Membongkar Mitos Selaput Dara dan Keperawanan

Perempuan dan keperawanan yang diperdebatkan. Sumber: teenvogue.com


"Always be careful of what you hear about a woman. 
Rumors came from either a man who can't have her 
or a woman who can't compete her." 
-Unknown-


Beberapa waktu lalu kita dikagetkan oleh pemberitaan tentang seorang atlet senam berinisial SAS asal Kediri, Jawa Timur yang dipulangkan dan batal mengikuti SEA Games karena 'kabarnya' dituduh tidak perawan oleh pelatihnya. Sontak kabar tersebut memicu kemarahan publik karena keperawanan perempuan masih saja menjadi komoditas bahkan untuk hal-hal yang nggak nyambung dengan keperawanan itu sendiri. Meskipun kebenarannya masih simpang siur, namun tetap saja ini memicu amarah karena seakan-akan nilai seorang perempuan hanya diukur oleh sesuatu yang ada dalam alat kelaminnya. 

Keperawanan adalah isu sensitif entah sejak kapan. Namun, ia selalu menjadi standar untuk mengukur moral dan nilai seorang perempuan. Misalnya, para orangtua selalu mewanti-wanti anak perempuan mereka untuk berhati-hati dalam bergaul, terutama dengan lelaki. Hal ini dimaksudkan agar keperawanan si anak perempuan tetap terjaga dan dapat menjadi persembahan untuk lelaki yang menikahinya. Keperawanan sudah lazim menjadi syarat bagi seorang perempuan untuk dipinang lelaki baik-baik. Selain untuk urusan menikah, keperawanan juga sempat menjadi syarat masuk sekolah kedinasan tertentu bahkan jika hendak menikah dengan seorang tentara. Tes keperawanan ini biasanya dilakukan oleh rumah sakit yang ditunjuk oleh pihak si lelaki berdinas, misalnya rumah sakit tentara. Seorang temanku hampir mengalami tes keperawanan karena akan menikah dengan seorang tentara. Namun, ia lumayan beruntung karena kala itu tes keperawanan hanya sebagai opsi, bukan lagi kewajiban. Padahal sebelumnya, tes keperawanan menjadi semacam horror bagi para perempuan yang menjalin kasih dengan abdi negara ini. Mitos ini bikin super eneg, tahu!

Baca dulu: Menghormati Vagina dan Pemiliknya yang Mulia

Ada juga seorang temanku yang punya miom dalam rahimnya dan harus menjalani berbagai pemeriksaan. Salah satu pemeriksaan miom kan dengan memasukkan alat tertentu melalui vagina sehingga alat itu mencapai rahim dan tentu saja sampai ke si miom. Nah, karena dia belum pernah melakukan hubungan seksual, dia merasa khawatir karena alat pemeriksa miom akan memasuki vaginanya sebelum dimasuki penis lelaki yang menjadi suaminya. Aku syok dong mendengarnya, karena dia lebih peduli pada penis lelaki yang kelak jadi suaminya dibandingkan kesehatan rahimnya sendiri. Menurutku, kesehatan rahim dan tubuh dia secara keseluruhan jauh lebih utama ketimbang kepuasan suaminya kelak karena menikahi perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Sebab kalau berubah jadi kanker ganas miom kan bisa menjadi penentu hidup dan matinya temanku itu.  

Tahun 2013 silam ada seorang teman kosanku yang terjatuh dari toilet saat pipis. Peristiwa itu terjadi di apartemen tempat keluarganya tinggal di Kalibata. Soalnya, kosanku waktu itu menggunakan WC jongkok sehingga nggak mungkin orang bisa terjatuh saat nongkrong. "Pas diperiksa ke dokter, untung anak saya masih perawan," ujar Ibu temanku. Ia bercerita bahwa peristiwa jatuhnya anaknya dari toilet membuatnya takut anaknya akan mengalami kerusakan selaput dara. Ya Tuhan! Si ibu lebih peduli selaput dara daripada si anak punya kemungkinan patah tulang atau stroke atau apapun yang bisa bikin cacat! 

Parahnya, dalam banyak masyarakat keperawanan itu simbol kesucian lahir dan batin seorang perempuan. Para perempuan perawan dihormati melebihi para perempuan yang telah menikah dan memiliki anak. Makanya nggak heran kalau kaum lelaki terobsesi untuk menikah dengan perempuan perawan, meskipun si lelaki seorang bajingan. Di sejumlah negara bahkan ada lho ibu mertua yang menunggui sepasang pengantin melakukan hubungan seksual untuk memastikan bahwa si menantu perempuan memang perawan; trus dia akan mengecek sprei untuk memastikan darah perawan mengotori sprei dan memamerkannya ke anggota keluarga bahwa keperawanan si perempuan telah berhasil ditaklukkan si pengantin lelaki. 

Karena orang-orang terobsesi dengan keperawanan, banyak perempuan yang merasa bersalah ketika malam pertama dengan suaminya sama sekali nggak ada dara yang keluar dan mengotori sprei. Otomatis orang-orang akan mengira si pengantin perempuan nggak perawan, meskipun secara medis memang nggak semua perempuan mengeluarkan darah saat selaput dara robek ketika berhubungan seksual untuk pertama kalinya. Obsesi atas keperawanan ini juga membuat orang tidak menghargai perempuan yang telah menikah atau bercerai. Sehingga jika seorang lelaki menikahi seorang janda, maka akan disebut menikah dengan sepah alias bekas alias rongsokan. Gila kan? Orang-orang yang berpikir demikian memang nggak punya otak. Jika seorang lelaki dengan seenak jidat menunjuk perempuan yang tidak perawan sebagai sepah atau sampah, berarti dia sedang menyumpahi ibu yang melahirkannya sebagai sampah. Hmm, biasa kualat lho!

Perempuan selalu ditanya soal keperawanan dan kesucian, yang segalanya tentu mengarah kepada tubuhnya. Tapi, apakah perempuan juga diadili soal apakah dia korupsi apa enggak, dia pembohong apa enggak, dia pembunuh atau bukan, dia pengedar narkoba atau enggak, dia membaca berapa banyak buku dalam setahun atau berdiam diri dalam kebodohan dan pertanyaan lainnya selain tubuh? Selalu saja tubuh, tubuh, tubuh! Sampai kiamat cuma melototin tubuh!

YUK MENGENAL MITOS-MITOS GILA SEPUTAR KEPERAWANAN
Pertama, mitos yang paling terkenal adalah bahwa selaput dara merupakan alat ukur keperawanan. Katanya, kalau selaput dara robek seperti ditembus penis, artinya udah nggak perawan. Pertanyaannya, karena vagina merupakan sesuatu seperti lorong, trus dibagian mana gitu selaput dara menutupi si lorong itu? Nah, kalau selama ini yang disebut selaput dara menutupi lubang vagina, trus kenapa kita kaum perempuan bisa pipis dan haid? Silakan dipikirkan keanehan ini hahaha. 

Kedua, keperawanan dianggap menandakan kesucian seorang perempuan dan ia lebih disukai dari mereka yang telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Mitos ini dilanjutkan dengan ekspektasi bahwa seks paling sehat ya dilakukan dalam pernikahan. Nah, mitos ini nih yang bikin kita jadi bahan taruhan kaum lelaki, seakan-akan dengan menikahi perempuan perawan ia telah memenangkan sebuah pertarungan dan mendapatkan hadiah. Lantas, apakah keperawanan sang pengantin perempuan bisa menjamin kebahagiaan, kesehatan dan keberlangsungan sebuah pernikahan? Data di lapangan sih menunjukkan sebaliknya. Bahkan keperawanan perempuan saat dinikahi nggak menjamin si suami tetap setia dan tidak berpaling pada perempuan lain entah selingkuhan atau PSK. Sebab apa? Keperawanan juga nggak menjamin kepuasan seksual sebab seks itu dipelajari, dikomunikasikan dan dinikmati bersama oleh lelaki dan perempuan sebagai pasangan. Seks juga ada ilmunya, nggak bergantung pada perawan atau bukan perawan. 
Yuk cek vagina masing-masing, masih lengkap nggak isinya hehehe. Sumber: bedsider.org

Ketiga, berhubungan seksual dengan perawan bisa bikin awet muda dan semakin perkasa. Hmm, kira-kira apa hubungannya ya? Makanya nggak heran kalau ada kakek-kakek udah bau tanah menikahi perempuan muda berusia belasan tahun yang seharusnya masih sekolah. Dan dalam banyak budaya juga banyak sekali lelaki tua berpoligami dengan perempuan perawan untuk unjuk gigi kalau mereka masih perkasa. Keempat, di sejumlah negara di Afrika ada mitos bahwa berhubungan seksual dengan perempuan perawan bisa menyembuhkan HIV/AIDS. Sialnya, mitos ini membuat kasus pemerkosaan dan penularan HIV/AIDS semakin meningkat. Si perempuan perawan malah menghadapi masalah ganda, selain jadi korban kekerasan seksual juga ditularkan penyakit HIV/AIDS, dan bisa jadi juga mengalami kehamilan yang tidak diinginkan akibat pemerkosaan. Sungguh mitos yang mengerikan dan menimbulkan dampak sosial yang meresahkan. 

Kelima, ada nih mitos yang bilang kalau perempuan nggak perawan bisa dilihat dari bentuk tubuhnya, caranya berjalan, bentuk bokong, dan ya secara keseluruhan si perempuan berubah. Agak-agak pusing sih mendengar mitos ini, karena bagaimana cara mengukurnya? Kalau bentuk tubuh perempuan setelah melahirkan berubah baru masuk akal. 

Keenam, mitos tentang lelaki yang melakukan hubungan seksual bisa mendeteksi jika seorang perempuan masih perawan atau tidak. Selama ini sepertinya kaum lelaki membanggakan kebohongan mereka tentang kemampuan mengenali vagina yang belum atau sudah pernah melakukan hubungan seksual hingga penetrasi penis ke vagina. Kebohongan yang dibanggakan ini membuat kaum perempuan takut, jika telah melakukan hubungan seksual dengan seseorang di masa lalu lantas ketahuan oleh suaminya. Silakan tertawakan diri sendiri keran telah dibodohi kebohongan. 

Oke, waktunya kita serius membahas keperawanan berdasarkan ilmu kedokteran. Sudah saatnya kita menjadi manusia melek literasi organ reproduksi dan nggak memandang keperawanan berdasarkan mitos entah berantah apalagi cocokologi. Karena jika kita nggak mempelajari sesuatu dengan benar, lama-lama bisa gila karena dicekoki mitos atau doktrin yang berasal dari asumsi semata, dan asumsi bisa jadi merupakan asal muasal prasangka buruk. Karena mitos tentang selaput dara dan keperawanan yang dipelihara selama berabad-abad hanya menguntungkan kaum lelaki, dan perempuan dipaksa menyembah aturan itu. Bayangkan saja, lelaki bisa melakukan hubungan seksual dengan siapa saja entah pasangannya atau PSK, tanpa peduli soal orang akan menuding dia binal. Tapi, perempuan dipaksa untuk hanya melakukan hubungan seksual dengan satu orang saja seumur hidupnya, yaitu suaminya. Mending kalau si suami romantis dan perkasa di ranjang. Lha, kalau yang jadi suaminya loyo, kasar, dan nggak romantis kan mampus!

HUBUNGAN KEPERAWANAN DAN SELAPUT DARA ITU APA SIH?
Mungkin, selain para dokter manusia di bumi tuh percaya bahwa vagina dengan selaput dara didalamnya merupakan segalanya bagi seorang perempuan. Padahal, sistem reproduksi perempuan tuh sangat kompleks karena nggak hanya berkaitan dengan alat kelamin, tapi juga rahim hingga payudara. Sistem reproduksi perempuan tuh terdiri dari ovarium/indung telur, tuba palopi, rahim/uterus, vagina dan vulva, payudara dan kelenjar susu. Kompleks dan indah sekali, bukan? Jadi, kalau ada orang memuja selaput dara lebih dari memuja Tuhan, alangkah tololnya dia. Karena selaput dara itu hanya selaput tipis yang nggak lebih hebat dari anus tempat mengeluarkan taik atau hidung untuk bernafas. 

Mengapa sistem reproduksi perempuan begitu kompleks, dan membuat perempuan tercebur kedalam emosi yang ribet setiap kali masuk masa menstruasi? Jelas fungsinya bukan hanya buat bercinta, melainkan melahirkan kehidupan bahkan memberi makan manusia kecil yang disebut bayi. Dalam tubuh perempuan ada tabung ajaib bernama rahim tempat telur cikal bakal manusia tumbuh didalamnya jika sudah bertemu dengan kekasihnya si sperma dari miliknya kaum lelaki. Kompleksitas dan keindahan sistem reproduksi perempuan ini seakan hendak menjelaskan bahwa perempuan tuh makhluk dengan tugas khusus yang keren. Bayangkan, sembilan bulan lamanya (270 hari) perempuan harus menerima sebuah kegiatan penciptaan (produksi) manusia baru di dalam dirinya yang membuatnya lelah, stress, susah tidur, harus banyak makan, mengikuti segudang pantangan, sampai harus rajin memeriksakan diri ke dokter. Mengapa sistem reproduksi yang demikian tidak diciptakan dalam tubuh lelaki agar kehebatan lelaki sebagai khalifah di muka bumi semakin cetar membahana? Silakan tanyakan sendiri kepada Tuhan karena hanya Dia yang Maha Mengetahui segala sesuatu. 

Dengan mengenal sistem reproduksi perempuan, kita (kaum yang berpikir) menjadi tahu dan mengerti bahwa nilai seorang perempuan nggak bisa diukur dengan selaput dara. Bayangkan, seumur hidupnya perempuan harus menjaga sistem reproduksinya untuk tidak dimasuki lelaki sebelum menikah. Tetapi, lelaki bisa dengan enaknya memasuki sistem reproduksi perempuan manapun yang nggak berniat dia nikahi. Kan bajingan! Bahkan lelaki yang menikah, dengan meminjam aturan agama, bisa menikahi sampai 4 perempuan demi menyenangkan tubuhnya melalui hubungan seksual. Poligami selalu dibenarkan untuk memberikan akses kesenangan seksual pada lelaki, yang katanya hiper seks. Trus, kalau yang perempuan merupakan hiper seks gimana dia mendapatkan kepuasan seksual sementara nggak ada ajaran agama atau hukum positif negara-negara di dunia mana pun memberikan izin kepada perempuan untuk melakukan praktek poliandri? Kalau dunia mengira hanya lelaki yang menyukai dan membutuhkan seks hingga tingkat yang gila-gilaan jelas itu keliru. Karena perempuan juga memiliki hasrat menggelegak yang sama bahkan terkadang perempuan tertentu memiliki kebutuhan seksual yang lebih besar dari lelaki. Banyak perempuan sudah melakukan pembuktian soal ini. 

So, mengapa ada mitos soal selaput dara dan keperawanan? Karena sejak zaman dahulu kala manusia didoktrin bahwa selaput dara alias hymen itu akan rusak saat ditembus penis ketika berhubungan seksual. Padahal, dunia kedokteran membuktikan bahwa selaput dara itu 'melar' saat penis memasuki vagina buat penetrasi. Kenapa melar? Karena selaput dara itu elastis sebagaimana vagina dan anus, sebab hymen itu membran dan bukan pintu gerbang dari besi. Sehingga mereka yang bilang bahwa penetrasi akan merusak selaput dara dan vagina itu termasuk manusia bodoh yang enggak belajar, dan terkungkung dalam doktrin sesat. Lagipula, kalau selaput dara menjadi tolak ukur kesucian dan nilai seorang perempuan, berarti setelah terjarinya penertrasi perempuan selamanya akan dihukum nggak lagi bernilai, gitu? Ughhh, mengerikan sekali pandangan demikian. Sialnya, pandangan ini nyata ketika manusia memberi nilai perempuan yang belum menikah bernilai lebih tinggi daripada perempuan yang menjanda. Gara-gara hasrat dan sudut pandang lelaki atas tubuh perempuan inilah masyarakat manusia dibuat bodoh oleh isi kepalanya sendiri. 

Hal yang bikin ribet dari mitos keperawanan ini adalah betapa lambannya orang mengerti bahwa selaput dara nggak menentukan nilai seorang perempuan. Sehingga, banyak pihak akhirnya berusaha membuat berbagai metode pendidikan untuk memperkenalkan apa itu vagina dan penis, dan bahwa bentuk vagina dan penis di seluruh dunia nggak ada yang sama alias berbeda sebagaimana berbedanya wajah manusia. Dalam rangka melakukan pembuktian bahwa vagina itu berbentuk beda, seorang pembuat patung bernama Jamie McCartney membuat sebuah proyek bernama "The Great Wall of Vagina." Selama 5 tahun sejak 2008, ia mengumpulkan 400 relawan perempuan berusia 18-76 tahun untuk terlibat dalam proyek tersebut. Di mana bentuk vagina para perempuan itu dicetak dan dipamerkan dalam 10 blok dinding vagina yang mengundang rasa penasaran warga dunia. 

Melalui karya seni tersebut, Jamie McCartney ingin memiliki kontribusi dalam proses membangun kesadaran manusia, khususnya perempuan bahwa vagina bukan organ tubuh yang kotor, jorok dan nista. Justru, vagina harus dibicarakan secara terbuka sebagaimana manusia memuliakan wajah, kepala, tangan, kaki, perut dan anggota tubuh lainnya. Proyek ini jelas mengundang kontroversi, sekaligus penasaran warga dunia, karena ini sebuah keberanian seorang seniman memuliakan vagina perempuan sebagai sesuatu yang artistik bukan dalam konteks seksualitas, melainkan tentang membangun persepsi baru dalam menghargai bagian dari tubuh perempuan. Bagaimanapun juga, vagina merupakan organ tempat setiap manusia lahir ke dunia, tidak terkecuali pada Nabi, Rasul dan orang-orang suci. Vagina sebaiknya memberikan manusia kesadaran bahwa kita nggak berhak merendahkan apalagi memberinya label sebagai organ tubuh yang nista, sebab kita semua lahir melaluinya.

PARA PEREMPUAN YANG MEMILIH MELELANG KEPERAWANAN
Mitos keperawanan membuat perempuan terkungkung dalam sudut pandang dan kepentingan kaum lelaki. Sehingga, untuk membalas dendam sejumlah perempuan muda yang belum pernah melakukan hubungan seksual memilih melelang keperawanan mereka. Pada Maret 2004 seorang gadis berusia 18 tahun bernama Rossie Reid melelang keperawanannya seharga Rp. 155 juta, untuk membayar utang biaya kuliah di Universitas Bristol sebesar Rp. 277 juta. Pada 2005, seorang gadis di Peru bernama Graciela Yataco juga melelang keperawanannya sebesar Rp. 81 juta untuk membiayai pengobatan ibunya yang menderita sakit ginjal dan jantung. Pada 2008, seorang gadis bernama Natalie Dylan yang berusia 22 tahun melelang keperawanannya senilai Rp. 2.5 Miliar (meski kisah ini masih simpang siur). 

Lalu pada 2018 publik dibuat heboh dengan pengakuan seorang perempuan muda asal Indonesia bernama Fela yang menjual keperawannya kepada seorang Politikus Jepang seharga Rp. 19 Miliar atas bantuan Cinderella Escort, sebuah agensi yang membantu lelang keperawanan. Fela memilih melelang keperawananya demi mendapatkan kemerdekaan finansial dan membantu ekonomi keluarganya, daripada keperawanan itu dia berikan gratis kepada lelaki yang kelak meninggalkannya. Bahkan nih ada sebuah buku berjudul "Selling My Virginity" karya Jan Zakobielski yang mengisahkan tentang 7 orang perempuan yang berhasil melakukan lelang keperawanan melalui agensi Cinderella Escort miliknya. Meski bisnis lelang keperawanan ini dianggap sebagai tindakan pelacuran, tapi si pemilik Cinderella Escort nggak dilaporkan ke polisi dong karena di Jerman prostitusi itu legal dan para perempuan yang hendak menjual keperawanannya mengalami berbagai pemeriksaan oleh dokter untuk membuktikan bahwa benar mereka belum pernah melakukan hubungan seksual atau terjadi penetrasi penis ke vagina mereka.

KESEHATAN ORGAN REPRODUKSI LEBIH PENTING DARI KEPERAWANAN
Sekarang, kaum perempuan harus bisa memberikan prioritas bagi dirinya. Peduli pada mitos soal keperawanan atau kesehatan reproduksi? Karena ternyata ada fakta menarik bahwa para perempuan di Indonesia tuh nggak pernah memeriksa organ reproduksi mereka ke dokter kandungan kecuali menjelang menikah atau saat hamil. Padahal, di luar negeri tuh perempuan yang masih virgin alis belum melakukan hubungan seksual dianggap membahayakan kesehatannya sendiri karena setiap perempuan seharusnya melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin, untuk melihat jika ada masalah-masalah yang terjadi seperti gejala miom, kanker serviks dan sebagainya. 

Mitos keperawanan adalah cara lelaki dan kelompok berkuasa untuk menikmati perempuan sebagai milik mereka, serta mengekang perempuan dari mendapatkan apa yang dia inginkan akan kepuasan seksual. Selama ini, perempuan dicekoki pemahaman bahwa kehormatan masyarakat terletak di selaput dara perempuan sementara tak mengapa jika lelaki nakal dan binal selagi muda. Padahal, lelaki binal tentu tak sendirian melainkan ada pasangan perempuan entah kekasih atau PSK. Bayangkan, seumur hidup perempuan berusaha menjaga kesucian tubuhnya hanya untuk dipersembahkan kepada lelaki yang sudah melatih kemampuan seksualnya dengan PSK? What the hell is that? Serem banget, kan? 
Yuk, jaga dan sayangi organ reproduksi agar sehat selalu

Baru-baru ini, bahkan seorang istri Walikota di sebuah kota menyatakan bahwa kondisi vagina para perempuan memberi pengaruh besar terhadap kesetiaan suami. Tingginya angka homoseksual di kotanya membuat sang istri Walikota berencana memberikan pendidkkan kepada para perempuan bagaimana cara menjaga kekencangan dan kesehatan vagina agar suami-suami mereka nggak melakukan seks menyimpang dengan menjadi gay. Hah, apa pula ini? Bayangkan, seorang istri Walikota hendak memberikan pendidikan yang menekankan bahwa homoseksual itu salah perempuan sehingga yang kena sasaran adalah vagina perempuan, alih-alih memberikan pendidikan mengenai fakta seksualitas di Indonesia, dan bahwa perempuan wajib menjaga kesehatan organ reproduksinya untuk kepentingan tubuhnya sendiri, bukan sebagai persembahan kepada lelaki! Kesadaran ini penting bagi perempuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari berbagai penyakit dalam sistem reproduksi dan kemungkinan tertular penyakit menular seksual dari lelaki yang 'jajan' di luar misal dengan selingkuhan atau rajin bercinta dengan PSK. 

BAGAIMANA CARA MELAWAN STIGMA ATAS MITOS INI? 
Melalui tulisan ini, aku melepaskan diri dari tuduhan/prasangka bahwa aku mengajak perempuan melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan. Sebagaimana urusan lain dalam kehidupan manusia, seksualitas adalah urusan personal setiap orang. Jika selama ini kita beranggapan bahwa seks diluar pernikahan sangat beresiko, fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa seks dalam pernikahan juga penuh resiko. Contohnya, jika kita mengkaji data tentang penularan HIV/AIDS di Indonesia, pada persentase tertentu korbannya justru perempuan bersuami dan anak-anak mereka bahkan bayi-bayi yang baru dilahirkan. Ini menunjukkan bahwa seks dalam pernikahan tak selalu aman jika pasangan merupakan lelaki nakal, punya pasangan seksual selain istrinya, suka jajan PSK, atau memakai narkoba. Untuk sampai pada kesadaran ini kita harus belajar melalui data di lapangan, bukan kepada mitos dan doktrin yang mengawang-ngawang. 

Apakah pembaca paham mengapa alat kelamin lelaki gampang dilihat saat bercermin sementara alat kelamin perempuan tersembunyi? Mungkin itu juga yang selama ini menjadi alasan mitos dan doktrin seksualitas manusia muncul dan berkembang, meracuni pikiran kita semua. Lelaki merasa dirinya bebas menunjukkan kejantannya dan memamerkan kepada dunia pemahamannya tertang seksualitasnya. Sementara perempuan dipaksa bersembunyi, membisu dan berdiam diri tentang semua itu karena kehidupan seksualnya bahkan nilai alat kelaminnya ditentukan oleh lelaki yang menjadi suaminya. Lelaki dididik untuk terbuka membicarakan alat kelaminnya dan hasrat seksualitasnya, sementara perempuan dipaksa membisu seakan-akan perempuan nggak punya otak dan hasrat untuk menjelaskan apa yang dipahaminya dan apa yang diinginkannya soal seksualitasnya. 

Sedihnya, hal ini nggak terjadi setahun dua tahun, melainkan sejak peradaban manusia dibangun dan berkembang hingga saat ini. Lihat, betapa lama mitos ini merisak otak dan perasaan manusia. Perempuan diposisikan untuk menjadi bodoh, bahkan tak mengenal sistem reproduksinya sendiri demi kesenangan lelaki. Hm, apakah kita menyembah lelaki? Mengapa kita harus begitu manut pada lelaki untuk hal-hal yang bahkan merugikan diri kita sendiri, sementara lelaki dan perempuan sama-sama lahir dari selongsong vagina tempat darah haid dan air kencing keluar? Mengapa kita membiarkan lelaki melakukan apapun yang mereka inginkan atas tubuh, nasib dan kehidupan perempuan? Lelaki nggak sehebat itu. Lelaki nggak bisa mewakili rasa sakit perempuan setiap kali haid, mengandung, melahirkan hingga rasa sakit lain yang berkaitan dengan tubuh perempuan. Jika lelaki bahkan tak bisa mengambil rasa sakit dari tubuh perempuan, mengapa kita menurut pada lelaki untuk kebodohan, kepongahan dan sikap sombong mereka? Mengapa kita membiarkan lelaki mengontrol sistem reproduksi perempuan? Bukankah kita manusia yang punya derajat dan posisi setara di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa? 

Sekarang, satu-satunya cara untuk melawan stigma super bodoh ini adalah dengan belajar. Perempuan harus membuat dirinya paham tentang tubuhnya sendiri, dan salah satu upaya untuk belajar adalah bertanya kepada tim medis perempuan semisal dokter kandungan yang sangat paham tentang tubuh dan sistem reproduksi perempuan. Kita juga bisa mengikuti berbagai kegiatan diskusi tentang sistem reproduksi perempuan, bahkan seksologi. Dan yeah, kita bisa membaca banyak buku tentang ini. 

Akhir kata, terima kasih telah membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat. 

Jakarta, 19 Desember 2019
Bahan bacaan: 
https://regional.kompas.com/read/2019/12/03/11550051/7-fakta-lengkap-atlet-senam-sea-games-dipulangkan-karena-dituduh-tak-perawan?page=all
https://regional.kompas.com/read/2019/12/02/15034601/guru-kecewa-anak-didiknya-gagal-ke-sea-games-karena-tuduhan-tak-perawan
https://www.healthline.com/health/healthy-sex/what-happens-when-you-lose-your-virginity#penetration 
https://tirto.id/keperawanan-dan-mitos-mitos-selaput-dara-cwZc
https://tirto.id/keperawanan-dalam-dunia-medis-cNcm
https://en.wikipedia.org/wiki/Virginity
https://iwhc.org/2010/05/10-myths-about-sex-and-virginity-debunked/
https://www.scoopwhoop.com/Virginity-Myths/
https://everydayfeminism.com/2013/08/4-myths-about-virginity/
https://en.wikipedia.org/wiki/Female_reproductive_system
https://www.huffpost.com/entry/the-great-wall-of-vagina_n_4556309
https://news.artnet.com/market/jamie-mccartney-vagina-sculptures-321901
https://tirto.id/mereka-yang-melelang-keperawanan-dan-keperjakaannya-dhLw
https://makassar.tribunnews.com/2019/02/25/wawancara-eksklusif-dengan-fela-gadis-asal-indonesia-yang-rela-jual-diri-rp-19-m-demi-keluarga
https://www.amazon.com/Selling-Virginity-world%60s-Cinderella-Escorts/dp/1718114729
https://en.wikipedia.org/wiki/Virginity_auction
https://www.thesun.co.uk/news/3213028/cinderella-escorts-agency-selling-virginity-jan-zakobielski/
https://www.merdeka.com/peristiwa/suara-hati-para-istri-di-bekasi-amit-amit-suami-menjadi-gay.html
https://www.researchgate.net/publication/272442827_Myths_and_misconceptions_Midwives'_perception_of_the_vaginal_opening_or_hymen_and_virginity
https://www.bedsider.org/features/962-5-myths-about-virginity-busted



6 comments:

  1. Suka sama postingan yang open minded gini. Saya akui memang, di daerahku atau mungkin negara ini, keperawanan sungguh diagungkan. Sebenarnya ya gak masing masing mau perawan atau tidak. Tapi yang paling saya gak setuju itu, seorang teman saya pernah bilang "kelak maharmu itu untuk membayar keperawanan mu". Sungguh ironis. Saya rasa mahar bukan sekedar buat beli perawan. Lalu apa bedanya sama lelang perawan dengan mahar kalau tujuannya seperti itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, mahar buat membeli keperawanan? Ya berarti prostitusi juga namanya, apa bedanya dengan lelang keperawanan dan seks berbayar ala PSK? Dan tugas kitalah untuk mengubah pandangan ini. Enak saja tubuh kita dihargai cuma dengan uang tak seberapa.

      Delete
  2. Ingin sekali aku sodorkan tulisan ini ke ibu ku yang jutaan kali bilang "ingat nak, sebagai perempuan, kalau sudah hilang keperawanannya, kita nggak akan ada lagi harganya dimata orang".LOL :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seorang teman pernah mengatakan, bahwa kaum lelaki akan menggunakan 'tidak perawan' pada istrinya untuk menundukkan istrinya kepadanya, agar patuh secara membabi buta dan penuh ketakutan. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan sudah tidak perawan akan digunakan kaum lelaki untuk melakukan hegemoni atasnya. Dengan demikian para perempuan lupa untuk mencari tahu apa benar si lelaki masih perjaka saat menikah atau justru dia punya riwayat menghamili anak perempuan orang. Harga seorang perempuan di mata orang tidak terletak pada selaput dara. Jika kita ada di lingkungan demikian, maka mari kita berusaha membalik keadaan dengan menjadikan harga lelaki dengan keperjakaannya. Saat pacaran atau kelak akan menikah, mari berani diskusi banyak soal seksualitas dengan pasangan, agar keadaan menjadi seimbang, dan keluarga jadi paham bahwa perempuan bukan pelayan lelaki. Bahwa kita perempuan pun berhak dilayani lelaki.

      Delete
  3. Hmmmm, saya malah menangkap isi tulisan ini bukan hanya mengajak perempuan open minded dgn seks, malah justru membuat terbebasnya aturan-aturan yg telah ditetapkan oleh agama.

    Contohnya jika pemahaman yg terbentuk melalui tulisan ini " nggak apa-apa sih kalo lu udah g perawan sebelum menikah toh hymen/selaput dara itu bukan tolak ukur kamu itu suci."

    Toh apakah nggak berbahaya jika terjadi missunderstanding pada kawula muda apalagi yg lemah imannya menganggap hubungan di luar pernikahan itu sama saja dengan hubungan pernikahan?
    *Cinderella esscort - melelang keperawanan.
    Kan bisa bahaya jika asumsi yg terbentuk demikian.

    Jgn sampai tulisan kita yg tujuannya awalnya positif bisa jadi Boomerang bagi pembaca. Mohon kiranya mentrigger lagi kajian agamanya terlebih negara kita mayoritas muslim.

    Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Anonim, terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Kalau Anda menganggap bahwa tulisan bisa membawa pembaca pada pemahaman yang salah soal seks diluar pernikahan, itu hak Anda. Toh, Firman Tuhan yang suci juga ditafsirkan manusia dengan cara berbeda. Kalau kita mundur ke belakang, kita pasti pernah membaca sejarah tentang para Tuan yang melakukan hubungan seksual dengan budak perempuan dan itu diperbolehkan. Nah, bukankah itu seks diluar pernikahan? Lantas mengapa seks diluar pernikahan antara tuan dan budak perempuan nggak terjadi lagi zaman modern? Karena manusia modern telah membebaskan dirinya dari perbudakan.

      Lalu, jika kita mau kaitkan dengan artikel ini, setiap orang memiliki opini dan asumsi sendiri soal seks, dan hal tersbeut bergantung pada pengalamana hidupnya, apa yang dia pelajari, didikan keluarga dan lingkungan dan mungkin pengalaman seksualnya. Alih-alih Anda menuduh tulisan saya bisa membawa orang pada pemahaman bahwa seks diluar pernikahan itu boleh, sebaiknya Anda fokus pada isu mengapa manusia menggantungkan kehormatannya kepada organ tubuh bernama hymen? Let's talk about it dan bikin tulisan soal itu, karena ini sangat menarik dalam konteks membaca konsensus sosial masyarakat di seluruh dunia.

      Delete