KASUS DEDY SUSANTO: Kekerasan Seksual Berkedok Terapi Psikologi [Mengapa Korban tidak Melakukan Perlawanan dan Melarikan Diri?]

Perempuan dalam jerakan kekerasan seksual oleh lelaki. Sumber: unceasingwords.com

"Sexual violence is a serious public health and human rights problem."
-WHO-

Publik baru saja dikejutkan oleh pengakuan sejumlah perempuan yang pernah menjadi peserta pelatihan atau seminar atau apalah namanya, yang dilakukan oleh lelaki bernama DEDY SUSANTO bersama sejumlah rekannya, yang ternyata merupakan korban kekerasan seksual. Yang dimaksud kekerasan seksual disini berupa pelecehan seksual (menyentuh anggota tubuh tanpa izin, menggesekkan alat kelamin, mengusap punggung, menciumi rambut, video call sex (VCS), dan mengatakan ucapan cinta pada klien yang baru dikenal melalui direct messenger); hingga pemerkosaan (persetubuhan tanpa consent korban dan dilakukan dalam tekanan yang menggunakan trik psikologi, yang diduga sebagai hipnotis sehingga membuat korban tidak bisa melarikan diri) karena merasa ketakutan. Kasus ini semakin hari semakin memanas layaknya gunung api yang siap memuntahkan laharnya, karena Dedy berusaha menghilangkan jejak diigitalnya bersama sejumlah korban. Ia bahkan mengancam sejumlah korbannya yang SPEAK UP! dengan pasal karet dalam UU ITE. Jika ini terjadi, maka akan mirip dengan kasus Baiq Nuril dan ini bisa menjadi preseden buruk dalam upaya menurunkan angka kekerasan seksual di Indonesia yang saat ini dalam status darurat. 

SIAPA SEBENARNYA DEDY SUSANTO? 
Aku tahu Dedy Susanto yang dikenal sebagai Paduka Bekicot melalui Instagram. Ia merupakan seorang selebgram dengan ribuan pengikut dan telah mendapat centang biru dari pihak Instagram. Dalam pengamatanku, Dedy ini seorang yang punya banyak energi untuk aktif di media sosial. Ia sering posting di Insta feed dan Insta story tentang kegiatannya yaitu training-psikoterapi, selfie dan wefie dengan peserta perempuan, hingga kata-kata yang berkaitan dengan dunia Psikologi dengan bahasa yang mudah dimengerti. Tak heran jika pengikutnya bejibun, trainingnya selalu ramai, buku-bukunya laris di pasaran, dan kolom komentarnya sangat ramai yang menandakan akun Instagramnya punya tingkat engagement yang tinggi. 

Namun, aku meragukan sesuatu tentang lelaki ini. Pertama, dia narsis. Aku pernah kenal dekat dengan lelaki dengan tingkat kenarsisan seperti Dedy dalam kaitannya dengan perempuan. Misal, mengaku jomblo, fakir cinta dan butuh kasih sayang tapi tidak merasa malu apalagi risih untuk memamerkan foto dengan perempuan-perempuan seakan-akan sosoknya merupakan lelaki yang disukai, digemari bakhan digilai perempuan. Kedua, konten Instagram Dedy tidak rapi khususnya berkaitan dengan kata-kata yang berkaitan dengan motivasi berbasis ilmu Psikologi. Konten dibuat berbasis tulisan di Insta Story yang dipasang ulang di Insta Feed. Ini menunjukkan bahwa Dedy tidak punya tim kreatif alias konten kreator yang bertugas memproduksi konten professional. Padahal konten dengan tampilan professional merupakan keharusan dalam marketing sebuah bisnis. Ketiga, aku tidak pernah menemukan keterangan bahwa Dedy dan tim melakukan training-psikoterapi atas nama suatu lembaga berbadan hukum yang bisa dicek keberadaannya baik kantornya maupun website. Oke, untuk website bisa masuk ke pemulihanjiwa.com tapi ya ampun itu website bikin pusing dan sama sekali tidak menunjukkan sebagai portofolio sebuah perusahaan penyedia jasa training psikoterapi dan sebagainya. Ada juga blog dedysusanto.com tapi isinya sangat nggak professional, nggak jelas dan hanya berisi nomor kontak penanggung jawab training di tiap provinsi dan kota. Benar-benar situs yang tidak professional untuk sebuah perusahaan. 
Tampilan website pemulihanjiwa.com dan status insecure site.

Saat aku mencoba masuk ke situ pemulihanjiwa.com, tampilan websitenya berantakan dan sejumlah pages/halaman dalam keadaan error (mungkin karena sedang diakses ribuan orang atau bagaimana, entahlah. Atau memang tampilan websitenya begitu). Namun, dalam website tersebut terdapat sejumlah keterangan bahwa tim Dedy memberikan layanan inhouse-training di perusahaan, seminar parenting, terapi anak dan banyak lagi. Training psikoterapi ala Dedy ini bernama "Training Magnet Keajaiban" yang katanya bisa melapangkan hati dan rezeki. Selain mengikuti training, peserta juga dianjurkan membeli buku seri Pemulihan Jiwa dan CD (entah apa isinya). CD yang dijual memiliki tema khusus seperti CD Terapi Ikhlas, Terapi Penyembuhan Psikosomatik, Mantra Keajaiban, Magnet Sukses, dan Magnet Jodoh. Eh btw, Dedy bikin terapi Magnet Jodoh tapi dianya sendiri jomblo dan malah menjadi pelaku kekerasan seksual pada klien, sangat kontradiktif dan membingungkan, bukan?  Oke, sampai disini aku tidak menemukan si lembaga berbadan hukum (perusahaan) tempat Dedy bekerja atas nama Magnet Sukses. Apakah mungkin Dedy bekerja tidak menggunakan nama lembaga berbadan hukum? Lantas bagaimana dia membayar pajak atas usahanya tersebut? Dedy bekerja menggunakan perusahaan bodong? 
Penampilan Dedy Susanto dalam video saat menghadiri kuliah umum di Universitas Ciputra

Tidak banyak catatan tentang pribadi Dedy. Informasi di situs forlap.ristekdikti.go.id Dedy berstatus aktif sebagai dosen tetap di Universitas Persada Indonesia Yai dan mengajar mata kuliah Psikologi Profesi, tapi tidak ada keterangan apapun dalam riwayat mengajar ataupun penelitian. Disana hanya ada keterangan bahwa Dedy lulus sebagai Sarjana Ekonomi dari Institut Teknologi dan Bisnis Kalbis pada 2006; lalu lulus sebagai Magister Manajemen dari Sekolah Tinggi Manajemen PPM tahun 2009; dan lulus sebagai Doktor dari Universitas Persada Indonesia Yai pada tahun 2017. Anehnya, saat menjalanan kuliah S3 Psikologi di Universitas Persada Indonesia Yai, Dedy juga kuliah S1 Psikologi di kampus yang sama dan lulus pada 2017. Ya ampun, Dedy mengerjakan Skripsi dan Disertasi secara bersamaan? Trus di mana kita bisa menemukan jurnal internasional Dedy sebagai syarat kelulusan mahasiswa program Doktoral? 
Tampilan akun Instagram Dedy Susanto

Selain bekerja sebagai dosen, Dedy terlihat aktif sebagai motivator atau pembicara melalui training-psikoterapi menggunakan metode pemulihan jiwa. Ia juga kerap diundang ke sejumlah kampus untuk menjadi dosen tamu dan pembicara, bahkah sekelas acara Kick Andy. Pada 2015, Dedy pernah diundang sebagai tamu di acara Kick Andy dan disana ia menjelaskan tentang psikoterapi dengan metode pemulihan jiwa. Selanjutnya pada Mei 2017 misalnya, Dedy diundang untuk mengisi Kuliah Tamu bertema Psikologi Spiritual (spiritual wellness) oleh Universitas Ciputra. Kesibukan Dedy yang lain adalah membuat konten untuk channel Youtube Kuliah Psikologi miliknya. Aku pernah mencoba menonton beberapa videonya, dan malah pusing karena njlimet cara menjelaskannya. Dan yeah, Dedy pernah viral gara-gara mengomentari pernikanan Syahrini dan Reino Barrack pada 2019 silam, kemudian berseteru dengan Young Lex soal lagunya yang dianggap bisa berpengaruh buruk pada psikologis anak-anak dan remaja yang mendengarnya. 


MELAWAN DEDY SUSANTO BERSAMA REVINA VT
"The truth start with suspicion." Mungkin inilah kata yang paling tepat menggambarkan awal mula selebgram Revina VT berhasil membongkar kekerasan seksual yang dilakukan Dedy pada sejumlah klien perempuan yang mengikuti private therapy. Jadi, Dedy Susanto DM Revina untuk mengajak kolaborasi. Tapi, Revina yang Sarjana Hukum ini mencium sesuatu yang mencurigakan di feed Instagram Dedy, di mana Dedy menyatakan bahwa bipolar dan LGBT bisa disembuhkan dengan mengikuti terapi yang dilakukannya. Padahal setahu Revina, Bipolar itu mental illness yang belum bisa disembuhkan melainkan hanya dikontrol. Sementara LGBT sendiri oleh WHO sudah dinyatakan bukan sebagai penyakit, melainkan orientasi seksual. Nah, penyakit mental dan penyakit fisik jelas beda cara menanganinya. Terlebih soal LGBT yang merupakan orientasi seksual. Jika pakar kesehatan dunia saja terbukti tidak mampu menyembuhkannya, masa iya Dedy bisa menyembuhkannya hanya dengan terapi yang dilakukan berjamaah pula macam muhasabah di SMA. 
Sumber: Instagram/RevinaVT

Revina mencoba mengonfirmasi hal ini dengan menanyakan latar belakang pendidikan dan sertifikasi atas profesi Dedy. Bagaimana pun juga seseorang yang melakukan praktek hipnoterapi dan psikoterapi nggak bisa sembarangan, melainkan harus memiliki izin praktek resmi dari lembaga yang resmi juga. Karena Dedy tak kunjung menunjukkan bukti, Revina mulai 'ngoceh' di Insta Story yang akhirnya membawanya pada kenyataan mengejutkan: Revina menerima banyak DM dan email dari sejumlah korban kekerasan seksual Dedy saat melakukan terapi privat. Mengetahui hal ini, Revina lantas mengonfirmasi ke Dedy apakah benar ia melakukan kekerasan seksual pada sejumlah kliennya dan Dedy malah menyatakan itu sebagai fitnah. Dari sinilah, Revina mulai berpihak pada korban dan semakin intens menelusuri latar belakang Dedy karena menurutnya, seorang yang tidak memiliki izin praktek terapi psikologi sama saja dengan melakukan penipuan dan merusak nama baik profesi Psikolog resmi. Terlebih saat Revina membuktikan bahwa sertifikasi Dedy dikeluarkan oleh sebuah perusahaan tabloid dan perusahaan itu angkat bicara dengan mengatakan bahwa lulusan sertfikasi dari lembaganya tidak diperkenankan membuka praktek terapi. Maka kasus ini menjadi viral dan Dedy dihabisi publik melalui hukuman sosial. Dedy diiris tipis-tipis dan kini semua orang memandangnya sebagai predator seks alias penjahat kelamin. 
Terima kasih atas keberanianmu, Revina. 
Sedikit gambaran pengakuan korban. 

Dedy kalang kabut dan panik. Ia mulai berkicau di Instagramnya melakukan pembelaan diri. Ia terus saja mengatakan bahwa dirinya difitnah. Ia terlihat sempat meminta tolong seseorang untuk mendapat back up dari pihak berwenang (Polda), namun seseorang itu menolak menolongnya karena katanya Dedy sudah lama dalam pengawasan polisi dan kasusnya akan booming. Tak habis usaha, Dedy terus menunjukkan bahwa dirinya difitnah dengan berbagai cara (Hm, jika memang merasa difitnah dan dimatikan rezekinya, mengapa Dedy tidak menggunakan pengacaranya untuk menuntut Revina dan masih aja kekeuh melakukan pembelaan via media sosial?). Bahkan ada sedikit fans garis keras Dedy yang mengatakan bahwa Revina telah mematikan rezeki Dedy. Perang terus berlanjut, dan kini sejumlah pihak berdiri di samping korban melawan Dedy. Terakhir, Dedy mengunggah video seorang perempuan di feed Instagramnya (sekarang sudah dihapus) yang menyatakan bahwa dirinya bukan korban Dedy dan mengatakan bahwa Dedy orang baik. Namun, kemudian netizen menemukan fakta bahwa Dedy menggunakan video milik warga negara Thailand dan melakukan pengaturan suara sebagai bentuk penipuan kepada publik. Menghadapi para perempuan pemberani, Dedy is dead meat!

Revina dan masyarakat Indonesia tidak sedang mematikan rezeki Dey Susanto dan timnya. Namun, hanya sedang menuntut seorang kriminal untuk mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatannya, demi melindungi perempuan Indonesia dari kekerasan seksual, dan masyarakat Indonesia dari penipuan berkedok terapi Psikologi. Hal ini sangat biasa dilakukan sebagaimana terhadap tindakan kriminal lain seperti korupsi, pembunuhan, perampokan, pembegalan, pencurian, dan sebagainya. Hal ini bukan pula sebagai ghibah alias menggunjingkan keburukan orang lain. Di zaman digital, media sosial merupakan alat yang powerful dalam melakukan apapun, termasuk mengungkap kejahatan. 

Lalu, kita mungkin bertanya: mengapa akun Instagram Dedy Susanto nggak dilaporkan aja beramai-ramai biar down? Justru itu biarkan saja. Biarkan Dedy melakukan apapun dengan seluruh akun media sosial yang dia miliki. Karena dengan demikian polisi dan publik bisa memantaunya 24 jam untuk melihat 'behavior' dia. Lagian manusia se-Indonesia capturin semua postingan di media sosial dia, karena Dedy berusaha menghilangkan jejak. Just wait and see, and big things will happen very soon. Tuhan Maha Adil dan Dia tak akan melupakan hamba-hambaNya yang membutuhkan pertolongan.


MENGAPA KORBAN DEDY TIDAK MELAKUKAN PERLAWANAN, MELARIKAN DIRI DAN MELAPOR KE POLISI? 
Sejumlah korban mengaku bahwa Dedy memiliki modus khusus saat mengincar korbannya, yaitu hanya dengan mengontak 1-2 orang dari ratusan peserta pelatihan. Korban mendapat DM dan disarankan mengikuti terapi privat yang khusus diberikan untuk menolongnya. Dedy mengincar klien dengan masalah paling berat untuk menjadi korban. Dedy meminta korban membooking kamar baru di hotel tempat kegiatan berlangsung, karena kamarnya tidak mungkin digunakan sebab dalam keadaan berantakan. Selain itu Dedy beralasan bahwa tidak mungkin memesan kamar lain atas nama dia karena akan mempengaruhi nota pembayaraan pada perusahaan (Hmm, mengapa pemesanan kamar seorang motivator dan psikoterapis atas nama Dedy dan bukan atas nama perusahaan? Ini sangat mencurigakan, bukan?). Lalu Dedy menawarkan akan membantu membayar biaya kamar sebesar 75% dan 25% dibayar calon korban. Bahkan, jika calon korban tidak punya uang sama sekali, Dedy menyanggupi membayar biaya kamar secara penuh. Sampai dsini, korban yang punya masalah berat pasti merasa tertolong dong dengan kebaikan Dedy yang sesungguhnya merupakan jebakan. 
Ternyata ini behind the 'niat' terapi pribadi dengan tujuan melakukan kekerasan seksual kepada klien dengan kondisi labil. Syaratnya 'trust' sama Dedy dan inilah yang memerangkap korban. Padahal kan Dr. Psikologi dan motivator nggak boleh melakukan terapi. 

Setelah kunci kamar diperoleh, mereka berdua ada di dalam kamar (Dedy dan calon korban). Sampai disini, cerita korban mulai menunjukkan perbedaan, dalam hal bagaimana detail perlakukan Dedy sesuai dengan masalah yang mereka hadapi. Namun, sebagian besar menyatakan bahwa Dedy meminta calon korban duduk, kemudian Dedy akan mengelus-elus punggung, menciumi rambut, jika calon korban berjilbab maka Dedy akan meminta untuk membukanya, memeluk pinggang, menyentuh anggota tubuh yang lain sampai meremas payudara. Pada korban dengan kekurangan figur ayah, Dedy akan menyarankan korban berbaring di ranjang dan Dedy akan tiduran di sisinya, seakan-akan Dedy berperan sebagai ayah yang memeluk putrinya dan berbaring dalam satu selimut. Sementara kepada korban dengan masalah percintaan, Dedy akan menggesekkan alat kelaminnya dan mengatakan bahwa penisnya nggak terangsang untuk menunjukkan kepada korban bahwa nggak semua lelaki yang menyanyangi korban memiliki hasrat seksual kepada korban. 

Lalu, kepada korban yang lebih labil dan mudah dikendalikan, Dedy langsung tancap gas meminta korban membuka pakaian dan mereka melakukan hubungan badan hingga intercourse. Sampai tahap ini, korban yang alam bawah sadarnya telah dikendalikan Dedy tidak bisa melakukan perlawanan bahkan melarikan diri, meski dalam pikiran mereka mempertanyakan apakah demikian terapi Psikologi selayaknya dilakukan, dan dalam hati mereka menangis. Hanya saat tiba di rumah, mereka baru menyadari telah menjadi korban kekerasan seksual seorang lelaki yang mengaku sebagai terapis. Korban pasti sadar bahwa melaporkan kasus ini bagai buah simalakama, sebab kamar aja dipesan atas namanya, bukan atas nama Dedy. Sepintas, polisi akan mengira bahwa korban dan Dedy memang melakukan hubungan seksual suka sama suka dan bukan dalam pengaruk trik Psikologis. Kondisi ini tentu sangat menyakitkan, memalukan dan bikin stress. 

Dalam sebuah video berjudul "Syarat Khusus untuk Terapi Psikologi Private dengan Dedy Susanto" di channel Youtube milik Dedy membuktikan dugaan penyalahgunaan posisi Dedy sebagai motivator dalam menjebak korban. Dalam video yang diunggah tanggal 22 Oktober 2018 silam, berulangkali Dedy menegaskan bahwa terapi privat hanya bisa dilakukan dengan modal 'trust' alias klien percaya penuh kepada Dedy. Jika kita membaca sejumlah keterangan korban, dalam terapi privat tersebut Dedy memang meminta korban untuk melakukan apapun yang Dedy katakan agar terapi berjalan dengan baik dan korban mendapatkan kesembuhan. Dedi menempatkan dirinya sebagai pihak 'superior' yang berkuasa penuh atas pemikiran dan tubuh korban, sementara korban menjadi 'inferior' yang tidak lagi mampu menggunakan pemikirannya untuk menolak perintah dan tindakan Dedy yang membuat mereka tidak nyaman dan ketakutan. Disini, terjadilah abuse of power dan ketimpangan relasi kuasa antara terapis dan klien. Dedy berpikir dirinya begitu berkuasa atas korbannya. 

Dalam website pemulihanjiwa.com aku melihat jadwal pelatihan Dedy dkk di berbagai kota di Indonesia, di mana di setiap kota ada contact person masing-masing. Setiap minggu dipastikan ada training pemulihan jiwa di setiap kota. Artinya, minimal Dedy melakukan terapi private pada 4 korban setiap bulannya (bisa jadi lebih), yang dengan ini kita bisa menduga bahwa minimal Dedy melakukan kekerasan seksual kepada 4 kliennya dalam sebulan, dan mungkin lebih jika ia juga menyasar non-klien yang mengikuti training. Bayangkan, dalam setahun Dedy bisa saja telah melakukan kekerasan seksual kepada sekitar 48 orang perempuan. Nah, jumlah itu dikali lagi dengan jumlah tahun bisnis yang Dedy jalankan. Kita bisa buat perkiraan kasar: jika dalam sebulan Dedy melakukan kekerasan seksual kepada 4 perempuan, maka jumlahnya menjadi 48 orang dalam setahun, dan menjadi 192 orang dalam 4 tahun (2015-2019). Perkiraan ini aku buat karena tahun 2015 Dedy sudah sangat terkenal, menerbitkan buku seri Pemulihan Jiwa hingga ia menjadi tamu di Kick Andy. Bukan rahasia lagi jika tamu Kick Andy merupakan sosok yang punay sumbangsih besar dalam masyarakat, dan bayangkan Dedy Susanto masuk ke dalam golongan ini. Dalam kasus ini, Revina ibarat pembuka tutup botol yang memantik rahasia di dalam botol untuk membebaskan dirinya, mencari jalan agar masalah ini diketahui masyarakat luas. 
Koban bersatu dan SPEAK UP! bersama. Dedy bisa apa? 

Apa yang dilakukan Dedy Susanto dalam mengendalikan alam bawah sadar korbannya sehingga mereka manut meski dalam keadaan ketakutan? Kupikir pertanyaan ini hanya para Psikolog yang bisa menjawabnya. Namun, kedepan kita butuh tahu data usia, data keluarga dan kondisi finansial korban Dedy Susanto secara umum untuk bisa melihat mengapa Dedy mengincar korban dengan latar belakang tertentu. Dedy menarget perempuan lemah, dalam kondisi bingung, ketakutan, sedih, putus asa, kehilangan figur ayah, punya childhood trauma, dan terjebak masalah finansial. Parahnya, ternyata ada korban Dedy juga yang merupakan korban KDRT dan pemerkosaan. Ini tuh kayak serigala berburu domba yang pincang, nggak bisa lari, dan sakit; jadinya nggak bisa melawan apalagi melarikan diri. 

Karena, secara logika Dedy akan kesulitan mengincar perempuan yang memiliki kekuatan dalam konteks keterbukaan berpikir, ketegasan bersikap, kemerdekaan finansial dan nama besar keluarga. Dedy nggak mungkin mampu berbuat jahat pada anak perempuan pejabat sekelas Menteri atau Jenderal, bukan? Kalau Dedy menyasar anak perempuan sekelas Jenderal, dia pasti udah mati ditembus peluru. But yeah, kita nggak perlu Jenderal buat menghabisi Dedy dengan peluru. Alam semesta mengirim Revina sang rakyat biasa tapi memiliki keberanian luar biasa! Senjatanya: SPEAK UP!

Jadi, kasus ini mengajarkan kita hikmah yang sangat penting: bahwa perempuan harus mendidik dirinya sendiri untuk menjadi pribadi yang kuat, berani SPEAK UP!, mandiri secara finansial, tidak bergantung kepada orang lain dalam menyelesaikan masalah, dan berani mengatakan 'TIDAK!' untuk segala jenis terapi aneh yang melanggar keamanan atas pikirannya, jiwanya dan tubuhnya. Setelah ini kita juga bisa memikirkan kemungkinan berlatih bela diri ala murid-murid IP Man sehingga ya bisa menghabisi lelaki bajingan macam Dedy dengan sebuah tendangan maut. 


PAHAMI APA SAJA BENTUK KEKERASAN SEKSUAL
Mungkin selama ini kita sering bingung saat memperoleh berita/informasi terkait kekerasan seksual, karena seringkali banyak konten berita menggunakan kata 'pelecehan seksual', 'kekerasan seksual' hingga 'kejahatan seksual' dan tak jarang menggunakan 'perkosaan' dan 'pemerkosaan'. Wajar sih kalau bingung dan kita harus mempelajarinya agar tidak bingung. Sekarang, mari kita pelajari dengan singkat apa itu kekerasan seksual dan sebaiknya kita juga mengenal bentuk-bentuk kekerasan seksual.  Definisi kekerasan seksual dari Komisi Nasional Perempuan (Komnas Perempuan) adalah: 

"Setiap perbuatan merendahkan, menghina, menyerang dan/atau tindakan lainnya, terhadap tubuh yang terkait dengan nafsu perkelaminan, hasrat seksual seseorang, dan/atau fungsi reproduksi secara paksa, bertentangan dengan kehendak seseorang, dan/atau tindakan lain yang menyebabkan seseorang tidak mampu memberikan persetujuan dalam keadaan bebas karena ketimpangan relasi kuasa, relasi gender dan/atau sebab lain, yang berakibat atau dapat berakibat penderitaan atau kesengsaraan secara fisik, psikis, seksual, kerugian secara ekonomi, sosial, budaya, dan/atau politik."


Jika merasa tidak puas dengan definisi dari Komnas Perempuan, mari kita pelajari definisinya dari berbagai sudut pandang lain, seperti dari WHO berikut ini, di mana definisinya dipandang dari sudut kesehatan publik (baca DISINI

"Sexual violence is a serious public health and human rights problem with both short-and-long term consequences on women's physical, mental and sexual and reproductive health. Shether sexual violence occurs in the context of an intimate partnership, within the larger family or community structure, or during times of conflict, it is deeply violating and painful experience for the survivor."

Kita juga dapat mengacu pada definisi internasional berikut ini (baca DISINI)
"Sexual violence, but not limited in rape. Although there is no agreed upon definition of sexual violence, commonly apllied ones encompass any act of a sexual nature or attempt to obtain a sexual act carried out through coercion. Sexual violence also includes physical and psycological violence directed at a person sexuality, including unwanted comment or advances, or acts of traffic such as forced prostitution and sexual slavery. "

Nah, setelah paham definisi kekerasan seksual, kini kita juga harus mengetahui bentuk-bentuk kekerasan seksual. Klasifikasi bentuk-bentuk kekerasan seksual ini berasal dari data laporan yang dihimpun Komnas Perempuan sepanjang 1998-2013. Data tersebut yang dijadikan landasan lahirnya draf RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (PKS) oleh Komnas Perempuan yang sudah dibahas di DPR sejak 2014. Dengan demikian, kita jadi paham bahwa bentuk kekerasan seksual itu spektrumnya luas dan tidak melulu pemerkosaan. Sebab, pemerkosaan ada di level paling 'parah' kekerasan seksual. 
Inilah 9 bentuk kekerasan seksual yang terdapat dalam Draft RUU PKS yang mudah-mudahkan disahkan tahun ini

1. PELECEHAN SEKSUAL
Pelecehan seksual adalah kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk tindakan fisik atau non-fisik kepada orang lain, yang berhubungan dengan bagian tubuh seseorang dan terkait hasrat seksual, sehingga mengakibatkan orang lain terintimidasi, terhina, direndahkan, atau dipermalukan. Pelecehan seksual adalah delik aduan, kecuali jika dilakukan terhadap anak, penyandang disabilitas dan anak dengan disabilitas. 

Contoh: Susi sedang duduk menunggu taksi sembari menikmati minuman dingin menggunakan sedotan. Lalu seseorang lelaki memperhatikannya dan berkata kepada Susi bahwa bibir Susi saat minum menggunakan sedotan sungguh seksi sehingga ia berminat ingin mencium bibir Susi. Orang-orang disekitar Susi pun menoleh mendengar pernyataan si lelaki. Hal ini tentu saja membuat Susi sangat malu dan merasa terintimidasi. 

2. EKSPLOITASI SEKSUAL
Eksploitasi seksual adalah kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk kekerasan, ancaman kekerasan, tipu daya, rangkaian kebohongan, nama atau identitas atau martabat palsu, atau penyalahgunaan kepercayaan, agar seseorang melakukan hubungan seksual dengannya atau orang lain dan/atau perbuatan yang memanfaatkan tubuh orang tersebut yang terkait hasrat seksual, dengan maksud menguntungkan diri sendiri atau orang lain. 

Contoh: Rina pacaran dengan Rangga selama 3 tahun. Pada suatu hari, Rangga berkata kepada Rina bahwa ia ingin sekali menguji cinta dan kesetiaan Rina padanya. Syaratnya yaitu Rina harus mau melakukan hubungan seksual dengan Rangga agar ikatan cinta mereka semakin erat. Jika Rina menolak maka Rangga mengancam akan meninggalkan Rina karena dianggap Rina tidak benar-benar cinta pada Rangga.  

3. PEMAKSAAN KONTRASEPSI
Pemaksaan kontrasepsi adalah kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk mengatur, menghentikan dan/atau merusak organ, fungsi dan/atau sistem reproduksi biologis orang lain, dengan kekerasan, ancaman kekerasan, tipu muslihat, rangkaian kebohongan, atau penyalahgunaan kekuasaan, sehingga orang tersebut kehilangan kontrol terhadap organ, fungsi dan/atau sistem reproduksinya yang mengakibatkan korban tidak dapat memiliki keturunan.

Contoh: dalam rangka mengatur populasi di kota A dalam kondisi ideal, maka Walikota A membuat sebuah kebijakan yang mewajibkan setiap perempuan menikah yang telah memiliki 2 anak untuk melakukan pengangkatan rahim. Hal demikian dimaksudkan untuk menekan angka kelahiran bayi agar kota A tidak over populasi. 

4. PEMAKSAAN ABORSI
Pemaksaan aborsi  adalah kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk memaksa orang lain untuk melakukan aborsi dengan kekerasan, ancaman kekerasan, tipu muslihat, rangkaian kebohongan, penyalahgunaan kekuasaan, atau menggunakan kondisi seseorang yang tidak mampu memberikan persetujuan.

Contoh: Budiman menghamili pacarnya, padahal mereka masih kuliah dan belum siap menikah dan berumah tangga. Demi menghindari tanggung jawab, rasa malu, rasa bersalah dan ketakutan memiliki anak di luar pernikahan, Budiman memaksa pacarnya untuk mengugurkan kandungannya dengan ancaman akan membunuh sang pacar jika ia tidak melakukannya. 

5. PERKOSAAN/PEMERKOSAAN (Di KBBI keduanya digunakan)
Perkosaan adalah kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk kekerasan, ancaman kekerasan, atau tipu muslihat, atau menggunakan kondisi seseorang yang tidak mampu memberikan persetujuan untuk melakukan hubungan seksual.

Contoh: Bapak Karno memaksa anak perempuannya untuk melakukan hubungan seksual dengan alasan untuk menunjukkan bakti dan kasih sayang sang anak pada orangtua yang telah membesarkannya. Pak Karno mengancam akan membunuh sang ibu jika sang anak menolak melakukan hubungan seksual dengannya. 

6. PEMAKSAAN PERKAWINAN
Pemaksaan perkawinan adalah kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk menyalahgunakan kekuasaan dengan kekerasan, ancaman kekerasan, tipu muslihat, rangkaian kebohongan, atau tekanan psikis lainnya sehingga seseorang tidak dapat memberikan persetujuan yang sesungguhnya untuk melakukan perkawinan.

Contoh: keluarga Pak Harris mengalami kebangkrutan dan terlilit utang hingga Rp. 1 triliun dan hal ini membuat seluruh anggota keluarga stress. Lalu, ada keluarga Burhan datang hendak membantu masalah keuangan keluarga Pak Harris untuk melunasi utang dan memulihkan kondisi perusahaan. Namun, syaratnya Pak Harris harus menikahkan putrinya dengan putra Pak Burhan. Kemudian Pak Harris memaksa putrinya untuk menikah dengan putra Pak Burhan meski sang putri menolak. Pak Harris mengancam akan mengusir sang putri yang dianggapnya menolak menyelamatkan keluarga mereka dengan menikahi putra Pak Burhan. 

7. PEMAKSAAN PELACURAN
Pemaksaan pelacuran adalah kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk kekerasan, ancaman kekerasan, rangkaian kebohongan, nama, identitas, atau martabat palsu, atau penyalahgunaan kepercayaan, melacurkan seseorang dengan maksud menguntungkan diri sendiri dan/atau orang lain.

Contoh: Ibu Ningsih terjebak hutang pada rentenir dan ia harus merelakan rumahnya disita untuk membayar utang-utangnya. Demi membiayai kebutuhan keluarga setelah bangkrut, Ibu Ningsih memaksa anak lelakinya yang tampan dan energik untuk bekerja sebagai pelacur/gigolo. Sang anak menolak karena ia ingin hidup sebagai lelaki baik-baik dan berjanji akan bekerja apa saja untuk membantu keuangan keluarga asal pekerjaan halal. Namun, Ibu Ningsih mengancam akan bunuh diri jika sang anak menolak permintaannya dan mengatakan bahwa sang anak tidak tahu terima kasih. 

8. PERBUDAKAN SEKSUAL
Perbudakan seksual adalah kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk membatasi ruang gerak atau mencabut kebebasan seseorang, dengan tujuan menempatkan orang tersebut melayani kebutuhan seksual dirinya sendiri atau orang lain dalam jangka waktu tertentu.

Contoh: pada suatu hari Gino bepapasan dengan seorang remaja perempuan pada jam pulang sekolah. Gino merasa jatuh cinta pada remaja perempuan itu. Gino tidak mau melepaskan kesempatan emas menjadi pacar sang remaja perempuan, sehingga hampir setiap hari ia menunggu sang perempuan di gerbang sekolahnya dalam upayanya menjadikannya pacarnya. Karena kesal diganggu terus, sang remaja perempuan menolak Gino menjadi pacarnya dengan kasar. Penolakan kasar tersebut membuat Gino marah. Keesokan harinya, Gino bersama sejumlah temannya menculik sang remaja perempuan dan Gino menyekapnya di rumahnya. Gino membalas penolakan sang remaja dengan memerkosanya sepanjang waktu selama beberapa waktu lamanya. 

9. PENYIKSAAN SEKSUAL
Penyiksaan seksual adalah kekerasan seksual yang dilakukan dalam bentuk menyiksa korban. Contoh: Pak Gugun seorang hiperseksual. Sejak menikah, ia harus memukuli istrinya terlebih dahulu sebelum melakukan hubungan seksual. Pak Gugun sangat suka melihat istrinya menangis menjerit-jerit atas siksaannya. Menurut Pak Gugun, ketika istrinya menjerit-jerit demikian tampak seksi dan lemah di matanya sehingga ia menghentikan siksaannya dan memeluk istrinya dengan lembut.

Ini merupakan tingkatan kekerasan seksual dalam piramida rape culture, yang harus kita pahami. 

Sembilan bentuk kekerasan seksual di atas berikut definisinya bisa dibaca di Draft RUU PKS, sementara contohnya merupakan hasil pemikiranku sendiri dalam menafsirkan definisi setiap bentuk kekerasan seksual. Kukira, sebagian besar orang (perempuan dan lelaki) pernah mengalami kekerasan seksual pada bentuk yang paling ringan yaitu pelecehan seksual seperti catcalling, dipandangi, digoda dengan kata-kata tak senonoh saat berjalan kaki, diphoto atau direkam secara diam-diam, dipeluk secara tiba-tiba, dan sebagainya. Jika kita membiarkan pelecehan seksual terjadi, maka kita terancam memperkokoh piramida budaya memerkosa (rape culture). Nah, rape culture ini bisa saja sedang bertumbuh jika kita nyinyir pada korban kekerasan seksual yang dilakukan Dedy Susanto. Lelaki ini memang belum ditetappkan sebagai tersangka, apalagi terdakwa karena proses hukum kasus njlimet begini membutuhkan waktu. But, rumor has it!


LALU, APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA? 
Kita semua tentu saja penasaran mau dibawa ke mana kasus ini, terlebih polisi belum menciduk Dedy. Kita juga masih tidak tahu siapa yang akan menjadi kuasa hukum para korban jika kasus ini masuk ke meja hijau. Saat ini Revina masih menjadi pihak yang bertanggung jawab dan berjanji akan melaporkan kekerasan seksual yang dilakukan Dedy terhadap korban. Hanya para pakar hukumlah yang mengerti pasal berapa dari UU apa yang bisa digunakan untuk menjerat Dedy, berhubung RUU PKS belum disahkan. Kalaulah RUU PKS sudah disahkan, kasus Dedy ini akan lain ceritanya karena negara kita punya kebijakan hukum khusus (lex specialist) untuk menangani kasus kekerasan seksual. 
Revina dalam keadaan skait karena kelelahan bekerja, tapi dia posting surat kuasa kepada tim kuasa hukumnya untuk menindaklanjuti kasus yang menjerat Dedy Susanto. 

Kita tentu saja geram atas kasus ini, dan berpikir kok pihak berwenang lamban karena sampai saat ini Dedy belum diciduk. Proses hukum memang lamban, terutama berkaitan dengan kekerasan seksual. Namun, Revina sedang memprosesnya, dan mungkin pihak lain juga yang tidka kita ketahui. Saat ini, adalah sangat penting bagi kita untuk menolong korban, dengan mengarahkannya mendapatkan terapi akibat trauma sebagai korban kekerasan seksual kepada lembaga dan Psikolog resmi. Saat ini sejumlah lembaga telah membuka dirinya untuk membantu korban dan untuk kepentingan lain terkait kasus ini. Silakan kontal lembaga-lembaga tersebut dan dapatkan perlindungan bagi korban: 

- Lembaga Terapan Psikologi Universitas Indonesia
- Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI)
- Ikatan Psikologi Klinis Indonesia
- Yayasan Pulih
- Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (UPPA) di setiap Polres
- P2PTPA di Kabupaten/Kota

Selain itu, jika publik membutuhkan pendampingan hukum atas kasus ini, bisa juga melaporkannya ke Lembaga Bantuan Hukum (LBH) di setiap kota di seluruh Indonesia. Semua kontak lembaga-lembaga yang bisa memberikan pendampingan korban dan bantuan hukum bisa dicek DISINI. Kita juga bisa menolong korban dengan mendukungnya untuk SPEAK UP! agar kasus ini bisa dipetakan dengan baik dan tidak terkubur. Sikap berani untuk SPEAK UP! juga berguna untuk menghindarkan perempuan yang lain menjadi korban, sekaligus sarana edukasi kepada masyarakat tentang kekerasan seksual berkedok terapi psikologi. Kita harus saling menolong dan melindungia satu sama lain, bukan?

Baca juga: GULABI GANG, Pasukan Wonder Women yang Menghukum Pelaku KDRT dan Kekerasan Seksual terhadap Perempuan di India 

Mengakhiri tulisan ini, aku ingin mengatakan bahwa siapapun orangnya yang berani melakukan kekerasan seksual pada perempuan maka hidupnya akan hancur lebur! Mengapa? Sebab kekerasan seksual pada perempuan merupakan tindakan kriminal menjijikan setara kanibalisme, di mana manusia memakan manusia. Jika pembaca ingin tahu, di Lembaga Permasyarakatan (penjara) para tahanan yang dihukum karena melakukan kekerasan seksual seperti pemerkosaan merupakan tahanan dengan derajat paling rendah. Tahanan lain akan menghabisi mereka sebagai bentuk hukuman sosial karena telah merendahkan perempuan dengan memerkosanya. Perempuan adalah perwujudan keindahan Tuhan sang Maha Pencipta. Maka siapa yang merusak perempuan dengan melakukan kekerasan seksual padanya sama dengan menghina dan melawan Tuhan. Jadi, wajar lah kalau Tuhan menggunakan tangan Revina untuk menghukum Dedy Susanto. Saat ini pihak berwenang mungkin memang belum bergerak untuk menciduk Dedy, meski katanya Dedy sudah lama dalam pengawasan polisi. Namun, masyarakat bisa memberi pelajaran awal kepada Dedy sebagai hukuman sosial. Trus, nggak usah banyak bacot soal Revina mematikan rezeki Dedy, karena pelaku kekerasan seksual pada perempuan harus dihukum! 

Dear Revina VT, terima kasih atas keberanianmu membongkar kasus ini. 
Dear rekan-rekan korban, terima kasih banyak telah berani SPEAK UP! 
Dear Dedy Susanto, segera akui kesalahanmu dan serahkan diri ke pihak berwenang. 
Dear keluarga Dedy Susanto, tolong serahkan Dedy ke pihak berwenang. 
Dear penegak hukum, tolong kasus ini jangan sampai lolos. 
Dear pada Psikolog, terima kasih telah bersedia mendampingi korban.
Dear para pengacara, tolong jadi tim kuasa hukum korban. 
Dear bang Hotman Paris, bersediakah Anda menolong korban? 
Dear masyarakat Indonesia, mari kawal kasus ini agar korban mendapat keadilan. 

Bumi Manusia, 21 Februari 2020

Bahan Bacaan: 
https://dedysusanto.com/
http://pemulihanjiwa.com/
https://www.youtube.com/channel/UCAPxn3WWDiU6RSALGQ70__w/videos
https://www.youtube.com/watch?v=07gMMWhm3Uc
https://www.popbela.com/lifestyle/news/niken-ari/semakin-panas-inilah-kronologi-perseteruan-revina-vt-vs-dedy-susanto/full
https://magdalene.co/story/kasus-dedy-susanto-dan-kerentanan-perempuan-jadi-korban
https://forlap.ristekdikti.go.id/dosen/detail/MTY3RDZBNUItNzk0Ri00RUM2LTk5RUQtN0FFOTVFNzMzREE4/0
https://parenting.orami.co.id/magazine/5-fakta-seputar-dedy-susanto/
https://www.youtube.com/watch?v=GLKMdLohFPY
https://www.teropongsenayan.com/109558-azmi-dorong-kepolisian-ungkap-kasus-dedy-susanto-kasus-apa
https://www.uc.ac.id/psy/kuliah-tamu-psikologi-spiritual-wellness/
https://hukum.rmol.id/read/2020/02/17/421771/dosen-ubk-teknologi-informasi-bisa-bantu-ungkap-kasus-revina-vt
https://gaya.tempo.co/read/1309081/heboh-kasus-dedy-susanto-perhatikan-ciri-psikolog-bodong/full&view=ok
https://today.line.me/id/pc/article/Gelar+Doktor+Psikologinya+Dicurigai+Dedy+Susanto+Klarifikasi-k6mgxw
https://gaya.tempo.co/read/1309912/kasus-dedy-susanto-tak-semua-yang-belajar-psikologi-itu-psikolog
https://news.detik.com/kolom/d-4905305/kasus-dedy-susanto-dan-lemahnya-regulasi-praktik-psikologi
https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-4899443/dedy-susanto-bukan-psikolog-meski-gelarnya-doktor-psikologi-ini-bedanya
https://www.klikdokter.com/info-sehat/read/3637241/heboh-dedy-susanto-ketahui-perbedaan-psikolog-dan-psikiater
http://www.dpr.go.id/doksileg/proses2/RJ2-20170201-043128-3029.pdf
https://www.who.int/reproductivehealth/topics/violence/sexual_violence/en/
https://en.wikipedia.org/wiki/International_framework_of_sexual_violence#cite_note-2

https://www.youtube.com/watch?v=N6o0YakZDGs
https://www.instagram.com/stories/highlights/17851664998849803/?hl=en
SPEAK UP for the truth and justice!

-PS: be careful, konten ini dibuat dalam perlindungan The Indonesia Rapist Hunter-

6 comments:

  1. Duh...ini terencana banget ya...,pakai dia yang bayarin gitu.., ..

    Semoga segera bisa diadili..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cek saja videonya di Youtube tentang syarat menjalani terapi private dengan dia, yaitu 'trust' yang menurutku sih lebih berupan kepasrahan korban, bukan kepercayaan. Maka ada terapis resmi melakukan hal kayak begitu. He is moron.

      Delete
  2. Beritanya juga sempet rame di situs Quora mba :( kasihan yang sempat jadi korban :( semoga gak kejadian lagi kaya gini

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kasus kayak gini memang harus diramaikan, biar masyarakat nggak lupa ingatan tentang kasus ini.

      Delete
  3. waw...kasusnya panjang dan dramatis banget. Ayolah netizen kita sama-sama menguak kejahatan jangan sampe pelaku kejahatan apalagi kejahatan sexual ini terus berkeliaran dengan bebas.
    Saya sih heran aja orang yang sakit kebanyakan orang-orang yang latar pendidikannya bagus. Sto kekerasan sexual!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada informasi baru tentang sosok Dedy dan bagaimana dia memulai bisnisnya dengan memanfaatkan orang-orang stress di Jakarta. Informasi ini menarik jika dikaji lebih jauh untuk melihat bagaimana Dedy memanfaatkan masalah orang lain sebagai peluang bisnis. Namun, informasi tersebut harus dicek kebenarannya. Karena fokus kita adalah memastikan bahwa kasus kekerasan seksual yang dilakukannya kepada klien perempuan Dedy diproses dengan adil oleh pihak berwenang.

      Delete