JACK TURNER: Sejarah Rempah dari Erotisme sampai Imperialisme

Sejarah rempah yang membuka tabir tentang dunia manusia


"Setelah tahun 1500, tidak ada lagi lada yang dapat 
dimiliki di Kalikut tanpa adanya pertumpahan darah."
-Voltaire, dalam sebuah esai yang dipublikasikan tahun 1756-


Hidup adalah keajaiban. Banyak hal tersaji dalam kehidupan sebagai sesuatu yang menantang untuk dipelajari, dikagumi dan menjadi bahan cerita. Salah satu hal paling menarik dalam hidup adalah bumi sebagai tempat hidup. Kita, manusia yang hidup di abad ke 21, yang telah mewarisi banyak sekali informasi dari pendahulu kita di masa lampau tetap saja merasa belum bisa memahami dengan benar kekayaan bumi. Terlebih para pendahulu kita yang mungkin pengetahuannya tidak secanggih zaman sekarang. Hal ini bisa kita pelajari dari sejarah tentang rempah-rempah, pemikat hasrat manusia. 

Tahun lalu aku mendapatkan buku berjudul "Sejarah Rempah dari Erotisme sampai Imperialisme" yang ditulis oleh Jack Turner, seorang lelaki yang memiliki minat sangat tinggi dalam kajian klasik dan hubungan internasional. Meski ini buku pertamanya, namun kupikir dia sukses memikat pembaca dengan teknik menulis seperti sedang mengobrol di warung kopi. Sebagai lelaki terpelajar dan cerdas yang menyandang gelar Ph.D dari universitas Oxford, ia memiliki talenta dalam menuliskan bahasan berat kelas dunia dengan teknik sederhana, story telling. Seringkali aku tertawa terbahak-bahak saat membaca bagian-bagian tertnetu dalam buku ini, karena sebagai manusia abad 21 aku merasa apa yang dilakukan orang Eropa pada Abad Pertengahan sangat aneh. Suatu waktu di Eropa manusia harus memasukkan bubuk lada ke lubang hidung untuk menyembuhkan penyakit tertentu; atau ada lelaki terobsesi dengan jahe dan lada untuk upgrade kejantanan agar nggak ditinggal istri, serta demo para perempuan di London karena kopi membuat suami mereka kehilangan gairah di ranjang; hingga bangsawan yang terobsesi pamer kekayaan dengan membikin jamuan makan penuh rempah. 

Kukabarkan kepada pembaca sekalian, bahwa buku ini tidak menceritakan perihal rempah-rempah di negeri-negeri seluruh dunia yang pernah eksis di masa lampau. Namun, hanya dilihat dari kacamata orang Eropa pada Abad Pertengahan. Membaca buku ini anggap saja pembaca seolah-olah cicit orang Eropa membaca cerita tentang nenek moyangnya sang pemburu rempah. Konon pada masa itu kuliner orang Eropa aneh dan cenderung hambar. Maklum lah waktu itu kan belum ada kulkas dan makanan cepat membusuk, terlebih daging dan ikan. Teknik memasak juga belum sekeren saat ini, sehingga para Tuan seringkali jadi bahan percobaan menu baru para koki yang jahil wkwkwk. Nah, jika kuliner di istana-istana Raja dan rumah-rumah megah kaum bangsawan aja rasanya nggak enak dan aneh, apatah lagi di gubuk orang miskin. 

Bagi orang Eropa yang belum bersentuhan dengan dunia timur yang eksotis, mereka menganggap bahwa rempah-rempah itu tumbuh di surga, maka wajar jika harganya sangat mahal bahkan selangit. Seorang bangsawan yang bisa membeli rempah sebagai bumbu masak, alat pemicu gairah seksual hingga ramuan pembalut mayat sebelum dikuburkan menjadikannya sebagai cara bersombong diri terhadap bangsawan lain yang akan menyombongkan diri dengan sama menyebalkannya terkait rempah. Sementara orang-orang miskin mungkin hanya bisa terkekeh-kekeh menyaksikan orang-orang kaya super gila yang petantang-petentang karena bisa mengakses rempah-rempah yang eksotis. 

Btw, aku tidak akan panjang lebar membuat tulisan tentang buku ini. Pembaca harus membelinya dan membacanya langsung. Dijamin akan dibuat terpesona dengan bagaimana rempah-rempah bahkan bisa membuat orang-orag Eropa di Abad Pertengahan bertindak sinting dan menyebalkan, termasuk membayar pelayaran super mahal demi mengeruk rempah-rempah lebih banyak dari tanah asalnya. Aku bahkan dibuat terbahak-bahak oleh kelakuan lelaki Eropa zaman itu yang memasukkan irisan jahe ke duburnya sebagai upaya meningkatkan gairah seksual hahahahaha. 

Jakarta, 28 Februari 2020




2 comments: