh instrumen hukum yang tak hanya memaksa pelaku menjalani hukuman berat, memberikan perlindungan kepada korban, juga advokasi terait bagaimana korban kembali mampu menjalani hidupnya paska trauma. Hukum yang ada bisa dijadikan acuan dan bahan pembelajaran soal penegakan hukum di sebuah negara terkait kasus kekerasan seksual. 

Baca juga: Kekerasan Seksual Berkedok Psikoterapi oleh Dedy Susanto

Terakhir, skandal NTH Room di Korea Selatan bisa kita jadikan sebagai acuan untuk mengecek apakah di negara kita ada skandal semacam ini juga di aplikasi Telegram, mengingat kasus kekerasan seksual di Indonesia meningkat setiap tahun. 

Bahan bacaan: 
https://en.wikipedia.org/wiki/Nth_room_case
https://www.koreaboo.com/news/victim-telegram-nth-room-case-speaks-horrors-faced-middle-school-student/
https://www.bbc.com/news/world-asia-52030219
https://www.telegraph.co.uk/news/2020/03/25/south-korea-sex-abuse-suspect-identified-public-fury/
https://www.kpopmap.com/telegram-nth-room-doctor-claims-some-idols-were-victims/
http://www.koreatimes.co.kr/www/nation/2020/03/715_286972.html
https://asiatimes.com/2020/03/south-korea-needs-harsher-sentences-for-sex-crimes/
https://www.idntimes.com/news/world/ines-sela-melia-s/5-fakta-baru-kasus-nth-room-pelecehan-seksual-di-korea-selatan-c1c2-1/full
https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20200329073237-237-487918/infografis-kecaman-seleb-korea-untuk-anggota-nth-room
https://akurat.co/news/id-1067172-read-begini-pengakuan-siswi-smp-yang-jadi-korban-skandal-nth-room
https://kumparan.com/kumparanwoman/nth-room-kasus-pelecehan-seksual-yang-libatkan-260-ribu-orang-di-korsel-1t6gLhWZfru
https://womantalk.com/celebrity/articles/dapat-banyak-dukungan-selebriti-pelaku-utama-skandal-nth-room-yang-gegerkan-korea-selatan-akan-diadili-AlKRX


No comments:

Post a Comment