Menikmati Eksotisme Sumba Timur Bersama Pendekar Tongkat Emas

Eva Celia dan Nicholas Saputra sebagai pemeran utama film ini. Sumber: mokino.co


Sewaktu film "Pendekar Tongkar Emas" resmi dirilis pada Desember 2014, aku nggak berminat nonton. Kupikir filmnya bakal biasa aja atau bahkan jelek. Nah, seminggu lalu aku malah mendapati film ini di sebuah channel dengan judul internasionalnya "The Golden Cane Warrior" ya udah jadinya nonton. Para pemain film ini tidaklah asing. Mereka aktor dan aktris yang sudah banyak membintangi film tanah air.  Ada Nicholas Saputra (Elang), Eva Celia (Dara), Tara Basro (Gerhana), Reza Rahadian (Biru), Aria Kusumah (Angin), Christine Hakim (Cempaka), Slamet Raharjo (Dewan Datuk Bumi Persilatan), Darius Sinathrya (Naga Putih), dan Prisia Nasution (Cempaka muda). Sementara pemain pembantu tentu saja merupakan warga lokal yang tampak malu-malu atau canggung saat memerankan diri mera sebagai warga di padang rumput Sumba yang luas, liar dan indah. Film ini membawa mimpiki memasuki dunia lain. 

Film ini dibuka dengan prolog dari Cempaka yang telah berusia senja, bungkuk, lemah dan sakit-sakitan dalam perjalanan pulangnya ke gubung tempat ia dan keempat muridnya tinggal. Dalam prolog itu Cempaka menjeskan bahwa keempat muridnya yaitu Biru, Gerhana, Angin dan Dara merupakan anak-anak dari musuh yang berhasil ditaklukannya. Untuk menebus rasa bersalahnya karena telah membunuh begitu banyak orang, maka ia melatih mereka semua untuk menjadi pendekar hebat dengan tujuan mulia, bukan untuk menjadi pendekar paling hebat demi menguasai dunia persilatan. Ia berencana mewariskan jurus "Melingkar Bumi" dan tongkat emas kepasa salah satu muridnya. 
Cempaka sang Pendekar Tongkat Emas

Dalam pertemuan malam dengan keempat muridnya, Cempaka memutuskan mewariskan tongkat emas kepada Dara dan ia berencana membawa melatih Dara jurus Melingkar Bumi di suatu tempat selama beberapa bulan. Atas tujuan itu, ia membawa serta Angin karena bocah itu memiliki kemampuan menyembuhkan penyakit. Maka, Cempaka menitipkan gubuk sederhana mereka kepada Biru dan Gerhana. Rupanya, Biru dan Gerhana ini sudah lama menyimpan dendam kepada Cempaka karena telah membunuh kedua orangtua mereka dan melakukan tipu muslihat untuk membunuh Cempaka serta merampas tongkat emas. Gerhana ahli dalam mendapatkan racun ular dan telah meracuni Cempaka sedemikian lama, meski akhirnya Cempaka bukan mati karena racun melainkan berkelahi dengan mereka. Cempaka mati, sementara Dara dan Angin berhasil melariakn diri. Keadaan ini dijadikan alasan Biru dan Cempaka meminta bantuan kepada Perguruan Sayap Merah untuk mengubur Cempaka, mengangkat mereka sebagai murid, dan mengejar Dara serta Angin untuk merebut tongkat emas. Sayangnya, semua orang percaya bahwa Dara dan Angin adalah penjahat sehingga mereka diburu. 
Para pendekar. Sumber: wellgousa.com

Dara dan Angin sampai di sebuah kampung di mana Elang tinggal, tanpa tahu bahwa lelaki itu adalah anak dari Cempaka dan Pendekar Naga Putih. Sebelum kematiannya, Cempaka memberi mandat kepada Dara untuk mencari Pendekar Naga Putih agar melatihnya jurus Melingkar Bumi. Di lain waktu, Biru dan Gerhana yang semakin tamak dan haus kuasa telah menikah dan menjadi pemimpin baru Perguruan Sayap Merah. Biru dikenal sebagai pendekar paling sakti, sekaligus haus darah. Tak segan ia menghabisi siapa saja yang melawan kehendaknya. Terlebih, ketika ia berhasil merebut tongkat emas dari tangan Dara, ia merasa semakin hebat meski frustasi karena tidak tahu jurus Melingkar Bumi itu seperti apa. 
Berlatih jurus Melingkar. Sumber: mokino.co

Angin yang membuka identitasnya sebagai anak Cempaka dan Pendekar Naga Putih harus melanggar sumpahnya demi menjadi pasangan Dara dan melatihnya jurus Melingkar Bumi. Btw, jurus itu merupakan jurus berpasangan sehingga memang tidak mungkin dipelajari dan dikuasai sendirian. Berbulan-bulan lamanya keduanya memisahkan diri dari masyarakat desa demi berlatih dan agar masyarakat tidak tertimpa bahaya, diburu anak buah Biru yang jahat. Saat keduanya telah menguasai jurus Melingkar Bumi, mereka menantang duel Biru demi merebut tongkat emas dan mengembalikan kedamaian di dunia persilatan yang sudah kacau balau karena ulah Biru dan Gerhana. 

Pertarungan berlangsung dengan sangat hebat. Kedua pasangan sama-sama kuat dan handal. Pertarungan di mulai di arena Perguruan Tongkat Emas sampai ke gubuk tempat Cempaka dan keempat muridnya tinggal. Pertarungan berlangsung dengan sangat hebat dan keras, sampai akhirnya tongkat emas terlepas dari tengan Biru dan berhasil diraih Dara. Dengan jurus Melingkar Bumi serta tongkat emas, Dara dan Elang berhasil menumbangkan Biru dengan jurus yang tidak pernah ia kuasai. Sayangnya, tak lama setelah pertarungan usai, Elang meninggalkan Dara untuk menjalani hukuman karena telah melanggar sumpahnya kepada ayahnya. Film selesai dengan linangan airmata di pipi Dara.

MENIKMATI SUMBA TIMUR YANG EKSOTIS
Oke, plot film ini biasa aja, dan terkesan nggak greget karena terlampau sederhana. Jika cerita-cerita dunia persilatan tanah air biasanya mengambil setting di pulau Jawa dengan eksostisme lain hutan hujan tropis. Maka keputusan menjadikan Suma Timur sebagai setting cerita seseungguhnya bisa memperkaya pengetahuan penonton tentang alam Indonesia di bagian timur. Sumpah, yang membuatku sangat terkesan dengan film ini justru bukan ide cerita dan para pemain yang wajahnya sering wara-wiri di televisi, melainkan keindahan alam Suma Timur yang eksotis, liar, sunyi, keras dan magis. Sebagai manusia yang terbiasa dengan eksotisme alam Jawa dan Sumatera, maka aku merasa tersihir degan seluruh pemandangan yang tersaji dalam film ini: luar biasa menakjubkan dan aku ingin segera berkunjung ke Sumba! 

Menurutku, ada bagian paling mempesona dalam film ini. Yaitu, ketika Elang menyelamatkan Dara dan Angin, lalu membawanya ke kampung terpencil tempat ia tinggal. Menurutku, film ini berhasiil menggambarkan keindahan alam pedesaan di Sumba dengan sungai-sungai kecil yang jernih dan bersih, kehidupan kampung yang sederhana, pakaian dan feyen warga yang mencerminkan kedekatan dengan alam yaitu Ikat Sumba, serta bagaimana keras dan liarnya padang rumput nan luas bagai di negeri dongeng. Bahkan, ketika warga kampung harus mengungsi ke tempat baru, rasanya pemandangan yang ditampilkan terlampau indah karena ya, pemandangan alam Indonesia timur adalah suasana baru dalam industri film tanah air. Semuanya indah dan mengesankan! 
Suasana yang eksotis. Sumber: indonesiafilmcenter.com
Padang rumput yang liar namun mempesona
Berlatih sampai matahari tenggelam
Mengejar musuh

Oh ya, sinematografi dan koreografi film ini patut diacungi jempol lho. Biaya produksi film ini menghabiskan Rp. 25 miliar lho dan memang nggak sia-sia sih biaya sebanyak itu dengan kualitas film, meski di pasaran nggak terlalu diminati. Terkait sinematigrafi yang mantul, ternyata pengambilan gambar menggunakan kamera Red Dragon dengan resolusi 6K (6000x4000) Native Dynamyc Range 15+ stop sehingga mampu mereka 120 FPS (Frame Per Second) di 5K dengan sensor yang lebih besar dari Mysterium-X, yang memang bikin puas saat menonton. Jadinya, pas nonton aku memang bengong karena tersihir lokasi-lokasi syuting yang indah dan eksotis, yang kupikir harus lebih banyak lagi film Indonesia dibuat di wilayah secantik Sumba Timur ini. Di masa depan, film Indonesia harus lebih keren dari ini! 

Jakarta, 23 Januari 2020


No comments:

Post a Comment