Perempuan sebagai Pelestari Hutan dan Penjaga Pangan Keluarga

Para narasumber sedang berbagi pengetahuan mengenai peran perempuan sebagai pelestari hutan


"The death of the forest is the end of our life."
-Dorothy Stang-


Sabtu adalah hari bersantai. Namun, Sabtu beberapa hari silam aku harus bergegas mandi, berdandan, lalu sarapan semangkuk bubur ayam dan melaju ke stasiun kereta api UI. Karena hari masih pagi, kupikir kereta lengang dan aku bisa duduk nyaman sampai di stasiun tujuan. Selain aku, ternyata ribuan orang bergegas di pagi dengan langit muram hari itu. Ke Jakarta kami semua menuju. Setelah menikmati perjalanan hampir satu jam didalam commuter line, aku tercebur ke keramaian suatu jalanan di pinggiran stasiun dengan puluhan pasang mata pengemudi ojek online menerkamku, menanti tanda-tanda bahwa aku calon penumpang salah satu dari mereka. Oh tidak, kali ini aku mau pakai mobil biar terasa sedikit elit, sebab aku sedang antusias menuju sebuah kegiatan. Maklum lah, sebagai anggota dari sebuah komunitas blogger terbesar di Indonesia, baru kali ini aku hadir di kegiatan yang mereka selenggarakan. 

Nggak pake lama, Go-Car yang mengantarku sampai ke Almond and Zucchini Cooking Studio. Saat aku masuk ke area kegiatan, tampak sejumlah orang dari tim Blogger Perempuan Network dan Hiip Indonesia sedang melayani peserta yang melakukan registrasi. Di sisi lainnya, sejumlah orang dari Eksekutif Nasional WALHI sedang merapikan produk-produk olahan pangan di atas sebuah meja. Tampak juga dua buah standing banner di sisi kedua pintu, seakan ia merupakan ibu bumi yang merentangkan tangannya dan hendak memeluk kami semua, generasi muda penjaga bumi. 
Mari bicara hutan, tapi di tengah kota metropolitan. Foto: Blogger Perempuan

Acara dimulai dengan renyah dan menyenangkan. Kami disuguhi film pendek berjudul "Kita Masih di Planet Bumi" yang diproduksi Eksekutif Nasional WALHI sebagai salah satu bentuk kampanye mengatasi dampak perubahan iklim. Acara kemudian dilanjutkan dengan diskusi bersama sejumlah narasumber berkaitan dengan upaya pelestarian hutan sebagai sumber pangan keluarga Indonesia. Dalam diskusi hadir Mbak Khalisah Khalid dari WALHI, Ibu Sri Hartati dari Sumatera Barat dan Mbak Tresna Usman Kamarudin dari Sulawesi Tenggara di mana keduanya merupakan WALHI Champion, serta Mbak Windy Iwandi sebagai Food Blogger yang punya concern terhadap isu hutan. Nah, pas banget kan kita bicara hutan sebagai sumber pangan dengan mendudukkan para perempuan sebagai pembawa pengetahuan terkait peran perempuan dalam melestarikan hutan, yang saat ini terancam punah sehingga muncul kampanye 'Menjaga Rimba Terakhir'. 

PERAN PEREMPUAN ATAS NASIB HUTAN INDONESIA
Sebagai bangsa agraris yang kehidupannya bertumpu pada hutan, sebenarnya perempuan memiliki peran sangat penting dalam pelestarian hutan Indonesia, bahkan sebelum negara Indonesia terbentuk. Hutan bukan saja sebagai tempat hidup dan mencari penghidupan, melainkan juga sumber pengetahuan, budaya, tradisi dan janji bagi masa depan. Hal ini sangat jelas terbaca melalui banyak sekali warisan nenek moyang bangsa Indonesia yang kalau enggak berkaitan dengan hutan, ya dengan laut. Sehingga, hutan memang tidak akan pernah bisa dipisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia. 

"Peran perempuan sangat luar biasa," ujar Mbak Khalisah Khalid. 
"Buat kita perempuan adalah penjaga hutan, guardian gitu ya-penyelamat hutan, penyelamat iklim. Kenapa? Karena dalam keseharian mereka melakukan peran-peran pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Jadi memang kalau hutan terjaga, dan kita yang di kota nih mendapatkan manfaat hutan yang lestari, itu karena peran-peran pemanfaatan hutan yang dilakukan oleh perempuan secara berkelanjutan seperti Ibu Sri Tati ini," tambahnya lagi. 

Apa yang disampaikan Mbak Khalisah Khalid secara terang benderang menjelaskan kepada kita bahwa tidak mungkin kita tidak menghargai peran perempuan dalam menjaga kelestarian hutan Indonesia, yang saat ini dalam kondisi darurat sehingga statusnya menjadi rimba terakhir. Sehingga, upaya apapun yang sedang dilakukan Indonesia dalam menyelamatkan hutan dari berbagai bentuk pengrusakan memang harus melibatkan peran perempuan dalam semua aspek. 

"Salah satu komunitas yang didalamnya ada perempuan itu begitu kuat mempertahankan dan menjaga hutan. Nah, pengelolaannya macam-macam. Nanti Bu Tati juga bisa cerita bagaimana perempuan memanfaatkan hutan," lanjutnya. 
"Tapi yang paling penting adalah, salah satunya sebagai penjaga pangan keluarga. Jadi kalau misalnya kita ngomong 'oh kita melawan stunting' sebenarnya penyelamat pangan gitu ya, kalau dia bisa subsisten di pekarangannya, itu udah jelas peran perempuan sangat besar," pungkasnya dengan mantap dan para peserta tampak manggut-manggut, takjub. 

Selanjutnya, Mbak Khalisah Khalid juga menjelaskan bahwa hutan pengelolaan hutan yang lestari dan berkelanjutan bisa menghasilkan produk Non Timber Forest Product (NTFP) atau Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) seperti produk-produk kerajinan yang terbuat dari rotan. Banyak sekali memang produk kerajiban berbasis HHBK yang dikelola oleh perempuan. Harapannya, berbagai pihak baik pemerintah, swasta, maupun masyarakat luas mau mendukung pemasaran produk-produk berbasis HHBK hasil kerja keras para perempuan yang tinggal di kawasan sekitar hutan. Hal ini juga berkaitan erat dengan konsumsi masyarakat luas, baik pangan maupun non pangan di mana gerakan pangan bijak seperti membeli produk pangan hasil hutan merupakan salah satu upaya menyelamatkan hutan Indonesia dari kepunahan. Dalam konteks bukan pangan, konsumsi bijak bisa dilakukan misalnya dengan bijak menggunakan kertas dan produk turunan sawit. 

Dalam konteks yang lebih luas, Mbak Khalisah Khalid memaparkan bahwa hutan merupakan ruang pengetahuan, kearifan lokal dan budaya bagi perempuan. Dari segala sesuatu di dalam hutan, perempuan mendapatkan pengetahuan tentang banyak hal seperti apa saja produk hutan yang bisa dijadikan bahan pangan, bahan kerajinan hingga serat untuk membuat pakaian dan tas untuk membawa berbagai keperluan. Hutan juga mengajarkan perempuan tentang kearifan lokal, di mana ada saja bentuk-bentuk kearifan lokal yang berbeda di setiap masyarakat, bergantung di hutan mana mereka tinggal dan memperoleh pengetahuan. Termasuk juga lahirnya budaya berkaitan erat dengan apa yang disediakan oleh hutan. Sehingga jika hutan habis, maka bukan saja sumber pangan dan tempat hidup yang raib, melainkan juga sumber pengetahuan, kearifan lokal dan budaya masyarakat sekitar kawasan hutan. Hutan habis, manusia binasa. 

Kalau menilik kerja-kerja WALHI terkait isu hutan yang telah berjalan selama puluhan tahun, kurasa kita menjadi mengerti mengapa dalam kegiatan ini hadir WALHI Champion sebagai representasi program kampanye, advokasi, pendidikan dan pemberdayaan WALHI kepada masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan. Ibu Sri dan Mbak Tresna sebenarnya merupakan bukti nyata bahwa kerja-kerja yang dilakukan WALHI dalam mengadvokasi isu hutan, seiring sejalan dengan merawat pengetahuan, kearifan lokal dan budaya masyarakat sekitar hutan, termasuk membantu mereka mengelola produk HHBK. Karena memang tidak masuk akal jika mengajak masyarakat melestarikan hutan tanpa membantu mereka menciptakan sumber-sumber perekonomian yang tidak merusak hutan namun berkelanjutan. 
Produk pangan berbasis HHBK dari masyarakat dampingan WALHI yang dijual di Kedai WALHI. 
Produk pangan berbasis HHBK dari masyarakat dampingan WALHI yang dijual di Kedai WALHI. 

Cerita mengharukan datang dari Ibu Sri Hartati, perempuan hebat yang berasal dari Nagari (desa adat) Kapujan Koto Berapak, Kecamatan Bayang, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat. Ibu Sri merupakan Ketua Kelompok Bayang Bungo Indah, kelompok usaha kecil menengah yang beranggotakan 68 ibu rumah tangga dan mengembangkan usaha pengelolaan daging buah pala menjadi selai dan sirup. Bisnis rumahan yang dikerjakan secara manual ini beromzet Rp. 4 juta per bulan dan telah memiliki pelanggan tetap, yaitu sebuah hotel di kota Padang. Saat ini Ibu Sri dan kelompoknya sedang mengusahakan suntikan permodalan dari pemerintahan Nagari untuk membeli mesin pengolah, dan rencananya usahanya akan digandeng oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDesa) terkait pemasaran. 

Menurut Ibu Sri, selama ini mereka tidak paham bahwa daging buah pala bisa dimanfaatkan, sebab setahu mereka hanya biji pala yang bisa digunakan sebagai bumbu memasak. Pengetahuan ini mereka dapatkan setelah mendapatkan pendampingan dari WALHI yang melihat bahwa potensi besar buah pala tidak boleh dilewatkan, karena pala sendiri merupakan produk HHBK. Kabupaten Pesisir Selatan sendiri merupakan sentra pala terbaik di Sumatera Barat di mana luas kebun pala mencapai 1.469 ha dengan rata-rata hasil panen per tahun adalah 181,8 ton. 
Potensi buah pala di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat

Kisah Ibu Sri Hartati dan kelompoknya dalam mengembangkan olahan buah pala sebagai sumber pangan dalam bentuk sirup dan selai, menjadi salah satu bukti bahwa perempuan dengan kreatifitasnya mampu menjaga sumber pangan tak hanya keluarga, melainkan komunitasnya. Bahkan, secara lebih luas bisa menunjukkan kemampuan memanfaatkan produk HHBK menjadi sumber perekonomian bagi komunitas. Bayangkan saja, jika usaha yang dilakukan Ibu Sri Hartati dan kelompoknya diduplikasi oleh seluruh nagari di kabupaten Pesisir Selatan, maka panen pala yang melimpah setiap tahunnya tidak lagi menghasilkan tumpukan sampah yang dibuang begitu saja, melainkan dapat memberikan tambahan penghasilan yang sekaligus menunjukkan kemampuan masyarakat dalam mengembangkan produk HHBK yang berkelanjutan. 

MEMASAK BAHAN PANGAN DARI HUTAN? 
Tiba waktunya masak-masak. Karena kegiatan ini diselenggarakan di cooking studio, jadi ya masaknya nggak berasa di hutan. Melainkan seakan-akan masuk ke studio Master Chef Indonesia hehehe. Karena pesertanya 30 orang, maka masaknya berkelompok, di mana setiap kelompok harus bekerja sama memasak satu menu dengan bahan-bahan yang sudah disiapkan. Setiap kelompok berisi 5 orang anggota dengan peran masing-masing, seperti ada yang bertugas mengiris bahan-bahan, atau yang memasak, atau mengontrol besar kecilnya api, dan tentu saja tukang foto supaya punya kenangan. 
Semua peserta antusias mendengarkan arahan Chef Willian Ghozali. Foto: Blogger Perempuan
Mulai sibuk mmeotret nih para blogger. Foto: Blogger Perempuan
Keceriaan para blogger sebelum memasak bersama. Foto: Blogger Perempuan
Chef William Ghozali sedang membicarakan sesuatu dengan peserta. Foto: Blogger Perempuan
Jangan luap wefie ya by Mbak Nurul Sufitri
 
Sesi masak-masak ini dipandu oleh Chef William Ghozali, pemenang Master Chef Indonesia 3 tahun 2012. Setelah sesi masak selesai, masakan setiap kelompok dicicipi oleh Chef William dan yeah masakan buatan kelompokku ternyata kurang garam wkwkwk. Tapi ya udah lah ya, setidaknya kita tahu begitulah cara seorang chef memasak masakan barat. 

MAAF, INI SESI KOREKSI UNTUK PENYELENGGARA
Sebagai orang yang tumbuh di keluarga petani dan biasa bersentuhan dengan bahan pangan di hutan, sebenarnya aku memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap kegiatan ini. "Forest Cuisine Blogger Gathering" tak sekadar nama atau tema sebuah kegiatan yang terlihat keren dan idealis, namun seyogyanya mencerminkan 'Forest Cuisine' itu sendiri, dan bukan sekadar menghadirkan 'sebagian' bahan-bahan yang 'dianggap' berasal dari hutan. Dalam acara ini ada sesi memasak bersama Chef William Ghozali, pemenang Master Chef Indonesia session 3 tahun 2012. Nama masakan yang dibuat merupakan western food berbasis pasta sebagai bahan pangan pokok, dengan tambahan daun bawang, bawang kucai, bawang putih, jamur kancing, cream dan keju bubuk. Nama masakannya adalah "Fettuccine Mushroom Ragu" which is sama sekali nggak menggambarkan menu makanan masyarakat yang tinggal di dalam atau sekitar kawasan hutan.

Lagipula, bahan-bahan yang digunakan semuanya tidak lagi berhubungan dengan hutan, melainkan pertanian (farmingcrop dan livestock). Meskipun didalamnya ada jamur, namun jamur yang digunakan merupakan jamur yang dikembangkan dalam proses budidaya (pertanian), bukan jamur yang berasal dari hutan. Sebenarnya, akan masuk akal jika bahan-bahan yang digunakan berasal dari wilayah sekitar hutan seperti rebung, jamur kuping basah (alias non budidaya), sagu, madu hutan, talas, dan sebagainya. Aku bahkan sempat berharap bahwa bahan yang digunakan adalah sagu, karena dalam beberapa tahun belakangan ini sagu menjadi bahan pangan yang sedang 'dinaikkan' derajatnya oleh pemerintah bahkan BPPT sebagai salah satu upaya diversifikasi pangan Indonesia yang selama ini melulu memuja beras. Dalam konteks menjaga rimba terakhir, sagu justru bisa menjadi semacam perwakilan bagi upaya pelestarian pangan nusantara karena sagu hanya tumbuh di dalam hutan tropis, alias tidak berbentuk perkebunan monokultur pun bukan produk budidaya. 

Sejujurnya, buat aku yang akrab dengan dunia pertanian dan hutan, menu western food yang dibuat dalam kegiatan ini sangat kontraproduktif dengan inti dari diskusi bersama rekan-rekan dari WALHI, yang bahkan harus mendatangkan Ibu Sri Hartati dari Sumatera Barat sebagai perempuan pengelola produk hutan bukan kayu yaitu pala. Menu ini juga kuanggap menyimpang dari tema kegiatan. Sebab kita harus bisa membedakan mana produk pangan hasil hutan dan mana hasil budidaya pertanian dan perkebunan. Terlebih, salah satu tujuan kegiatan ini adalah mengkomunikasikan dan mengkampanyekan hutan sebagai rumber pangan. Bagaimana kita bisa mengkampanyekan hutan sebagai sumber pangan sementara menu contoh yang kita ceritakan kepada publik adalah western food yang sama sekali tidak berkaitan dengan pangan dari hutan? Kita semua tahu pasta terbuat dari gandum yang merupakan produk pertanian skala besar, bukan? 

Koreksiku ini mengacu pada siaran pers WALHI  berjudul "Menjaga Hutan Indonesia sebagai Sumber Pangan" yang terbit pada 29 Februari 2020 di website WALHI, sebagai berikut:

“Menggelar lomba blog merupakan salah satu strategi kami untuk menarik minat masyarakat agar memahami pentingnya hutan. Kami menggunakan makanan sebagai entry point dengan harapan akan timbul kesadaran bahwa hutan sangat kaya akan keanekaragaman hayati, termasuk ada beragam bahan pangan yang tumbuh di sana. Dengan kondisi sekarang di mana hutan Indonesia luasnya terus menurun, terlebih lagi dengan kebakaran hutan, maka keberadaan bahan pangan pun terancam. Akibatnya, jika hutan tidak dijaga, maka di masa mendatang, kita akan kehilangan makanan-makanan ini,” kata Nur Hidayati, Direktur Eksekutif Nasional WALHI.

“Target kami dalam kompetisi ini adalah mengumpulkan sebanyak mungkin blogger-blogger yang mau peduli dengan hutan, yang kemudian akan membantu menyuarakan pentingnya perlindungan melalui media-media sosial. Terkadang permasalahan untuk orang yang tinggal di kota adalah kurang peduli dengan hutan karena tidak ada lagi hutan di sekitarnya, sehingga tidak relevan baginya. Padahal fungsi hutan amat penting bagi kita, selain sebagai paru-paru dunia, penyerap karbon, ekosistem untuk keanekaragaman hayati, penyerapan air, dan sumber pangan dan perekonomian bagi masyarakat yang hidup di wilayah hutan. Jika hutan terancam, maka harus menjadi perhatian semua, tak hanya yang tinggal berdekatan dengan hutan, tapi juga di kota, ” kata Edo Rakhman, Koordinator Kampanye WALHI.
 
 


Well, bagian akhir tulisan ini sebenarnya bukan hendak menunjukkan rasa tidak suka kepada Blogger Perempuan Network sebagai penyelenggara kegiatan. Namun, segala sesuatu harus make sense dan nyambung dengan tujuan sebuah kegiatan. Terutama, kegiatan ini dikomunikasikan dan dikampanyekan oleh setidaknya 30 orang Blogger kepada publik. Serta menggandeng WALHI sebagai organisasi yang dikenal sangat konsisten dalam melakukan kampanye, pendidikan dan advokasi terkait isu hutan, sekaligus melakukan pemberdayaan untuk membantu masyarakat sekitar hutan menjaga sumber pangan dari hutan untuk membantu masyarakat kota mengakses produk HHBK.  Mungkin, kekurangan yang ku-capture dalam kegiatan ini bisa menjadi pelajaran penting untuk kegiatan-kegiatan lainnya yang bertema hutan dan pangan dari hutan, sehingga upaya baik ini menjadi tepat secara metode dan konten kampanye; sebagaimana para blogger yang berkewajiban memproduksi tulisan yang make sense dan dapat dipertanggung jawabkan. 

Sesi ini juga sekaligus bisa menjadi pembelajaran bagi para blogger dalam mengenali bahan pangan mana yang berasal dari hutan dan mana yang merupakan produk budidaya pertanian. Misalnya, apakah semua jamur berasal dari hutan? Tentu saja tidak. Di hutan misalnya kita nggak akan menemukan jamur kancing, jamur merang, atau jamur enoki. Di hutan Indonesia kita bisa menemukan jamur kuping, jamur beras, jamur pelawan dan sejumlah jenis jamur yang nggak dijual bebas di pasaran karena langka. Sementara jamur yang banyak dijual di pasaran adalah hasil budidaya pertanian yang nggak ada hubungannya dengan hutan. Juga terkait produk madu, sebab madu ada produk panen dari hutan dan madu hasil budidaya. Sehingga dengan sedikit repot mencari tahu, blogger akan terhindar dari memberikan informasi yang keliru kepada publik. 

Sesi memasak di kegiatan ini yang semua bahan pangannya nggak ada yang berasal dari hutan, termasuk jamur yang digunakan. So, it is not kind of forest cuisine. Ini hanya tentang orang-orang kota yang berniat baik belajar tentang kuliner hutan tropis, tapi pake bahan-bahan pangan berbasis pertanian (jamur, bawang putih, daun bawang, bawang kucai), perkebunan (minyak kelapa sawit) dan hasil peternakan yang diolah oleh big food company (cream dan bubuk keju). Sorry to say, sesi ini gagal total dalam memahami dan mendalami seperti apa pangan dan kuliner berbasis produk hutan. 
Penutup kegiatan masak memasak yang seru. Foto: Blogger Perempuan

Bagian akhir tulisan ini, sekali lagi, nggak ditujukan untuk mendiskreditkan Blogger Perempuan Network yang mana aku merupakan anggota komunitas ini. Hanya saja, bicara hutan dan pangan dari hutan adalah big deal, terutama karena saat ini kondisi hutan Indonesia kondisinya kritis. Sehingga, kita nggak boleh main-main bicara soal hutan. Aku berani menulis bagian akhir ini sebagai kritik pada kita semua, blogger, agar bersedia menemukan celah dalam setiap hal yang menjadi subjek penulisan kita, agar nggak terjebak dari memproduksi informasi palsu dan menyesatkan bagi pembaca. Mungkin setelah membaca tulisan ini ada yang bertanya mengapa aku nggak membicarakan ini pada tim Blogger Perempuan. Tidak! Aku mau tulisan ini dibaca oleh para blogger secara terbuka sebagai pembelajaran berharga dalam dunia blogging

Btw, terima kasih telah membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat. Kuharap, setelah membaca tulisan ini pembaca yang baik mulai menerapkan konsep pangan bijak ya. Selain membantu menjaga kesehatan tubuh dan kantong sendiri, membantu para perempuan Indonesia tetap semangat melestraikan hutan, juga agar hutan Inndonesia yang kini merupakan rimba terakhir tidak punah. Selain itu, jika pembaca ingin mengikuti kegiatan-kegiatan penyelamatan hutan, bisa bergabung sebagai relawan WALHI. Kalau pernah menjadi relawan kegiaran-kegiatan WALHI dan ketagihan melakukan kerja-kerja penyelamatan lingkungan, pembaca bisa juga lho bekerja secara professional di WALHI. 

Bumi Manusia, 4 Maret 2020

Bahan bacaan: 
https://walhi.or.id/menjaga-hutan-indonesia-sebagai-sumber-pangan
https://sumbar.antaranews.com/berita/232413/perempuan-di-nagari-kapujan-koto-berapak-produksi-sirup-pala
https://villagerspost.com/todays-feature/dulu-dibuang-sekarang-jadi-uang/
https://sumbar.antaranews.com/berita/277483/pesisir-selatan-miliki-indukan-pala-unggul-telah-melewati-seleksi-balittro-dan-balai-benih-sumbar
https://berita.pesisirselatankab.go.id/berita/detail/inovasi-masyarakat-kenagarian-kapujan-pengolahan-kulit-pala-menjadi-sebuah-minuman-sirup



3 comments:

  1. Keren tulisannya say bisa jadi bahan masukan untuk penyelenggara ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah mampir dan berkenan membaca tulisan ini, Mbak Dewi. Tulisan ini menjadi masukan juga bagi saya pribadi.

      Delete
  2. wah memang sepatutnya wanita turut serta dalam pelestarian hutan

    ReplyDelete