GULABI GANG: Wonder Women Pembebas Perempuan India dari KDRT, Kekerasan Seksual, Praktek Perkawinan Anak dan Korupsi

The Gulabi Gang. Sumber: frolicsome.wixsite.com


"A strong woman looks a challenge dead in the eye and gives it a wink."
-Gina Carey-


Sampat Pal Devi lahir pada tahun 1960. Ia adalah anak perempuan dari keluarga petani miskin dan kasta paling rendah di Uttar Pradesh, India Utara. Sehari-hari ia melakukan banyak sekali pekerjaan rumah hingga menjaga ladang dari hama burung dan mengawasi sapi-sapi yang sedang merumput. Saat itu dia baru berusia 10 tahun dan merasa heran mengapa ayahnya mengirim saudara lelakinya ke sekolah, sementara ia hanya disuruh menjaga ternak dan kebun, dan menurutnya itu sebuah perlakuan tidak adil. Sampai kemudian ia belajar secara mandiri hingga salah seorang pamannya melihatnya dan memutuskan untuk mengirimnya ke sekolah. Sayangnya, ia hanya bersekolah selama 2 tahun saja, sebatas memiliki kemampuan membaca dan menulis. Pada tahun 1972 saat ia berusia 12 tahun dan tengah menikmati asyiknya bersekolah, Ayahnya memutuskan agar ia keluar dari sekolah dan menikahkannya dengan seorang lelaki penjual es krim yang berusia 25 tahun. Maka ia pun menikah tanpa bisa melawan keputusan keluarganya. Saat berusia 13 tahun ia melahirkan anak pertamanya dan pada usia 20 ia telah memiliki 5 orang anak. Selain mengurus keluarga, Sampat Pal  juga bekerja sebagai petugas di sebuah lembaga kesehatan milik pemerintah. 

Dalam hidupnya Sampat Pal sering sekali menyaksikan Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang dialami banyak perempuan di sekitar tempat tinggalnya; anak-anak yang dinikahkan dibawah umur; hingga pembunuhan para perempuan oleh suami atau keluarganya sendiri. Ia juga menyaksikan bagaimana keluarga-keluarga merasa sial saat para ibu melahirkan anak perempuan; anak perempuan dilarang bersekolah dan harus mengurus rumah, lahan pertanian dan ternak alih-alih belajar. Penderitaan perempuan juga semakin bertambah saat menikah dan tinggal bersama keluarga mertua, karena secara tidak langsung menantu perempuan terutama dari keluarga sangat miskin akan diperlakukan layaknya babu. Penderitaan perempuan yang dibawa dari rumah keluarganya, ditambah lagi di rumah mertuanya atau suaminya. Banyak perempuan bahkan mati dibakar hidup-hidup oleh suami atau kerabatnya sendiri. Hal ini membuat Pal Devi sangat geram, terutama karena pihak berwenang dan pemerintah setempat tidak pernah berusaha memberikan keadilan pada perempuan atas kasus-kasus KDRT yang begitu marak terjadi. Ia merasa bahwa dunia memperlakukan perempuan teramat kejam. 

Pada suatu hari saat ia berusia 16 tahun, Pal Devi pertama kalinya melihat seorang perempuan tetangganya disiksa suaminya sendiri. Pal Devi memohon-mohon pada lelaki itu agar melepaskan sang perempuan namun tak diindahkan. Beberapa waktu kemudian, Pal Devi bersama sejumlah perempuan mendatangi lelaki itu sembari membawa tongkat kayu. Setelah peristiwa penuh keberanian tersebut, Pal Devi bertemu dengan Jai Prakash Shivharey seorang aktivis yang mula-mula membentuk kesadaran Pal Devi untuk memperjuangkan hak-hak perempuan. Pada 1980 saat ia berusia 20 tahun ia mulai membangun pondasi Gulabi Gang alias Genk Merah Muda. Pengalamannya direnggut dari sekolah untuk dinikahkan pada usia anak-anak dan kehilangan kesempatan menikmati masa muda, membuat semangatnya semakin terbakar untuk mempromosikan pendidikan bagi anak-anak dan pemberdayaan perempuan. Sebab, sebagai orang yang tidak mengenyam pendidikan ia sangat paham rasanya tidak mampu memiliki pekerjaan dengan upah bagus yang dapat menopang hidupnya. 
Tampilan muka website Gulabi Gang

Gerakan Gulabi Gang menjadi semacam angin segar bagi para perempuan, khususnya dari keluarga miskin dan kasta rendah seperti Dalit (untouchable caste) dan korban KDRT hingga kekerasan seksual. Namanya dan nama organisasinya semakin populer, seiring semakin banyaknya perempuan yang bergabung bersama Gulabi Gang dengan ciri khas seragam sari merah muda dan tongkat bambu. Mereka yang bergabung menjadi anggotanya merupakan para perempuan korban kekerasan baik itu kekerasan fisik maupun seksual, meski ada sejumlah pendukung mereka yang merupakan kaum lelaki.

Gulabi Geng resmi berdiri sebagai organisasi berbadan hukum pada 2002, oleh Pal Devi dan 5 orang rekannya. Pada 2007 anggotanya mencapai 20.000 orang dan pada 2014 menjadi 400.000 orang yang tersebar di 11 distrik di negara bagian Uttar Pradesh.  Anggota Gulabi Gang merupakan korban KDRT, khususnya kekerasan seksual. Pal Devi pertama-tama mengajarkan kepada para anggota tentang hak-hak perempuan dan bagaimana memperjuangkannya melalui diskusi, dialog, aksi massa hingga mogok makan. Dengan tegas Sampat Pal mengatakan bahwa perempuan harus mampu menyuarakan masalah yang dihadapinya, sebab jika tidak mereka akan mati di tangan anggota keluarganya sendiri. Rasa malu dalam menceritakan masalah yang dialami perempuan tidak akan pernah menyelamatkan perempuan dari kesulitan. Ia mewajibkan seluruh anggota Gulabi Gnag untuk berani bersuara atas nama dirinya sendiri.  Selain melakukan women economic empowerment, Sampat Pal juga melatih anggotanya Lathi, yaitu seni bela diri menggunakan bambu, agar para erempuan tahu cara menyelamatkan diri saat menghadapi suami atau lelaki manapun yang hendak menyakiti bahkan memerkosanya. Para perempuan ini juga melatih kemampuan mereka untuk menangkap masalah-masalah kekerasan terhadap perempuan yang dilakukan oleh suami, atau saudara lelaki. 

Kita mungkin bertanya: apakah Gulabi Gang semacam genk yang mengajarkan kekerasan untuk melawan kekerasan pada perempuan? Ternyata, Sampat Pal dan Gulabi Gang biasanya terlebih dahulu membuat laporan soal kekerasan yang dialami perempuan korban untuk diselesaikan secara hukum. Gulabi Geng akan mengawal kasus kekerasan yang dialami perempuan ke polisi hingga ke pengadilan. Namun, jika petugas berwenang dan pemerintah tidak juga melakukan tindakan yaitu menghukum pelaku kekerasan, maka mereka akan beramai-ramai mendatangi pelaku dan memukulnya dengan tongkat kayu yang mereka bawa. Mereka berharap para pelaku kekerasan terhadap perempuan mau mengubah perilaku mereka dan bisa lebih hormat dalam memperlakukan perempuan, terutama pasangan mereka sendiri. Soalnya, banyak kasus kekerasan yang menimpa perempuan dari kasta rendah justru tidak membuat korban mendapatkan keadilan. Bagi Sampat Pal keadaan ini sangat mengerikan dan menjadikan India sebagai sebuah negara yang sangat tidak aman di dunia, khususnya bagi perempuan. 

Dalam sebuah film dokumenter karya Nishita Jain, tampak Sampat Pal dan anggota Gulabi Gang memaksa pihak berwenang untuk menangkap seorang suami yang telah membakar istrinya sendiri dalam keadaan hidup. Istrinya masih berusia 15 tahun dan ia dibakar karena mengetahui suaminya ternyata memiliki istri yang lain. Dengan melakukan ini, Gulabi Geng sedang mendidik kaum perempuan untuk memberi pelajaran kepada lelaki pelaku kekerasan pada perempuan. Saking kesalnya, Sampat Pal bahkan pernah mengatakan bahwa lelaki pelaku kekerasan seksual berupa pemerkosaan seharusnya digebukin oleh para perempuan, kemudian di jidatnya ditulis "Aku seorang pemerkosa" biar kapok dan bertobat. Kali lain, Sampat Pal menolong sepasang kekasih dari kasta berbeda untuk dinikahkan karena mereka saling mencintai meski ditentang oleh keluarga, dengan tak lupa mengancam si pemuda jika ia berani memukul isterinya. 

KISAH GULABI GANG DI BUKU, FILM DAN LAGU
Karena gerakan GulaBi Gang ini berdampak sangat signifikan bagi masyarakat India, pada 2010 kisah mereka didokumentasikan dalam sebuah film dokumenter berjudul "Pink Saris" oleh Kim Longinotto, seorang pembuat film dokumenter yang berbasis di Inggris. Kisah Gulabi Gang juga diceritakan dalam sebuah buku berjudul "Pink Sari Revolution: a Tale of Women and Power in India" yang ditulis oleh Amana Fontanella Khan seorang penulis yang tinggal di Brussels pada 2013.  Film dan buku tentang Gulabi Gang ini sekaligus hendak menunjukkan, bahwa perempuan bisa membuat organisasi, buku dan film dalam melawan kekerasan yang dialami kaumnya. Dalam menunggu tegaknya keadilan bagi kaum perempuan atas tindakan yang melawan hukum, perempuan bisa menciptakan gerakan dan karya untuk menunjukkan kepada dunia bahwa perlindungan pada perempuan merupakan hak asasi manusia. Siapa yang melawan kekerasan terhadap perempuan atas nama kehormatan keluarga budaya maupun agama, maka dia melawan hukum. 
Poster film dokumenter tentang  Gulabi Gang karya Kim Longinotto

Lalu pada 2014 ada film berjudul "Gulaab Gang" yang kabarnya nggak disetujui Sampat Pal untuk rilis, karena film tersebut bercerita tentang dirinya dan organisasinya, tapi para pembuat film tidak datang kepadanya untuk sowan mengenai materi film. Meskipun demikian, film ini cukup membantu membuka mata dunia mengenai kekerasan terhadap perempuan di India, khususnya Uttar Pradesh. Kemudian pada 2017, sebuah lagu berbahasa Perancis dibuat khusus untuk menghormati kerja-kerja Gulabi Gang yang dinyanyikan dengan apik dan enerjik oleh TAL, penyanyi blasteran Israel-Perancis yang berbasis di Paris. Lagu tersebut berjudul "Des fleurs et des flammes" yang berarti "Bunga dan Api" yang menceritakan para perempuan anggota Gulabi Gang yang siap bergandengan tangan menciptakan perubahan sosial dan kehidupan yang lebih baik bagi perempuan dan masyarakatnya. Pesan lagu tersebut juga seakan mengatakan bahwa perempuan pemberani layaknya seorang ratu merupakan masa depan para lelaki sehingga harus dihargai. Lagunya sangat keren.

Terlahir sebagai Sampat Pal bukanlah pilihan perempuan yang kini berusia 60 tahun tersebut. Namun, Sang Maha Pencipta memberinya kekuatan untuk menjadi pemimpin bagi kaumnya dalam melawan ketidakadilan, dan menumbuhkan kembali benih-benih kebahagiaan dalam kehidupan masyarakatnya. Memimpin Gulabi Gang dengan 400.000 anggota yang semuanya merupakan perempuan miskin tentu tak mudah, terutama karena Uttar Pradesh merupakan wilayah yang dikenal dengan angka paling tinggi atas kekerasan pada perempuan di mana terjadi kekerasan seksual seperti pemerkosaan per 20 menit setiap harinya. Sampat Pal seringkali  bertengkar dengan kaum lelaki pelaku kekerasan hingga aparat kepolisian dan mendapat ancaman. Namun, ia mengatakan bahwa seorang perempuan yang kuat adalah pemenang dari segala bentuk peperangan. Ia menantang lelaki dengan suara lantang dan penuh keberanian. Ia tidak takut apapun, bahkan terhadap Tuhan jika memang di pihak lelaki yang melakukan kekerasan pada perempuan. 

"The Gulabi Gang has stepped into the vacuum left by the state and offers an alternative means of attaining justice." Kata Pal Devi dalam sebuah  wawancara. Sungguh pernyataan yang mengesankan dan penuh keberanian. Saat ini Sampat Pal masih menjalankan organisasi Gulabi Gang, bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, menerima pengaduan dan konsultasi dari banyak perempuan korban kekerasan, melatih anggota Gulabi Gang memiliki kesadaran tentang hak perempuan; mengajarkan para anggota Gulabi Gang menjahit dan membuat kerajinan agar bisa menghasilkan uang; menjamin pendidikan bagi anak-anak dari kasta rendah di sekolah yang dibangunnya dan tentu saja banyak meluangkan waktu dengan 12 orang cucunya, dan sesekali bertengkar dengan suaminya, dan tentu saja melakukan sweeping pada aparat yang korupsi. Bagi Sampat Pal, korupsi di lingkungan pejabat merupakan penghambat tegaknya hukum bagi kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan sehingga harus dihabisi dengan gagah berani. 

"We are a gang for justice," kata-kata yang diucapkan pemimpin Gulabi Gang ini penuh keberanian, kekuatan dan keyakinan, bahwa jalan hidupnya adalah menjadi pembela kaum perempuan yang miskin, lemah, powerless dan diperlakukan tidak manusiawi oleh keluarga mereka sendiri dan negara secara terstruktur. Semua seakan melawan perempuan miskin dan lemah sehingga si perempuan harus bangkit membela dirinya sendiri atau mati.  Jika perempuan miskin yang berasal dari kasta rendah, tidak berpendidikan dan powerless seperti Sampat Pal mampu memimpin sebuah perubahan sosial dalam skala besar, apa yang sudah kita lakukan dalam melawan kekerasan pada perempuan? 
Sampat Pal Devi memimpin Gulabi Gang yang pemberani. Sumber: feminisindia.com

Buatku, Sampat Pal Devi is great! I adore her dan aku kagum pada keberaniannya. 

Terima kasih Sampat Pal Devi dan Gulabi Gang, telah menjadi inspirasi bagi dunia dalam melawan kekerasan pada perempuan, mengakhiri perkawinan anak, melawan korupsi dan memperjuangkan perkawinan yang bahagia antara sepasang kekasih yang saling mencintai. Semoga segala perjuanganmu membuahkan hasil dan perempuan India benar-benar terbebas dari kekerasan terhadap perempuan dalam bentuk apapun. 

Jakarta, 16 Februari 2020
Bahan bacaan:
https://gulabigang.in/history.php
https://en.wikipedia.org/wiki/Gulabi_Gang
https://feminisminindia.com/2017/02/08/pink-sari-revolution-review/
https://www.youtube.com/watch?v=uwrn79eyPRM
https://en.wikipedia.org/wiki/Tal_(singer)
https://www.youtube.com/watch?v=YMnpnd0T4gE
https://frolicsome.wixsite.com/woei-fiona/single-post/2014/11/12/The-Gulabi-Gang
https://www.cultureunplugged.com/documentary/watch-online/play/10997/India--The-Gulabi-Gang
https://www.aljazeera.com/indepth/features/2014/02/gulabi-gang-indias-women-warrriors-201422610320612382.html
http://news.bbc.co.uk/2/hi/7068875.stm
https://starsunfolded.com/sampat-pal/
https://www.dw.com/id/geng-gulabi-perempuan-jagoan-dalam-balutan-pink/g-38189326
https://www.wmm.com/catalog/film/pink-saris/
http://ffc.twu.edu/
https://www.bbc.co.uk/sounds/play/b00wp9tb

No comments:

Post a Comment