Tips dalam Mengikuti Blogging & Writing Competition: Menang atau nggak Menang Tetaplah Produksi Tulisan Terbaik

Perempuan menulis. Sumber: centerforstories.com


"A word after a word after a word is power."
-Margaret Atwood-


Bicara tentang 'Blogging Competition' atau 'Writing Competition' nggak asing lah buat para blogger dan penulis mah. Ada segudang jenis kompetisi blogging yang tentu menarik perhatian kita, selain hadiahnya juga hal-hal lainnya. Nah, aku kan nge-blog dari 2007 ya, tapi baru empat tahun belakangan ini tertarik ikut aneka lomba blogging. Alasannya satu aja: aku lumayan pemalas ikut lomba dan malas gabung ke grup WA atau telegram komunitas blogger yang biasanya menyediakan informasi lomba. Sebagai orang introvert, aku sangat menghindari keramaian baik di dunia offline terlebih online. Informasi yang berlebihan bisa bikin aku kehabisan energi, bad mood, ingin rebahan mulu, hilang nafsu makan, malas ketemu orang-orang, ogah ikut kegiatan sosial dan akhirnya nggak produktif karena harus terus menerus re-charge energi. 

Dalam tulisan kali ini aku mau cerita tentang pengalamanku mengikuti sejumlah 'Blogging Competition' baik yang tulisanku menang maupun yang enggak. Aku selalu menganut sebuah paham, bahwa menang atau enggak itu soal bonus, rezeki dan pilihan subjektifitas tim juri. Namun, hal paling menantang buatku adalah mengetahui tulisan macam apa sih yang dijadikan pemenang dan apakah misalnya tulisan itu hanya sekadar mengikuti instruksi tanpa sesuatu yang nge-BOOM pikiran pembaca, atau ada sesuatu dalam tulisan itu yang bisa menjadi lesson learned sepanjang hayat dalam dunia manusia. Selama masa menunggu pengumuman, aku bertanya pada diriku sendiri: apakah tulisanku mampu memikat tim juri dan masuk ke dalam check list sebagai calon pemenang, atau sebenarnya tulisanku bermakna lebih hebat dari itu sehingga juri mendepaknya ke kotak sampah? Jadi, tantangan ini semacam apakah aku bisa legowo mengalahkan egoku sendiri saat tulisanku dianggap tak berharga padahal aku sudah jungkir balik dalam memprosesnya. 

Mari kembali ke April 2014 di mana saat itu aku mengikuti 'Training of Transparency of Forestry Budget Reporting' yang diselenggarakan oleh AJI Bandar Lampung, WWF, WATALA dan USAID program SIAP II. Dalam pelatihan ini sebenarnya peserta dikenalkan dan diajak belajar menulis laporan investigasi dalam bentuk reportase. Secara pelatihnya para jurnalis kawakan yang sudah punya nama besar di Lampung. Sebagai penutup pelatihan, penyelenggara mengadakan lomba menulis dan waktu itu aku menulis tentang sebuah wilayah konflik agraria. Aku turun ke lapangan yang merupakan lokasi riset untuk tesis aku, dan kebetulan waktu itu aku masih dalam tahap menyelesaikan penulisan tesis. Oke, kompetisi selesai dan pemenang diumumkan. Aku mendapat juara dua. Menurut salah seorang juri, tulisanku sangat bagus, tapi garing karena didalamnya nggak menyertakan unsur pendapat manusia, alias nggak ada percakapan antara aku dan subjek penelitian. Nah, sejak saat itulah aku mulai mendalami teknik menulis reportase dan tipe tulisan feature. Karena ternyata percuma juga tulisan bagus kalau garing kayak kerupuk dan nggak memancing gairah pembaca wkwkwk. 

Tahun 2017, aku mengikuti Blogging Competition yang diselenggarkan oleh Bank Indonesia dan tulisanku hanya masuk ke kategori finalis. Tapi, lumayan lah ya. Karena kemudian aku bisa menelusuri tulisan pemenang yang ternyata blogger dadakan, di mana tulisannya nyempil diantara sedikit tulisan lain dan blognya nggak pernah diteruskan lagi sejak itu. Tahun 2018, aku mengikuti lomba menulis yang diadakan oleh Amabel Travel dan aku memanangkan juara 2, tapi entah mengapa itu hadiah jalan-jalan ke Pulau Harapan di Kepulauan Seribu nggak pernah aku ambil sampai tulisan ini dibuat. Mungkun sekarang sudah angus itu hadiah. Masih di tahun 2018, aku mengikuti Anugerah Pewarta Puspiptek kategori Blogger dan menjadi salah satu pemenang untuk akhirnya mengikuti residensi menulis di kawasan Puspiptek dan menghasilkan sebuah buku, di mana buku tersbeut menjadi buku aku yang ke 4. Tahun 2018 juga aku mengikuti Danone Blogger Academy yang diselenggarakan oleh Danone dan Kompasiana. Meski aku nggak menjadi pemenang di sesi lombanya, tapi aku dan 19 teman lain cukup puas menjadi peserta residensi menulis yang diampu oleh sejumlah jurnalis kawakan, fotografer kelas kakap, dan influencer ternama. Kegiatan ini juga menghasilkan buku dan menjadi bukuku yang ke 5. 
Lumayan lah ya ada jejak di dunia lomba menulis blog.

Tahun 2019 aku mengikuti sejumlah lomba, tapi yang menang hanya 2 saja, dari Kementerian Perhubungan dan Kementerian Agama. Kedua lomba ini lumayan lah, hadiahnya bagus dan fungsi tulisan juga akan berlangsung sepanjang blog ini ada. Meski untuk lomba bertema zakat dari Kementerian Agama aku agak jungkir balik menulisnya, karena aku nggak punya waktu melakukan riset ke lapangan, sehingga hanya bermodal desk research. Nah, desk research ini kulakukan dengan serius karena kupikir waktu itu kalau nggak serius dan make sense, tulisanku bisa dilibas oleh blogger yang punya pengalaman melakukan riset langsung ke lapangan. Maka, ada tiga kata kunci yang waktu itu kugunakan agar tulisanku bagus, walau sebenarnya garing, yaitu: zakat, kemiskinan perempuan dan SDGs. Mengapa ketiga kata kunci ini penting? Karena sebenarnya di UNDP sendiri ada tim 'Islamic Finance' yang bekerja untuk mendekatkan sistem ekonomi Islam berbasis zakat-wakaf dengan berbagai pendekatan pengentasan kemiskinan dalam kerangka SDGs. 

Tulisan-tulisan yang nggak menang juga banyak. Hasil analisaku sih sebabnya banyak, selain misalnya karena tulisanku nggak memikat juri, melenceng secara adminsitratif, garing, jelek, dan nggak berkualitas. Juga karena ada sebab oleh kelalaianku sendiri. Misalnya nih, aku lagi mager sehingga aku nulis mendekati deadline dan meski udah menulis dengan serius, tetap aja tulisan nggak bisa disubmit karena waktunya udah habis wkwkwkw. 

Pertama, tulisan berjudul "Kampung Berseri Astra Baktijaya, Depok" ini kutulis untuk diikutsertakan dalam Anugerah Pewarta Astra 2019 kategori Blogger (btw, judul asli tulisan ini agak panjang). Tulisan ini kubuat hasil turun lapangan lho, mana pas musim hujan pula kan. Tapi sayangnya nggak bisa kudaftarkan karena udah habis waktu. Gara-garanya aku lagi badmood pas produksi tulisan ini sehingga ya ulahku menghabisi diriku sendiri hahaha. 

Kedua, tulisan berjudul "QR Standar untuk Transaksi Lancar, Nyaman dan Bebas Phising" yang kuikutserakan dalam 'Blog Competition' oleh Bank Indonesia tahun 2019 juga keok. Kemungkinan besarnya sih karena didalam tulisan ini aku menggunakan sumber-sumber pembelajaran yang tidak disarankan oleh penyelenggara, dan aku malah mengambil banyak referensi dari sumber-sumber lain. Tapi, bisa jadi ada persoalan lain juga karena tulisan ini sama sekali nggak masuk sebagai finalis, dan aku nggak tahu kemana harus mencari tahu dimana aku bisa menemukan link tulisan dan video yang jadi finalis. Tapi ya udah lah ya, tulisan ini aku buat sebagai bahan edukasi saja terkait QRIS sebagai kode pembayaran maya bagi Indonesia. 

Ketiga, tulisan berjudul "Pakar Kelautan Memprediksi Jakarta Tenggelam pada 2030" dan sebenarnya judul awal tulisan ini lumayan panjang karena ada kata Monas dan Cagar Budaya didalamnya. Tulisan ini aku ikut sertakan dalam lomba menulis terkait cagar budaya kerjasama antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan Komunitas Ibu-Ibu menulis. Tulisan ini sengaja kubuat sedikit ekstrem saat bicara sebagai Monas sebagai Cagar Budaya Nasional, karena melalui tulisan ini aku juga berkampanye tentang dampak perubahan iklim yang bagi Jakarta contoh nyatanya adalan naiknya permukaan air laut yang sudah dirasakan oleh sejumlah perkampungan di Jakarta Utara. Lalu, apa hubungannya dengan Monas sebagai Cagar Budaya? Hubungannya adalah bahwa pada 2050 Monas terancam tenggelam, dalam artian permukaan tanah Jakarta semakin menurun, sehingga intrusi air laut dari pesisir utara Jakarta sampai ke kawasan Monas dan jelas ini mengancam Monas sebagai Cagar Budaya Nasional. Dan tulisan ini kalah hehehe. 

Keempat, tulisan berjudul "Mimpi Sumringah dan Bungah di Tanah Garut" yang kuikutsertakan dalam Writingthon kerjasama Bitread Publishing dan Pemerintah Kota Garut juga keok hehehe. Padahal waktu itu teh ingin sekali berkunjung ke Garut, terutama setelah banyak membaca bahan-bahan yang bercerita tentang Garut sejak zaman kolonial Belanda. Tapi, ya bukan rezeki dan harus belajar lagi dengan sabar. 

Banyak tulisan lain yang kuukutsertakan dalam lomba tapi kalah. Biasanya, tulisan yang kalah dalam lomba menulis aku lakukan perubahan sedikit, mulai sedikit mengubah judul, menghilangkan label 'Writing Competition' sampai menghapus sejumlah keterangan di bagian akhir tulisan bahwa tulisan tersebut dilombakan. Dengan perubahan-perubahan tersebut, maka status tulisannya serupa tulisan lain yang tidak dilombakan dan menjadi hak publik untuk membacanya. 

TETAPLAH MENULIS DENGAN GEMBIRA
Menulis adalah duniaku. Aku selalu berjanji kepada diriku sendiri untuk hanya memproduksi tulisan bermanfaat dan berkualitas. Kasihan pembaca jika harus menelan informasi busuk dari blog ini ditengah kekacauan dunia yang semakin menjadi-jadi. Meski aku banyak kalah dibanding menang setiap kali mengikuti lomba menulis, aku nggak kapok. Setiap bulan biasanya aku kepo sejumlah blog yang menyajikan informasi lomba menulis, untuk melihat apakah ada tema tertentu yang bisa kuikuti. Pembaca yang sudah mengenal blog ini pasti paham lah bahwa aku nggak take everything atau write everything dalam hal menulis. Meski misalnya dalam sebulan ada 10 lomba menulis, aku hanya mengikuti satu atau dua diantaranya, yang benar-benar sesuai dengan tema blog ini. Buatku, memproduksi tulisan yang nggak nyambung dengan tujuan keberadaan blog ini merupakan tanda kerakusan dan sifat rakus itu menjauhkan dari kemampuan menjadi blogger spesial. 

Apakah aku sombong dan eksklusif? Mungkin sebagian pembaca menganggapku demikian. Tapi sebenarnya aku hanya berusaha untuk tidak rakus dan mengambil semua peran. Dengan energi, waktu dan pengetahuan terbatas yang kumiliki, aku hanya mau ambil bagian untuk sesuatu yang aku benar-benar memahaminya dan bisa mempertanggung jawabkan tulisanku kepada publik. Dan tentu saja, aku akan terus menulis dengan gembira pun penuh semangat membara. 

Baca juga: #SheCreatesChange dan Cerita Perempuan dari Tanah Cianjur

Jadi, tipsnya apa nih dalam mengikuti 'Blogging & Writing Competition' sebagaimana dijanjikan oleh judul tulisan? Sebentar: bagian ini sebaiknya nggak dibaca oleh blogger yang terkenal selalu memenangkan lomba blog ya, ntar dikira aku menggurui mereka. Tulisan ini hanya ditujukan kepada blogger yang statusnya sama sepertiku, yang masih punya 'battle' dalam memahami dunia 'Blogging & Writing Competition' yang seringkali membuat tulisan kita keok, yaitu: 
  • Rapikan dulu template blog. Semakin simpel, maka blog akan semakin terlihat professional. Hiasan-hiasan nggak perlu buang saja. Blog itu nggak juah beda dengan tampilan Power Point, di mana semakim simpel semakin terkesan professional. Selain itu, jenis dan warna tulisan di blog juga sebisa mungkin nggak aneh-aneh yang membuat pembaca males melanjutkan membaca. Gunakan font yang netral agar terlihat professional. Bagaimana dengan iklan? Jika uang bulananmu nggak berasal dari iklan Google Adsense di blog, mending buang aja tuh iklan daripada membuat tampilan blog nggak nyaman bagi pembaca. 
  • Lalu, mulailah menulis dengan niat yang lebih hebat seperti untuk kemanusiaan. Sehingga jika tulisan nggak menang, maka tulisan itu akan menjadi hadiah bagi dunia ilmu pengetahuan dan literasi di tanah air. 
  • Jadilah pembelajar yang setia di mana kita akan selalu mempelajari tulisan-tulisan dari blogger yang memenangkan perlombaan, dan kuliti apa yang membuat tulisan mereka diganjar kemenangan oleh tim juri dan penyelenggara lomba. Karena tulisan yang memenangkan perlombaan adalah saksi hidup bahwa tulisan tersebut berharga untuk dijadikan acuan terkait teknik dan konten tulisan. 
  • Usahakan tidak menyimpang dari niche atau spesialisasti blog kita, terlebih mencontek tulisan blogger lain supaya tulisan kita dianggap bagus dan layak memenangkan lomba. 
  • Perhatikan persyaratan administratif yang diberikan penyelenggara lomba dan yeahh jangan menulis mendekati deadline karena bisa jadi kita kalah sebelum bertarung. 

Oh ya, biasanya saat pemenang lomba diumumkan, aku langsung blogwalking ke situs bersangkutan. Aku membaca seluruh tulisan guna memberi apresiasi atas hal-hal keren yang kadang nggak terpikirkan saat aku menulis, juga sedikit celah kelemahan. Dari banyak blogger juara dan jago banget memenangkan perlombaan, kali ini aku akan menceritakan Deddy Huang alias Koh Huang. Sebelum blognya ganti ke template yang sekarang, aku biasanya sebulan beberapa kali main ke blognya. Biasanya, tulisan yang dilombakan itu berbentuk storytelling, lengkap dengan foto berkualias dan video. 

Sampai sekarang, aku masih mau kok mengikuti 'Blogging & Writing Competition' untuk tema-tema tertentu, yang saat memproduksi tulisan membuatku bersemangat dan berbahagia. Buatku, mengikuti lomba menulis ibarat sedang memberikan bumbu-bumbu penyedap pada tulisan-tulisan di blog ini yang cenderung serius, sarkas, dan kritis. Akhir kata, aku mengucapkan terima kasih kepada pembaca yang telah mampir ke blog ini dan semoga tulisan ini bermanfaat. 

Bumi Manusia, 7 Maret 2020



1 comment:

  1. Wah makasih mba pencerahannya, jadi pengen coba ikutan blog competition 😁

    Salam kenal
    Blogger Pemula

    ReplyDelete