Tetsu Nakamura dan Kisah Pemberdayaan Masyarakat di Zona Perang

Tetsu Nakamura, sang penolong Afghanistan dipangku oleh warga


"By serving humanity, I automatically serve myself."
-Vironika Tugaleva-


Kabarnya, di masa lampau Afghanistan merupakan sebuah negeri yang indah. Di masa lampau ia disebut Ariana dan memiliki sejarah sepanjang 5000 tahun. Ariana atau Aryavarya dalam bahasa Yunani kuno bermakna "Tanah Bangsa Arya" yang namanya kemudian diawetkan oleh Persia yang kini menjadi Iran. Tanah yang kini disebut Afghanistan tetap mengenang nama Ariana dengan menjadikannya nama bagi maskapai penerbangan nasional. Tanah Afghanistan ini merupakan pertemuan unik peradaban Eurasia berinteraksi dan bertempur, dan merupakan situs sejarah penting dalam sejarah peradaban kuno dunia manusia. Entah karena dikutuk atau bagaimana, tanah ini selalu saja menjadi medan pertempuran banyak bangsa mulai dari Arya, Media, Persia, Yunani, Maurya, Kushan, Sassaniyah, Arab, Turki, Inggris dan Soviet. Meskipun demikian, wilayah ini tidak pernah jatuh ke tangan musuh, meski hingga saat ini porak poranda. 

Afghanistan terkenal dengan situs Buddha Bamiyan sebuah patung Buddha terbesar di dunia yang eksis sejak abas ke -1 Masehi, abad pra-Islam. Selama 7 abad lamanya, berbagai peradaban dan kerajaan silih berganti mencoba menguasai tanah ini, mengenalkan agama mulai dari Zoroaster, Hindu, hingga Buddha. Pada abad ke-7 M tanah ini kuasai pasukan Islam dari Turki, kemudian mendapat serangan dari pasukan Genghis Khan pada tahun 1219 dan seluruh wilayahnya adalah dalam kekuasaan Timur Leng, penerus Genghis Khan yang menjadi penguasa seantero Asia Tengah, yang juga meletakkan dasar-dasar lain kerajaan Islam di India. Kemudian pada abad ke-19 dalam peperangan Anglo-Afghan (1839-1919) Afghanistan menguasai banyak wilayahnya dan menjadi otonomi kerajaan Inggris. 

Nah, intervensi Inggris di Afghanistan ini bikin ribut Afghanistan dan India, sehingga berdiri negara baru bernama Pakistan; dan Khasmir yang ingin memerdekakan diri juga dari India. Kedamaian di Afghanistan tak pernah lama, dan perang kembali berkecamuk. Kali ini, perang ideologi antar elit politik dan militer Afghanistan dimanfaatkan dua raksasa perang dingin yaitu Uni Soviet dan Amerika Serikat yang pada akhirnya menjadikan Afghanistan lahan perang mereka. Dalam suasana politik yang kacau balau, sejumlah kelompok dengan kepentingan tertentu membantu mendirikan kelompok ekstremis lain bernama Taliban yang hingga saat ini menjadi momok menakutkan bagi Afghanistan. Bahkan, patung Buddha Bamiyan dan situs bersejarah lain dihancurkan Taliban pada 2001 karena dianggap sebagai berhala sehingga Afghanistan kehilangan warisan budaya mereka. Afghanistan menjadi neraka bagi warganya sendiri. 

Kekacauan di Afghanistan memanggil pahlawannya sendiri untuk datang dan mengabdi. Namanya Tetsu Nakamura, seorang Jepang yang entah mengapa tersentuh hatinya untuk mengabdi di negeri-negeri penuh bahaya semacam Afghanistan dan Pakistan. Setelah menyelesaikan pendidikan medis di Universitas Kyusu pada 1973, lelaki baik hati ini merindukan melakukan kerja-kerja kemanusiaan di wilayah-wilayah terpencil. Pada 1984 akhirnya Nakamura tergabung dalam misi kemanusiaan dengan sokongan Japan Overseas Christian Medical Cooperative (JOCS) untuk Pakistan, tepatnya di Peshawar. Perang Afghanistan membuat banyak orang melarikan diri ke Peshawar dan dengan menolong mereka, Nakamura melanggar aturan JOCS sehingga ia harus mengundurkan diri pada 1990.  

Setahun setelah itu, Nakamura dengan organisasi yang didirikannya bersama Perhawar-kai, yaitu Japan-Afghanistan Medical Service (JAMS) mendirikan 3 klinik di provinsi Nangarhar, yang berpusat di distrik Khewa. Nakamura telah menangani banyak sekali pasien dan menyadari bahwa banyak masalah kesehatan disebabkan oleh kurangnya pasokan air bersih. Ia berpikir bahwa percuma saja ia mati-matian menyelamatkan nyawa orang jika sumber masalah utamanya selain perang adalah soal kelangkaan air bersih, kemiskinan dan kelaparan. Sebagai orang Jepang yang terbiasa berpikir praktis, Nakamura beranggapan bahwa satu aliran irigasi akan jauh lebih bermanfaat daripada 100 orang dokter. Maka, pada akhir 1990an, ia mulai membangun saluran irigasi di Nangarhar. Ia beranggapan bahwa air bisa menghidupkan kembali lahan pertanian dan masyarakat akan kembali hidup dalami di tanah yang subur dan penuh bahan pangan. 
Kanal yang dibangun Tetsu Nakamura bersama Peshawar-kai dan warga, saat dalam pengerjaan dan ketika sudah beroperasi. Sumber: perhawar-pms.com

Melakukan kerja-kerja kemanusiaan bukanlah perkara mudah. Rencana membuat kanal terhambat gara-gara peristiwa 11/9 yang mengejutkan dunia. Serangan teroris tersebut membuat Amerika memburu pasukan Taliban dan Al-Qaeda hingga perbatasan Pakistan. Pada Oktober 2001, ketika Amerika mulai menghantam Afghanistan, organisasi Peshawar-kai bersama warga mulai membangun 600 sumur di Kuz Kunar, sementara Nakamura dan stafnya masih bertahan di Nangarhar. Saat itu nasib mereka di ujung tanduk karena nyaris menjadi sasaran serangan helikopter pasukan Amerika saat tengah membangun kanal. Pada November 2003, helikopter Amerika menembaki warga dan relawan Jepang sehingga mereka hampir menjadi korban. Pada saat itulah orang Afghanistan marah dan terbangun solidaritasnya sebagai sesama orang Asia dalam menghadapi Amerika. Akhir 2003 Nakamura beserta tim, dibantu warga berhasil menyelesaikan pembangunan Kanal Marwarid sepanjang 25.5 km yang sumber airnya berasal dari sungai Kunar. Kanal itu menjadi berkah bagi warga sekitar karena mampu mengairi lahan seluas 16.000 ha lahan perkebunan yang menopang hidup 600.000 warga Gurun Gamberi, Nangarhar. Kegembiraan warga membuat Nakamura mendapat panggilan "Paman Murad", kependekan dari Nakamura. 

Prestasi kemanusiaan Nakamura tidak mendapatkan apresiasi dari pemerintah Jepang, mengingat Nakamura pernah melakukan kritik karena Jepang mendukung agresi militer Amerika ke Afghanistan. Nakamura justru mendapat penghargaan dari Filipina, yaitu Ramon Magsaysay Award pada November 2003. Ketika mendapatkan penghargaan tersebut, Nakamura hanya menjelaskan bahwa perang dan terorisme membuat orang bingung, dan berdampak menghancurkan. Oleh karena itu, ia hanya berusaha melihat dengan jernih di tanah yang tak lekang oleh perang seperti Afghanistan apa yang sebenarnya dibutuhkan manusia untuk menjalani hidup. Setelah mendapatkan penghargaan tersebut, Nakamura kembali bekerja. 

Tetsi Nakamura tidak hanya membangun kanal, sebab sebagai dokter di wilayah perang ia telah melakukan banyak hal yang mungkin dijauhi orang. Misalnya, Nakamura mendirikan klinik dibawah pengawasan pasukan Taliban; belajar bahasa lokal agar bisa berkomunikasi dengan masyarakat; menggunakan pakaian lokal agar bisa diterima secara emosional; membagikan gandum dan minyak makan kepada keluarga-keluarga yang kelaparan di Kabul saat pasokan makanan terhenti karena serangan Amerika; dan tentu saja memberikan layanan kesehatan berbiaya rendah kepada 150.000 pasien setiap tahunnya. Ia sangat peduli pada upaya membebaskan masyarakat di zona perang dari kemiskinan akut dan air lah jawabannya, sehingga ia ngotot membangun kanal meski selalu mendapat ancaman pembunuhan. Nakamura hanya ingin menunjukkan bahwa dengan kanal ini lah warga yang miskin dan kelaparan bisa melakukan revitalisasi desa-desa mereka agar menjadi lebih hidup dan mandiri. Dalam melakukan kerja-kerja kemanusiaan ini, Nakamura menolak bantuan donor internasional dan lembaga-lembaga non pemerintah. Pendanaan yang dia gunakan hanya berasal dari 12.000 donatur tetap. Sementara itu, ia membiayai hidupnya dan keluarganya jika sedang praktek di Jepang. 

Tahun 2007 ancaman kepada Nakamura meningkat. Para pelarian Taliban membuat aktivitas Peshawar-kai kacau balau dan terpaksa menutup semua kliniknya sementara. Pada 2008 bahkan kontraktor pertanian asal Jepang Ito Kazuya dibunuh Taliban dan membuat relawan Jepang harus diungsikan, kecuali Nakamura yang terus bekerja. Dibantu oleh warga, Nakamura menyelesaikan pembangunan irigasi lain sepanjang 24.3 km. Kanal itu kemudian selesai pada April 2009 dan mengairi lahan seluas 14.000 ha dan menjangkau 100.000 warga. Dalam menyelesaikan pekerjaannya Nakamura terus saja mendapat ancaman pembunuhan hingga harus diperingatkan oleh Pemerintah Afghanistan dan Kementerian Luar Negeri Jepang. Namun, Nakamura tak ambil pusing. Ia tetap bekerja dan mengatakan bahwa ia akan senang jika mati di Afghanistan. Benar saja, 4 Desember 2019 Nakamura meninggal dalam perjalanan menuju tempat bekerja setelah diberondong peluru dan mengalami pendarahan hebat saat dilarikan ke rumah sakit. Dunia berduka. 
Masyarakat Afghanistan berduka atas kematian Tetsu Nakamura. Sumber: japan-forward.com
Masyarakat Afghanistan berduka atas kematian Tetsu Nakamura. Sumber: japan-forward.com
Masyarakat Afghanistan berduka atas kematian Tetsu Nakamura. Sumber: japan-forward.com

Orang-orang Afghanistan menangisi kematian Nakamura sebagai hari berduka nasional. Mereka berkumpul di banyak tempat, memajang foto atau lukisan Nakamura, membuat spanduk pujian atas dedikasi Nakamura, menyalakan lilin, membacakan puisi dan doa, dan memenuhi Twitter dengan tagar #RIPNakamura disertai pujian atas kerja-kerja kemanusiaan Nakamura bagi Afghanistan, khususnya Provinsi Nangarhar yang awalnya gersang menjadi permadani hijau karena dipenuhi, air dan lahan perkebunan yang hidup. 

Jasad Nakamura dibawa ke Jepang bersama keluarganya, untuk dimakamkan di tanah leluhurnya. Lelaki mungil tapi tidak takut mati itu telah kembali ke pangkuan Tuhan sebagai patriot, sebagai berkah dan penolong. Sebagai dokter di negara maju dengan masa depan cemerlang, ia memilih menerjunkan dirinya ke zona perang, untuk membangkitkan harapan masyarakat yang benar-benar dirusak oleh perang dan kepentingan elit politik. Maka kepada Nakamura kita belajar bahwa perbedaan suku bangsa, agama, pilihan politik tak seharusnya mengacaukan kedamaian sebuah negeri, sebab kekacauan hanya membuat lumbung makanan rusak dan orang-orang terjerat kemiskinan dan kelaparan. 

Jakarta, 30 Desember 2019

Bahan bacaan:
https://id.wikipedia.org/wiki/Afganistan
https://id.wikipedia.org/wiki/Tetsu_Nakamura
https://www.japantimes.co.jp/news/2019/12/28/national/japanese-doctor-tetsu-nakamura-receives-decoration-honoring-service-afghanistan/#.Xgk1nUczbD4
https://historia.id/politik/articles/tetsu-nakamura-sang-samurai-kemanusiaan-P1RLK
https://www.npr.org/2019/12/06/785671274/remembering-tetsu-nakamura-japanese-doctor-who-spent-decades-working-in-afghanis
https://www.rmaward.asia/awardees/nakamura-tetsu/
https://internasional.kompas.com/read/2019/12/04/18545611/6-orang-tewas-diserang-di-afghanistan-salah-satunya-dokter-asal-jepang?page=all
https://www.voanews.com/extremism-watch/afghans-mourn-slain-japanese-doctor-known-uncle-murad
https://www.aljazeera.com/news/2019/12/afghanistan-murals-honour-slain-japanese-doctor-191211054020940.html
https://heartofasia.af/japanese-govt-to-decorate-tetsu-nakamura-report/
https://www.nytimes.com/2019/12/04/world/asia/afghanistan-tetsu-nakamura-dead.html
https://www.theguardian.com/global-development/2019/dec/04/japanese-aid-chief-among-six-dead-in-afghanistan-attack-tetsu-nakamura
http://www.outlookafghanistan.net/topics.php?post_id=25477
https://www.reuters.com/article/us-afghanistan-ngo/gunmen-kill-head-of-japan-aid-agency-five-others-in-afghanistan-idUSKBN1Y80R2
https://asia.nikkei.com/Life-Arts/Obituaries/Tetsu-Nakamura-Humanitarian-who-devoted-his-life-to-Afghanistan
http://www.asahi.com/ajw/articles/AJ201912050061.html
https://www.risetopeace.org/2019/12/07/tetsu-nakamura/jrayn/
https://www.afghanistanembassy.no/afghan-embassy-oslo-hold-commemorative-event-life-work-legacy-late-dr-tetsu-nakamura/
http://www.asahi.com/ajw/articles/AJ201912060018.html
https://gandhara.rferl.org/a/body-of-japanese-doctor-who-dedicated-life-to-afghans-arrives-in-tokyo/30315056.html
https://leagueofindia.com/india-world/japanese-doctor-tetsu-nakamura-working-in-afghanistan-since-80s-killed/
https://www3.nhk.or.jp/nhkworld/en/news/backstories/776/
http://japan-forward.com/japanese-doctor-and-humanitarian-tetsu-nakamura-shot-dead-in-afghanistan-004/
https://asia.nikkei.com/Life-Arts/Obituaries/Tetsu-Nakamura-Humanitarian-who-devoted-his-life-to-Afghanistan
https://twitter.com/hashtag/ripnakamura


No comments:

Post a Comment