Melinda Gates dan Pemberdayaan Perempuan yang Mengubah Dunia

Melinda Gates bersama para kader kesehatan di Bihar, India pada 2013. Sumber: Bill & Melinda Gates Foundation


"Stigma memaksa orang bersembunyi dibalik rasa malu. Cara terbaik untuk 
melawannya adalah dengan bersuara, membicarakan masalah yang dilekati 
stigma oleh orang lain dengan terang-terangan." 
-Melinda Gates dalam "The Moment of Lift" hal. 96-


Melinda Ann French atau yang kita kenal Melinda Gates adalah anak kedua dari empat bersaudara pasangan Raymond Joseph French dan Elaine Agnes Amerland. Ayahnya adalah seorang insinyur ahli teknik pesawat ruang angkasa yang menangani program Appolo. Sebagai gadis dari keluarga Katolik, Melinda tumbuh sebagai perempuan yang sopan, taat dan cerdas. Perkenalannya dengan Apple II membuatnya tertarik dengan pemrograman dasar komputer. Melinda lulus dengan cemerlang dari Duke University pada 1986 jurusan Ilmu Komputer dan Ekonomi, dan mendapatkan gelar master dari Fuqua School of Business pada 1987. Setelah lulus ia bekerja di Microsoft sebagai sebagai manajer pemasaran dan pada tahun yang sama pacaran dengan Bill Gates yang saat itu menjabat sebagai CEO Microsoft, dan keduanya menikah pada 1994. 

Lahir dan tumbuh dalam keluarga kaya raya dan berpendidikan, kemudian menikah dengan lelaki kaya raya dan berpendidikan pula memberi segala hal dalam hidupnya. Melinda adalah satu dari segelintir perempuan dengan privilege, dan dengannya ia bisa mengatur hidupnya sendiri seperti mengakses kontrasepsi untuk mengatur jarak kelahiran anak-anaknya. Saat hamil anak pertamanya, Melinda mengatakan kepada Bill bahwa setelah melahirkan ia akan tidak akan bekerja, dan sadar bahwa didikan dari lingkungan seakan-akan menempatkan perempuan untuk tinggal di rumah mengurus keluarga, sementara suami bekerja. Terlebih Bill sangat sibuk dan sebenarnya mereka tidak membutuhkan penghasilan tambahan sebab gaji Bill sebagai CEO sudah lebih dari cukup. Karena Melinda sangat cinta bekerja dan tidak mungkin tidak memiliki karir, maka mereka sepakat membuat yayasan yang bergerak di bidang teknologi. 

Melalui kegiatan filantropi yang dilakukannya tak lama setelah anak pertamanya lahir, Melinda ingin membuka peluang lebih besar kepada perempuan untuk dekat dengan komputer. Melinda kemudian bekerja dengan orang-orang di distrik setempat untuk mendatangkan komputer ke sekolah-sekolah dan membuat semakin banyak sekolah terkomputerisasi. Namun, semakin dalam Melinda terlibat ia semakin mengerti betapa mahalnya memperluas akses kepada komputer dengan memasang jaringan di setiap sekolah di seluruh Amerika Serikat. Kesenjangan selalu menjadi masalah dalam mengakses banyak hal, terlebih kemiskinan. Karenanya Bill dan Melinda Gates memutuskan mendirikan yayasan dengan nama mereka berdua. Yayasan itu sengaja menggunakan juga nama Melinda karena ia ingin terlibat penuh dan memegang peranan sangat penting, mengingat Bill Gates yang masih bekerja sebagai CEO di Microsoft sangat sibuk. 

Kunjungan Bill dan Melinda ke Afrika pada 1993 menjadi pintu pembuka kesadaran bahwa dampak kemiskinan sungguh mengerikan. Saat mengendarai mobil di sebuah kota, Melinda melihat sejumlah perempuan berjalan tanpa alas kaki sembari memanggul kayu bakar di kepala dan menuntun tangan anak-anak, sementara kaum lelaki berjalan-jalan santai sembari merokok, tanpa memanggul kayu bakar atau membawa anak-anak. Semakin jauh Melinda berkendara, semakin banyak ia temukan pemandangan serupa dan terenyuh hatinya melihat begitu beratnya hidup perempuan di negara-negara miskin. Sekembalinya ke Amerika dan menyelenggarakan sebuah makan malam, seorang peneliti mengatakan bahwa banyak anak-anak dari keluarga miskin yang mengalami diare dan terselamatkan oleh oralit. Ada juga laporan yang menyatakan bahwa masalah kesehatan di negara-negara miskin bisa diselesaikan oleh biaya rendah, namun tak ada pihak yang bersedia menyelesaikan masalah tersebut. Tampaknya tiada ada yang merasa terpanggil. 

Bill dan Melinda membaca lebih banyak berita dan laporan, dan melihat banyak orang seharusnya bisa diselamatkan oleh pertolongan sederhana dengan biaya rendah, dan mereka berpikir mungkin bisa melakukan sesuatu. Salah satu yang kemudian menjadi investasi terbesar Bill dan Melinda adalah vaksin. Keduanya merasa ngeri ketika mengetahui bahwa vaksin yang dikembangkan di Amerika memerlukan waktu 15-20 tahun untuk menjangkau anak-anak miskin di negara berkembang, dan penyakit yang membunuh anak-anak di negara miskin tidak termasuk ke dalam agenda periset vaksin di Amerika karena mereka tidak mengetahuinya. Karenanya, keduanya bergabung dengan pemerintah dan sejumlah organisasi untuk mendirikan, GAVI The Vaccine Alliance, guna memanfaatkan mekanisme pasar dan membantu setiap anak di dunia mendapatkan vaksin. 

Perjalanan demi perjalanan yang Melinda lakukan ke berbagai negara berkembang membuatnya mengerti bahwa kemiskinan kronis sebenarnya berarti tidak peduli sekeras apapun seseorang bekerja, ia tetap terjebak didalamnya. Tanpa pertolongan pihak luar, mereka yang terjebak kemiskinan kronis tidak bisa melepaskan diri. Mereka yang ditinggalkan oleh orang-orang yang mampu meningkatkan taraf hidupnya akan selamanya terjerembab dalam kemiskinan. Sebab, kemiskinan adalah kekuatan yang paling melumpuhkan di dunia. Terutama jika yang mengalaminya perempuan dan anak perempuan.

Di Malawi misalnya, Melinda mendapati para perempuan petani harus berjalan belasan kilometer dari ladang untuk mengantre disuntik kontrasepsi. Atau ada kisah mengharukan tentang dokter Hans yang mengabdikan dirinya di Mozambik, di mana dia dikenang seisi penduduk desa miskin di tengah hutan karena memulangkan jenazah seorang perempuan desa mereka yang meninggal dunia saat bayinya lahir sungsang. Kemiskinan dalam kelompok masyarakat tertentu bukan hanya tentang tidak punya uang untuk makan, melainkan juga tidak bisa menjemput jenazah saudara mereka yang meninggal dunia. Sehingga keputusan dokter memulangkan jenazah dengan mobil vaksin dianggap sebagai tindakan heroik. Peristiwa itu menyadarkan Hans bahwa kemiskinan memang menyeramkan, karena kemiskinan memulai Ebola dan membuat Boko Haram menculik gadis-gadis untuk jadi miliknya seorang.

Bagiku, membaca buku ini umpama membaca percampuran antara sejumlah jurnal tentang pemberdayaan perempuan, catatan lapangan tentang kemiskinan perempuan, dan kesaksian seorang yang bekerja di lapangan dalam melayani perempuan dan anak-anak mereka untuk melepaskan diri dari kemiskinan kronis. Yang menarik dari buku ini adalah teknis Melinda bercerita sehingga setiap kalimat terasa penting dan menggugah. Seringkali sejumlah kalimat kubaca berulang-ulang, karena kurasakan begitu ajaib dan menggugah. Buku ini sekaligus dengan apik menggambarkan sosok Melinda yang cerdas, bijak, keibuan, penyayang, dan tidak pelit. Bahkan sebagai seorang Katolik, tidak satupun dia mengutip ayat-ayat dari Injil untuk membenarkan kegiatan kemanusiaan yang dilakukannya bersama suaminya. Dengan sederhana, Melinda membantu pembaca di seluruh dunia memahami pesan dalam buku ini dari sudut pandang seorang perempuan dan  ibu. Secara garis besar, ada 3 hal utama yang menjadi pusat perhatian dalam buku ini, yaitu: 

  • Memberikan hak penuh kepada perempuan untuk bersuara turut memberdayakan perempuan di sekitarnya: para perempuan yang merupakan ibu rumah tangga, yang bekerja tidak dibayar cenderung akan terjebak dalam rutinitas dan melupakan mimpi-mimpinya sepanjang sisa hidup mereka. Maka, perubahan harus dimulai dari diri si perempuan seperti berbagi peran dengan pasangan dan anak-anak dalam melakukan tugas rumah tangga, sehingga perempuan memiliki waktu untuk membaca, mengembangkan diri dan melakukan kegiatan dalam komunitasnya. 
  • Menjadi teladan dan contoh bagi orang lain: hal ini bisa dilakukan dengan tindakan kecil, seperti bahwa perempuan tidak harus selalu menjadi pihak yang membereskan meja selepas makan malam, dan memberikan kesempatan kepada anggota keluarga yang lain melakukannya. Perempuan harus belajar memosisikan dirinya berharga di rumahnya sendiri dan bukan sebagai seseorang yang menjadi pesuruh dan pelayan bagi keluarganya, sebab mereka juga memiliki tangan dan kaki. 
  • Perubahan kecil membawa perbedaan: pendapat perempuan tentang dirinya dalam lingkungan keluarga, sekolah, komunitas hingga tempat bekerja bisa membuat perbedaan. Misalnya, anak perempuan boleh menolak pernikahan diri karena ingin melanjutkan sekolah; atau seorang gadis boleh menolak dinikahkan dengan lelaki yang tidak diinginkannya; atau seorang istri berhak mengakses kontrasepsi untuk mengatur jarak kelahiran; hingga seorang pekerja perempuan boleh memperjuangkan upah yang setara dengan rekan kerja lelaki untuk beban kerja yang sama. Perubahan-perubahan kecil ini jika dilakukan oleh seluruh perempuan di dunia, akan membawa dampak yang luar biasa tidak saja bagi sehatnya kehidupan keluarga, juga terhadap perekonomian nasional sebuah negara bahkan dunia. 

Rasanya, ingin sekali aku menjadikan buku ini sebagai hadiah kepada seluruh perempuan yang kukenal dalam hidupku. Bagaimana pun juga buku ini memberikan cara pandang yang kuat dan fokus dalam membebaskan perempuan dari jerat kemiskinan. Bahwa perempuan harus dipandang sebagai manusia yang berhak mengakses layanan kesehatan seperti kontrasepsi atau vaksin untuk anak-anaknya, atau upah tinggi untuk pekerjaannya sebab dengan demikian perempuan bisa membebaskan dirinya dan komunitasnya dari kemiskinan, tanpa harus bergantung pada lelaki dalam keluarga mereka baik ayah maupun suami. Perempuan juga perlu didengarkan pendapatnya, seperti dengan cara apa mereka ingin membebaskan diri dari kemiskinan, mengatur jarak kelahiran dan memiliki aset.

Buku ini sangat aku rekomendasikan untuk dibaca setiap orang di dunia, baik perempuan maupun lelaki. Buku ini mampu memberikan kesadaran kepada kita secara personal mengapa pendapat, peran dan hak perempuan itu penting; juga membuka wawasan kita tentang bagaimana para perempuan di seluruh dunia saling membantu satu sama lain untuk membuat perubahan. Bahwa perempuan yang selama ini selalu ditinggalkan dan disingkirkan dalam pembangunan yang notebene dikendalikan lelaki, mampu membuktikan bahwa dirinya berharga, ilmunya berguna dan keberadaannya dalam masyarakat sangat penting, karena pada dasarnya nasib seorang perempuan berpengaruh pada anak-anaknya. 

Akhir kata, kemiskinan adalah kekuatan paling melumpuhkan di dunia. Siapapun yang hendak melawan kemiskinan dan memberdayakan perempuan, lakukanlah keduanya dengan satu pendekatan: bantulah para ibu melindungi anak-anaknya. Selain itu, jika sebuah bangsa ingin mengangkat derajat hidup masyarakatnya, maka berhentilah menekan perempuan. 

Jakarta, 27 Desember 2019

Bahan bacaan: 
https://en.wikipedia.org/wiki/Melinda_Gates
https://www.aarp.org/politics-society/advocacy/info-2015/melinda-gates-humanitarian.html
https://time.com/5030114/melinda-gates-me-too/
https://www.pulse.com.gh/bi/strategy/how-to-solve-a-problem-with-no-apparent-solution-according-to-top-problem-solver/bpk724h
https://www.forbes.com/sites/daniellebrooker/2019/07/28/3-simple-insights-melinda-gates-shared-at-the-moment-of-lift-book-talk-in-london/#143c599f60b0




No comments:

Post a Comment