XUAN ZANG, Perjalanan Spiritual Biksu Dinasti Tang ke India demi Mempelajari Dharma di Tanah Pangeran Siddharta Gautama

Biksu Xuanzang di tengah gurun. Sumber; bbtwo.com


"The lesson of all scriptures, 
concern only about cultivation of mind."
-Xuan Zang, Journey to the West-



"Journey to the West" alias "Pengembaraan ke Barat" merupakan kisah yang sangat terkenal. Tentang seorang biksu Buddha yang melakukan perjalanan panjang dari China ke India demi mempelajari teks asli ajaran Buddha di India. Masyarakat dunia, khususnya Asia telah lama dimanjakan oleh sejumlah serial dan film tentang perjalanan biksu tersebut yang sebagian besarnya melalui kisah Sun Wukong alias Raja Monyet, dengan si manusia babi dan teman-teman lainnya, yang kisahnya cenderung lucu. Bahkan, tahun lalu aku menyaksikan sebuah film yang secara khusus menceritakan kisah sang Biksu jatuh cinta dengan seorang Ratu di Negeri Perempuan setelah perjalanan mereka dikacaukan oleh dewa sungai. Lucu-lucu gimana gitu filmnya, karena ternyata seorang biksu suci bisa jatuh cinta pada perempuan. 

Sebenarnya, ada tiga orang biksu Buddha yang melakukan perjalanan dari China ke India dengan tujuan yang sama, dan melakukan perjalanan dengan rute yang mirip. Ketiga biksu tersebut adalah Faxian (377-422M), Xuanzang (600-664M) dan Yijing (635-695M). Faxian memulai perjalanan pada tahun 399 ketika berusia 40 tahun. Setelah mencapai India dan belajar selama beberapa tahun, ia melanjutkan perjalanan ke Sri Lanka, lalu melakukan perjalanan laut dan sempat singgah di Palembang atau Jawa sebelum kembali ke China pada tahun 414. Xuanzang melakukan perjalanan pada usia 29 tahun, yaitu tahun 629 melalui jalur darat. Seluruh perjalanan pergi, belajar dan pulang berkisar antara 17-19 tahun. Sekembalinya ke China ia fokus mengembangkan ajaran Buddha atas restu penguasa dan meninggal pada usia 88 tahun. Yijing adalah biksu yang meneruskan perjalanan dua leluhurnya dan memiliki peranan sangat penting dalam pengembangan ajaran Buddha. Bedanya, Yixing melakukan perjalanan dengan jalur laut, dari China ke Palembang, ke Kedah (Malaysia), lalu ke India dan kembali ke China dengan jalur yang sama. Selama perjalanannya, ia telah menerjemahkan lebih dari 400 teks Buddha ke bahasa Mandarin dan dipelajari oleh penganut Buddha di kawasan Asia Timur. 
Rute peerjalanan dan pengembaraan biksu XuanZang. Sumber: www.ancient-buddhist-text.net

Nah, dari ketiga biksu tersebut, yang paling dikenal dan sering dibuatkan film bahkan serial adalah Xuanzang. Kalau dalam serial Su Wukong dia dikenal dengan nama Biksu Tong Sam Chong yang lemah dan harus selalu ditolong ketiga muridnya yang aneh. Film terbaru tentang biksu Xuanzang dibuat tahun 2016 diproduksi oleh dua negara yaitu China melalui China Film Corporation dan India melalui India's Eros International. Meski beberapa kali didaftarkan untuk mendapatkan Oscar, film ini harus puas dengan penghargaan ssebagai "the Best Foreign Language Film" dalam the 89th Academy Awards.

Xuan Zang lahir dengan nama Chen Hui, dari seorang ayah terpelajar pun memiliki jabatan tinggi dan seorang ibu dengan kecantikan yang terkenal. Ia bungsi dari empat bersaudara dan oleh ibunya telah dinazarkan untuk belajar agama Buddha di kuil, sehingga sejak kecil dan ia telah menjadi biksu sejak berusia 13 tahun. Keluarga Xuan Zang yang berpendidikan tinggi sebenarnya penganut Kong Hu Cu, namun tak keberatan saat anak bungsunya belajar Buddha. Terlebih mereka melihat bahwa Xuan Zang sangat cerdas. Dan ketika Dinasti Sui porak poranda, Xuan Zang dan keluarganya pindah ke Chang'an sebagai ibukota Dinasti Tang. Di Chang'an, ia semakin giat mempelajari Buddha di kuil Kong Hui. Kecintaannya pada Buddha dan kesukaannya belajar membuatnya berkeinginan kuat melakukan perjalanan ke Nalanda, India demi mempelajari teks asli ajaran Buddha yang berbahasa sansakerta. Meski dilarang keras oleh gurunya karena sedang terjadi peperangan antara Dinasti Tang dan Turki, ia tidak peduli. Selain masalah peperangan yang ganas dan bandit di Jalur Sutera, kondisi rakyat di banyak negeri juga mengenaskan karena dilanda hama sehingga banyak gagal panen. Tapi, meski Kaisar Taizong melarang seluruh warganya melakukan perjalanan luar negeri khususnya ke wilayah Barat, Xuan Zang keras kepala dan melipir sendirian. Ini sebuah perjalanan yang nekat, yang sebenarnya mendekatkan pada kematian. 

Di awal perjalanan, Xuan Zang dihadapkan oleh sejumlah pembunuhan, hingga dia ditangkap oleh penguasa setempat dan karena tidak memiliki izin melakukan perjalanan ke Barat, ia diminta pulang oleh sang penguasa. Tapi, Xuan Zang kekeuh aja melanjutkan perjalanannya, hingga kemudian ia ditangkap lagi oleh pasukan penguasa tempat yang dilaluinya. Penguasa sebelumnya memberikan maklumat untuk menangkap Xuan Zang agar ia kembali ke Chang'an, namun sikap cinta Xuan Zang pada ajaran Buddha membuat para penguasa itu luluh. Dalam perjalanan yang berat, kekurangan makanan dan minuman, ia maish saja dipertemukan dengan orang-orang baik, seperti seorang Putri dari sebuah suku yang memberikan kepadanya kuda sebagai teman perjalanan. Kuda inilah yang kemudian menjadi penolong Xuan Zang saat pingsan di gurun dan mempertemukannya dengan Raja kecil di wilayah Samarkahad. Disini, Xuan Zhong sangat diagungkan. Sang Raja bahkan memberikan punggungnya untuk menjadi tangga bagi Xuan Zong naik ke mimbar saat memberi pelajaran kepada para biksu. Raja berusaha menahan Xuan Zhong agar biksu tersebut mau tinggal di kerajaannya selamanya. Xuan Zhong menolak karena tujuan utamanya adalah belajar di India. Sang Raja sempat menghukumnya dengan mengurungnya di kamar namun kemudian luluh dan meminta maaf manakala mengetahui bahwa kekuatan hati Xuan Zang tidak bisa ditaklukkan oleh hadiah-hadiah dan kemakmuran di kerajaannya. 

Perjalanan Xuan Zang berlanjut dan ia menyaksikan sendiri bagaimana ajaran Buddha berkembang di tempat-tempat yang dilaluinya, termasuk ia melewati wilayah Bamiyan dengan patung Buddha Bamiyan yang besar (sekarang wilayah Afghanistan dan patung tersebut sudah dihancurkan Taliban pada 2001). Ia kemudian mendapat pengikut dan perjalanan ke India menjadi menyenangkan, meski ada sejumlah pengikutnya yang mati tertimpa longsoran salju. Kemudian mereka berhasil masuk ke India melalui wilayah Jalalabad. Xuan Zang menuju Lumbini, tempat kelahiran Pangeran Siddharta Gautama yang kita kenal sebagai Buddha, dan menyaksikan sendiri pohon Bodhi yang disebut-sebut sebagai tempat Buddha bertapa kemudian mendapat pencerahan. Ia juga sempat ke Kusinagara, tempat sang Buddha meninggal dunia dan kemudia melanjutkan perjalanan ke Nalanda, tempat seuah universitas kuno berada dan disana ia belajar bahasa Sansakerta dan Yogacara. Setelah pelajaran selesai ia kembali ke China disertai dengan rombongan murid-muridnya, dan disambut meriah oleh Raja. Ia juga mendapat dukungan kerajaan untuk menyebarluaskan ajaran Buddha dan mendirikan sekolah agama Buddha Faxiang. Atas permintaan Kaisar ia juga menulis buku tentang perjalanannya ke Barat, yang menjadi salah satu sumber sejarah sejarah Abad Pertengahan di Asia Tengah dan India. 
Buku-buku tentang biksu Xuan Zang

Kisah perjalanan biksu Xuan Zang ini berkembang menjadi semacam cerita rakyat di seantero Tiongkok. Bahkan, novel berjudul "Journey to the West" terinspirasi dari perjalanan Xuan Zang. Namun ya dunia tahu sendiri lah, bahwa cerita dalam novel ini yang kemudian difilmkan lebih banyak menceritakan hal-hal aneh, lucu dan dengan tambahan setan-setan dari dunia gaib yang menganggu perjalanan sang biksu. Namun demikian, kisah sang biksu memberi kita banyak pelajaran tentang kecintaan kepada ajaran agama hingga ke asal muasal agama itu berdiri. Perjalanan Xuan Zang juga memberikan pelajaran penting dalam memahami agama, bahwa agama harus dipahami dengan benar agar kita mengerti saripati ajaran agama itu sendiri, bukan hanya sekadar bangga sebagai penganut agama A. Hal ini ditunjukkan ketika Xuan Zang memasuki wilayah tempat kelahiran Buddha yang ternyata banyak warganya yang beragama Hindu. Ia harus belajar bagaimana menghormati hukum dalam ajaran Hindu, sehingga ketika ia hendak membantu seorang budak terbebas dari hukumannya, ia berbicara langsung kepada Pendeta Hindu dengan lemah-lembut sebagai cara bernegoisasi. Ia juga belajar bagaimana kepercayaan dalam diri seseorang bisa membuat mereka benar-benar tenggelam dalam cinta kepada Tuhan dan kebaikan.

Kalau ini versi novelnya 
Ringkasan tentang biksu Xuan Zang:
Nama lahir adalah Chen Hui. Ayahnya pejabat.
Ia bungsu dari empat bersaudara dari keluarga berpendidikan tinggi
Xuan Zang/ Hsuan-tsang/Huyen Trang/Genjo/Hyeongjang/Jyun Zong
Tumbuh di keluarga penganut Kong Hu Cu, tapi menyukai Buddha
Jadi biksu kecil sejak 13 tahun, resmi jadi biksu saat berusia 22 tahun
Dikenal sebagai Tang Tripitaka Master/ Tang Dynasty Monk 
Juga disebut sebagai scholar/traveller/backpacker
Perjalanan yang ditempul adalah 50.000 li atau 10.000 miles atau
Melintasi 140 negara-negara kecil di Jalur Sutera yang makmur
Membawa dan menerjemahkan 657 teks berbahasa dari India
Menerjemahkan 1330 Dharma ke bahasa Mandarin
Menulis 3 buku khususnya tentang Asia Tengah dan India
Ia biksu yang sangat dihormati di China dan India, sebagai The Greatest Monk
Di China ia juga dikenal sebagai "the inventor of Buddhism in the East"
Ia mendiriakan Faxiang School, berbasis Yogacara (practicing Yoga).
Ia menyembangkan aliran Buddha Mahayana di Asia Timur
Di Nalanda, India dibangun untuknya "Xuan Zang Memorian Hall" pada 1984

Btw, kalau menonton sebuah film aku tuh suka usil memperhatikan hal-hal weird. Misalnya, dalam perjalanan panjang biksu Xuan Zang ini nggak pernah sekalipun terlihat scene di mana ia mengalami kesakitan di bagian kaki, karena lecet lah atau sepatunya jebol. Perjalanan melintasi berbagai tempat dengan jalan kaki pasti kan alas kaki menipis bahkan jebol, dan kaki lecet. Sungguh, film ini menunjukkan bahwa kaki sang biksu sangat sakti. Oh ya, buat pembaca yang ingin mengetahui lebih banyak mengenai perjalanan, kerja dan karya, serta sumbangsih Xuan Zang bagi agama Buddha baik di India maupun kawasan Asia Timur, bisa menggunakan link dalam bahan bacaan, di bagian akhir tulisan ini. Terima kasih telah membaca tulisan ini, semoga bermanfaat dalam memperkaya wawasan kita tentang dunia manusia. 

Jakarta, 8 Januari 2020

Bahan bacaan:
https://phinemo.com/xuanzang-sang-backpacker-dunia/
https://en.wikipedia.org/wiki/Xuanzang
https://en.wikipedia.org/wiki/Journey_to_the_West
https://www.researchgate.net/figure/The-pilgrim-monk-Xuanzang-is-shown-crossing-the-Pamirs-on-his-return-trip-from-India-The_fig5_325069561
https://www.ancient-buddhist-texts.net/Maps/Silk-Routes/Chinese-Pilgrims.htm
https://www.bibliovault.org/BV.book.epl?ISBN=9780226971346
https://libraries.indiana.edu/poster-auspicious-monsters-journey-west-xiyouji
https://www.innerjourneytothewest.com/english/en-resource.html
https://www.slideshare.net/syamsul_noor/travel-records
https://en.chiculture.net/?file=topic_details&topic_id=58
https://www.hisour.com/travels-xuanzangten-thousand-miles-along-silk-road-indian-subcontinent-xuanzang-memorial-16753/
https://www.travelchinaguide.com/silk-road/history/traveler-xuanzang.htm
https://www.travelchinaguide.com/silk-road/history/tang-dynasty.htm
http://www.silk-road.com/artl/hsuantsang.shtml
http://www.globaltimes.cn/content/1010241.shtml
https://www.enajori.com/?p=722
http://factsanddetails.com/china/cat2/4sub8/entry-5449.html
https://artsandculture.google.com/exhibit/travels-of-xuanzang-629-645-ce-xuanzang-memorial-nava-nalanda-mahavihara/nQJS3GyICUOmKg?hl=en
http://factsanddetails.com/china/cat2/4sub8/entry-5453.html
https://depts.washington.edu/silkroad/texts/xuanzang.html
https://www.nnm.ac.in/xuanzang_memorial_hall.html
http://www.acmuller.net/yogacara/thinkers/xuanzang-bio.html
https://www.iep.utm.edu/xuanzang/



No comments:

Post a Comment