Membongkar Mitos Selaput Dara dan Keperawanan

Perempuan dan keperawanan yang diperdebatkan. Sumber: teenvogue.com


"Always be careful of what you hear about a woman. Rumors came from 
either a man who can't have her or a woman who can't compete her." 
-Anonymous-


Beberapa waktu lalu kita di kagetkan oleh pemberitaan tentang seorang atlet senam berinisial SAS asal Kediri, Jawa Timur yang dipulangkan dan batal mengikuti SEA Games karena 'kabarnya' dituduh tidak perawan oleh pelatihnya. Sontak kabar tersebut memicu kemarahan publik karena keperawanan perempuan masih saja menjadi komoditas bahkan untuk hal-hal yang nggak nyambung dengan keperawanan itu sendiri. Meskipun kebenarannya masih simpang siur, namun tetap saja ini memicu amarah karena seakan-akan nilai seorang perempuan hanya diukur oleh sesuatu yang ada dalam alat kelaminnya. 

Keperawanan adalah isu sensitif entah sejak kapan. Namun, ia selalu menjadi standar untuk mengukur moral dan nilai seorang perempuan. Misalnya, para orangtua selalu mewanti-wanti anak perempuan mereka untuk berhati-hati dalam bergaul, terutama dengan lelaki. Hal ini dimaksudkan agar keperawanan si anak perempuan tetap terjaga dan dapat menjadi persembahan untuk lelaki yang menikahinya. Keperawanan sudah lazim menjadi syarat bagi seorang perempuan untuk dipinang lelaki baik-baik. Selain untuk urusan menikah, keperawanan juga sempat menjadi syarat masuk sekolah kedinasan tertentu bahkan jika hendak menikah dengan seorang tentara. Tes keperawanan ini biasanya dilakukan oleh rumah sakit yang ditunjuk oleh pihak si lelaki berdinas, misalnya rumah sakit tentara. Seorang temanku hampir mengalami tes keperawanan karena akan menikah dengan seorang tentara. Namun, ia lumayan beruntung karena kala itu tes keperawanan hanya sebagai opsi, bukan lagi kewajiban. Padahal sebelumnya, tes keperawanan menjadi semacam horror bagi para perempuan yang menjalin kasih dengan abdi negara ini. Mitos ini bikin super eneg, tahu!
Apakah ada tes keperjakaan juga? 

Ada juga seorang temanku yang punya miom dalam rahimnya dan harus menjalani berbagai pemeriksaan. Salah satu pemeriksaan miom kan dengan memasukkan alat tertentu melalui vagina sehingga alat itu mencapai rahim dan tentu saja sampai ke si miom. Nah, karena dia belum pernah melakukan hubungan seksual, dia merasa khawatir karena alat pemeriksa miom akan memasuki vaginanya sebelum dimasuki penis lelaki yang menjadi suaminya. Aku syok dong mendengarnya, karena dia lebih peduli pada penis lelaki yang kelak jadi suaminya dibandingkan kesehatan rahimnya sendiri. Menurutku, kesehatan rahim dan tubuh dia secara keseluruhan jauh lebih utama ketimbang kepuasan suaminya kelak karena menikahi perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Sebab kalau berubah jadi kanker ganas miom kan bisa menjadi penentu hidup dan matinya temanku itu. 

Tahun 2013 silam ada seorang teman kosanku yang terjatuh dari toilet saat pipis. Peristiwa itu terjadi di apartemen tempat keluarganya tinggal di Kalibata. Soalnya, kosanku waktu itu menggunakan WC jongkok sehingga nggak mungkin orang bisa terjatuh saat nongkrong. "Pas diperiksa ke dokter, untung anak saya masih perawan," ujar Ibu temanku. Ia bercerita bahwa peristiwa jatuhnya anaknya dari toilet membuatnya takut anaknya akan mengalami kerusakan selaput dara. Ya Tuhan! Si ibu lebih peduli selaput dara daripada si anak punya kemungkinan patah tulang atau stroke atau apapun yang bisa bikin cacat! 

Baca dulu: Menghormati Vagina seperti milik Ibu

Parahnya, dalam banyak masyarakat keperawanan itu simbol kesucian lahir dan batin seorang perempuan. Para perempuan perawan dihormati melebihi para perempuan yang telah menikah dan memiliki anak. Makanya nggak heran kalau kaum lelaki terobsesi untuk menikah dengan perempuan perawan, meskipun si lelaki seorang bajingan. Di sejumlah negara bahkan ada lho ibu mertua yang menunggui sepasang pengantin melakukan hubungan seksual untuk memastikan bahwa si menantu perempuan memang perawan; trus dia akan mengecek sprei untuk memastikan darah perawan mengotori sprei dan memamerkannya ke anggota keluarga bahwa keperawanan si perempuan telah berhasil ditaklukkan si pengantin lelaki. 

Karena orang-orang terobsesi dengan keperawanan, banyak perempuan yang merasa bersalah ketika malam pertama dengan suaminya sama sekali nggak ada dara yang keluar dan mengotori sprei. Otomatis orang-orang akan mengira si pengantin perempuan nggak perawan, meskipun secara medis memang nggak semua perempuan mengeluarkan darah saat selaput dara robek ketika berhubungan seksual untuk pertama kalinya. Obsesi atas keperawanan ini juga membuat orang tidak menghargai perempuan yang telah menikah atau bercerai. Sehingga jika seorang lelaki menikahi seorang janda, maka akan disebut menikah dengan sepah alias bekas alias rongsokan. Gila kan? Orang-orang yang berpikir demikian memang nggak punya otak. Jika seorang lelaki dengan seenak jidat menunjuk perempuan yang tidak perawan sebagai sepah atau sampah, berarti dia sedang menyumpahi ibu yang melahirkannya sebagai sampah. Hmm, biasa kualat lho!

Perempuan selalu ditanya soal keperawanan dan kesucian, yang segalanya tentu mengarah kepada tubuhnya. Tapi, apakah perempuan juga diadili soal apakah dia korupsi apa enggak, dia pembohong apa enggak, dia pembunuh atau bukan, dia pengedar narkoba atau enggak, dia membaca berapa banyak buku dalam setahun atau berdiam diri dalam kebodohan dan pertanyaan lainnya selain tubuh? Selalu saja tubuh, tubuh, tubuh! Sampai kiamat cuma melototin tubuh!

YUK MENGENAL MITOS-MITOS GILA SEPUTAR KEPERAWANAN
Pertama, mitos yang paling terkenal adalah bahwa selaput dara merupakan alat ukur keperawanan. Katanya, kalau selaput dara robek seperti ditembus penis, artinya udah nggak perawan. Pertanyaannya, karena vagina merupakan sesuatu seperti lorong, trus dibagian mana gitu selaput dara menutupi si lorong itu? Nah, kalau selama ini yang disebut selaput dara menutupi lubang vagina, trus kenapa kita kaum perempuan bisa pipis dan haid? Kalau pembaca lelaki mau tahu, darah haid itu nggak selalu encer seperti susu coklat. Darah haid sebagian perempuan berbentuk gumpalan darah seperti jelly. Sok aja bayangin gimana jelly keluar dari dinding rahim melewati lorong vagina. Kalau selaput dara menutupi vagina, maka perempuan haid yang darahnya menggumpal pasti nggak bisa keluar dong. Silakan dipikirkan hal ini baik-baik ya. 

Coba deh buat kaum perempuan yang belum pernah melakukan hubungan seksual, masukkan jari telunjuk kalian ke lubang vagina kalian. Bisa masuk apa enggak? Menembus sesuatu seperti tembok atau sesuatu yang dianggap selaput dara nggak? Karena kalau lihat di gambar-gambar anatomi tubuh sih letak selaput dara itu di pinggir liang vagina dan dia semacam membran tipis yang melar kayak karet. Sifat melar selaput dara ini mirip dengan liang vagina dan rahim secara keseluruhan selama proses kehamilan. Dan kalau kita mau belajar melihat banyak media pembelajaran tentang seks dan apa yang terjadi pada vagina selama melakukan hubungan seksual: bahwa organ vagina itu elastis. Sehingga kalau ada lelaki bilang vaginamu longgar, sebenarnya bukan vaginanya yang longgar namun bisa jadi alat kelaminnya yang kecil dan loyo. Namun, karena terlampau malu mengakui kekurangan alat kelaminnya sendiri, yang paling mudah yang menyalahkan perempuan. Lelaki jenis ini biasanya akan meninggalkanmu untuk mencari perempuan lain sebagai mangsa, dan mangsa itu adalah perempuan muda yang bodoh dan mau diperdaya. 

Selaput dara robek dan berdarah saat melakukan hubungan seksual pertama kali? Kalau menurut banyak hasil penelitian sih nggak selalu. Sebab, kondisi sistem reproduksi perempuan berbeda satu dengan lainnya. Kondisi selaput dara pun berbeda. Ada yang selaput daranya tebal dan si perempuan akan tetap perawan meski sudah punya anak; ada yang selaput daranya tipis dan bisa rusak bahkan hanya karena si perempuan mengendarai sepeda atau berolahraga terlampau keras; ada juga perempuan tanpa selaput dara. Dengan kondisi demikian, bagaimana kita 'tega' mengatakan bahwa setiap hubungan seksual pertama kali seorang perempuan mengeluarkan darah. Karena banyak lho, perempuan melukai jarinya sendiri untuk membuat seakan-akan darah keluar saat malam pertama pernikahan, demi memuaskan ibu mertua yang kolot. 

Kedua, keperawanan dianggap menandakan kesucian seorang perempuan dan ia lebih disukai dari mereka yang telah melakukan hubungan seksual sebelum menikah. Mitos ini dilanjutkan dengan ekspektasi bahwa seks paling sehat ya dilakukan dalam pernikahan. Nah, mitos ini nih yang bikin kita jadi bahan taruhan kaum lelaki, seakan-akan dengan menikahi perempuan perawan ia telah memenangkan sebuah pertarungan dan mendapatkan hadiah. Lantas, apakah keperawanan sang pengantin perempuan bisa menjamin kebahagiaan, kesehatan dan keberlangsungan sebuah pernikahan? Data di lapangan sih menunjukkan sebaliknya. Bahkan keperawanan perempuan saat dinikahi nggak menjamin si suami tetap setia dan tidak berpaling pada perempuan lain entah selingkuhan atau PSK. Sebab apa? Keperawanan juga nggak menjamin kepuasan seksual sebab seks itu dipelajari, dikomunikasikan dan dinikmati bersama oleh lelaki dan perempuan sebagai pasangan. Seks juga ada ilmunya, nggak bergantung pada perawan atau bukan perawan. 
Yuk cek vagina masing-masing, masih lengkap nggak isinya hehehe. Sumber: bedsider.org

Ketiga, berhubungan seksual dengan perawan bisa bikin awet muda dan semakin perkasa. Hmm, kira-kira apa hubungannya ya? Makanya nggak heran kalau ada kakek-kakek udah bau tanah menikahi perempuan muda berusia belasan tahun yang seharusnya masih sekolah. Dan dalam banyak budaya juga banyak sekali lelaki tua berpoligami dengan perempuan perawan untuk unjuk gigi kalau mereka masih perkasa. Keempat, di sejumlah negara di Afrika ada mitos bahwa berhubungan seksual dengan perempuan perawan bisa menyembuhkan HIV/AIDS. Sialnya, mitos ini membuat kasus pemerkosaan dan penularan HIV/AIDS semakin meningkat. Si perempuan perawan malah menghadapi masalah ganda, selain jadi korban kekerasan seksual juga ditularkan penyakit HIV/AIDS, dan bisa jadi juga mengalami kehamilan yang tidak diinginkan akibat pemerkosaan. Sungguh mitos yang mengerikan dan menimbulkan dampak sosial yang meresahkan. 

Kelima, ada nih mitos yang bilang kalau perempuan nggak perawan bisa dilihat dari bentuk tubuhnya, caranya berjalan, bentuk bokong, dan ya secara keseluruhan si perempuan berubah. Agak-agak pusing sih mendengar mitos ini, karena bagaimana cara mengukurnya? Kalau bentuk tubuh perempuan setelah melahirkan berubah baru masuk akal. 

Keenam, mitos tentang lelaki yang melakukan hubungan seksual bisa mendeteksi jika seorang perempuan masih perawan atau tidak. Selama ini sepertinya kaum lelaki membanggakan kebohongan mereka tentang kemampuan mengenali vagina yang belum atau sudah pernah melakukan hubungan seksual hingga penetrasi penis ke vagina. Kebohongan yang dibanggakan ini membuat kaum perempuan takut, jika telah melakukan hubungan seksual dengan seseorang di masa lalu lantas ketahuan oleh suaminya. Silakan tertawakan diri sendiri karena telah dibodohi kebohongan. 

Oke, waktunya kita serius membahas keperawanan berdasarkan ilmu kedokteran. Sudah saatnya kita menjadi manusia melek literasi organ reproduksi dan nggak memandang keperawanan berdasarkan mitos entah berantah apalagi cocokologi. Karena jika kita nggak mempelajari sesuatu dengan benar, lama-lama bisa gila karena dicekoki mitos atau doktrin yang berasal dari asumsi semata, dan asumsi bisa jadi merupakan asal muasal prasangka buruk. Karena mitos tentang selaput dara dan keperawanan yang dipelihara selama berabad-abad hanya menguntungkan kaum lelaki, dan perempuan dipaksa menyembah aturan itu. Bayangkan saja, lelaki bisa melakukan hubungan seksual dengan siapa saja entah pasangannya atau PSK, tanpa peduli soal orang akan menuding dia binal. Tapi, perempuan dipaksa untuk hanya melakukan hubungan seksual dengan satu orang saja seumur hidupnya, yaitu suaminya. Mending kalau si suami romantis dan perkasa di ranjang. Lha, kalau yang jadi suaminya loyo, kasar, dan nggak romantis kan mampus!

HUBUNGAN KEPERAWANAN DAN SELAPUT DARA ITU APA SIH?
Mungkin, selain para dokter manusia di bumi tuh percaya bahwa vagina dengan selaput dara didalamnya merupakan segalanya bagi seorang perempuan. Padahal, sistem reproduksi perempuan tuh sangat kompleks karena nggak hanya berkaitan dengan alat kelamin, tapi juga rahim hingga payudara. Sistem reproduksi perempuan tuh terdiri dari ovarium/indung telur, tuba palopi, rahim/uterus, vagina dan vulva, payudara dan kelenjar susu. Kompleks dan indah sekali, bukan? Jadi, kalau ada orang memuja selaput dara lebih dari memuja Tuhan, alangkah tololnya dia. Karena selaput dara itu hanya selaput tipis yang nggak lebih hebat dari anus tempat mengeluarkan taik atau hidung untuk bernafas. 

Mengapa sistem reproduksi perempuan begitu kompleks, dan membuat perempuan tercebur kedalam emosi yang ribet setiap kali masuk masa menstruasi? Jelas fungsinya bukan hanya buat bercinta, melainkan melahirkan kehidupan bahkan memberi makan manusia kecil yang disebut bayi. Dalam tubuh perempuan ada tabung ajaib bernama rahim tempat telur cikal bakal manusia tumbuh didalamnya jika sudah bertemu dengan kekasihnya si sperma dari miliknya kaum lelaki. Kompleksitas dan keindahan sistem reproduksi perempuan ini seakan hendak menjelaskan bahwa perempuan tuh makhluk dengan tugas khusus yang keren. Bayangkan, sembilan bulan lamanya (270 hari) perempuan harus menerima sebuah kegiatan penciptaan (produksi) manusia baru di dalam dirinya yang membuatnya lelah, stress, susah tidur, harus banyak makan, mengikuti segudang pantangan, sampai harus rajin memeriksakan diri ke dokter. Mengapa sistem reproduksi yang demikian tidak diciptakan dalam tubuh lelaki agar kehebatan lelaki sebagai khalifah di muka bumi semakin cetar membahana? Silakan tanyakan sendiri kepada Tuhan karena hanya Dia yang Maha Mengetahui segala sesuatu. 

Dengan mengenal sistem reproduksi perempuan, kita (kaum yang berpikir) menjadi tahu dan mengerti bahwa nilai seorang perempuan nggak bisa diukur dengan selaput dara. Bayangkan, seumur hidupnya perempuan harus menjaga sistem reproduksinya untuk tidak dimasuki lelaki sebelum menikah. Tetapi, lelaki bisa dengan enaknya memasuki sistem reproduksi perempuan manapun yang nggak berniat dia nikahi. Kan bajingan! Bahkan lelaki yang menikah, dengan meminjam aturan agama, bisa menikahi sampai 4 perempuan demi menyenangkan tubuhnya melalui hubungan seksual. Poligami selalu dibenarkan untuk memberikan akses kesenangan seksual pada lelaki, yang katanya hiper seks. Trus, kalau yang perempuan merupakan hiper seks gimana dia mendapatkan kepuasan seksual sementara nggak ada ajaran agama atau hukum positif negara-negara di dunia mana pun memberikan izin kepada perempuan untuk melakukan praktek poliandri? Kalau dunia mengira hanya lelaki yang menyukai dan membutuhkan seks hingga tingkat yang gila-gilaan jelas itu keliru. Karena perempuan juga memiliki hasrat menggelegak yang sama bahkan terkadang perempuan tertentu memiliki kebutuhan seksual yang lebih besar dari lelaki. Banyak perempuan sudah melakukan pembuktian soal ini. 

So, mengapa ada mitos soal selaput dara dan keperawanan? Karena sejak zaman dahulu kala manusia di doktrin bahwa selaput dara alias hymen itu akan rusak saat ditembus penis ketika berhubungan seksual. Padahal, dunia kedokteran membuktikan bahwa selaput dara itu 'melar' saat penis memasuki vagina buat penetrasi. Kenapa melar? Karena selaput dara itu elastis sebagaimana vagina dan anus, sebab hymen itu membran dan bukan pintu gerbang dari besi. Sehingga mereka yang bilang bahwa penetrasi akan merusak selaput dara dan vagina itu termasuk manusia bodoh yang nggak belajar, dan terkungkung dalam doktrin sesat. Lagipula, kalau selaput dara menjadi tolak ukur kesucian dan nilai seorang perempuan, berarti setelah terjadinya penetrasi perempuan selamanya akan dihukum nggak lagi bernilai, gitu? Ughhh, mengerikan sekali pandangan demikian. Sialnya, pandangan ini nyata ketika manusia memberi nilai perempuan yang belum menikah bernilai lebih tinggi daripada perempuan yang menjanda. Gara-gara hasrat dan sudut pandang lelaki atas tubuh perempuan inilah masyarakat manusia dibuat bodoh oleh isi kepalanya sendiri. 

Hal yang bikin ribet dari mitos keperawanan ini adalah betapa lambannya orang mengerti bahwa selaput dara nggak menentukan nilai seorang perempuan. Sehingga, banyak pihak akhirnya berusaha membuat berbagai metode pendidikan untuk memperkenalkan apa itu vagina dan penis, dan bahwa bentuk vagina dan penis di seluruh dunia nggak ada yang sama alias berbeda sebagaimana berbedanya wajah manusia. Dalam rangka melakukan pembuktian bahwa vagina itu berbentuk beda, seorang pembuat patung bernama Jamie McCartney membuat sebuah proyek bernama "The Great Wall of Vagina." Selama 5 tahun sejak 2008, ia mengumpulkan 400 relawan perempuan berusia 18-76 tahun untuk terlibat dalam proyek tersebut. Di mana bentuk vagina para perempuan itu dicetak dan dipamerkan dalam 10 blok dinding vagina yang mengundang rasa penasaran warga dunia. 

Melalui karya seni tersebut, Jamie McCartney ingin memiliki kontribusi dalam proses membangun kesadaran manusia, khususnya perempuan bahwa vagina bukan organ tubuh yang kotor, jorok dan nista. Justru, vagina harus dibicarakan secara terbuka sebagaimana manusia memuliakan wajah, kepala, tangan, kaki, perut dan anggota tubuh lainnya. Proyek ini jelas mengundang kontroversi, sekaligus penasaran warga dunia, karena ini sebuah keberanian seorang seniman memuliakan vagina perempuan sebagai sesuatu yang artistik bukan dalam konteks seksualitas, melainkan tentang membangun persepsi baru dalam menghargai bagian dari tubuh perempuan. Bagaimanapun juga, vagina merupakan organ tempat setiap manusia lahir ke dunia, tidak terkecuali pada Nabi, Rasul dan orang-orang suci. Vagina sebaiknya memberikan manusia kesadaran bahwa kita nggak berhak merendahkan apalagi memberinya label sebagai organ tubuh yang nista, sebab kita semua lahir melaluinya.

PARA PEREMPUAN YANG MEMILIH MELELANG KEPERAWANAN
Mitos keperawanan membuat perempuan terkungkung dalam sudut pandang dan kepentingan kaum lelaki. Sehingga, untuk membalas dendam sejumlah perempuan muda yang belum pernah melakukan hubungan seksual memilih melelang keperawanan mereka. Pada Maret 2004 seorang gadis berusia 18 tahun bernama Rossie Reid melelang keperawanannya seharga Rp. 155 juta, untuk membayar utang biaya kuliah di Universitas Bristol sebesar Rp. 277 juta. Pada 2005, seorang gadis di Peru bernama Graciela Yataco juga melelang keperawanannya sebesar Rp. 81 juta untuk membiayai pengobatan ibunya yang menderita sakit ginjal dan jantung. Pada 2008, seorang gadis bernama Natalie Dylan yang berusia 22 tahun melelang keperawanannya senilai Rp. 2.5 Miliar (meski kisah ini masih simpang siur). 

Lalu pada 2018 publik dibuat heboh dengan pengakuan seorang perempuan muda asal Indonesia bernama Fela yang menjual keperawannya kepada seorang Politikus Jepang seharga Rp. 19 Miliar atas bantuan Cinderella Escort, sebuah agensi yang membantu lelang keperawanan. Fela memilih melelang keperawananya demi mendapatkan kemerdekaan finansial dan membantu ekonomi keluarganya, daripada keperawanan itu dia berikan gratis kepada lelaki yang kelak meninggalkannya. Bahkan nih ada sebuah buku berjudul "Selling My Virginity" karya Jan Zakobielski yang mengisahkan tentang 7 orang perempuan yang berhasil melakukan lelang keperawanan melalui agensi Cinderella Escort miliknya. Meski bisnis lelang keperawanan ini dianggap sebagai tindakan pelacuran, tapi si pemilik Cinderella Escort nggak dilaporkan ke polisi dong karena di Jerman prostitusi itu legal dan para perempuan yang hendak menjual keperawanannya mengalami berbagai pemeriksaan oleh dokter untuk membuktikan bahwa benar mereka belum pernah melakukan hubungan seksual atau terjadi penetrasi penis ke vagina mereka.

JADI, KEPERAWANAN ITU APA SIH? 
Setelah kita memahami mitos-mitos seputar selaput dara dan keperawanan yang mengakar di masyarakat sebagaimana penjelasan sebelumnya, saatnya kita memahami apa itu keperawanan (virginity). Aku memiliki sejumlah pertanyaan penting terkait keperawanan, yang mungkin bisa dijawab pembaca dengan gembira: 
  • Jika kamu kehilangan keperawananmu, kemana perginya keperawananmu itu? 
  • Jika seseorang mengambil keperawananmu, di mana mereka menyimpan 'keperawanan'mu? 
  • Apakah kamu bisa melihat seperti apa bentuk, rupa, bau dan warna keperawananmu? 
  • Jika seorang lelaki mengambil keperawananmu, apa yang dia ambil darimu? 
  • Jika seorang perempuan mengambil keperawananmu, apa yang dia ambil darimu? 
  • Jika keperawanan melekat di dalam tubuhmu, apakah seseorang bisa mengambilnya dan membawanya pergi, seperti jika seseorang memenggal kepalamu dan melemparkannya ke sungai atau menyimpannya dalam toples kaca untuk diawetkan di sebuah laboratorium? 
  • Mengapa keperawanan bisa menentukan harga diri dan kehormatanmu, melebihi isi kepalamu, isi hatimu, dan seluruh perbuatan baikmu selama hidup? 
  • Apakah rumahmu, makanan di piringmu, isi dompetmu, isi kepalamu dll diberikan oleh keperawanan atau kerja kerasmu memeras otak, banjir keringat, dan kerja keras? 
  • Coba kamu pikir: mengapa dunia terobsesi pada keperawanan, sesuatu yang bahkan bukan benda, yang tak bisa dilihat secara terbuka oleh seluruh dunia? 
  • Mengapa mereka yang mengaku mengambil keperawanan melakukannya secara tertutup, lalu merasa jago? Apakah mereka sedang berkata kepada Tuhan 'Hai Tuhanku, baru saja aku mengambil keperawanan si Dia!' 
  • Mengapa keperawanan yang katanya bisa dijebol hanya satu kali lebih berharga dari kedua kakimu yang bahkan bisa membawamu keliling dunia seumur hidupmu?
  • Apakah orang yang mengambil keperawananmu sedang terjebak dalam ilusi yang dibangun otaknya sendiri? 

Setelah pembaca menjawabnya di pikiran dan hati masing-masing, mari melanjutkan pembelajaran kita pada makna sebenarnya tentang keperawanan (virginity). Kata 'virginity' berasal dari bahasa latin yaitu 'virgo' yang bermakna 'virgin' atau 'maiden' alias 'tidak berpengalaman secara seksual' alias 'belum pernah melakukan hubungan seksual (sexual intercourse) alias sexual 'blank state' alias bersih dari segala persentuhan secara seksual. Contoh yang paling banyak disebut adalah sosok Virgin Mary (versi Kristen) dari Maryam putri Imran (versi Islam) meski cerita tentangnya lumayan berbeda. Mukjizat dari keperawanan Maria/Maryam ini mendapat legitimasi dari Sang Pencipta, yaitu kelahiran anak lelaki yang diberi nama Yesus (versi Kristen) atau Isa binti Maryam (versi Islam). Kehadiran anak lelaki di rahim Maria/Maryam benar-benar tanpa aktivitas seksual, melainkan hadiah langit. 


Dalam kehidupan manusia yang segala hukumnya ditentukan dan dijalankan oleh lelaki,  masalah keperawanan ini punya banyak cerita. Jika kita berangkat dari terminologi keperawanan 'virginity' yang mengarah pada perempuan muda yang belum pernah melakukan hubungan seksual (sexual intercourse), yang bisa jadi pernah petting alias grepe-grepe, maka nilai moral keperawanan benar-benar dipagari oleh sudut pandang lelaki demi kepentingan lelaki. Status perawan seorang perempuan dipertahankan sebagai ajaran moral karena menguntungkan lelaki dalam konteks bahwa perempuan yang dinikahi seorang lelaki hanya mengandung anaknya, dan bukan anak lelaki lain. Para lelaki yang menjadikan istri dan anak sebagai hak milik (properti) perlu memastikan bahwa anak dalam rahim istrinya adalah berasal dari benihnya. Sehingga, para lelaki perlu memastikan bahwa istrinya harus perawan sebelum menikah. Hal ini juga diperlukan sebagai bentuk legitimasi kepemilikan seorang lelaki atas anak lelaki yang kelak mewarisi nama besarnya dan harta kekayaan miliknya. 

Keperawanan selalu identik dengan perempuan dan ajaran moral ini hanya diterapkan secara keras pada perempuan. Para lelaki hanya disebut perawan/perjaka bila dia tidak menikah (tidak memiliki istri), meski belum tentu ketika lelaki melajang dia juga tidak melakukan hubungan seksual (sexual intercourse) dengan perempuan secara diam-diam. Hingga saat ini, mitos bahwa bukti keperawanan adalah darah yang keluar saat malam pertama tetap kuat di masyarakat. Hal ini bikin para perempuan ketakutan dan ketar-ketir, kalau-kalau pada peristiwa pertama sexual intercourse, mereka nggak berdarah. Kalau pas malam pertama pernikahan nggak mengeluarkan darah, mereka akan dicurigai nggak perawan dan menjadi gunjingan seisi kampung. Serem kan? 

Banyak perempuan telah membuktikan bahwa hubungan seksual yang pertama kali mereka lakukan benar-benar tidak mengeluarkan darah, sebagaimana yang selama ini digembor-gemborkan. Hal ini masuk akal jika kita bersedia menelusuri anatomi tubuh perempuan terutama di sistem reproduksi, ditambah pengetahuan soal hubungan seksual yang benar. Pertama, bahwa kondisi sistem reproduksi setiap perempuan berbeda termasuk kelenturan liang vagina di mana hymen berada. Kedua, foreplay (pemanasan) saat berhubungan seksual akan membuat liang vagina mengeluarkan cairan pelumas sehingga hubungan seksual nggak sakit, melainkan nikmat. Nah, kemungkinan besarnya, penetrasi penis ke vagina yang tanpa pelumas (vagina dalam keadaan kering) yang membuat vagina terluka sehingga berdarah. Nah, si darah yang keluar belum tentu karena robeknya hymen alias selaput dara, melainkan karena gesekan terlampau kuat di dinding vagina sehingga bikin robek (bayangkan aja, lengan kamu digesek sikat, pasti lecet dan berdarah kan?) 

Atas alasan inilah, banyak pegiat advokasi hak asasi perempuan menyatakan bahwa keperawanan merupakan mitos yang diciptakan lelaki untuk menguasai perempuan sebagai properti/hak milik. Alasannya apa? Bahwa keperawanan seorang perempuan nggak punya standar secara medis, tidak ada alat verifikasi secara sains dalam pembuktikan kehilangan keperawanan, dan aktivitas seksual tidak mengubah apapun dalam diri seseorang sebagai manusia. Melakukan atau tidak melakukan hubungan seksual, tubuh manusia tetap demikian adanya, tidak berubah sedikitpun, kecuali adanya kehamilan pada perempuan. Lagipula, bagaimana bisa hidup seorang perempuan yang panjang ditentukan oleh vaginanya? 

SAKIT SAAT BERHUBUNGAN SEKSUAL BUKAN TANDA PERAWAN
Pernah dengan gosip tentang rasa sakit yang nikmat setelah berhubungan seksual pertama kali? Pernah dengar kalau perempuan perawan bertemu lelaki jantan akan jalan terpincang-pincang setelah pertama kali berhubungan seksual? Ya, seorang temanku pernah digosipkan begitu. Bahkan, yang mengejeknya adalah para lelaki. Katanya, cara berjalan temanku berbeda setelah menjalani seminggu pernikahan. Katanya, temanku itu mengalami 'sakit yang nikmat' sebagai pengantin baru. Hmmm, benarkah demikian? Simak video dibawah ini, ngomongin selaput dara bareng Dr. Lindsey Doe seorang pakar clinical sexology and sex educator (Klo di Indonesia kayak dr. Boyke gitu)

Btw, jika seorang perempuan mengalami sakit di vaginanya saat berhubungan seksual untuk pertama kali atau ke-seribu kali, itu bukan karena penis lelakinya sebesar batang kelapa atau karena lelakinya jantan; tapi karena ketiadaan pelumas alami di saluran vagina, alias sepasang manusia itu melakukan hubungan seksual tanpa melakukan pemanasan. Dalam kegiatan seksual, pemanasan atau foreplay merupakan proses 'mengundang' pelumas alami di area vagina. Jadi, jika perempuan kesakitan saat berhubungan seksual, bisa dipastikan si lelakinya jahat karena membuat area vagina si perempuan belum siap menerima penetrasi. 

Selain itu, masyarakat kompak berkhayal bahwa tanda keperawanan dibuktikan dengan tetesan darah saat berhubungan seksual pertama kali. Jika benar demikian, lalu apakah mereka yang berhubungan seksual pertama kali tapi sama sekali nggak berdarah tandanya nggak perawan? Ohh tidak! Darah ini juga berasal dari gesekan antara penis dan saluran vagina yang kesat, sehingga menyebabkan luka di dinding vagina. Saat dinding vagina luka, karena proses penetrasi tanpa pelumas, maka akan mengeluarkan darah. Jadi, selama ini manusia tertipu oleh khayalannya sendiri. Berharapa darah keluar sebagai penanda keperawanan, yang ada justru si perempuan disiksa karena lelakinya melakukan penetrasi tanpa vagina siap dengan mengeluarkan pelumas alami. Serem sekali, bukan? 

Analoginya sederhana sekali: rentangkan tangan kirimu ke depan, lalu gosok dengan menggunakan telapak tangan kanan. Gosok dari pelan hingga cepat selama beberapa waktu. Maka, lama kelamaan kulit di tangan kiri yang digosok akan terasa perih, mengelupas, memerah dan berdarah. Mengapa? Ya karena digesek tanpa pelumas jadinya luka. Percobaan ini bisa diulangi dengan penambahan minyak: rentangkan tangan kirimu, beri dua tetes minyak zaitun atau bay oil, lalu gosok dengan telapak tangan kanan. Apa ayang dirasakan? sebuah sentuhan lembut, dan kulit tangan kiri nggak akan sakit apalagi berdarah. Itulah mengapa kalau kita ke salon kecantikan, tubuh kita akan diolesi minyak zaitun terlebih daulu sebelum dipijat atau diurut, supaya kulit nggak terluka karena gesekan. 

Karena keperawanan disangkut pautkan dengan membran bernama selaput dara, yang letaknya tetap di dekat vagina sejak perempuan bayi hingga mati, maka tidak seorang lelakipun bisa mengambilnya. Mau berhubungan seksual pertama kalinya atau ke seribu kalinya, selaput dara tetap disana, di tempatnya. Selaput dara nggak akan musnah setelah seorang perempuan melakukan hubungan seksual bahkan melahirkan melalui vagina. Jadi, masalah seputar mitos keperawanan itu tidak terletak di tubuh perempuan, tapi dalam khayalan yang dibangun manusia untuk menundukkan seksualitas perempuan, supaya lelaki bisa mengusai perempuan sesuai kehendaknya. Jadi, selama ini kita ditipu hahahaha. 

Aku tahu, pasti banyak dari kita terkejut dengan fakta ini. Dikira lelaki jantan bikin vagina sakit, eh ternyata karena berhubungan seksual karena ngga pake pemanasan. Sakit saat berhubungan seksual bukan kenikmatan, melainkan siksaan. Dannn, seringkali lelaki membodohi perempuannya untuk melakukan penetrasi tanpa menunggu kesiapan vagina dengan mengeluarkan cairan pelumas. Jadi, jangan membodohi diri sendiri dengan pemikiran khayali seperti itu. Dunia sudah modern dan kita bisa bertanya ke dokter atau bidan jika memerlukan pengetahuan tentang alat kelamin sendiri. Ingat, malu bertanya tentang sistem kelamin sendiri bakal sesat dalam menjaga diri sendiri. 

KESEHATAN ORGAN REPRODUKSI LEBIH PENTING DARI KEPERAWANAN
Sekarang, kaum perempuan harus bisa memberikan prioritas bagi dirinya. Peduli pada mitos soal keperawanan atau kesehatan reproduksi? Karena ternyata ada fakta menarik bahwa para perempuan di Indonesia tuh nggak pernah memeriksa organ reproduksi mereka ke dokter kandungan kecuali menjelang menikah atau saat hamil. Padahal, di luar negeri tuh perempuan yang masih virgin alis belum melakukan hubungan seksual dianggap membahayakan kesehatannya sendiri karena setiap perempuan seharusnya melakukan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin, untuk melihat jika ada masalah-masalah yang terjadi seperti gejala miom, kanker serviks dan sebagainya. 

Mitos keperawanan adalah cara lelaki dan kelompok berkuasa untuk menikmati perempuan sebagai milik mereka, serta mengekang perempuan dari mendapatkan apa yang dia inginkan akan kepuasan seksual. Selama ini, perempuan dicekoki pemahaman bahwa kehormatan masyarakat terletak di selaput dara perempuan sementara tak mengapa jika lelaki nakal dan binal selagi muda. Padahal, lelaki binal tentu tak sendirian melainkan ada pasangan perempuan entah kekasih atau PSK. Bayangkan, seumur hidup perempuan berusaha menjaga kesucian tubuhnya hanya untuk dipersembahkan kepada lelaki yang sudah melatih kemampuan seksualnya dengan PSK? What the hell is that? Serem banget, kan? 
Yuk, jaga dan sayangi organ reproduksi agar sehat selalu

Baru-baru ini, bahkan seorang istri Walikota di sebuah kota menyatakan bahwa kondisi vagina para perempuan memberi pengaruh besar terhadap kesetiaan suami. Tingginya angka homoseksual di kotanya membuat sang istri Walikota berencana memberikan pendidikan kepada para perempuan bagaimana cara menjaga kekencangan dan kesehatan vagina agar suami-suami mereka nggak melakukan seks menyimpang dengan menjadi gay. Hah, apa pula ini? Bayangkan, seorang istri Walikota hendak memberikan pendidikan yang menekankan bahwa homoseksual itu salah perempuan sehingga yang kena sasaran adalah vagina perempuan, alih-alih memberikan pendidikan mengenai fakta seksualitas di Indonesia, dan bahwa perempuan wajib menjaga kesehatan organ reproduksinya untuk kepentingan tubuhnya sendiri, bukan sebagai persembahan kepada lelaki! Kesadaran ini penting bagi perempuan untuk menyelamatkan dirinya sendiri dari berbagai penyakit dalam sistem reproduksi dan kemungkinan tertular penyakit menular seksual dari lelaki yang 'jajan' di luar misal dengan selingkuhan atau rajin bercinta dengan PSK.

BAGAIMANA CARA MELAWAN STIGMA ATAS MITOS INI? 
Melalui tulisan ini, aku melepaskan diri dari tuduhan/prasangka bahwa aku mengajak perempuan melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan. Sebagaimana urusan lain dalam kehidupan manusia, seksualitas adalah urusan personal setiap orang. Jika selama ini kita beranggapan bahwa seks diluar pernikahan sangat beresiko, fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa seks dalam pernikahan juga penuh resiko. Contohnya, jika kita mengkaji data tentang penularan HIV/AIDS di Indonesia, pada persentase tertentu korbannya justru perempuan bersuami dan anak-anak mereka bahkan bayi-bayi yang baru dilahirkan. Ini menunjukkan bahwa seks dalam pernikahan tak selalu aman jika pasangan merupakan lelaki nakal, punya pasangan seksual selain istrinya, suka jajan PSK, atau memakai narkoba. Untuk sampai pada kesadaran ini kita harus belajar melalui data di lapangan, bukan kepada mitos dan doktrin yang mengawang-ngawang. 

Apakah pembaca paham mengapa alat kelamin lelaki gampang dilihat saat bercermin sementara alat kelamin perempuan tersembunyi? Mungkin itu juga yang selama ini menjadi alasan mitos dan doktrin seksualitas manusia muncul dan berkembang, meracuni pikiran kita semua. Lelaki merasa dirinya bebas menunjukkan kejantannya dan memamerkan kepada dunia pemahamannya tertang seksualitasnya. Sementara perempuan dipaksa bersembunyi, membisu dan berdiam diri tentang semua itu karena kehidupan seksualnya bahkan nilai alat kelaminnya ditentukan oleh lelaki yang menjadi suaminya. Lelaki dididik untuk terbuka membicarakan alat kelaminnya dan hasrat seksualitasnya, sementara perempuan dipaksa membisu seakan-akan perempuan nggak punya otak dan hasrat untuk menjelaskan apa yang dipahaminya dan apa yang diinginkannya soal seksualitasnya. 

Sedihnya, hal ini nggak terjadi setahun dua tahun, melainkan sejak peradaban manusia dibangun dan berkembang hingga saat ini. Lihat, betapa lama mitos ini merisak otak dan perasaan manusia. Perempuan diposisikan untuk menjadi bodoh, bahkan tak mengenal sistem reproduksinya sendiri demi kesenangan lelaki. Hm, apakah kita menyembah lelaki? Mengapa kita harus begitu manut pada lelaki untuk hal-hal yang bahkan merugikan diri kita sendiri, sementara lelaki dan perempuan sama-sama lahir dari selongsong vagina tempat darah haid dan air kencing keluar? Mengapa kita membiarkan lelaki melakukan apapun yang mereka inginkan atas tubuh, nasib dan kehidupan perempuan? Lelaki nggak sehebat itu. Lelaki nggak bisa mewakili rasa sakit perempuan setiap kali haid, mengandung, melahirkan hingga rasa sakit lain yang berkaitan dengan tubuh perempuan. Jika lelaki bahkan tak bisa mengambil rasa sakit dari tubuh perempuan, mengapa kita menurut pada lelaki untuk kebodohan, kepongahan dan sikap sombong mereka? Mengapa kita membiarkan lelaki mengontrol sistem reproduksi perempuan? Bukankah kita manusia yang punya derajat dan posisi setara di hadapan Tuhan yang Maha Kuasa? 

Sekarang, satu-satunya cara untuk melawan stigma super bodoh ini adalah dengan belajar. Perempuan harus membuat dirinya paham tentang tubuhnya sendiri, dan salah satu upaya untuk belajar adalah bertanya kepada tim medis perempuan semisal dokter kandungan yang sangat paham tentang tubuh dan sistem reproduksi perempuan. Kita juga bisa mengikuti berbagai kegiatan diskusi tentang sistem reproduksi perempuan, bahkan seksologi. Dan yeah, kita bisa membaca banyak buku tentang ini. Jadi, selalu berhati-hatilah jika mendengar rumor tentang seorang perempuan. Rumor itu bisa berasal dari lelaki yang tidak mampu memenangkan hatinya, atau dari perempuan yang iri kepadanya.

Baca juga: Jihad Melawan Kekerasan Seksual sejak dalam Pikiran

Hei perempuan, lihatlah tubuhmu secara utuh. Lihat vaginamu. Apakah tubuh itu dan vagina itu milik lelakimu? Tidak! Tubuhmu adalah milikmu. Jadi sayangi, jaga dan hormati tubuhmu dengan sebaik-baiknya. Lelakimu menjadi kekasihmu karena kontrak hukum. Dia bisa membatalkan kontrak itu jika kepincut perempuan lain. Kamu tidak menyembah lelakimu, jadi jangan korbankan dirimu untuk lelakimu. Dia tidak memiliki satu ujung kukupun bagian tubuhmu. Semua rasa sakit, senang dan gembira yang dirasakan tubuhmu tak akan pernah bisa dirasakannya. Ia bahkan tidak akan bisa menggantikanmu melawan rasa sakit yang teramat menyiksa saat kamu haid setiap bulan. Cintai dan hormati lelakimu dengan normal. Tak perlu berlebihan. Kehormatanmu terletak pada seluruh dirimu, ragamu, pikiranmu dan hatimu. Itulah sebabnya, perempuan merupakan cahayaNya di planet bumi. 

Akhir kata, terima kasih telah membaca tulisan ini. Semoga bermanfaat. 
(Aku kepikiran untuk menulis tentang tema keperjakaan lelaki, tapi referensinya susah)

Jakarta, 19 Desember 2019
Bahan bacaan: 
https://regional.kompas.com/read/2019/12/03/11550051/7-fakta-lengkap-atlet-senam-sea-games-dipulangkan-karena-dituduh-tak-perawan?page=all
https://www.kompas.com/tren/read/2019/11/30/194600265/tak-hanya-sea-games-berikut-5-isu-tes-keperawanan-yang-pernah-terjadi?page=all
https://regional.kompas.com/read/2019/12/02/15034601/guru-kecewa-anak-didiknya-gagal-ke-sea-games-karena-tuduhan-tak-perawan
https://www.healthline.com/health/healthy-sex/what-happens-when-you-lose-your-virginity#penetration 
https://www.hrw.org/id/news/2017/11/22/311699
https://tirto.id/keperawanan-dan-mitos-mitos-selaput-dara-cwZc
https://tirto.id/keperawanan-dalam-dunia-medis-cNcm
https://en.wikipedia.org/wiki/Virginity
https://iwhc.org/2010/05/10-myths-about-sex-and-virginity-debunked/
https://www.scoopwhoop.com/Virginity-Myths/
https://everydayfeminism.com/2013/08/4-myths-about-virginity/
https://en.wikipedia.org/wiki/Female_reproductive_system
https://www.huffpost.com/entry/the-great-wall-of-vagina_n_4556309
https://news.artnet.com/market/jamie-mccartney-vagina-sculptures-321901
https://tirto.id/mereka-yang-melelang-keperawanan-dan-keperjakaannya-dhLw
https://makassar.tribunnews.com/2019/02/25/wawancara-eksklusif-dengan-fela-gadis-asal-indonesia-yang-rela-jual-diri-rp-19-m-demi-keluarga
https://www.amazon.com/Selling-Virginity-world%60s-Cinderella-Escorts/dp/1718114729
https://en.wikipedia.org/wiki/Virginity_auction
https://www.thesun.co.uk/news/3213028/cinderella-escorts-agency-selling-virginity-jan-zakobielski/
https://www.merdeka.com/peristiwa/suara-hati-para-istri-di-bekasi-amit-amit-suami-menjadi-gay.html
https://www.researchgate.net/publication/272442827_Myths_and_misconceptions_Midwives'_perception_of_the_vaginal_opening_or_hymen_and_virginity
https://www.bedsider.org/features/962-5-myths-about-virginity-busted
https://kumparan.com/kumparansains/tes-keperawanan-dinilai-tak-ilmiah-tapi-masih-ada-di-indonesia-1543031791014962966
https://en.wikipedia.org/wiki/Purity_ball
https://en.wikipedia.org/wiki/Virginity


18 comments:

  1. Suka sama postingan yang open minded gini. Saya akui memang, di daerahku atau mungkin negara ini, keperawanan sungguh diagungkan. Sebenarnya ya gak masing masing mau perawan atau tidak. Tapi yang paling saya gak setuju itu, seorang teman saya pernah bilang "kelak maharmu itu untuk membayar keperawanan mu". Sungguh ironis. Saya rasa mahar bukan sekedar buat beli perawan. Lalu apa bedanya sama lelang perawan dengan mahar kalau tujuannya seperti itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, mahar buat membeli keperawanan? Ya berarti prostitusi juga namanya, apa bedanya dengan lelang keperawanan dan seks berbayar ala PSK? Dan tugas kitalah untuk mengubah pandangan ini. Enak saja tubuh kita dihargai cuma dengan uang tak seberapa.

      Delete
  2. Ingin sekali aku sodorkan tulisan ini ke ibu ku yang jutaan kali bilang "ingat nak, sebagai perempuan, kalau sudah hilang keperawanannya, kita nggak akan ada lagi harganya dimata orang".LOL :'D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seorang teman pernah mengatakan, bahwa kaum lelaki akan menggunakan 'tidak perawan' pada istrinya untuk menundukkan istrinya kepadanya, agar patuh secara membabi buta dan penuh ketakutan. Perempuan yang dinikahi dalam keadaan sudah tidak perawan akan digunakan kaum lelaki untuk melakukan hegemoni atasnya. Dengan demikian para perempuan lupa untuk mencari tahu apa benar si lelaki masih perjaka saat menikah atau justru dia punya riwayat menghamili anak perempuan orang. Harga seorang perempuan di mata orang tidak terletak pada selaput dara. Jika kita ada di lingkungan demikian, maka mari kita berusaha membalik keadaan dengan menjadikan harga lelaki dengan keperjakaannya. Saat pacaran atau kelak akan menikah, mari berani diskusi banyak soal seksualitas dengan pasangan, agar keadaan menjadi seimbang, dan keluarga jadi paham bahwa perempuan bukan pelayan lelaki. Bahwa kita perempuan pun berhak dilayani lelaki.

      Delete
  3. Hmmmm, saya malah menangkap isi tulisan ini bukan hanya mengajak perempuan open minded dgn seks, malah justru membuat terbebasnya aturan-aturan yg telah ditetapkan oleh agama.

    Contohnya jika pemahaman yg terbentuk melalui tulisan ini " nggak apa-apa sih kalo lu udah g perawan sebelum menikah toh hymen/selaput dara itu bukan tolak ukur kamu itu suci."

    Toh apakah nggak berbahaya jika terjadi missunderstanding pada kawula muda apalagi yg lemah imannya menganggap hubungan di luar pernikahan itu sama saja dengan hubungan pernikahan?
    *Cinderella esscort - melelang keperawanan.
    Kan bisa bahaya jika asumsi yg terbentuk demikian.

    Jgn sampai tulisan kita yg tujuannya awalnya positif bisa jadi Boomerang bagi pembaca. Mohon kiranya mentrigger lagi kajian agamanya terlebih negara kita mayoritas muslim.

    Terimakasih

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Anonim, terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini. Kalau Anda menganggap bahwa tulisan bisa membawa pembaca pada pemahaman yang salah soal seks diluar pernikahan, itu hak Anda. Toh, Firman Tuhan yang suci juga ditafsirkan manusia dengan cara berbeda. Kalau kita mundur ke belakang, kita pasti pernah membaca sejarah tentang para Tuan yang melakukan hubungan seksual dengan budak perempuan dan itu diperbolehkan. Nah, bukankah itu seks diluar pernikahan? Lantas mengapa seks diluar pernikahan antara tuan dan budak perempuan nggak terjadi lagi zaman modern? Karena manusia modern telah membebaskan dirinya dari perbudakan.

      Lalu, jika kita mau kaitkan dengan artikel ini, setiap orang memiliki opini dan asumsi sendiri soal seks, dan hal tersbeut bergantung pada pengalamana hidupnya, apa yang dia pelajari, didikan keluarga dan lingkungan dan mungkin pengalaman seksualnya. Alih-alih Anda menuduh tulisan saya bisa membawa orang pada pemahaman bahwa seks diluar pernikahan itu boleh, sebaiknya Anda fokus pada isu mengapa manusia menggantungkan kehormatannya kepada organ tubuh bernama hymen? Let's talk about it dan bikin tulisan soal itu, karena ini sangat menarik dalam konteks membaca konsensus sosial masyarakat di seluruh dunia.

      Delete
  4. Belajar lagi ya kak, udah keren kok tulisannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yup, selalu belajar sepanjang waktu. Terlalu banyak hal yang belum saya pahami dalam hidup ini.

      Delete
  5. QUOTE: "Melalui tulisan ini, aku melepaskan diri dari tuduhan/prasangka bahwa aku mengajak perempuan melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan. Sebagaimana urusan lain dalam kehidupan manusia, seksualitas adalah urusan personal setiap orang. Jika selama ini kita beranggapan bahwa seks diluar pernikahan sangat beresiko, fakta di lapangan juga menunjukkan bahwa seks dalam pernikahan juga penuh resiko. Contohnya, jika kita mengkaji data tentang penularan HIV/AIDS di Indonesia, pada persentase tertentu korbannya justru perempuan bersuami dan anak-anak mereka bahkan bayi-bayi yang baru dilahirkan. Ini menunjukkan bahwa seks dalam pernikahan tak selalu aman jika pasangan merupakan lelaki nakal, punya pasangan seksual selain istrinya, suka jajan PSK, atau memakai narkoba. Untuk sampai pada kesadaran ini kita harus belajar melalui data di lapangan, bukan kepada mitos dan doktrin yang mengawang-ngawang."

    Sudah terlalu banyak komentar patronizing (menuding dan menggurui) ttg artikel ini yg asli bikin males. Kalo baca dari awal sampai akhir, risetnya lengkap dan jempolan sekali. Ibarat indepth reporting (reportase mendalam), artikel ini membahas hymen dari segi ilimiah, baik secara biologis maupun sosial. Yang bisa baca ini cuma yg gak mudah baperan dan mau melihat masalah dari berbagai sisi. Saya gak melihat satu kalimat pun di sini yg seakan mengajak org utk melakukan hubungan seks sebelum menikah. Baik mau ada himbauan ajaran agama atau enggak, pada akhirnya setiap orang yg mau berbuat begitu krn pilihan gak bisa dicegah - sama spt mrk yg memilih utk menunggu menikah dulu krn mengikuti ajaran agama. Faktanya spt itu, jd gak guna jg dibahas pake prasangka dan nyinyir segala. Saya jg sepakat, kalo harga diri perempuan hanya soal keperawanan, trus apa kabar mrk yg gak nikah2 (atau mutusin gak nikah) hingga akhirnya malah dinyinyirin perawan tua? Serba salah, 'kan? Sama stigma janda yg sangat kejam, seolah-olah begitu ditinggal suami berarti janda itu jd gampangan dan penggoda suami org. Heran deh, hr gini msh banyak yg tutup mata soal fakta ini, cari aman doang buat diri sendiri.

    Semoga tulisan ini bs membuka mata banyak org. Kalo gak, ya wassalam. Jgn2 mrk bacanya kyk gini:

    Melalui tulisan ini, aku [melepaskan diri dari tuduhan/prasangka bahwa aku] mengajak perempuan melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan.(Yg dlm kurung sengaja mrk skip, hehehe.) Repot emang kalo org gak biasa baca kalimat panjang2.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, terima kasih telah berkenan membaca tulisan ini. Saya sangat mengapresiasi kesediaan membuka pikiran, mau meluangkan waktu untuk membaca dan mungkin menganlisa.

      Dalam proses menulis hal-hal seperti ini, saya tidak boleh mengandalkan opini pribadi. Tulisan saya harus berbasis riset dan pembaca bisa melakukan pengecekan langsung ke sumber-sumbernya. Untuk sumber-sumber saya banyak menggunakan dari luar negeri, baik artikel maupun video, karena orang Indonesia terlalu malas bikin bahan rujukan kayak begini. Alhasil literasi kita masih jeblok bahkan soal memahami antomi tubuh sendiri.

      Saya memiliki pembelajaran berharga tentang seks bersiko, baik sebelum menikah maupun dalam pernikahan sejak masih belia. Ada teman SMA saya yang hamil di luar nikah dan menjadi gunjingan, bahkan oleh para guru, alih-alih mendapat bimbingan psikologis dari guru BP. Ada juga tetangga rumah yang sudah menikah dan beliau kepala sekolah SD, satu kampung tahu sama tahu kalau suaminya suka menyiksa beliau setiap kali hendak berhubungan seksual. Ibu tersbeut tidak punya anak kandung dan punya anak angkat yang akrab dengan keluarga kami bahkan pernah pacaran dengan salah satu sepupu saya. Dan sialnya, sang suami penyiksa ini punya istri kedua. Tetangga satunya lagi adalah perempuan dengan suami hiperseks di mana meski baru melahirkan, sang perempuan selalu dipaksa melakukan hubungan seksual, sampai-sampai kedua kaki perempuan itu penuh dengan varises (dan saya masih mempelajarai apa hubungan ketersiksaaan tubuh karena seks dengan varises) Ibu itu punya banyak anak dan jarak antar kehamilan adalah hitungan bulan. Gila kan?

      Melalui tulisan ini, yang berbasis riset melelahkan, saya ingin perempuan sadar bahwa tubuhnya adalah miliknya. Jika toh dia memilih melakukan hubungan seksual sebelum menikah, setidaknya paham resikonya secara medis. Lagian nggak semua orang kan beragama dan saya nggak bisa memaksa orang untuk ikut aturan agama saya. Sebab saya bukan pendakwah. Saya hanya penulis yang mencoba membuat tulisan dengan konten seringan mungkin dari bahan-bahan ilmiah yang berat dan cenderung malas dibaca orang banyak. Oleh karena itu, saya sangat menyangkan siapapun yang menuduh saya mengajak pembaca melakukan hubungan seksual sebelum pernikahan hanya karena dia malas membaca artikel ini dengan penuh kesadaran tentang anatomi tubuhnya sendiri.

      Tulisan ini hasil berpikir yang panjang, hasil membaca banyak sumber berbahasa asing, dan saya bekerja keras memilih video yang paling mudah dipahami untuk ditampilkan. Tulisan ini saya draft berhari-hari lamanya, karena saya mau pesan saya diterima dengan pikiran terbuka oleh pembaca.

      Akhir kata, saya berharap semua orang melihat tubuhnya sendiri sebagai miliknya dan tanggung jawabnya setelah membaca artikel ini. Tubuh kita bukan milik lelaki, sebab kita lah yang merawatnya dan kita lah yang akan menanggung derita jika tubuh kita sakit. Lelaki yang jadi pasangan kita adalah partner berbasis kontrak hukum. Mereka tidak punya hak menyakiti tubuh kita sebab kedudukan mereka sama dengan kita: manusia.

      Delete
  6. Waahhh emang sudah seharusnya para pemikir kolot sadar bahwa keperawanan bukan tolak ukur dan nilai seorang wanita. Terkadang memang segala sesuatu yang salah, bila dibiarkan terus menerus akan menjadi suatu kebenaran. Maka lewat tulisan ini, mari kembalikan kebenaran yang sesungguhnya. Makasih kakak.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih juga sudah membaca tulisan ini. Jangan lupa share ke teman-temanmu ya agar semakin banyak yang membaca.

      Delete
  7. Sungguh sajian artikel yang sangat menggugah,
    membuat keyakinan saya selama ini tentang fenomena sosial virginity menjadi seolah-olah diputar-balikkan,
    ya tentu, fenomena lost virgin menjadi hal yang biasa saja jika saya menginsyafi tulisan ini.
    tapi timbul sebuah pertanyaan di benak saya:
    "Bagaimana itu bisa hilang?"
    bisa terbayang oleh saya berbagai spekulasi jawaban yang akan keluar, karena kecelakaan, bawaan lahir, diperkosa atau perzinahan yang disengaja.

    namun jika si penulis adalah seorang yang terpelajar maka hendaknya juga menilainya dari cara seorang akademisi juga, harusnya disajikan data berapa persen kecelakaan menyebabkan lost virginity, berapa juga kasus bawaan yang hilangnya selaput dara, dan juga berapa pula data Perzinahan yang menyebabkan hilangnya virginity...
    tidak bisa kita menampikkan bahwa hilangnya keperawanan karena kasus perzinahan dalam pacaran menjadi
    sumbangan terbesar dalam fenomena ini.

    Tapi entah berhubungan atau tidak, saya juga sudah beberapa kali membaca artikel/jurnal penelitian yang memuat krisis moral bahwa dalam suatu sampel penelitian hampir 50-70% wanita tidak virgin lagi. dan sebahagian besar di akui adalah hasil perzinahan dalam pacaran. (silahkan di cek sendiri)

    bagaimana penulis memandang hal ini?
    virginity tidak hanya melulu soal biologis saja, tapi juga membawa aspek moral dan sosial, sah-sah saja berpandangan seperti di atas kalau anda hidup di negara individualis-liberalis, namun tidak bisa mentah-mentah diterapkan kepada bangsa kita yang sifat asalnya sosialis-religius, syarat dengan adat-istiadat dan agama.

    Dalam pandangan saya sebagai seorang laki-laki, menikah adalah sebuah tanggung jawab dimana saya harus memenuhi kebutuhan istri saya seperti tempat berlindung yang layak, mencukupi kebutuhannya baik pangan maupun sandang, memenuhi kebutuhan spiritual dan batinnya, dan segala yang diwajibkan oleh aturan agama atas saya sebagai serang laki-laki bahkan saya bersedia jika harus menghadapi marabahaya yang akan menimpa keluarga saya walaupun harus mempertaruhkan nyawa. yang saya minta dari perempuan itu hanya satu saja. JAGA KESUCIANMU!
    bisakah anda bayangkan betapa hancurnya hati laki-laki mengetahui istrinya tidak perawan lagi?
    bagaimana saya akan memberikan dan mempersembahkan hidup,tenaga dan nyawa saya untuk perempuan yang seperti itu?
    lalu siapa yang akan membela hak saya?
    tidak semua laki-laki sebrengsek yang anda pikir,
    tidak pula laki-laki yang taat pada Tuhannya akan menunjukkan sikap overpower kekuasaan atas perempuan dengan menginjak-injak dan mengurangi hak-hak nya. saya yakin surga pun berada ditelapak kaki ibu saya yang nitabenenya
    seorang perempuan juga.

    Selayaknya selaku penulis, hendaknya lah kita berpesan melalui artikel ini dengan mempertimbangkan berbagai aspek termasuk kondisi sosial dan agama di bangsa ini yang harus di hormati.
    ada cara berpandangan berbeda diluar sana dalam menilai hal ini,tapi tidaklah harus kita telan bulat-bulat semuanya.
    salam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, terima kasih sudah berkenan membaca tulisan ini dan mencoba membangun diskusi dengan saya terkait tulisan ini. Terkait hal ini, mari kita selami hal berikut ini:

      1. Mengapa perkara 'virginity' alias keperawanan/keperjakaan hanya dibebankan kepada perempuan? Memangnya lelaki 'terbiasa' ya ‘lost their virginity’ dan merasa biasa aja kalau nggak virgin sehingga harus memaksa perempuan menjaga virginity? Hal mendasar yang perlu kita ingat adalah bahwa organ intim dimiliki oleh tubuh lelaki dan tubuh perempuan dengan bentuk dan fungsinya masing-masing. Organ intim lelaki nggak lebih hebat apalagi mulia dari organ intim perempuan. Posisinya setara dalam dunia biologi yaitu sebagai alat reproduksi.

      2. Virginity asal muasalnya dari kata ‘virgin’ dan ‘virgo’ di mana lelaki mengendalikan rahim perempuan agar didalamnya nggak ada anak lelaki selain dia sebagai suami si perempuan. Pertanyannya: bagaimana perempuan bisa mengendalikan penis lelaki agar dia nggak menaruh benih di rahim perempuan lain selain pasangannya? Kalau dalam bahasa Inggris kata 'virgin' diperuntukkan bagi lelaki dan perempuan yang belum pernah berhubungan seksual, sementara 'single' diperuntukkan bagi lelaki atau perempuan yang belum menikah atau bercerai setelah menikah. Sementara di Indonesia kata ‘virgin’ terpecah jadi dua: perawan untuk perempuan, perjaka untuk lelaki. Dan sampai abad ke 21 yang kita udah mau pake jaringan 5G, tetep aja orang cuma fokus sama vagina perempuan, dia perawan apa enggak. Tapi dengan licik nggak mengusik penis lelaki buat tahu dia perjaka apa nggak.

      3. Soal data bagaimana seseorang hilang keperawanannya: apa urusan Anda? Apa urusan Anda dengan kelamin orang lain? Mengapa nggak fokus aja ke urusan alat kelamin Anda sendiri? Lagian, siapa orang yang akan sukarela memberi kabar kepada dunia bahwa dia telah kehilangan keperawanannya atau keperjakaannya agar negara atau tetangga punya data? Maksud Anda orang harus berteriak “hei, keperawanan/keperjakaan saya sudah hilang. Tolong catat ya kalau saya udah nggak perawan?” Gitu maksud Anda? Ngapain? Apa korelasinya dengan hidup Anda dan dunia? Apa hubungannya keperawanan dan keperjakaan orang lain bagi pekerjaan, karir, kebahagiaan bahkan dapur Anda?

      4. Hilangnya kasus keperawanan disebabkan oleh perzinahan alias pacaran, kata Anda. Tapi Anda pun nggak sebut data berapa persen, bukan? Kalimat yang Anda sampaikan ini hanya menyasar perempuan. Bukankah orang pacaran itu perlu keterlibatan dua pihak ya alias lelaki dan perempuan? Maka, jika maksud Anda banyak perempuan kehilangan keperawanan karena pacaran, bukankah lelaki juga demikian, mereka kehilangan keperjakaan karena pacaran?

      5. Mengapa krisis moral hanya dibebankan kepada urusan tubuh lelaki dan perempuan semisal mereka berhubungan seksual di luar pernikahan? Memangnya orang yang menikah moralnya sempurna? Coba saja Anda baca data dan hasil penelitian bagaimana rumah dan keluarga menjadi sarang kekerasan seksual, seperti pemerkosaan ayah pada anaknya sendiri dll? Krisis moral bahkan banyak terjadi di lingkungan pesantren dan gereja, yang katanya tempat pendidikan berbasis agama. Sudahkan Anda membaca kasus seorang anak kiai besar di Jombang yang memerkosa puluhan santri putri setelah memanipulais mereka untuk tujuan pengembangan pseudo-science dia?

      Delete
    2. 6. Anda meminta kepada perempuan untuk menjaga kesucian? Kenapa Anda nggak sekalian meminta kepada lelaki untuk menjaga kesucian anak perempuan orang dan kesucian dirinya sendiri? Kalau perempuan punya kesucian yang harus dijaga, memangnya lelaki nggak punya nilai kesucian pada diri dan tubuhnya sehingga nggak harus dijaga? Kalau Anda pikir vagina perempuan menentukan kesucian dia, trus penis lelaki najis gitu, sehingga nggak perlu dijaga kesuciaannya?

      7. Anda menulis: “bisakah anda bayangkan betapa hancurnya hati laki-laki mengetahui istrinya tidak perawan lagi?” Nah, sekarang saya tanya balik: “Bisakan anda membayangkan betapa hancurnya hati perempuan mengetahui kalau suaminya tidak perjaka lagi, pernah berhubungan seksual dengan banyak perempuan, dan pernah tanam benih di rahim perempuan lain tapi ngaku perjaka?” Kayaknya Anda ini lelaki yang kurang gaul dan kurang paham betapa liarnya dan liciknya dunia kaum Anda dalam memanipulasi perempuan. Kalau Anda mau membela diri bahwa nggak semua lelaki brengsek, coba berapa jumlahnya lelaki yang nggak brengsek itu? 10, 20, 100, 100.000, 1 juta orang? Apa bukti buat verifikasi kalau lelaki itu nggak brengsek? Yang tahu seorang lelaki brengsek atau nggak tuh cuma Tuhan, Malaikat, Iblis dan Google.

      8. Anda juga menulis “bagaimana saya akan memberikan dan mempersembahkan hidup, tenaga dan nyawa saya untuk perempuan yang seperti itu?” Ohh, Anda pikir keperawanan yang cuma ditentukan oleh secuil selaput dara itu persembahan? Lha, Anda nikah apa sedang melakukan pemujaan alias okultisme sih? Saat Anda menikah dengan seseorang, Anda menikahi manusia secara utuh, bukan menikahi vaginanya doang. Paham? Ngapain juga Anda ngasih persembahan sama manusia? Anda itu hanya boleh kasih persembahan ke Tuhan!

      9. Hmm, nggak usah memerintah saya buat menulis ini-itu sesuai dengan preferensi Anda. Bikin tulisan begini aja risetnya lama dan capek. Kalau mau baca tulisan sesuai sudut pandang Anda, ya nulis sendiri lah. Lawan tulisan dengan tulisan.

      10. Sebaiknya Anda mempelajari data tentang penularan HIV/AIDS, kekerasan seksual dan KDRT. Setahu saya, penularan HIV/AIDS terbanyak itu terjadi pada ibu rumah tangga yang polos dan setia pada suami. Kok bisa? Ya, karena suaminya punya pacar buat ena-ena atau beli layanan seksual dari pekerja seks. Selain itu, berdasarkan riset Komnas Perempuan bahwa kekerasan seksual seperti pemerkosaan justru banyak terjadi di ranah rumah tangga. Misalnya ayah kandung perkosa anak kandung, kakak lelaki perkosa adik perempuan, ayah dan saudara lelaki perkosa anak perempuan, ayah perkosa bayinya sendiri, ipar perkosa ipar, kakek perkosa cucu, paman perkosa keponakan. Datanya valid karena berdasar laporan yang ditangani ratusan lembaga yang tersebar di seluruh Indonesia. Soal KDRT, data menyebutkan bahwa sebagian besar pelakunya adalah lelaki dan korbannya sebagian besar perempuan. Silakan konfirmasi aja ke Komnas Perempuan.

      11. Perawan atau perjaka bukan jaminan suatu pernikahan akan langgeng, bahagia bahkan samawa. Contoh nyata di lapangan banyak. Para perempuan bersabar menjaga keperawan mereka katanya untuk persembahan kepada lelaki yang bakal jadi suaminya. Eh, pas udah dinikahi malah dinistakan. Banyak tuh perempuan mulia yang udah kusam dan peot, ditinggalin suaminya buat nikah sama perempuan muda atas nama agama, padahal atas nama penis. Atau malah para suami punya pacar/selingkuhan atau jadi sugar daddy, atau beli layanan pekerja seks. Jadi, sesuatu berupa selaput di alat kelamin bukan jaminan apapun. Ia hanya satu jenis alat dalam tubuh biologis manusia. Sebab, segala sesuatu berdasarkan apa yang ada di dalam kepala. Banyak kok lelaki menelanjangi perempuan sejak dalam pikiran mereka.

      Terima kasih.

      Delete
    3. Tambahan: saya nggak ada urusan dengan keperawanan atau keperjakaan orang lain. Saya hanya mau peduli jika saya nggak boleh menikah dengan lelaki yang pernah melakukan pemerkosaan. Saya bahkan bermimpi bahwa id Republik yang agamis ini ada satu situs untuk kita bisa mengecek apakah seorang lelaki pernah melakukan pemerkosaan atau tidak, di mana statusnya berbasis status di mata hukum. Sehingga para perempuan di tanah air ini terbebas dari menikahi lelaki yang pernah melakukan pemerkosaan. Saya kira, alangkah bagusnya seluruh rumah tangga memboikot lelaki dengan riwayat pernah melakukan kekerasan seksual untuk nggak pernah menikah, agar orang nggak menganggap remeh kekerasan seksual. Saya kira, Anda sebagai seorang Ayah pastikah saja kelak anak perempuan Anda nggak menikah dengan lelaki yang pernah melakukan pemerkosaan. Selamat berjuang, Bro!

      Delete
  8. Terima kasih banyak sudah menulis ini mba! 💕💕

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama-sama. Terima kasih juga sudah membaca tulisan ini.

      Delete