Lelaki yang ingin Menikahiku Meninggalkanku karena Menurutnya Aku Perempuan Binal

Let's talk about love. Sumber: Instagram/ari.nunnunano


"Love is a two-way street constantly under construction."
-Carrol Bryant-


Semalam, aku kepo ke IGnya Sisil dan disana dia posting cerita mengejutkan. Mungkin cerita semacam ini pernah dialami banyak perempuan terkait seksualitas, cinta, relasi dan masa depan yang ingin dibangunnya dengan seorang lelaki. Selama beberapa tahun belakangan ini, Sisil memang dikenal sebagai perempuan yang 'menolong' perempuan Indonesia untuk terbuka memahami soal tubuh, seks dan seksualitas. Maklum lah, selama ini kan perempuan Indonesia selalu dikurung oleh pemahaman bahwa dirinya, tubuhnya, hatinya dan pemikirannya hanya diperuntukkan menyenangkan lelaki yang menjadi suaminya, seburuk apapun kelakuan si lelaki. Pemikiran yang demikian membuat eksistensi perempuan di bumi ini seakan-akan hanya menjadi pelayan bagi lelaki baik dalam urusak seks, makan-minum, hingga segala kebutuhan di dalam rumah. Sementara di luar rumah, lelaki merasa bebas kelayapan dan kencan dengan perempuan manapun yang dia inginkan. 

Cerita dimulai ketika seorang lelaki, sebut saja Boris mengatakan ingin serius dengan Sisil. Maksudnya mau mengajak Sisil mengarungi kehidupan berumah tangga, bahkan membawa Sisil ke negaranya. Btw, kata Sisil sih Boris ini tuh lumayan tajir gitu. Tapi, sebelum Sisil menyatakan pendapatnya tentang tawaran Boris, lelaki ini menanyakan hal ini kepada Sisil. 

"Sil, kalau boleh tahu kamu sudah pernah tidur dengan berapa orang lelaki?" Tanya Boris. 
"Lha, memang penting ya?" Sisil merasa si Boris sedang menjebak dirinya. 
"Jangan salah sangka dulu, karena mengetahui riwayat kamu ya hal yang logis aja dalam sebuah hubungan," jawab Boris. 
"Sebelum sama kamu, aku pernah tidur dengan 9 orang lelaki," jawab Sisil ngasal. 
"Wow! Banyak banget. What are you? A slut?" Boris seakan-akan terkejut. 
"Excuse me?" Sisil nggak kalah kaget dibilang perempuan binal. 
"You are so cheap and easy," kata Boris dengan nada merendahkan. 
"Am I that cheap and easy?" Sisil kehabisan kata-kata dengan tuduhan Boris. 

Lalu, tanpa Sisil mampu membela diri, Boris keburu meninggalkannya. Nggak pake lama rame dong kolom komentar Sisil terkait hal ini, yang pada akhirnya mengarahkan pada satu fakta lain bahwa ternyata lelaki bernama Boris ini tuh pernah viral di Twitter karena suatu hal yang negatif. Jadi, saat Boris keberatan Sisil pernah tidur dengan 9 lelaki sebelum dirinya, dianya sendiri ternyata seorang lelaki bajingan yang bahkan kasusnya viral di media sosial. Lha, memangnya siapa yang tahu kalau ternyata Boris pernah tidur dengan banyak perempuan. Lelaki seperti ini mudah ditebak: dia binal tetapi mengincar perawan untuk dinikahi. Masalahnya, jika ada 10 juta lelaki seperti Boris, perempuan mana yang masih perawan? Hitungan kasarnya gini, jika Boris tidur dengan 1 perempuan, maka kemungkinan ada 9.999.999 juta perempuan yang tidur dengan 9.999.999 orang lelaki selain Boris, bukan? Nah, kalau Boris pernah tidur dengan 10 perempuan, bisa jadi jumlah perempuan sebinal Boris lebih banyak kan? Jadi, masih masuk akal Boris mengincar perawan? 

Kisah Sisil dan Boris ini sebenarnya gambaran dari banyak kasus serupa yang dihadapi perempuan Indonesia. Perempuan itu dituntut suci dan menjaga dirinya hanya untuk satu orang lelaki yang menjadi suaminya. Tetapi, lelaki dibebaskan untuk melakukan hubungan seksual dengan sebanyak mungkin perempuan yang dia inginkan. Katanya sih sebagai penguji kejantanan. Ini sebenarnya ketimpangan pengakuan soal seksualitas dan relasi kuasa. Mengapa? Sebagai makhluk biologis yang punya kebutuhan natural seperti seks, maka kebutuhan perempuan sama besar dengan lelaki. Bedanya, lelaki bisa membebaskan diri karena nggak bisa hamil, sementara perempuan punya beban berupa kehamilan yang tidak diinginkan. 

"Nggak papa nakal selagi lajang, yang penting nikah dengan perawan," pernyataan ini sering sekali aku dengar, seakan-akan menjadi semacam kebanggaan jika lelaki binal yang terbiasa punya banyak pasangan seksual diberkahi menikahi perempuan yang lugu dan belum pernah melakukan hubungan seksual. Ini pemahaman yang licik, culas dan menjijikan. Mengapa? Bayangkan saja, seorang lelaki menginginkan perempuan yang belum disentuh lelaki lain, tetapi dia merasa bangga pernah menyentuh banyak perempuan. Jika lelaki semacam ini tidak mampu menjaga perempuan yang mungkin menjadi jodoh lelaki lain, apa hak dia berharap lelaki lain menjaga perempuan yang menjadi jodohnya? 

"Ah, yang penting saya happy. Bukan urusan saya dong kalau perempuan bekas saya menikah dengan lelaki lain," si lelaki biasanya akan mengatakan hal demikian. Sayangnya dia lupa, bahwa menikahi perempuan perawan tidak akan menjadi penjamin bahwa kebiasaan seksualnya dari poligami menjadi monogami alias dengan istrinya seorang. 

Sini, aku ceritakan kepadamu tentang sejumlah lelaki binal, agar pembaca paham bahwa kebinalan seorang lelaki nakal yang licik dan culas nggak akan luruh bahkan setelah dia menikah dan punya anak. 

Pertama adalah Tuan Bambang. Nah, waktu muda Tuan Bambang ini ya biasalah, lelaki yang membebaskan dirinya berhubungan seksual dengan banyak perempuan. Lalu dia menikah dan punya dua anak, lelaki dan perempuan. Istri Tuan Bambang sangat cantik, baik hati, penyayang dan setia; anak-anaknya manis, tidak rewel dan menyenangkan hati; kondisi perekonomian Tuan Bambang juga makmur dan ia memiliki karir mentereng dengan penghasilan lumayan besar. Secara kasat mata, semua orang nyaris iri dengan kehidupan yang dimiliki Tuan Bambang. Meskipun sebenarnya Tuan Bambang bertarung dengan dirinya sendiri, sebab selain memiliki seorang istri, ternyata Tuan Bambang memiliki lima orang pacar. 

Tuan Bambang ini merasa dirinya merupakan seorang lelaki dengan libido tinggi sehingga ia sering berkencan dengan pacar-pacarnya, selain tentu saja dengan istrinya. Tuan Bambang biasa berkencan dengan pacarnya di hotel. Dalam rangka menjaga staminanya, Tuan Bambang ini mengonsumsi narkoba jenis shabu. Dan seluruh kelakuannya ini sama sekali nggak tercium istrinya. Yang tahu keresahan Tuan Bambang justru seorang temannya. Sampai kemudian Tuan Bambang bilang mau melaksanakan umrah sebab hendak bertobat. Lalu berangkatkan Tuan Bambang ke tanah suci sendirian, dan tak lupa berdoa untuk temannya yang jomblo agar segera dipertemukan dengan jodohnya. Sayangnya, sepulang umrah Tuan Bambang malah beberapa kali berkencang dengan beberapa orang pacarnya di sejumlah hotel. Tak lama kemudian Tuan Bambang meninggal dunia. Sampai ia menghembuskan napas terakhir, istrinya yang mulia dan baik hati itu nggak tahu lho kalau Tuan Bambang punya 5 orang pacar alias selingkuhan sebagai sex partner

Cerita kedua adalah tentang Tuan Lelikur. Dia ini lahir dari keluarga miskin. Ia sulung dari 10 bersaudara. Ia hanya tamatan SD sebab orangtuanya tak sanggup membayar biaya sekolahnya. Maka demi menyambung hidup dan membiayai sekoalh adik-adiknya dia bekerja serabutan sebagai apa saja. Sebagai orang jalanan jelas dia punya kehidupan seksual yang bebas juga. Lalu dia menikah dengan perempuan dari kampung halamannya dan punya 2 anak perempuan. Tuan Lelikur ini lumayan sukses dalam pekerjaanya dan ia merantau ke Jakarta, karena dia menjadi semacam tokoh ekonomi yang penting bagi bangsa ini. Dia juga kerap kali menerima penghargaan bergengsi atas kerja-kerjanya bagi perekonomian masyarakat. Meski demikian, kehidupan seksualnya nggak berubah. Selain punya istri, ia juga punya pacar. Bahkan pernah uang penghargaan yang dia peroleh tidak diberikannya untuk anak istrinya, melainkan ia gunakan sebagai biaya liburan dengan pacarnya ke luar negeri. Sialan dan tidak tahu diri sekali kan Tuan Lelikur ini? 

Meski dia tokoh bergengsi, rumahnya di Jakarta mengontrak. Tuan Lelikur ini berangkat pagi pulang malam, katanya untuk urusan pekerjaan. Istrinya yang setia menemani tak habis pikir apa kekurangannya sampai punya suami yang acuh padanya dan berselingkuh. Bahkan, saat istrinya melahirkan anaknya yang ketiga, Tuan Lelikur ini hampir bunuh diri karena pacarnya meminta putus. Istrinya tak bisa melakukan apapun atas kebinalan Tuan Lelikur yang nggak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tuan Lelikur punya 3 orang anak perempuan, tetapi ia tak bisa melepaskan diri dari berselingkuh dan menyakiti istrinya sendiri. Padahal, tubuh Tuan Lelikur sama sekali nggak macho dan dia sama sekali nggak tampan. Tetapi mungkin benarlah apa kata peribahasa ala bisa karena biasa, sehingga karunia istri setia dan tiga anak perempuan yang sehat lagi menyenangkan hati sebagai amanah nggak bisa menghentikan perbuatan Tuan Lelikur dari berselingkuh. 

Ketika tentang Tuan Haluu. Nah, Tuan Haluu ini berasal dari golongan kaya raya di Jakarta dan keluarganya rata-rata merupakan pejabat kementerian dan dinas-dinas di berbagai daerah. Selagi muda Tuan Haluu ini pernah bekerja di beberapa negara seperti China, Jerman dan Perancis. Sebagai orang muda yang merasa dirinya gagah, Tuan Haluu ini membebaskan dirinya dalam urusan seksual dan ia mengaku setiap kali tinggal di sebuah wilayah dia akan punya pacar perempuan asal wilayah tersebut. Tuan Haluu merasa dirinya seorang Don Jual alias penakluk perempuan. Jadi, nggak usah lah ditanya berapa jumlah perempuan yang pernah menjadi pacar Tuan Haluu selagi muda. Tuan Halu pernah kembali ke Indonesia dan menikah dengan perempuan yang etnisnya sama dengannya dan dari golongan kaya juga dan mereka memiliki seorang anak. Bertahun-tahuan kemudian mereka bercerai. Sepanjang hidupnya Tuan Haluu pernah menikah dengan 7 perempuan. Perempuan yang menjadi istrinya yang ketujuh memberinya 3 orang anak. 

Tapi, pernikahan Tuan Haluu ini nggak bahagia karena dia termasuk suami possessive sehingga istrinya yang masih berusia muda merasa sangat tertekan dan akhirnya selingkuh. Bayangkan saja, semua urusan keuangan dari biaya sekolah anak, hingga biaya dapur dikontrol ketat oleh Tuan Haluu, dan sang istri nggak boleh kemana-mana tanpa ditemani Tuan Haluu, sementara Tuan Haluu sendiri sering bekerja ke luar kota. Istri Tuan Haluu jadi kuper. Tuan Haluu hendak menekan kebebasan istrinya karena sebagai lelaki tua ia tak mau ditinggalkan istrinya yang cantik dan berusia muda, sebab jika istrinya meninggalkannya kemungkinan Tuan Haluu akan menjadi gelandangan karena tak ada lagi orang yang mau mengurusnya. Apalagi belum lama ini Tuan Haluu terjatuh dan pinggangnya luka sehingga berjalan pun harus tertaih-tatih. Tuan Haluu sadar kebebasan berlebihan terkait percintaannya dengan banyak perempuan yang ia agungkan semasa muda telah menghukum dirinya sendiri dengan sikapnya yang amit-amit possessive pada istrinya. 

Selain Tuan Bambang, Tuan Lelikur dan Tuan Haluu, ada banyak kisah lelaki nakal lagi binal yang bahkan tak mampu melepaskan diri dari dunia hitam setelah menikah dan memiliki anak. Kisah-kisah mereka menjadi gambaran bagi kita dalam melihat kehidupan manusia tidak sebagai hitam dan putih, melainkan begitu penu warna. Kisah-kisah gelap mereka juga memberi tahu kita untuk tidak terlalu mengagungkan lelaki dan kata-kata mereka, sebab bisa jadi mereka memuliakan kita dengan cara menistakan perempuan lain, dan itu tidak adil bagi kaum perempuan. 

MEREKA BILANG PEREMPUAN ADALAH KUNCI
Entah bagaimana bisa, dunia seakan kompak menyatakan bahwa kunci dari bahagia dan langgengnya sebuah hubungan terletak pada perempuan. Bahwa jika ingin bahagia maka perempuan harus muda, perawan, manis, baik hati, penurut, pintar memasak dan mengurus rumah, binal di ranjang, cantik, menyenangkan pandangan suami, menurut pada mertua, pandai mencari uang, pandai mengelola konflik dan bla bla bla. Intinya, dunia mengatakan baik buruknya sebuah hubungan semua terletak pada perempuan. Tapi dunia tidak meletakkan kewajiban yang sama berat pada lelaki, dan malah membebaskan lelaki mencari perempuan lain jika tak puas dengan pasangannya. Makanya, lelaki gampang sekali mengambil keputusan untuk berselingkuh dan poligami; sehingga perempuan mudah sekali dibuang dan ditinggalkan.  

Ada juga yang bilang kalau lelaki adalah kunci dan perempuan adalah gembok. Lalu, mereka mengatakan bahwa kunci bisa membuka banyak gembok, sementara gembok nggak bisa dibuka banyak kunci. Sebentar, kunci apa yang bisa membuka banyak gembok? Kalau kunci rumah pembaca bisa membuka banyak gembok, silakan coba membuka gembok istana presiden, brankas seluruh bank di Indonesia atau brankas rumah semua konglomerat di tanah air. Dipastikan nggak bisa. Kenapa? Karena masing-masing gembok dan kunci dibuat berjodoh satu sama lain. Nah, jika ada lelaki menyamakan penisnya sebagai kunci dan vagina perempuan sebagai gembok, maka dipastikan lelaki yang berpikir demikian merupakan seorang nakal, bajingan, binal dan bisa jadi seorang gigolo alias pelacur lelaki. Ia mau menjadikan dirinya berkuasa atas tubuh perempuan dan sistem reproduksi perempuan, padahal sesungguhnya dia tolol! 

Jika ada lelaki binal, maka ada juga perempuan binal. Jika ada lelaki pelacur, maka ada juga perempuan pelacur. Jika ada lelaki baik-baik, maka ada juga perempuan naik-baik. Apakah lelaki binal menikah dengan perempuan baik-baik merupakan berkah? Ya enggak lah! Kalau lelaki binal menikahi perempuan baik-baik, artinya si perempuan baik-baik itu terlampau lugu untuk mengetahui kelakukan si lelaki. Menurutku, perempuan baik-baik yang dinikahi lelaki binal merupakan perempuan bodoh yang terlampau malas mencari tahu kebenaran soal lelaki itu. Nggak usah lah bawa-bawa takdir Tuhan kalau jodoh ya akan datang juga. Kalau orang baik berjodoh dengan orang jahat sebagai takdir Tuhan, artinya kita menerima dengan sukarela bahwa perbuatan binalnya juga takdir Tuhan? Mending kalau tingkat kebinalan itu hanya sekedara tidur suka sama-suka. Lha, kalau ternyata melakukan kekerasan seksual alias memaksa para perempuan tidur dengannya dengan ancaman ini itu bahkan hipnotis, apa mau dibilang takdir Tuhan juga? Klo gitu ya Tuhan jahat dong membiarkan kaum perempuan dirusak sama si lelaki binal yang akhirnya menikah dengan perempuan baik-baik. 


Lalu kuncinya apa? Kukira yang paling masuk akal dan pantas adalah mengkomunikasikan hal-hal semacam ini sebagai sesuatu yang lumrah, bukan tabu apalagi terlarang. Sudah waktunya perempuan berhak mendapatkan lelaki yang menghargai dirinya melebihi daging hidup yang hanya diperlukan untuk urusan seksual. Perempuan punya hak menjalin hubungan asmara dengan lelaki manapun yang dia inginkan sebagaimana lelaki. Sebab, perempuan berhak menentukan siapa lelaki yang akan menjadi suaminya, sebagaimana lelaki berhak memilih perempuan manapun untuk menjadi istrinya. Jika lelaki masih ngotot dengan ukuran-ukurannya atas diri perempuan yang tidak masuk akal dan cenderung merendahkan, maka perempuan berhak membuat ukuran atas lelaki terkait dengan moral dan seksualitasnya. 

Kepada lelaki binal, culas dan nakal: kamu jagan besar kepala saat berkaitan dengan tubuh perempuan, apalagi soal seksualitas dan sistem reproduksi perempuan. Sekali kamu menyakiti dan merusak seorang perempuan, maka merusak nama ibumu dihadapan Tuhanmu dan alam semesta. Tuhan tidak melahirkanmu ke dunia ini untuk menjadi perusak ciptaanNya yang berjenis perempuan, dan penis dalam tubuhmu tidak diciptakan untuk merusak vagina perempuan. Kamu tahu alasannya apa? Sebagai manusia yang lahir ke dunia ini melalui vagina ibumu yang berdarah-darah, kamu nggak punya keistimewaan apapun sehingga merasa berhak merusak tubuh perempuan. Camkan itu!


LHO, SEKS SEBELUM MENIKAH KAN DOSA BESAR!
Betul. Tapi itu dalam sudut pandang agama. Bahkan, seks dalam pernikahan pun menjadi dosa lho jika dilakukan dengan pemaksaan dan penyiksaan. Mungkin pembaca pernah mendengar kasus pemerkosaan dalam pernikahan, dan itu banyak terjadi walau ditutup-tutupi. Misalnya nih, seorang istri baru saja dua minggu melahirkan dan suaminya memaksa menginginkan hubungan seksual. Sang istri menolak karena dalam masa nifas dan lagian tubuhnya masih dalam masa pemulihan. Tapi sang suami memaksa dengan mengancam akan menceraikan sang istri jika melawan, dan suami melakukan hubungan seksual dalam keadaan istri menangis karena hati dan tubuhnya disakiti. Atau ada juga seorang suami yang memaksa istrinya berhubungan seksual dengan lelaki lain agar dia bisa memuaskan rasa penasaran jika istrinya bersama lelaki lain. Atau ada juga suami mengajak istrinya melakukan bisnis aneh, yaitu mereka melakukan hubungan seksual di depan sekumpulan orang yang membayar mereka, dan kasus ini pernah beberapa kali terjadi. Nah, itu contoh kecil pemerkosaan dalam pernikahan. Artinya, hubungan seksual yang nggak lazim dan cenderung menyakiti pasangan. Padahal, fungsi seks dalam pernikahan kan sebagai cara pasangan bersenang-senang dan mendapatkan keturunan. 

Lalu bagaimana dengan seks sebelum menikah, apakah bisa dimasukkan ke kategori kekerasan seksual atau pemerkosaan? Bisa iya bisa juga enggak. Seks itu kan harus dilakukan suka sama suka alias dengan izin kedua belah pihak (izin), kalau diluar itu berarti bisa dikategorikan kekerasan seksual sampai pemerkosaan. Soal seks diluar nikah dan bagaimana hukumnya, cara pandangnya tergantung nilai apa yang dipegang seseorang. Jika yang dia pegang nilai agama ya silakan ikuti apa kata agama soal seks. Sesederhana itu cara berpikirnya. 

Tapi perlu diingat, zaman sekarang sangat sulit memastikan seseorang berkata jujur bahwa dia tidak pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah, khususnya kaum lelaki. Akses kepada seks terutama di kota-kota besar sangat terbuka lebar dan orang bisa melakukannya di masa saja baik di apartemen, kosan, rumah hingga hotel. Seks bisa dilakukan dengan pasangan alias pacar, pelacur, atau seseorang yang baru dikenal melalui metode one night stand. Nah, one night stand ini sering lho dilakukan oleh orang-orang yang lagi traveling trus mereka berbagi tempat tidur baik kamar hotel atau hostel, macam berbagi makanan dalam satu piring gitu. Meski demikian, orang tidak akan terbuka kepada kita bahwa dia pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Lagian kita juga nggak bisa melihat tanda di jidatnya bahwa seseorang pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Trus, tentu saja kita nggak boleh mengorek-ngorek privasi orang apakah dia pernah melakukan hubungan seksual atau belum, kecuali pada calon pasangan kita demi memastikan bahwa dia tidak membawa penyakit menular seksual dalam dirinya dan merugikan kita. Dalam urusan seks, percaya kata-kata pasangan bahwa dia tidak pernah melakukan hubungan seksual atau tidak memiliki penyakit menular seksual adalah sama dengan bunuh diri. Salah satu cara yang bisa dipercaya untuk mengetahui kebenarannya adalah hasil pemeriksaan medis. 

Nah, cerita Sisil di awal tulisan ini tuh sebenarnya sering dialami banyak orang, khususnya perempuan. Banyak perempuan merasa stress jika ditanya oleh calon suaminya soal seksualitasnya sebelum mereka bertemu. Untung kalau bertemu dengan pasangan berpikiran terbuka yang bisa diajak bicara, diskusi dan belajar soal seksualitas. Lha, kalau ketemunya tukang judge kayak Boris kan ribet. Padahal orang mau pernah berhubungan seksual atau tidak sebelum menikah, pasangan memang harus membicarakan soal seks karena seks akan menjadi salah satu hal paling penting dalam pernikahan. Kalau orang ogah bicara seks secara terbuka, biasanya pas menikah kehidupannya akan sexless dan nggak bahagia. Makanya, banyak pasangan menikah kehidupannya hambar trus saling selingkuh, karena nggak bisa bicara tentang kebutuhan dan fantasi seksualnya secara terbuka dengan pasangannya sendiri. 

Atau misalnya ada orang yang memang anti melakukan hubungan seksual sebelum menikah, trus seenaknya menjudge mereka yang memilih melakukannya. Aku kasih tahu ya, seseorang yang tidak melakukan hubungan seksual sebelum menikah belum tentu selamat tidak melakukan perselingkuhan atau bahkan membeli layanan pelacur saat telah menikah bahkan memiliki anak, karena kasus begini contohnya banyak banget, sampe nggak bisa dihitung pakai jari. Bahkan, ada jenis lelaki yang alim pas lajang berubah menjadi binal setelah menikah. 

Baca juga: Perempuan ini Mengizinkan Suaminya dimiliki Perempuan lain

Back to cerita Sisil, Tuan Bambang dan Tuan Lelikur setidaknya kita bisa paham bahwa urusan seks dalam dunia manusia itu nggak bisa hitam putih, sekadar melakukan atau tidak melakukan. Kalau kita mau menelurusi lebih jauh, banyak sekali cerita soal seksualitas manusia yang mungkin membuat kita melongo dan bilang "Ohhh baru tahu aku...."

Bumi Manusia, 2 Maret 2020



6 comments:

  1. nah itulah kenapa wanita dituntut begitu ya, gak adil menurutku sih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Konsep adil nggak mutlak sehingga sulit mengukurnya. Namun, dalam konteks relasi yang sebenarnya harus dilakukan adalah berkomunikasi secara terbuka, termasuk soal seksualitas. Kadang kan orang merasa malu bicara soal seksualitas, padahal orang tertarik pada orang lainnya jelas karena urusan seksualitas.

      Delete
  2. Mungkin memang sejak dulu wanita memang sudah dijadikan objek dan harus diatur. Makanya istilah sebagai kunci itu semacam produk lama. Btw, tulisannya bagus sekali bu, saya mengikut sejak yg postingan corona. Keep update ya bu..

    ReplyDelete
    Replies
    1. You can call me Mbak Ika hehehe. Btw, bukan 'mungkin memang sejak dulu' tetapi 'memang sejak dulu' perempuan diatur dan dituntut menurut apa kata lelaki, termasuk soal seksualitas. Buktinya adalah harem alias kumpulan istri dan selir pada Raja/Kaisar/Sultan/Pangeran di mana seorang lelaki bisa memiliki sebanyak mungkin istri dan selir demi memuaskan birahinya dan memiliki keturunan yang banyak. Tapi, perempuan hanya boleh punya satu pasangan, kecuali di sejumlah komunitas yang memang melegalkan poliandri demi menjaga keseimbangan ekonomi komunitasnya.

      Delete
  3. Kalau baca tentang betapa banyaknya laki-laki nakal dan binal yang tersebar di seluruh dunia pasti membuat perempuan takut menikah. Seperti halnya aku dulu. Bahkan sampai setelah menikah pun kadang masih takut gimana kalau suami melakukan hal yang aku tidak suka di luar rumah, padahal aku tau suamiku orang baik-baik yang seharusnya tidak aku curigai macam-macam. Tapi sebagai perempuan, pikiran negatif terkadang terlintas. Hehehe.

    Oh, ya. Perempuan sejak kecil memang sudah dituntut lebih banyak daripada laki-laki. Anak perempuan harus membantu pekerjaan di dalam rumah seperti bebersih rumah, cuci baju, cuci perkakas masak & makan, setrika, masak, dan lain sebagainya. Selain itu anak perempuan juga dituntut untuk menjadi anak yang manis, yang patuh, juga yang cerdas secara akademik. Jujur, saat masih bocah dulu aku iri banget sama anak laki-laki. Mereka bisa bahagia cengengesan main ke sana ke mari, sementara aku harus berkutat di rumah untuk bantu urus rumah dan belajar. Ingin rasanya saat itu aku jadi laki-laki saja. Dan saat itu aku juga merasa orang-orang memperlakukan anak perempuan dan laki-laki dengan tidak adil.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, itulah mengapa setiap orang wajib melakukan penyadaran pada dirinya sendiri terlebih dahulu, sebelum kepada orang lain. Terkait relasi dengan pasangan sih cara terbaik ada jujur dan mengkomunikasikan apa yang dirasa mengganjal. Bahkan dalam konteks yang lebih esktrem, ada anjuran agar pasangan yang baru pulang dari tugas luas kota dalam jangka waktu lebih dari 1 bulan harus membawa hasil cek darah atau cek HIV dari dokter, untuk mengantisipasi kalau-kalau dia selingkuh atau jajan dan membawa bibit penyakit menular seksual. Memang ribet sih, tapi kan lebih ribet dan stress kalau tertular, belum lagi urusan biaya kesehatan yang pastinya besar. Cinta adalah cinta. Tapi cinta tanpa kejujuran dan sikap berhati-hati tetap saja bodoh.

      Delete