Kulat Pelawan, Pangan Bergizi Penjaga Hutan Pelawan-Pulau Bangka

Kulat Pelawan atau Jamur Pelawan yang sudah dikeringkan. Sumber: Femina

“Humankind has not woven the web of life. We are but one thread within it. Whatever we do to the web, we do to ourselves. All things are bound together. All things connect.”
-Nehinaw (Cree indian) wisdom-

Halo dunia, apa kabar? Semoga hari ini menyenangkan dan penuh kegembiraan ya. Oh ya, omong-omong soal bahan pangan nih, aku tuh suka banget sama jamur. Menurutku, jamur itu rasanya unik dan setiap kali menyantap menu berbahan jamur rasanya ingin nambah terus sampai puas. Waktu aku kecil sampai remaja dan masih suka ikut main ke kebun yang terletak di pinggir hutan, aku biasa berburu jamur kuping dan jamur beras. Jamur kuping segar biasanya kujadikan campuran dalam menumis aneka sayuran dan entah mengapa aku fans berat jamur kuping. Kalau jamur beras bentuknya sangat kecil, seperti kipas dan biasanya hanya tumbuh di batang pohon tertentu, yang memanennya membutuhkan waktu sangat lama. Kalau pas nggak ke kebun, biasanya jamur beras mudah ditemukan di pasar tradisional. Orang Lampung dan Semendo di kampungku biasanya rajin sekali memanen dan menjual jamur beras. Saat sudah tinggal di kota, aku biasanya selalu punya stock jamur di kulkas karena setiap kali masak entah sambal, dadar telur, sup dan tumisan, hampir pasti kuberi irisan jamur. 

Jamur yang paling sering aku konsumsi sih jamur kuping, tiram, portabella, enoki dan kancing. Selain karena mereka mudah didapat baik di pasar tradisional maupun di pusat perbelanjaan, juga karena harganya lumayan murah. Untuk stock jamur kering, biasanya membeli jamur shitake dari Toko Organik agar aku tidak kekurangan stock jamur setiap kali hendak memasak. Bagiku, jamur itu satu bahan pangan yang istimewa. Jika aku diminta memilih makan menu tanpa daging atau tanpa jamur, maka dengan senang hati aku akan memilih makan tanpa menu daging. Entah mengapa aku ini sangat menyukai dan mungkin addicted pada jamur. Menurutku jamur itu anugerah Tuhan yang misterius, unik, indah dan sedap. 

Ramadan tahun 2019 silam aku mengikuti kegiatan berbuka puasa bersama di kawasan Kemang, tepatnya di Nusa Indonesian Gatronomy milik chef Ragil Imam Wobowo. Aku datang ke restoran terkenal tersebut untuk mengikuti sebuah kegiatan diskusi bertema "Pangan Bijak" yang pesertanya dari berbagai kalangan mulai dari chef, peneliti, dan pemangku kebijakan. Oh ya, waktu itu ada chef Juna juga lhooo. Nah, kegiatan ini merupakan bagian dari kampanye "Pangan Bijak Nusantara" yang diselenggarakan oleh konsorsium Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang terdiri dari WWF-Indonesia, Hivos, Asosiasi Pendamping Perempuan Usaha Kecil (ASSPUK), Non Timber Forest Product-Exchange programme (NTFP-EP) dan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN). Puncak kampanye "Pangan Bijak Nusantara" ada di tanggal 22 Mei yang bertepatan dengan peringatan Hari Keanekaragaman Hayati Internasional. 

Nah, selesai diskusi dan tibalah adzan Maghrib. Kami berbuka dengan berbagai jenis camilan yang manis, sedap dan tentu saja dibuat dari bahan pangan khas nusantara. Saat tiba waktunya menyantap menu utama, kami mengantri dong di dekat meja prasmanan. Diatas meja kayu yang besar, terhidang 9 jenis lauk yang merupakan adaptasi dari 9 jenis masakan khas nusantara seperti Kohu-Kohu Ikan Asap khas Indonesia bagian timur, menu bebek yang dicampur daun kelor, sate sapi yang empuk, hingga daging kambing yang dimasak khas Aceh. Dari semua hidangan yang menurutku seluruhnya spesial, ternyata ada satu jenis bahan pangan yang sangat spesial. Yaitu, kulat Pelawan (Jamur Pelawan) yang dimasak dengan udang. Aku tahu nama jamur ini saat didekati Pak Azuardi, Manajer Nusa Indonesian Gastronomy.  

"Ini jamurnya nih yang mahal dan istimewa," ujarnya dengan senyum bangga, menunjuk isi wadah alumunium tempat satu jenis masakan tersaji dan memikat mataku, disamping piring kayu berisi Woku-Woku Ikan Asap. 
"Yang bener, Pak?" tanyaku penasaran. Karena sumriangah, Aku mengambil sesendok menu bernama 'Udang Kulat Pelawan Bangka' yang memang berisi udang, jamur dan kentang mini. 
"Jamur ini hanya tumbuh di Bangka. Tumbuhnya di pinggiran pohon Pelawan. Musiman juga. Tumbuh hanya musim hujan yang disertai petir, tapi besoknya harus ada sinar matahari," tambah Pak Azuardi yang membuatku melongo. 
"Wahhhh!" aku terkagum-kagum melihat irisan jamur dalam gulai di piringku. 
"Special icon Nusa Indonesian Gastronomy ya jamur ini. Kita keringkan dulu," tambahnya.
"Wah, Pak! Omong-omong kalau langka begini harganya berapa per kilogram?" tanyaku. 
"Yah, kalau lagi langka bisa sampai 2-3 juta per kilo. Kemarin aja karena sudah langka langsung diambil aja sama Chef Ragil dari rekanan di Bangka," pungkasnya. 
"Wah, saya takjub, Pak. Saya baru tahu kalau ada jamur jenis ini di Indonesia," aku benar-benar merasa sumringah. 
"Iya, enak sekali jamur ini. Dia sekelas white truffle kalau di Eropa," tambah Pak Azuardi. 
"Beneran hanya tumbuh di Bangka ini jamur, Pak?" tanyaku penasaran sembari menikmati kunyahan didalam mulutku, di mana kurasakan begitu sedap rasa kulat pelawan yang dibikin gulai seperti ini. 
"Iya, namanya juga Jamur Pelawan. Dia hanya tumbuh di dekat pohon Pelawan dan pohon itu hanya ada di pulau Bangka. Makanya dia disebut jamur termahal di Indonesia," pungkas Pak Azuardi. 
Ini dia penampakan menu jamur pelawan, udang dan kentang. Jamur Pelawan di piring ini bentuknya tipis memanjang. 
Aku tambahi menu lain karena semua makanan sedap sekali

Nggak lama kemudian, akhirnya aku bisa mengobrol kemudian berfoto dengan chef Ragil. Kepadanya aku berterima kasih karena telah memnghidangkan masakan dengan bahan kulat Pelawan, sehingga aku bisa merasakan betapa lezatnya jamur paling mahal se-Indonesia ini. Chef Ragil dengan ramah mengatakan kepadaku bahwa jamur ini emang istimewa dan boleh lah dianggap sebagai anugerah bagi masyarakat pulau Bangka, karena mencari jamur ini pada musim-musim tertentu menjadi mata pencaharian bagi warga. Harganya yang sangat mahal juga menjadikan jamur ini begitu eksklusif di dunia kuliner tanah air. Sehingga chef Ragil memutuskan bahwa jamur ini menjadi ciri khas restoran yang dibanggunnya bersama sang istri. Ia mengatakan kepadaku bahwa cara memasak kulat pelawan sangat mudah dan bisa dicampurkan dengan protein hewani seperti daging, udang dan ayam; hingga protein nabati seperti tempe. Alhamdulillah, sebagai penyuka jamur dan seakan-akan menjadikan jamur sebagai bahan pangan wajib aku saat memasak (entah menumis, sup, atau bikin sambal) aku merasa senang karena akhirnya bisa merasakan betapa lezatnya masakan berbasis jamur termahal di Indonesia hasil racikan chef Ragil. Jamur Pelawan kini menjadi target menu dietku di masa mendatang eaaaa. 
Akhirnya bisa berfoto bersama chef Ragil. Foto oleh: Lutfi Retno

Sesampainya di rumah, aku segera membuka laptop dan berselancar di internet guna mencari tahu informasi menyeluruh tentang di kulat Pelawan ini. Aku bahkan berkhayal kalau bulan September sebaiknya aku liburan sebulan lamanya di pulau Bangka demi menyaksikan langsung aktivitas masyarakat saat berburu jamur eksklusif ini. Sepulang dari Bangka mungkin aku akan membawa pulang setengah kilogram jamur Pelawan kering yang akan menjadi stock selama satu tahun sehingga aku bisa membuat masakanku menjadi ajaib dan berkelas. (Sayangnya, khayalan ini tidak menjadi kenyataan)

KULAT PELAWAN, EMAS MERAH PULAU BANGKA
Bicara Bangka kita akan ingat dua hal: pertambangan timah dan kisah "Laskar Pelangi" yang keduanya memiliki hubungan sangat erat, yaitu pertalian tak terpisahkan antara penduduk pulau Bangka dengan sejumlah hutan yang menghilang karena digali untuk timah. Bahkan dalam bayanganku, Bangka adalah pulau yang kering kerontang dan sama sekali tidak memiliki hutan. Tapi eh, ternyata ada hutan Pelawan tempat tumbuhnya si kulat Pelawan yang istimewa ini. Saking istimewanya, dia tak akan pernah bisa ditemui di seluruh wilayah Indonesia, bahkan penjuru dunia. Pohon Pelawan dan si jamur merah seakan-akan menjadi karunia khusus yang diberikan Tuhan hanya untuk orang-orang pulau Bangka. 

Hutan Pelawan sebagai habitat dari kulat Pelawan ini merupakan kawasan hutan yang terletak di Desa Namang, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Kepulauan Bangka Belitung. Hutan ini disebut juga sebagai "Hutan Kalung/Kalong" yang berstatus Taman Keanekaragaman Hayati yang statusnya akan diubah menjadi Kebun Raya. Total luas Hutan Pelawan adalah 3000 ha, di mana 253 ha merupakan Hutan Adat dan 47 ha lainnya merupakan hutan wisata bernama Taman Kehati Pelawan/Namang berdasarkan Keputusan Bupati  Bangka Tengah  No. 188.45/403/KLH/ 2013. Hutan Pelawan merupakan saksi hidup tumbangnya hutan-hutan disekitarnya yang telah menjadi konsesi pertambangan timah. Hutan ini ibarat pusaka terakhir hutan hujan tropis di Kepulauan Bangka Belitung. Hutan ini dijaga ketat oleh warga desa Namang sebagai benteng terakhir hutan pulau Bangka, terlebih Pak Zaiwan selaku kepala desa Namang sekaligus tokoh utama penjaga hutan ini menolak perusahaan timah manapun yang menginginkan hutan ini. 
Peta zonai Hutan Pelawan/Hutan Namang di Pulau Bangka

Sebagai benteng terakhir hutan di Kepulauan Bangka Tengah, Hutan Pelawan merupakan ruang belajar bagi kita semua dalam memahami anugerah alam, yaitu di pohon Pelawan dan jamurnya yang hanya tumbuh di musim pancaroba. Pohon Pelawan (tristaniopsis merguensis) merupakan satu spesies dari Myrtaceae. Nah, si tristaniopsis merguensis ini nggak tersebar luas melainkan hanya tumbuh di selatan Myanmar, selatan Thailand, Malaysia, Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Jawa Barat dan Kalimantan. Pohon Pelawan ini biasa digunakan masyarakat pulau Bangsa sebagai bahan membuat kapal, bahan bangungan dan indukan tanaman lada. Uniknya, ada satu jenis pohon Pelawan yaitu jenis tristaniopsis sp di mana akar pohon Pelawan jenis ini ini menjadi semacam ruang tumbuh bagi jamur yang bisa dimakan, yang oleh warga sekitar disebut kulat Pelawan atau jamur Pelawan, karena ia hanya tumbuh diatas akar pohon Pelawan dan memiliki warna semerah pohon Pelawan. Jamur ini digadang-gadang sebagai salah satu produk unggulan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Kabupaten Bangka Tengah yang artinya produk ramah lingkungan alias sustainable
Pengunjung melihat-lihat pohon Pelawan di Taman Kehati Namang, hutan Pelawan. Sumber: Mongabay
Pohon Pelawan jenis tristaniopsis sp tempat tumbuhnya jamur Pelawan. Sumber: fornews.co 
Jamur Pelawan yang siap dipanen, tumbuh diantara akar pohon Pelawan. Sumber: Mongabay

Kulat Pelawan termasuk dalam dunia fungi, filum Basidiomycota, kelas Basidiomycetes, ordo Agaricales, family Baletaceae, dan genus Boletus. Jamur Pelawan ini memiliki payung berwarna campuran merah dan oranye. Jamur ini sangat labil dalam kondisi segar sehingga harus dikeringkan agar memperpanjang masa simpan. Karena jamur ini sangat mahal, sejak 2009 Pemerintah Kabupaten Bangka Tengah dan Institut Pertanian Bogor (IPB) telah bekerjasama guna melakukan sejumlah penelitian agar jamur Pelawan bisa dibudidayakan sebagaimana jamur tiram dan kuping sehingga harga di pasaran bisa lebih murah dan masyarakat luas bisa membelinya. Para peneliti berharap pertumbuhan jamur Pelawan ini bisa dikontrol dan harganya menjadi murah. Namun, sampai saat ini penelitian tersebut belum membuahkan hasil. Jamur Pelawan masih sangat mahal dan sulit dibeli masyarakat kebanyakan. Harga jamur Pelawan kering berkisar antara Rp. 1-1.5/kg juta saat musim panen, dan harganya naik bisa menjadi Rp. 2-3 juta/kg saat penghujung musim panen. Jika total panen setiap tahunnya mencapai antara 400-500 kg (data 2013-2014), berarti perputaran uang dari jamur unik ini berkisar antara Rp. 600-750 juta (jika dihitung harga dari petani, bukan dari pengepul). Secara ekonomi mantap sekali, bukan?

Harga jual yang mahal tersebut mungkin setara dengan betapa uniknya proses kemunculan si jamur. Selain ia hanya tumbuh di sekitar pohon Pelawan yang ada di Bangka, dan tidak di tempat lain; jamur ini hanya bisa ditemukan dalam musim pancaroba. Bayangkan, pada akhir bulan Maret atau September diperlukan waktu spesifik seperti ini agar si jamur tumbuh: hujan deras disertai petir yang sangat kuat menggelegar di langit selama satu minggu, lalu pagi di hari ke delapan langit bersinar cerah, barulah si jamur bermunculan ke permukaan tanah. Kemudian diperlukan waktu 4 hari lamanya sampai si jamur tumbuh besar dan siap dipanen. Masyarakat pulau Bangka sendiri selalu memperhatikan tanda-tanda alam seperti hujan, petir dan cahaya matahari untuk memperhitungkan kemunculan si jamur. Saat perhitungan semua orang dianggap tepat, maka mereka akan bersama-sama masuk ke hutan untuk berburu jamur Pelawan. 

HUTAN PELAWAN SEBAGAI SUMBER PANGAN PULAU BANGKA
Kulat Pelawan mungkin bisa disebut sebagai bahan pangan eksotik yang dihasilkan hutan Pelawan, sebab kabarnya jamur ini tidak tumbuh diantara pohon Pelawan di daerah lain. Ya, seakan-akan jamur ini spesifik dengan tanah pulau Bangka. Penelitian atas jamur ini  semakin gencar dilakukan, termasuk yang hasilnya menjelaskan bahwa pohon Pelawan merupakan kunci keanekaragaman hayati di hutan Pelawan. Nah, jamur Pelawan sendiri merupakan jamur yang tumbuh bersimbiosis membentuk ektomikoriza atas pohon Pelawan. Jamur ini memiliki sumber omega 6 dan omega 9, serta mengandung enam asam amino esensial yaitu valin, metionin, treonin, isoleusin, fenilalanin, dan lisin.  Kandungan biotin dan vitamin C dari jamur Pelawan ialah 27,35 μg/100g, dan 12,46 mg/100g. Sementara hasil analisis kandungan mineral menunjukkan bahwa untuk setiap 1 kg jamur Pelawan mengandung 31,60 g kalium (K); 5,80 g fosfor (P); 0,52 g natrium (Na); 14,88 mg kalsium (Ca); 62,52 mg zat besi (Fe); dan 67,86 mg seng (Zn). Jamur ini juga ternyata merupakan sumber antioksidan alami karena memiliki kemampuan menangkal radikal bebas. Komponen antioksidan  yang  terdapat  pada  jamur  tersebut adalah komponen fenolik (4,77 mg GAE/g bb), β-karoten  (15,37  µg/g bb)  dan  likopen  (6,34 µg/g bb). Wah, Kulat Pelawan ini pangan ndeso, tapi begitu powerful soal memberi nutrisi bagi tubuh ya. 
Salah satu menu khas masyarakat Bangka berbahan kulat Pelawan. Sepertinya sedap ya? 

Jamur bukanlah termasuk ke dalam jenis tanaman dan dalam sistem rantai makanan, jamur lebih banyak berfungsi untuk memakan 'sampah' dari predator dan memprosesnya menjadi nutrisi bagi tanah. Namun, edible jamur memiliki fungsi lebih karena merupakan wild food yang memberi sumbangsih berupa nutrisi yang cukup tinggi dalam diet manusia dan hewan-hewan yang hidup di hutan. Sebagaimana pangan liar lain yang berasal dari hutan, jamur liar seperti kulat Pelawan memberi sumbangsih dibawah 1% bagi kebutuhan kalori yang memberikan mikronutrisi dalam menu makanan manusia. Meskipun demikian, dalam konteks masyarakat pulau Bangka di sekitar hutan Pelawan, jamur ini menjadi sumber pangan bergizi tinggi selain sebagai sumber penghasilan pada periode tertentu setiap tahunnya. Ia juga menjadi semacam icon bahwa ada sumber pangan keren, unik dan bergizi tinggi di hutan seluas 3000 ha. Hutan ini bisa jadi merupakan sebagai penanda food system yang sangat luar biasa, sehingga harus dijaga dari kerusakan. Ribuan masyarakat lokal bergantung pada hutan ini sebagai sumber pangan, meski pangan itu berupa jamur Pelawan. 

Sejumlah penelitian menjelaskan bahwa masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah hutan mengonsumsi sumber nutrisi yang jauh lebih beragam yang berasal dari pangan liar dibandingkan komunitas lain. Studi tersebut bahkan menunjukkan bahwa anak-anak yang tinggal di desa-desa di sekitar hutan mengonsumi pangan yang 25 lebih beragam dari anak-anak yang tinggal lebih jauh dari kawasan hutan. Sehingga isu yang muncul terkait hutan bukan hanya melindunginya dari deforestasi dan alih fungsi untuk peruntukan lain. Melainkan yang esensi dari semua itu adalah mempertahankan hak masyarakat lokal atas hutan dan tanah adat mereka. Akses terhadap hutan oleh masyarakat setempat, yang tentu saja berbasis kearifan lokal merupakan pilar penting dalam keamanan pangan dan hak asasi manusia atas akses pada sumber pangan. 
Jejaring dalam sistem hutan makanan. Sumber: sherrettfoodforest.org

Bahkan, dewasa ini marak sekali petani yang menggunakan konsep forest food system meski untuk pertanian skala kecil di pekarangan rumah. Forest food system ini merupakan sistem produksi pangan dengan mengandalkan tanaman tahunan seperti buah-buahan alih-alih tanaman musiman. Forest food system ini banyak dikembangkan karena mirip dengan sistem jejaring makanan di hutan, di mana seluruh tanaman didesain tumbuh dalam sebuah lingkungan dengan komponen beragam mulai dari si pohon tahunan sebagai naungan, jamur, hewan-hewan, dan tanaman pangan. Sistem ini memberikan setiap elemen kesempatan untuk melaksanakan tugasnya masing-masing mulai dari kontrol atas cuaca ekstrem dan penyakit, memberi penghidupan pada lebah dan serangga, hingga burung-burung penyebar biji-bijian; penyubur tanah hingga membantu tanah dan pohon menyimpan CO2. Maka pada dasarnya, menjaga hutan adalah menjaga sumber pangan kita sendiri dalam memerangi kelaparan dan kemiskinan, menjaga keseimbangan alam demi menyediakan udara dan air bersih, memelihara rumah bagi banyak sekali mikroorganisme di dalam tanah, serta hewan-hewan lain yang membantu penyerbukan serta menyediakan madu alam; sampai memerangi dampak global perubahan iklim. 

Oh ya, di hutan Pelawan ini ada juga kulat sisik dan madu yang menjadi sumber pangan warga di desa-desa sekitar. Masyarakat sangat mengandalkan sumber pangan liar seperti ini dalam memenuhi kebutuhan gizi keluarga, dan tentu saja sebagai sumber panghasilan yang lain selain bertani/atau kegiatan lain. Dengan demikian, menjaga hutan Pelawan tetap lestari bukan demi kepentingan hutan itu sendiri, melainkan sebagai sumber pangan alami, liar dan gratis yang diberikan alam kepada masyarakat yang tinggal di desa-desa di sekitar hutan. Jika hutan Pelawan habis karena kegiatan non kehutanan, maka kita dipastikan kehilangan banyak hal mulai dari kekayaan keanekaragaman hayati, sumber karbon, hingga lumbung pangan yang menjadi sumber penghasilan warga selama puluhan tahun. 
Seorang perempuan sedang menjemur jamur Pelawan di Bangka. Sumber: Mongabay

Terakhir, sebagai penggemar jamur aku mengajak pembaca untuk turut serta menyukai jamur Pelawan ini. Kalau lagi ada rezeki, bolehlah order jamur tersebut langsung ke pengepul di Pangkalpinang, ibukota Kepulauan Bangka Belitung. Selain membantu perekonomian masyarakat Bangka, juga membantu diri kita sendiri mendapatkan sumber pangan bergizi tinggi, dan tentu saja ini ekskusif karena merupakan wild food. Dengan membeli jamur tersebut, kita turut mendukung masyarakat pulau Bangka agar semakin semangat menjaga hutan Pelawan dari deforestasi atau demi peruntukan lain seperti pertambangan timah. Hutan Pelawan adalah ruang belajar kita tentang forest food system di pulau Bangka. Tentunya, kita semua berharap hutan Pelawan tetap lestari dan si jamur tidak mengalami kepunahan. Kelestarian hutan Pelawan sangat penting dalam mendukung kehidupan berkelanjutan, praktek pangan bijak, menjaga akses masyarakat sekitar pada produk hasil hutan bukan kayu, dan memenuhi hak asasi masyarakat Bangka atas akses terhadap sumber pangan mereka sendiri. 

Menjaga hutan Pelawan merupakan bagian dari upaya memulihkan Indonesia dari kerusakan lingkungan yang begitu massive karena deforestrasi, pembalakan liar, kebakaran hutan, alih fungsi hutan untuk perkebunan monokultur skala besar hingga pertambangan. Rimba terakhir kita harus dipertahankan sebab tanpanya, kita seperti bunuh diri massal. Hutan Indonesia adalah paru-paru dunia dan kita wajib menjaganya agar bisa melanjutkan hidup dengan gembira dan berkelanjutan, selaras dengan alam. Bersama kulat Pelawan, kita jaga hutan pulau Bangka dari kepunahan.  

Jakarta, 16 Februari 2020

Bahan bacaan: 
https://id.wikipedia.org/wiki/Hutan_Pelawan
https://youtu.be/ORmJwcwRXKo
https://www.femina.co.id/food-trend/kulat-pelawan-jamur-termahal-di-indonesia-ini-berasal-dari-tanah-kelahiran-ahok-
https://food.detik.com/info-kuliner/d-3329505/kulat-pelawan-jamur-langka-dari-bangka-yang-muncul-karena-sambaran-petir
https://www.antaranews.com/berita/489036/hutan-pelawan-akan-dijadikan-kebun-raya-bangka
https://www.mongabay.co.id/2015/05/28/mongabay-travel-hutan-pelawan-surga-di-tengah-bangka/
https://www.republika.co.id/berita/gaya-hidup/travelling/17/10/10/oxlosn284-wisata-menyusuri-hutan-pelawan
https://travel.kompas.com/read/2015/09/12/113700527/Serunya.Blusukan.ke.Hutan.demi.Madu.Pahit.Asli.Pelawan
https://regional.kompas.com/read/2009/07/23/00362867/penelitian.terhadap.jamur.pelawan.makin.intensif
https://sumbar.antaranews.com/berita/221897/jamur-pelawan-bangka-tengah-dihargai-rp5-juta-per-kilogram
https://www.researchgate.net/publication/318400208_POHON_PELAWAN_Tristaniopsis_merguensis_SPESIES_KUNCI_KEBERLANJUTAN_HUTAN_TAMAN_KEANEKARAGAMAN_HAYATI_NAMANG_-_BANGKA_TENGAH
https://www.kaskus.co.id/thread/5cde5c7310d2955fc303ed01/berburu-dan-panen-jamur-kulat-sisik-di-hutan-with-video/
https://food.detik.com/info-kuliner/d-4783094/kulat-pelawan-jamur-truffle-indonesia-seharga-rp-4-juta-per-kg
https://www.mongabay.co.id/2019/12/14/foto-para-pencari-jamur-yang-menanti-datangnya-musim-hujan/
https://www.mongabay.co.id/2019/06/16/timah-yang-membuat-wajah-bangka-tidak-bahagia/
https://en.wikipedia.org/wiki/Food_web
https://news.mongabay.com/2019/07/making-room-for-wild-foods-in-forest-conservation/
https://www.researchgate.net/publication/325677063_Kearifan_Lokal_Masyarakat_sebagai_Upaya_Konservasi_Hutan_Pelawan_di_Kabupaten_Bangka_Tengah_Bangka_Belitung




2 comments:

  1. wah baru tahu aku, makasih sharingnya, bisa jadi makanan yang penuh gizi ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seumur hidup, saya juga baru tahu jamur ini tahun 2019 silam. Icip-icipnya nggak marem pula karena si jamur diiris tipis-tipis sebesar pentul korek oleh chef. Makanya jadi penasaran gimana merasakan yang dengan potongan besar dan dalam kuliner asli Pulau Bangka.

      Delete