The Tale of Heung-Boo, Kisah Heroik Sang Penulis-Revolusioner

Sang Revolusioner. Sumber: themoviedb.org

"Kedudukan Raja dan rakyat jelata adalah setara."
-Jenderal Gakki-

Tahun 1848 di dinasti Joseon (sekarang Korea), tepatnya 14 tahun setelah Raja Heonjong naik tahta kekuatan politik dan perpecahan dalam faksi menciptakan kekacauan di seisi negeri. Rakyat kecil terpuruk dalam kemiskinan dan kelaparan, sehingga sebagian dari mereka memilih memberontak. Rakyat sangat muak pada pemerintahan yang korup dan kerjanya hanya memeras rakyat dengan pajak yang tinggi. Rakyat benar-benar stress. Kelompok pemberontak bersembunyi di wilayah terpencil dan pegunungan agar tidak dihabisi prajurit kerajaan, sementara sejumlah politisi berusaha memanfaatkan kekacauan kerajaan demi menggulingkan sang Raja muda yang lemah, penakut dan belum berpengalaman. 

Ditengah krisis yang melanda Joseon, seorang penulis novel terkenal bernama Yeon Heung Boo sedang asyik memikirkan bagaimana caranya bertemu dengan kakaknya, Nol Boo. Nah, Heung Boo ini sangat piawai menulis cerita-cerita fiksi tentang kisah cinta dan seks sehingga buku-bukunya selalu laris di pasaran. Trus, di zaman itu cerita dalam buku best seller biasanya diceritakan ulang oleh story teller di tengah pasar agar cerita juga dinikmati rakyat jelata dan kaum budak yang tidak bisa membaca. Selain itu, cerita juga seringkali dijadikan tema teater jalanan. Jalanan yang ramai atau pesar tempat berkumpul orang-orang adalah tempat terbaik sebuah kisah diceritakan ulang dengan cara yang seru. 

Pada suatu waktu saat Heung Boo sedang leyeh-leyeh sembari memikirkan tema novel yang akan dia tulis, seorang kenalannya berkunjung ke kediamannya. Temannya itu menyarankan agar Heung Boo menulis kisah yang bisa dibaca seluruh negeri, sehingga dengan sendirinya sang kakak akan menemukannya karena saat Heung Boo jadi sangat terkenal, semua orang akan tahu siapa dirinya. Oh ya, Heung Boo dan kakaknya terpisah 15 tahun silam saat kekacauan terjadi dan kedua orangtua mereka mati terbunuh. Usut punya usut, Nol-Boo merupakan salah seorang pemimpin pemberontak. Nol-Boo punya nama lain yang sangat terkenal di kalangan pemberontak, yaitu Gakki sang pemanah paling tokcer. Dalam rangka membuat sebuah buku paling terkenal demi bertemu kembali dengan kakaknya yang ternyata merupakan seorang pemberontak yang entah bersembunyi di mana, Heong Boo kemudian belajar kepada seorang seorang lelaki bangsawan sekaligus seniman kawakan Joseon yang selalu tampil lusuh bernama Jo Hyuk. Lelaki bernama Jo Hyuk ini ternyata sangat dermawan dan baik hati, di mana dia membangun shelter untuk anak-anak yang orangtuanya mati karena menjadi pemberontak. Ia juga mengajari anak-anak membaca dan menulis. Heung Boo pun datang ke shelter itu demi meminta nasehat kepadanya soal kisah seperti apa yang sebaiknya ia tulis agar buku terbarunya sangat menjadi sangat terkenal.

Disaat Heung Boo sedang mencari ide untuk buku barunya, Menteri Jo tertarik menggunakan kepiawaian sang penulis untuk menciptakan ketidak percayaan pada Raja. Terlebih saat itu, para seniman jalanan kerap menjadikan isu pajak dan kemiskinan akut di Joseon sebagai bahan pertunjukkan mereka sehingga membuat rakyat semakin tersulut hatinya untuk membenci sang Raja yang tidak mampu memberi makan rakyatnya sendiri. Raja Heonjong masih berusia belasan tahun dan memerintah dibawah pengawasan Ibu Suri, sehingga ia merupakan Raja yang lemah. Menteri Jo melihat bahwa buku-buku terlarang karya Heung Boo yang juga disukai rakyat dan penjabat bisa menjadi alat untuk mencuci otak rakyat, agar semakin membenci Raja. Di sisi lain, Heung Boo ternyata baru tahu bahwa Jo Hyuk merupakan adik dari Menteri Jo (Minister of Justice) yang hendak merampas lahan tanaman kentang milik keluarga mereka karena khawatir Raja tahu bahwa ternyata seorang pejabat kerajaan merupakan kakak seorang pembela pemberontak. 

Menteri Jo akhirnya bertemu dengan Heung Boo dan mengatakan bahwa jika ia ingin menjadi penulis terkenal, maka ia harus menuntaskan buku berseri "Book of Prophecies" sehingga rezim yang berkuasa di Joseon akan berganti seketika. Heung Boo menyanggah bahwa dia bisa melakukannya, karena spesialisasinya adalah buku tentang cinta, seks dan skandal yang termasuk dalam kategori buku terlarang karena dianggap dapat merusak moral. Ia tidak tahu bagaimana menulis sebuah buku yang bertema politik. Tapi Menteri Jo mengatakan bahwa ia bisa menulis kisah cinta dan seks sebagaimana biasanya, karena tema itulah yang sangat disukai pembaca. Hanya saja, Heung Boo cukup memasukkan satu isu hoaks titipan Menteri Jo, yaitu "seorang lelaki bernama Kim Eung-jip dari garis keturunan Kim Geumsam akan melakukan pemberontakan dan menjadi raja yang baru." Yang dimaksud adalah Menteri Kim (Minister of War) yang penuh kuasa.  

Lha, Heung Boo malah jadi bingung. Apa sih susahnya nulis kalimat pesanan Menteri Jo di novel erotis buatannya? Tapi Menteri Jo nggak bilang apa alasannya dan malah menawarkan bayaran yang besar, berapapun yang Heung Boo minta. Meski uang tampak sangat menggiurkan, Heung Bo mengatakan kepada Menteri Jo bahwa uang bukanlah segalanya dalam dunianya sebagai penulis. Menteri Jo sangat paham apa ambisi dan mimpi Heung Boo dan mengatakan bahwa justru dengan menulis apapun yang Heung Boo inginkan, dengan menyelipkan satu kalimat hoaks titipannya, maka Heung Boo akan menjadi sangat terkenal dan menginspirasi dunia. Heung Boo yang memang berambisi untuk menjadi sangat terkenal demi bertemu dengan kakaknya menerima tantangan itu. 

Dibantu asistennya, seorang perempuan yang menyamar sebagai lelaki demi belajar menulis, Heung Boo mulai menulis. Ia menyadari bahwa Menteri Jo dan Menteri Kim punya konflik kepentingan sebagai pejabat teras kerajaan. Tetapi yang ingin Hueng Boo lihat sebagai seorang penulis adalah sejauh mana dampak yang dihasilkan jika ia benar-benar menuliskan satu kalimat hoaks titipan Menteri Jo. Ia juga ingin tahu apakah benar kalimat hoaks itu akan membuat bukunya menjadi sangat terkenal dan mengguncang kondisi sosial di seantero Joseon? Karena "Book of Prophecies" ini merupakan buku berseri, maka kalimat hoaks akan diselipkan di seri terakhir. Sebelum buku dicetak sebanyak-banyaknya, maka terlebih dahulu dibacakan oleh story teller di kerumunan massa, semacam teaser gitu deh. 

Buku itu menjadi best seller dan dibaca di mana-mana. Menteri Kim yang namanya tercantum dalam buku jelas murka, sementara Menteri Jo menghadap Raja guna menguji respon raja atas buku yang sedang viral tersebut. Meski Raja mengatakan bahwa dia belum bisa memutuskan kebenaran dalam buku tersebut, Menteri Jo justru menyarankan Raja bersikap bijak karena cerita dalam buku membuat rakyat berada dalam kebingungan. Dalam keadaan bingung tersebut, Ibunya, Ratu Sinjeong mengatakan bahwa agar ia tak mendengarkan nasehat Menteri Jo dan hanya boleh mendengarkan nasehatnya sebagai Ibu Suri. Raja Heonjong yang sudah beranjak dewasa merasa kesal karena harus memimpin dibawah bayang-bayang ibunya dan ia ingin menunjukkan kemampuannya sebagai Raja yang baik dan adil bagi Joseon. Untuk menjalankan sistem check dan re-check, maka Raja Heonjong membuat sebuah maklumat dengan mengubah posisi para pejabat kerajaan, dan tentu saja ini menimbulkan chaos dan desas-desus. 

"Hei Heung Boo, kamu tahu nggak sih kekuatan kata-kata?" tanya Jo Hyuk saat Heung Boo main ke padepokan Jo Hyuk dan Jo Hyuk mengatakan bahwa buku terbaru Heung Boo sudah menciptakan kekacauan di istana dan masyarakat. 
"Halah apa sih? Aku kan hanya sedikit bermain-main dengan kuas dan tinta," jawab Heung Boo. 
"Tapi, kamu paham kan bahwa kata-kata bisa lebih mematikan dari pedang?" tanya Jo Hyuk lagi. 
"Yeahhh aku sering mendengar kata-kata itu," balas Heung Boo. 
"Kalau begitu gimana kamu menulis sesuatu yang sangat heboh dan aku berjanji akan mempertemukanmu dengan kakakmu," tanyang Jo Hyuk. 
"Lha, kan aku sudah melakukannya. Bukankah "Book of Prophecies" lebih tajam dari pedang?" bela Heung Boo. 
"Bukan! Bukan tulisan yang mengabdi pada kepentingan politik. Tapi, buatlah buku satire yang menggambarkan keadaan sebenarnya tentang keadaan rakyat negeri ini. Jangan menulis untuk popularitas. Menulislah untuk tujuan yang lebih bermartabat," tukas Jo Hyuk. 
"Kamu kan janji akan mempertemukan aku dan kakakku," pinta Hueng Boo. 
"Nah, bukankah kisahmu dan kakakmu merupakan kisah yang juga dirasakan rakyat negeri ini? Tragedi yang memisahkan kakak dan adik saat negeri dilanda kekacauan," tawar Jo Hyuk. 
"Tapi kan aku ini seorang penulis yang menceritakan hal-hal indah dan menyenangkan. Ngapain aku menulis tentang tragedi?" tanya Heung Boo. 
"Ya ampun kamu lucu sekali!" Jo Hyuk tertawa.
"Yahhhh tragedi aku dan kakakku kan sudah lama sekali. Bagaimana bisa aku menulisnya?" Heung Boo masih bingung. 
"Bagaimana kalau kamu menulis tentang aku dan kakakku? Optimalkan saja bakatmu," tawar Jo Hyuk. 

Sebagai penulis kondang yang sedang kebingungan, Hueng Boo mencoba memetik hikmah dari keadaan di sekitarnya, seperti rakyat yang kesulitan mendapatkan makanan dan biaya untuk ke dokter; perampasan hasil panen kentang oleh Menteri Jo di lahan keluarga yang disengketakan; seorang majikan yang memukul budaknya karena memasak beras busuk tanpa izin dan hal-hal mengerikan lainnya dari kemiskinan. Heung Boo terpaksa belajar keras memahami maksud bahwa burung swallow bisa membawa harapan, karena dalam keadaan lapar dan miskin, bahkan rakyat jelata nggak bisa berharap burung swallow dapat memberikan mereka harapan, sebab harapan selalu dirampas oleh para penguasa tamah seperti Menteri Jo dan Menteri Kim. Hm, kira-kira harapan semacam apa yang bisa diberikan seekor burung swallow pada rakyat miskin yang membutuhkan tempat tinggal, makanan dan uang untuk melanjutkan hidup? 

"Hei, apa sih harapan setiap orang?" tanya Heung Boo pada asistennya pada suatu sore saat mereka melamun di beranda rumah, karena kehabisa ide untuk menulis. 
"Emas, perak, rumah yang bagus dan makanan. Standar lah harapan manusia mah," jawab sang asisten, enteng.
"Trus, apakah benar burung swallow bisa memberikan harapan?" tanya Heung Boo penuh penasaran.
"Swallow bisa membawa dan menebarkan bibit," ujar sang asisten dengan santai. 

Mendengar kata bibit Heung Boo kemudian melihat atap rumah dari jerami yang ditumbuhi tanaman labu yang sedang berbuah. Buah-buah labu yang tumbuh di atap rumah membuatnya mengerti apa makna bahwa burung swallow bisa memberi harapan. Ya, burung swallow terbang sembari menebarkan biji-bijian ke manapun mereka pergi, termasuk di atap-atap rumah penduduk. Maka, bersama asistennya yang setia Heung Boo mulai mengerjakan bukunya siang dan malam sampai badannya pegal-pegal tak karuan. Ia tidak bisa berhenti karena sedang sangat semangat menulis. 

Maka, buku berjudul "The Tale of Heung Boo" pun terbit, diluncurkan ke pasar dan meledak bagai gunung api yang erupsi. Buku itu merupakan buku satire yang berkisah tentang Jo Hyuk yang membela rakyat kecil versus kakaknya Menteri Jo yang tamak dan merampas panen kentang. Alhasil, buku itu dibaca di mana-mana, hingga masuk ke istana dan dibaca para pelayan, dan tentu saja menjadi bahan untuk pertunjukkan teater jalanan. Pada masa itu, sebuah buku akan dianggap sukses dan memiliki pengaruh besar jika diadaptasi ke dalam seni pertunjukkan dan dinyanyikan oleh anak-anak sehingga menjadi doktrin yang mencekoki seluruh rakyat. Joseon berpesta, mengolok Rajanya sendiri. 
Teater jalanan Joseon pada abad ke 18. Sumber: themoviedb.org

Jo Hyuk menepati janjinya untuk mempertemukan Heung Boo dengan kakaknya, yang merupakan buronan negara paling dicari karena merupakan pimpinan pemberontak. Pertemuan mereka singkat saja karena sangat berbahaya. Sayangnya, sekembalinya dari perjalanan itu, asisten Heung Boo disekap oleh Menteri Kim yang menduga bahwa Menteri Jo telah membayar Heung Boo untuk menulis kalimat hoaks tentang dirinya dalam buku "The Book of Prophecies". Karena buku ini menjadi semacam skandal politik, maka semua pihak yang terlibat baik penulis dan kedua Menteri dihadapkan pada Raja untuk disidang. Kedua Menteri dan faksi saling menuding satu sama lain, sementara Heung Boo sang penulis jadi kebingungan. Terlebih, saat Menteri Jo mengorbankan adiknya sendiri Jo Hyuk agar kebenaran lenyap dari Joseon. 

"Wahai Raja, aku hanyalah seorang biasa yang berusaha membantu mereka yang lemah. Rakyatmu memimpikan perubahan. Jika mimpi seperti ini adalah sebuah pemberontakan, maka betul aku adalah seorang pemberontak!" Jo Hyuk berlutut di hadapan Raja dan para Menteri. Ia juga dengan tegas mengatakan bahwa kakaknya, yaitu Menteri Jo merupakan manusia tamak yang tidak peduli pada penderitaan rakyat. Maka, meski terlahir dari rahim yang sama, Jo Hyuk mengaku tidak menganggap Menteri Jo sebagai kakaknya. Menteri Jo menjadi sangat murka. Seketika ia mengambil pedang dan menebas leher Jo Hyuk dengan begitu kejam, juga menghabisi asisten Heung Bo. Sebagai kakak yang tamak dan haus kuasa, Menteri Jo membunuh adiknya sendiri dan Heung Boo sang penulis kehilangan asistennya yang setia, seorang budak yang dipungutnya, dibesarkannya dan dididiknya sebagai muridnya. 

Raja Heonjong yang lemah tidak bisa melakukan apa-apa. Menteri Jo semakin berkuasa. Ia menunjukkan kesetiannya pada Raja dengan membunuh adiknya sendiri, dengan alasan menumpas pemberontakan. Setelah peristiwa berdarah di halaman istana, Menteri Jo memproklamirkan perang pada pemberontak dan seluruh pimpinan mereka harus dibunuh di tempat. Dan pimpinan yang paling dicari adalah Jenderal Gakki, nama samaran bagi kakak Heong Boo. Menteri Jo juga berhasil menumpas musuh politiknya dengan membuat Menteri Kim menjalani hukuman mati dengan meminum racun. 

Menteri Jo sangat keterlaluan dan membuat rakyat ketakutan. Tindakannya yang sok kuasa membuat Raja semakin lemah dan enggan menghadiri rapat harian kabinet. Demi membalaskan dendamnya, Heung Boo menjebak Menteri Jo dengan meminta diizinkan melakukan pertunjukkan opera di istana. Heung Boo menjanjikan bahwa Menteri Jo akan mendapatkan apa yang dia inginkan, yaitu kejatuhan Raja Heonjong dan naiknya Raja yang baru. Sementara Menteri Jo beranggapan bahwa Heung Boo hendak menukar kedudukan Raja Heonjong dengan kebebasan kakaknya, Jenderal Gakki. Rencana yang disampaikan pada Menteri Jo adalah bahwa saat replika buah labu raksasa dibuka, Raja akan dibunuh dan seniman opera akan dijadikan kambing hitam. Meski kenyataannya, Heung Boo berencana membuka kedok Menteri Jo dan menunjukkan kepada Raja siapa musuh sebenarnya. Oh, Menteri Jo yang serakah tidak tahu bahwa karirnya akan tumpas! 
Raja Heonjong yang muda dan lemah

Hari pertunjukkan tiba. Raja, Ibu Suri, para selir dan pejabat hadir di istana. Pertunjukkan dibuka dengan sebuah tarian yang sederhana namun sangat indah, sehingga semua orang terpukau. Pertunjukkan dilanjutkan dengan cerita tentang sepasang suami istri miskin yang kelaparan karena hasil panen mereka dirampas Nolbu si rakus. Lalu, dilanjutkan oleh pemeran mendiang ayah Raja Heonjong yang membuat sang Raja terharu sekaligus sedih karena menjadi Raja yang lemah. Saat itulah Raja mendapatkan secarik kertas berisi pesan dari para pemberontak bahwa Menteri Jo justru sedang merencanakan pemberontakan sehingga Raja harus melindungi dirinya sendiri, dengan kembali ke kursinya karena tahta yang kosong sangat diinginkan oleh mereka yang berminat menggulingkan Raja yang sah. 

Episode akhir dari pertunjukkan adalah masuknya rakyat jelata ke dalam istana sehingga membuat Menteri Jo murka. Menteri Jo melihat kesempatan ini untuk membunuh Raja yang lemah. Raja bahkan hanya duduk menyaksikan rakyatnya saling bunuh di depan matanya. Namun, Menteri Jo harus meregang nyawa dengan panah Jenderal Gakki dan pedang Heung Boo. Akhirnya, faksi menteri yang berkuasa berhasil ditumpas dan rakyat memenangkan revolusi, dan Raja Heonjong aman dari percobaan pembunuhan. Era baru pemerintahan Raja Heonjong dimulai. 

MENGAPA FILM INI KEREN DAN MENGGUGAH? 
Pertama, film ini dengan apik menggambarkan kehidupan penulis dinasti Joseon di abad ke-18 yang menurutku eksotis, filosofis dan damai. Film ini mampu menggambarkan dengan baik suasana Joseon kala itu, sebagai sebuah negeri yang masih tertutup dari dunia luar seperti Eropa dan Amerika yang tengah menikmati hasil awal Revolusi Industri. Heung Boo misalnya digambarkan sebagai lelaki aristokrat yang tinggal di rumah yang bagus dan luas, dengan seorang asisten yang sekaligus bertugas sebagai pelayan, tukang sapu, tukang masak dan tukang cuci. Rumahnya sangat nyaman, di mana bisa membuatnya fokus mengembangkan imajinasinya saat menulis. Meski ia merupakan penulis novel kisah-kisah erotis, namun tak satupun scene dalam film yang menunjukkan bahwa Heung Bo merupakan seorang womenizer dan pecandu alkohol. Sebagai penulis kisah-kisah cabul, sosoknya justru ditampilkan sebagai seorang yang berkelas, kalem, bijak dan sangat fokus dalam menulis, seakan-akan ia penulis yang bersih dari skandal. 
Saat teater jalanan tampil di istana dan Raja paham pesan rakyatnya. Sumber: themoviedb.org

Kedua, film ini dengan apik menggambarkan kondisi masyarakat Josen pada masa rezim Raja Heonjong. Film dikemas dengan sederhana dan benar-benar menampilakn hal-hal penting, dan sama sekali menjauhkan hiasan-hiasan nggak penting seperti perempuan Gisaeng, adegan minum alkohol atau adegan seksual Raja dan para selir. Film ini juga mampu dengan apik menghidupkan kembali suasana tradisional Joseon abad ke-18 dengan suasana pasar, kostum, teater jalanan hingga keindahan desa-desanya yang murni. Film ini seakan hendak mengajak penonton untuk menggunakan mesin waktu dan berkunjung ke Joseon yang murni dan permai, meski dalam kedaan miskin dan kelaparan. Termasuk ketika grup teater jalanan tampil di istana dan Heung Boo bertemu langsung dengan Raja Heonjong, yang dengan terang-terangan mendukung pemerintahannya, dan memintanya menjadi Raja yang bijak demi kemakmuran Joseon. 

Akhir film menyatakan kepada permisa bahwa seoang penulis dan sekelompok seniman jalanan bisa berperan dalam urusan politik menurut porsinya, yaitu menjadikan kebenaran ke hadapan Raja agar sang pemimpin bisa membuat kebijakan yang adil bagi rakyatnya. Ya, Heung Boo sang penulis sangat wajar disebut sebagai Sang Revolusioner, karena bukunya mampu menunjukkan kebenaran tentang kondisi Joseon yang harus ditangani Raja dengan adil. 

Ketiga, film ini merupakan satu dari sejumlah film asal Korea Selatan yang berkisah tentang  aspek literasi negara itu, yang mengapresiasi kisah-kisah penulis hebat yang mereka miliki di masa lampau. Film ini dibuat berdasarkan kisah "Heungbu dan Nolbu" yang ditulis di era akhir dinasti Joseon (1392-1897). Meski penulis kisah tersebut tidak diketahui identitasnya, namun ia telah menjadi semacam cerita rakyat yang diturunkan dari generasi ke generasi selama lebih dari 200 tahun, dan pada Korea modern menjadi semacam cerita pengantar tidur yang disampaikan orangtua untuk anak-anak mereka. 
Dua sosok revolusioner dengan caranya masing-masing. Sumber: hancinema.net

Bagiku, cara bercerita film ini sangat indah, intim dan menikam hati, bahkan sampai detail kecil seperti scene burung swallow yang terbang atau gesekan dedaunan di sebuah perbukitan hijau. Para penulis dan mereka yang bekerja di industri film sebaiknya menonton film ini, karena sangat indah dan menyentuh hati. Kita juga dapat memetik hikmah bahwa penulis dan pekerja seni bisa menjadi bagian dari proses revolusi sebuah bangsa menuju kondisi yang lebih baik, yang adil, makmur, sejahtera dan melindungi rakyatnya. Bukankah ini mimpi indah setiap bangsa di dunia? 

"Hei Heung Boo, kamu mau ke mana?" tanya Jo Hyuk dalam percakapan imajiner.
"Oh, aku akan menemui kakakku Nol Boo," jawab Heung Boo.
"Aku iri pada kakakmu," kata Jo Hyuk.
"Hei Pak Jo Hyuk, apakah kamu bahagia?" tanya Heung Boo.
"Bahagia? Apa gunanya bahagia di dunia yang tidak bahagia? Lihatlah burung-burung swallow itu, mereka hanya mengerjakan tugasnya. Kamu pun begitu, lakukan saja tugasmu," pungkas Jo Hyuk. 

Pesan mendalam dari kisah ini adalah: jika kita memiliki talenta, maka gunakanlah untuk sesuatu yang baik dan bermanfaat bagi orang banyak, dan janganlah menggunakannya untuk kerakusan diri sendiri, sehingga bisa merugikan orang lain. Jika memiliki kedudukan bagus, lakukan hal-hal baik. Saat bersama orang-orang baik, lindungi dan sayangi mereka. 

Btw, film ciamik, indah dan mengesankan ini berjudul "Heung Boo: The Revolutionist"

Jakarta, 30 Januari 2020

Bahan bacaan: 
http://www.koreatimes.co.kr/www/opinion/2019/11/739_268946.html
http://www.tparents.org/Library/Unification/Talks2/Kirkbride/Kirkbride-100629.htm
https://www.boboandchichi.com/2014/04/story-heungbu-and-nolbu-may-greatest-folktale-ever/
https://en.wikipedia.org/wiki/Heungbu_and_Nolbu
http://www.korea.net/NewsFocus/Culture/view?articleId=122507
https://www.goodreads.com/book/show/26800880-the-story-of-hungbu-and-nolbu

2 comments:

  1. Dulu waktu tayang, ada banyak yang bahas soal series ini cuma saya entah kenapa kalau menonton series Korea yang masa lampau selalu nggak pernah habis. Alhasil belum kesampaian melihat judul yang ini :D

    Bagus juga ya, pesan ceritanya juga related ke kehidupan kita :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini film, judulnya "Heung-Boo: The Revolutionist" produksi tahun 2018. Aku pakai judul "The Tale of Heung-Boo" agar tulisan ini masuk ke kelompok judul yang populer di Korea Selatan sebagai folklore hehe.

      Delete