Satu Dekade Melawan Miskin Pikiran dalam Diriku Sendiri

Ini foto selfie alias swafoto, makanya bekas jerawat dan kantung mata lenyap hahaha


"All progress takes place outside the comfort zone."
-Michael John Bobak- 


"Kamu sudah hampir 10 tahun merantau di area Ibukota. Sudah dapat apa?" Suatu kali seorang senior bertanya. 
"Ya, kalau harta benda belum ada sih kalau mau kayak orang-orang, mah," jawabku. 
"Trus di Ibukota ngapain aja klo aset aja belum punya?" kejar seniorku. 
"Haruskah setiap pencapaian diukur dari kepemilikan aset?" tanyaku balik.
"Itu salah satu alat ukurnya. Ingat umur. Banyak kesempatan mentok di umur," nasehatnya keras.
"Tapi apakah saya masih hidup dengan waras dan lurus bukan sebuah pencapaian?" tanyaku.
"Itu pencapaian yang bagus ditengah dunia yang gila. Tapi jangan lupa investasi," nasehatnya.
"Baiklah, aku ingat-ingat dulu apa yang patut kuhargai dari hidupku," pungkasku. 

Tahun 2009 aku masih berjibaku dengan pekerjaanku di sebuah NGO lingkungan hidup di Lampung. Tak lupa dibumbui perjuangan menambah penghasilan dengan menjadi member dari sebuah MLM yang bergerak di bidang makanan sehat asal Amerika Serikat, yang kantornya bermarkas di Malaysia. Plus bekerja lapangan tiap weekend dengan menjadi fasilitator outing di sebuah lokasi wisata. Tahun itu aku juga mengajukan aplikasi sebuah beasiswa internasional agar bisa melanjutkan studi ke luar negeri. Dan yipiiiii aku menerbitkan buku pertamaku. Kuakui saat itu aku seorang perempuan yang rajin, tangguh, penuh semangat dan rasanya tidak memiliki rasa lelah. 

Tahun 2010 aku diterima beasiswa International Fellowship Program (IFP) dari the Ford Foundation. Rencananya aku akan melanjutkan studi S2 ke sebuah universitas di Belanda. Paska lebaran, aku dijadwalkan pindah ke Jakarta untuk mengikuti Academic Training selama 6 bulan. Saat itu ada sedikit masalah dengan keluarga dan aku harus menuju Jakarta dalam keadaan banjir air mata. Tetapi aku memilih masa depanku dan sejak saat itu aku tinggal di Jakarta hingga September 2011. Oh ya, aku gagal melanjutkan studi ke Belanda karena satu dan lain hal sehingga harus legowo kuliah di dalam negeri. Meski aku diterima di UGM dan UI, akhirnya aku memilih kuliah di UI, jurusan Ilmu Kesejahteran Sosial. 

Tahun 2011 aku kuliah di Universitas Indonesia, dan 2012 berkesempatan mengikuti short course ke Amerika Serikat, di Negara Bagian Arkansas. Banyak sekali pembelajaran berharga dalam momen internasional ini, yang membuatku malu untuk mengeluh dan tidak bersyukur atas kebaikan dalam hidupku, terutama dalam konteks kemanusiaan. 

Tahun 2013 aku memulai riset lapangan untuk menyelesaikan Tesis dan kembali ke Lampung. Aku belajar sembari bekerja. Dalam belajar langsung di lapangan yang lumayan ganas, aku mendapatkan sekali hikmah tentang betapa mahalnya harga atas akses kepada tanah. Bagia sebagian golongan manusia, tanah mungkin bisa ditebus dengan sejumlah uang. Tetapi bagi sebagian lain tanah adalah nyawa dan harus ditebus dengan darah. Ya, aku melakukan riset di lokasi dengan konflik agraria menahun, yang dalam riwayat provinsi Lampung sebagai salah satu yang paling lama (tidak diselesaikan secara hukum). Di fase ini aku menyaksikan sendiri bahwa menjadi miskin, lemah, tidak berpendidikan, tidak memiliki akses kepada kekuasaan seringkali membuat manusia diperbudak oleh orang lain yang merasa memiliki kuasa. Menyedihkan memang. Dan hal menyedihkan lain adalah aku tidak berniat meneruskan karirku di Lampung, sebab aku baru saja dinistakan dalam kontak hakku sebagai seorang pekerja. Aku memutuskan kembali ke Jakarta. 

Tahun 2014-2015 merupakan fase baik, sekaligus menantang. Aku mendapatkan pekerjaan bagus dengan penghasilan bagus. Dengan pekerjaan ini aku berkesempatan mengunjungi sejumlah wilayah Indonesia dan belajar lebih banyak tentang isu lingkungan, kemiskinan perempuan, tercerabutnya wilayah adat hingga tersingkirnya hak masyarakat lokal atas tanahnya. Namun, tantangannya adalah aku mendapai blakcmail dari rekan kerjaku sendiri. Aku baru mengetahui masalah itu dari eks-klien saat kontrakku sudah berakhir. Pembelajaran baiknya adalah, untung aku tahu setelah pekerjaan selesai, sehingga aku terhindar dari kemungkinan membalas dendam atas kejahatan mereka. Kepada Tuhanku aku berterima kasih karena telah menghindarkanku dari melakukan kejahatan. 

Tahun 2016-2017 merupakan tahun perjuangan berat untuk cinta dan pekerjaan. Aku sangat mencintai dan menyayangi seseorang. Ini fase ketika aku menemukan fakta bahwa diriku adalah perempuan yang sangat penyayang. Aku belum pernah merasakan cinta yang sedemikian tinggi, murni, tulus, bersih dan jujur kepada seseorang. Sayangnya, aku terlalu memeluk erat cinta itu sehingga Tuhanku melepaskanku dari cinta itu dengan paksa. Ia menunjukkan kepadaku hal-hal yang bisa kucerna dengan logika bahwa yang paling kucintai dalam hidup ini mungkin bukan yang terbaik bagi diriku dan masa depanku. Karenanya, aku memilih untuk menyembuhkan diri sembari tenggelam dalam pekerjaan. 

Tahun 2018 merupakan perjuangan lain. Dalam urusan karir aku belajar satu hal dari A-Z sampai seringkali aku merasa kelelahan. Rezeki lancar dan secara keilmuwan aku mendapat banyak sekali keuntungan. Oh ya, aku juga lolos sebagai peserta Danone Blogger Akademi 2018 yang diampu Danone Indonesia dan Kompasiana. Selama belajar baik di kelas maupun di lapangan, aku mendapatkan materi-materi mahal dari narasumber kelas kakap di negeri ini. Program inilah yang menjadi latar belakang perbaikan teknik berpikir dan menulis di blog ini. Aku pun mulai kembali menulis untuk Kompasiana, karena meski bertarung dengan ribuan penulis lain, pembacaku di situs itu sangat banyak. Tahun ini juga aku mengurus masalah personal dengan keberanian tinggi, meski aku mendapat ancaman dan penghinaan. Tetapi, aku tidak takut apapun. Aku hanya ingin menegaskan diriku bahwa aku menolak menjalani hidup sebagai pecundang. 
Menjadi bagian dari kelas ini sangat menyenangkan bagiku. Terima kasih telah memilihku

Tahun 2019 dibuka dengan airmata. Pagi buta 14 Januari seseorang yang kusayangi memaki dan menghinaku melalui pesan WhatsApp, tanpa kutahu apa kesalahanku. Karena aku bukan perempuan lemah, maka aku mengirim email kepadanya agar dia meminta maaf kepadaku. Ini bukan tentang bahwa aku haus akan kata maaf dari orang menyakiti hatiku, melainkan aku ingin kami memberikan penghargaan yang tinggi kepada nilai-nilai kemanusiaan, terlebih dia bekerja di sebuah lembaga yang mempromosikan nilai-nilai masyarakat terbuka. Sepanjang tahun kutunggu ia datang untuk meminta maaf. Namun, ia tidak pernah membalas emailku dan tidak datang. Baiklah, I don't forgive people who don't deserve it. Memberi maaf memang gratis, tapi manusia perlu usaha untuk menghargai manusia lain. 

Ini tahun yang lumayan berat dalam mendidik diriku sendiri untuk terbebas dari miskin pikiran, terutama ketika berharap manusia saling menghargai satu sama lain. Aku menyadari, seringkali manusia dikekang rasa malu dan gengsi dalam dirinya ketika berkaitan dengan urusan personal dengan manusia lain. Tetapi, manusia juga sangat pandai mengenakan topeng untuk tampil baik-baik saja di muka umum, seakan-akan kecamuk dalam diri bukan perkara dahsyat untuk dijalani. Maka dengan kebanggaan kepada diri sendiri, aku menyatakan tahun ini sebagai tahun perjuangan pikiran dan jiwa dalam melanjutkan hidup sebagai pemenang, bukan pecundang. Aku melawan diriku sendiri. 

Bagiku, tahun ini merupakan tahun spiritualitas. Ketika tahun dibuka dengan caci maki, dan aku bisa mencaci maki balik, aku memutuskan menunggu, agar terjadi rekonsiliasi, agar tercipta perdamaian dan kenyamanan. Aku memang sedang tidak beruntung dalam urusan karir, kesehatan dan percintaan, tetapi mungkin aku naik tingkat dalam hal spiritualitas. Selama setahun ini aku mengundurkan diri dari dunia, kecuali untuk urusan pekerjaan. Aku lebih banyak memanfaatkan waktuku untuk membaca buku, menonton banyak sekali film dokumenter, film kolosal hingga drama, menulis isu-isu krusial, tidur, memasak dan merenung. Ada banyak kegiatan yang tidak kuhadiri dan banyak ajakan nongkrong kutolak. Aku bahkan bersikap dingin kepada sejumlah lelaki yang melakukan pendekatan, dan mungkin mereka menganggapku batu. Tak apa, Aku hanya sedang ingin dengan diriku sendiri. Aku sedang ingin lebih mencintai diriku sendiri. Dalam konteks agama, kepalaku dipenuhi banyak sekali pertanyaan mendasar dan ini untuk kepentingan keyakinanku kepada Tuhanku, dan bukan untuk menjadi bahan perdebatan dengan siapapun yang tidak hidup sebagai diriku. 
Ini kado terindah tahun 2019. Terima kasih change.org Indonesia telah percaya bahwa kau bisa menjadi inspirasi

Oh ya, tahun ini hidup memberiku hadiah. Aku terpilih sebagai penerima beasiswa #SheCreatsChange program dari change.org Indonesia bersama 20 perempuan lain dari seluruh Indonesia. Pembelajaran di program ini membuatku menyadari bahwa tidak perlu menjadi besar untuk melakukan kerja besar, sebab banyak kerja besar dimulai dari langkah kecil dan sederhana yang dilakukan dengan konsisten, demi memuliakan alam, kemanusiaan dan kehidupan. Program ini juga kembali mendorongku untuk mulai kembali melukis. Soalnya, setelah jatuh pada Juni 2017, aku berhenti melukis. Tangan kananku selalu tak mampu kugunakan untuk melukis, beberapa kali kebas, bergetar hebat dan pada akhirnya nggak mampu kuajak berdamai membuat karya yang sangat kubanggakan ini. Insya Allah, aku akan kembali melukis agar tahun-tahun mendatang semakin bermanfaat. Kepada Tuhanku aku berterima kasih atas 2019 yang sangat filosofis.
Alhamdulillah, karya dalam satu dekade

Memang, karyaku belum seberapa. Namun, aku belajar bahwa aku tidak boleh merendahkan diriku sendiri dan membandingkan diriku dengan orang lain, sebab yang harus aku jalani adalah menjalani takdirku sendiri. Selain itu, aku juga nggak boleh merasa lebih tinggi atau lebih hebat dari orang lain, yang pencapaiannya masih ada dibawahku, karena sesungguhnya aku nggak tahu tingkat kemuliaan mereka di mata Tuhanku. Alhamdulillah, selama satu dekade ini pemikiranku telah ikut serta diterbitkan dalam 5 buku, dimana empat buku merupakan monografi dan 1 buku solo. Aku juga telah mengikutsertakan lukisanku dalam dua kali pameran, dan melelang 3 lukisan untuk mendukung program pemberdayaan perempuan di Nusa Tenggara Timur (NTT). 


Saat ini, tahun 2020 sudah dimulai. Kali ini aku tidak ingin kemaruk membuat rencana ini-itu. Aku hanya memiliki sejumlah mimpi dan rencana sederhana untuk digenapi. Belajar kepada sungai yang menjalankan tugasnya membawa air dari pegunungan ke samudera, maka tahun ini aku akan menahan diriku dari melakukan apa yang sebaiknya tidak kulakukan; tidak memeluk terlalu kencang sesuatu yang mungkin tidak akan pernah menjadi takdirku; tidak berharap berlebihan atas sesuatu yang mungkin bukan hakku; dan tidak memaksa diriku untuk sama seperti orang lain. Aku spesial. Tugasku spesial. 

Kepada diriku, kuucapkan terima kasih karena raja, jiwa dan pikiran selalu berupaya bekerja sama agar tugasku sebagai manusia berjalan dengan baik. Aku berusaha mencintai dan menghormati diriku, karena hanya diriku yang akan bersama diriku dalam semua keadaan, sementara orang lain hanya bersedia bersamaku jika aku menguntungkan bagi mereka. Aku juga berterima kasih kepada semua pihak yang mencintaiku, mendukungku dan percaya padaku bahwa aku mampu, lebih dari diriku percaya kepada diriku sendiri. Juga kepada siapapun yang mendukungku dalam diam dan dari jauh. 

Rasanya, hidupku tidak pernah menjadi comfort zone. Aku bertarung dengan hidup sejak kecil, bahkan sebelum kedua orangtuaku berpisah saat aku beurmur 5 tahun. Sepanjang 29 tahun sejak saat itu, hidupku selalu merupakan perjalanan naik-turun, membuatku terus berupaya menjalaninya dengan nyaman, bahagia dan penuh syukur. Karena hidupku tidak dimulai dari nol, melainkan melajutkan tahun-tahun yang telah dijalani dengan upaya terbaikku, maka kulangkahkan kaki menuju 2020 dengan bismillah, hanya lillahi ta'ala. Semoga Tuhanku yang Maha Penyayang memudahkan langkahku. 

Bumi Manusia, 10 Januari 2020


No comments:

Post a Comment