Sekelumit Cerita tentang Orang-Orang New York, Amerika

Seorang perempuan di kota New York. Sumber: Humans of New York


"Politeness is the flower of humanity."
-Joseph Joubert-


Aku lupa kapan mulai membaca kisah-kisah dalam seri fotografi bernama "Humans of New York" karya Brandon Stanton, seorang pengarang, fotografer dan blogger asal kota New York, Amerika Serikat. Pada 2010 ia memulai sebuah proyek fotografi guna menangkap keseharian warga New York dan mengobrol dengan sembarang orang demi mendapatkan kesempatan memotret mereka, untuk membuat semacam katalog dari penghuni kota super sibuk tersebut. Hasil obrolan tersebut dijadikan caption dalam setiap foto yang ia unggah di website, serta akun Facebook, hingga kemudian merambah Instagram. Pada akhirnya, caption yang memuat cerita personal objek fotografi menjadi perhatian banyak orang dari seluruh dunia. Akun media sosial Human of New York telah diikuti dan dibaca puluhan juta orang sejak saat itu, membuat orang-orang semakin antusias untuk mengetahui cerita personal orang-orang asing di jalanan kota New York. 

Ada seorang perempuan muda yang menceritakan bahwa ibunya yang seorang perempuan kuat dan pekerja keras sedang mengalami sakit keras, kehilangan berat badan dan harus menjalani perawatan khusus. Perempuan yang selama ini dipandangnya tidak pernah khawatir akan apapun, terlihat menjadi lebih khawatir. Namun, ibunya justru memikirkan kekhawatirkan sang anak perempuan atas dirinya melebihi kekhawatiran atas penyakit yang dideritanya. Kemudian, ada juga cerita tentang seorang perempuan yang suaminya baru mengalami kecelakaan beberapa setengah tahun silam dan kehilangan sebagian ingatan, dan tidak pulang ke rumah selama 153 hari. Ia berusaha membuat suaminya mengingat namanya, pernikahan mereka, dan mengenali cincin pernikahan mereka; dan ia begitu antusias menyiapkan perayaan ulang tahun pernikahan ke 45 tahun. Dia berharap suaminya bisa mengingat banyak hal tentang hidup mereka berdua dan ia tidak terlalu berharap banyak. Ia hanya berharap suaminya tidak kemana-mana dan mereka berdua tidak terpisahkan. 
Halaman muka website Humans of New York

Cerita-cerita personal dalam Humans of New York seringkali memberiku cara untuk merenungkan hidupku sendiri, bersama segala kesedihan, kebahagiaan, tantangan, perjuangan dan bentuk lain dari dinamika kehidupan. Membaca cerita-cerita personal orang-orang asing yang tentu saja tidak kukenal memberiku kesadaran bahwa setiap orang tumbuh dengan cerita berbeda, dan mungkin memaknai hidup dengan cara berbeda pula. Namun demikian, rasanya senang melihat manusia terhubung satu sama lain, berbagi cerita yang sangat pribadi yang tanpa sadar memberi inspirasi pada orang lain di belahan dunia yang lain, dan seakan-akan saling memeluk satu sama lain untuk saling menguatkan, memberi apresiasi, memberikan semangat untuk tetap hidup dan percaya bahwa hidup  seperih apapun sangat layak dijalani dan diperjuangkan. 

CERITA DARI BELAHAN DUNIA YANG MENGGUNCANG JIWA
Kisah-kisah personal dalam Humans of New York ini dilengkapi dengan sejumlah kisah berseri sebagai kisah spesial dari orang-orang dengan kondisi tertentu. Hingga 2019 ini, ada 5 cerita berseri, yaitu tentang: Invisible Wounds, Pediatric Cancer, Inmate Stories, Syirian American dan Refugees. Tidak semua cerita berlokasi di Amerika Serikat, melainkan dalam perjalanan khusus lintas benua seperti kamp pengungsi Syiria di sejumlah negara, sehingga kita bisa membaca cerita-cerita personal orang dalam kondisi tertentu. Melihat ekspresi manusia dan kisah mereka yang spesial ini rasanya langsung merinding, karena kisah mereka benar-benar sangat berbeda, cenderung berat, menyiksa, dan mengaburkan masa depan, dan mungkin tidak memiliki masa depan sama sekali.
Cerita-cerita dari orang-orang spesial

Seri "Invisible Wounds" dikerjakan bersama dengan Headstrong Projects yang mengkhususkan cerita para veteran perang Amerika yang ditugaskan di Irak dan Afghanistan. Meskipun ada pandangan miring dunia tentang perang invasi Amerika Serikat ke Irak dan Afghanistan, namun proyek ini hendak menghadirkan sudut pandang personal para prajurit yang melayani titah negaranya. Misalnya tentang kisah seorang prajurit yang menceritakan bagaimana ia dilatih untuk bermental sebagai prajurit yang melayani negara dalam sebuah misi, bangga dengan seragam dan merasa nyaman dalam kesatuan; namun kemudian merasa asing dalam masyarakat luas sehingga berada dalam tim untuk melakukan kerja sebagai prajurit adalah hal terbaik dan membanggakan. 

Seri "Pedriatic Cancer" merupakan cerita-cerita yang dikumpulkan dari Pediatrics Department of Memorial Sloan Kettering Cancer Center. Perang melawan kanker jenis ini terasa sangat berat karena perlawanan kepada kanker ada dalam tubuh anak-anak. Kisah-kisah ini mempertemukan dunia dengan para dokter, bidan dan peneliti yang berjuang keras menyelamatkan hidup anak-anak tersebut. Serta pada orangtua yang berjuang untuk kesembuhan anak-anak mereka dan alasan bagi setiap anak untuk melawan penyakitnya, memperjuangkan hidup mereka. Satu-satunya yang mereka pahami dari perjuangan berat yang diemban banyak orang adalah berusaha terbaik untuk hari ini, sebelum memiliki harapan untuk tetap hidup esok hari dan melanjutkan mimpi-mimpi. 

Baca juga: Atlas of Humanity, Ruang Belajar Mensyukuri Nikmat Sebagai Manusia

Seri lainnya, dan cerita-cerita lainnya bisa dibaca di website Humans of New York. Biasanya seminggu sekali aku berkunjung akun media sosial Humans of New York untuk membaca cerita-cerita teranyar. Rasanya, membaca cerita-cerita mereka memberiku kekuatan untuk teguh dijalan kehidupan yang menjadi tugasku sebagai manusia, untuk terus memperjuangkan mimpi-mimpiku, menyembuhkan diri dari luka dan kecewa, dan menjadi bagian dari solusi atas masalah sosial dalam dunia manusia, dan bumi. Terkadang kupikir, cerita-cerita dalam proyek ini bisa digunakan sebagai sarana belajar oleh siapapun dalam memahami dunia manusia, terutama manusia asing dari kota New York berikut segala sesuatu yang mereka alami, untuk menumbuhkan kesadaran agar manusia sebaiknya saling menjaga dan memeluk satu sama alin, alih-alih berdebat, berkonflik dan berperang. Maka dunia manusia dipenuhi kedamaian, kebahagiaan dan kesejahteraan. 

Jakarta, 29 Desember 2019


1 comment:

  1. Saya jadi penasaran dan ingat ketika kerja di rumah makan dulu, saya sering memperhatikan orang-orang yang datang, menebak bagaimana kisah hidup mereka, begitu pun kalau lagi di jalan. Pada dasarnya setiap orang punya masalahnya sendiri, punya kisahnya sendiri....

    ReplyDelete