THE BANQUET: Seni Bertarung Memperebutkan Harta, Tahta dan Cinta

Innocent beauty


"You think hiding behind a mask can elevate your art? The highest level is to use your own face and turn it into a mask."
-Ratu Wan-


Little Wan adalah seorang pelayan istana yang muda, mungil dan memiliki kecantikan yang unik. Ia menjalin hubungan dengan Pangeran Wu Luan yang digadang-gadang akan naik tahta apabila Raja mangkat. Namun, Raja bernafsu pada Little Wan dan menjadikannya Permaisuri-nya. Pangeran Wu Luan merasa kecewa atas sikap ayahandanya sendiri yang menikahi kekasihnya dan ia memilih mengasingkan diri. Dalam pengasingan, ia fokus mengembangkan teater yang dikeloanya bersama rekan-rekannya. Teater itu ada di tengah hutan bambu yang hijau dan setia menari gemulai saat dibelai angin. Mereka menari, menyanyi, bernapas seirama dengan gerakan dahan bambu dan menunggu kabar dari istana. 

Tiga tahun kemudian, Raja tutup usia di pembaringannya. Kabarnya ia mati karena disengat kalajengking hitam yang legendaris karena racunnya yang mematikan. Hm, kok di istana ada kalajengking macam di hutan? Saat itu tahun 907 AD dan kita akan menyaksikan banjir darah yang begitu sedih di istana nan megah Dinasti Tang. Banjir darah tidak dimulai dari kematian Raja dalam ranjangnya yang empuk, melaikan dari teater bambu di mana Pangeran Wu Luan berada. Dari istana, Ratu Wan diam-diam mengirim pasukan untuk menjemput Pangeran Wu Luan, mengabarkan bahwa Raja telah mangkat agar ia segera naik tahta. Namun, saat bersamaan Raja yang baru  (Raja Li) yang tak lain adalah adik dari Raja yang mangkat turut mengirimkan pasukan khusus untuk mengabisi Pangeran Wu Luan. Para seniman sedang asyik menarikan dan menyanyikan sebuah lagu yang begitu sedih, dengan pakaian serba putih, dan topeng berwarna serupa demi menutupi ekspresi asli mereka. Pasukan khusus membunuh semua seniman dan Pangeran Wu Luan berhasil bersembunyi dengan menyelam ke dalam sungai yang perlahan-lana memerah darah, warna kematian teman-temannya, para seniman. 
Scene saat utusan kerajaan membacakan Maklumat Ratu Wan agar Pangeran Wu Luan kembali ke istana

Di dalam istana yang megah, dingin dan menakutkan, Ratu Wan berjalan perlahan. Entah karena gaun indahnya yang terlampau berat atau hatinya yang patah. Ia terus berjalan melewati barisan prajurit dan sampai di sebuah pintu yang besar, tinggi dan berat; di mana dibutuhkan dua prajurit bertubuh kekar untuk membukanya. Perhiasan di kedua telinganya berdenting, menyatu dengan hiasan langit-langit berbentuk rumbai-rumbai yang melambai-lambai dibelai angin. Ratu Wan terus berjalan menuju iparnya yang mengenakan baju zirah milik mendiang Raja. Lelaki itu, yang mendeklarasikan dirinya sendiri sebagai Raja Li mengatakan bahwa Dinasti Tang tidak boleh dibiarkan menunggu Raja dan Ratu yang baru. Demi membalas dendamnya dalam diam, Ratu Wan menerima tawaran Raja Li untuk menjadi Permaisuri baginya. Raja Li sepertinya terobsesi dengan kecantikan, kecerdasan dan watak keras kepala Ratu Wan. 
Wajah Zhang Ziyi sebagai Ratu Wan yang memiliki kecantikan misterius. Sumber: ultimasia.net
Dekorasi ruangan yang megah tapi sedih. Sumber: ultimasia.net

Saat banjir darah terjadi dan pasukan khusus yang satu membunuh pasukan khusus yang lain, Ratu Wan bersantai di ruang kerja Qing Nu, asisten pribadinya yang juga tunangan Pangeran Wu Luan. Saat itu Ratu Wan menghendaki kain yang rencananya akan digunakan sebagai gaun pernikahan Qing Nu dijadikan gaun untuk penobatannya sebagai Ratu untuk kedua kalinya. Lalu keduanya berbincang tentang Pangeran Wu Luan yang tak kunjung tiba di istana. Ratu Wan bilang bahwa Pangeran Wu Luan tidak pernah berkirim surat padanya, dan ia bertanya bagaimana Qing Nu berkomunikasi dengan tunangannya itu. Perempuan muda dengan sepasang mata indah ini menjawab bahwa ia dan Pangeran Wu Luan berkomunikasi melalui mimpi. Dan yeah, Ratu Wan merasa cemburu pada Qing Nu. 

Malam itu, saat Ratu Wan dipijat oleh Raja Li dan mereka bercinta, Pangeran Wu Luan menyusup masuk ke istana. Ia bisa merasakan bahwa kemarian ayahnya pasti sebuah konspirasi pamannya, yang bahkan mengirim pasukan khusus untuk membunuhnya. Setelah mendapatkan keteranan tentang kematian ayahnya dari Qing Nu, Pangeran Wu Luan menyusup ke ruang pribadi Ratu Wan dan menunggu mantan kekasihnya itu selesai mandi. Oh ya, Ratu Wan mandi di kolam indah dan megah bertaburkan kelopak mawar. Selesai mandi, Ratu Wan mengenakan gaun tidur yang tipis dan bersantai sembari menghirup dupa wangi dari wadah tembaga. Saat itulah ia menyadari kehadiran Pangeran Wu Luan dan begitu gembira sampai ia berlari menyambutnya seakan-akan mereka masih sepasang kekasih. Pangeran Wu Luan memanggilnya sebagai Ibu Ratu dan setelah berdebat tentang seni dan bela diri, mereka bertarung. Buatku, seni bertarung mereka sangat indah, serupa tarian antara sepasang kekasih yang saling merindukan setelah ratusan purnama tak bersua, dan kembali saling berhadapan saat keadaan semakin menjauhkan mereka. Bayangkan saja, Pangeran Wu Luan harus memanggil mantan kekasihnya sebagai Ibu Ratu dan Ibu Sambung yang Mulia. Menyakitkan sekali, bukan? 
Ratu Wan ngambek karena dipanggil Ibu Suri oleh Gubernur Pei Hong

Dalam persiapan penobatan Raja dan Ratu yang baru, Raji Li mengumpulkan para menteri  dan gubernur untuk melakukan sejumlah persiapan. Saat itu hadir seorang gubernur yang setia pada mendiang Raja. Dalam diskusi yang hangat, Ratu Wan bergabung dan Gubernur Pei Hong berlutut padanya dan memanggilnya Ibu Suri yang sontak membuat semua orang kaget, dan Ratu Wan merasa sangat tersinggung. Merasa kekuasannya dibantah sang bawahan, Rali Li mengambil tindakan. 

"Oh, kita mendengar bahwa Gubernur Pei Hong memanggil Ratu sebagai Ibu Suri," ujar Raja Li setelah terbengong karena kaget, memetik sebiji anggur merah, dan berjalan perlahan ke arah kerumunan yang membisu karena rasa takut. 
"Mengapa tak seorangpun berani bicara? Baiklah, akan aku jelaskan!" lanjut Raja Li sembari menceburkan biji anggur ke baskom berisi air yang dipegang seorang kasim. 
"Mendiang Raja telah menggapai surga. Jika Putra Mahkota naik tahta, maka Ratu menjadi Ibu Suri. Sayangnya, akulah yang naik tahta. Apakah kamu mengerti maksudku Gubernur Pei?" kali ini suara Raja Li meninggi. 
"Anda adalah seorang terpelajar yang sangat disegani. Mengapa bisa salah menafsirkan hierarki dalam istana ini? Berdasarkan ritual leluhur, Raja berlutut pada Ibu Suri sebagai anak lelaki dari sang ibu. Tapi, seorang Ratu berlutut pada Raja sebagai istri dari sang suami. Apakah kamu Ibu Suri atau Ratu? Aku yang harus berlutut? Atau kamu yang harus berlutut? Beri kami semua sedikit nasehat, prosedur mana yang benar?" Raja Li memberi pertanyaan mematikan. 
"Aku yang rendah ini berlutut padamu Yang Mulia Raja," Ratu Wan berlutut, menyatakan bahwa dirinya adalah Ratu sekaligus istri Raja Li. Semua orang ikut bersujud kecuali Gubernur Pei. 
"Hahahaha! Wahai mendiang Raja di surga, apakah engkau menyaksikan kebusukan dalam istana ini?" Gubernur Pei tertawa dalam keheningan yang seketika membuat Raja Li murka.

Raja Li yang murka atas pengkhianatan Gubernur Pei Hong mencopot jabatannya dan memberikan wilayah itu kepada Jenderal Yin. Sebagai hukumannya, Gubernur Pei Hong akan dibunuh dengan disiksa di muka umum, dan seluruh keluarganya dihabisi sebagai bahan pelajaran bagi rakyat banyak. Si tua bangka Pei Hong disiksa secara maraton oleh tongkat kayu oleh para kasim, disaksikan keluarganya yang menunggu giliran menjalani hukuman, Raja dan Ratu, para dayang dan kasim, dan pejabat kerajaan. Bagi Ratu Wan, ini adalah pemandangan yang buruk, di mana orang akan memandangnya sebagai perempuan berhati iblis, yang membuat seorang gubernur dihukum mati hanya karena ia tak mau menjadi Ibu Suri. Tak ada yang tahu bahwa Ratu Wan harus berkorban sedemikian banyak untuk membalaskan dendamnya di hari yang telah dia rencanakan. Hanya ia yang tahu bagaimana cara mengembalikan tahta kepada pemilik sah. 

Kekuasaan yang sudah berada di tangannya tak membuat Raja Li merasa puas. Bahkan ketika ia telah membuat kakak iparnya menjadi istrinya. Ratu Wan mencium gelagat ini dan bertanya apakah didalam hatinya yang paling dalam Eaja Li tidak percaya padanya hanya karena selalu menjadi pembela Pangeran Wu Luan? Raja Li mengatakan bahwa sebaiknya ia harus melakukan semacam rehearsal sebelum penobatan Ratu Wan di hari ke 100 ia menjadi Raja yang baru. Raja Li mencoba membunuh Pangeran Wu Luan sekali lagi dengan menantang sang Putra Mahkota melakukan semacam pertarungan dengan sejumlah pasukan khusus pengawal Raja di dalam istana. Ratu Wan menikmati seni bertarung yang memukau, namun segera menyadari bahwa para prajurit menggunakan pedang betulan dan hampir membunuh Pangeran Wu Luan andai ia tak melimpat dan menghentikan pembunuhan terencana tersebut. Selamatlah sang nyawa pangeran.
Qing Nu memeluk Pangeran Wu Luan yang down karena urusan hatinya dengan Little Wan alias Ratu Wan yang belum selesai. Saat Pangeran Wu Luan hilang arah, hanya Qing Nu yang mencintainya dengan jujur dan mendukung apapun yang dilakukannya

Tapi, gara-gara itu pula Pangeran Wu Luan mendapat ancaman baru. Dia kembali akan dibunuh dalam perjalanan pertukaran dengan pangeran dari negeri asing. Jadi, di kerajaan-kerajaan zaman dulu tuh seringkali para pangeran yang akan naik tahta dibiarkan menjalani magang di kerajaan lain, untuk membangun tali persahabatan antara dua kerajaan. Meski kesal karena diusir dari istananya sendiri, Pangeran Wu Luan menurut. Di tengah perjalanan, ai hampir mati terbunuh andaikan kaka Qing Nu tidak menolongnya. Ia percaya dengan menyelamatkan Pengaran Wu Luan ia turut menjaga perasaan Qing Nu. Ia juga harus mendapat kepercayaan ayahanya, bahwa apapun yang terjadi mereka akan merebut kekuasaan. Yang mereka harus lakukan adalah menanti kejatuhan Raja Li dan Ratu Wan dalam permainan mereka sendiri. 
Saat Jenderal Yin berjanji akan melindungi Qing Nu, adik kesayangannya

Rupanya, Ratu Wan memang berencana membunuh Raja Li dalam perjamuan untuk membelaskan dendamnya atas kematian mendiang Raja, dan agar Pangeran Wu Luan naik tahta. Untuk tujuan itu, Ratu Wan bersekongkol dengan Menteri Yon dan Jenderal Yin, tanpa mengetahui bahwa Menteri Yin ternyata punya muslihat lain. Dalam persiapan itu, Ratu Wan berkunjung ke sebuah tempat dengan manusia-manusia aneh. Ia bertemu dengan seorang pembuat racun legendaris dan memesan racun kalajengking hitam. Setelah mendapatkan racun itu, dia mempersilakan si pembuat racun untuk bunuh diri. Perjamuan yang megah dilangsungkan. Raja Li dan Ratu Wan duduk di singgasana mereka. 
Aktris Zhang Ziyi sebagai Ratu Wan berbalut gaun Phoenix yang megah. 

Perjamuan dibuka dengan tarian yang cantik.  Sembari menikmati perjamuan Raja dan Ratu meminum wine dari cangkir masing-masing. Saat itu Ratu Wan bersiap-siap membunuh Raja Li dengan menaburkan serbuk racun ke dalam cangkir itu yang sebelumnya telah ia persiapkan di balik kuku jari kelingkingnya. Raja menerima cangkir dari Ratu dan bersiap meminumnya tatkala tim dari teater naik ke panggung bersama Qing Nu, yang akan mempersembahkan tarian untuk Raja dan Ratu. Demi menghormati keberanian gadis itu, Raja memberikan minuman itu kepada Qing Nu. Selama menari, Qing Nu merasakan bahwa dirinya diracun, namun karena ia memakai topeng maka tak seorangpun mengetahui perasaannya saat sekarat. Keadaan ini membuat Ratu dan Menteri Yin cemas, khawatir Qing Nu Mati. Di akhir tarian, Qing Nu terkapar di pangkuan Pangeran Wu Luan yang ternyata ikut menari. Saat itu Raja Li merasa kaget dan patah hati mengetahui bahwa ternyata Ratu Wan yang sangat dipuja, dikagami dan dicintainya berniat membunuhnya. 
Tarian dari prajurit sebagai pembuka perjamuan
Saat Qing Nu memimpin grupnya untuk menari dan tak tahu harus meminum racun mematikan

Setelah berdebat dengan Ratu Wan yang kesal dan sedih karena rencana pembunuhannya gagal. Raja Li mengambil cangkir dan meminum seluruh isinya dan tak lama kemudian mati di pangkuan Ratu Wan. Mengetahuai bahwa Raja Li sudah tak bernyawa, Ratu Wan menyatakan bahwa Pangeran Wu Luan menjadi raja yang baru. Jenderal Yin yang marah karena Qing Nu mati secara mengenaskan bersiapa membelas dendam. Ia bersiap membunuh Rau Wan dengan belati beracun. Namun belati itu ditahan oleh tangan Wu Luan yang tak lama meninggal karena racun yang mematikan itu. Dan seketika Ratu Wan membunuh Jenderal Yin dengan menusuk lehernya. Semua mati dan Ratu Wan dideklarasikan sebagai Raja di Raja (Empress Regnant) oleh sekretaris kerajaan, Lord Chamberlin. 

Dalam suasana entah harus disebut sebagai apa, Ratu Wan yang menyelenggarakan perayaan terbatas untuk gelar barunya sembari menyatakan bahwa mati dilempar belati oleh seseorang entah siapa. Belati yang berdarah itu lalu jatuh ke sebuah pot dari bata, sebagai kolam kecil nan misterius. Cara Ratu Wan mendelik kaget saat menjelang ajalnya membuat siapapun yang menonton film ini pasti penasaran sekaligus kesal, mengapa kok endingnya bikin ngganjel perasaan. Kenapa endingnya nyelekit banget sih? Siapa pembunuh Ratu Wan? Bagaimana nasib kerajaan? 

SEMUA YANG CANTIK, INDAH DAN MENGESANKAN 
Sejak dibuka, menurutku film ini sangat mengesankan, dan keseluruhan film terasa begitu mengagumkan. Sempurna! Film dibuka dengan suasan di teater, di mana Pangeran Wu Luan dan rekan-rekan sesama seniman menarikan dan menyanyikan lagu sedih dengan kesiur hutan bambu yang begitu syahdu, sebelum pembantaian terjadi. Sementera di istana, detail tentang kemegahan, kesedihan, kengerian dan rasa takut tergambar begitu pas. Wajah aktris Zhang Ziyi yang memerankan Ratu Wan begitu terpuruk saat mengetahui bahwa demi mengembalikan tahta kepada Pangeran Wu Luan, ia terpaksa menerima lamaran Raja Li yang tak lain adik iparnya dan menjadi istrinya. Little Wan direnggut dari cintanya, dan kini ia bahkan tak bisa mempertahkan tahta untuk penerus yang sesungguhnya. Sebagai perempuan yang kekuasannya lemah dibandingkan Raja, ia memilih berkorban demi mendpatkan kemenangan sesungguhnya. Scene saat peristiwa ini terjadi sangat mengagumkan dan menyentuh hati. Dekorasi istana yang menakutkan itu sangat megah sekaligus filosifis, membuatnya terasa tak jauh beda dengan istana di abad modern ini. 

Ada empat tokoh utama dalam film ini, namun aku fokus ke Zhang Ziyi sebagai Ratu Wan. Sebagai pelayan istana dan muda tan tanpa kekuatan, ia bahkan tak bisa menolak titah Raja untuk menjadi istrinya, meski ia merupakan kekasih Putra Mahkota Wu Luan. Setelah Raja meninggal, ia bahkan tak diberikan izin oleh langit untuk menjadikan Wu Luan yang ia cintai nik tahta, sebab kekuasaan telah dipegang adik iparnya. Meski lemah, Ratu Wan membangun kekuatan dalam dirinya dengan memanfaatkan rasa cinta Raja Li untuk membelaskan dendamnya. Dan lihatlah akhirnya, Raja Li dengan sukarela minum racun agar mati di pangkuan Ratu Wan, sebagai pertanda bahwa ia menyerah sebab Ratu Wan memang tidka pernah mencintainya dan tidak menghendakinya sebagai Raja. Perempuan lemah ini dengan kelemahannya telah membuat lelaki yang paling berkuasa di Dinasti Tang bunuh diri untuknya, di hadapan semua orang yang hadir di perjamuan. Memang sih ada yang disebut 'feminin touch' atau sentuhan perempuan dalam memenangkan sebuah pertaruangan, di mana perempuan kerapkali memenangkan pertaruangan dalam kehidupan karena kemampuannya bersikpa fleksibel, melawan dalam diam dan menikam musuh tanpa perang terbuka. Ratu Wan mengalahkan musuh dengan teknik 'feminin touch'
Perhatikan make up Ratu Wan, unik ya aliasnya aja sampe begitu. 

Film ini dibuat dengan perhitungan matang. Selain plot dan sinematografi, juga busana pemain utama dan pemain pendukung. Bayangkan, pakaian pelayan perempuan aja begitu elegan dan indah. Jangan bandingkan dengan gaun Ratu Wan yang selalu elegan, megah, indah dan menjadikannya sosok dewi dengan kecantikan misterius. Ditambah lagi dengan detail berbagai perabotan istana yang menggambarkan betapa megahnya kehidupan istana Dinasti Tang. Lalu darah yang tertumpah, sungai yang memerah darah, suara air mengalir, suara remah kayu yang jatuh, denting perhiasan, suara kain saat tertipu angin, nafas Ratu Wan yang menderu, ceracak kaki kuda, dan detail lainnya yang membuat film ini sangat nyaman untuk ditonton berkali-kali, tiada bosan. Lainnya tentu saja sejumlah tarian dan nyanyian yang sangat menyayat hati beserta ekspresi orang-orangnya yang sangat sedih, terluka, misterius dan menyembunyikan perasaan sebenarnya. Bahkan di bagian akhir, film ini ditutup dengan kematian yang sedih namun indah. Buatku, film ini sempurna, membuatku terpana dan aku menontonnya sudah lebih dari 5 kali hahaha. Film ini aku rekomendasikan 100% untuk pembaca nikmati!

Jakarta, 15 Februari 2020

Bahan bacaan:
https://en.wikipedia.org/wiki/The_Banquet_(2006_film)
https://www.fareastfilms.com/?review_post_type=the-banquet
https://www.viu.com/ott/id/en/all/video-mandarin-action-movies-the_banquet-1112037878?containerId=1581760112492
https://www.onderhond.com/blog/ye-yan-review-xiaogang-feng


No comments:

Post a Comment