SWEET BEAN: Cinta dan Kemanusiaan Semanis Selai Kacang Merah

Wakana dan burung kecil sahabatnya


Tahun 2019 silam aku menonton sejumlah film yang alurnya lambat. Mulai dari mengulang nonton "Little Forest" versi Jepang, "Forest Debussy" hingga "Sweet Bean" yang sangat lambat. Dari ketiga film tersebut, yang ketiganya banyak bicara tentang hubungan erat alam dan manusia, aku paling kesal dengan "Sweet Bean" karena teramat-sangat lambat. Saking lambatnya, aku sampai kesal karena entah kapan film akan ada di titik klimaks dari konflik dan selesai. Terlebih, para aktris yang memerankan tokoh utama terkesan membuat alur lambat dalam film semakin menjengkelkan! I hate it so much!

Tapi, saat tokoh yang bikin film terkesan menjengkelkan tidak ada, film ini sampai pada pesan sesungguhnya, tentang hidup dan kemanusiaan yang terluka, tentang diskriminasi dan sikap piliha kasih manusia. Ketika film berjalan ke bagian akhir, aku baru mengerti bahwa film ini tengah menampar kemanusiaan kita yang mencintai dan menghormati segala sesuatu yang sempurna, tanpa cela. Sebab siapa yang tidak sempurna menurut ukuran manusia harus dikumpulkan di suatu tempat khusus, dikucilkan, dianggap berbahaya, diteliti, dipelajari, dihindari, bahkan dibenci. 

Film ini berkisah tentang Sentaro, lelaki mantan tahanan yang hidupnya menyedihkan. Di masa lalunya, ia pernah menghajar seseorang di klub malam sehingga ia dipenjara. Selain itu ia pun harus membayar biaya pemulihan si korban. Setelah keluar dari penjara, Sentaro bekerja sebagai pembuat kue Dorayaki di toko mungil yang ternyata milik seorang rentenir.  Tokonya terletak di pinggiran kota Tokyo dan konsumennya merupakan warga setempat dan anak-anak SMP. Ia mengurus tokonya sendiri hingga merasa kelelahan. Saat tokonya tutup dan jajanannya masih tersisa, ia menyisihkannya untuk diberikan kepada Wakana, seorang siswa SMP yang juga hidup menyedihkan. Wakana yang sering kelaparan selalu bersenang hati menerima satu plastik Dorayaki sisa dari toko Sentaro untuk makan malam dan sarapan pagi. 
Dorayaki dengan selai kacang merah. Sumber: favy-jp.com

Pada suatu waktu, Sentaro yang kelelahan bermaksud menjadi seorang asisten untuk bekerja di tokonya, tentu dengan bayaran kecil, soalnya Sentaro harus membayar utangnya kepada si rentenir. Datanglah seorang perempuan berusia hampir 70 tahun bernama Tokue. Ia bilang kepada Sentaro sudah sejak lama ingin bekerja di toko Dorayaki dan telah lama mengintai toko kecil itu. Tokue mengatakan bahwa ia telah memiliki pengalaman 50 tahun lamanya dalam membuat selai kacang merah dan memberikan Sentaro sampel untuk dicicip. Tak mengapa jika ia harus bekerja dengan gaji kecil, sebab tujuan utamanya adalah membuat toko Sentaro semakin laris dengan resep selai kacang buatannya. Sentaro yang muda jelas menolak lah. Masa iya ada perempuan berusia senja mau bekerja sebagai asisten di tokonya, yang ada malah bakal bikin ribet. Tapi setiap hari Tokue tetap datang dan terus saja bicara ingin bekerja sebagai asisten, dan berjanji akan membuat Sentaro selai kacang merah yang lezat, karena menurutnya selai kacang buatan Sentaro tidak enak. Ah, masa sih selai kacangnya tidak enak? Memangnya Sentaro sebodoh itu dalam membuat selai kacang merah? 
Tokue memperhatikan Sentaro memanggang adonan Dorayaki. Sumber: theupcoming.co.uk

Karena Tokue memaksa bekerja dan berjanji akan membuatkan selai kacang merah yang enak, maka Sentaro tak punya pilihan selain mengizinkannya bekerja. Tokue merasa senang bisa bekerja dan dengan telaten ia mulai mengerjakan tugasnya membuat selai kacang merah. Pertama-tama, kacang direbus dalam api sedang selama beberapa waktu sampai warna air mulai sewarna dengan kulit kacang, dan air tersebut dibuang. Lalu kacang kembali direbus dengan air baru dan dimasak dalam api sedang selama beberapa waktu. Setelah rebusan kacang menunjukkan ciri-ciri tertentu, barulah ditambah gula, kemudian diaduk dengan pelan agar biji-biji kacang tidak pecah dengan membabi buta. Secara keseluruhan, diperlukan waktu 2 jam untuk membuat selai kacang merah yang enak dan berkualitas. 
Tokue dan Sentaro bekerja sama mencuci kcang merah
Tokue saat membuat selai kacang merah dengan penuh perhatian

Dalam membuat selai kacang merah, Tokue mengatakan harus bersabar dan bergembira. Ia bahkan mengajak kacang-kacang yang direbus itu berbicara, seakan-akan mereka hidup. Tokue memperlakukan kacang dalam dandang yang mendidih sebagai masterpiece dan dengan mengajak masakannya berbicara, dan memujinya, seakan menjadi kunci kelezatan selai kacang merah yang tampaknya terlampau biasa saja untuk mendapat pujian. 
Tokue sang pembuat selai kacang merah yang lezat. Sumber: bfi.org.uk

Nah, dorayaki dengan isian selai kacang merah buatan Tokue ini terbukti disukai konsumen dan mendongkrak penjualan, sehingga Sentaro tidak bisa memberikan apa-apa kepada Wakana. Keberhasilan tersebut membuat Sentaro, Tokue dan Wakana sama-sama merasa senang. Selama beberapa waktu lamanya, toko semakin ramai dan orang-orang kini membeli Dorayaki dalam jumlah banyak karena sekaligus ingin menghadiahkannya kepada orang-orang terdekat mereka. Bahkan, sebelum toko dibuka, antrian sudah mengular sehingga membuat Sentaro kewalahan mencetak Dorayaki. Melihat hal ini, Tokue merasa senang karena ternyata selai kacang merah buatannya mampu memberikan dampak yang signifikan ada usaha Sentaro dan ia membuktikan bahwa perempuan tua seperti dirinya juga bisa bekerja dan bermanfaat. 

Sayangnya, pada suatu hari keadaan bahagia itu berubah seketika dan toko menjadi begitu sepi. Ternyata, sebuah gossip telah menyebar, bahwa Tokue merupakan penderita kusta yang tinggal di sanatorium khusus untuk penderita kusta. Orang-orang yang selama ini membeli Dorayaki dari toko Sentaro merasa takut bahwa penyakit yang diderita Tokue akan menular kepada mereka. Sentaro baru sadar bahwa Tokue menderita penyakit tertentu dari kondisi jari-jari tangannya yang rusak dan memang tidak layak bekerja. Sentaro merasa bersalah kepada konsumennya dan Tokue. Terlebih, saat pemilik toko datang kepadanya mengingatkan soal utang Sentaro yang masih menggunung. Apapun kondisinya, toko tidak boleh tutup sebab Sentaro harus melunasi utangnya. Tapi, Sentaro bingung sebab hanya selai kacang merah buatan Tokue yang membuat Dorayaki buatannya diminati. Tanpa selai kacang super lezat tersebut, bagaimana bisa tokonya hidup kembali? 
Sentaro dan Wakana dalam perjalanan mengunjungi sanatorium tempat Tokue tinggal. Sumber: bfi.org.uk

Akhirnya, Sentaro dan Wakana memutuskan untuk menemui Tokue di sanatorium tempatnya tinggal. Sanatorium tersebut terletak di sebuah lokasi terpencil, di mana keduanya harus berjalan melalui sebuah hutan kecil sebelum menemukan pintu gerbang. Saat memasuki kawasan sanatorium, Senato dan Wakana baru menyadari bahwa ada orang-orang dengan kondisi fisik tertentu yang dikucilkan masyarakat Jepang dan dipaksa harus menjalani hidup dalam kesepian dalam kompleks sanatorium, seakan-akan mereka adalah masyarakat yang harus didingkirkan dari dunia Jepang yang modern dan berkelas. 

Sentaro dan Wakana tidak bisa bertemu Tokue, karena ternyata Tokue sudah meninggal karena pneumonia. Mereka berdua disambut oleh teman Tokue yang bercerita banyak tentang Tokue dan para penghuni sanatorium, serta kegiatan yang mereka lakukan untuk bertahan hidup. Teman Tokue juga menyerahkan resep dan alat masak selai kacang merah milik Tokue kepada Sentaro, agar resep itu menjadi warisan Tokue untuk masyarakat Jepang yang menyukai Dorayaki dengan selai kacang merah. Sentaro dan Wakana merasa sedih, dan aku pun sedih. Setelah peristiwa itu, Sentaro dan Wakana membuka lembaran baru dengan menjual dorayaki mereka di taman, di mana akan lebih banyak orang mencicipi selai kacang merah warisan Tokue. Mereka berjualan dibawah rindang sakura yang mekar dengan indah. 


JEPANG DAN KREASI SELAI KACANG MERAH
Sebenarnya, pasta atau selai kacang merah ini sangat populer di negara-negara Asia Timur seperti China, Jepang, Taiwan dan Korea. Di Jepang sendiri, selai kacang merah sangat populer dan bisa ditemukan dalam banyak jenis kudapan selain sebagai isian dorayaki. Sepertinya orang Jepang memang sangat menyukai kacang merah sehingga banyak sekali kudapan mereka yang berbasis kacang merah dan selai kacang merah yang lezat itu. Kacang merah yang digunakan sepertinya sedikit berbeda sebagaimana yang biasa kita jumpai di Indonesia, karena biji yang dibudidayakan di Asia Timur termasuk Jepang bentuknya lebih imut dan bentuknya malah lebih mirip dengan kacang kedelai atau kacang hijau dengan ukuran yang lebih besar. Di Jepang, kacang merah ini disebut 'adzuki bean' dan di Indonesia, rasanya aku belum pernah menemukan kacang merah varietas ini setiap kali berbelanja di pasar-pasar tradisional. 
Berbagai jenis kudapan berbasis kacang merah dan selai kacang merah di Jepang. Sumber. nippon.com

Saking banyaknya kudapan berbasis selai kacang merah ini, boleh dibilang Jepang memang terobsesi dengan kacang merah lebih dari negara manapun di dunia ini. Obsesi itu membuat orang Jepang jadi terlampau kreatif dalam menciptakan kudapan yang lezat dan indah dipandang. Di Indonesia, jenis kudapan khas Jepang dengan isian selai kacang merah yang sangat mudai dijumpai adalah 'mochi' alias kue kenyal berbasis ketan yang telah dioleh sedemikian rupa. Aku suka mochi isian selai kacang merah dan biasa membelinya di gerai kedil di Margo City atau D Mall. Selain itu, kudapan dengan kacang merah biasanya adalah es krim. Tapi, kalau es krim buatan lokal jelas kacang yang digunakan berbeda dengan kudapan khas Jepang. Apapun varietas kacangnya, pastinya kudapan berbasis kacang merah selalu berhasil memanjakan lidahku.

DISKRIMINASI PENDERITA KUSTA DI JEPANG
Dalam film ini diceritakan bahwa tokoh Tokue merupakan penderita kusta yang tinggal di sanatorium di pinggiran kota Tokyo, bersama ratusan penderita kusta lainnya di Jepang. Sebagai perempuan berusia senja yang tahu bahwa hidupnya tidak lama lagi, Tokue berusaha menikmati segala sesuatu seperti cahaya matahari pagi, bunga-bunga yang bermekaran, sakura mekar pada musim semi dan pemandangan indah di pinggiran kota Tokyo. Sebagai penderita kusta yang dikarantina, hidupnya telah dijauhkan secara hukum oleh negara karena dianggap bisa menjadi bahaya bagi masyarakat kebanyakan. Tentulah itu hidup yang menyedihkan dan sepi. Karenanya, alam adalah tempat Tokue mendapatkan kembali semangat hidupnya. Bahkan, ia berbicara kepada biji-biji kacang merah yang sedang berproses menjadi selai nan lezat dan manis. Karena hidup yang manis mungkin serupa skeumpulan kacang merah yang keras, berproses begitu lama dalam air mendidih dan menyakitkan untuk menjadi lembut, manis dan disukai banyak orang. 

Kusta mulai diketahui sampai di Jepang pada Era Nara (710-784 M). Pada 883 terdapat sebuah dokumen pemerintah berjudul "Ryounogige" yang menyebutkan bahwa penyakit kusta ini mudah sekali menular sehingga muncul kebijakan memisahkan anggota keluarga penderita kusta di bangunan khusus, agar anggota keluarga yang lain tidak tertular. Pada periode 1549-1611 saat pendeta Katolik diperbolehkan melakukan misinya di Jepang, para misionaris ini membangun rumah sakit khusus untuk penderita kusta. Namun, tak lama pemerintah memberi hukuman mati pada siapapun warga Jepang yang menganut agama Katolik. Tak lama kemudian, saat pemerintah samurai membuka diri pada dunia luar, orang-orang penderita kusta diperbolehkan berkegiatan sebagaimana biasa, sampai kemudian diadakan sensus khusus penderita kusta, sampai kemudian orang-orang barat yang masuk ke Jepang menemukan fakta mengerikan bahwa banyak penderita kusta menjadi pengemis di jalanan dan kuil, dan banyak pula yang ditelantarkan keluarga mereka di sembarang tempat. Karena itulah, mulai muncul rumah sakit khusus untuk menangani kusta. 
Sebuah tempat tinggal lelaki penderita kusta di salah satu sanatorium di Jepang. Sumber: nippon.com

Pada 1930, saat stigma tentang penderita kusta semakin menguat, publik melakukan kampanye 'pembersihan' agar setiap wilayah di Jepang bebas dari penderita kusta. Orang-orang sakit dan malang ini dipaksa tinggal di sanatorium, dan kadang mereka diseret untuk tinggal di sanatorium dan siapa yang tidak mengikuti prosedur yang benar dalam penanganan penyakit ini bisa dihukum mati. Bagi para penderita kusta ini, tinggal di sanatorium tak ubahnya tinggal di penjara. Pada 1945 saat Jepang dalam puncak Perang Dunia II dan kelangkaan makanan terjadi di mana-mana, semakin banyak penderita kusta yang meninggal dunia, di mana rata-rata angka kematian mencapai lebih dari 20% di setiap sanatorium karena TBC dan malaria. Sementara di rumah sakit di Tokyo, angka kematian mencapai 45% dari keseluruhan pasien penderita kusta. 

Saat ini, terdapat 13 sanatorium milik pemerintah, 2 sanatorium swasta dan 3 rumah sakit khusus kusta sekaligus pusat studi penyakit kusta. Saat ini, ribuan penderita kusta yang telah sembuh memang bisa menjalani aktivitas sebagaimana masyarakat pada umumnya di dalam maupun luar sanatorium. Namun, karena kondisi fisik mereka boleh dibilang tidak sempurna, jadinya mereka tetap mengalami keterbatasan sehingga tidak bebas melakukan aktivitas yang mereka inginkan. Mereka tidak menikah dan tidka punya anak, karena pada 1951 ada kebijakan sterilisasi dan aborsi paksa agar penderita kusta tidak memiliki keturunan, karena jika mereka punya bayi akan sulit mengurusnya, apalagi jika keluarga hendak membawa bayi keluar dari sanatorium. Sedih banget ya. 
Diorama para lelaki penderita kusta berkegiatan di rumah bersama dalam sanatorium. Sumber: japanvisitor.com
Sejumlah siswa sedang mempelajari informasi di dalam museum kusta nasional Jepang. Sumber: japanvisitor.com

Saat membaca bahan-bahan bacaan untuk menulis di bagian ini aku mulai menangis, karena nggak kuat membayangkan orang-orang harus dibunuh, dikarantina, disterilkan dan dipaksa aborsi karena menderita kusta. Diantara sebagian besar masyarakat yang menolak kehadiran mereka, bahkan membuangnya karena dianggap berbahaya, justru hanya sedikit orang Jepang dan orang asing yang menjadi malaikat penolong, baik sebagai dokter, perawat, suster maupun agamawan yang membantu para penderita kusta menjalani hidup dalam kepasrahan level tertinggi kepada Tuhan. Tanpa kehadiran orang-orang baik berhati mulia, mungkin seluruh penderita kusta sudah dihukum mati oleh pemerintah Jepang. 

Kini, pemerintah dan masyarakat sedang sama-sama berusaha membangun pengertian tentang penyakit kusta ini, dengan memberikan kesempatakn kepada generasi muda untuk memahami dengan lebih baik tentang penyakit ini, yang mungkin dialami salah satu dari nenek atau kakek mereka. Anak-anak sekolah secara berkala berkunjung ke museum nasional tentang kusta untuk belajar tentang penyakit ini dari sudut pandang yang benar, juga untuk mencuci kesalah pahaman mengenai salah satu keluarga mereka yang mungkin menjadi penderita kusta. Demikianlah seharusnya kemanusiaan bekerja, saling menolong, memahami dan memberikan solusi; bukan mendiskiriminasi, merendahkan dan meninggalkan mereka yang menderita, sakit dan membutuhkan pertolongan. Jepang pasti bisa! 

Jakarta, 1 Februari 2020

Bahan bacaan:

https://en.wikipedia.org/wiki/Adzuki_bean
https://en.wikipedia.org/wiki/Red_bean_paste
https://en.wikipedia.org/wiki/Sweet_Bean
https://en.wikipedia.org/wiki/Leprosy_in_Japan
https://www.theguardian.com/world/2016/apr/14/like-entering-a-prison-japans-leprosy-sufferers-sue-government-for-decades-of-pain
https://www.japantimes.co.jp/tag/leprosy/
https://leprosyhistory.org/geographical_region/country/japan
https://leprosyhistory.org/geographical_region/site/nagashima
https://www.jstor.org/stable/j.ctv7r439b
https://mainichi.jp/english/articles/20160412/p2a/00m/0na/002000c
https://www.japanvisitor.com/japan-museums/hansensdiseasemuseum
https://www.nippon.com/en/features/c02703/hansen%E2%80%99s-disease-in-japan-the-lingering-legacy-of-discrimination.html
https://www.japanvisitor.com/japan-museums/hansensdiseasemuseum


No comments:

Post a Comment