Mencintai Nabi Muhammad dengan Sederhana

Kaligrafi nama Nabi Muhammad SAW yang sangat indah. Sumber: vectorstock.com

Beberapa tahun belakangan ini, saat ekstremisme dalam beragama semakin meningkat, aku mengalami kebingungan dalam banyak hal. Semakin banyak orang memaki, menghina, merendahkan, menghukum, me-neraka-kan orang lain dengan begitu mudah. Banyak yang mengaku sebagai pendakwah namun berteriak-teriak dalam dakwahnya sembari mendoakan orang lain dengan sejuta keburukan, kemalangan, kehinaan, kesakitan, hingga kehilangan rezeki. Perempuan dipaksa menutup tubuhnya dengan berlembar-lembar kain, dipaksa dengan sejumlah kebijakan level kabupaten hingga provinsi; namun para lelakinya begitu lantang mendakwahkan tentang haknya memiliki banyak istri untuk kepentingan seksual, tentang haknya menundukkan manusia perempuan sebagai 'hamba sahaya' baginya. 

Beberapa waktu kemudian, seorang ustadz yang kontroversial bahkan bercerai dengan istrinya; alasannya sang istri tidak bisa diatur sesuai syariat agama. Baru-baru ini seorang ustadz kondang juga menceraikan istri pertamanya untuk kedua kalinya (pernah rujuk setelah cerai pertama). Usut punya usut, rupanya sejak awal sang ustadzah tidak terima bahwa suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Sebagai perempuan yang menemani sang suami sejak mereka tidak punya apa-apa hingga menjadi pendakwah kaya raya, sang ustadzah merasa bagai habis sepah dibuang, saat suaminya menikah lagi dengan perempuan lebih muda lagi cantik, yang mungkin secara signifikan mempengaruhi kualitas hubungannya dengan sang ustadz. Seorang Psikolog bahwa mengaku bahwa di tahun saat sang ustadz menikah lagi, sang ustadzah mendatanginya dan melakukan konsultasi karena merasa tidak sanggup menerima bahwa suaminya menikah lagi dengan perempuan lain. Seorang perempuan yang dikenal luas sebagai perempuan lembut hati, berdakwah dengan hikmah dan terkenal dengan kesabarannya bahkan nggak mampu menahan perih di hatinya saat suaminya menikahi perempuan lain, meski ia tahu apa hukum poligami dalam Islam. Kukira, air mata sang ustadzah adalah gambaran nyata atas rasa sakit seluruh perempuan yang ditinggalkan suaminya untuk perempuan lain atas nama agama, padahal atas nama birahi. 

Lain lagi dengan seorang pengusaha kaya raya yang sering disebut syekh yang dengan mudahnya menikahi bocah 12 tahun, lalu bocah 7 tahun; dan negara tidak bergerak saat seorang pedofil kaya raya merampas hak pendidikan anak perempuan atas nama agama. Ditambah lagi dengan kasus kekerasan seksual hingga pemerkosaan yang dilakukan anak seorang pemimpin pesantren kepada sejumlah santriwati. Lucunya, meski ia telah resmi ditetapkan sebagai tersangka, ia kebal hukum. Hanya karena ia anak kiai, kaya raya dan suka membantu warga miskin; maka hukum menjadi kebal atasnya, meski ia melakukan tindakan kriminal paling memalukan yaitu merusak perempuan. Juga kasus-kasus lain yang menyeret nama pemuka dan pendakwah terkenal dan diteladani masyarakat negeri ini, namun ternyata merupakan bom waktu atas banyak kebusukan yang justru merusak dakwah Nabi Muhammad dalam memperbaiki akhlak manusia akhir zaman. 

Dalam perjalanan spiritualku sebagai pemeluk agama Islam dan percaya atas misi Islam dalam menjadi rahmat bagi semesta alam, perkara-perkara teranyar ini sungguh mengguncang iman. Tidak bisakah kita beragama dan ber-Islam dengan perasaan bahagia? Tidak bisakah kita tidak dimaki, dihina dan direndahkan karena cara pandang berbeda dalam menerima tafsir atas firman Tuhan? Tidak bisakah kita tidak dipaksa dengan makian untuk menyembah-Nya, membaca kitab-Nya, dan cara kita mencintai-Nya? Tidak bisakah kita tidak dipaksa dengan neraka-neraka-neraka sementara hidup sebagian kita sudah merupakan neraka dunia sejak dalam kandungan ibu? Tidak bisakah kita beragama dengan khidmat, tanpa adanya seseorang yang menghitung statistik ibadah harian kita seakan-akan kita akan diizinkan masusk surga dengan statistik ibadah harian sesuai asumsi kita? Tidak bisakah kita beragama sembari merasakan nikmatnya keindahan hidup bermasyarakat, alih-alih digiring untuk menikmati masji-masjid megah serupa istana di tengah kehidupan miskin masyarakat yang tidur dengan menahan lapar di perutnya atau stress dikejar-kejar utang yang tidka pernah selesai? 

Suatu kali, saat kegalauan ini memuncak dan aku tidak tahu harus kutenangkan dengan cara apa hatiku yang dipenuhi tanda tanya: aku mendengar ceramah singkat seorang Ustadz di belahan bumi lain. Dia berkata, "Anda boleh saja menolak keberadaan Tuhan sebagai pencipta dan pemelihara kehidupan. Tapi, bagaimana Anda bisa menolak Muhammad, sedangkan ia pernah hidup, membawa firman Tuhan untuk manusia dan namanya ditulis dengan penuh penghormatan dalam banyak catatan? Bagaimana Anda menolak bahwa sosok seperti itu ada di dunia ini?" 

Maka, terkait sang Nabi Akhir Zaman ini, aku memiliki sejumlah pertanyaan penting: siapakah yang paling mencintai Nabi Muhammad? Apa tolak ukur yang mampu memvalidasi bahwa seseorang lebih mencintai Nabi Muhammad dibandingkan orang lainnya termasuk orangtuanya, anak-akanya dan dirinya sendiri? Apakah mencintai Nabi Muhammad harus dijelaskan dengan lantang atau cukup dirasakan dalam diam? Bagaimana memastikan bahwa Nabi Muhammad menerima cinta orang yang mencintainya, terlebih cinta ummatnya yang berpisah jarak nyaris 1.500 tahun? Apakah mimpi bertemu Nabi Muhammad merupakan pertanda cinta itu bersambut? Lantas, bagaimana kedudukan seorang perempuan akhir zaman sepertiku dalam memastikan cintanya diketahui Nabi Muhammad?

Mungkin, manusia yang paling mencintai Nabi Muhammad adalah mereka yang hidup sezaman dengan beliau mulai dari keluarganya, sahabatnya, juga murid-muridnya yang menyebarkan Islam ke seluruh penjuru dunia. Lalu, bagaimana denganku yang terpisah jarak hampir 1.500 tahun dan lahir di negeri dengan budaya yang sama sekali berbeda dengan budaya di jazirah Arab kala itu? Menjadi Muslim karena dilahirkan dari keluarga Muslim dan mendengar kisah Nabi Muhammad bagai dongeng nan indah, sebab yang ada di sekelilingku tak akan pernah bisa menggambarkan bagaimana kehidupan di gurun Saudi Arabia atau tanah Hijaz pada hampir 1.500 tahun silam.  

Aku seringkali berpikir tentang hal-hal kecil seperti: bagaimana perasaan Nabi Muhammad jika dihidangkan kepada beliau buah rambutan, nangka, markisa, duku, cempedak, jambu air, nanas, manggis hingga pisang? Bagaimana perasaan Nabi Muhammad jika dijamu makan malam dengan menu semur jengkol, gudeg, terong balado, sambal dabu-dabu, tempe mendoan, arsik ikan mas, pepes peda, tahu gejrot, tumis leunca dan oncom, asam pade, gulai kepala kakap, hingga teri sambal petai? Bagaimana perasaan Nabi Muhammad jika disuguhi camilan getuk lindri, kue putu ayu, apem, lapis, singkong goreng, rengginang, opak, tape ketan, disertai minuman wedang uwuh, bajigur atau wedang ronde? Bagaimana tanggapan Nabi Muhammad jika dihidangkan kepadanya semur ayam, dendeng balado, ikan bakar sambal matah, sate lilit, bubur kacang hijau, pepes ikan hingga wedang uwuh? 

Mengapa aku bisa berkhayal demikian? Sebab, setiap kali sekelompok orang yang mengaku paling menjalankan sunnah Nabi Muhammad berkampanye soal segala penyakit akan sembuh dengan makan kurma, buah zaitun, buah ara dan hal-hal yang banyak tumbuh di Timur Tengah: aku jadi merasa hina dengan bahan pangan di negeriku sendiri karena tidak disebutkan dalam menu harian Nabi Muhammad. Apakah aku yang tidak terlalu menyukai kurma, susu kambing, atau bahan pangan asal Timur Tengah semisal Madinah nggak mencintai Nabi Muhammad? Apakah aku yang lebih menyukai pepaya, pisang raja sereh dan jambu klutuk dianggap tidak mengikuti sunnah Nabi Muhammad karena begitu jarangnya aku mengkonsumsi buah kurma dan buah ara? Apakah aku yang sangat tidak menyukai susu kambing dan memilih susu kedelai tidak menjalankan sunnah Nabi Muhammad? Apakah menggemari sumber pangan yang tumbuh di negeriku sendiri dibandingkan pangan asal Madinah dianggap tidak menjalankan sunnah Nabi Muhammad? 

Hal-hal sederhana semacam ini mungkin juga menjadi pertanyaan para Muslim di negeri-negeri yang tidak memiliki kebudayaan khas Timur Tengah. Misalnya, kehidupan ala Nabi Muhammad yang disebut sunnah apakah bisa dijalankan di negeri-negeri yang berdekatan dengan kutub utara atau kutub utara itu sendiri? Misalnya, bagaimana mereka dipaksa melakukan sunnah menikmati buah kurma sementara negara-negara mereka dipenuhi buah berry aneka jenis? atau bagaimana mereka dipaksa mengkonsumsi susu kambing sementara kekayaan ternak mereka merupakan sapi-sapi berkualitas tinggi? Atau bagaimana mereka dipaksa menghidupkan sunnah dengan memakan daging kambing sementara mereka punya banyak jenis hewan sebagai sumber daging? Atau bagaimana mereka dipaksa menggunakan pakaian khas Timur Tengah sementara suasana alam di negeri-negeri itu begitu ekstrem dan berbeda dengan alam gurun yang gersang, panas dan berdebu? Bagaimana ulama fikih menjawabnya? 

Seringkali, aku lebih suka memalingkan wajahku dengan mencari tahu bagaimana lama fikih membangun sistem hukum bagi Muslim yang hidup di negeri-negeri dengan kondisi alam ekstrem; daripada melihat dan mendengar mereka yang berdakwah dipenuhi amarah dan penghinaan kepada orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Aku lebih suka mengumpulkan kekuatan untuk merasakan keberadaaan Tuhanku, alih-alih beribadah sampai leherku pegal-pegal namun ayat-ayat itu hanya mampir di tenggorokan. Aku lebih suka mempelajari bagaimana Nabi Muhammad memuliakan perempuan sebagai salah satu aspek revolusi di dunia feodal Timur Tengah, alih-alih mendengar dakwah mengerikan tentang sehelai rambut perempuan yang bisa menyeret ayah atau suaminya ke jahannam. Aku hanya ingin mencintai Nabi Muhammad dengan sederhana, agar ia mengenali aku sebagai ummatnya meski kedudukanku dihadapannya umpama debu di alas kakinya. 

Bumi Manusia, Januari 2020


No comments:

Post a Comment