Sepanjang 40 Malam Pertama Pernikahan, Sepasang Pengantin ini tidak Saling Memeluk pun Bercinta. Lantas Mereka Ngapain?

Sepasang kekasih saling berbagi kerinduan. Sumber: pixabay.com


Malam pertama setelah pernikahan berlangsung antara sepasang kekasih, adalah semacam malam keramat yang dinanti keduanya yang sudah lama menahan diri untuk saling memeluk, mencium, dan mencurahkan kasih sayang. Karena malam pertama begitu istimewa, tak jarang pengantin perempuan dipersiapkan dengan istimewa seperti pantang makan makanan tertentu agar tubuhnya wangi, dirias dengan riasan tertentu agar secantik bidadari dan diberikan ramuan tertentu agar kuat bergumul dengan sang kekasih. Demikian pula dengan pengantin lelaki yang biasanya diberikan pelatihan-pelatihan tertentu hingga harus meminum jamu atau makanan atau minuman tertentu agar perkasa dan lihai dalam menyenangkan istrinya terkasih. Hm, semua orang yang telah menikah pasti merasakan hal demikian, bukan?

Tapi, ada lho sepasang pengantin yang selama 40 malam pernikahan mereka sama sekali tidak melakukan persentuhan, apalagi bercinta ditengah gelora membara. Hm, kok sanggup ya? Trus selama 40 malam pertama yang dipenuhi gelora asmara tapi ditahan dengan sedemikian rupa itu mereka ngapain aja? Kan bikin gemes dua keluarga besar yang penasaran kok tidur bersama di ranjang pengantin tapi nggak ngapa-ngapain. Apakah keduanya ternyata aseksual? 

Duduklah dulu dengan nyaman dan siapkan camilan. Kini dengarkan ceritaku: 

Dalam perjalanan rohani nan panjangnya melarikan diri dari kejaran musuh, Amongraga sang Putra Mahkota kerajaan Giri yang telah porak poranda itu tiba lereng Gunung Lawu. Sementara Raja Giri menjadi tahanan Sultan Agung di Mataram. Kemudian ia mendapat petunjuk dari penghuni hutan agar menuju Wanamarta ke pondok Ki Panurta. Pondoknya ramai sekali. Setiap malam sebanyak 4.000 santri lelaki dan perempuan belajar kepadanya, sebab ia memiliki ilmu yang tinggi. Selain itu, Ki Panurta memiliki seorang puteri yang jelita, soleha dan berperangai baik bernama Tambangraras yang digilai para pangeran dan pemuda. Pinangan datang dari seantero negeri, namun ditolaknya sebab ia menunggu seseorang yang mampu menaklukkan hatinya. Tambangraras juga berjanji kepada dirinya sendiri bahwa ia akan menyerahkan lahir dan batinnya kepada lelaki yang ilmunya melampaui ilmu ayahandanya. Sikapnya yang terlalu keras dan menolak semua pinangan membuat digosipkan sebagai penyuka sesama perempuan, alias penyuka bolongan. Saat cerita sampai di bagian ini, Amongraga bisa merasakan bahwa perempuan itu akan menjadi kekasih hatinya. 

Amongraga dan pengawalnya tiba di Pondok Ki Panurta dan disambut meriah. Kepada kedua putra Ki Panurta yang bernama Jayengwesti dan Jayengraga ia memperkenalkan dirinya sebagai murid Ki Karang, untuk menyembunyikan identitas aslinya sebagai Putera Mahkota kerajaan Giri, sebab ia khawatir pasukan Sultan Agung mengejarnya sampai ke pondok Ki Panurta ini. Tak perlu waktu lama, Amongraga, putera Ki Panurta dan para santri belajar bersama tentang hakikat ilmu ilahi, termasuk juga tentang penciptaan langit dan bumi dan semesta raya, yang pada akhirnya tiba pada sifat abadi Sang Pencipta. Setelah itu, mereka tenggelam dalam zikir, memuji Allah lahir dan batin. 

Setelah selesai kegiatan zikir itu, Amongraga dibawa menemui Ki Panurta dan mereka bertukar pemahaman tentang ilmu, sifat ilahi, dan kehidupan. Sampai kemudian Tambangraras mengantarkan baki berisi minuman dan camilan untuk Ki Panurta, dan pada saat itulah Amongraga jatuh hati kepada cahaya cinta yang memancar dari diri perempuan yang telah ia rindukan sebelum bertemu dengannya. Setelah undur diri, Tambangraras menemui ibunya dan berkata bahwa ia telah menemukan lelaki yang akan ia serahkan lahir dan batinnya, tamu Ki Panurta yaitu Amongraga yang ilmunya melampui Ki Panurta. Maka lamaran disampaikan dari pihak Ki Panurta kepada Amongraga. Tambangraras harap-harap cemas. 

Amongraga kemudian menceritakan siapa dirinya, dan belum siap menjalani pernikahan sebelum menemukan kedua adiknya yaitu Jayengsari dan Rangcangkapti, sebab mereka terpisah saat melarikan diri ketika Giri dilahap api. Ki Panurta kini mengerti mengapa Amongraga begitu tinggi ilmu lair dan batinnya. Sementara Tambangraras tak menyangka bahwa ia akan menikahi seorang pangeran lagi lelaki berilmu tinggi. Amongraga berjanji bahwa pernikahan tetap akan dilangsungkan dan ia akan menjalankan kewajibannya kepada Tambangraras pada malam pernikahan mereka. Namun setelah itu ia harus mengembara untuk menemukan kedua adiknya yang entah dimana. Amongraga mengatakan baru akan kembali kepada Tambangraras jika telah menemukan kedua adiknya. Pernikahan pun dilangsungkan dengan begitu meriah. 

Setelah akad nikah dilangsungkan dan warga merayakan pernikahan keduanya dengan bahagia, Tambangraras menunggu di kamar pengantinnya, dengan riasan dan pakaian pengantin yang belum dibukanya, menunggu suaminya. Sementara Amongraga menunaikan shalat hajat dan menenangkan hatinya, barulah ia menuju pengantinnya di kamar surga mereka. Tambangraras duduk menunggu di ujung ranjang dengan malu-malu. Amongraga membuka seluruh pakaiannya sehingga ia telanjang dan duduk bersila di ujung ranjang, berseberangan dengan posisi duduk istrinya yang mulia. Meski mereka duduk berseberangan dalam remang, Amongraga membiarkan Tambangraras memandangi lekuk tubuhnya sebagai pelajaran pertama mereka dalam pernikahan suci. Sementara Centhini sang pelayan, menunggu dengan cemas dari balik tirai. Ia bisa merasakan desahan nafas sepasang pengantin yang saling menginginkan dan aroma tubuh keduanya memenuhi kamar. Centhini bertugas mengabarkan sang majikan jika persetubuhan telah dilakukan, agar disiapkan jamu untuk sang mempelai. 

Amongraga mengatakan kepada Tambangraras agar ia tetap duduk di buritan, sementara ia sendiri di haluan, bagai sedang mempersiapkan pelayaran panjang. Amongraga mengajak istrinya untuk berlayar dalam diam, menentramkan nafas. Meski terkesan kejam dan menyiksa jika yang saling merindukan untuk memeluk dan memadu kasih, Amongraga mengatakan bahwa pelayaran dalam diam itu akan berlangsung selama 40 malam. Selama itu, keduanya akan belajar banyak hal tentang ilmu kehidupan. Saat tiba waktu subuh, Amongraga undur diri ranjang pengantinnya dan menuju Pondok, mengumandangkan Adzan dan memimpin shalat. Pada pagi yang indah Amongraga sang menantu dijamu sarapan minuman dan makanan hangat oleh Ki Panurta. Warga dapur sibuk menyediakan masakan.

"Bagaimana, Nduk, sudahkah dia menodai kain ranjang dengan darahmu?" tanya Nyai Malarsih pada Tambarngraras.
"Ibu, haruslah cinta diresmikan dengan noda?"
"Maksudmu, ia belum...?"
"Bahkan bibir kami pun belum bersentuhan, Ibu." 
"Itu tandanya dia pria yang amat sabar, yang langka dijumpai wanita. Berbahagialah anakku, sebab Allah selalu bersama orang yang sabar."

Sepasang kekasih menikmati malam pengantin mereka yang segar dan penuh kerinduan dengan berlayar dalam diam, demi mereguk ilmu ilahi, sembari saling meneliti tubuh satu dan lainnya tanpa saling menyentuh apalagi memeluk. Pelayaran cinta sepasang pengantin suci ini berlangsung selama 40 malam lamanya sampai-sampai Centhini sang pelayan dibuat bingung bukan kepalang. Sembari menunggu apa yang sebenarnya terjadi pada sepasang pengantin yang ia kasihi sebagai majikannya, Centhini kadang-kadang mengantuk dan terbangun saat subuh tiba. 

"Nyai Malarsih, menantumu Amongraga dan anak perempuanmu, Tambangraras, setiap malam berjalan di jalan Allah, padahal jalan Allah tak terduga." Begitulah dalam Tembang ke 107 Centhini melaporkan situasi di kamar pengantin kepada majikan perempuannya, yang setia menunggu kabar percintaan pertama, bahwa sepasang pengantin masih saling mengenal satu sama lain dan belum pernah saling menyentuh, apatah lagi bersetubuh. 

Pada malam ke 41 dan hujan, Centhini menyaksikan dari balik tirai bahwa sepasang pengantin saling memeluk erat. Keduanya berpelukan erat dan bagai enggan memisahkan diri dari satu dan lainnya. Keduanya sama-sama terpesona pada raga kekasih hatinya dan kepada ilmu Ilahi dalam batin mereka. Menyadari apa yang telah terjadi, Centhini ke luar dari kamar dan menyiapkan air untuk sepasang pengantin membasuh diri mereka selepas percintaan pertama. Ia juga mengabarkan kepada Nyai Malarsih bahwa persetubuhan pertama telah dilakukan dan mereka menyiapkan jamu godokan kembang curian. Jamu itu terbuat dari banyak sekali bahan-bahan seperti: putih delima putih, kulit pohon kina, majakan, kapulaga, cengkih, kecubung, dan benang lawe. Semua bahan itu ditumbuk halus, kemudian dicampur dengan bunga selasih, kapur sirih, kunyit, bedak perut buih cacing, abu daun pisang emas, selongsong ular cabai, pala, kemukus, kulit telor, dan jahe. Semua bahan direbus, kemudian dituangkan ke batok kelapa. Jamu ajaib itu diminum Tembangraras. Saat mempelai perempuan meneguk jamu, Amongraga kembali ke kamar dan semedi tujuh hari tujuh malam lamanya. Hanya raganya yang ada di kamar pengantinnya, jiwanya entah melanglang buana ke mana. 

Setelah semedi tujuh hari tujuh malam, Amongraga kembali pada kesadarannya. Dilihatnya Tambangraras setia menemaninya dengan pandangan harap-harap cemas. Kepada istrinya ia berkata bahwa ia akan melanjutkan pengembaraan, mencari kedua adiknya dan baru kembali jika keduanya telah ditemukan. Tambangraras merasa beku, hancur dan berantakan. Tak sudi ditinggalkan pergi oleh suaminya terkasih, ia berjanji akan ikut kemana pun Amongraga pergi demi mencari kedua adiknya. Amongraga mengerti perasaan istrinya dan ia menghiburnya bahwa mereka telah menjadi satu, dalam cinta yang manunggal dan dalam lindungan Allah, sehingga ia meminta kekasih hatinya menunggu sampai ia pulang. Amongraga ingin kekasih hatinya menunggunya dengan setia pada cinta mereka. 

Maka, sepanjang malam keduanya kembali saling mencium, memeluk dan bercinta, dengan dipenuhi air mata. Sampai menjelang subuh, Tambangraras masih terhanyut dalam pesona percintaan mereka yang penuh gairah. Subuh tiba dan Amongraga bangkit dari ranjang pengantin mereka yang wangi, menyelimuti tubuh istrinya yang telanjang, lalu mengecupnya penuh kasih sayang. Ia berpamitan untuk mengembara, mencari kedua adiknya. Amongraga menulis tiga surat, yaitu untuk Tambangraras, kedua mertuanya dan kedua saudara iparnya. Bersama Jamal dan Jamil sang pelayan setia, Amongraga meninggalkan Pondok Ki Panurta. Selepas shalat subuh di pinggiran sungai, mereka melanjutkan pengembaraan dengan memasuki hutan lebat, menghindar kejaran pasukan Mataram. 

Tambangraras bangun dari tidurnya saat langit telah terang dan menyadari bahwa suaminya terkasih telah pergi. Perempuan itu merasa beku dan pingsan. Maka Pondok Ki Panurta menjadi heboh karena sang puteri panutan pingsan, sebab ditinggalkan suaminya mengembara dalam kehidupan pernikahan yang baru saja dimulai dengan manis. Semua menangisi kesedihan Tambangraras. Setelah membaca surat-surat yang ditinggalkan Amongraga, maka tekad Tambangraras bulat sudah untuk menyusul suaminya dalam pengembaraan sampai menemukan kedua adiknya. Centhini ikut serta. 


***

Bagaimana, ceritanya seru atau sedih? Cerita ini sebenarnya ada di buku berjuudul "Centhini: Kekasih yang Tersembunyi" gubahan Elizabeth D. Inandiak. Buku ini sendiri merupakan edisi sangat sederhana dari Serat Centhini versi asli setebal 4.200 halaman. Nah, Serat Centhini ini merupakan cerita-cerita lama tentang ilmu alam dan ilmu ghaib tanah Jawa, yang dibuat oleh Pangeran Anom Hamengkunegara III di Keraton Surakarta pada tahun 1814. Serat Centhini aslinya berbentuk tembang atau suluk, yang mengisahkan pengembaraan Amongraga, Putra Mahkota Kerajaan Giri setelah diserbu pasukan Sultan Agung dari Kerajaan Mataram pada awal abad ke-17. Kisah-kisah didalamnya ada banyak sekali, nggak berfokus pada Amongraga dan Tambangraras, sebab ada banyak sekali tokoh, tempat dan kejadian, serta pelajaran mengenai ilmu alam, ilmu gaib serta pelajaran-pelajaran dalam memahami Sang Pencipta dalam sudut pandang Islam.  

Gosip yang selama ini beredar tentang "Serat Centhini" adalah sebagai kamasutra Jawa. Boleh dibilang begitu, boleh juga enggak. Sebab yang terjadi adalah gambaran tentang kehidupan masyarakat di pulau Jawa abad ke -17 termasuk didalamnya soal kerajaan-kerajaan, hutan-hutan, pangan dan kekayaan alam, ilmu pengetahuan yang dipelajari, seni budaya yang berkembang dalam masyarakat, seksualitas yang kompleks, orang-orang dengan profesi mereka, para pelarian alias buronan kerajaan, hantu-hantu dan siluman di hutan-hutan lebat, para guru yang soleh, berilmu tinggi, sakti dan bijak; serta bagaimana percintaan antara sepasang kekasih digambarkan dengan indah; serta percintaan tak karuan pada manusia-manusia yang bercinta dengan siapa saja, baik sebagai heteroseksual maupun homoseksual. Tak lupa, kisah dibumbui dengan cerita-cerita gaib yang terasa aneh dan sangat tidak masuk akal bagi manusia abad ke-21 sepertiku. 

Cerita-cerita soal seksualitas sangat kompleks dalam buku ini. Seksualitas tidak dipandang sebagai hitam putih, antara lelaki dan perempuan, yang menikah atau tidak menikah. Tetapi juga bagaimana rumitnya melihat kehidupan seks suami istri, terutama dampaknya bagi perempuan yang telah melahirkan 8-12 anak dalam pernikahannya. Misalnya, ada satu peristiwa ketika seorang Raja dengan Permaisuri dan banyak selir terpikat pada tokoh Cebolang yang tampan, dengan dengan kekuasaannya Sang Raja menginginkan percintaan dengan Cebolang melalui dubur. Namun pada suatu waktu Cebolang membalik keadaan dan lingganya memasuki anus Sang Raja hingga lelaki dengan kekuasaan itu meronta kesakitan dan seketika menyadari bahwa percintaan dengan para istrinya lebih menyenangkan daripada ditunggangi lelaki melalui anus. 

Juga kisah tentang keluh kesah seorang perempuan yang telah melahirkan 8 orang anak dan sejumlah peristiwa keguguran, yang disenggamai suaminya melalui anus sebab suaminya merasa vagina sang istri telah rusak. Praktek seksualitas ala suami istri ini menyebabkan sang istri melakukan percintaan dengan sesama perempuan untuk mendapatkan kepuasan batiniah dan kelembutan ragawi, sebab suaminya menyalahkan dirinya atas longgarnya vaginanya karena telah melahirkan terlalu banyak anak. Meski ini kisah abad ke -17, tetapi aku paham bahwa ketimpangan relasi antara suami istri, bahkan pemahaman soal alat kelamin telah mengalami kekeliruan sejak sangat lama. Maka, menjadi sangat wajar jika di zaman modern banyak istri memilih melahirkan melalui operasi Caesar demi menjaga kondisi vagina agar tidak ditinggal suami. 

"Serat Centhini" adalah sastra yang sangat sarat makna, sehingga aku perlu membacanya berulang kali untuk mengerti maksud atas suatu kalimat, peristiwa atau hal-hal lain yang awalnya kupikir sangat aneh. Namun, sejak Juni 2019 aku mengalami proses perenungan mendalam saat membaca ulang kisah pertemuan, pernikahan, percintaan dan perpisahan Amongraga dan Tambangraras. Bayangkan, 40 malam lamanya sepasang pengantin yang dikecam rindu dan cinta, harus menahan diri dari nafsu dalam diri mereka sendiri, demi saling mengenal satu sama lain dalam pikiran dan batin, sebelum kedua raga menyatu dalam cumbu rayu. Rasanya, baru kali ini aku mendengar kisah malam pengantin yang demikian filosofis. Biasanya, orang-orang yang menikah berburu malam pertama untuk segera melakukan persenggamaan. Kisah pelayaran dalam diam selama 40 malam dalam kisah ini menurutku memberikan sudut pandang baru bagi sepasang pengantin dalam memulai kehidupan rumah tangga mereka, agar cinta melekat kuat tak pudar hingga akhir dunia. 

Baca juga: Serat Centini, Kitab Kamasutra Jawa Abad ke-17

Maka, aku jadi membayangkan bagaimana kelak pernikahanku. Apakah aku akan menikah dengan lelaki yang berilmu tinggi, sabar dan sangat mampu menahan nafsunya sebagaimana Amongraga kepada Tambangraras. Rasanya, pertemuan sepasang kekasih dalam pelayaran ilmu batiniah sebelum lahiriah sangat mengagumkan. Sebab, karena aku telah begitu sabar menunggu berjodoh dengan lelaki baik dan pengasih, aku pun ingin merasakan pengalaman mengenal, memahami dan menyelami cinta secara batiniah dengan mendalam, sebelum bertemu lahiriah.  

Jakarta, 24 Desember 2019


8 comments:

  1. Wah aku baru pertama ini baca rangkuman salah satu kisah di serat centhini. Kalau zaman sekarang, di malam pernikahan ga nyentuh pengantinnya sih yang ada malah terduga gay=(. Jadi zaman dulu beneran ada ya yang sampai bisa melanglang buana jiwanya sementara raganya tetap di tempat aslinya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi, diceritakan Amongraga sang Putera Mahkota kerajaan Giri memang seorang soleh dan berilmu tinggi, makanya dia mampu tidak melakukan hubungan seksual dengan istrinya selama 40 malam pertama pernikahan mereka. Dia pun perjaka alias belum pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Dalam "Serat Centhini" sebenarnya bertaburan kisah manusia-manusia yang gampang sekali terbakar diri dan jiwanya oleh seks, sehingga mereka bisa melakukan seks dengan siapa saja bahkan dengan seekor kuda. Seks bebas juga sudah marak dilakukan saat itu, terutama oleh kaum lelaki. Dengan membaca "Serat Centhini" kita bisa melihat bagaimana kehidupan masyarakat Jawa pada abad ke-17. Menurutku, buku yang seru meski aku harus membacanya berulang-ulang untuk memahaminya.

      Delete
  2. Membaca dari awal hingga akhir, saya penasaran dengan cerita sesudah Amongraga pergi dan Tambangraras menyusulnya. Bagus sih ketika tembang tersebut bisa diubah dalam bentuk tulisan seperti ini. Orang awam pun bisa lebih memahami dan terbawa alunan ceritanya. Thanks kak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah, itu lebih seru lagi. Apalagi pas endingnya Amongraga dan Tambangraras jadi apa pas mereka akhirnya bertemu Sultan Agung. Jujur, aku memerlukan 5 kali baca buku ini karena terlalu banyak hal filosofis ala nilai-nilai bangsa Jawa yang nggak kupahami. Tapi well, aku jadi mendambakan pasangan yang secerdas, sesoleh dan sesabara Amongraga di masa-masa awal dia menikah dengan Tambangraras. Karena setelah masa pertemuan dengan kedua adiknya, aku malah nggak ngerti lagi apa karakter Amongraga karena banyak sekali kiasan dalam kisahnya.

      Delete
  3. Bisa beli dimana ya, buku "Serat Centhini" ini..? Ini kali pertama saya baca tulisan Mba Ika, dan saya suka sekali dengan penyampaiannya yang menghanyutkan, mudah dicerna, namun juga sarat dengan kesan dan makna. Gak sabar baca artikel tulisan Mba Ika lainnya. Sukses selalu, ya 🙂🙏🏼

    ReplyDelete
  4. Keren tulisan Kaka ini, mudah dipahami. Aku suka cara penyampaiannya. Salam kenal Kaka. Sangat menginspirasi untuk menulis.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih ya sudah berkenan membaca dan memberi apresiasi.

      Delete